Membela yang Lemah Vs. Membela yang Benar: Ketika yang Lemah Menganiaya yang Kuat.

Sepanjang sejarah, banyak kisah tentang kaum yang tertindas dan penganiayaan. Yang kuat menindas yang kurang kuat, yang kaya menindas yang kurang kaya, yang besar menindas yang kurang besar, yang pria menindas yang kurang pria, dan seterusnya. Dan kisah ini menjadi sumber inspirasi dan imajinasi dari cerita yang menjadi luapan hati banyak orang dalam masyarakat tentang kisah para pahlawan super. Sebuah dambaan yang kekanak-kanakan, mungkin, akan tetapi siapakah yang tidak merasa memiliki relasi dengan fenomena para pahlawan super?

Jiwa yang tertindas, entah mengalami penindasan oleh teman bermain di sekolah, atau mengalami perlakuan dan ketidakadilan di kantor, atau terjadi tragedi dalam kehidupan yang berada diluar kendali. Seandainya ada seseorang diluar sana yang bisa melepaskan kita dari pergumulan hidup kita. Akan tetapi hal itu tidak ada. Tidak ada pahlawan super. Tidak ada yang mendengarkan seruan minta tolong kita. Tidak ada yang datang menolong saat kita terdesak.

Kita harus berjuang sendiri.

Mempertahankan hak kita sendiri. Demi diri kita sendiri. Karena adalah hak kita untuk bisa memiliki kehidupan yang aman. Adalah hak kita untuk hidup sejahtera. Adalah hak kita untuk memperjuangkan apa yang kita inginkan.
Atau benarkah demikian?

Hak Vs Kewajiban

Manusia selalu ribut tentang HAK-nya. Dan paling cepat merespon ketika merasa HAK-nya diganggu. Dan untuk mempertahankan apa yang dirasa menjadi HAK-nya, manusia melakukan sedemikian banyak hal.
Apakah HAK datang begitu saja? Jawabannya adalah TIDAK.

Hati nurani setiap orang menyadari jika saya katakan bahwa seorang anak perlu dididik dengan baik. Dia memiliki hak yang harus dikompensasikan dengan kewajiban. Setiap orang harus belajar, baru berhak mendapatkan pengakuan prestasi. Setiap orang harus bekerja, baru berhak mendapatkan upah. Apakah hanya sedemikian? Sekali lagi jawabannya adalah TIDAK.

Belajar kimia selama 5 menit tidak akan membuat seorang anak memiliki HAK untuk menjadi juara kelas dan memperoleh beasiswa. Bekerja secara sembarangan dengan kualitas rendah tidak membuat seseorang memiliki HAK untuk mendapatkan penghasilan yang seperti yang dia inginkan.

Hak akan selalu diberikan setelah kewajiban dijalankan. Bukan sebelumnya. Anda tidak bisa melamar kesebuah perusahaan sebagai petugas resepsionis dan langsung meminta upah sebesar 7 juta per bulan. Anda juga tidak bisa melamar kesebuah perusahaan tanpa ketrampilan sama sekali dan berharap bahwa hasil kerja Anda harus dihargai sesuai dengan yang Anda mau. Bukan Anda yang memberi penilaian. Itu bukan hak Anda. Anda berkewajiban menunjukkan kemampuan Anda terlebih dahulu, sebelum hak itu diberikan kepada Anda.

Kasih vs. Keadilan

Bagaimana dengan mereka yang kurang beruntung dan tidak mendapatkan kesempatan untuk memupuk ketrampilan? Apakah mereka memiliki hak? Tentu saja!

Sejak dunia jatuh dalam dosa, tidak ada yang sempurna. Dunia ini tidak lagi mencerminkan kemuliaan dan kehormatan penciptanya. Dalam banyak hal, terjadi ketimpangan dan jurang pemisah. Ada yang lebih beruntung dengan segala kesempatan (yang tidak selalu dimanfaatkan dengan baik), dan ada yang kurang beruntung dengan kesempatan yang lebih terbatas (yang -sekali lagi- juga tidak dimanfaatkan dengan baik). Dan yang dari semua kelompok manusia itu, mereka yang paling celaka adalah mereka yang malas dan enggan berjuang.

Yang lebih beruntung, seharusnyalah memiliki kasih dan empati kepada mereka yang kurang beruntung. Memberikan kepada mereka kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Karena itu bermula dari beberapa negara dengan latar belakang Kristen, ada yang disebut upah minimum. Sehingga orang dengan ketrampilan paling rendah pun boleh memiliki pendapatan yang cukup walaupun seharusnya dia tidak layak dibayar dengan upah setinggi itu. Itu yang disebut sebagai keadilan.

Diharapkan dengan upah yang lebih baik, kesempatan semakin terbuka bagi setiap orang untuk boleh mengasah ketrampilannya dan menciptakan peluang untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan upah minimum yang dia peroleh, dia boleh melatih dirinya dengan ketrampilan untuk menggantikan kesempatan belajar yang mungkin selama ini tidak pernah dia dapatkan. Dengan bertambahnya ketrampilan diri, dia bisa mendapatkan kenaikan jenjang karir untuk kemudian mendapatkan upah yang lebih baik dan kehidupan yang seperti dia inginkan.

Akan tetapi, sekali lagi, manusia yang paling celaka adalah mereka yang enggan belajar dan menggunakan uangnya untuk hal yang lebih tidak berguna.

Saya sadari kalimat barusan sudah dua kali saya tuliskan. Bekerja demi masa depan dengan tekun dan rajin dan menahan diri; ada satu ilustrasi yang sering saya gunakan, harap dibaca dan dimengerti dari sisi analoginya saja, tidak perlu dijadikan bahan perdebatan ataupun hiper-rasionalitas:

Semisalkan kita berada dalam satu desa kecil yang miskin, makanan kita sehari-hari adalah nasi dan jagung, dan kemudian saya dan Anda tiba-tiba mendapatkan seekor ayam yang gemuk, apakah yang akan Anda lakukan terhadap ayam itu? Apakah akan Anda goreng atau panggang atau rebus dan dibuat opor? Apakah Anda makan untuk hari ini dan esok lagi? Maksud saya, kita hampir tidak pernah bisa makan daging ayam. Dan ini kesempatan baik untuk makan daging ayam, tidak kah demikian? Dan jawaban saya adalah TIDAK.

Anda akan makan ayam hari ini.

Saya akan makan nasi jagung hari ini. Ayam itu akan saya pelihara. Dia akan bertelur. Dan setelah dia bertelur, saya masih akan makan nasi jagung. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, sebulan, dua bulan. Saya masih makan nasi jagung. Telur saya kumpulkan, saya jual dipasar di kota terdekat. Dari telur itu, ada yang saya biarkan menjadi anak ayam. Setelah beberapa bulan, Anda sudah lupa rasanya makan ayam gemuk. Dan saya masih belum makan daging ayam. Anak ayam akan menjadi ayam, dan ayam-ayam itu akan bertelur lebih banyak dan menghasilkan pula banyak ayam kecil. Setengah tahun berlalu, saya baru makan telur ayam, itupun kadang-kadang, karena memelihara ayam itu bukan hal murah. Saya yakin saya tidak perlu meneruskan contoh ini; Anda sudah mengerti maksud saya.

Banyak orang menerima upah mereka dan serta merta membelanjakannya untuk membeli yang mereka MAU, bukan yang mereka PERLU. Mereka menghabiskannya untuk gaya hidup. Bukannya berusaha menambah ketrampilan mereka dibidang kerja yang mereka geluti demi masa depan mereka, mereka berpuas diri dan bermimpi kapan akan naik gaji.

Adil itu bukan “sama”. Sama rata itu bukan adil. Anda tidak mungkin memberi makanan dengan porsi yang sama kepada anak perempuan Anda yang berusia 5 tahun dengan anak laki-laki Anda yang berusia 25 tahun. Tapi kesemuanya Anda beri makan. Itulah kasih dan adil.
Adil itu bukan menyamakan lulusan sarjana dengan mereka yang lulusan SD. Penyamarataan yang bodoh itu akan membangun masyarakat yang bodoh. Untuk apa sekolah tinggi, kalau bisa, tidak sekolah pun akan disamaratakan. Inilah yang membuat negara komunis dan sosialis kacau balau.

Penganiayaan Dalam Masyarakat

Ketidakrataan dalam masyarakat menimbulkan ketegangan-ketegangan yang terjadi di semua negara. Yang lemah, yang miskin, yang minoritas, merasa ditindas. Setelah sejarah manusia dahulu penuh dengan penindasan oleh pemerintah kepada rakyat, kaum bangsawan kepada rakyat jelata, kaum intelektual kepada kaum awam, masyarakat manusia mulai berusaha berubah. Penindasan dihilangkan dan diupayakan penyamarataaan. Yang superior berusaha mengerti kesulitan yang lebih inferior. Perbudakan dihapuskan hampir disemua bagian dimuka bumi.

Keadaan masyarakat mulai membaik. Setidaknya sampai kesadaran tentang hak dan ketidakmengertian tentang kewajiban mengambil alih situasi. Dimanapun hak seseorang diributkan, ditempat yang sama ada kewajiban yang diabaikan dan hak orang lain dianiaya.

Sekarang, kaum inferior bermegah diatas kelemahannya dan menganiaya yang superior. Rakyat menganiaya pemerintah, yang miskin menganiaya yang kaya, yang lemah menganiaya yang kuat, dan seterusnya. Dan semua pihak yang dianiaya tidak tahu bagaimana harus bersikap, karena sikap keras akan dikatai sebagai sikap opresif dan penganiayaan terhadap kaum lemah (lagi). Hal itu terus berlanjut hingga kejahatan menganiaya kebaikan. Kriminal menganiaya pengadilan, penjahat menganiaya petugas hukum, orang yang merasa dirinya suci menindas orang yang benar, dan seterusnya.

Tidak ada sikap tegas yang berani diambil. Dan kebenaran dipermainkan. Yang lemah harus dibela. Saya pribadi tidak mengerti darimana asal muasal pemikiran ini, akan tetapi seingat saya hal itu terus digaungkan sepanjang masa sekolah dasar saya, “Membela kaum lemah.” Apakah itu hanya saya, atau Anda juga sependapat dengan saya. Tidakkah seharusnya kita membela yang benar, bukan yang lemah.

Karena itu didalam Kekristenan, adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan antara kasih dan keadilan yang ditekankan secara terus menerus dan bersama-sama. Salah satunya tidak boleh dihilangkan. Kasih tanpa keadilan adalah kasih yang lemah, tidak berdaya, merusak, seperti kalimat “membela yang lemah”. Keadilan tanpa kasih adalah hukum yang kejam, tidak bisa melihat sisi keberdosaan kemanusiaan dan pengampunan.

Advertisements

Agama dalam Perspektif Sosiologi: Keyakinan akan Kebenaran & Kebijaksanaan Manusia

Ketika kita mencoba memahami keberadaan diri kita sendiri, secara pribadi, setiap kita masing-masing individu, tanpa memandang orang lain sama sekali; Apakah dimungkinkan bagi kita untuk memahami bagaimana kita bisa memeluk suatu agama tertentu?

Selangkah lebih jauh lagi, tanyakan pada diri kita, apakah dimungkinkan bagi saya untuk berpindah dan menganut agama yang lain selain daripada yang saya yakini selama ini?

Dan yang terakhir, bisakah orang lain merayu, atau bahkan memaksa saya untuk berpindah dan berpaling dari agama yang saya yakini sebagai sebuah kebenaran?

Saya yakin jawabannya adalah TIDAK. Tidak seorangpun bisa memaksa kita untuk memeluk agama yang berbeda dengan yang saya yakini sebagai kepercayaan saya. Tidak seorangpun bisa meyakinkan saya bahwa agamanya lebih benar daripada agama saya. Saya yakin semua dari kita bisa memahami bahwa agama adalah bagian hidup yang paling personal dan jika ada orang lain yang menganggap bahwa agamanya adalah yang paling benar, tentu saja saya bisa memahami hal itu, karena saya pun menganggap bahwa agama saya yang paling benar. Jika saya tidak memiliki kepastian itu dalam diri saya, maka tentunya saya sudah memeluk agama apapun yang saya anggap sebagai kebenaran mutlak.

Apakah orang lain bisa memaksa saya untuk menyukai es krim rasa durian jika saya menyukai es krim rasa green tea? Orang lain bisa memaksa saya untuk memakan es krim rasa durian, dan akan membuat saya muntah karena saya tidak tahan baunya. Ancaman dan paksaan akan membuat saya ketakutan tentang kenyamanan dan kelangsungan hidup saya, sementara rayuan dan iming-iming akan membuat saya tertarik. Saya akan memakan es krim rasa durian. Orang akan mengira saya penggemar es krim rasa durian.
Tapi siapapun tidak akan pernah bisa memaksa saya untuk menyukai es krim rasa durian. Saya akan semakin mendambakan dan merindukan es krim green tea.  Karena itulah diri saya, penggemar es krim green tea.

Saya yakin kita bisa sangat mengerti dan berelasi dengan jelas terhadap sepotong fakta kehidupan yang barusan saya jelaskan. Jika demikian, maka jelaslah, bahwa melalui ancaman ataupun rayuan, kita yang memiliki keyakinan yang sejati terhadap agama yang kita percayai dengan segenap hidup kita sebagai suatu kebenaran mutlak, tidak akan membuat kita bergeser dan berpindah agama begitu saja.

Mereka yang beragama Kristen, bersekolah di luar negeri yang beragama Buddha, apakah dia tiba-tiba berpindah menjadi Buddhist? Mereka yang sering mendengar panggilan ibadah umat Islam, apakah serta merta memeluk agama Islam? Hiasan Natal yang meriah di negara ateis, apakah serta merta menjadikan banyak penduduk mereka menjadi umat Kristiani? Mereka yang pergi ke pulau Bali untuk merantau mengadu nasib dan peruntungan, apakah mereka kembali sebagai umat Hindu?
Saya bisa terus berceloteh, tapi saya yakin kita semua menangkap maksud dari kalimat-kalimat saya.

Jadi lihatlah sendiri, fenomena perpindahan agama adalah esensi dari suatu sistem kepercayaan yang tidak bisa dipengaruhi –apalagi diintervensi– dari luar diri kita sendiri. Lihatlah sendiri, dalam agama apapun dari sebelah manapun, berapa banyak orang yang mati untuk menunjukkan kepercayaan dan kebenaran agama mereka. Jika hidup dan mati pun sudah tidak bisa menggoyahkan keyakinan seseorang, bagaimana seorang manusia, siapapun dia, bisa begitu saja berpindah agama. Mengapa kita menjadi khawatir ketika melihat ada orang yang berpindah agama, seakan-akan kehilangan pendukung atau kehilangan jumlah anggota. Apakah agama itu seperti keanggotaan dalam sebuah klub yang sedang bersaing jumlah anggota dengan klub lain? Apakah agama itu seperti persaingan jumlah tentara untuk memenangkan pertarungan? Apakah jumlah yang banyak menentukan kemenangan?

Seharusnya tidak sedemikian. Berapa banyak peperangan besar yang gemilang yang terjadi antara pasukan jumlah besar yang dibantai habis oleh pasukan yang jumlah jauh lebih sedikit. Agama adalah bagaimana setiap orang, secara pribadi, berelasi dengan penciptanya. Tidakkah hal itu sifatnya seorang demi seorang, pribadi lepas pribadi. Tidakkah kita masuk kedalam akherat seorang demi seorang, bukan bersifat membership dan borongan/kolektif/beramai-ramai. Apakah kita yakin bahwa mereka yang berdiri disebelah kita saat berada dalam tempat ibadah dalam hatinya yang paling dalam, datang beribadah dengan niat yang sama seperti kita? Apakah kita yakin bahwa amal dan ibadah antara yang seorang dengan yang lain akan diperkenan oleh Sang Pencipta? Tidakkah setiap agama mengajarkan semua yang baik?

Jika demikian, sebenarnya, apakah kita perlu merisaukan bagaimana Sang Pencipta mengurus ciptaan-Nya? Apakah kita perlu membantu Sang Pencipta? Membela Dia seolah-olah kita lebih bijaksana dan lebih hebat daripada Dia yang menciptakan dunia dan segala isinya? Karena itulah setiap orang sepatutnya mempelajari ajaran agamanya seturut dengan kepercayaan masing-masing.
Karena itulah sistem pendidikan menyediakan wadah bagi setiap pelajar suatu bentuk pelajaran agama, supaya melalui wadah pendidikan, terbentuklah pengertian dan pengetahuan tentang konsep kebenaran yang dipercayai sebagai suatu agama dan kebenaran yang pantas untuk dianut, untuk menghindari fanatisme.

Dunia kita menjamin kebebasan hak beragama sebagai salah satu hak asasi manusia yang paling asasi. Karena pemaksaan dalam agama akan menghasilkan peperangan dan korban jiwa yang sangat besar, demi mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak dapat dilihat, disentuh, bahkan tidak dapat terselami. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan hakiki, apakah yang dimaksud dengan “agama” ini? Apakah ini tentang perspektif manusia mengenai bagaimana bersikap dihadapan Tuhan, atau tentang perspektif Tuhan mengenai bagaimana manusia dihadapan Tuhan, atau tentang perspektif manusia tentang bagaimana Tuhan dihadapan manusia?

Lihatlah, kebijaksanaan manusia dalam mengatur segala sesuatu. Lihatlah, agama mengajarkan semua yang baik. Lihatlah, bahwa semua manusia dalam hatinya mengetahui ada kebenaran dan kebaikan supaya tidak mencelakakan manusia lain. Lihatlah dunia sekeliling kita, apa yang kita lihat? Mereka yang mengaku beragama seringkali merupakan orang-orang yang paling berani berbuat jahat. Mari kita buka mata kita lebar-lebar, apakah ini yang diajarkan oleh agama kita, apapun agama itu?

Tidakkah kita semua mendambakan tatanan masyarakat yang baik? Akan tetapi, siapakah masyarakat itu? Tidak lain adalah Anda dan saya, kita semua. Dan jika kita semua memulainya dari menata diri kita sendiri, kita akan pasti dapat mewujudkan apa yang kita dambakan. Saya yakin, kita tidak sendiri.

Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kesadaran Moral

Saya yakin kita semua pernah berada dalam suatu dilema moral, yang satu lebih kompleks dan berat dibanding yang lain. Ketika kita melihat suami dari sahabat kita berselingkuh, apakah yang akan kita lakukan? Berdiam diri atau menegur atau menyampaikan hal tersebut? Jika kita sampaikan, akan terjadi kerusakan parah dalam keluarga mereka, mungkin anak-anak mereka akan dibesarkan dalam keluarga yang hancur. Jika tidak kita sampaikan, hal itu mungkin akan berlanjut dan menjadi lebih parah.
Atau ketika seseorang sedang dalam antrian dalam ruang praktek dokter, ada seseorang yang anak kecil dan tampaknya jauh lebih kesakitan daripada kita, baru datang dan mengantri sesudah kita. Kita yang sudah mengantri lebih dari satu jam, yang juga sedang migren, demam dan nyeri dengan bisul di bibir ; apakah kita akan membiarkan anak itu masuk terlebih dahulu padahal dia baru saja datang?
Atau ketika kita memiliki posisi sebagai pejabat pemerintah, seseorang datang memohon persetujuan dan pengesahan dari dokumen dan perjanjian kontrak; datang dengan membawa uang suap. Semua orang di kantor kita memiliki budaya dan kebiasaan yang sama. Semua orang tau bahwa suap itu adalah etika yang rusak, tapi semua orang melakukannya. Jadi akan kita terima kah uang suap itu? Jika kita tolak, kita menjadi orang yang sok suci, dikucilkan karena tidak sejalan dengan semua orang dalam kantor kita. Jika kita terima, hati nurani kita menegur kita bersalah.
Atau ketika kita melihat handphone yang tergeletak di kamar mandi pusat perbelanjaan, tanpa pemiliknya. Akankah kita ambil? Atau kita biarkan? Atau kita bawa pulang? Atau kita serahkan kepada pihak managemen atau pihak keamanan gedung? Tidak akan ada seorangpun yang menyalahkan kita kalau kita bawa pulang dan kita jual, karena tidak ada yang tahu. Tidak ada siapapun yang akan menegur kita selain daripada diri kita sendiri dan hati nurani kita.

Ada banyak dilema moral yang terjadi di sekitar kita, dimana kita dituntut untuk mengambil sebuah posisi didalamnya. Seperti pepatah yang berbunyi, “Bagaikan buah simalakama, dimakan: bapak mati, tidak dimakan: ibu mati.” Semakin kita memiliki pengertian moralitas dan pengetahuan norma kebaikan dan kebenaran, semakin banyak kita akan menempatkan diri kita dalam dilema moral.

Moralitas dan Perasaan Bersalah

Dari manakah munculnya kesadaran moral? Secara sangat singkat, dari didikan budaya dan agama. Saya yakin kita semua akan setuju jika saya katakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Saya yakin sebagian kita akan setuju jika saya katakan bahwa kesadaran moral adalah sama seperti kesadaran tentang keberadaan Tuhan, yang ada sejak manusia dilahirkan. Namun bersamaan dengan kesadaran moral tersebut, ada hal dalam diri kita yang ada sejak lahir, namun tidak kita sadari, yaitu amoralitas.

Saya mengasumsikan kita semua pernah mendengar kalimat bahwa, “manusia itu pada dasarnya baik. Manusia dilahirkan seperti lembaran kertas putih polos. Masyarakatlah yang membuat manusia menjadi rusak dengan pengaruh negatif.”

Saya pribadi tidak setuju dengan kalimat itu. Siapakah masyarakat? Masyarakat adalah kumpulan manusia. Jika kumpulan manusia semua berasal dari kertas putih polos, darimana datangnya ketidakbaikan?
Ingatkan kita ketika kita pertama kali mencuri? Ingatkah betapa kita sangat ketakutan ketika itu? Atau ingatkan kita ketika kita pertama kali berbohong?

Kita tahu bahwa kita bersalah. Hati nurani menegur kita, dan hidup kita menjadi tidak tenang karenanya. Dalam perkembangan kita, kita mulai mengenal kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, keadilan dan kelaliman, dan seterusnya; berikut dengan segala kompleksitas dan dilema didalamnya.

Kita mengenal dan belajar tentang semua itu dari mereka-mereka yang memiliki kepekaan terhadap teguran hati nurani mereka, mereka-mereka yang menjaga moralitas mereka, dan kita menganggap mereka itu sebagai orang-orang saleh. Dan kita mengenal mereka semua sebagai pengajar moral, pemuka agama, pemimpin agama, dan seterusnya.

Pernahkah kita sadari bahwa justru dari pengetahuan akan moralitas tersebut membangkitkan kesadaran kebersalahan? Perasaan bersalah itu muncul karena kita mengerti hal yang baik dan hal buruk. Ketika kita tidak  mengerti akan perbedaan benar dan salah, tidak ada dalam diri kita yang menegur.

Konsep Dosa

Saya yakin kita semua setuju bahwa sebagai orang yang beragama, kita semua mengenal konsep dosa. Bahkan orang yang tidak beragama pun harus mengakui suatu perasaan bersalah yang timbul dalam diri seseorang, termasuk didalamnya adalah perasaan menyesal. Setiap orang yang tidak memiliki perasaan bersalah atau penyesalan dikategorikan kedalam orang yang memiliki gangguan kejiwaan yang parah atau psychopathy.

Sesungguhnya, agama tidak pernah membawa kita kepada kebenaran. Agama membawa kita kepada konsep pengertian bahwa ada kebenaran dan kebaikan. Melalui pengertian tersebut, kita dibawa pada pengetahuan akan yang baik dan yang jahat. Semakin kita mengenali dan mendalami perihal kebaikan, semakin kita mengetahui bahwa kita ini adalah orang yang memiliki banyak kesalahan.

Ketika kita berbuat baik, menolong orang, memberikan kepada seorang pengemis bantuan berupa uang, kita merasa sudah baik. Kita berbuat baik. Kita adalah orang baik. Kita menolong orang lain.

Pernahkah kita memikirkan lebih jauh, apakah perbuatan kita menolong pengemis itu akan berakibat baik bagi dia atau malah menjerumuskan dia? Apakah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengemis tersebut? Apakah uang? Ataukah pekerjaan? Ataukah kesempatan? Apakah uang yang kita berikan dia gunakan untuk membeli makanan atau malah membeli rokok yang malah tidak menyehatkan?

Saya sekali lagi yakin, bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan seharusnya menggugah sebagian kita dan menyadarkan kita. Tapi kita merasionalisasikan perasaan tanggung jawab moral dan kesadaran moral itu dengan alasan-alasan seperti berikut: yang penting kita sudah berniat baik. Yang penting adalah niatnya. Masalah pengemis itu mau terus menjadi pengemis, atau uang itu mau dipakai untuk beli makanan, atau beli rokok, atau beli pisau untuk menodong orang, atau dipakai untuk menyekolahkan anaknya, kita tidak tahu. Tepatnya, kita tidak cukup perduli.

Dengan kata lain, kita tidak bisa dipersalahkan ketika kita tidak tau.

Hal itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Pengertian itu seharusnya membangkitkan suatu perasaan bersalah yang lain. Yaitu seberapa jauh pun kita mau berbuat baik, kita tidak bisa berbuat baik. Kita tidak bisa secara tuntas berbuat kebaikan yang dapat membenarkan diri kita atau membuat diri kita dibenarkan. Karena kita tidak tahu, hal itu cukup untuk menenangkan hati nurani kita dan menjauhkan kita dari perasaan bersalah.

Agama dan kebenarannya hanyalah membuktikan bahwa diri kita ternyata tidak mampu melakukan kebaikan. Dan melakukan satu kesalahan dari satu larangan dalam agama berarti telah melanggar semua hukum. Agama tidak menyelamatkan. Perbuatan baik tidak membuat kita dibenarkan. Saya yakin kita semua bisa menyetujui kalimat berikut, apakah semua orang dalam penjara adalah orang yang tidak beragama? Tidak. Pasti ada banyak orang yang berada dalam penjara yang adalah orang yang taat beragama. Apakah koruptor adalah orang yang tidak taat beragama? Jika mereka beragama, mengapa mereka tetap korupsi?

Akan tetapi melalui jalan agama, seseorang diberi tahu bahwa dia bersalah, dia berdosa. Dan sebagian besar agama menawarkan penyelesaian, yaitu melalui perbuatan baik. Namun hal tersebut menimbulkan permasalahan yang lain lagi yang sudah kita bahas, yaitu kesadaran bahwa tidak ada perbuatan baik kita yang benar-benar tuntas merupakan kebaikan yang dapat dibanggakan dan dijadikan pengganti perbuatan dosa kita dan menenangkan perasaan bersalah kita.

Masalahnya utamanya adalah kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan. Kita berusaha melakukan penebusan kesalahan kita dalam setiap upacara besar keagamaan. Setiap kali. Dan setiap kali kita melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada jalan keluar melalui agama, karena perbuatan amal kita tidak bisa menyelamatkan kita.
Berusaha menyelamatkan diri melalui perbuatan amal adalah seperti melanggar lampu merah. Kita keluar rumah, hendak menuju ke rumah kekasih kita, di jalan ada sepuluh lampu merah. Setelah melalui 9 lampu merah, kita sadar bahwa kita sudah terlambat. Maka di lampu merah ke-10, kita serobot dan langgar. Kemudian kita dihentikan oleh polisi dan di tilang. Kita tidak bisa berargumen kepada polisi itu, “Bapak tidak boleh menilang saya. Saya sudah melewati 9 lampu merah dengan tertib, masa baru 1 lampu merah yang saya langgar, sudah ditilang?”
Kita tidak bisa juga berargumen kepada seorang hakim, “Sudah 39 tahun saya hidup sebagai warga negara Indonesia, tidak pernah saya berurusan dengan hamba hukum, masakan baru satu kali ini saya mencuri karena anak saya sakit keras dan hampir mati, saya akan langsung masuk penjara?”

Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan. Dan agama memperjelas hal itu. Melalui agama kita mengenal semua baik dan jahat. Dan semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak kita sadar bahwa semakin banyak yang kita perbuat ternyata tidak baik.

Jika kita bisa dianggap baik hanya dengan mempercayai suatu agama tertentu tanpa perlu hidup bertanggung jawab dan suci, apa gunanya kita hidup bersusah payah berusaha mengejar kesalehan? Apa gunanya kesadaran kita akan moralitas? Jika demikian halnya, apakah gunanya beragama? Dan disini jawaban yang saya temukan yang selalu saja diucapkan orang: Ada begitu banyak agama di luar sana. Apakah semua agama itu sama saja dan berakhir dengan kebuntuan dan dilema sedemikian?

Q: Bukankah semua agama itu sama, mengajarkan kebaikan dan mendatangkan keselamatan?

AAda tiga pertanyaan dalam satu kalimat tanya tersebut. Pertanyaan tersebut hanya bisa terjawab melalui –paling sedikit– dalam empat pembahasan.

Yang pertama adalah apakah yang dimaksud dengan keselamatan? Ada agama dan kepercayaan yang mengatakan bahwa keselamatan itu adalah surga. Jika kita beragama, maka kita akan masuk surga.
Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu adalah kita akan hidup kaya raya, makmur dan sejahtera, dijauhkan dari segala macam kesulitan, sakit penyakit, bahaya, baik dalam dunia ini, maupun akhirat.
Sementara yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita akan melalui kehidupan yang ini, untuk menuju pada kehidupan yang lain, yang berikutnya, yang lebih baik daripada kehidupan yang sekarang kita jalani.
Dan yang lain lagi mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita tidak akan mati secara rohani, kita akan hidup setelah jasmani kita dalam kehidupan yang fana ini berakhir; dan kita akan hidup sampai selama-lamanya.

Jadi manakah yang benar dengan pendapat tersebut? Setiap agama dan kepercayaan memiliki definisi yang berbeda tentang “KESELAMATAN”. Ada agama dan kepercayaan yang menggambarkan bahwa keselamatan yang adalah surga itu adalah kehidupan yang mirip dengan kehidupan kita yang sekarang, namun disana tidak terdapat kesulitan, sakit penyakit, kematian, malapetaka, dan seterusnya. Yang lain menggambarkan bahwa kehidupan di surga itu adalah kehidupan sebagai pertapa dan kekal, dalam ketenangan dan kedamaian yang tiada akhir. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa kehidupan di surga itu adalah kemewahan dan kepuasan dan pemenuhan segala keinginan manusia yang tidak tercapai di dunia ini, segala uang, logam mulia, batu mulia, tempat tinggal seperti istana, kehidupan seperti raja, dan mengumbar segala nafsu, keinginan, kenikmatan lidah dan seksualitas, sejauh dan sebanyak yang dapat kita bayangkan dengan imajinasi manusia, bahkan lebih daripada batasan imajinasi kita.

Yang kedua adalah berkenaan dengan tujuan akhir hidup manusia, kita akan mulai masuk dalam pembahasan untuk menjawab pertanyaan tersebut, mulai dari yang paling akhir. Agama mendatangkan keselamatan. Kita semua adalah manusia. Manusia itu bisa bersalah, dan sudah bersalah, dan tidak seorangpun yang tidak pernah tidak bersalah. Karena itu manusia akan binasa, karena kesalahan kita sendiri. Air yang kita minum, berusaha kita bersihkan dari air yang kita cemari. Makanan yang kita makan, mengandung segala kemajuan teknologi dan rekayasa yang secara perlahan dan komulatif meracuni kita. Sebagian dari kita dengan tubuh yang lebih lemah menderita penyakit yang aneh-aneh, mulai dari kanker, kerusakan organ, keracunan logam berat atau kimia, penyakit multiple sclerosis, autoimun, dan seterusnya. Udara yang kita hirup sudah kita cemari sendiri dengan pencemaran udara, berbagai jenis radiasi, penebangan hutan, perusakan alam, eksploitasi sumber daya, kerusakan keseimbangan jumlah populasi flora dan fauna, dan seterusnya. Langsung ataupun tidak langsung, kita semua terlibat dan ikut sama bersalahnya, dan kita semua akan binasa karena kesalahan kita sendiri. Dunia sudah terlalu rusak dan perbaikan yang kita lakukan akan menjadi penyebab kerusakan yang berikutnya. Hal itu adalah akibat kesalahan kita semua, tidak terelakkan dan tidak ada yang dapat kita lakukan selain kita berusaha bertahan.

Namun sebagai manusia, kita juga memiliki roh. Tidak ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia jasmani kita, dan untunglah jasmani kita tidak mengandung unsur kekekalan. Tapi ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia rohani kita yang akan terus berlanjut, bahkan ketika dunia jasmani ini sudah lewat. Kita bisa dimampukan untuk memilih jalan hidup yang tepat, yang bisa membawa kita pada keselamatan, menghindarkan kita daripada kematian rohani yang sifatnya selama-lamanya dan kekal.

Disinilah isu tentang agama menjadi sangat penting. Melihat kembali tentang definisi masing-masing agama tentang keselamatan, manakah definisi yang benar? Kesalahan memilih jalan hidup dan mengikuti ajaran yang salah adalah meresikokan kehidupan kekal dalam roh. Apakah kita akan diselamatkan didalam roh atau kita akan tidak terselamatkan didalam roh sampai selama-lama-lamanya.

Untuk menentukan kita akan mau makan apa sore ini, kita memilih. Memilih makanan yang dimasak oleh seseorang di suatu rumah makan, yang memiliki kualitas yang sesuai dengan yang kita harapkan. Demikian pula untuk memilih pakaian, sekolah, universitas, calon istri dan suami, dan seterusnya. Kita memilih dan mempertimbangkan. Untuk bisa memilih dan mempertimbangkan, kita mengambil informasi dan data, kita analisa antara informasi dan data yang satu dengan yang lain. Kita bersikap terbuka, objektif, dan rela hati untuk mempelajari setiap aspek, kemudian mengambil keputusan berdasar pada informasi yang kita kumpulkan.

Itu semua rela kita lakukan untuk memilih makanan, pakaian, sekolah, pasangan hidup, dan seterusnya. Padahal itu semua sifatnya sementara. Jarang dari kita yang benar-benar mempertimbangkan dan mempelajari agama dan kepercayaan yang kita pegang, membandingkannya dengan agama lain untuk kemudian kita pilih. Tidak, kita tidak melakukan itu. Kita bahkan seringkali tidak mempelajari baik-baik dan secara mendalam agama yang sedang kita yakini dengan buta.
Kita bisa penasaran beda antara panci dan loyang yang satu dengan yang lain hanya karena beda harga, yang satu lebih murah daripada yang lain. Atau kita ingin tahu beda antara smartphone yang satu dengan yang lain, mana yang lebih bagus, mana yang lebih berkualitas.

Tidakkah roh kita yang kekal lebih penting daripada dompet kita, panci atau smartphone?
Inilah bahasan yang ketiga, yaitu bagaimana kita bisa tidak perduli dan tidak mau mempelajari dan mengenali siapa atau apa yang kita percaya yang katanya bisa membawa kita pada keselamatan? Bagaimana kita bisa secara pragmatis menganggap bahwa semua kebaikan adalah sama dan semua ajaran adalah sama rata baik adanya. Sementara jelas kelihatan bahwa agama dan kepercayaan yang satu menyatakan bahwa binatang itu makhluk hidup yang tidak boleh kita bunuh dan makan. Sementara agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua boleh kita nikmati dan makan dengan bertanggung jawab. Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua manusia adalah ciptaan yang paling tinggi dan darahnya sangat berharga sehingga tidak boleh dibunuh. Sementara ada agama dan kepercayaan yang lain menyatakan bahwa darah manusia itu boleh dikorbankan dan darah manusia yang satu lebih berharga dibanding darah manusia yang lain.

Bagaimana mungkin kita bisa dengan polos mengatakan bahwa semua agama itu sama?

Sekarang, bahasan yang keempat, apa yang hendak kita lakukan dengan perbedaan itu? Kita bisa tidak perduli dan tetap menganggap semua agama sama. Kita bisa mulai belajar, membandingkan, dan mencari kebenaran sejati, yang benar-benar benar. Kita bisa menutup diri dan menganggap semua agama salah dan agama kita yang paling benar.
Manusia menajamkan manusia, dengan kritik yang membangun, berdiskusi, berbicara, membuka diri; ilmu pengetahuan bertumbuh dengan sangat cepat karena setiap orang bisa saling mendukung dan melengkapi. Demikian pula dalam hal filsafat, filsuf yang satu memberikan pendapat dan pengajaran, dan filsuf yang lain memberikan tanggapan, dan kita mempelajari kemajuan berpikir mereka dan meningkatkan kualitas hidup intelektual kita.

Demikian pula halnya dengan agama dan kepercayaan kita. Menutup diri dengan fanatisme adalah sama dengan menjadi katak dalam tempurung. Seperti anak kecil yang menganggap dirinya sangat pandai dan paling tahu dan paling benar. Dia tidak menerima pengajaran dari orang lain. Dan kita semua tahu kemana anak kecil sedemikian akan berakhir jikalau didikan tidak diterapkan dalam dirinya.

Kebenaran itu persis seperti singa, dimanapun dia berada, dia akan selalu ditakuti dan membuat perbedaan. Kita yang mempercayai dan memelihara singa yang hidup, kita tidak perlu membela singa itu pada saat ada musuh mau menyerang. Singa itu bisa membela dirinya sendiri, dari dalam dirinya sendiri, dia akan menunjukkan bahwa dia hidup, bahwa dia layak ditakuti. Yang perlu dibela adalah “singa-singa”-an; singa palsu. Singa itu lain dengan singa-singa-an.

Kalau saudara mengeluarkan uang 500juta untuk membeli mobil, kemudian sebuah mobil-mobil-an disodorkan kepada saudara, maka saudara akan marah besar. Karena saudara tahu bahwa mobil itu berbeda dengan mobil-mobil-an. Setelah saudara membawa pulang mobil yang sejati, dan ada orang yang mengatakan bahwa Anda tolol karena membeli mobil-mobil-an, Anda hanya akan tersenyum. Itu pasti orang gila. Anda tidak marah, karena Anda tahu, Anda membayar 500jt untuk membeli mobil, dan mobil itu yang Anda bawa pulang.

Demikian pula dengan kebenaran yang sejati, agama yang sejati, kebenaran yang sejati. Setelah saudara mendapatkan kebenaran yang sejati, dan ada yang mengatakan bahwa kebenaran itu palsu, maka Anda akan tersenyum dan bisa mulai menjelaskan dan memberikan argumen. Karena Anda sudah belajar, dan sudah mengerti, dan sudah memilih dan mendapat kebenaran yang sejati.

Menjawab pertanyaan diatas: Bukankah semua agama itu sama? Hanya kalau Anda tidak pernah belajar, maka semua agama itu sama. Sama seperti semua mobil itu sama, sama seperti semua singa itu sama. Sama seperti semua perempuan/laki itu sama, asal perempuan/laki, boleh dijadikan istri/suami.

“The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.”― Augustine of Hippo

Paradigma Bekerja dan Etos Kerja

Seringkali menjadi salah kaprah dan salah sudut pandang ketika seorang manusia dididik sejak awal bahwa tujuan hidup dia adalah untuk mencari uang. Adalah kurang tepat pula jika dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk bekerja sehingga menghasilkan uang. Entah kenapa, dalam keseluruhan hidup kita, uang, harta benda, dan kepemilikan merajai dan menguasai serta mencengkeram habis segala aspek hidup kita.

Bekerja untuk mencari makan atau bekerja untuk mencari uang itu seperti layaknya seekor sapi yang bekerja. Sapi juga bekerja, supaya dia boleh makan. Sebab sapi yang tidak bekerja akan jadi makanan kita. Jelas manusia memiliki makna lebih tinggi tentang pekerjaan yang dia lakukan.

Di satu sisi, ada orang yang berusaha sedemikian keras untuk mengumpulkan uang. Sementara di sisi lain, ada orang yang mengekang diri sedemikian keras untuk menjauhi uang. Dan di sisi lain, ada orang yang berusaha mengejar kekuasaan, kehormatan dan kebanggaan dalam bentuk ketrampilan atau kepandaian yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan uang. Itulah tiga hal utama yang menguasai hidup manusia.

Pandangan ini diambil dari salah satu buku orang Kristen yang menyatakan bahwa tiga perihal utama yang menjadi pusat dalam hidup manusia, yang pertama adalah tentang uang. Yang kedua adalah tentang pengetahuan atau kebijaksaan. Yang ketiga adalah tentang kesulitan dan penderitaan.

Ketiga hal tersebut terangkum dalam segala hal yang dikerjakan oleh manusia selama hidupnya. Dengan kata lain, baik disadari atau tidak, hidup manusia mengerjakan segala hal berkenaan dengan ketiga hal tersebut. Tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari hal-hal tersebut.

Seseorang mengerjakan pekerjaan belajar untuk mendapat ilmu dan pengetahuan. Seorang yang lain mengerjakan pekerjaannya siang dan malam untuk menghasilkan uang. Seorang ibu mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga dalam jerih payah yang berkenaan dengan penderitaan dan kesulitan dan mendidik anak-anaknya untuk memiliki kehidupan yang baik dan berbijaksana budi pekerti. Dan seorang pemalas bersusah payah dengan kemalasannya menahan penderitaan dan kemelut yang ditimpakannya sendiri kepada dirinya karena kemalasannya.

Setiap orang mengerjakan sesuatu tentang hidupnya. Namun tidak semuanya baik, tidak semuanya benar, dan tidak semuanya berguna –entah bagi dirinya ataupun orang lain. Tidak seorangpun bisa lepas dari suatu pekerjaan. Karena hidup adalah untuk bekerja.

Belajar bukan untuk mencari uang

Entah mengapa, seringkali sekolah dan belajar dan upaya untuk mencari ilmu pengetahuan selalu dikaitkan dengan upaya untuk mencari uang. Hidup adalah untuk bekerja, bukan mencari uang. Uang adalah hasil tidak langsung dari bekerja. Bekerja adalah berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dari sumbangsih seseorang terhadap orang lain, dia boleh mendapatkan uang sebagai imbalannya.

Dengan kata lain, setiap orang harus bekerja dan mengerjakan dalam hidupnya sebuah karya, sebuah pencapaian, sebuah tujuan yang baik dan bernilai tinggi dengan kualitas tertinggi sesuai dengan kapasitas, ketrampilan, kemampuan, dan talenta yang dimilikinya. Uang adalah sarana yang boleh dia pakai untuk mencapai tujuan itu. Uang bukanlah tujuan akhir.

Itu sebabnya banyak orang yang setelah mendapatkan uang, dia kebingungan tentang bagaimana caranya menggunakan uang yang dia miliki. Yang terjadi kemudian adalah uang menguasai hidupnya dan bukannya dia yang menguasai uang. Dia menjadi semakin serakah, semakin kikir, semakin egois, dan semakin banyak uang yang dia miliki, hidupnya menjadi semakin miskin dan tidak bernilai. Dia menjadi selalu merasa miskin dan kekurangan dan tidak pernah merasa cukup walaupun uangnya banyak. Tidakkah kita pernah merasa bahwa orang yang pelit seringkali adalah orang yang berkelimpahan uang? Dan sebaliknya, orang yang boros adalah orang yang tidak mendapatkan uang dengan berjerih payah, tapi mendapatkannya dengan mudah? Serta orang yang miskin adalah orang yang tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan uang yang dia peroleh?

Kesalahan paradigma bekerja dan kaitannya dengan uang ini yang membuat dunia kita sekarang kacau balau. Karena mengejar uang, orang-orang menimpakan kepada dirinya berbagai-bagai kesusahan dan kesulitan dan penderitaan. Muncul pemikiran-pemikiran dan ide-ide untuk menghasilkan uang tanpa harus bekerja, tanpa harus menghasilkan sesuatu, tanpa harus memberikan manfaat bagi orang lain. Cara-cara yang berbagai macam untuk memanipulasi orang lain dan memanfaatkan orang lain demi kepentingan diri sendiri, mulai dari penipuan, korupsi, penggelapan, hingga tipu muslihat yang seolah-olah menguntungkan, sampai pada permainan di pasar modal dan komoditi yang kesemuanya berupa asset diatas kertas tanpa ada barang nyata.

Jika belajar adalah untuk mencari uang, maka korupsi itu seharusnya dibenarkan. Penipuan harus dibiarkan dan perampokan harus dipuji, karena mereka berusaha keras dengan kecerdikan dan kepintaran serta ketekunan yang luar biasa sehingga bisa menghasilkan uang.

Belajar adalah untuk bekerja

Korupsi, perampokan, penipuan, penggelapan, dan seterusnya tidak pernah dikategorikan sebagai “pekerjaan”. Walaupun para pelakunya berusaha dengan susah payah ‘bekerja’ untuk berhasil dalam melakukan tindakannya, dengan rajin dan cerdik dan upaya keras. Tidak bisa dikatakan sebagai bekerja karena tindakan mereka tidak mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Bekerja adalah sebuah tindakan yang seharusnya mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Tujuan dari proses di dalam hidup manusia ini adalah untuk bekerja. Tidak banyak hal dalam hidup manusia yang tidak bisa diselesaikan dengan bekerja, dan kalimat ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan uang. Bekerja adalah untuk menggunakan waktu dengan baik, menjadikan waktu-waktu yang berlalu menjadi bernilai. Bekerja adalah untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan membuat hidup seseorang memiliki kemajuan dan bertambah nilainya. Melalui pekerjaan seseorang, orang lain dapat melihat jati diri seseorang yang sebenarnya, kualitas hidupnya. Seperti sebuah pohon dinilai dari buahnya. Dari pohon yang buruk tidak akan keluar buah yang baik.

Bekerja dan menghasilkan uang

Melalui hasil pekerjaan yang baik, seseorang boleh mendapatkan upahnya. Melalui kehidupan yang baik, seseorang boleh mendapatkan kehormatan. Melalui pembelajaran yang bertanggung jawab, seseorang boleh mendapatkan gelar. Melalui ketekunan dan usaha keras, seseorang boleh menikmati hidangannya dengan tenang dan mencukupkan dirinya dan keluarganya.

Bekerja adalah untuk berkarya, bukan untuk semata-mata menghasilkan uang. Orang yang meninggalkan posisi jabatan manager di perusahaan untuk menjadi supir taksi karena dia bisa mendapatkan uang lebih banyak sebagai supir taksi adalah orang yang tidak mengerti esensi dan inti dari ‘BEKERJA’. Dia tidak mengerti nilai hidupnya sendiri dan dia tidak mengerti prinsip ‘BERKARYA’. Bagaimana dia seharusnya bisa menggunakan hidupnya secara lebih bermakna namun dia buang semua itu demi uang. Lain halnya jika kesempatan belum terbuka dan menjadi supir taksi adalah hal yang paling bermakna yang bisa dia kerjakan, maka bekerjalah sebagai supir taksi.
Apakah ada wanita yang kemudian memilih untuk menjadi pelacur ketimbang menjadi pegawai di toko kelontong karena sebagai pelacur dia boleh mendapatkan uang yang lebih banyak?

Melalui hasil kerjanya, seorang pegawai berhak mendapatkan upahnya. Melihat hasil kerja seorang pegawai yang baik dan bertanggung jawab, seorang tuan berkewajiban memberikan upah yang setimpal. Hak dan tanggung jawab harus dijalankan dengan tepat, yaitu hak harus selalu berada dibawah kewajiban. Hak tidak pernah boleh lebih tinggi daripada kewajiban dan hak tidak boleh mendahului kewajiban. Seorang atasan harus melihat hasil kerja bawahannya terlebih dahulu sebelum dapat menentukan hak yang pas dan tepat sebagai upah pekerjanya.

Namun ditengah dunia dengan paradigma yang banyak melenceng ini, muncul terlalu banyak cara berpikir yang serba terbalik dan tidak tepat. Para pegawai yang menuntut haknya. Para atasan yang tidak perduli dengan bawahannya. Pemerintah yang menuntut terlalu banyak hak dari rakyat dan bersikap melupakan tanggung jawab jabatan dari rakyatnya. Rakyat yang bersikap pragmatis dan tidak menggunakan haknya untuk memilih dengan benar karena tidak mau tahu tentang banyak hal selain dari kepentingan dirinya sendiri. Kesemuanya terjadi karena peletakkan antara hak dan kewajiban yang sama sekali tidak pada posisi yang tepat.

Etos kerja

Tidak adanya pengertian yang tepat tentang hak dan kewajiban mengakibatkan orang memiliki etos kerja dan cara kerja yang tidak tepat. Banyak pegawai mau gaji naik setiap tahun, tapi pekerjaan dan ketrampilan tidak memenuhi syarat. Mau mendapat nilai bagus di sekolah, tapi tidak mau belajar. Mau hidup berkecukupan, tapi tidak mau berjuang.

Hak selalu harus diberikan lebih rendah daripada tanggung jawab. Kenapa harus lebih rendah? Karena manusia selalu men-over-estimasi kemampuan dirinya sendiri, menilai dirinya sendiri lebih tinggi dari yang seharusnya. Jika seseorang menilai dirinya tinggi, lakukanlah pekerjaan yang tinggi, kualitas yang tinggi, maka hak akan menyusul naik seturut dengan kemampuan, kewajiban, dan tanggung jawab yang berani dia pikul. Jangan hanya meributkan hak, tapi terlebih penting lagi, ributkanlah kewajiban dan tanggung jawab.

Banyak orang, belum mulai bekerja, sudah minta gaji tinggi, tunjangan ini dan itu. Belum menunjukkan diri bisa apa, kualitas kerja setinggi apa, dedikasi sebesar apa, etos kerja seperti apa, sudah menilai diri tinggi sekali.
Dunia olah raga sangat mengenal keseimbangan hak dan kewajiban. Dalam pertandingan lari, semua orang berlatih dahulu, berusaha dahulu, berjuang dahulu, seorang lebih keras daripada yang lain. Apakah kemudian pada saat pertandingan, yang merasa sudah berlatih lebih keras selalu bisa mengalahkan orang lain? Tidak tentu. Dia boleh saja merasa bahwa dia adalah orang tercepat karena merasa punya hak untuk mendapat medali emas, tapi dia harus menunjukkan dulu hasil latihannya, disiplinnya, usahanya, dan berlari sekuat tenaga. Yang mendapat medali emas adalah yang memasuki garis finish pertama. Setelah dia membuktikan diri, baru dia mendapat medali. Itulah ilustrasi yang paling bisa menggambarkan hak dan kewajiban.

Seseorang harus bekerja dahulu untuk menunjukkan kelas, kualitas dan nilai hidupnya. Baru dia boleh mulai menuntut haknya. Itulah etos kerja yang tepat. Bekerja dengan keras dan berjuang dengan tekun.

Bukan hanya itu saja, setiap orang yang mau berjuang dengan keras dan tekun, tidak mungkin pekerjaan tangannya tidak berhasil. Tidak mungkin orang yang gigih berjuang dengan rajin dan tekun, tidak menghasilkan nilai yang tinggi dalam hidupnya. Mereka akan memiliki potensi untuk memiliki penghasilan dan mereka berhak atas pengasilan itu dan mereka berhak menikmati hidup berkecukupan. Namun, etos kerja yang baik adalah juga mencakup cara hidup yang dengan ketat mengatur bagaimana hasil kerja dia digunakan dalam hidupnya. Etos kerja yang baik akan memunculkan hidup yang hemat dan tidak boros. Memperhitungkan pengeluaran seperlunya dan tidak berfoya-foya. Terlepas dari berapa banyak uang yang dia hasilkan, dengan etos kerja dan paradigma bekerja yang baik, dia akan terus berusaha memiliki buah-buah yang baik dalam hidupnya. Supaya hidupnya boleh menjadi berkat bagi orang lain pula dan pekerjaan tangannya boleh dirasakan oleh orang-orang yang berada disekitar mereka.

Upah dan taraf hidup kesejahteraan

Ada satu fenomena yang selama bertahun-tahun menjadi problematika besar di Indonesia, yaitu mengenai upah minimum pekerja. Setiap kali, setiap tahun, pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai upah minimum. Sayangnya, kenaikan upah ini tanpa disertai etos kerja dan etiket yang baik dari para pekerja.

Prinsip dasar upah minimum sebenarnya adalah sebuah bentuk ‘kemurahan hati’ dan ‘belas kasihan’ dari atasan untuk para pekerja yang kualitas kerjanya tidak mencapai kualitas minimal untuk mendapatkan upah yang cukup sehingga dia boleh hidup layak. Upah minimum bukanlah hak yang boleh mereka perjuangkan dan dituntutkan kepada pemberi upah.

Upah minimum selalu dan hanya akan diributkan oleh mereka yang kualitas kerja dan berketrampilan rendah. Mereka yang belajar baik dan sekolah baik serta memiliki ketrampilan yang cukup tidak pernah meributkan upah minimum, karena ketrampilan mereka memiliki hasil kerja yang cukup memiliki kualitas untuk boleh dibayar dengan upah yang bisa membuat mereka hidup layak.
Mereka yang tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk memiliki hasil kerja yang berkualitas cukup untuk dibayar layak, merekalah yang mendapatkan upah minimum.

Daripada meributkan tentang peraturan-peraturan atau penyelesaian yang sifatnya pragmatis dan tidak menyelesaikan permasalahan, tidakkah akan jauh lebih baik jika pemerintah bekerja sama dengan pengusaha untuk memberikan materi training dan sertifikasi untuk memberikan para pegawai kesempatan untuk menaikkan nilai dan kualitas kerjanya supaya dengan demikian dia boleh diberi upah secara layak?

Namun masalah baru akan muncul, apakah mereka mau meluangkan waktu untuk berjuang dan belajar lebih baik ketika ada kesempatan untuk menaikkan nilai dan kualitas kerja mereka?
Bisa jadi jawabannya adalah tidak. Karena tidak adanya etos kerja yang baik. Mengambil sikap pragmatis, mau ada hasil yang baik tanpa memiliki paradigma yang tepat. Tidakkah lebih mudah meninggalkan tanggung jawab dan melakukan unjuk rasa daripada belajar dan hidup baik-baik dan bertanggung jawab.

Selain daripada itu, mengenai upah, kapankah cukup itu bisa dikatakan cukup? Mereka yang tidak memiliki etos kerja yang baik, hampir selalu tidak memiliki prinsip yang baik tentang membelanjakan uang yang mereka dapatkan. Uang yang didapat dengan mudah, akan pergi meninggalkan mereka dengan mudah pula.

Tanpa paradigma yang tepat tentang bekerja dan prinsip etos kerja yang ketat, setiap orang tidak akan dapat melepaskan diri dari begitu banyak kesulitan dan kesusahan yang dia timpakan terhadap dirinya sendiri.

Kesadaran Tentang Waktu

Apakah itu yang dimaksud dengan ‘WAKTU’?

Mengutip dari Agustinus, “Ketika tidak ada yang menanyakan, aku tahu apa itu waktu. Ketika aku berusaha menjawab pertanyaan tentang waktu, aku tidak tahu apa itu waktu.”

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kesadaran tentang waktu (sense of TIME). Dalam artian bahwa manusia mengerti dan mengenali pergerakan waktu dan relasinya dengan hidup dia. Binatang dan tumbuhan memang juga memiliki kesadaran akan waktu, namun dalam pengertian yang sama sekali berbeda dan lebih bersifat intuisi dan instingtif daripada kesadaran.

Waktu dan Kekekalan

Manusia mengenali waktu serta memiliki suatu ‘perasaan’ (jika tidak dapat disebut sebagai kesadaran total) dalam dirinya tentang paradoksitas waktu yang memiliki awal dan akhir, namun juga bersifat seolah-olah kekal karena terasa tanpa akhir. Terlebih daripada itu, ‘perasaan’ manusia tentang waktu dalam paradoks yang lebih besar memiliki cakupan yang melampaui waktu, yang bersifat kekal. Hal tersebut tampak sangat jelas dalam banyaknya pandangan dan pemikiran tentang adanya kehidupan setelah kematian.

Hidup manusia yang sangat terbatas dan pendek memunculkan suatu pengertian tentang waktu dan pencarian makna diri seumur hidupnya. Beberapa orang menemukannya, sementara yang lain kebingungan, dan sisanya tidak perduli atau berusaha untuk tidak perduli dalam pragmatisme penipuan diri. Namun, tidak perduli siapapun dia, selama kita hidup, kita tidak akan pernah lepas dari pemikiran tentang waktu.

Manusia berusaha memperpanjang hidupnya. Itu merupakan salah satu kesadaran paling nyata tentang pemikiran manusia dalam waktu dan kekekalan. Legenda dan dongeng serta mitos tentang kehidupan kekal, awet muda, hidup selama-lamanya, tidak bisa mati, adalah hal-hal yang mewarnai dan terus muncul dalam ide-ide pemikiran manusia sepanjang jaman mulai dari pengawetan jenazah, hingga upaya untuk menjaga kesehatan hingga mampu mencapai umur panjang, bahkan sampai pada pemikiran-pemikiran tentang upaya mencangkokkan otak atau kepala kepada tubuh yang baru dan lebih muda, kloning, memindahkan kesadaran manusia kedalam bentuk kesadaran digital atau robotik terus tanpa henti bermunculan dalam sejarah dunia.

Semua manusia yang normal dan berakal sehat, hidup dalam sebuah kesadaran ketat akan waktu yang mengikat dia. Setiap rencana yang dibuat selalu memiliki unsur waktu. Apapun yang dikerjakan akan selalu terkandung di dalamnya unsur waktu. Namun, seperti kata Agustinus, unsur waktu itu tidak selalu dapat dijelaskan dan hampir selalu tidak dapat dijelaskan.

Waktu dan Nilai

Dalam kesadaran tentang waktu, sadar ataupun tidak, mau ataupun tidak, kita tidak dapat lepas dari unsur NILAI atau value. Salah satu –jika bukan satu-satunya– alasan kenapa manusia mau menjadi kekal adalah karena dia memiliki pemikiran tentang nilai yang berusaha dicapainya supaya dia boleh terus berada dalam sejarah. Supaya dia boleh mendapatkan nama bagi dirinya di dalam dunia, menjadi seseorang yang tidak dilupakan, seseorang yang memiliki hidup yang diakui nilainya. Karena manusia menyadari, sebentar saja dia lahir, sebentar pula dia menghidupi waktunya, dan besok dia akan mati, dan semuanya menjadi sia-sia.

Seketika itu pula tiba-tiba nilai hidup dan makna hidup menjadi hal yang penting. Seketika itu pula kehidupan tiba-tiba dirasakan menjadi sangat pendek untuk disia-siakan jika tidak dinikmati dan dihidupi secara sungguh-sungguh dan sepenuh-penuhnya. Dan manusia mulai memikirkan eksistensi dan tujuan hidupnya. Dalam hidup yang sedemikian singkat, dalam 24 jam sehari, 8 jam digunakan untuk tidur, 8 jam untuk bekerja, dan 8 jam sisanya entah untuk apa. Dari hari ke minggu, minggu ke bulan, bulan ke tahun, dan semuanya tiba-tiba berlalu. Untuk apakah manusia berjerih payah dibawah terik matahari dan berusaha mendapatkan seluruh dunia dengan merusak seluruh dunia, dan sebentar pula dia mungkin tersentak menyadari bahwa kesadaran dirinya dan kesadaran hidupnya sudah berada di penghujung nyawanya.

Jadi, apakah yang memiliki nilai yang tertinggi yang patut kita kejar seumur hidup kita supaya hidup yang sebentar ini boleh memiliki nilai yang tinggi?

Waktu dan Kehidupan Kekal

Kehidupan kekal hanya berada di dalam dua dunia (baca: realm): dunia budaya dan dunia religi. Dengan kalimat tersebut, akan kita bedakan dan tekankan bahwa religi yang dimaksud disini tidak diklasifikasikan sebagai hasil dari budaya, apapun juga religinya. Hal ini juga demi mempermudah pembahasan.

Yang pertama bercerita tentang pengharapan manusia untuk bisa kekal di dalam waktu. Yang terakhir bercerita tentang pengharapan manusia untuk bisa kekal di luar waktu. Dunia budaya bercerita tentang manusia yang hidup, sementara dunia religi bercerita tentang manusia yang mati tetapi tidak mati melainkan hidup di dalam jiwa atau roh di dalam alam atau dimensi yang lain.

Pengertian akan masing-masing pandangan ini menghasilkan idealisme yang sama sekali berbeda dalam dunia praktika kehidupan seseorang. Perlu disadari dan ditekankan sebelumnya yaitu tidak seorang pun pernah tidak mati ataupun pernah hidup dalam jiwa atau roh. Sehingga tepatlah kata yang dipilih: IDEALISME, suatu bayangan ideal yang tidak diketahui kebenarannya secara empiris.

Budaya membayangkan kehidupan kekal sebagai kehidupan tanpa akhir di dunia ini. Hal ini tidak menarik untuk dibahas karena kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi dan apa yang akan kita lakukan jika manusia hidup abadi dalam bumi ini.

Religi lebih menarik untuk dibicarakan, karena tidak seorangpun bisa membayangkan bagaimana kehidupan setelah kematian. Tapi tampaknya dunia religi sepakat bahwa ada satu dunia di sana yang disebut neraka dan surga yang tentunya memiliki banyak sebutan dan istilah yang berbeda-beda, tapi memiliki makna yang sama. Yang satu adalah tempat dimana orang yang jahat berada dan yang lain adalah tempat dimana orang yang baik berada. Konsep dan kisah serta penggambaran kedua tempat tersebut pun berbeda-beda tergantung dari masing-masing religi yang bermacam-macam.

Konsep surga dan neraka inilah yang menentukan bagaimana seseorang menjalani hidupnya serta menentukan pilihan-pilihan nilai yang akan dipegangnya selama masa hidupnya.

Apakah itu WAKTU?

Waktu adalah kesempatan yang terbatas sepanjang kehidupan kita yang tidak tentu kapan berakhirnya yang berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Waktu adalah pengertian tentang kesempatan yang tidak pernah akan datang kembali dan setiap kesempatan yang kita pergunakan akan mempengaruhi kesempatan yang berikutnya.

Orang yang mengenakan jam tangan untuk mengukur waktu (dikatakan demikian karena ada orang yang mengenakan jam tangan hanya untuk menjadi hiasan yang mahal) biasanya memiliki pengertian yang lebih dalam dan lebih peka tentang waktu karena dia merasa perlu tahu akan posisi dia di dalam waktu.

Orang yang peka terhadap waktu, secara sadar akan mulai memperhatikan hidup dan nilai hidup yang dijalaninya sesuai dengan pola pikirnya. Seorang penjahat akan mengukur waktu dengan teliti untuk merampok buruannya dan seorang pelari akan mengukur waktu dengan teliti untuk mengasah kemampuannya. Seorang beragama akan mempergunakan waktu untuk memperbaiki hidupnya seturut kepercayaannya supaya masuk surga, sementara yang tidak beragama akan mempergunakan waktu untuk membangun hidupnya seturut pemahaman dia akan konsep nilai hidupnya.

Sampai disini, mungkin kita sadari bahwa waktu hanyalah sebuah wadah yang bersama-sama dengan ruang, membentuk suatu tempat dan kesempatan bagi kita. Namun terlepas dari apakah penjelasan itu valid atau tidak secara filosofis, penjelasan itu tidak lebih penting daripada apa yang harus kita lakukan di dalam waktu yang kita miliki. Perasaan tentang kesadaran tentang waktu seharusnya membawa kita kepada pengertian bahwa sebentar saja semua ini akan berlalu dan apa yang akan kita lakukan tentang itu.

Apakah waktu itu adalah kesadaran tentang nilai hidup, ataukah waktu itu adalah perasaan tentang nilai kekekalan, ataukah waktu itu adalah kesadaran akan keterbatasan, semuanya tidak lebih penting daripada respon yang harus tepat menyikapi waktu.

Waktu dan Kekekalan Yang Lain

Ada satu hal yang menarik tentang waktu dan kekekalan yang saya rasa layak untuk disinggung sedikit dalam tulisan ini, yaitu dari religi Kristen. Sementara agama berbicara tentang bagaimana surga dan neraka, agama yang satu ini terus menerus berbicara tentang keselamatan jauh lebih banyak daripada berbicara tentang surga dan neraka. Agama ini menuntut pengikutnya untuk mengejar nilai yang tertinggi supaya mereka boleh diselamatkan dan tidak binasa, bukan untuk masuk surga, karena surga pada nantinya akan menjadi konsekwensi atau hasil dari keselamatan itu. Dan keselamatan itu diberikan sebagai hasil dari pengampunan akan dosa dan kesalahan manusia yang tahu bahwa dirinya berdosa dan mau mengakui dosanya – semata-mata karena orang yang tidak tahu dirinya berdosa tentu saja tidak membutuhkan pengampunan. Setelah seseorang diselamatkan, barulah ia dituntut untuk merubah pola pikirnya dan mempergunakan waktunya dengan bijaksana dan mengejar nilai-nilai yang tertinggi, yang terbaik, yang benar; untuk membuktikan bahwa dirinya sudah diselamatkan dan sekarang tidak mau kembali kepada masa lalunya yang berdosa.

Tampaknya konsep ini yang menyebabkan Kekristenan menghasilkan warisan budaya yang tinggi seperti musik, arsitektur, lukisan, yang mempengaruhi waktu dan sejarah selama ratusan tahun. Termasuk mempengaruhi munculnya alat pengukur waktu (baca: jam, arloji) yang sangat baik dari Geneva.