Esensi Belajar dan Bekerja

Berikut ini adalah salah satu paradigma dasar dalam dunia pendidikan yang harus dibenahi. Yaitu alasan mengapa setiap orang perlu sekolah, supaya bisa memiliki ketrampilan untuk bekerja. Ada dua hal yang harus seumur hidup kita kerjakan, yaitu: belajar dan bekerja. Kita belajar dan bekerja untuk supaya bisa hidup. Terus belajar, terus bekerja, selama masih perlu hidup.

Hidup adalah untuk belajar dan bekerja. Belajar dan bekerja adalah untuk hidup. Dua hal ini tidak bisa lepas dari kehidupan manusia karena itulah tujuan hidup manusia. Tidak banyak hal yang tidak bisa di atasi dengan bekerja, dan kalimat tersebut barusan sama sekali tidak ada urusannya dengan uang.

Namun seringkali yang kita dengar adalah kita perlu sekolah supaya menjadi pandai. Mengapa perlu pandai? Supaya bisa bekerja. Jadi mengapa perlu bekerja? Seringkali alasan pertama adalah, “Supaya bisa cari uang.” Mengapa perlu cari uang? Sekali lagi, seringkali adalah, “Supaya bisa sukses.” Dan sukses selalu seringkali di ukur dengan jumlah harta yang dimiliki.

Kita mulai belajar tidak hanya di sekolah. Melainkan juga di rumah. Sejak lahir kita belajar. Kita mulai dengan belajar melihat, meraba, mendengar, menirukan, dan seterusnya. Kita mulai belajar mengenali benda, berbicara, mengingat nama, dan seterusnya. Kita mulai belajar apa yang boleh kita lakukan dan yang tidak boleh kita lakukan, mulai belajar membedakan konteks dengan konten, mengerti konsep nyata dan abstrak, dan seterusnya. Belajar tidak boleh selalu dihubungkan dengan sekolah. Sekolah adalah permulaan bagi kita untuk belajar bagaimana cara belajar. Setelah lulus dari bangku sekolah pun kita masih harus terus belajar. Dengan memahami sistematika belajar, kita akan lebih mudah mempelajari apapun yang perlu kita pelajari untuk membantu kita menjalani hidup.

Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran formal di sekolah saat berusia 7 (tujuh) tahun. Setelah jenjang formal selesai, kita masih harus terus belajar, mengikuti dan beradaptasi dengan segala sesuatu yang berubah disekitar kita, baik secara fisik, secara mental, sosial, pekerjaan, ketrampilan, dan seterusnya. Kita belajar bersosialisasi, berkomunikasi, beradaptasi dengan lingkungan baru, dengan rekan kerja, atasan dan bawahan, dan pasangan lawan jenis.

Hidup kita tidak henti-hentinya berubah dari satu tahapan kepada tahapan yang berikutnya. Menikah dan memiliki anak menuntut pembelajaran lagi, dan hingga tua, kita masih harus belajar, beradaptasi dengan kekuatan fisik dan mental yang mulai menurun, berusaha menjalankan fungsi hidup dengan cara yang berbeda.

Kita tidak pernah berhenti belajar. Selalu harus belajar mengatasi perubahan yang terus terjadi dari waktu ke waktu. Marilah kita perhatikan, bahwa ternyata tidak ada satu pun aspek hidup kita di desain untuk mengarahkan kita menjadi kaya. Kalaupun kita mengarahkan hidup kita untuk menjadi kaya, tidak ada satupun dalam proses pembelajaran yang kita lakukan tersebut yang berkenaan dengan hidup ini yang mengarahkan kita secara langsung untuk menjadi kaya secara materi. Dikatakan “kaya secara materi” karena ada kekayaan lain yang berbeda. Kaya secara intelektual, kaya secara spiritual, kaya secara moral, atau kaya secara ketrampilan. Semua yang kita pelajari dalam hidup ini mengarahkan kita untuk menjadi kaya dalam hal-hal yang baru saja saya sebutkan tadi. Semua kekayaan itu sejalan dengan natur hidup kita dan mengarahkan kita kepada HIDUP, serta berkenaan langsung dengan penambahan dan menaikkan nilai-nilai dalam seluruh aspek-aspek yang berada dalam hidup kita. Menuntun kita dari hidup, kepada hidup yang lebih tinggi.

Itulah yang selalu kita kerjakan. Sambil kita belajar, kita pun sedang bekerja untuk meningkatkan nilai hidup kita. Bekerja adalah merupakan natur dalam hidup manusia. Bekerja seharusnya adalah sesuatu yang terjadi secara natural, sama seperti kita bernapas dan makan. Bekerja adalah sebuah kebutuhan hidup. Tubuh kita tidak di ciptakan untuk tidak melakukan apa-apa dan menganggur. Semakin banyak kita menganggur dan tidak melakukan apa-apa, semakin buruk jadinya bagi fungsi tubuh kita. Semakin malas kita menggerakkan tubuh kita, semakin kita jauh daripada HIDUP.

Itulah tujuan dari belajar. Persis sama dengan proses kita bersekolah, dari kelas yang rendah, naik kepada kelas yang tinggi. Dari yang dulunya tidak bisa, naik menjadi bisa. Dari yang dulunya kurang ‘hidup’, menjadi lebih ‘hidup’. Dari bayi yang hanya bisa menangis dan berteriak, menjadi manusia dewasa yang bisa mengurus segala sesuatunya sendiri. Dari bayi yang tidak bisa bekerja, menjadi manusia dewasa yang bisa bekerja mengurus kebutuhan dan mencukupkan diri.

Sedangkan perihal menjadi kaya secara keuangan, itu adalah jalur yang berbeda dengan apa yang kita jalani ketika kita sedang mengarahkan jalan kita kepada hidup seperti yang sudah saya uraikan tadi. Kita harus dengan sengaja mengambil jalur hidup yang sama sekali berbeda ketika kita mau dengan sungguh-sungguh mengejar kekayaan. Sebuah jalur hidup yang mengarahkan kita kepada dunia materi. Jalan yang menuntun kita dari hidup, kepada yang mati. Tidakkah kita sadari bahwa jika mau dengan jujur kita renungkan, kita menempuh jalan yang memiliki kesulitan-kesulitan yang sebenarnya tidak perlu untuk mengejar kekayaan dan menumpuk harta yang sebenarnya untuk mengisi kekosongan hidup dan perasaan serakah serta kekhawatiran akan hari depan.

Kita sebenarnya ingin untuk memiliki hidup yang baik, yang berguna, yang bisa berkarya. Namun kemudian kita menoleh kepada sekitar kita dan mulai membandingkan diri kita dengan orang lain dengan semangat kompetisi yang tertanam dalam diri kita berikut dengan sifat iri, serakah, dan tidak mau kalah dengan orang lain. Sifat yang seolah-olah yakin bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang sama dengan modal yang sama, atau bahkan kita menilai diri kita lebih daripada orang lain. Kita ingin memilik harta yang lebih banyak atau paling tidak sama dengan orang lain. Sehingga kita memaksakan diri membeli semua barang yang kita tidak perlu, seringkali dengan uang yang tidak kita miliki, agar dapat membanggakannya di depan orang yang seringkali kita tidak kenal atau tidak kita sukai, supaya kita bisa membuat iri orang di sekitar kita; Dan ketika orang di sekitar kita benar-benar menjadi iri, kita mulai mengeluhkan hal tersebut.
Padahal kita mengerti betul bahwa orang-orang yang paling penting dalam hidup kita tidak membutuhkan itu semua, mereka mau menerima kita apa adanya dan mereka menghargai kita. Teman yang sejati, keluarga, sahabat baik, mereka yang berada dekat dengan kita pada saat suka dan duka, apakah mereka perduli berapa besar kekayaan kita?

Kita pasti sering mendengar kisah orang-orang yang “sukses” (baca: KAYA); ada yang dari keluarga miskin, tidak mendapat kesempatan bersekolah, tapi dia berjuang dengan berdagang, atau mendirikan usaha yang kemudian maju dan dia menjadi kaya. Kisah-kisah seperti itu menarik untuk beberapa saat dan lenyap ketika dia jatuh bangkrut atau meninggalkan dunia ini. Kisah yang bertahan seketika saja untuk sementara waktu sampai tergantikan dengan kisah sukses yang lain. Dan ketika dia mati, tidak ada orang yang mengingat namanya.
Kisah-kisah yang demikian banyak sekali mengemukakan bahwa untuk menjadi kaya, tidak harus selalu sekolah. Banyak yang putus sekolah tapi juga bisa menjadi kaya. Jadi jelas sebuah kesalahan besar jika anak-anak disekolahkan supaya bisa bekerja untuk menjadi kaya.

Anak-anak yang disekolahkan itu akan menjadi pintar. Dan pintar tidak akan membuat dia kaya. Untuk menjadi kaya, dia harus menggunakan kepintarannya di dalam jalan yang berbeda. Mereka menggunakan seluruh hidupnya bekerja untuk dirinya sendiri dan hanya untuk dirinya sendiri. Ironisnya, mereka tidak kekurangan dalam hidupnya tapi mereka tidak bisa menikmatinya, mereka akan melihat orang lain yang akan menikmati hartanya dan tidak ada yang bisa dia lakukan, sementara dia sendiri bekerja keras dan memikul segala beban yang tidak perlu dan resiko yang tidak semestinya.

Kita juga pasti pernah mendengar kisah orang yang besar, yang agung, yang namanya dimuat dalam sejarah, yang tidak seorang pun dari mereka dinilai dari uang yang mereka hasilkan, mereka adalah orang-orang yang “sukses” dalam wilayah yang hidup. Mereka sukses dalam kehidupan mereka dan dunia mengakui nama mereka sebagai orang yang mulia. Entah karena kebaikan mereka, pengorbanan mereka, keagungan moral dan spiritual mereka ditengah-tengah kesulitan hidup dan berhasil melampaui itu semua untuk kemudian mengarahkan hidup mereka kepada HIDUP dengan kualitas yang diakui seluruh dunia. Mereka yang namanya dikenang oleh sejarah, yang buku biografinya dibaca selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun setelah dia mati.
Mereka adalah orang-orang yang bekerja untuk menghasilkan sesuatu dalam hidupnya bagi orang lain. Mereka yang bekerja dalam kesenangannya, mengerjakan yang dia sukai sesuai dengan bakatnya, makan sedikit ataupun makan banyak, mereka tidur dengan nyenyak dan menikmati hidupnya dan hasil kerjanya.

Sekarang, definisi “sukes” yang mana yang sebenarnya ingin kita capai?
Pendidikan macam apa dan kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani. Apakah kita mau mendidik hidup kita dan mengarahkannya kepada hidup, atau kita mau mengarahkannya kearah yang lain?
Apakah kita mau mengarahkan seluruh hidup kita untuk diri kita sendiri, egoisme pribadi, keinginan diri sendiri; Ataukah kita mau membagikan hidup kita untuk orang lain, menjadi berkat bagi orang lain, atau paling tidak memiliki hidup yang bisa kita nikmati dengan mengerjakan hal-hal yang menjadi bagian kita?
Dengan cara apa kita hendak mendidik generasi dibawah kita, anak-anak kita, anak didik kita?

Saya yakin bahwa jawabannya adalah mengarah kepada hidup.
Saya juga cukup yakin, setelah selesai dengan menjawab, mata kita melihat semua orang di sekeliling kita, kemudian kaki dan tangan kemudian melangkah dan menunjuk ke arah yang lain. Sangat bisa dimengerti, karena sepanjang sejarah, itulah semangat yang dikumandangkan sepanjang sejarah melalui filsafat humanisme, materialisme, dan hedonisme. Karena akar dari segala hal yang berada di dalam dunia ini adalah cinta diri sendiri dan cinta kepada uang.

Kebahagiaan hidup adalah pencernaan yang baik dan tidur yang nyenyak.

Advertisements

Pragmatisme dalam Sosiologi Modern

Pragmatisme, secara sederhana, adalah gerakan filsafat yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan atau pemikiran atau tindakan dianggap benar jika bisa dimaanfatkan atau difungsikan dan berhasil dengan memuaskan. Sebagai ekstensi dari pemikiran ini, pernyataan atau pemikiran atau tindakan yang sifatnya pragmatis, selalu mengarah kepada hal yang praktis, yang harus dapat diterima dengan mudah, dilakukan dengan gampang, dan menyelesaikan masalah dengan hasil yang dapat dilihat dengan segera sebagai takaran “berhasil dengan memuaskan”. Konsekuensinya, segala ide, pemikiran, konsep, teori yang sifatnya tidak bersinggungan langsung dengan aspek praktika dengan segera ditolak.

Di tengah-tengah masyarakat modern, sebagian besar manusia hidup dengan cara yang pragmatis. Entah sadar ataupun tidak sadar, filsafat ini telah mencengkeram pola pikir manusia modern. Entah mereka mengerti atau tidak, pernah mendengar atau bahkan tidak pernah mendengar istilah ini, masyarakat modern melakukan dan mengikuti filsafat pragmatisme.

Contoh yang sangat saya sukai adalah sebagai berikut:

  • Ku tahu yang ku mau  : termasuk didalam gerakan humanisme
  • Emang gua pikirin        : termasuk didalam gerakan post-modernisme
  • Ah, teori                       : termasuk didalam gerakan pragmatisme

Ketidakperdulian terhadap semua pengertian tentang berbagai aliran pemikiran dan filsafat yang berada dalam arus budaya, teknologi, dan sosial dalam masyarakat; termasuk ketidakperdulian terhadap contoh pokok pemikiran yang saya utarakan diatas juga adalah hasil dari arus pragmatisme. Mereka hidup pragmatis, namun mereka tidak tahu bahwa mereka pragmatis. Mereka dalam keseharian hidup humanis, oportunis, utilitarianis, tapi tidak pernah tahu apakah semua -isme itu; kendatipun semuanya sudah mereka kerjakan.

Masyarakat modern semakin tidak memperdulikan konsep dan pemikiran yang baik dan benar dan bernilai. Mereka mengejar segala sesuatu yang sifatnya praktis, menguntungkan, demi kepentingan sendiri, dan untuk masa sekarang ini, detik ini juga. Mereka tidak cukup sabar untuk berpikir jauh kedepan, menabur untuk menuai di kemudian hari. Kita berada dalam dunia berbudaya “mie-instan”. Pemikiran dan pertimbangan jangka panjang, sikap yang perduli terhadap penalaran yang baik telah ditinggalkan. Rasa keingintahuan tentang banyak hal sudah semakin menipis dan diabaikan.

Budaya pragmatisme merusak struktur dan integritas sosial dalam dunia modern dan akan terus berlanjut dalam masa yang akan datang.

Berikut akan saya berikan beberapa contoh akibat filsafat pragmatisme:

  • Siswa sekolah hanya untuk mendapat nilai yang baik, lulus dengan gelar, entah bagaimana pun caranya. Mereka bukan sekolah untuk mencapai suatu taraf ilmu untuk mengejar nilai dan kualitas hidup dan didikan yang tinggi.
  • Pelajar yang belajar satu macam bidang tidak perduli tentang bidang yang lain, tidak perduli tentang kaitan ilmu yang dia pelajari dengan berbagai bidang dalam hidupnya. Mereka tidak tertarik untuk mempelajari hal yang mereka anggap tidak relevan.
  • Anak-anak dididik oleh orang tua dan guru bukan untuk menjadi manusia yang dewasa, bermoral baik, berintegritas, agung, suci, memiliki intelektual yang tinggi. Mereka dididik supaya PANDAI. Untuk apa pandai? Supaya kaya.
    Saya tidak pernah mengerti kaitan pandai dengan kaya. Karena saya banyak sekali melihat orang kaya yang sama sekali rendah dan bodoh.
  • Kualitas manusia yang pragmatis, menghasilkan segala sesuatu yang mutunya tidak tinggi. Barang hasil manufaktur dan industri memiliki kualitas yang rendah karena semakin pendek masa pakai suatu produk, semakin sering produk itu harus dibeli, sehingga keuntungan produsen akan terus meningkat.
  • Manajemen di berbagai bidang termasuk didalamnya mulai dari perusahaan hingga pada pemerintahan sebuah Negara menghasilkan putusan-putusan yang sifatnya pragmatis, spesifik untuk menyelesaikan kasus khusus, namun karena dilakukan tanpa landasan pemikiran dan wawasan yang jelas (karena memikirkan itu semua adalah terlalu merepotkan) sehingga hasil keputusan hampir selalu menimbulkan permasalahan baru.
  • Budaya korupsi juga merupakan hasil dari pragmatisme. Pejabat belajar supaya pintar, pintar supaya kaya. Setelah menjabat, dia perlu kaya. Apapun caranya.
  • Manusia yang katanya beragama memiliki kehidupan yang terpecah-pecah dan fragmental. Mereka hanya baik di dalam rumah ibadah, hanya baik ketika menjalankan ritual agama, namun hidupnya di luar menjadi liar karena mereka menganggap bahwa hidup suci di dalam dunia keseharian dan dunia kerja itu tidak praktis dan merugikan. Sebuah perilaku yang merepotkan dan tidak ada manfaatnya.

Semuanya di atas adalah sebagian contoh kecil pengaruh filsafat pragmatisme dalam masyarakat. Dan masalah terbesar dengan masyarakat pragmatis adalah tidak ada seorangpun mau tahu mengenai apakah itu pragmatisme karena mempelajari dan mengerti pragmatisme itu sangat tidak praktis dan merepotkan dan tidak memiliki nilai apapun.

Untuk menyelesaikan membaca tulisan ini pun mereka tidak mau, karena ini hanya teori kosong. “Ah, teori..!” Saya yakin saya sudah mendengar kata itu diucapkan pada saat kalimat pertama tulisan ini dibaca, tapi mereka tidak tahu bahwa saya sudah tahu bahwa mereka tidak mau tahu.

Di akhir pembahasan ini, saya perlu memberikan keseimbangan, –katakanlah– sebuah paradoks. Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa pragmatisme adalah keburukan yang harus dihindari sepenuhnya.

Dalam realita kehidupan kita yang jauh dari ideal dalam idealisme yang ada pada diri kita tentang segala sesuatu yang baik, yang benar, dan yang bernilai tinggi yang harus kita capai, kita harus hidup dengan cara yang sedemikian sehingga kita hidup seturut dengan kondisi masyarakat. Dengan kata lain: kita perlu hidup secara –sampai pada suatu titik–  pragmatis.

Kita akan sangat kesulitan dan terjepit jika kita hidup dalam konstruksi pikiran yang idealis sepanjang waktu. Namun itu tidak berarti bahwa kita boleh hidup berlawanan dengan idealisme untuk berada dalam pragmatisme total. Di sinilah letak paradoks kebenaran antara pragmatisme dan idealisme.

Dengan demikian, saya akan menyodorkan sebuah definisi tentang pragmatisme dalam paradoksnya dengan idealisme dari kitab orang Kristen:

Pragmatisme adalah mencari cara hidup yang terbaik dari semua yang sudah memburuk untuk mencapai tujuan dari suatu idealisme ditengah-tengah kehidupan dalam dunia nyata yang jauh dari ideal. Bukannya idealisme menjadikan kita bersungut-sungut dan mengeluh bahwa dunia ini seharusnya tidak begini. Ketika kita hidup pragmatis, kita menerima kenyataan bahwa dunia ini adalah sedemikian rusak dan tidak akan berubah, sekalipun kita tidak menyukainya. Kita menggali segala kemungkinan dan mengaitkan segala hubungan yang mengatur hidup kita secara totalitas dan menggunakan kekuatan konseptual itu untuk menarik dunia disekitar kita menjadi lebih baik.

Pragmatisme memiliki makna bahwa kita melihat kepada pemikiran dan perilaku kita sambil menanyakan pada diri kita sendiri, apa yang bisa saya perbuat? Apakah pemikiran dan perilaku saya membawa saya semakin hari semakin baik menuju kepada idealisme saya? Apakah hidup saya semakin hari semakin diproses dan semakin diperbaharui seturut dengan pembaharuan akal budi saya?

Contoh mudahnya adalah sedemikian:
Ketika kita bersama-sama dengan semua pemakai jalan raya; keadaan mulai memburuk dengan kemacetan dan semua orang mulai tidak mau mengalah dan saling serobot mendahulukan kepentingan mereka masing-masing dengan sejuta alasan dan pembenaran diri.

Idealisme dalam diri kita mulai mengkritisi kondisi tersebut, seharusnya kalau mau bergiliran jalan dan tidak saling serobot, kita semua akan mendapat gilirannya dan semua akan berakhir baik. Tapi kita pun berpikir, kalau saya terus mengalah, saya akan jadi korban dan saya tidak akan mendapat giliran untuk jalan.

Secara pragmatis, kita akan mulai ikut main dengan situasi dan mulai ikut menyerobot.
Secara idealis, kita akan menanti dan mengalah dan kita akan berada dalam kemacetan itu selama-lamanya.
Benarkah demikian? Tidak bisakah kita menilai situasi secara berbeda selain daripada pragmatis atau idealis? Atau mungkinkah kita dalam waktu yang sama, bersikap pragmatis DAN idealis? Mengambil sikap paradoks, tidak menambahi kekacauan, namun juga tidak mengalah dengan buta dan mengorbankan diri sendiri; Mengerti kewajiban kita yang sama dengan pengguna jalan yang lain, namun tidak bersikap sembarangan dalam menggunakan hak kita.

A beautiful thing is never perfect.

Terjemahan: Sesuatu yang indah tidak pernah sempurna.