Paradigma Tentang Talenta

Talenta, dalam Bahasa Inggris: talent, berasal dari kata Latin: talenta, yang memiliki makna sebagai satuan unit berat atau sejumlah uang. Sama seperti kata tael yang digunakan dalam dunia timur seperti Cina dan Jepang sebagai satuan berat atau sejumlah berat perak sebagai mata uang. Dalam perkembangannya, kata talenta itu didefinisikan sebagai ketrampilan atau keahlian, kemampuan atau kecenderungan atau kompetensi, yang dimiliki secara natural oleh seseorang dalam bentuk bakat bawaan sejak dilahirkan. Dunia psikologi mengenali bahwa bakat dan kecenderungan (dalam Bahasa Inggris: aptitude) ini dimiliki secara berbeda-beda dalam tiap-tiap orang, lebih lanjut lagi, ilmu psikologi (secara khusus dalam psychometric) membangun berbagai alat ukur untuk membantu orang dalam mengenali kemampuan tertentu di dalam dirinya.

Dalam natur manusia, sepanjang sejarah umat manusia, manusia berusaha mengenali secara eksistensialis tentang tujuan hidupnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk di muka bumi ini yang menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya memikirkan makna dan tujuan hidup. Ada cukup banyak filsafat yang berusaha menjawab pertanyaan ini, mulai dari yang menawarkan bahwa hidup ini baru bermakna jika melakukan kebaikan, jika membuahkan hasil bagi orang lain, jika seseorang merasa berbahagia, jika bisa menjauhi keinginan duniawi, jika bisa mengumbar segala keinginan, jika bisa memberikan persembahan (dalam berbagai bentuk seturut yang diminta) kepada para dewa atau tuhan atau langit atau nirvana atau vallhalla, dan banyak lagi. Terlepas dari berbagai macam bentuk dan upaya, manusia memiliki suatu perasaan bahwa hidup ini harus memiliki tujuan supaya bisa memiliki makna. Apakah makna itu muncul dari pemikiran yang mengenal konsep ke-tuhan-an, konsep yang berpusat pada dunia dan manusia secara luas, konsep yang berfokus pada diri sendiri atau hingga mengarah pada pemikiran yang mengatakan bahwa makna hidup itu ada dalam ketidakberadaan suatu makna apapun dalam diri manusia karena manusia ini kebetulan muncul begitu saja. Yang terakhir ini sangat menarik bagi saya, karena saya melihat kontradiksi dalam pandangan ini yang sifatnya irasional dan unnatural.

Bagaimana sesuatu bisa memiliki makna? Maka berdasar pada prinsip relasi pencipta-ciptaan yang berlaku pada semua yang ada di bawah langit, sesuatu baru memiliki makna jika kembali pada pengenalan akan diri. Pengenalan akan diri baru dapat muncul jika mengenali pencipta.
Untuk mengenali sebuah produk merek tertentu, tidak ada siapapun yang lebih berhak memberikan penjelasan tentang produk tersebut selain daripada pabrik atau orang yang menjadi pembuat produk. Dan kita akan dengan senang hati, terbuka, tanpa mempertanyakan apapun juga, mempercayai penjelasan dari pabrik atau pembuat produk tersebut.
Entah kenapa ketika Tuhan membukakan kepada kita bahwa manusia diciptakan oleh Dia menurut kehendak Dia supaya kita melakukan pekerjaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, untuk melakukan pekerjaan tertentu, tiba-tiba beberapa manusia menolak pemahaman tersebut untuk kemudian membangun pemahaman diri sendiri bahwa manusia adalah puncak evolusi dan tidak ada apapun atau siapapun berada di atas manusia. Bahwa manusia menentukan nasibnya sendiri dan memiliki kuasa mutlak dan pengendalian total atas hidupnya (satu irasionalitas lain lagi karena tidak seorang pun sanggup mengendalikan hari kelahiran dan kematiannya). Lalu kemudian berusaha membangun makna hidup berdasarkan sesuatu kebetulan, saya sungguh tidak bisa melihat bagian mana dari sesuatu yang terjadi secara kebetulan yang bisa mampu untuk memiliki makna yang tinggi.

Jadi, berdasarkan pemikiran tersebut, saya akan mulai berbicara tentang fungsi dari talenta. Bahwa talenta yang kita miliki sejak lahir, adalah menjadi milik kita karena ada sesuatu yang harus kita kerjakan dalam hidup ini yang sesuai dengan talenta kita. Talenta bisa ada pada kita, dan bisa kita miliki, tentunya karena ada yang memberi. Dengan pemikiran seperti ini, saya tidak menemukan jalan keluar selain daripada mengakui bahwa ada sesuatu yang menciptakan manusia dan kemudian memberikan talenta kepada manusia, untuk mengerjakan sesuatu yang sudah ditentukan supaya manusia boleh hidup di dalam makna dan tujuan tertentu sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pencipta.
Sama persis dengan sebuah telepon genggam dibuat dengan fitur-fitur dan kapasitas yang ditujukan untuk mendukung tujuan sebuah telepon genggam dibuat. Karena itu adalah sebuah kesalahan penggunaan dan seketika itu juga menghilangkan makna sebuah telepon genggam ketika dia digunakan sebagai alas kaki. Telepon genggam akan menjadi alas kaki yang sangat buruk, tetapi telepon genggam akan memiliki nilai yang sangat tinggi ketika dia berfungsi sebagai alat komunikasi. Sebuah mobil termahal di dunia, ketika disejajarkan dengan sepatu dan difungsikan sebagai sepatu, dia bahkan tidak sebagus sepatu paling jelek dan paling murah sekalipun; dia baru akan menjadi dirinya sendiri (yaitu sebuah mobil) dengan nilai paling tinggi ketika disejajarkan dengan berbagai merek mobil yang lain. Inilah masalah besar yang merupakan kekeliruan dalam prinsip persaingan dan semangat kompetisi.

Berdasar pada definisi talenta di atas, setelah menemukan dan mengenali kapasitas dan potensi diri dengan tepat, barulah manusia dimampukan untuk memiliki makna dan tujuan dalam hidupnya. Dan sekarang mengenai talenta itu sendiri, kepada setiap orang diberikan talenta yang berbeda, tentunya untuk mengerjakan sesuatu yang tertentu yang sesuai dengan maksud pemberian tersebut. Tujuan itu bisa jadi sama, atau pun bisa jadi sangat berbeda antara orang yang satu dengan yang lain.
Sama seperti kepada burung diberikan sayap yang sama sekali berbeda dengan sayap yang diberikan pada ikan. Seperti halnya seseorang yang diberi kemampuan mengolah angka dan seorang lain yang diberi kemampuan mengolah nada. Seperti juga halnya yang seorang diberikan tubuh yang besar dan kepada yang lain diberikan indra pencium dan perasa yang tajam. Yang menjadi koki hebat, tidak perlu menghina mereka yang tidak tahu bedanya daun seledri dan daun ketumbar. Yang bertenaga besar, tidak perlu menghina yang berbadan kecil.

Ada analogi yang menarik mengenai talenta yang saya temukan dalam buku orang Kristen.
Adalah seorang boss besar yang kaya raya dan mempunyai banyak perusahaan. Boss ini kemudian berencana melakukan liburan panjang dan mau berkeliling dunia, sebelum dia pergi, dia mengumpulkan tiga orang asistennya yang paling dia percaya. Pada asisten pertama, dia menitipkan sebuah toko kelontong kecil di sebuah kompleks perumahan. Pada asisten kedua, dia menitipkan sebuah restoran. Pada asisten ketiga, dia menitipkan sebuah supermarket.
Asisten ketiga ini kemudian pergi dan mengelola supermarket tersebut dan berhasil membuka sebuah cabang baru di kota lain. Asisten kedua pun mengelola restoran tersebut dan berhasil membuka cabang baru. Asisten yang pertama melihat dan memperhatikan toko kelontong kecil yang serahkan pada dia, kemudian diputuskannya untuk memasukkan semua barang dagangan ke dalam gudang dan menutup toko tersebut supaya tidak merugi.
Setelah lama berlalu, boss besar ini kembali dan memanggil semua asistennya dan meminta laporan. Asisten yang ketiga melaporkan, “boss, supermarket yang boss suruh saya kelola, sudah ada cabang satu lagi di kota lain.” Boss ini menyahut, “Bagus sekali! Kamu memang layak menjadi asisten kepercayaan saya!”
Asisten yang kedua datang dan melaporkan, “boss, restoran itu sekarang sudah ada cabang di dalam mall.” Dan boss ini menyahut, “Bagus sekali! Kamu memang layak menjadi asisten kepercayaan saya!”
Dan datanglah asisten yang pertama, dia melaporkan, “boss, mereka yang lain dapat supermarket yang besar dan restoran di mall. Saya cuma dapat toko kelontong kecil, mana bisa saya mengembangkan toko kelontong kecil untuk jadi besar. Boss tidak adil, memberi saya modal kecil sekali. Jadi daripada merugi untuk ongkos operasional, saya putuskan untuk menutup toko itu. Tokonya masih ada dengan seluruh isinya. Tidak ada yang kurang. Ini saya kembalikan.”
Boss itu kemudian menyahut, “kamu penuh dengan iri dan dengki, menuduh saya tidak bersikap adil, kamu hanya disuruh untuk mengelola, tentu setelah dikelola harus ada hasil yang sesuai. Apakah saya meminta toko kelontong untuk jadi supermarket atau jadi restoran besar? Berikan toko kelontongmu untuk dikelola oleh asisten saya yang mendapat supermarket. Kamu dipecat.”

Apakah dari contoh tersebut kita merasa bahwa boss tersebut tidak adil? Dunia kita seringkali mencampuradukkan antara keadilan dengan kesamarataan. Kalau semua mendapat sama, baru itu dikatakan adil. Prinsip keadilan itu tidak berlaku sedemikian. Kalau seseorang disuruh memberi makan dua orang anak, yang satu usia 2 tahun, dan yang satu berusia 18 tahun, kemudian berdasar prinsip kesamarataan sebagai keadilan, maka porsi makan keduanya harus sama, karena itulah yang dianggap adil. Jadi hanya ada dua kondisi yang akan muncul, entah anak berusia 2 tahun itu kekenyangan, atau anak yang berusia 18 tahun itu yang kelaparan. Inilah irasionalitas dalam pemahaman manusia terhadap fenomena, dalam hal ini adalah mengenai prinsip keadilan.

Apakah dari contoh diatas kita merasa ada yang tidak pas? Karena kita seringkali membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Selalu ada semangat persaingan dan kompetisi. Kita tidak mau melihat talenta yang kita miliki dan mengelola talenta itu sebaik mungkin dan menghasilkan semaksimal mungkin. Lihat contoh boss tadi, dia sama sekali tidak membandingkan antara yang menghasilkan supermarket dan yang menghasilkan restoran. Kepada yang dipercayakan supermarket, diminta menghasilkan supermarket. Kepada yang dipercayakan restoran, diminta menghasilkan restoran. Dalam semangat persaingan yang bodoh, kita melihat betapa hebatnya yang bisa menghasilkan supermarket, kenapa yang mengelola restoran atau toko kelontong tidak bisa menghasilkan supermarket? Kalau bisa menghasilkan supermarket itu baru bisa dikatakan sukses. Itu baru hebat. Kalau cuma bisa menghasilkan restoran, masih kurang hebat. Kurang sukses. Apalagi kalau cuma sanggup menghasilkan toko kelontong. Tidakkah itu yang selalu diumbar dan didengungkan dalam dunia kita. Dan tidakkah sekarang kita sadari itu sebagai sebuah kekonyolan?

Kegagalan mendefinisikan diri inilah yang kemudian menimbulkan keputusasaan dan kelelahan yang mengarah pada pragmatisme dan mencetuskan kalimat-kalimat untuk menjawab, “Siapakah aku?”
Jawabannya adalah, “Aku adalah aku!”; “Aku tidak mau berubah!”; “Aku adalah aku yang merupakan aku yang adanya apa.”; “Aku adalah aku yang aku ada”.
Dan yang lebih mengejutkan adalah jawaban ini kemudian sekali lagi secara irasional diterima begitu saja.

Kita perlu benar-benar berusaha merubah paradigma kita mengenai prinsip tentang kompetisi dan prinsip tentang talenta. Membangun pengertian yang benar untuk mencari jati diri dan makna diri serta tujuan hidup yang sejati di dalam diri kita masing-masing. Supaya pengertian itu melepaskan kita dari ketersesatan dan kehilangan arah; supaya pengertian itu memberikan alasan yang tepat tentang kenapa kita berada di dunia ini. Di luar dari pengertian terhadap hukum relasi pencipta-cipataan, saya tidak bisa menemukan jawaban lain yang lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s