Hukum Relasi Pencipta dan Ciptaan

Secara eksistensialis, dunia dan segala isinya adalah produk dari ciptaan suatu entitas yang kita kenal sebagai dengan berbagai sebutan; tapi saya akan menyebutkan namanya disini adalah TUHAN.

Secara sederhana, posisi eksistensialis saya berasal dari pemahaman yang dapat di jelaskan dengan singkat, yaitu bahwa:
Tidak ada sesuatupun yang berasal dan keluar dari ‘kebetulan’ bisa menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan teratur sistematik.

Tidak ada hal yang agung yang muncul sebagai akibat dari kebetulan. Tidak ada hal yang teratur yang muncul dari kebetulan. Perhatikan ke sekeliling kita, semua yang kita lihat dan kita pelajari mengikuti pola keteraturan yang memiliki ‘value system’ (terj: sistem nilai) tertentu dalam esensinya.

Mulai dari benda yang kita pakai, misalnya telepon, televisi, komputer, mobil, gedung, dan lain-lain. Sistem nilai yang ada di sekitar kita, misalnya hukum dan peraturan, tata kota, sistem pengairan, ekonomi mikro dan ekonomi makro, dan lain-lain. Semua hal lain yang berada dalam alam semesta misalnya gerak rotasi bumi dan revolusi planet, keteraturan hukum alam yang dapat diprediksi, keseimbangan ekosistem kecil dan keteraturan yang membentuk ekosistem dunia.

Kesemuanya teratur rapi. Kesemuanya berada dalam posisinya dan memiliki makna. Berdasar pada presuposisi bahwa “tidak ada sesuatu pun yang berasal dari kebetulan yang bisa memiliki nilai yang tinggi ataupun makna yang terlalu dalam”, maka saya simpulkan bahwa dunia ini adalah diciptakan.

Dunia ini dan segala isinya mengikuti Hukum Relasi Pencipta-Ciptaan.

Pakaian yang kita pakai, dibuat dengan melalui perencanaan sebelum pakaian itu dibuat. Siapa yang akan memakai (pria atau wanita), dipakai seperti apa (atasan atau bawahan atau di kaki atau tangan), dipakai oleh orang yang seperti apa (petualang pendaki gunung atau orang yang hidup di pantai), dan seterusnya.

Demikian pula dengan semua hal yang lain yang kita kerjakan. Kesemuanya yang kita lakukan pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu. Dan semua yang kita kerjakan akan memiliki maksud dan tujuan atau yang kita sebut sebagai ‘return value’ (terj: nilai kembali) kepada kita, untuk keuntungan kita.

Hukum Relasi Pencipta-Ciptaan menyatakan:

Segala sesuatu ada karena direncanakan, dibuat, dan diciptakan; berasal dari inisiatif pencipta, oleh kehendak pencipta, untuk maksud dan tujuan pencipta, dan hasil akhirnya adalah bagi kesenangan pencipta.

Hal itu berlaku untuk segala hal yang dikerjakan oleh manusia, selain daripada manusia, tidak ada makhluk di dunia ini yang sanggup memikirkan konsep maupun aplikasi penciptaan tersebut.

Demikian pula dengan dunia ini. Dunia ini dengan segala keteraturannya haruslah memiliki pencipta. Manusia sejak dahulunya telah mengenal keterbatasan diri kita dihadapkan pada alam, kita takluk dibawah hukum alam, kekuatan alam, kuasa alam yang sedemikian dashyat. Kita mencoba memanipulasi alam, memanfaatkan alam, mengelola alam, akan tetapi tidak semua bisa kita kendalikan. Alam diciptakan dengan segala keteraturannya memiliki tujuan dan fungsinya untuk menjaga keseimbangannya sendiri.

Manusia sejak dahulunya telah mengenali dalam jiwanya bahwa ada sesuatu kuasa yang lebih besar yang mengendalikan alam. Mulai dari kekuatan alam yang paling besar, hingga keteraturan partikel yang paling kecil. Itu sebabnya sepanjang sejarah, bermunculanlah berbagai macam agama, kepercayaan, yang melakukan penyembahan terhadap kuasa ultimat tersebut. Meskipun pada abad pencerahan dan abad modern sempat ada upaya untuk melarikan diri dari kenyataan itu dan mereka menolak rasionalisme terhadap hal-hal yang sifatnya melampaui alam natural. Mereka mensejajarkan keadaan supranatural, suprarasional sebagai kondisi yang irasional.

Kendatipun demikian, kita mau ataupun tidak mau, terjepit dalam fakta konsep yang menuntut kita untuk mempercayai bahwa dunia ini adalah diciptakan. Ekstensi dari pernyataan tersebut adalah bahwa kita ini diciptakan, dan bukan melalui proses kebetulan yang terjadi dalam kosmik dunia makhluk hidup: dari binatang yang tidak berbahasa, muncul manusia yang berbahasa dan memiliki pemikiran eksistensialis serta memahami konsep kronos dan kairos (waktu dan momen).

Jika kita diciptakan oleh Tuhan, maka hukum relasi pencipta-ciptaan berlaku pula terhadap diri kita:
Yaitu bahwa manusia diciptakan dari inisiatif Tuhan, oleh kehendak Tuhan, bagi rencanaTuhan dan untuk tujuan yang telah ditetapkan Tuhan sebelumnya.

Yang menarik adalah bahwa pandangan ini juga terdapat dalam buku orang Kristen. Dan disana lebih jelas lagi dikatakan bahwa kita memiliki tugas dan tanggung jawab tertentu yang dituntut oleh pencipta kita; ada pekerjaan yang harus kita lakukan seturut dengan kehendak Tuhan. Yaitu pekerjaan baik yang telah dipersiapkan bagi kita sejak sebelum manusia dijadikan.

Akibat dari proposisi itu, berarti kita yang mengerti bahwa kita diciptakan oleh Tuhan, tidak diperkenankan untuk sembarangan hidup menurut sesuka hati sendiri dan melakukan semua yang kita mau hanya karena kita bisa. Secara tanggung jawab moral dalam kehidupan keseharian pun kita tidak diijinkan untuk bertindak lain daripada yang ditetapkan dalam batasan tanggung jawab dan hak kita.

Konsekuensi dari berlakunya Hukum Relasi Pencipta-Ciptaan ini seharusnya membuat manusia, yang katanya beragama dan mengakui Tuhan sebagai pemilik kuasa terbesar, menjadi makhluk yang menjaga hidup secara bertanggung jawab, menggunakan moralitas yang baik, dengan kebijaksanaan yang tinggi, mengerjakan segala sesuatu dengan berpikir panjang tentang segala sebab dan akibat yang dimasa sekarang maupun nanti dimasa yang akan datang. Manusia yang mengakui Tuhan itu seharusnya memiliki pengertian lebih dan memiliki hidup yang mengarah pada tujuan hidup yang ditetapkan seturut dengan tujuan penciptaan.

Kita mengenal kalimat, “Segala sesuatu terjadi pasti ada alasannya.”
Jadi apa alasan kita berada di dunia ini? Kita dilahirkan dalam dunia dimana “moralitas” merongrong kita sejak masa kecil kita, menuntut kita untuk melakukan perbuatan yang dipandang baik dan pantas. Dan terlebih daripada tuntutan moral, semua agama mengajarkan perbuatan mengenai kebaikan yang harus dilakukan. Dan beberapa agama yang lebih agung mengajarkan kita untuk mengejar kebaikan bagi seluruh umat manusia dan menjadi berkat dimanapun kita berada. Dan agama yang lebih agung lagi mengajarkan untuk mengasihi semua manusia seperti kita mengasihi diri sendiri, untuk mengasihi manusia lain sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan, bahkan hingga kita rela mengorbankan nyawa untuk supaya menjadi berkat dalam kehidupan orang lain.

Itulah tujuan kita diciptakan. Tujuan manusia berada dalam dunia ini.
Untuk memelihara dan mengelola dunia dan alam dibawah kita, dan menjadi makhluk yang bertanggung jawab terhadap pencipta kita. Bukan untuk hidup sesuka hati kita.
Sama seperti kita mengharapkan bahwa semua yang kita ciptakan haruslah berfungsi seturut dengan tujuan yang maksudkan, menghasilkan nilai seperti yang kita rencanakan. Dan semua yang tidak berfungsi seperti yang kita mau, kita kategorikan sebagai ciptaan yang rusak, dan semua yang rusak akan berakhir di tempat sampah.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s