Pengetahuan dan Pengertian; Kebenaran dan Kebijaksanaan

Tema tentang pengetahuan (knowledge) merupakan pembahasan yang telah berlangsung sepanjang sejarah pemikiran manusia. Filsuf dan pemikir, sosiolog, psikolog, ahli agama dan teolog, penyair, penulis dan sastrawan telah berupaya memahami tentang hal ini. Berbagai pendapat dan argumen dari berbagai sudut pandang membahas tentang “bagaimana seseorang bisa mengetahui yang dia ketahui.” Metafisika membahas topik ini dengan sangat rumit dan kompleks melalui proposisi-proposisi yang begitu luas melalui berbagai presuposisi.

Membahas mengenai para pemikir tersebut akan menjadi topik bahasan yang sangat besar dan sangat luas, tidak akan ada habisnya. Sudut pandang idealisme dan teori juga bukan merupakan posisi dan titik awal yang di ambil dalam pembahasan ini. Hanya membayangkannya saja sudah terasa sangat mengerikan.

Apakah TAHU itu?

Orang yang sudah tahu, tidak perlu diberi tahu.
Orang yang tidak tahu, tidak bisa diberi tahu.
Inilah paradoks pengetahuan. Jika seseorang sudah mengetahui, apa gunanya dia diberi tahu. Jika seseorang tidak mengetahui, bagaimana caranya dia bisa diberi tahu. Agar seseorang bisa tahu, dia pertama-tama harus tahu bahwa dia tidak tahu. Tapi bagaimana caranya dia bisa tahu apa yang dia tidak tahu? Bagaimana bisa ada penerobosan di dalam dirinya untuk menyadari bahwa dia tidak tahu, jika dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu? Jadi, untuk menjadi tahu, dia harus tahu; padahal dia tidak tahu.

Kiranya sekarang sudah terbayang betapa besar kesulitan pemikiran sepanjang sejarah manusia berusaha memahami hal ini. Socrates (filsuf Yunani yang hidup dikisaran tahun 470 BC) mengatakan, “I only know one thing: I know nothing.” (Terj: Aku hanya tahu satu hal: Aku tidak tahu apa-apa.) Ini adalah paradoks Socrates tentang pengetahuan.

Tetap tidak dapat menjawab bagaimana manusia bisa tahu akan banyak hal yang mengisi kepalanya. Kita bisa mengatakan bahwa kita lebih pintar daripada Socrates dan berkata karena ada orang lain yang memberi tahu, jadi kita bisa akhirnya dari tidak tahu, menjadi bisa mengetahui. Socrates itu bodoh, orang kuno, waktu itu dia belum mengerti bahwa kalau sudah diberi tahu, orang bisa tahu.

Mengapa harus TAHU?

Baiklah, setelah diberi tahu, orang seharusnya tahu.
Tapi mengapa ada orang yang sudah diberi tahu, masih juga tidak tahu? Kenyataannya, kita bisa memberi tahu kepada banyak orang segala jenis pengetahuan dan segala macam pengetahuan, tapi akan selalu ada orang yang tidak tahu.

Kita diajarkan segala macam ilmu di bangku sekolah, apakah kita tahu semua yang diajarkan pada kita? Apakah raport kita semuanya mencerminkan nilai yang sempurna sebagai tanda bahwa kita mengetahui semua yang diberitahukan kepada kita?

Tetap tidak menjawab bagaimana seseorang bisa mengetahui apa yang dia ketahui.
Kita bisa mengatakan lagi bahwa itu berbeda. Ada tahu yang asal tahu, ada tahu yang benar-benar tahu, ada tahu yang menuju pada pengertian. Tahu itu tidak sama dengan mengerti.
Sekarang, ada sebuah wawasan baru yang terbuka. Dan Socrates sudah tidak lagi kelihatan terlalu bodoh. Kita sekarang mengetahui ada ‘tahu’ yang sungguh, dan ada ‘tahu’ yang tidak sungguh.

Apakah yang dimaksud dengan mengerti?

Setelah seseorang diberi tahu, kepada dia diharapkan untuk mengerti.
Itulah prinsip pendidikan manusia. Seseorang bermula dari tidak tahu; setelah diberi tahu, dia diharapkan menjadi tahu, tidak sekedar tahu melainkan mengerti; setelah dia mengerti, dia diharapkan untuk melakukan tindakan yang benar sesuai dengan pengertian yang benar yang sesuai dengan pengetahuan yang benar.
Tahapannya diharapkan terjadi sesederhana itu.

Akan tetapi sekarang keluar satu wawasan baru lagi: ‘benar’ / ‘kebenaran’.

Seharusnya sekarang kita mengetahui bahwa manusia tidak boleh hanya sekedar tahu; akan tetapi, selain tahu, dia juga harus mengerti. Apakah kita mengerti (selain mengetahui) akan pengetahuan itu? Apakah kita mengerti apa yang kita mengerti?

David Rosenthal, seorang filsuf dan pengajar di City University of New York, dia sangat dikenal melalui karyanya higher-order-thought theory of consciousness. Dia mengatakan bahwa seseorang tidak memiliki kesadaran yang benar-benar sadar jika  dia tidak menyadari kesadaran tersebut; jadi, sebuah kondisi kesadaran itu baru dapat dikatakan dalam keadaan sadar, jika dia sendiri menyadari apa yang dia sadari.

Demikian pula halnya dengan pengetahuan dan pengertian yang dimiliki seseorang. Sebagai paradoks, dapat pula dijelaskan bahwa seseorang baru dapat dikatakan mengetahui jika dia mengetahui apa yang tidak dia ketahui. Karena melalui ketidaktahuan baru dia dapat diberi tahu.

Kesemua pengertian ini masih juga tidak menjelaskan bagaimana orang bisa mengetahui apa yang dia tidak tahu. Tapi sejauh ini, kita sekarang mengerti bahwa pengetahuan muncul dari sebuah pengetahuan akan ketidaktahuan; walaupun tidak dapat dijelaskan bagaimana orang bisa merasa tidak tahu kalau dia sudah merasa tahu (tahu bahwa dia tidak tahu). Inilah kesulitan terbesar dalam paradoks pengetahuan.

Kebenaran dan kebijaksanaan

Tujuan dari kita tahu dan mengerti adalah supaya pengetahuan kita menuntun pada pengertian kita, membawa kita kepada kehidupan yang lebih bernilai. Supaya tindakan dan perbuatan kita, pekerjaan tangan kita diperbaharui oleh pembaruan dalam akal budi kita. Supaya dari tahu dan mengerti, kita boleh menjadi orang yang benar dan bijak. Tahu dan mengerti di dalam wilayah ide dan idealisme, benar dan bijak dalam perbuatan nyata kehidupan yang praktis sebagai wujud nyata adanya keberadaan pengetahuan dan pengertian.

Kita tidak belajar supaya kita tahu banyak hal, melainkan supaya kita mengerti banyak hal. Pengertian yang membawa kita kepada kualitas hidup yang lebih tinggi. Pengertian yang membawa kita kepada perilaku yang benar dan bijak. Sebuah perilaku yang muncul dari satu sudut pandang yang tepat, menganalisa sesuatu dengan tepat, mengambil kesimpulan yang tepat, dan menjalankan solusi dengan tepat. Sedemikian diperlukannya pengetahuan dan pengertian sehingga menuntun manusia untuk memandang segala sesuatu dengan tepat.

Kendatipun demikian, sejak jaman Socrates, melalui ‘interogasi’ dalam penelitiannya terhadap politisi, penyair, dan orang-orang ahli dalam bidang-bidang tertentu, telah disimpulkan bahwa kebanyakan manusia tidak mengerti apa yang dia ketahui, dan dia hidup mengerjakan sesuatu yang ternyata tidak dia mengerti. Kebanyakan orang yang mengaku berpengetahuan ternyata tidak benar-benar mengetahui hal yang katanya mereka ketahui; atau mereka mengetahui jauh lebih sedikit dari yang katanya mereka ketahui. Politisi ternyata tidak benar-benar tahu ataupun mengerti mengenai politik, keadilan, ketatanegaraan, pelayanan dan pengaturan masyarakat, dan seterusnya; demikian pula halnya dengan penyair maupun para ahli. Mereka hanya mengaku atau bersikap bahwa mereka memiliki banyak pengetahuan dan pengertian, yang ketika digali ternyata semuanya kosong dan berbelit-belit.

Seperti tujuan pendidikan yang kita bahas di atas, bahwa pengetahuan itu diharapkan mengarah pada pengertian; pengertian itu diharapkan mengarah pada perbuatan yang sejalan dengan pengertian. Setiap manusia mengerti betapa amat sangat penting bagi seseorang dididik dan diberi pengetahuan yang baik dan benar.

Tidak seorangpun dididik untuk menjadi penjahat, atau perampok, atau pembunuh, atau koruptor. Tapi entah kenapa, pengetahuan mereka membawa mereka kepada kecelakaan dan menjadi kecelakaan bagi orang lain. Jelas terlihat bahwa alasannya terdapat pada ketidaktahuan bahwa mereka tidak tahu.

Namun naïf sekali kalau dikatakan bahwa mereka tidak tahu tentang perbuatan mereka itu adalah tidak benar dan tidak mengandung kebenaran. Sekali lagi, tidak ditemukan penjelasan bagaimana orang bisa tidak tahu apa yang dia lakukan.

Contoh yang paling saya gemari adalah perilaku merokok.
Seseorang sudah diberi tahu, secara ekstensif, diberikan penjelasan segala akibat buruk merokok dan dibandingkan dengan kebaikan dari merokok. Dan setiap orang tahu –bahkan mengerti– bahaya dari merokok. Namun yang perokok tetap saja merokok. Entah dia profesor, pebisnis besar, presiden, menteri, ahli ekonomi, mahasiswa, pelajar, guru, orang tua, pemuka agama, petani, buruh rendah, dan entah siapa lagi. Apakah mereka orang bodoh? Apakah mereka tidak mengerti?

Perhatikan kalimat di bawah ini:
Mereka tentunya tahu dan mengerti. Namun mereka memandang itu semua dari sudut pandang yang tidak tepat. Mereka menganalisa pengetahuan mereka dari pengertian yang keliru, sehingga tidak ada kebenaran dan kebijaksaan dalam perilaku mereka. Mereka menganalisa pengetahuan dan pengertian mereka tanpa kebenaran dan kebijaksanaan, sehingga terjadi kekeliruan dalam perilaku mereka.
Dari penjelasan barusan, kita bisa melihat bahwa bisa jadi, ‘pengetahuan dan pengertian’ berada di wilayah yang sama sekali berbeda dengan wilayah ‘kebenaran dan kebijaksanaan’.

Hal ini menjelaskan bagaimana orang yang tahu banyak dan mengerti banyak dalam kepalanya, tidak selalu benar dan bijak dalam perbuatannya. Sama seperti orang yang benar dan bijak dalam perbuatannya tidak selalu tahu banyak dalam kepalanya.
Apakah Socrates bersekolah dan tahu ilmu pengetahuan yang kita kenal sekarang? Socrates adalah orang bodoh yang terbelakang di jaman kita sekarang. Kenapa kita masih sangat menghargai pemikiran dia? Karena dia mengerti teori quantum dan membongkar untaian DNA? Alih-alih dengan semua itu, saya bahkan tidak yakin dia tahu dunia ini bulat!
Pengetahuan dan pengertian datang dan pergi, ilmu pengetahuan diperdebatkan sepanjang jaman. Tapi kebenaran dan kebijaksaan tidak sanggup dihancurkan oleh waktu dan sejarah.

Musik klasik kuno dari jaman Baroque yang bertahan ratusan tahun dan diakui oleh para ilmuwan dan ahli musik besar hingga jaman ini; manusia modern dan anak-anak muda yang dicengkeram pragmatisme tidak sanggup mendengarkan musik dengan kualitas sedemikian tinggi. Mereka bahkan menganggap itu musik kuno pengantar tidur, dan lebih suka mendengarkan musik rendah yang selalu berganti dalam hitungan minggu. Modernitas tidak bisa memahami nilai yang tinggi dan sulit, mereka menyukai hal yang rendah dan mudah; padahal mereka TAHU dan MENGERTI bahwa tidak ada sesuatu yang bernilai tinggi yang muncul dari hal yang mudah dan sepele. Musik sedemikian tinggi yang diakui oleh orang-orang yang sangat otoritatif di bidang musik, yang menghabiskan waktu dalam hidupnya mempelajari Johann Sebastian Bach, George Frideric Handel, Antonio Vivaldi, Henry Purcell, Johann Pachelbel, dan seterusnya.

Namun apa yang dikerjakan oleh masyarakat modern dengan pragmatismenya? Musik itu adalah selera pribadi, kata mereka. Tidak usah ribut dengan musik klasik, “ku tahu yang ku mau.” Apakah mereka tidak tahu dan tidak mengerti bahwa dunia terpelajar mengakui karya komposer besar itu sebagai karya yang agung dan megah yang memiliki kualitas dan keindahan yang bertahan ratusan tahun dan tidak sanggup dihasilkan oleh dunia modern?
Mereka tahu. Mereka mengerti. Tetapi mereka tidak mau tahu. Dan tidak mau mengerti.

Sama halnya dengan kebiasaan merokok.
Sama halnya dengan tindakan kejahatan.
Tidak ada seorang pun yang setelah melakukan kejahatan, menolak untuk ditangkap oleh hukum, kemudian berkata, “saya sungguh mati tidak tahu bahwa korupsi itu tidak boleh.” Atau berdalih, “karena saya tidak tahu bahwa membunuh itu tidak boleh, jadi saya harus diampuni.”
Mereka semua tahu apa yang baik. Tetapi yang buruk yang dipilih.

Hal itu menimbulkan pertanyaan yang terus menerus dan tidak habis-habisnya di dalam kepala saya. Kenapa setelah tahu yang baik dan benar dan bernilai, yang dipilih adalah yang rendah, yang salah dan tidak bernilai?

Jelas sekali terlihat keberadaan jurang pemisah yang sangat dalam antara mengetahui, mengerti, dengan kebenaran dan kebijaksaan. Sama seperti adanya harus ada ‘lompatan yang mustahil’ tentang bagaimana seseorang bisa tahu bahwa dia tidak tahu; sedemikian pula harus ada ‘lompatan yang mustahil’ dari pengetahuan dan pengertian kepada kebenaran dan kebijaksanaan. Bagaimana seorang manusia dimampukan untuk melakukan lompatan yang mustahil itu?

Filsafat sepanjang jaman mempertanyakan hal yang esensi ini.

Dan jawabannya –terpaksa harus saya akui– saya temukan dalam buku Cornelius Van Til, seorang Kristen dengan teologi Reformed.
Dia menjelaskan bahwa harus ada campur tangan dari Tuhan, membukakan pengertian yang menginspirasikan (dunia agama mengenali hal ini sebagai ‘pewahyuan’),  dari kekekalan menerobos masuk kepada alam manusia, supaya seseorang dimungkinkan untuk mengetahui bahwa dia tidak tahu. Hal ini langsung menjawab paradoks Socrates.

Bahwa seluruh dunia sudah rusak total sejak kejatuhan dalam dosa setelah penciptaan, dan semuanya sudah berdosa dan dicengkeram oleh dosa. Menyebabkan manusia yang meskipun tahu dan mengerti apa yang baik dan benar, tidak memiliki kemampuan untuk membuat pilihan yang tepa. Cengkeraman dosa membuat manusia tidak mungkin bebas dan memilih yang baik, sehingga yang dipilih selalu yang rendah dan cemar dan jahat. Dan hal ini langsung menjawab perihal contoh-contoh saya di atas.

Hanya melalui kembali kepada kebenaran yang sejati, menjadi murid-Nya, mengetahui apa yang benar, mengerti apa yang benar, baru manusia dapat dimerdekakan dari cengkeraman dunia yang mengikat manusia. Barulah seseorang dimerdekakan (meminjam istilah orang Kristen) untuk kemudian dimampukan melakukan ‘lompatan yang mustahil’ itu: dari ‘mengetahui dan mengerti’ kepada ‘kebenaran dan kebijaksanaan’.

Di titik ini, kepada kita ditawarkan sebuah presuposisi baru, pemahaman yang tampaknya sederhana, yang mendahului ‘tahu dan mengerti’. Urutannya berjalan terbalik sedemikian: supaya kita bisa mengerti, maka kita harus lebih dahulu tahu. Untuk bisa tahu, maka kita harus ‘percaya’ dulu kepada pengajar kita atau kepada yang memberikan ‘tahu’, baru kita bisa mengetahui. Kita tidak akan belajar apa pun jika kita sudah merasa tahu, ataupun jika kita meragukan (baca: tidak mempercayai) orang yang memberi tahu kita.
Hal tersebut sudah pernah saya bahas dengan rumit di sini.

Sekarang, semua pokok bahasan sudah dibahas, dan semua pertanyaan sudah terjawab.
Sekarang tinggal permasalahan apakah jawaban itu mau ditolak untuk kemudian kembali ke titik awal permasalahan tanpa jawaban.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s