Paradoks dalam Pencarian Kebenaran

Sebuah paradoks adalah keberadaan dua pernyataan (terkadang dapat pula berupa kumpulan pernyataan) yang tampaknya benar namun lebih menyerupai kontradiksi atau mengarah pada sebuah situasi yang terlihat sepertinya bertentangan dengan logika ataupun intuisi. Kompleksitas dari sebuah padaroks seringkali disalahartikan dengan kontradiksi, dan penalaran dalam paradoks seringkali disederhanakan sampai hanya tersisa satu situasi dimana salah satu atau semua pernyataan dalam sebuah paradoks itu adalah salah.

Sementara itu, untuk bisa memahami sebuah kebenaran yang sifatnya adalah benar-benar BENAR, maka pengertian di dalam konsep paradoks harus sanggup menjelaskan bahwa kedua pernyataan (atau semua pernyataan) dalam sebuah paradoks tentang kebenaran adalah benar-benar BENAR dan merupakan kesatuan yang utuh dan tidak berkontradiksi antara pernyataan yang satu dengan pernyataan yang lain.­­­­­

Ketika kita berusaha membangun konsep yang benar-benar BENAR, akan bermunculan banyak konsep dan opini. Jika didalam konsep dan opini tersebut terdapat kontradiksi dan perkecualian, maka setiap pernyataan-pernyataan tersebut dengan sendirinya akan bersifat saling melemahkan dan saling menghancurkan keutuhan dari keseluruhan (integrasi dan holistik) konsep yang diajukan. Semakin kompleks konsep yang dipaparkan, semakin banyak pernyataan yang dimunculkan, maka semakin banyak kontradiksi yang akan menimbulkan pertentangan didalam dirinya sendiri yang bersifat menghancurkan (baca: self destruct).
Di sinilah pentingnya pemahaman secara paradoks yang harus mampu menggabungkan semua konsep yang tampaknya bertentangan menjadi sebuah pengertian yang utuh membentuk kerangka yang kokoh.

Sambil lalu, akan saya coba memberikan gambaran singkat mengenai hal tersebut:
Pada dasarnya, kita berusaha mencari kebenaran. Kita mau sesuatu yang benar. Sesuatu yang sejatinya benar. Sebuah kondisi yang benar-benar BENAR. Kita tidak mau yang palsu, atau yang tidak benar-benar BENAR. Kita juga tidak mau yang tidak benar-benar tidak BENAR. Yang paling tidak kita inginkan adalah yang salah, atau dengan kata lain, kondisi yang benar-benar tidak BENAR. Namun terlepas dari keinginan atau idealisme kita, seringkali kita tidak memiliki dasar pengertian yang cukup untuk bisa memahami dan menemukan kondisi yang benar-benar BENAR berikut dengan sifat paradoksnya. Atau dalam era pragmatisme sekarang ini, sebagian kita terlalu malas untuk berusaha mencari kebenaran yang sejati. Seperti yang dilakukan beberapa orang yang akan langsung berhenti membaca tulisan ini dan tidak tergelitik rasa keingintahuan mereka ketika dihadapkan pada pemikiran yang rumit.

Kebenaran yang sejati tidak akan pernah lepas dari paradoks. Semua kebenaran yang benar-benar BENAR selalu akan berbentuk paradoks. Karena didalam paradoks akan ditemukan keadaan yang saling seimbang didalam pemikiran dan konsep yang seakan bertentangan, namun tidak saling menghancurkan.

“The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposed ideas in the mind at the same time, and still retain the ability to function.” – F. Scott Fitzgerald

Terjemahan: Ujian bagi kecerdasan kelas atas adalah kesanggupan untuk memfasilitasi dan memikirkan dua ide yang bertentangan dalam satu waktu, dan tetap memiliki kesanggupan untuk membentuk pengertian yang utuh.

Ketika seseorang melanjutkan perenungan dan pemikiran analitik dalam kondisi yang sulit, yang lainnya menyerah dalam pragmatisme dan berbalik arah. Mereka akan mencari jawaban mudah berupa YA atau TIDAK, BENAR atau SALAH, namun tidak akan pernah memahami alasan dan pemikiran yang melandasi jawabannya. Mereka hanya menjadi budak dari pemikiran orang lain yang tidak tentu merupakan kebenaran sejati. Adalah sebuah kebohongan belaka ketika mereka berkata dan berupaya meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka tidak suka dibohongi dan mencari kebenaran. Mereka dengan buta mempercayai sesuatu dalam fanatisme kosong.

Saya akan menjelaskan sedikit tentang runutan proses pembentukan pengertian dan pengetahuan, sebelum menyinggung dimana letak paradoks sesungguhnya didalam pemikiran.

Paradoks akan dapat kita temukan dimana-mana disekeliling kita. Kebenaran yang benar-benar BENAR ditanamkan didalam dunia sekeliling kita supaya melalui semua yang kita lihat dan alami, kita mau tidak mau harus mengakui bahwa ada yang benar-benar BENAR, setengah BENAR, dan yang tidak BENAR. Memang tidak semua dari kita sanggup membongkar penjelasan secara tuntas, namun kita tahu realita itu; dibuktikan dengan tekad yang ada dalam diri setiap orang yang katanya tidak suka dibohongi dan lebih suka segala sesuatu yang BENAR.

Kebenaran itu terbentang mulai dari semua yang bisa kita pikirkan dalam dunia ilmu pengetahuan (yang dulunya juga tidak kita ketahui, namun sekarang kita ketahui, beberapa hingga tuntas, sementara sebagian lain belum tuntas) yang sifatnya fisik dan natural. Ilmu pengetahuan ini merupakan ilmu yang kita pelajari terhadap alam dalam fisika, fisika teoretis, biologi, quantum teknologi, faal, dan seterusnya.
Terus berlanjut pada dunia pemikiran yang berkesetaraan dengan dunia fisik, yaitu alam rasio dan logika; kita mengenal pemikiran-pemikiran yang masuk akal kita secara umum dalam dasar ilmu pengetahuan, yang kita sebut sebagai rasionalitas. Kita mempelajari hubungan kita berelasi dengan sesama, dengan alam sekitar, dalam pengertian yang bersifat keilmuan bidang ekonomi, manajemen, psikologi, psikiatri, filosofi, dan seterusnya.
Kemudian kita berlanjut pada dunia yang melampaui dunia fisik, dalam dunia yang hampir tidak terpahami secara natural, logika, atau rasional sekalipun. Dunia modern sejak abad pencerahan tidak menganggap bagian ini sebagai ilmu, melainkan sebagai dunia yang tidak logis, tidak rasional, dan tidak ilmiah. Mereka menganggap bidang ini merupakan bidang angan-angan dan tidak bisa dibuktikan. Namun sebagai bagian dari orang yang menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kita di luar sana, kita sangat mengerti pentingnya bagian pemikiran ini dalam prinsip dan keutuhan pemikiran kita didalam kaitannya dengan mencari kebenaran. Ini adalah dunia suprarasional dalam alam supranatural, yang berusaha dijelaskan oleh metafisika, filsafat ontology, epistemology, dan seterusnya. Dan ini adalah wilayah dimana ideologi berada.

Segera setelah ilmu filsafat menyentuh batasan dinding yang tidak kelihatan antara yang “sanggup diketahui” dengan “yang tidak mudah dipahami” hingga pada “yang tidak mungkin diketahui” yang menjadi area abu-abu antara filsafat dan agama, tiba-tiba saja peran logika menjadi sedemikian kecil dan orang-orang yang katanya rasional mengatakan bahwa religi adalah upaya pelarian manusia dari usaha-usaha mencari jawaban yang “masuk akal”.

Mari kita simak sejenak contoh kasus berikut:
Kenapa es batu mengapung, padahal dia padat dan memuai (anomali air), dan es pun sejatinya berasal dari air. Orang-orang ilmiah akan mulai berbicara tentang berat jenis, hukum perkecualian air, penampang atau tegangan permukaan air, dan seterusnya. Banyak orang akan dengan mudah setuju, menganggap itu sebagai penjelasan dan kebenaran. Sesuatu yang benar-benar BENAR.
Namun ketika religi menyodorkan jawabannya, bahwa Tuhan menciptakan makhluk dalam air, jika es tenggelam, banyak makhluk air akan mati. Kalau air membeku mulai dari bawah, dan terus membeku, kemana makhluk air bisa lari, bagaimana tumbuhan dalam air bisa hidup, bagaimana ekosistem air bisa terjaga. Jawaban itu dianggap sebagai kebodohan bagi dunia sains. Tiba-tiba saja, jawaban itu dinyatakan tidak sah dan tidak dapat diterima, walaupun memiliki kerangka pemikiran yang tidak dapat disanggah oleh orang-orang yang katanya rasional.

Filsafat itu sendiri, sebagai bidang yang mempelajari dan mempertanyakan segala sesuatu, terbentang dari dunia (realm) yang nyata, kepada yang bisa diketahui, kemudian hingga konsep abstrak, sampai pada hal yang mungkin dapat diketahui, dan berhenti pada yang tidak mungkin diketahui, dimana beberapa jawaban tampaknya lebih memiliki basis rasional yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban yang lain yang lebih seperti tebakan-tebakan yang sifatnya untung-untungan.

Bagi mereka yang memiliki wawasan memadai dan mendalam mengenai beberapa ideologi religius (baca: iman), mereka memiliki kesanggupan untuk menarik area filsafat sedikit lebih jauh kedalam batasan hal yang tidak mungkin diketahui dengan keyakinan (baca: iman) yang mereka miliki, sebelum semuanya menjadi sama sekali gelap. Tentunya, seperti halnya ilmu pengetahuan dan filsafat, ada iman yang memiliki sistematika lebih baik dibandingkan dengan iman yang lain.

Permasalahan terbesar dengan iman adalah sedemikian: untuk agar iman memiliki kekuatan dan integritas yang cukup untuk menjelaskan segala sesuatu yang melampaui natur dan ilmu pengetahuan, serta menjawab segala hal yang dipertanyakan oleh filsafat, maka iman itu sendiri harus memiliki dukungan dari pengertian dan konsep yang jelas dan sistematis. Bukan fanatisme kosong belaka. Fanatisme tidak mampu menjawab apapun dalam bidang apapun, jika fanatisme tidak mengarah dan tidak didasari oleh pengertian yang cukup. Celakanya, para fanatik seringkali buta dan tuli.

“A fanatic is one who can’t change his mind and won’t change the subject.” – Winston Churchill

Terjemahan: Seorang fanatik adalah orang yang tidak bisa merubah pikirannya dan tidak mau merubah topik subjek pembicaraannya.

Demikian kita sudah membahas tentang runutan pengertian, rasionalitas, dan logika. Mengenai paradoks, semakin kita mendekati kepada hal yang tidak bisa kita mengerti secara tuntas, semakin paradoks akan membantu kita mendekati pada kebenaran yang sifatnya benar-benar BENAR. Semakin jauh kita melangkah, semakin rumit paradoks yang ada dan semakin sulit untuk menyelesaikan paradoks yang muncul untuk bisa kita mengerti dalam pemikiran kita.

Sebagai gambaran:
Di alam yang bisa kita lihat, ilmu pengetahuan alam, kita melihat cahaya warna putih. Benarkah cahaya itu berwarna putih? Benarkah sinar matahari itu putih? Ataukah warna putih itu sebenarnya tidak ada, melainkan adalah spektrum dari jutaan warna yang terbaur dan menimbulkan sinar yang putih. Jadi, apakah warna sinar matahari? Putih atau jutaan warna yang namanya pun tidak sanggup disebutkan. Jawabannya adalah sinar matahari berwarna putih DAN jutaan warna. Itulah paradoks. Warna sinar matahari bukan putih. Warna sinar matahari bukan jutaan warna.

Contoh lain lagi:
Demikian pula dalam simbol “tak terhingga” (infinity symbol). Apakah di dunia ini yang tidak terhingga? Mengapa kita bersikeras meletakkan simbol tersebut didalam ilmu pengetahuan kita? Tidak ada di dunia yang kita tinggali ini yang bahkan secara konsep bisa dikatakan tidak terhingga. Nilai yang terbesar pun memiliki nilai, memiliki ukuran yang tidak bisa dikatakan “tidak terhingga”. Ini adalah konsep paradoks, ketika kita mencoba menghubungkan antara dunia kita yang bersifat terbatas, dengan sesuatu yang sifatnya tidak terbatas.

Penjelasan yang menarik dari buku Kristen adalah bahwa satu-satunya didunia ini yang bersifat tidak terhingga adalah manusia. Paradoks lain lagi dalam alam ini. Sementara semua disekitar manusia dalam alam semesta bersifat terhingga, jiwa manusia memiliki sifat yang tidak terhingga. Sehingga manusia itu sendiri pada dasarnya adalah paradoks. Manusia terbatas usianya DAN manusia memiliki unsur kekekalan.

Didalam area pemikiran kita, mulai dari yang bisa diketahui hingga yang tidak mungkin diketahui, paradoks-paradoks kecil tersebar berupa kebenaran-kebenaran yang benar-benar BENAR didalam ilmu pengetahuan, filsafat, dan religi, dan seterusnya. Dan ketika kita tidak berhasil memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, maka petualangan kita mencari kebenaran yang lebih agung dari tempat yang rendah (yaitu alam) ke yang lebih tinggi (yaitu ideologi dan iman) akan menjadi sesat dan menyimpang.

Area abu-abu antara yang “mungkin bisa diketahui” dengan yang “hanya bisa diketahui melalui iman/keyakinan” itu terdapat paradoks yang sifatnya ultimat. Paradoks terbesar itulah yang menjadi pintu masuk kepada pengertian yang benar-benar BENAR. Ketika seseorang gagal dan menyimpang dari paradoks terbesar ini, dia akan membuahkan pemikiran-pemikiran dan tebakan-tebakan yang keliru dalam menginterpretasikan kebenaran yang benar-benar BENAR (kebenaran yang sejati), berikut dengan semua “paradoks kecil”-nya.

Kita mengenal ada pemikir-pemikir besar sepanjang sejarah yang berhasil mengikuti jejak-jejak paradoks-paradoks kecil, namun tidak menemukan paradoks ultimat. Mengakibatkan dia tidak tuntas pada pendefinisian dan pengertian didalam pencariannya untuk memahami kebenaran sejati.

Ada pemikir-pemikir besar lain lagi yang sanggup memahami paradoks ultimat ini, dia menemukan kebenaran yang benar-benar BENAR, dan melalui pemahaman tersebut, dia sanggup menemukan dan membongkar sebagian paradoks-paradoks kecil yang tersebar dalam alam semesta.
Walaupun tidak bisa tuntas memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, karena alam yang terbatas ini pun sedemikian luas dan besar sehingga tidak dimungkinkan untuk dipahami secara tuntas. Hal inilah yang memicu dan kemudian mengakibatkan munculnya simbol “tak terhingga” ditengah-tengah realm yang seharusnya “terhingga”. Sebuah pengertian akan adanya sesuatu yang tidak berbatas ditengah-tengah keterbatasan realm yang kita tinggali ini. Sebuah fenomena tentang “kekekalan” yang tampak nyata namun tidak tersentuh. Sebuah realm yang ditengarai sebagai sebuah eksistensi, namun tidak merupakan sebuah eksistensi: itulah paradoks yang lain lagi.

Didalam banyak hal, paradoks adalah satu-satunya cara untuk memahami kompleksitas alur berpikir, sudut pandang, dan aspek-aspek penting dari berbagai macam pikiran-pikiran. Namun, perlu dipahami bahwa ketika sebuah paradoks “mampu dimengerti” tidak berarti bahwa paradoks itu “mampu diterima”.

Sekali lagi, buku orang Kristen membukakan kepada kita bahwa paradoks ultimat yang sudah diterima hanya mampu untuk dimengerti ketika seseorang mau tunduk mutlak dibawah penerimaan akan sesuatu yang tidak dia mengerti. Jadi, manakah yang terlebih dahulu muncul, pengertian atau penerimaan? Orang harus menerima dulu baru sanggup mengerti, atau harus mengerti  dulu baru bisa menerima? Sebuah paradoks yang harus disimpulkan masing-masing orang.

Seperti dalam hal pembelajaran. Bagaimana seseorang mampu belajar? Pertama-tama dia harus terlebih dahulu percaya bahwa guru yang mengajar dia adalah benar. Tapi dari mana dia bisa tahu bahwa guru itu benar jika dia belum belajar apapun juga? Jika dia sudah belajar dan sudah merasa tahu atau lebih tahu dari gurunya, buat apa lagi dia mau belajar, karena tidak ada yang dapat ia pelajari kalau ia sudah tahu.

Kembali pada kasus ”pengertian dan penerimaan” diatas. Jika seseorang belum mengerti, bagaimana ia bisa menerima dan percaya akan kebenaran suatu paradoks. Jika seseorang tidak mau menerima sebuah paradoks, bagaimana ia bisa mempelajari hingga mencapai pengertian. Pertanyaan ini sudah saya jawab diatas.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s