Q: Bukankah semua agama itu sama, mengajarkan kebaikan dan mendatangkan keselamatan?

AAda tiga pertanyaan dalam satu kalimat tanya tersebut. Pertanyaan tersebut hanya bisa terjawab melalui –paling sedikit– dalam empat pembahasan.

Yang pertama adalah apakah yang dimaksud dengan keselamatan? Ada agama dan kepercayaan yang mengatakan bahwa keselamatan itu adalah surga. Jika kita beragama, maka kita akan masuk surga.
Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu adalah kita akan hidup kaya raya, makmur dan sejahtera, dijauhkan dari segala macam kesulitan, sakit penyakit, bahaya, baik dalam dunia ini, maupun akhirat.
Sementara yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita akan melalui kehidupan yang ini, untuk menuju pada kehidupan yang lain, yang berikutnya, yang lebih baik daripada kehidupan yang sekarang kita jalani.
Dan yang lain lagi mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita tidak akan mati secara rohani, kita akan hidup setelah jasmani kita dalam kehidupan yang fana ini berakhir; dan kita akan hidup sampai selama-lamanya.

Jadi manakah yang benar dengan pendapat tersebut? Setiap agama dan kepercayaan memiliki definisi yang berbeda tentang “KESELAMATAN”. Ada agama dan kepercayaan yang menggambarkan bahwa keselamatan yang adalah surga itu adalah kehidupan yang mirip dengan kehidupan kita yang sekarang, namun disana tidak terdapat kesulitan, sakit penyakit, kematian, malapetaka, dan seterusnya. Yang lain menggambarkan bahwa kehidupan di surga itu adalah kehidupan sebagai pertapa dan kekal, dalam ketenangan dan kedamaian yang tiada akhir. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa kehidupan di surga itu adalah kemewahan dan kepuasan dan pemenuhan segala keinginan manusia yang tidak tercapai di dunia ini, segala uang, logam mulia, batu mulia, tempat tinggal seperti istana, kehidupan seperti raja, dan mengumbar segala nafsu, keinginan, kenikmatan lidah dan seksualitas, sejauh dan sebanyak yang dapat kita bayangkan dengan imajinasi manusia, bahkan lebih daripada batasan imajinasi kita.

Yang kedua adalah berkenaan dengan tujuan akhir hidup manusia, kita akan mulai masuk dalam pembahasan untuk menjawab pertanyaan tersebut, mulai dari yang paling akhir. Agama mendatangkan keselamatan. Kita semua adalah manusia. Manusia itu bisa bersalah, dan sudah bersalah, dan tidak seorangpun yang tidak pernah tidak bersalah. Karena itu manusia akan binasa, karena kesalahan kita sendiri. Air yang kita minum, berusaha kita bersihkan dari air yang kita cemari. Makanan yang kita makan, mengandung segala kemajuan teknologi dan rekayasa yang secara perlahan dan komulatif meracuni kita. Sebagian dari kita dengan tubuh yang lebih lemah menderita penyakit yang aneh-aneh, mulai dari kanker, kerusakan organ, keracunan logam berat atau kimia, penyakit multiple sclerosis, autoimun, dan seterusnya. Udara yang kita hirup sudah kita cemari sendiri dengan pencemaran udara, berbagai jenis radiasi, penebangan hutan, perusakan alam, eksploitasi sumber daya, kerusakan keseimbangan jumlah populasi flora dan fauna, dan seterusnya. Langsung ataupun tidak langsung, kita semua terlibat dan ikut sama bersalahnya, dan kita semua akan binasa karena kesalahan kita sendiri. Dunia sudah terlalu rusak dan perbaikan yang kita lakukan akan menjadi penyebab kerusakan yang berikutnya. Hal itu adalah akibat kesalahan kita semua, tidak terelakkan dan tidak ada yang dapat kita lakukan selain kita berusaha bertahan.

Namun sebagai manusia, kita juga memiliki roh. Tidak ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia jasmani kita, dan untunglah jasmani kita tidak mengandung unsur kekekalan. Tapi ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia rohani kita yang akan terus berlanjut, bahkan ketika dunia jasmani ini sudah lewat. Kita bisa dimampukan untuk memilih jalan hidup yang tepat, yang bisa membawa kita pada keselamatan, menghindarkan kita daripada kematian rohani yang sifatnya selama-lamanya dan kekal.

Disinilah isu tentang agama menjadi sangat penting. Melihat kembali tentang definisi masing-masing agama tentang keselamatan, manakah definisi yang benar? Kesalahan memilih jalan hidup dan mengikuti ajaran yang salah adalah meresikokan kehidupan kekal dalam roh. Apakah kita akan diselamatkan didalam roh atau kita akan tidak terselamatkan didalam roh sampai selama-lama-lamanya.

Untuk menentukan kita akan mau makan apa sore ini, kita memilih. Memilih makanan yang dimasak oleh seseorang di suatu rumah makan, yang memiliki kualitas yang sesuai dengan yang kita harapkan. Demikian pula untuk memilih pakaian, sekolah, universitas, calon istri dan suami, dan seterusnya. Kita memilih dan mempertimbangkan. Untuk bisa memilih dan mempertimbangkan, kita mengambil informasi dan data, kita analisa antara informasi dan data yang satu dengan yang lain. Kita bersikap terbuka, objektif, dan rela hati untuk mempelajari setiap aspek, kemudian mengambil keputusan berdasar pada informasi yang kita kumpulkan.

Itu semua rela kita lakukan untuk memilih makanan, pakaian, sekolah, pasangan hidup, dan seterusnya. Padahal itu semua sifatnya sementara. Jarang dari kita yang benar-benar mempertimbangkan dan mempelajari agama dan kepercayaan yang kita pegang, membandingkannya dengan agama lain untuk kemudian kita pilih. Tidak, kita tidak melakukan itu. Kita bahkan seringkali tidak mempelajari baik-baik dan secara mendalam agama yang sedang kita yakini dengan buta.
Kita bisa penasaran beda antara panci dan loyang yang satu dengan yang lain hanya karena beda harga, yang satu lebih murah daripada yang lain. Atau kita ingin tahu beda antara smartphone yang satu dengan yang lain, mana yang lebih bagus, mana yang lebih berkualitas.

Tidakkah roh kita yang kekal lebih penting daripada dompet kita, panci atau smartphone?
Inilah bahasan yang ketiga, yaitu bagaimana kita bisa tidak perduli dan tidak mau mempelajari dan mengenali siapa atau apa yang kita percaya yang katanya bisa membawa kita pada keselamatan? Bagaimana kita bisa secara pragmatis menganggap bahwa semua kebaikan adalah sama dan semua ajaran adalah sama rata baik adanya. Sementara jelas kelihatan bahwa agama dan kepercayaan yang satu menyatakan bahwa binatang itu makhluk hidup yang tidak boleh kita bunuh dan makan. Sementara agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua boleh kita nikmati dan makan dengan bertanggung jawab. Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua manusia adalah ciptaan yang paling tinggi dan darahnya sangat berharga sehingga tidak boleh dibunuh. Sementara ada agama dan kepercayaan yang lain menyatakan bahwa darah manusia itu boleh dikorbankan dan darah manusia yang satu lebih berharga dibanding darah manusia yang lain.

Bagaimana mungkin kita bisa dengan polos mengatakan bahwa semua agama itu sama?

Sekarang, bahasan yang keempat, apa yang hendak kita lakukan dengan perbedaan itu? Kita bisa tidak perduli dan tetap menganggap semua agama sama. Kita bisa mulai belajar, membandingkan, dan mencari kebenaran sejati, yang benar-benar benar. Kita bisa menutup diri dan menganggap semua agama salah dan agama kita yang paling benar.
Manusia menajamkan manusia, dengan kritik yang membangun, berdiskusi, berbicara, membuka diri; ilmu pengetahuan bertumbuh dengan sangat cepat karena setiap orang bisa saling mendukung dan melengkapi. Demikian pula dalam hal filsafat, filsuf yang satu memberikan pendapat dan pengajaran, dan filsuf yang lain memberikan tanggapan, dan kita mempelajari kemajuan berpikir mereka dan meningkatkan kualitas hidup intelektual kita.

Demikian pula halnya dengan agama dan kepercayaan kita. Menutup diri dengan fanatisme adalah sama dengan menjadi katak dalam tempurung. Seperti anak kecil yang menganggap dirinya sangat pandai dan paling tahu dan paling benar. Dia tidak menerima pengajaran dari orang lain. Dan kita semua tahu kemana anak kecil sedemikian akan berakhir jikalau didikan tidak diterapkan dalam dirinya.

Kebenaran itu persis seperti singa, dimanapun dia berada, dia akan selalu ditakuti dan membuat perbedaan. Kita yang mempercayai dan memelihara singa yang hidup, kita tidak perlu membela singa itu pada saat ada musuh mau menyerang. Singa itu bisa membela dirinya sendiri, dari dalam dirinya sendiri, dia akan menunjukkan bahwa dia hidup, bahwa dia layak ditakuti. Yang perlu dibela adalah “singa-singa”-an; singa palsu. Singa itu lain dengan singa-singa-an.

Kalau saudara mengeluarkan uang 500juta untuk membeli mobil, kemudian sebuah mobil-mobil-an disodorkan kepada saudara, maka saudara akan marah besar. Karena saudara tahu bahwa mobil itu berbeda dengan mobil-mobil-an. Setelah saudara membawa pulang mobil yang sejati, dan ada orang yang mengatakan bahwa Anda tolol karena membeli mobil-mobil-an, Anda hanya akan tersenyum. Itu pasti orang gila. Anda tidak marah, karena Anda tahu, Anda membayar 500jt untuk membeli mobil, dan mobil itu yang Anda bawa pulang.

Demikian pula dengan kebenaran yang sejati, agama yang sejati, kebenaran yang sejati. Setelah saudara mendapatkan kebenaran yang sejati, dan ada yang mengatakan bahwa kebenaran itu palsu, maka Anda akan tersenyum dan bisa mulai menjelaskan dan memberikan argumen. Karena Anda sudah belajar, dan sudah mengerti, dan sudah memilih dan mendapat kebenaran yang sejati.

Menjawab pertanyaan diatas: Bukankah semua agama itu sama? Hanya kalau Anda tidak pernah belajar, maka semua agama itu sama. Sama seperti semua mobil itu sama, sama seperti semua singa itu sama. Sama seperti semua perempuan/laki itu sama, asal perempuan/laki, boleh dijadikan istri/suami.

“The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.”― Augustine of Hippo

Advertisements

Q: Bagaimana mungkin tidak ada seorangpun yang baik?

ABerbicara tentang kebaikan hampir selalu mengarah pada hal yang sifatnya lebih kepada pembicaraan filsafat dan teologi sebagai ujung terakhir. Sadar ataupun tidak sadar, kita berbuat baik karena ada tuntutan dalam diri kita, suara hati nurani dan kesadaran yang menganiaya kita, menuntut kita untuk melakukan hal yang baik seturut dengan pengertian yang kita miliki, dan terlebih lagi untuk menghindari perasaan bersalah yang akan menjauhkan kita dari ketenangan diri. Hati nurani dan kesadaran akan perasaan bersalah adalah sebuah konsep pengertian akal budi yang hanya dimiliki manusia, jauh di dalam jiwa kita tentang penghukuman dan pembalasan yang setimpal dengan perbuatan kita.

Dalam pengertian akan penghakiman dan penghukuman serta pembalasan itulah setiap orang, pribadi lepas pribadi, masing-masing orang sepanjang sejarah di sadarkan akan konsep ‘keselamatan’ dalam ‘kehidupan setelah kematian.’ Itulah yang mendorong orang untuk berbuat baik. Namun tidak ada yang baik, tidak ada yang sanggup berbuat baik dalam kebaikan yang sempurna. Tidak ada seorang pun memiliki kebaikan yang bisa dipertimbangkan sebagai alasan bagi dia untuk boleh diselamatkan. Itu adalah kesadaran yang mengerikan bagi orang sepanjang sejarah, sehingga muncullah perlawanan terhadap figur tuhan karena tuhan sangat mengganggu eksistensi manusia. Jika tidak ada tuhan, maka tidak ada penghakiman. Siapa pula tuhan itu sehingga dia berhak seenaknya menentukan nasib manusia. Manusia bahkan tidak tahu apakah dia ada atau tidak. Hal-hal inilah yang dibahas oleh agnostisisme.

Namun sekali lagi, hati nurani, moralitas, kesadaran dan perasaan bersalah terus menegur jiwa manusia. Walaupun pragmatisme berusaha membunuh suara hati nurani, namun suara itu hanya membungkam, tidak pernah mati. Itulah sebabnya tidak pernah luntur dalam sepanjang sejarah manusia, upaya manusia berbuat baik supaya dia boleh diterima dalam kehidupan yang baik sesudah kematian. Tapi sebagian kita menyadari bahwa perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan kita, karena alasan yang sangat sederhana dan mudah, “tidak ada yang baik, seorang pun tidak. Hanya TUHAN yang baik.”

Sebenarnya pertanyaan ini memiliki antitesis, “Siapakah yang bisa dikatakan baik?” Dan antitesis itu membawa tiap orang kepada satu perenungan, “Apakah baik itu?”

Serta merta kita akan menyadari bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kebaikan yang kita lakukan adalah sangat terbatas, berlaku sementara, dan terpecah-pecah. Baik bagi satu orang, belum tentu baik bagi orang yang lain. Orang hanya akan mengatakan kita baik jika kita menguntungkan atau melakukan hal yang dia sukai. Kita hanya bisa dikatakan baik dalam satu waktu dan kondisi tertentu, tapi tidak dalam totalitas keseluruhan hidup kita.

Siapakah yang berani berkata, “Aku ini orang baik.” Dia yang berani berkata sedemikian sudah pasti tidak baik, satu hal yang pasti, dia adalah pembohong. Atau tentu saja, jika dia gila. Agama menuntun kita untuk melakukan perbuatan kebaikan supaya kita boleh diselamatkan (baca: pergi kepada tuhan, di sorga, di nirvana, di langit, dan seterusnya), namun semua agama sendiri menyadari bahwa kebaikan tidak mungkin dilakukan secara universal, secara integral, oleh setiap orang.

Ketika seseorang bersedekah terhadap pengemis, ada banyak pengemis lain yang tidak mendapat sedekah dari kita. Ketika kita membantu anak yatim piatu, ada ratusan anak yatim lain yang tidak mendapat kebaikan dari kita. Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.
Ketika kita menolong seseorang, ada puluhan orang yang datang kepada kita yang tidak sanggup kita tolong. Jadi bagaimana kita bisa menjadi baik secara utuh dan sempurna supaya kita boleh diselamatkan? Semakin kita berusaha baik, semakin tidak baik kita jadinya.

Sebagian besar kita tidak menyukai mereka yang hanya berbuat baik pada kita karena sedang ‘ada maunya.’ Kita jengkel karena kita merasa diperalat. Datang membawa bingkisan dan hadiah kecil, supaya kita membalasnya dengan melakukan sesuatu untuk mereka. Kita juga tidak senang jika kita datang kepada seseorang untuk meminta bantuan, kemudian malah kita diperas dan diminta untuk memberikan bingkisan. Perbuatan baik dengan motivasi tertentu tidak bisa dikategorikan sebagai kebaikan.
Tapi tidakkah itu yang dilakukan oleh orang yang katanya beragama? Agama ‘mengajarkan’ cara untuk memperalat tuhan, berbuat sedikit kebaikan supaya tuhan mau menyelamatkan kita dan membawa kita ke surga. Perbuatan baik kita tidak pernah lepas dari motivasi tertentu, entah tersembunyi atau mungkin terang-terangan.

Karena kesadaran akan ketidakmungkinan untuk melakukan kebaikan secara sempurna, pemikiran curang manusia menambahkan pengajaran baru, bahwa akan ada “pengadilan” yang menimbang perbuatan baik kita terhadap perbuatan buruk kita. Melebih-lebihkan nilai perbuatan baik kita di hadapan tuhan, seolah kita layak atau bahkan berjasa kepada tuhan. Padahal di dalam segala hal ada relasi pencipta-ciptaan yang berlaku di alam semesta ini, dan adalah kegagalan di titik pertama ketika munculnya pemikiran bahwa kita memiliki kemungkinan untuk memiliki jasa dihadapan pencipta kita.
Tapi baiklah kita bahas pula kemungkinan ini. Benarkah kebaikan kita bisa lebih banyak atau paling tidak sama banyak dengan kejahatan dan kesalahan kita?

Ilustrasi kecil:
Apakah saja syarat murid sekolah yang baik? Patuh pada guru. Hormat pada yang lebih tua. Tidak mencontek. Tidak berbohong. Tidak mengganggu teman. Belajar yang rajin. Datang sekolah tepat waktu. Menjaga ketertiban sekolah.
Jika seorang anak melakukan kesemuanya dengan sempurna, tapi suatu hari dia datang sekolah terlambat, dengan sejuta alasan yang valid dan masuk akal. Apakah dia masih bisa dikatakan sebagai murid yang baik? Jika selama dia bersekolah selama 300 hari selama setahun, dia tidak belajar dengan rajin suatu ketika, apakah dia masih bisa dikatakan murid yang baik? Jadi berapa kali dia boleh ‘TIDAK BAIK’ dan masih dapat dikatakan bahwa dia ‘MASIH BAIK’? Satu aturan dilanggar, dia sudah melanggar semua aturan.

Ilustrasi yang lebih ekstrim:
Apakah syarat istri yang baik? Rajin mengurus rumah. Merawat suami dan anak. Teliti dalam urusan rumah tangga. Pandai berdandan. Bisa masak. Memberikan pertimbangan dan nasihat yang baik bagi suami dan anak-anaknya.
Kemudian dalam 40 tahun pernikahan, dia pernah satu kali tidur dengan pria lain. Apakah dia masih merupakan istri yang baik?

Demikian pula kita dalam hidup kita. Benarkah kita berani mengatakan bahwa jika kebaikan dan kejahatan saya selama hidup ditimbang, maka saya masih ada kelebihan baik. Benarkah kita berani mengakui bahwa kita baik dihadapan tuhan dan meminta dia untuk menyelamatkan kita?

Apakah benar-benar agama atau diri kita sendiri yakin bahwa kita bisa diselamatkan oleh perbuatan baik? Justru karena adanya tuntutan moral dan segala hukum yang berlaku, membuktikan kepada kita bahwa kita tidak bisa berbuat baik. Karena kita tidak bisa berbuat baik, maka kita semua tidak bisa diselamatkan.
Seluruh agama adalah sia-sia. Seluruh upaya manusia untuk bisa diselamatkan adalah upaya menjaring angin. Kita tidak bisa diselamatkan. Jika kita bahkan tidak bisa berbuat baik, dengan apa kita bisa diselamatkan? Jika perbuatan baik kita (jika seandainya, seumpama, misalnya, contoh omong kosong jika kita benar-benar berbuat baik tanpa cela) pun pada dasarnya disertai oleh motivasi tertentu, masihkah kita bisa disebut baik? Karena kita mengharapkan imbalan atas jasa kita. Sebuah buku filsafat Islam yang pernah saya baca memberikan ilustrasi yang menarik: perbuatan baik itu seharusnya seperti saat kita buang air besar, tidak ada motivasi, ikhlas, penuh kerelaan, tidak mengungkit jasa kita kepada siapapun di kemudian hari. Itulah perbuatan baik yang sejati.

Tidak ada yang baik. Seorang pun tidak.
Tidak ada jalan keluar lain. Kita tidak bisa diselamatkan jika kita tidak menghadap Tuhan dan membesar-besarkan jasa kita dihadapan-Nya (tapi itu akan membuat manusia semakin berdosa, bahkan menurut etika rendah manusia; Apalagi di dalam etika Tuhan.)
Namun bukunya orang Kristen memberikan kepada kita penghiburan dan jalan keluar. Karena manusia tidak bisa berbuat baik dan tidak bisa menyelesaikan dosanya sendiri dalam hidupnya di hadapan tuntutan penghakiman keadilan TUHAN, maka Tuhan mengutus Anak-NYA sebagai satu-satunya jalan keluar, supaya mereka yang percaya pada berita aneh dan supranatural itu boleh diselamatkan. Tuhan Yesus, Anak Tunggal Tuhan, mengambil bentuk manusia supaya Dia bisa mati, menggantikan manusia berdosa, menyatakan kasih Tuhan yang besar untuk manusia yang berdosa. Harus bentuk manusia, karena Dia tidak bisa mati jika Dia tetap sebagai Tuhan.
Kasih itu tidak murah, karena masih ada keadilan yang harus ditanggungkan sebagai pertanggungjawaban manusia. Manusia boleh saja meminta maaf dan manusia akan dimaafkan hanya di dalam Kristus Yesus sebagai pengganti yang sah yang diakui Tuhan, tapi konsekuensi hukuman harus jalan dan masih ada ganti rugi yang harus dibayar seturut dengan keadilan Tuhan. Sehingga itulah yang dikerjakan dalam karya keselamatan, Anak Allah yang tunggal itu menggantikan manusia dan mati di dalam kesucian dan ketidakberdosaan untuk memuaskan penghakiman Tuhan.

Jangan ditanyakan kenapa harus cara itu, Dia pencipta. Cara apapun yang Dia lakukan, selalu akan ada manusia yang mempertanyakan, “kenapa harus cara itu?” Dia berhak menggunakan cara itu. Dan itulah jalan keluar yang ditawarkan. Kita mau menerima atau menolak, Tuhan tidak rugi apapun juga.

Q: Apakah gunanya anak, peran serta dan tanggung jawab dia dalam keluarga?

ADalam hal ini, perlu dijelaskan terlebih dahulu apakah ‘ANAK’ itu. Setelah mengerti dan memahami apakah ‘ANAK’ itu, baru kita bisa mulai membicarakan kenapa dia ada, secara eksistensi. Baru kemudian bisa diketahui peran, fungsi, dan tanggung jawab dia di dalam keluarga yang adalah bagian terkecil dari masyarakat manusia.

Saya tidak memiliki perspektif, paradigma, dan presuposisi lain, selain daripada prinsip utama bahwa anak bukan hasil ciptaan orang tua menurut maksud dan tujuan orang tua, sehingga tujuan anak jelas bukan untuk mengerjakan pekerjaan yang telah dipersiapkan oleh kehendak keinginan orang tua. Seturut dengan hukum relasi pencipta-ciptaan, orang tua tidak memiliki hak mutlak dalam diri anak (seperti yang seringkali muncul dalam budaya timur). Setelah semua jelas tentang ‘ANAK’ itu BUKAN apa, baru kita dapat dengan jelas melihat apakah ‘ANAK’ itu.

Saya sangat menyukai istilah Bahasa Inggris untuk kata ‘melahirkan’, kata yang digunakan adalah delivery, terjemahannya adalah ‘mengantarkan’. Seorang ibu ‘mengantarkan’ seorang anak ke dalam dunia; Seorang anak diantarkan ke dalam dunia melalui rahim seorang ibu. Tidak ada unsur kepemilikan disana, seorang ibu merupakan ‘kurir’ pengantar. Anak bukan milik ibu, tapi untuk sementara dititipkan kepada ibu sebagai kepunyaannya untuk dipelihara. Demikian halnya seorang kurir yang mengantarkan paket, dia bertanggung jawab penuh selama paket itu berada di tangannya, dijagainya seolah-olah paket itu adalah milik kepunyaannya sendiri.
Seorang ibu pun demikian, menjagai anaknya, hingga sekali waktu anak itu menjadi besar dan dewasa untuk kemudian meninggalkan ayahnya dan ibunya, untuk menjadi satu dengan istrinya dan proses itu berulang kembali, terus menerus secara konsisten.

Selama anak itu berada dalam pengawasan ayah dan ibunya, anak itu akan dibekali dan dipersiapkan. Sama seperti semua kejadian yang boleh kita lihat disekitar kita dalam dunia binatang. Bedanya adalah bayi manusia perlu belasan tahun bersama orang tuanya sebelum dia bisa hidup sendiri.

Dalam pada masa itu, seorang anak dididik, disekolahkan, diberi pembelajaran di berbagai tempat. Dua institusi terbesar dalam kehidupan seorang anak adalah rumah dan sekolah, terkadang ditambah satu institusi lagi yaitu tempat ibadah. Di dalam kesemua institusi itu, apakah tanggung jawab dan peran anak? Belajar, dengan sebaik-baiknya, bukan untuk keuntungan siapapun juga melainkan demi dirinya sendiri dan masa depannya. Mempersiapkan diri dan dengan taat mengikuti didikan, ajaran, dan latihan yang diberikan oleh masing-masing institusi. Entah apakah setiap institusi mengerti tentang prinsip pendidikan atau tidak, apakah ajaran yang diberikan benar atau tidak, apakah ajaran yang disodorkan bernilai tinggi atau tidak, apakah didikan yang diajarkan itu baik dan dilakukan dengan baik serta memiliki motivasi yang baik atau tidak, anak hanya bisa menghormati dan menghargai semua itu di dalam ketidakmengertiannya. Hingga suatu kali nanti dia akan mampu untuk tunduk pada apa yang baik, dan benar, dan bernilai.

Anak adalah manusia kecil yang berpotensi menjadi pemberontak-pemberontak dan begundal-begundal pembuat keonaran jika tidak dididik dengan baik. Fakta ini yang membuat saya heran dengan pernyataan yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik. Jika manusia pada dasarnya baik, maka anak tidak perlu dididik, dia akan bertumbuh dengan baik; Sedangkan yang sudah sampai berusia dewasa saja sangat susah membuat dirinya sendiri menjadi baik, apalagi anak-anak.

Karena itulah setiap anak harus dididik dengan baik, dengan keadilan, dengan kasih, dengan keras dan tegas, secara bijaksana dan otoritas yang bertanggung jawab. Orang tua harus memberikan teladan dan didikan yang harus dia terima, dan anak harus mendengarkan didikan ayahnya dan tidak menyia-nyiakan ajaran ibunya. Tidak ada yang lebih celaka daripada seorang anak yang lebih suka melangkahkan kakinya ke jalan dan lebih menyukai ajakan temannya dibanding mencari kebijaksanaan. Tidak ada tindakan yang lebih merugikan diri sendiri yang bisa dilakukan oleh seorang anak selain menolak didikan dan ajaran dan hajaran orang tuanya.

Setiap tanggung jawab yang diberikan oleh pendidik, akan memberikan bekal yang baru akan disadari oleh anak tersebut di kemudian hari. Orang tua pernah menjadi anak, anak belum pernah menjadi orang tua. Pendidik sudah pernah menjadi anak, anak belum pernah mengalami perjalanan yang sudah dialami pendidik. Karena belum pernah tahu, jangan sok tahu dan merasa sudah tahu; karena belum pernah menjalani, jangan merasa bahwa apa yang diajarkan sekarang tidak penting.

Orang yang paling bodoh adalah merupakan orang yang paling berani di dunia. Dia tidak takut dan tidak bisa merasa khawatir. Khawatir hanya bisa dikerjakan oleh orang yang pintar dan tahu banyak. Anak-anak selalu memiliki kecenderungan untuk bersikap sedemikian, dia baru tahu sedikit, sudah merasa tahu banyak, dan merasa paling tahu. Gengsi dan harga dirinya mencegah dia untuk mengakui bahwa dia tidak tahu. Seperti tong yang berisi sedikit, lebih ribut daripada tong yang isinya banyak. Semakin sedikit isinya, semakin nyaring bunyinya. Seperti halnya padi, padi yang tidak berisi selalu padi yang berdiri paling tegak, padi yang banyak isi selalu menunduk seolah lebih hormat dan tahu diri; Anak muda juga banyak yang seperti itu, berjalan tegak dengan kepala mendongak, raport di sekolah sangat tinggi nilainya, merasa paling pintar di sekolah, merasa diri sudah sangat hebat. Mereka seperti katak dalam tempurung yang gagal melihat ada hal lain yang lebih besar di dunia ini, seperti kebijakan, moralitas, kebenaran, integritas, dan kehormatan sebagai hal yang hanya dapat diperoleh melalui perjalanan waktu dan tidak bisa dibayar dengan apapun selain daripada hidup mereka sendiri. Mereka belum melihat di dunia ini bahwa di atas yang paling hebat selalu ada yang lebih hebat.

Anak-anak yang tidak bisa mendidik dirinya sendiri, mengekang dirinya sendiri dan tekun, patuh, tunduk serta belajar sebaik-baiknya melalui didikan dalam institusi yang mendidik dia dan yang gagal dididik oleh orang tuanya, akan suatu hari dihajar oleh lingkungan dan masyarakat, oleh pengalaman pahit dan kesulitan besar. Dan pada saat itu, setiap pelajaran akan dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Mereka yang tidak menghargai didikan, ajaran, dan hajaran yang bisa dibayar dengan kesulitan sedikit dan harga yang rendah, akan membayar dan menebus hidupnya di kemudian hari dengan harga yang tinggi. Mereka yang tidak bisa menghargai orang yang lebih tua, lebih senior, entah karena merasa lebih pintar, lebih bergelar, lebih berkuasa, atau lebih kaya, akan menerima banyak penghinaan dan dipandang rendah oleh orang bijak dan orang besar. Karena kekuasaan dan kekayaan yang dia dapat pasti berasal dari orang tuanya; dia hanya membanggakan hal yang tidak dia miliki, memetik yang tidak dia tanam, mendapat yang tidak dia cari.

Prinsip berikutnya yang menurut saya menjadi kunci utama pemahaman prinsip mengenai peranan orang tua dan peranan anak dalam keluarga adalah seperti yang ada dalam buku orang Kristen. Seorang anak harus menghormati ayahnya dan ibunya, dan tunduk mutlak hanya pada Tuhan yang menciptakan dia. Dia harus mengisi hidupnya dengan ajaran-ajaran yang praktis, dan memiliki ketaatan pada idealisme Tuhan yang telah menciptakan dia seturut dengan maksud dan tujuan Tuhan. Selain daripada itu, di dalam keluarga, tidak ada peran anak yang lebih penting dibandingkan peran orang tua dalam diri anak. Sebagai orang tua yang harus bertanggung jawab pada Tuhan yang sudah mempercayakan anak kepada mereka untuk dididik dan dibesarkan dan dibimbing untuk mengetahui tujuan hidupnya sendiri seturut dengan yang Tuhan mau. Tanpa prinsip ini, pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan ujung-ujungnya hanya berakhir pada ambisi manusia berikut dengan kompetisi dalam hidup.

Q: Apakah peran anak dalam keluarga?

ATanpa presuposisi yang tepat, fungsi anak dalam keluarga bisa menjadi sangat keliru dan tidak pada tempatnya. Anak seringkali merupakan tumpuan orang tua yang bisa jadi di eksploitasi. Mulai dari penerus cita-cita dan ambisi orang tua, sebagai pemuas kebanggaan orang tua, sebagai investasi yang diharapkan memberikan keuntungan balik, sebagai asuransi dan penjamin serta perawat di hari tua, dan seterusnya. Beberapa anak yang tidak sesuai dengan harapan orang tua dianggap sebagai aib dan malapetaka dalam kehidupan orang tua; dan beberapa kasus terjadi penganiayaan terhadap anak.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah puisi tulisan Philip Larkin:

this-be-the-verse

Terjemahan bebasnya adalah sedemikian:

Mereka mengacaukanmu, ayah dan ibumu,
Mereka mungkin tidak bermaksud seperti itu, tapi itu yang terjadi,
Mereka mengajarimu segala kesalahan yang ada pada mereka,
Dan menambahkannya pula hanya khusus untukmu.

Tapi pada giliran terdahulu, mereka telah terkacaukan,
Oleh para orang bodoh yang kuno, dengan topi dan jaket kuno mereka,
Yang setengah dari waktu mereka digunakan untuk bersungut-sungut,
Dan setengahnya lagi saling mencekik.

Manusia menghadiahkan kepedihan pada manusia lain,
Dan setiap kali kepedihan semakin menggerus, mendalam seperti garis pantai,
Keluarlah dan pergilah dari mereka sedini mungkin,
Dan jangan ikut pula melahirkan anak-anak.

Tanpa pengertian yang tepat tentang posisi anak dalam keluarga, orang tua akan merusak generasi berikutnya. Entah dengan didikan yang keras tanpa kasih, atau kasih yang berlimpah tanpa keadilan. Didikan dan keadilan yang keras tanpa kasih adalah didikan yang kejam. Didikan yang penuh kasih tanpa keadilan adalah tidak mendidik dan lembek serta lemah. Kasih dan keadilan harus dijalankan dalam setiap didikan dan muncul bersamaan. Dalam setiap penghukuman dan disiplin, harus muncul kasih. Dalam setiap kasih sayang, harus ada keadilan dan ketegasan dan didikan didalamnya.
Karena itulah hukuman dan didikan yang dilakukan saat orang tua marah seringkali bersifat kejam dan malah tidak mendidik, karena tidak ada unsur kasih. Mengenai hal kemarahan orang tua, seringkali yang terjadi adalah kemarahan itu muncul karena kejengkelan, karena kebencian, karena merasa terganggu. Kemarahan yang sedemikian sama sekali tidak bertanggung jawab serta sangat merusak, karena bagaimana mungkin bisa ada kasih dan didikan dalam kemarahan itu jika alasan dan motivasi marahnya pun sudah salah. Kemarahan yang seperti itu hanya menimbulkan luka dan kebencian dalam diri anak. Persis seperti puisi di atas.

Anak berhak mendapatkan kesempatan dan hak untuk berjuang melawan kesulitan. Socrates mengatakan, “The unexamined life is not worth living.” (Terj: Hidup yang tidak teruji tidak cukup berharga untuk dihidupi.) Anak yang terlalu dimanja dan dilindungi membentuk manusia yang lembek dan tidak tegar.

Kita semua pernah mendengar ilustrasi tentang pohon yang terus berada dalam rumah kaca, dengan akar yang kecil dan ketika dia sudah terlalu besar untuk terus berada dalam rumah kaca, pohon itu terpaksa dipindah keluar dan ketika angin keras bertiup, akarnya yang kecil tidak dapat menahan tiupan angin. Dengan segera pohon itu roboh. Ilustrasi yang lain tentang kupu-kupu dari kepompong yang harus berjuang keras untuk keluar, yang ketika dibantu supaya dia dengan mudah bisa keluar dari dalam kepompong, malah kemudian mati saat sudah di luar kepompong. Ilustrasi lain adalah emas yang makin dibakar, semakin murni, dan emas yang murni tidak pernah takut untuk diuji dengan api karena semakin panas api, semakin murni emas tersebut.
Saya bisa terus memberikan ilustrasi lain, tapi saya yakin maksud saya sudah jelas dimengerti.

Sayangnya, banyak anak orang kaya yang dibiarkan dan dimanja sedemikian sehingga mentalnya rusak, etikanya tidak beres, kelakuannya idealis dan tidak bernilai, gaya hidupnya sembarangan dan moralitasnya rendah. Terlebih lagi, orang tuanya tidak tahu atau tidak menyadari hal itu, dan tidak menyadari dampaknya bagi kehidupan masa depan anak itu sendiri. Bahkan beberapa orang tua sangat bangga bisa membesarkan anaknya secara demikian.

Perhatikanlah, anak-anak yang tidak diijinkan untuk berjuang keras dalam hidupnya, tidak pernah merasakan manisnya roti yang diperoleh dengan jerih payah, tidak pernah merasakan betapa nikmatnya bisa merebahkan diri untuk beristirahat di saat pulang rumah di petang hari, mereka tidak akan pernah memiliki kalimat yang menarik untuk didengarkan. Manusia yang sedemikian tidak pernah akan memiliki hidup yang bisa menginspirasi orang lain; memotivasi, mungkin. Menginspirasi? Tidak akan pernah.

Apakah peran anak dalam keluarga? Saya rasa pertanyaan ini tidak tepat jika tanpa di dahului dengan pengertian tentang fungsi dan peranan orang tua dalam keluarga.
Orang tua yang harus bisa mengerti anak. Bukan anak dituntut untuk mengerti orang tua. Bagaimana mungkin seorang anak bisa mengerti orang tuanya, seperti bagaimana seorang anak sekolah dasar sanggup mengerti gurunya yang seorang profesor. Tuntutan orang tua terhadap anak, meminta anak untuk mengerti orang tua adalah salah satu kesalahmengertian orang tua tentang segala konsep didikan.

Yang seharusnya menjadi pertanyaan adalah apakah peranan orang tua dalam mendidik anak yang dilahirkan dalam keluarganya. Apakah tanggung jawab orang tua terhadap seorang manusia dengan jiwa dan nyawanya, yang telah dimunculkan ke tengah dunia ini melalui rahim ibunya.

Q: Apa maksudnya “semua kebenaran yang tidak sejati pasti menghancurkan diri sendiri?”

Kebenaran yang benar-benar BENAR atau kebenaran yang sejati haruslah merupakan kebenaran di dalam dirinya sendiri, terlepas dari konfirmasi yang terdapat di luar dirinya. Kebenaran yang sejati tidak menjadi benar jika ada hal lain di luar dirinya yang mengkonfirmasikan bahwa dia benar. Kebenaran yang sejati selalu akan menjadi kebenaran walaupun ada banyak hal di luar dirinya mengatakan sebaliknya.

Sebagai contoh sederhana, udara itu ada. Kita tidak bisa melihatnya. Kita bahkan sering tidak secara langsung menyadari bahwa udara itu ada; Atau bahkan sering lupa bahwa udara itu ada. Entah kita mengakui atau tidak mengakui apakah udara itu ada atau tidak, udara akan selalu ada. Udara tidak membutuhkan kita untuk mengakui keberadaannya, baru dia menjadi ada. Kita membutuhkan udara, entah kita mau mengakui atau tidak tentang keberadaannya.

Demikian pula dengan kebenaran yang sejati. Segala kebenaran harus dapat dibuktikan benar atau tidak benar melalui pengujian dari dalam dirinya sendiri. Segala yang bukan kebenaran yang sejati, tidak akan memiliki integritas yang konsisten dalam dirinya sendiri serta akan ditemukan keberadaan kontradiksi yang pada akhirnya menghancurkan diri sendiri. Hal itu tidak akan ditemukan dalam kebenaran yang sejati, keberadaan sesuatu yang tampaknya bertentangan di dalam kebenaran yang sejati berbentuk paradoks, bukan kontradiksi.

Ciri-ciri dari kebenaran yang sejati adalah dia harus memiliki 3 (tiga) sifat yaitu: universal, integral, dan moral / kemurnian / kesucian / tidak tercemar.

  • Universal yang berarti bahwa dimanapun dia berada, dia harus selalu benar. Tidak ada perkecualian. Perkecualian adalah bukti langsung bahwa sebuah kebenaran sudah gagal pada titik yang paling awal.
  • Integral yang berarti bawah di dalam dirinya, segala sesuatu bersifat utuh dan saling membenarkan, segala proposisi di dalam dirinya tidak mengandung kontradiksi. Semakin luas, dia akan bersifat complex (terj: kompleks) dan bukan complicated (terj: rumit atau ruwet atau sulit). Kebenaran yang tidak sejati, ketika dia diperluas, akan semakin rumit dan kerumitan itu menjadi benang kusut yang menimbulkan kontradiksi di dalam dirinya sendiri dan proposisi-proposisi di dalamnya bertentangan antara satu dengan yang lain sehingga akhirnya akan membutuhkan perkecualian sebagai jalan keluar.
  • Moral / kemurnian / kesucian / tidak tercemar yang berarti bahwa kebenaran yang sejati harus memiliki nilai intrinsik yang sangat tinggi di dalam dirinya, kemurnian / tidak tercemar (seperti dalam logam mulia), kesucian (seperti dalam etika), moral (seperti dalam tatanan struktur penilaian tentang segala sesuatu). Semua yang merupakan kebenaran sejati harus memiliki jati diri dengan kualitas intrinsik dalam diri yang sangat tinggi dalam semua tatanannya. Tidak mungkin sebuah kebenaran dapat dikatakan sebagai yang sejati jika dia universal, integral, moral, suci, tapi kemudian muncul tidak adil. Atau suci, adil, murni, tapi tidak memiliki kasih dan kejam. Atau suci, kasih, baik, murni, tapi tidak jujur.
    Seperti ada berlian yang transparan, berkilau, bersih, tidak bernoda, dan mudah pecah. Jelas bukan berlian yang asli.

Dalam pengertian tersebut, maka segala kebenaran yang kita terima sebagai kebenaran yang menentukan totalitas dan arah kehidupan kita haruslah kita uji sendiri dengan keberanian dan pikiran yang kritis. Seringkali kita entah takut dan gentar atau terlalu malas untuk menguji kebenaran-kebenaran yang kita percaya sebagai kebenaran yang sejati karena kita khawatir akan kehilangan pegangan atau kita menjadi goyah dan kehilangan jati diri jika ternyata ditemukan bahwa apa yang dipercaya memiliki tanda-tanda sebagai kebenaran palsu.

Seperti seseorang yang habis membeli arloji Rolex, sekarang dia merasa tidak yakin apakah arloji Rolex miliknya palsu atau asli, akan tetapi terlalu takut untuk menerima kenyataan. Sehingga dia membiarkan saja, dan terus mengenakan arloji Rolex itu, hingga suatu hari ada seseorang yang ahli tentang arloji Rolex melihat arlojinya dan mengatakan bahwa Rolex yang dia punya itu palsu. Bukannya dia berterima kasih karena telah diberi tahu tentang kebenaran, orang ini malah marah besar dan menghina sang ahli Rolex sebagai orang yang tidak tahu diri dan suka mencampuri urusan orang lain, “Saya punya Rolex ini aseli! Kamu yang bodoh dan tidak tahu! Saya beli arloji ini mahal, tahu?!”
Apakah ruginya atau untungnya untuk sang ahli ini menunjukkan bahwa Rolex itu palsu? Sang ahli ini hanya berpikir bahwa KATANYA, orang tidak suka ditipu. KATANYA, orang suka kebenaran. KATANYA, orang lebih suka kejujuran walaupun menyakitkan. TERNYATA, orang hanya mau tahu apa yang dia mau tahu, selama hatinya tenteram; Karena apa yang dia tidak tahu tidak bisa menyakiti hatinya.