Paradoks Kebebasan Dalam Eksistensi Manusia

Tema kebebasan merupakan tema yang paling banyak dicetuskan dalam berbagai arus pemikiran manusia. Kalimat-kalimat yang mencetuskan keinginan yang teramat sangat merindukan sebuah kebebasan menjadi kalimat motivasi yang menyegarkan jiwa. Gambar-gambar ilustrasi tentang kebebasan pun begitu menarik hati dan menggugah perasaan. Ada dalam diri setiap manusia yang dengan berbagai level tingkatan sebuah impian untuk lepas dari segala sesuatu yang dirasakan mencengkeram dan menyakitkan hidup mereka.

Kata “BEBAS” ini seperti layaknya magnet yang sangat kuat untuk menarik perhatian manusia. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ‘bebas’? Apakah manusia benar-benar mengerti arti kata bebas sebenarnya?

Bebas itu adalah bebas. Tidak terikat. Merdeka. Bisa melakukan apapun sesuka hati, semaunya, tanpa batas. Kamus bahasa Indonesia memberikan penjelasan sedemikian:  1 lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa.) 2 lepas dari (kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan sebagainya) 4 tidak terikat atau terbatas oleh aturan dan sebagainya. 5 merdeka (tidak dijajah, diperintah, atau tidak dipengaruhi oleh negara lain atau kekuasaan asing.) 6 tidak terdapat (didapati) lagi.

Apakah itu yang diinginkan setiap manusia? Benarkah manusia mengerti arti kata ‘bebas’? Apakah manusia (terutama manusia modern dengan segala pragmatismenya) mengerti apa yang dia inginkan sebenarnya?

Jangan-jangan banyak orang ternyata setelah ditanya, diketemukan ketidakjelasan atau bahkan tidak tahu atau tidak mengerti mengenai apa yang dia inginkan atau dia maksudkan dengan bebas.

Namun secara garis besar, saya memberanikan diri menebak dengan asal-asalan bahwa kebebasan yang diinginkan dalam eksistensi manusia itu kebanyakan hanyalah merupakan keinginan yang remeh dan kekanakan, seperti khayalan di cakrawala atau lamunan belaka. Mereka hanya ingin lari dari tanggung jawab dengan segala kemalasan berikut sifat mempertuankan diri sendiri atau hanya ingin melakukan tindakan biadab.
Katakan pada mereka yang menginginkan kebebasan, mereka boleh berbuat sebebas-bebasnya, selama yang mereka akan kerjakan dengan kebebasan itu adalah semua yang baik, yang benar, dan yang bernilai. Saya hampir yakin bahwa yang ingin mereka kerjakan sebenarnya dalam kebebasannya adalah semua yang tidak baik, tidak benar, dan tidak bernilai. Mereka akan dengan segera mungkin menyahut, kalau harus mengerjakan semua yang baik, yang benar, dan yang bernilai, namanya tidak bebas. Tidakkah itu membuktikan bahwa tebakan saya ternyata tidak salah?

Kebebasan sebenarnya merupakan tema semu yang digaungkan ke dalam diri manusia; entah oleh penipu-penipu dari dunia ini (atau dari penipu-penipu dari dunia lain.) Karena tidak pernah ada yang namanya eksistensi dari apapun yang bebas pada dirinya sendiri. Analogi yang sering dipakai penyair adalah ‘bebas seperti burung di udara.’ Benarkah burung di udara bebas? Burung di udara tidak lebih bebas daripada ikan di air, atau singa di padang rumput. Segala sesuatu yang ada di bawah langit dan di atas bumi terikat oleh aturan. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang membenci keterikatan itu dan mau lepas dari peraturan yang membelenggu mereka. Dalam beberapa hal, hal itu sangat baik. Manusia bisa menyelam seperti ikan, bisa terbang seperti burung, menguasai daratan. Mereka mendobrak keseimbangan alam, merusak muka bumi, mengeksploitasi dan menganiaya makhluk lain di muka bumi ini. Itulah hasil dari penggunaan kebebasan yang dimiliki oleh manusia.

Namun manusia belum puas, serakah, terus menginginkan lebih, ingin melampaui itu semua, dan menjadi sama dengan pencipta alam semesta. Sehingga manusia terus menyerukan keinginan untuk bebas. Bebas melakukan semua perbuatan yang tidak baik, tidak benar, dan yang tidak bernilai. Mengumbar segala keinginan yang mungkin sanggup dipikirkan oleh manusia dengan segala kerusakannya. Tentu saja semua yang rusak, karena jika yang ingin dia lakukan adalah semua yang baik, yang benar, dan yang bernilai; dia boleh melakukannya sesuka hatinya dan tidak akan seorang pun akan menahan dan menentang dia. Untuk melakukan kebaikan, dia tidak perlu menyerukan keinginannya untuk bebas.

Padahal, begitu kata ‘bebas’ muncul, secara otomatis kita menyadari bahwa ‘bebas’ itu selalu memiliki batas. Batas yang paling jelas adalah dengan sesama manusia. Kebebasan kita akan selalu secara langsung bersinggungan dengan kebebasan orang lain. Lalu entah dengan uang, dengan kuasa, dengan otoritas, dengan kekuatan, dan entah dengan apa lagi, manusia berusaha mengeliminasi kebebasan orang lain supaya dia boleh memiliki bagian kebebasan yang lebih besar dan menindas kebebasan manusia yang lain. Hal ini kembali membuktikan, bahwa setiap kata ‘bebas’ muncul, yang terjadi selalu kejahatan, ketidakadilan, dan penganiayaan terhadap kebenaran.

Satu-satu kalinya dan satu wilayah dimana kata ‘bebas’ muncul dalam konteks kebenaran adalah dalam kalimat yang menyatakan, ‘Kebebasan adalah ketika seseorang dapat mengatakan tidak pada dirinya sendiri.’
Ketika seseorang menginginkan sesuatu dan dia sanggup mengatakan ‘tidak’ pada dirinya, dia sanggup mengekang dirinya, dia memiliki kendali atas dirinya, itulah kebebasan yang dia miliki. Ketika seorang sanggup menolak ‘candu’, entah itu rokok, narkotika, makanan, uang, seks, atau ambisi, disanalah ia menjadi bebas. Disanalah dia menikmati kebebasan yang sejati.

Sehingga lain sekali dengan yang dipikirkan orang bahwa bebas itu adalah jikalau dia boleh menikmati rokok, narkotika, makanan dengan berlebihan, uang yang tidak pantas, seks yang tidak benar, atau ambisi yang liar. Sekali lagi semakin memperjelas bahwa kebebasan yang dipikirkan manusia hampir tidak pernah mendatangkan kebaikan.

Dalam kehidupan semua manusia yang tidak seorangpun tidak bermasalah, kebebasan hanya dimungkinkan untuk dimunculkan ketika setiap orang mengekang dirinya sendiri dan sanggup mengatakan tidak pada hal-hal yang menjadi keinginannya yang melawan segala yang baik, yang benar, dan yang bernilai. Setiap manusia yang bermasalah selalu mendambakan untuk dapat melakukan kebaikan. Tetapi kebaikan itu bertentangan dengan dirinya sendiri yang telah memiliki prinsip yang tertanam dalam kepalanya untuk ingin bebas melakukan apapun yang dia mau.

Apakah pencandu obat bius tidak ingin bebas? Pasti mereka ingin terbebas. Demikian pula halnya dengan perokok. Mereka ingin berhenti dan mencari segala macam cara, tetapi mereka sudah tidak lagi bebas. Mereka telah diperbudak oleh ketidakbenaran.
Namun tetap mereka ingin bebas dan melakukan hal yang benar dan baik. Dengan kata lain, mereka ingin mengekang diri, bebas dari ketidakbenaran yang mencengkeram, dan dengan rela hati ingin menjadi budak kebenaran.

Apakah kata ‘budak’ terasa terlalu mengganggu harga diri dan ego?
Tidakkah secara analogi hal itu adalah tepat? Apakah istilah dari orang yang dikuasai oleh sesuatu secara totalitas? Kerasukan, dicengkeram, diperbudak. Apakah orang yang kecanduan narkotika tidak dalam posisi diperbudak oleh narkotika?
Demikian pula sebaliknya, ketika seseorang dengan sadar membiarkan dirinya dikuasai secara totalitas oleh sebuah kuasa yang lain, tidakkah itu namanya pun budak? Atau mungkin kata yang lebih halus adalah pegawai, pekerja, pembantu, bawahan, dan sebagainya; yang artinya sama saja.

Dalam kebebasan yang sejati, seseorang dimampukan untuk memilih, apakah dia mau menjadi budak dari keinginan dirinya yang tercemar, atau menjadi budak dari segala yang baik, yang benar, dan yang bernilai. Tidak pernah ada posisi lain, karena manusia bukan berada di dalam posisi sebagai pencipta dunia ini.

Segala hal yang tidak baik, tidak benar, dan tidak bernilai yang berusaha menguasai manusia adalah memiliki tujuan untuk mencengkeram dan mengekang dan memperbudak. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan manusia untuk melepaskan diri dari perbudakan ketidakbenaran itu adalah dengan sengaja mengekang diri dan menjadi budak daripada kebenaran. Menjadikan diri sebagai budak kebenaran itulah yang akan memerdekakan manusia dan membukakan pengertian mengenai kebebasan sejati yang didambakan oleh semua manusia.

Sepanjang sejarah, legenda, mitos, dan kisah selalu menceritakan pertarungan yang baik dengan yang jahat. Dan inilah posisi manusia, bukan hanya manusia modern yang merasakannya tapi ini adalah permasalahan manusia sepanjang sejarah. Keinginan manusia untuk melawan keinginan diri sendiri yang tidak benar memerlukan perjuangan dan perlawanan yang keras.

Belajar satu hal yang baik masih juga belum selesai, sudah mengerjakan seribu hal yang buruk tanpa belajar. – Pepatah Cina kuno

Artinya: Seorang manusia, perlu banyak waktu dan usaha untuk belajar satu hal saja yang baik. Sementara dia belum selesai belajar satu hal itu, dia sudah sanggup mengerjakan banyak hal yang buruk tanpa harus belajar.

Ternyata penyelesaiannya ada dalam bentuk paradoks dan menjadikan diri sebagai budak kebenaran supaya dengan demikian seseorang bisa dimerdekakan.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s