Dunia Perlu Orang Bijak ― Bukan Orang Pintar

Menurut Anda, apakah atau siapakah yang disebut pintar?
Apakah guru itu pintar? Seseorang yang juara kelas, apakah dia pintar? Apakah orang tua itu pintar?

Guru disebut pintar karena dia lebih dahulu tahu daripada saya. Segera setelah saya belajar lebih banyak, dengan pengetahuan yang lebih dari pada dia, saya tahu bahwa saya akan jadi lebih pintar.

Seorang anak yang juara kelas, bagaimana caranya dia bisa menjadi juara kelas? Dengan menghafalkan semua data dalam buku dan menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam kertas ujian dengan jawaban yang tepat. Menghafal jawaban, mengerti pertanyaan, apakah itu pintar? Apakah benar, bahwa menjadi juara kelas itu adalah indikasi mutlak bahwa seseorang itu pintar?

Orang tua disebut pintar karena dia lebih dahulu mendidik anak-anaknya dan memberikan prinsip-prinsip yang sebelumnya telah dia terima dari orang tuanya, dia tidak bisa mengajarkan kepada anaknya hal yang berbeda daripada yang dia terima; dia tidak bisa mendidik dengan cara yang dia tidak ketahui.

Jadi berdasar pengertian di atas, seseorang boleh disebut pintar jika dan hanya jika dia dinilai sebatas bidang atau bagian yang dia tahu. Hal ini berlaku dalam segala kepintaran yang lainnya pula.
Sementara itu, dunia psikologi telah mengakui bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada orang yang pintar di bidang bahasa, ada orang yang pintar di bidang sosial, ada yang pintar di bidang matematika.
Mereka yang pintar di bidang bahasa, tidak berarti lebih rendah dibanding yang pintar di bidang sosial, dan yang pintar di bidang sosial, tidak lebih rendah dibanding dengan mereka yang pintar di bidang matematika. Pembandingan kepintaran dengan cara seperti itu adalah seperti mengumpulkan segala jenis binatang dan menilai mereka dari kemampuan memanjat pohon. Sehingga keluar pemenang dari berbagai macam kera, simpanse, gorila, bunglon, ular, dan lain sebagainya. Segala ikan adalah idiot dan segala burung adalah bodoh. Inilah pentingnya pemahaman konsep talenta. Hal yang lebih celaka adalah kecenderungan para pendidik yang kemudian menjadikan segala hal menjadi kompetisi.

Jadi apakah definisi pintar itu? Secara lebih ilmiah, dikatakan pintar itu jikalau memiliki IQ yang tinggi. IQ adalah kapasitas seseorang, potensi dalam diri seseorang, yang berusaha dinilai dari kemampuan berpikir secara logika, daya bayang ruang, kemampuan berkonsentrasi, dan ketrampilan mempergunakan daya pikir untuk memahami masalah dan mencari solusi. Hanya itu.

Apakah IQ memberikan gambaran yang akurat tentang kepintaran seseorang? Ya, tentu saja, namun jika dan hanya jika kepintaran itu didefinisikan dan dikaitkan dengan kapasitas seseorang berkenaan dengan fakta dan logika dan persoalan berhitung. Di luar hal-hal tersebut, belum tentu bisa dikatakan pintar. Karena itu, berdasar pengertian bahwa kesuksesan seseorang dalam hidup tidak hanya digantungkan pada unsur matematika saja, keluarlah kemudian berbagai alat ukur yang lain seperti emotional quotient, social quotient, spiritual quotient, dan lain sebagainya.

Pertanyaan yang berikut, apakah kepintaran berikut segala macam cara pengukuran itu akan menunjukkan kesuksesan seseorang dalam hidup? Berapa banyak orang yang tidak sekolah, yang disangka tidak pintar secara akademis, namun yang bisa menjadi pengusaha besar; bisa berkarya; menghasilkan sesuatu yang besar? Jawabannya adalah: banyak.

Jika demikian, maka berarti ada faktor lain selain daripada kepintaran bidang studi yang membuat seseorang bisa menghasilkan sesuatu dalam hidupnya, yang menjadikan hidupnya memiliki nilai lebih.

Faktor lain tersebut adalah kebijaksanaan.
Saya sangat menyukai kata ‘bijaksana’ yang mengandung 2 kata, ‘bijak’ dan ‘sana’. Bijaksana berarti ada suatu kebijakan yang berasal dari ‘sana’; atau kebijakan yang memiliki kepentingan dengan sesuatu yang ada di ‘sana’; kebijakan bukan untuk sesuatu yang di ‘sini’ melainkan untuk yang berada di ‘sana’.
Bijaksana memiliki wadah yang lebih luas, lebih agung, lebih tinggi daripada sekedar kepintaran atau pengetahuan dalam suatu bidang. Hal ini lebih mengarah kepada bagaimana mempergunakan kepintaran. Menggabungkan atau mengaitkan beberapa macam kepintaran untuk diarahkan pada sesuatu yang memiliki nilai tambah atau nilai lebih. Melihat sesuatu dengan tajam, mampu mendiferensiasi banyak hal di dalam kompleksitas dan kerumitannya, kemudian menghasilkan suatu pemikiran yang membaca inti pokok fenomena dan mendefinisikan fenomena tersebut.

Contohnya adalah sedemikian:
Di sebuah jalan persimpangan lalu lintas yang besar dan ramai di depan universitas terkenal, terjadi kecelakaan antara mobil dengan motor. Hal ini terjadi saat jam makan siang, waktu memang keadaan jalan paling ramai karena banyak orang berada di jalanan dekat kampus untuk mencari makan siang di warung dan depot di daerah universitas. Beberapa dosen, profesor, guru besar, dan mahasiswa dari bebagai jurusan mulai berkerumun, beberapa komentar mulai terdengar.
Dari jurusan sosiologi, seorang ibu dosen berkomentar, inilah kondisi masyarakat kita, sudah tidak ada orang yang mau mengalah, semua dengan egoisme sendiri berusaha mau mendahului yang lain.
Dari jurusan politik, seorang kepala jurusan berkata, banyak memang pemilik perusahaan yang tidak menghargai para pekerjanya, mereka harus mengadu nyawa dan bergerak dengan lincah mengejar waktu supaya menghasilkan keuntungan buat perusahaan. Inilah masyarakat kapitalis.
Dari jurusan ekonomi, mendengar komentar mereka yang dari sosiologi dan politik menyahut, tidak mau kalah, melihat pergerakan ekonomi global, dan dengan minimnya regulasi yang mendukung kinerja perekonomian dalam negeri, pengusaha mau tidak mau harus bergerak cepat. Jika perusahaan tidak menghasilkan profit, tidak akan ada seorang pun yang akan memiliki pekerjaan.
Sementara dari jurusan hukum berkomentar, yang sudah terjadi tidak bisa diapa-apakan, sekarang bagaimana kita perlu memperjelas marka jalan, memberi rambu dan lampu lalu lintas supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi. Perlu ada ketentuan supaya peraturan dilakukan dengan tegas dan tanpa budaya suap.
Seorang dosen kedokteran senior melihat keadaan pengemudi motor dan berkata, melihat posisi jatuhnya, dia mengalami trauma ringan pada tulang panggul sebelah kanan dan cedera pada lengan sebelah atas.
Sambil mereka semua berkomentar dan mengemukakan pendapat yang sangat tajam tentang fenomena di hadapan mereka, seorang penjual nasi bungkus yang berada disana datang dan menolong pengemudi sepeda motor yang terjatuh, meminggirkan motornya dan mengatur jalan di sekitar yang menjadi macet.

Apakah komentar-komentar orang-orang yang pintar itu keliru?
Tentu tidak. Komentar mereka sangat baik dan realistis dan sangat berguna. Tapi pada saat itu, respon mereka terhadap fenomena itu keliru. Mereka melihat dari berbagai sudut pandang yang tajam dan jitu, tapi sudut pandang yang mereka ambil dalam menangani situasi itu keliru. Mengambil persepektif yang salah terhadap sebuah situasi, menghasilkan respon yang keliru dalam menangani situasi tersebut. Respon yang keliru menghasilkan kekeliruan dalam totalitas tindakan.

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa, “Anda tidak membakar rumah Anda untuk membersihkan rumah Anda dari tikus.” Seluruh totalitas kehidupan kita membutuhkan kebijaksanaan untuk berespon terhadap segala situasi. Pengetahuan yang banyak saja tidak cukup untuk menyelesaikan berbagai macam hal yang terjadi disekitar kita.

Bijaksana yang banyak tanpa pengetahuan yang cukup, masih jauh lebih baik daripada pengetahuan yang banyak tanpa bijaksana yang cukup. Balik ke contoh kecelakaan tadi, bapak penjual nasi bungkus tadi tidak punya segala pengetahuan dan analisa, tapi dia dengan tepat melihat apakah kebutuhan yang penting pada saat itu, dan bertindak dengan tepat. Dia tidak memiliki gelar kedokteran, dan dia tidak akan bisa menyembuhkan dengan tepat, cepat dan akurat si pengemudi motor itu. Tapi dia cukup tahu bahwa orang yang ada di tengah jalan ini perlu dipinggirkan supaya tidak mengganggu lalu lintas dan tidak membahayakan dirinya sendiri tergeletak di tengah jalan di atas aspal panas, tergencet di bawah motor.
Setelah situasi berhasil dianalisa dengan tepat, diarahkan kepada kondisi yang lebih baik, baru dilakukan segala upaya yang mengarah kepada penyelesaian masalah. Mengarahkan hidup dan tindakan menuju ke arah yang benar, itulah bijaksana. Di dalam arah yang benar, baru pengetahuan bisa memiliki fungsi dan mendukung kebijaksanaan dan menjalankan kebijaksanaan dengan lebih baik dan lebih efisien.

Contoh lainnya, dalam sebuah perusahaan pemasaran, pak boss berusaha menaikkan omzet perusahaan dan meningkatkan pendapatan. Dia berpikir, kalau pegawai disuruh lebih giat melakukan penjualan, berarti pendapatan akan meningkat. Sangat logis. Satu-satunya cara untuk menaikkan keuntungan perusahaan adalah dengan menaikkan penjualan.
Tapi yang tidak dia perhitungkan adalah modal dia tidak besar, sehingga dari uang perusahaan, harus ada uang masuk terlebih dahulu, baru ada uang untuk melakukan pembelian barang. Dia menjadi heran kenapa setelah pegawai disuruh menjual lebih banyak, keuntungan tidak segera bertambah banyak. Pak boss menjadi pusing dan lebih mudah marah sekarang. Dia tidak berhasil melihat bahwa jumlah barang yang dia beli adalah sama. Jika dia tidak menambah jumlah barang yang bisa dijual menjadi lebih banyak, apakah yang bisa dijual oleh pekerjanya untuk menaikkan omzet dan pendapatan?

Itulah contoh-contoh kecil dari tidak adanya bijaksana. Kegagalan untuk membaca situasi secara lengkap dan menyeluruh, membuat setiap orang terpecah-pecah dalam pemikiran dan hidupnya. Membuat segala tingkah lakunya menjadi sangat pragmatis dengan metode trial-error, setiap kali trial, setiap kali error. Pengetahuan tanpa kebijaksanaan seperti memiliki informasi namun tidak tahu untuk apa dan bagaimana menggunakannya. Kegagalan memiliki bijaksana membuat analisa statistik menjadi keliru dan mengarah pada hal yang jauh dari kebenaran.

Memiliki bijaksana namun tidak punya banyak pengetahuan adalah seperti menjadi pianis yang handal, namun tidak memiliki gelar akademis musik. Memiliki keahlian tinggi, tapi tidak memiliki gelar, itu kerugian kecil. Memiliki gelar, tapi tanpa keahlian, itu kerugian besar.
Memiliki pengetahuan yang banyak, tapi tidak berbijaksana, itu adalah kecelakaan besar.

Ada beberapa macam manusia di dunia ini:
Yang pertama adalah orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu namun selalu merasa paling tahu ― ini adalah orang bebal, seringkali oleh mereka yang merasa dirinya ‘berkuasa’ dan ‘sukses’. Mereka menyamakan antara ‘kesuksesan’ dengan kepintaran bahkan kebijaksanaan.
Yang kedua adalah orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu ― ini adalah orang bodoh.
Yang ketiga adalah orang yang tahu bahwa dia tahu ― ini adalah orang pintar.
Yang keempat adalah orang yang tahu bahwa dia tidak tahu ― ini adalah orang bijak.

Banyak orang yang selalu merasa pintar, sudah memilki gelar, selalu merasa lebih tahu, merasa sudah belajar banyak. Sedikit orang yang selalu merasa haus akan pengetahuan, selalu mencari tahu banyak hal, selalu belajar karena merasa tidak tahu banyak. Apakah tidak pernah melihat seseorang sedemikian? Tidak mengapa, karena orang-orang seperti itu amat sangat jarang. Kita memang hampir tidak pernah melihat orang sekelas Socrates, Plato, Aristotle, mereka yang selalu merasa kurang tahu banyak dan harus belajar banyak.
Lebih mudah menemukan orang yang pandai, yang sudah tahu banyak dan ingin lekas bersuara menunjukkan kepintarannya dan mengerjakan banyak hal untuk menunjukkan aktualisasi diri.
Yang terlebih mudah lagi adalah menemukan orang bebal.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s