Pragmatisme dalam Sosiologi Modern

Pragmatisme, secara sederhana, adalah gerakan filsafat yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan atau pemikiran atau tindakan dianggap benar jika bisa dimaanfatkan atau difungsikan dan berhasil dengan memuaskan. Sebagai ekstensi dari pemikiran ini, pernyataan atau pemikiran atau tindakan yang sifatnya pragmatis, selalu mengarah kepada hal yang praktis, yang harus dapat diterima dengan mudah, dilakukan dengan gampang, dan menyelesaikan masalah dengan hasil yang dapat dilihat dengan segera sebagai takaran “berhasil dengan memuaskan”. Konsekuensinya, segala ide, pemikiran, konsep, teori yang sifatnya tidak bersinggungan langsung dengan aspek praktika dengan segera ditolak.

Di tengah-tengah masyarakat modern, sebagian besar manusia hidup dengan cara yang pragmatis. Entah sadar ataupun tidak sadar, filsafat ini telah mencengkeram pola pikir manusia modern. Entah mereka mengerti atau tidak, pernah mendengar atau bahkan tidak pernah mendengar istilah ini, masyarakat modern melakukan dan mengikuti filsafat pragmatisme.

Contoh yang sangat saya sukai adalah sebagai berikut:

  • Ku tahu yang ku mau  : termasuk didalam gerakan humanisme
  • Emang gua pikirin        : termasuk didalam gerakan post-modernisme
  • Ah, teori                       : termasuk didalam gerakan pragmatisme

Ketidakperdulian terhadap semua pengertian tentang berbagai aliran pemikiran dan filsafat yang berada dalam arus budaya, teknologi, dan sosial dalam masyarakat; termasuk ketidakperdulian terhadap contoh pokok pemikiran yang saya utarakan diatas juga adalah hasil dari arus pragmatisme. Mereka hidup pragmatis, namun mereka tidak tahu bahwa mereka pragmatis. Mereka dalam keseharian hidup humanis, oportunis, utilitarianis, tapi tidak pernah tahu apakah semua -isme itu; kendatipun semuanya sudah mereka kerjakan.

Masyarakat modern semakin tidak memperdulikan konsep dan pemikiran yang baik dan benar dan bernilai. Mereka mengejar segala sesuatu yang sifatnya praktis, menguntungkan, demi kepentingan sendiri, dan untuk masa sekarang ini, detik ini juga. Mereka tidak cukup sabar untuk berpikir jauh kedepan, menabur untuk menuai di kemudian hari. Kita berada dalam dunia berbudaya “mie-instan”. Pemikiran dan pertimbangan jangka panjang, sikap yang perduli terhadap penalaran yang baik telah ditinggalkan. Rasa keingintahuan tentang banyak hal sudah semakin menipis dan diabaikan.

Budaya pragmatisme merusak struktur dan integritas sosial dalam dunia modern dan akan terus berlanjut dalam masa yang akan datang.

Berikut akan saya berikan beberapa contoh akibat filsafat pragmatisme:

  • Siswa sekolah hanya untuk mendapat nilai yang baik, lulus dengan gelar, entah bagaimana pun caranya. Mereka bukan sekolah untuk mencapai suatu taraf ilmu untuk mengejar nilai dan kualitas hidup dan didikan yang tinggi.
  • Pelajar yang belajar satu macam bidang tidak perduli tentang bidang yang lain, tidak perduli tentang kaitan ilmu yang dia pelajari dengan berbagai bidang dalam hidupnya. Mereka tidak tertarik untuk mempelajari hal yang mereka anggap tidak relevan.
  • Anak-anak dididik oleh orang tua dan guru bukan untuk menjadi manusia yang dewasa, bermoral baik, berintegritas, agung, suci, memiliki intelektual yang tinggi. Mereka dididik supaya PANDAI. Untuk apa pandai? Supaya kaya.
    Saya tidak pernah mengerti kaitan pandai dengan kaya. Karena saya banyak sekali melihat orang kaya yang sama sekali rendah dan bodoh.
  • Kualitas manusia yang pragmatis, menghasilkan segala sesuatu yang mutunya tidak tinggi. Barang hasil manufaktur dan industri memiliki kualitas yang rendah karena semakin pendek masa pakai suatu produk, semakin sering produk itu harus dibeli, sehingga keuntungan produsen akan terus meningkat.
  • Manajemen di berbagai bidang termasuk didalamnya mulai dari perusahaan hingga pada pemerintahan sebuah Negara menghasilkan putusan-putusan yang sifatnya pragmatis, spesifik untuk menyelesaikan kasus khusus, namun karena dilakukan tanpa landasan pemikiran dan wawasan yang jelas (karena memikirkan itu semua adalah terlalu merepotkan) sehingga hasil keputusan hampir selalu menimbulkan permasalahan baru.
  • Budaya korupsi juga merupakan hasil dari pragmatisme. Pejabat belajar supaya pintar, pintar supaya kaya. Setelah menjabat, dia perlu kaya. Apapun caranya.
  • Manusia yang katanya beragama memiliki kehidupan yang terpecah-pecah dan fragmental. Mereka hanya baik di dalam rumah ibadah, hanya baik ketika menjalankan ritual agama, namun hidupnya di luar menjadi liar karena mereka menganggap bahwa hidup suci di dalam dunia keseharian dan dunia kerja itu tidak praktis dan merugikan. Sebuah perilaku yang merepotkan dan tidak ada manfaatnya.

Semuanya di atas adalah sebagian contoh kecil pengaruh filsafat pragmatisme dalam masyarakat. Dan masalah terbesar dengan masyarakat pragmatis adalah tidak ada seorangpun mau tahu mengenai apakah itu pragmatisme karena mempelajari dan mengerti pragmatisme itu sangat tidak praktis dan merepotkan dan tidak memiliki nilai apapun.

Untuk menyelesaikan membaca tulisan ini pun mereka tidak mau, karena ini hanya teori kosong. “Ah, teori..!” Saya yakin saya sudah mendengar kata itu diucapkan pada saat kalimat pertama tulisan ini dibaca, tapi mereka tidak tahu bahwa saya sudah tahu bahwa mereka tidak mau tahu.

Di akhir pembahasan ini, saya perlu memberikan keseimbangan, –katakanlah– sebuah paradoks. Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa pragmatisme adalah keburukan yang harus dihindari sepenuhnya.

Dalam realita kehidupan kita yang jauh dari ideal dalam idealisme yang ada pada diri kita tentang segala sesuatu yang baik, yang benar, dan yang bernilai tinggi yang harus kita capai, kita harus hidup dengan cara yang sedemikian sehingga kita hidup seturut dengan kondisi masyarakat. Dengan kata lain: kita perlu hidup secara –sampai pada suatu titik–  pragmatis.

Kita akan sangat kesulitan dan terjepit jika kita hidup dalam konstruksi pikiran yang idealis sepanjang waktu. Namun itu tidak berarti bahwa kita boleh hidup berlawanan dengan idealisme untuk berada dalam pragmatisme total. Di sinilah letak paradoks kebenaran antara pragmatisme dan idealisme.

Dengan demikian, saya akan menyodorkan sebuah definisi tentang pragmatisme dalam paradoksnya dengan idealisme dari kitab orang Kristen:

Pragmatisme adalah mencari cara hidup yang terbaik dari semua yang sudah memburuk untuk mencapai tujuan dari suatu idealisme ditengah-tengah kehidupan dalam dunia nyata yang jauh dari ideal. Bukannya idealisme menjadikan kita bersungut-sungut dan mengeluh bahwa dunia ini seharusnya tidak begini. Ketika kita hidup pragmatis, kita menerima kenyataan bahwa dunia ini adalah sedemikian rusak dan tidak akan berubah, sekalipun kita tidak menyukainya. Kita menggali segala kemungkinan dan mengaitkan segala hubungan yang mengatur hidup kita secara totalitas dan menggunakan kekuatan konseptual itu untuk menarik dunia disekitar kita menjadi lebih baik.

Pragmatisme memiliki makna bahwa kita melihat kepada pemikiran dan perilaku kita sambil menanyakan pada diri kita sendiri, apa yang bisa saya perbuat? Apakah pemikiran dan perilaku saya membawa saya semakin hari semakin baik menuju kepada idealisme saya? Apakah hidup saya semakin hari semakin diproses dan semakin diperbaharui seturut dengan pembaharuan akal budi saya?

Contoh mudahnya adalah sedemikian:
Ketika kita bersama-sama dengan semua pemakai jalan raya; keadaan mulai memburuk dengan kemacetan dan semua orang mulai tidak mau mengalah dan saling serobot mendahulukan kepentingan mereka masing-masing dengan sejuta alasan dan pembenaran diri.

Idealisme dalam diri kita mulai mengkritisi kondisi tersebut, seharusnya kalau mau bergiliran jalan dan tidak saling serobot, kita semua akan mendapat gilirannya dan semua akan berakhir baik. Tapi kita pun berpikir, kalau saya terus mengalah, saya akan jadi korban dan saya tidak akan mendapat giliran untuk jalan.

Secara pragmatis, kita akan mulai ikut main dengan situasi dan mulai ikut menyerobot.
Secara idealis, kita akan menanti dan mengalah dan kita akan berada dalam kemacetan itu selama-lamanya.
Benarkah demikian? Tidak bisakah kita menilai situasi secara berbeda selain daripada pragmatis atau idealis? Atau mungkinkah kita dalam waktu yang sama, bersikap pragmatis DAN idealis? Mengambil sikap paradoks, tidak menambahi kekacauan, namun juga tidak mengalah dengan buta dan mengorbankan diri sendiri; Mengerti kewajiban kita yang sama dengan pengguna jalan yang lain, namun tidak bersikap sembarangan dalam menggunakan hak kita.

A beautiful thing is never perfect.

Terjemahan: Sesuatu yang indah tidak pernah sempurna.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s