Q: Apa maksudnya “semua kebenaran yang tidak sejati pasti menghancurkan diri sendiri?”

Kebenaran yang benar-benar BENAR atau kebenaran yang sejati haruslah merupakan kebenaran di dalam dirinya sendiri, terlepas dari konfirmasi yang terdapat di luar dirinya. Kebenaran yang sejati tidak menjadi benar jika ada hal lain di luar dirinya yang mengkonfirmasikan bahwa dia benar. Kebenaran yang sejati selalu akan menjadi kebenaran walaupun ada banyak hal di luar dirinya mengatakan sebaliknya.

Sebagai contoh sederhana, udara itu ada. Kita tidak bisa melihatnya. Kita bahkan sering tidak secara langsung menyadari bahwa udara itu ada; Atau bahkan sering lupa bahwa udara itu ada. Entah kita mengakui atau tidak mengakui apakah udara itu ada atau tidak, udara akan selalu ada. Udara tidak membutuhkan kita untuk mengakui keberadaannya, baru dia menjadi ada. Kita membutuhkan udara, entah kita mau mengakui atau tidak tentang keberadaannya.

Demikian pula dengan kebenaran yang sejati. Segala kebenaran harus dapat dibuktikan benar atau tidak benar melalui pengujian dari dalam dirinya sendiri. Segala yang bukan kebenaran yang sejati, tidak akan memiliki integritas yang konsisten dalam dirinya sendiri serta akan ditemukan keberadaan kontradiksi yang pada akhirnya menghancurkan diri sendiri. Hal itu tidak akan ditemukan dalam kebenaran yang sejati, keberadaan sesuatu yang tampaknya bertentangan di dalam kebenaran yang sejati berbentuk paradoks, bukan kontradiksi.

Ciri-ciri dari kebenaran yang sejati adalah dia harus memiliki 3 (tiga) sifat yaitu: universal, integral, dan moral / kemurnian / kesucian / tidak tercemar.

  • Universal yang berarti bahwa dimanapun dia berada, dia harus selalu benar. Tidak ada perkecualian. Perkecualian adalah bukti langsung bahwa sebuah kebenaran sudah gagal pada titik yang paling awal.
  • Integral yang berarti bawah di dalam dirinya, segala sesuatu bersifat utuh dan saling membenarkan, segala proposisi di dalam dirinya tidak mengandung kontradiksi. Semakin luas, dia akan bersifat complex (terj: kompleks) dan bukan complicated (terj: rumit atau ruwet atau sulit). Kebenaran yang tidak sejati, ketika dia diperluas, akan semakin rumit dan kerumitan itu menjadi benang kusut yang menimbulkan kontradiksi di dalam dirinya sendiri dan proposisi-proposisi di dalamnya bertentangan antara satu dengan yang lain sehingga akhirnya akan membutuhkan perkecualian sebagai jalan keluar.
  • Moral / kemurnian / kesucian / tidak tercemar yang berarti bahwa kebenaran yang sejati harus memiliki nilai intrinsik yang sangat tinggi di dalam dirinya, kemurnian / tidak tercemar (seperti dalam logam mulia), kesucian (seperti dalam etika), moral (seperti dalam tatanan struktur penilaian tentang segala sesuatu). Semua yang merupakan kebenaran sejati harus memiliki jati diri dengan kualitas intrinsik dalam diri yang sangat tinggi dalam semua tatanannya. Tidak mungkin sebuah kebenaran dapat dikatakan sebagai yang sejati jika dia universal, integral, moral, suci, tapi kemudian muncul tidak adil. Atau suci, adil, murni, tapi tidak memiliki kasih dan kejam. Atau suci, kasih, baik, murni, tapi tidak jujur.
    Seperti ada berlian yang transparan, berkilau, bersih, tidak bernoda, dan mudah pecah. Jelas bukan berlian yang asli.

Dalam pengertian tersebut, maka segala kebenaran yang kita terima sebagai kebenaran yang menentukan totalitas dan arah kehidupan kita haruslah kita uji sendiri dengan keberanian dan pikiran yang kritis. Seringkali kita entah takut dan gentar atau terlalu malas untuk menguji kebenaran-kebenaran yang kita percaya sebagai kebenaran yang sejati karena kita khawatir akan kehilangan pegangan atau kita menjadi goyah dan kehilangan jati diri jika ternyata ditemukan bahwa apa yang dipercaya memiliki tanda-tanda sebagai kebenaran palsu.

Seperti seseorang yang habis membeli arloji Rolex, sekarang dia merasa tidak yakin apakah arloji Rolex miliknya palsu atau asli, akan tetapi terlalu takut untuk menerima kenyataan. Sehingga dia membiarkan saja, dan terus mengenakan arloji Rolex itu, hingga suatu hari ada seseorang yang ahli tentang arloji Rolex melihat arlojinya dan mengatakan bahwa Rolex yang dia punya itu palsu. Bukannya dia berterima kasih karena telah diberi tahu tentang kebenaran, orang ini malah marah besar dan menghina sang ahli Rolex sebagai orang yang tidak tahu diri dan suka mencampuri urusan orang lain, “Saya punya Rolex ini aseli! Kamu yang bodoh dan tidak tahu! Saya beli arloji ini mahal, tahu?!”
Apakah ruginya atau untungnya untuk sang ahli ini menunjukkan bahwa Rolex itu palsu? Sang ahli ini hanya berpikir bahwa KATANYA, orang tidak suka ditipu. KATANYA, orang suka kebenaran. KATANYA, orang lebih suka kejujuran walaupun menyakitkan. TERNYATA, orang hanya mau tahu apa yang dia mau tahu, selama hatinya tenteram; Karena apa yang dia tidak tahu tidak bisa menyakiti hatinya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s