Kasih dan Kebaikan vs. Adil dan Kebenaran

Banyak orang mau menjadi orang baik, namun hanya sedikit orang yang mau menjadi orang benar.

Kebanyakan manusia dapat merasakan relasi langsung dengan kalimat di atas. Kebanyakan orang sangat ingin dinilai orang lain sebagai orang baik. Orang yang baik itu orang yang disukai orang banyak. Memiliki reputasi sebagai orang baik sangat penting bagi manusia untuk menjaga status dan posisinya di dalam sebuah komunitas. Semua agama mengajarkan bahwa antara sesama manusia harus saling mengasihi dan menghormati. Semua agama mengajarkan kebaikan. Bahkan orang tidak beragama pun melakukan perbuatan yang baik. Setiap orang berusaha melakukan kebaikan dengan berbagai macam alasan: mulai dari yang paling idealis yaitu menjalankan perintah agama, hingga pada yang paling pragmatis yaitu supaya tidak dibenci orang lain.

Tapi apakah definisi BAIK? Kita bisa saja mengatakan, baik itu suka menolong orang lain, membela kaum yang lemah, memiliki belas kasihan, suka memberikan sedekah pada orang yang kurang mampu, memelihara janda dan anak yatim piatu, taat menjalankan ibadah, dan seterusnya. Setiap kali yang terjadi adalah kebaikan itu didefinisikan sebagai perbuatan yang memiliki unsur KASIH. Memang demikianlah adanya, terlepas dari ide dan pemikiran lebih dalam tentang yang disebut “BAIK”. Kebaikan harus selalu berupa perbuatan yang nyata.

Setiap orang, dalam tingkatan yang berbeda-beda, selalu merasa dirinya baik. Mereka yang merasa dirinya tidak baik tidak akan pernah merasa tenang dalam hidupnya, hingga mereka melakukan sesuatu yang di rasionalisasi oleh logika mereka sebagai kompensasi untuk membungkam hati nurani. Seorang koruptor mungkin akan memberikan sumbangan yang besar kepada yatim piatu untuk membungkam hati nuraninya. Seorang penipu mungkin akan banyak melakukan puasa dan berdoa untuk mengimbangi perasaan bersalah yang menegur jiwanya. Seorang penjahat besar bisa jadi sangat rajin menjalankan ritual agama agar dia terlihat baik dan boleh diterima dalam lingkungan sosialnya.

Kebaikan berupa belas kasihan yang diumbar dalam komunitas manusia seringkali sebenarnya adalah kebaikan yang semu, kebaikan yang kelihatan sepintas lalu sepertinya nyata dan sungguh-sungguh. Membela yang lemah, memberikan sedekah, merawat janda dan yatim piatu, dan seterusnya, kesemuanya sering kali hanyalah merupakan salah satu alat untuk menampilkan gambaran baik tentang diri sendiri. Seringkali semua perilaku kebaikan dan belas kasihan yang dilakukan orang lebih banyak mendatangkan keuntungan untuk dirinya sendiri dibandingkan untuk orang yang ditolong.

Orang yang kurang baik menjadikan perbuatan baik sebagai kompensasi. Orang beragama menjadikan perbuatan baik sebagai alat untuk masuk surga. Yang lainnya berbuat baik untuk menonjolkan diri. Dan seterusnya. Selalu ada agenda dan motivasi tertentu bagi seseorang dalam perbuatan baik; dan seringkali motivasi tersebut adalah sangat baik. Tidak semua agenda dan motivasi perbuatan baik itu jahat dan buruk.

Namun, karena dirasa bahwa perbuatan baik itu sudah pasti baik, dan terlihat sepintas mendatangkan sukacita dan kebahagiaan dan tidak merugikan siapapun, serta dilakukan dengan tulus dan ikhlas, jarang sekali orang memikirkan dampak perbuatan baik yang dia lakukan itu secara mendalam dan berpikir panjang serta mempertimbangkan manfaatnya.

Orang tua yang sangat mengasihi anaknya kemudian memberikan semua hal baik yang diminta oleh si anak, apakah itu baik? Tentu saja kelihatan baik.
Seorang pengemis yang kelaparan dan mencuri ayam di sebuah rumah. Karena merasa iba, maling ayam itu kemudian dilepaskan begitu saja. Apakah itu salah? Tentu saja tidak salah. Pemilik ayam juga tidak keberatan setelah mengetahui duduk perkaranya.
Memberi sedekah kepada pengemis di persimpangan jalan dan tempat umum. Apakah itu tidak baik? Pasti itu adalah perbuatan yang dipandang baik dan welas asih.
Membela anak kecil yang sedang dimarahi dengan keras karena dia telah dengan sengaja melempar batu kepada seekor anjing yang menggonggong di dalam rumah orang lain. Apakah itu tidak boleh? Tentu saja boleh. Dia masih anak-anak, dan kenakalan yang dilakukannya adalah kenakalan anak-anak. Membela anak itu berarti termasuk dalam kategori membela orang yang lemah.

Semua perbuatan yang disebutkan di atas sebagai contoh. Apakah setiap masing-masingnya adalah baik? Ya. Tentu saja baik. Sekarang, pertanyaan berikutnya, apakah ada suatu perasaan yang terasa mengganggu dari setiap contoh di atas?
Apakah perbuatan baik dalam contoh tersebut adalah tindakan yang benar? Ternyata akan kita sadari, bahwa yang baik belum tentu benar. Dan ternyata jika mau kita renungkan lebih tajam, semua yang benar tidak akan selalu kelihatan baik di mata orang lain; bahkan seringkali, perbuatan yang benar terlihat sangat tidak baik.

Mari kita tinjau kembali satu persatu contoh di atas.
Orang tua yang sangat mengasihi anaknya kemudian memberikan semua hal baik yang diminta oleh si anak. Anak ini akan tumbuh menjadi anak yang tidak berjuang, manja, dan hanya tahu meminta tanpa mau berusaha sendiri.
Seorang pengemis yang kelaparan dan mencuri ayam di sebuah rumah. Karena merasa iba, maling ayam itu kemudian dilepaskan begitu saja. Pengemis ini akan selalu memiliki mental yang menuntut orang untuk mengasihani dia. Dia tidak akan berjuang dan berusaha bekerja dengan baik, melainkan akan menjadikan kelemahannya sebagai pembenaran diri dengan mentalitas sebagai korban keadaan.
Memberi sedekah kepada pengemis di persimpangan jalan dan tempat umum. Kalau dengan mengemis saja bisa dapat uang, untuk apa susah bekerja. Jika hari ini saya memberikan uang kepada pengemis untuk menolong dia, keesokan hari, jumlah pengemis akan semakin banyak atau semakin berkurang karena sudah ada satu pengemis yang saya tolong? Pasti bertambah banyak orang yang katanya ‘perlu dan mau ditolong’. Dan ketika saat itu saya tidak menolong, tiba-tiba saya disebut sebagai orang yang tidak berbelas kasihan dan tidak suka menolong orang lain yang kurang mampu. Tiba-tiba saja saya menjadi orang jahat.
Membela anak kecil yang sedang dimarahi dengan keras karena dia telah dengan sengaja melempar batu kepada seekor anjing yang menggonggong di dalam rumah orang lain. Mana yang lebih perlu, membela orang yang BENAR atau membela orang yang LEMAH? Kekacauan pemikiran dan prinsip-prinsip utama tentang kebenaran sudah membutakan banyak orang. Tidakkah kita seharusnya membela KEBENARAN dan bukan sembarangan membela orang yang katanya lemah?

Jadi sekarang kita pahami bahwa perlu ada kebenaran dalam setiap tindakan kita. Mari kita tinjau ulang semua contoh di atas berdasarkan sudut pandang kebenaran.
Orang tua yang sangat disiplin mendidik dengan keras supaya anaknya memiliki mental yang kuat. Dia tidak boleh mendapatkan sesuatu yang bukan berasal dari hasil usahanya. Dia harus dididik memiliki semangat perjuangan supaya saat dewasa nanti dia akan memiliki masa depan yang cemerlang, giat bekerja dan tidak malas.
Seorang pengemis yang kelaparan dan mencuri ayam di sebuah rumah, harus dihukum demi menegakkan hukum dan kebenaran. Setiap perbuatan yang dengan sengaja merugikan orang lain harus dihukum keras untuk menimbulkan efek jera dan menjadi peringatan dan pembelajaran bagi orang lain.
Pengemis harus ditindak berdasarkan hukum yang berlaku, menimbulkan kerawanan dalam satu wilayah dan membuat ketidaknyamanan bagi masyarakat umum. Mereka diharuskan bekerja dengan giat, karena meminta-minta adalah perbuatan yang merendahkan harkat dan martabat manusia. Solusinya, pekerjakan mereka sebagai tenaga pembersih kota jika ketrampilan mereka hanya sebatas memegang sapu.
Anak kecil yang sengaja melempar batu kepada seekor anjing yang menggonggong di dalam rumah orang lain tentu saja harus dididik dengan keras dan dijatuhi hukuman karena telah dengan sengaja merugikan orang lain dan membahayakan orang lain. Jika tidak sejak kecil dididik, apa mau menunggu hingga nanti besar dan terlambat?

Setelah melihat semua contoh di atas disikapi dari sudut pandang yang berbeda, apakah terlihat bahwa kesemua hal itu mencerminkan kebenaran? Tentu saja. Itu adalah keadilan dan didikan yang sangat baik. Memang tidak terlihat terlalu baik, tapi secara jangka panjang, pasti akan mendatangkan kebaikan, disiplin, dan keteraturan.
Dan seperti sebelumnya, apakah ada suatu perasaan yang terasa mengganggu dari setiap contoh di atas? Saya cukup yakin bahwa jawabannya adalah ‘iya’.

Kita harus selalu dengan bijaksana dan berpengertian luas menyikapi kebaikan, supaya kebaikan itu bisa mendatangkan kebenaran. Kasih yang berdiri sendiri tanpa pengertian dan kebijaksanaan akan kebenaran adalah perbuatan yang lemah dan merusak. Seperti contoh di atas yang sudah kita lihat. Sebaliknya, adil dan benar yang berdiri sendiri tanpa pengertian dan kebijaksanaan akan kasih mendatangkan kekejaman yang tidak kalah merusak.

Kasih dan adil harus berjalan bersama. Ketika ada keadilan, pada saat yang sama pula harus ada kasih. Pada saat ada kasih, harus ada keadilan yang muncul pula tepat secara bersamaan. Kasih dan keadilan bukan dua keping mata uang yang muncul bergantian, melainkan berupa paradoks. Tidak boleh ada kasih tanpa keadilan dan tidak boleh muncul keadilan tanpa kasih.

Melampaui semua pemahaman tersebut, satu hal yang harus selalu diingat adalah yang dipandang benar tidak akan selalu terlihat baik. Sementara semua yang terlihat baik belum tentu dipandang benar. Ketidakmengertian atau ketidakmampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kebaikan inilah yang membuat seringkali orang benar disalah mengerti, kendatipun dia sudah menjalankan kebenaran dan kebaikan secara lengkap dan sempurna dalam paradoksnya. Karena kasih yang besar sering terlihat sebagai kelemahan dan kegagalan. Sementara keadilan yang besar langsung terlihat sebagai kekejaman.

Kegagalan menemukan keberadaan paradoks kasih di dalam keadilan membuat manusia sering merasa diperlakukan tidak adil. Sebaliknya, kegagalan menemukan keberadaan paradoks keadilan di dalam kasih membuat manusia memandang remeh belas kasihan yang diterimanya dan sekali lagi, merasa diperlakukan tidak adil. Akan tetapi, yang pertama dan terutama adalah belas kasihan terhadap semua manusia. Itulah dasar dari segala hukum yang paling agung

Hampir tidak ada seorang pun mau rela mati untuk orang yang benar, tetapi mungkin untuk orang yang baik, masih ada orang yang berani mati.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s