Paradigma Tentang Sukses

Sepanjang sejarah, orang bijak dan orang kaya telah menyerukan bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Dan sejak jaman kapitalisme, dunia terus menyerukan bahwa uang adalah sumber kebahagiaan dengan satu asumsi utama, yaitu ketika kita bisa mendapatkan semua yang kita mau, kita akan bahagia.

Satu kali lagi, mari kita coba bahas secara sederhana pernyataan-pernyataan dalam beberapa pemikiran tentang uang. Dan sekali lagi, ketika kita berbicara tentang manusia dan materi, ada dua dasar pemikiran yang utama: yang pertama adalah bahwa manusia sangat mencintai dirinya sendiri. Yang kedua adalah manusia berusaha menyenangkan dirinya dengan segala yang bisa disebutnya sebagai kepunyaannya (baca: materi) untuk memuaskan keinginannya.
Yang pertama tadi adalah humanisme, sementara yang terakhir adalah materialisme.

Dari sinilah kemudian perjalanan hidup manusia dimulai dalam pemikirannya. Sejak ketika seorang manusia kecil hidup, dia memiliki keinginan. Mula-mula adalah kebutuhan yang menunjang dia untuk hidup, makanan, minuman, keamanan, perlindungan, perawatan, perhatian, dan seterusnya. Hal itu tidak pernah berubah seumur hidupnya selama dia hidup seolah-olah hal itu telah terprogram dalam segala keseluruhan aspek hidupnya. Hal-hal itu bertransformasi menjadi semakin kompleks dalam perjalanan hidupnya seperti lipatan kertas kecil yang kemudian terbuka satu per satu menjadi lembaran kertas yang semakin besar. Tidak ada seorang manusia pun bisa lari dari keinginan-keinginan dalam dirinya untuk memuaskan rasa cintanya pada dirinya dan pada material.

Ada satu lubang di dalam hidup manusia yang kosong yang tidak dapat di penuhi oleh apapun yang berada dalam dunia ini. Kapankah manusia pernah merasa cukup? Manusia selalu berada dalam pencarian seumur hidupnya untuk mengisi kekosongan dalam hidupnya, dan dia mencarinya di dalam semua hal yang dapat dilihatnya. Dia selalu hidup dalam angan-angan bahwa jika dia berhasil mendapatkan yang dia inginkan, dia akan suatu hari ketika dapat dipuaskan. Tapi sejarah telah membuktikan hal itu tidak pernah tercapai.

Untuk bisa mengerti dan memahami apa itu yang disebut dengan SUKSES, kita harus memulai dulu dengan definisi SUKSES. Sukses memiliki arti mencapai tujuan atau garis finish, tepat pada sasaran dan target. Ketika seorang pemanah atau penembak jitu berhasil mengenai sasarannya, itulah sukses. Pemanah yang melampaui sasarannya tidak dikatakan lebih hebat atau lebih kuat daripada yang mengenai sasaran, dia tidak akan merasa bangga dan berkata, “Aku telah melampaui sasaranku.” Seorang pelari yang berlari terus setelah mencapai garis finish, apakah akan dikatakan lebih hebat dari orang mencapai garis finish dan kemudian berhenti? Mungkin. Tapi tetap tidak akan dianggap lebih juara daripada yang berhenti setelah mencapai garis finish.
Sukses adalah suatu titik dimana seseorang boleh kemudian berhenti dan merasa puas karena sudah mencapai suatu keberhasilan tentang sesuatu.

Tapi kata SUKSES seringkali tidak menggambarkan semua hal tersebut. Setiap kali kata sukses terdengar, seringkali yang pertama kali muncul dalam benak kita adalah segala hal yang sifatnya materialisme dan humanisme. Seringkali pula kata itu tidak menggambarkan sebuah perhentian dan kepuasan, melainkan sebuah tantangan baru untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi, untuk mengisi kekosongan dalam hidup manusia yang tidak pernah bisa dipenuhi dengan apapun. Kesuksesan demi kesuksesan terus berusaha dikejar seperti sebuah garis finish semu yang tidak pernah berakhir seperti layaknya sebuah fatamorgana. Tidak ada perhentian, seperti seekor hamster yang berlari dalam rodanya.

Setiap orang memiliki bayang-bayangnya sendiri, fatamorgana yang hanya menjadi miliknya sendiri, sebuah idealisme yang dipercaya bahwa jika dia berhasil meraihnya, dia akan bahagia. Sebagian orang mendapat kesempatan untuk mencicipi, sebagian kecil mendapat kesempatan untuk menikmati, sisanya tidak mendapat kesempatan sama sekali seumur hidupnya untuk meraih idealisme yang humanis/materialis itu. Tapi satu hal yang pasti, semua idealisme yang katanya, diyakini bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan dan perhentian, ternyata adalah omong kosong.

Mereka yang sudah katanya sudah sukses, tidak mendapatkan kebahagiaan dan perhentian. Mereka yang belum mencapainya, terus melakukan segala hal yang mereka pikir dapat membawa mereka kepada kebahagiaan dan perhentian. Mereka yang masih terus berusaha dan masih mencari kebahagiaan dan perhentian, membuktikan bahwa mereka masih belum sukses.

Sebagian besar kita telah mendengar berbagai kalimat yang mengatakan bahwa humanisme/materialisme tidak mendatangkan kebahagiaan. Bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Akan saya kutip beberapa diantaranya:

Money never made a man happy yet, nor will it. The more a man has, the more he wants. Instead of filling a vacuum, it makes one. – Benjamin Franklin
(Uang tidak akan pernah dapat membuat orang bahagia. Semakin banyak uang yang dimiliki seseorang, bukannya mengisi kekosongan, uang malah akan membuat kekosongan baru.)

We make a living by what we get, but we make a life by what we give. – Winston Churchill
(Kita menikmati hidup melalui yang kita dapat, tapi kita menikmati kehidupan melalui yang kita berikan.)

Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants. – Epictetus
(Kekayaan tidak berarti memiliki banyak hal, akan tetapi memiliki sedikit keinginan.)

It is not the man who has too little, but the man who craves more, that is poor. – Seneca
(Kemiskinan bukanlah tentang orang yang memiliki sedikit, melainkan tentang orang yang menginginkan lebih.)

Masih ada puluhan yang bisa mungkin ditulis, tapi tidak akan ada gunanya, semuanya mengatakan hal yang sama. Bahwa uang bukan yang terpenting. Semua yang terpenting dalam hidup manusia tidak bisa dibeli dengan uang. Sepanjang sejarah, orang bijak dan orang kaya telah mengatakan hal tersebut. Tapi tetap saja istilah sukses tidak berubah.

Ilustrasi kecil yang saya sukai adalah tentang gaji atau penghasilan:
Orang yang mendapat gaji dua juta sebulan, merasa tidak cukup. Dia yakin jika nanti mendapat gaji empat juta sebulan, hidupnya akan lebih enak dan dia akan mulai bisa menabung.
Setelah dia mendapat gaji empat juta, tetap tidak cukup, karenanya dia kemudian merasa kalau nanti sudah dapat gaji delapan juta, dia akan bisa hidup lebih enak dan akan bisa mulai menabung.
Kemudian gajinya naik menjadi delapan juta, tetap saja belum bisa menabung karena satu dan lain hal. Dia berpikir, jika nanti dapat enam belas juta, hidupnya akan berubah dan dia akan mulai menabung.
Benar pula, gajinya menjadi enam belas juta, dia mulai mencicil mobil, berpikir untuk mengontrak rumah, dan gajinya tidak cukup. Dia kembali berpikir, seandainya gajinya menjadi tiga puluh dua juta, pasti dia akan tenang dan bahagia.
Kemudian dia mendapat gaji tiga puluh dua juta sebulan, dan sekarang dia ingin memiliki rumah sendiri dan mobil yang lebih baik. Orang-orang melihat dia sudah cukup sukses. Tapi dia tetap merasa kurang sukses. Sementara orang lain memimpikan hal yang sama, “seandainya aku mendapat gaji setengahnya saja, tentu aku akan bahagia.”

Ketika seseorang mengatakan, “seandainya penghasilanku lima puluh juta sebulan, aku pasti bahagia dan berkecukupan.” Hal itu hanya menyatakan bahwa dia tidak punya gaji sebesar itu. Ketika seseorang mengatakan bahwa jika dia memiliki sesuatu, maka dia berarti sudah sukses; Itu hanya membuktikan bahwa dia tidak memiliki hal itu. Lagi pula, seringkali orang mencampuradukkan antara kebahagiaan dengan kekayaan atau kecukupan atau harta atau kepuasan diri atau nafsu diri atau ambisi. Padahal seharusnya tidak ada hubungan antara kebahagiaan dengan memiliki semua hal yang mampu diinginkan seseorang. Paling tidak, tidak ada hubungan langsung yang setara antara kebahagiaan dengan pemuasan keinginan. Justru sebaliknya, seperti halnya paradoks kebebasan, seseorang menjadi berkecukupan dan puas dan menjadi bahagia ketika dia menahan dirinya dari banyak keinginan.

Dalam hidup manusia, apakah yang disebut sebagai sukses? Dimanakah letak kesuksesan manusia? Dimanakah letak titik dimana dia boleh mendapat perhentian dan merasa puas?
Apakah ketika dia menjadi kaya? Ketika memiliki banyak uang? Ketika ada orang yang mengakui bahwa dia sudah sukses? Ketika ada orang yang iri pada dirinya? Ketika menjadi orang yang bisa membeli apa pun yang dia mau?

Tentu saja titik itu seharusnya berada di titik akhir kehidupan manusia, garis finish nafas manusia. Bagaimana seseorang menjalani hidupnya secara totalitas dan keseluruhan dan kemudian di akhir hidupnya, dia bisa merasa puas dan mendapat ketenangan.
Kehidupan manusia sama seperti pelari, apakah selama dia berlari tidak pernah merasa lelah? Apakah tidak pernah terjatuh? Apakah tidak pernah merasa putus nafas? Apakah dia tidak secara sadar merubah kecepatan larinya menyesuaikan dengan tantangan medan dan fisik yang berubah selama dia berlari? Demikian pula manusia dalam hidupnya. Ada jatuh bangun, kelemahan dan kegagalan, berbagai pergumulan secara fisik dan mental dalam upayanya mencapai garis finish.

Kesuksesan manusia tidak ditentukan oleh dirinya sendiri. Manusia tidak bisa dan tidak boleh menilai dirinya sendiri, segala penilaian tentang seseorang harus berasal dari luar dirinya sendiri. Jadi pada akhirnya, siapakah yang menentukan kesuksesan seseorang?

Ada cerita dalam sebuah pemakaman orang yang kaya dan dermawan. Pemakaman itu dihadiri oleh banyak orang, dan beberapa orang membagikan kisah tentang bagaimana orang yang kaya ini selama hidupnya.
“Bapak inilah yang mendirikan yayasan besar yang memberikan bantuan berupa operasi katarak gratis bagi ratusan orang tua setiap tahunnya.”
“Bapak ini selama hidupnya tidak pelit dengan kekayaannya dan memberikan banyak sumbangan pada rumah yatim piatu.”
“Banyak sumbangan telah diberikan bapak ini kepada pembangunan rumah ibadah, tidak hanya di wilayahnya, melainkan di banyak daerah di berbagai kepulauan dan desa terpencil.”
Dan hingga giliran anggota keluarganya, anaknya yang paling besar berkata, “Semua yang kalian katakan tentang bapak saya, sama sekali tidak saya mengerti. Dia tidak pernah berada di rumah, ibu saya terus menangis karena dia memiliki simpanan di kota lain. Perusahaan kontraktor miliknya melakukan pembangunan dimana-mana dan mencuri spesifikasi sehingga beberapa kali saya hampir dijebloskan kedalam penjara karena saya adalah wakil direktur dari ayah saya. Saya membenci ayah saya.”

Apakah bapak dermawan tadi adalah orang yang baik ataukah orang yang jahat? Apakah dia bisa dikatakan sukses? Jika bisa dikatakan sukses, apakah target yang sudah dia capai dalam hidupnya? Siapa yang berhak mengatakan bahwa dia sudah sukses mencapai garis finish, jika dia sendiri tidak tahu apa yang harus dikerjakan dalam hidupnya?
Demikian pula dengan semua manusia. Apakah sukses itu sebenarnya?
Pemanah, pelari, penembak jitu, memiliki target. Apakah ‘target’ dari hidup manusia? Sementara umur manusia pun tidak berada ditangannya sendiri. Garis finish tiap manusia tidak ditentukan sendiri oleh masing-masing manusia. Jadi dari mana bisa muncul definisi ‘SUKSES’?

Tidak ada jawaban yang bisa ditawarkan dalam dunia ini, oleh filsafat sekalipun. Tidak ada kemungkinan selain dari jika seseorang memahami hukum relasi pencipta-ciptaan.
Dalam hukum itu barulah akan ditemukan pemahaman tentang tujuan hidup manusia. Di dalam pengertian tentang tujuan hidup manusia, akan ditemukan alasan untuk apa dia hidup dan apa yang harus dikerjakannya dalam hidup ini. Kemudian pada akhirnya, barulah bisa ditentukan apakah dia sudah bisa dikatakan SUKSES dalam hidupnya atau tidak.

Terlalu banyak orang yang membuang seluruh hidupnya, belajar dan bekerja, untuk sesuatu yang bernilai kecil atau bahkan tidak bernilai. Itu disebabkan karena kesalahan konsep nilai dalam hidup manusia. Manusia sebenarnya tidak tahu untuk apa dia hidup.

The real measure of your wealth is how much you’d be worth if you lost all your money.

Terjemahan: Ukuran kekayaan bukanlah berapa banyak hartamu, melainkan seberapa tinggi orang lain menilai dirimu ketika kamu kehilangan semua uangmu.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s