Agama dalam Perspektif Sosiologi: Keyakinan akan Kebenaran & Kebijaksanaan Manusia

Ketika kita mencoba memahami keberadaan diri kita sendiri, secara pribadi, setiap kita masing-masing individu, tanpa memandang orang lain sama sekali; Apakah dimungkinkan bagi kita untuk memahami bagaimana kita bisa memeluk suatu agama tertentu?

Selangkah lebih jauh lagi, tanyakan pada diri kita, apakah dimungkinkan bagi saya untuk berpindah dan menganut agama yang lain selain daripada yang saya yakini selama ini?

Dan yang terakhir, bisakah orang lain merayu, atau bahkan memaksa saya untuk berpindah dan berpaling dari agama yang saya yakini sebagai sebuah kebenaran?

Saya yakin jawabannya adalah TIDAK. Tidak seorangpun bisa memaksa kita untuk memeluk agama yang berbeda dengan yang saya yakini sebagai kepercayaan saya. Tidak seorangpun bisa meyakinkan saya bahwa agamanya lebih benar daripada agama saya. Saya yakin semua dari kita bisa memahami bahwa agama adalah bagian hidup yang paling personal dan jika ada orang lain yang menganggap bahwa agamanya adalah yang paling benar, tentu saja saya bisa memahami hal itu, karena saya pun menganggap bahwa agama saya yang paling benar. Jika saya tidak memiliki kepastian itu dalam diri saya, maka tentunya saya sudah memeluk agama apapun yang saya anggap sebagai kebenaran mutlak.

Apakah orang lain bisa memaksa saya untuk menyukai es krim rasa durian jika saya menyukai es krim rasa green tea? Orang lain bisa memaksa saya untuk memakan es krim rasa durian, dan akan membuat saya muntah karena saya tidak tahan baunya. Ancaman dan paksaan akan membuat saya ketakutan tentang kenyamanan dan kelangsungan hidup saya, sementara rayuan dan iming-iming akan membuat saya tertarik. Saya akan memakan es krim rasa durian. Orang akan mengira saya penggemar es krim rasa durian.
Tapi siapapun tidak akan pernah bisa memaksa saya untuk menyukai es krim rasa durian. Saya akan semakin mendambakan dan merindukan es krim green tea.  Karena itulah diri saya, penggemar es krim green tea.

Saya yakin kita bisa sangat mengerti dan berelasi dengan jelas terhadap sepotong fakta kehidupan yang barusan saya jelaskan. Jika demikian, maka jelaslah, bahwa melalui ancaman ataupun rayuan, kita yang memiliki keyakinan yang sejati terhadap agama yang kita percayai dengan segenap hidup kita sebagai suatu kebenaran mutlak, tidak akan membuat kita bergeser dan berpindah agama begitu saja.

Mereka yang beragama Kristen, bersekolah di luar negeri yang beragama Buddha, apakah dia tiba-tiba berpindah menjadi Buddhist? Mereka yang sering mendengar panggilan ibadah umat Islam, apakah serta merta memeluk agama Islam? Hiasan Natal yang meriah di negara ateis, apakah serta merta menjadikan banyak penduduk mereka menjadi umat Kristiani? Mereka yang pergi ke pulau Bali untuk merantau mengadu nasib dan peruntungan, apakah mereka kembali sebagai umat Hindu?
Saya bisa terus berceloteh, tapi saya yakin kita semua menangkap maksud dari kalimat-kalimat saya.

Jadi lihatlah sendiri, fenomena perpindahan agama adalah esensi dari suatu sistem kepercayaan yang tidak bisa dipengaruhi –apalagi diintervensi– dari luar diri kita sendiri. Lihatlah sendiri, dalam agama apapun dari sebelah manapun, berapa banyak orang yang mati untuk menunjukkan kepercayaan dan kebenaran agama mereka. Jika hidup dan mati pun sudah tidak bisa menggoyahkan keyakinan seseorang, bagaimana seorang manusia, siapapun dia, bisa begitu saja berpindah agama. Mengapa kita menjadi khawatir ketika melihat ada orang yang berpindah agama, seakan-akan kehilangan pendukung atau kehilangan jumlah anggota. Apakah agama itu seperti keanggotaan dalam sebuah klub yang sedang bersaing jumlah anggota dengan klub lain? Apakah agama itu seperti persaingan jumlah tentara untuk memenangkan pertarungan? Apakah jumlah yang banyak menentukan kemenangan?

Seharusnya tidak sedemikian. Berapa banyak peperangan besar yang gemilang yang terjadi antara pasukan jumlah besar yang dibantai habis oleh pasukan yang jumlah jauh lebih sedikit. Agama adalah bagaimana setiap orang, secara pribadi, berelasi dengan penciptanya. Tidakkah hal itu sifatnya seorang demi seorang, pribadi lepas pribadi. Tidakkah kita masuk kedalam akherat seorang demi seorang, bukan bersifat membership dan borongan/kolektif/beramai-ramai. Apakah kita yakin bahwa mereka yang berdiri disebelah kita saat berada dalam tempat ibadah dalam hatinya yang paling dalam, datang beribadah dengan niat yang sama seperti kita? Apakah kita yakin bahwa amal dan ibadah antara yang seorang dengan yang lain akan diperkenan oleh Sang Pencipta? Tidakkah setiap agama mengajarkan semua yang baik?

Jika demikian, sebenarnya, apakah kita perlu merisaukan bagaimana Sang Pencipta mengurus ciptaan-Nya? Apakah kita perlu membantu Sang Pencipta? Membela Dia seolah-olah kita lebih bijaksana dan lebih hebat daripada Dia yang menciptakan dunia dan segala isinya? Karena itulah setiap orang sepatutnya mempelajari ajaran agamanya seturut dengan kepercayaan masing-masing.
Karena itulah sistem pendidikan menyediakan wadah bagi setiap pelajar suatu bentuk pelajaran agama, supaya melalui wadah pendidikan, terbentuklah pengertian dan pengetahuan tentang konsep kebenaran yang dipercayai sebagai suatu agama dan kebenaran yang pantas untuk dianut, untuk menghindari fanatisme.

Dunia kita menjamin kebebasan hak beragama sebagai salah satu hak asasi manusia yang paling asasi. Karena pemaksaan dalam agama akan menghasilkan peperangan dan korban jiwa yang sangat besar, demi mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak dapat dilihat, disentuh, bahkan tidak dapat terselami. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan hakiki, apakah yang dimaksud dengan “agama” ini? Apakah ini tentang perspektif manusia mengenai bagaimana bersikap dihadapan Tuhan, atau tentang perspektif Tuhan mengenai bagaimana manusia dihadapan Tuhan, atau tentang perspektif manusia tentang bagaimana Tuhan dihadapan manusia?

Lihatlah, kebijaksanaan manusia dalam mengatur segala sesuatu. Lihatlah, agama mengajarkan semua yang baik. Lihatlah, bahwa semua manusia dalam hatinya mengetahui ada kebenaran dan kebaikan supaya tidak mencelakakan manusia lain. Lihatlah dunia sekeliling kita, apa yang kita lihat? Mereka yang mengaku beragama seringkali merupakan orang-orang yang paling berani berbuat jahat. Mari kita buka mata kita lebar-lebar, apakah ini yang diajarkan oleh agama kita, apapun agama itu?

Tidakkah kita semua mendambakan tatanan masyarakat yang baik? Akan tetapi, siapakah masyarakat itu? Tidak lain adalah Anda dan saya, kita semua. Dan jika kita semua memulainya dari menata diri kita sendiri, kita akan pasti dapat mewujudkan apa yang kita dambakan. Saya yakin, kita tidak sendiri.

Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kesadaran Moral

Saya yakin kita semua pernah berada dalam suatu dilema moral, yang satu lebih kompleks dan berat dibanding yang lain. Ketika kita melihat suami dari sahabat kita berselingkuh, apakah yang akan kita lakukan? Berdiam diri atau menegur atau menyampaikan hal tersebut? Jika kita sampaikan, akan terjadi kerusakan parah dalam keluarga mereka, mungkin anak-anak mereka akan dibesarkan dalam keluarga yang hancur. Jika tidak kita sampaikan, hal itu mungkin akan berlanjut dan menjadi lebih parah.
Atau ketika seseorang sedang dalam antrian dalam ruang praktek dokter, ada seseorang yang anak kecil dan tampaknya jauh lebih kesakitan daripada kita, baru datang dan mengantri sesudah kita. Kita yang sudah mengantri lebih dari satu jam, yang juga sedang migren, demam dan nyeri dengan bisul di bibir ; apakah kita akan membiarkan anak itu masuk terlebih dahulu padahal dia baru saja datang?
Atau ketika kita memiliki posisi sebagai pejabat pemerintah, seseorang datang memohon persetujuan dan pengesahan dari dokumen dan perjanjian kontrak; datang dengan membawa uang suap. Semua orang di kantor kita memiliki budaya dan kebiasaan yang sama. Semua orang tau bahwa suap itu adalah etika yang rusak, tapi semua orang melakukannya. Jadi akan kita terima kah uang suap itu? Jika kita tolak, kita menjadi orang yang sok suci, dikucilkan karena tidak sejalan dengan semua orang dalam kantor kita. Jika kita terima, hati nurani kita menegur kita bersalah.
Atau ketika kita melihat handphone yang tergeletak di kamar mandi pusat perbelanjaan, tanpa pemiliknya. Akankah kita ambil? Atau kita biarkan? Atau kita bawa pulang? Atau kita serahkan kepada pihak managemen atau pihak keamanan gedung? Tidak akan ada seorangpun yang menyalahkan kita kalau kita bawa pulang dan kita jual, karena tidak ada yang tahu. Tidak ada siapapun yang akan menegur kita selain daripada diri kita sendiri dan hati nurani kita.

Ada banyak dilema moral yang terjadi di sekitar kita, dimana kita dituntut untuk mengambil sebuah posisi didalamnya. Seperti pepatah yang berbunyi, “Bagaikan buah simalakama, dimakan: bapak mati, tidak dimakan: ibu mati.” Semakin kita memiliki pengertian moralitas dan pengetahuan norma kebaikan dan kebenaran, semakin banyak kita akan menempatkan diri kita dalam dilema moral.

Moralitas dan Perasaan Bersalah

Dari manakah munculnya kesadaran moral? Secara sangat singkat, dari didikan budaya dan agama. Saya yakin kita semua akan setuju jika saya katakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Saya yakin sebagian kita akan setuju jika saya katakan bahwa kesadaran moral adalah sama seperti kesadaran tentang keberadaan Tuhan, yang ada sejak manusia dilahirkan. Namun bersamaan dengan kesadaran moral tersebut, ada hal dalam diri kita yang ada sejak lahir, namun tidak kita sadari, yaitu amoralitas.

Saya mengasumsikan kita semua pernah mendengar kalimat bahwa, “manusia itu pada dasarnya baik. Manusia dilahirkan seperti lembaran kertas putih polos. Masyarakatlah yang membuat manusia menjadi rusak dengan pengaruh negatif.”

Saya pribadi tidak setuju dengan kalimat itu. Siapakah masyarakat? Masyarakat adalah kumpulan manusia. Jika kumpulan manusia semua berasal dari kertas putih polos, darimana datangnya ketidakbaikan?
Ingatkan kita ketika kita pertama kali mencuri? Ingatkah betapa kita sangat ketakutan ketika itu? Atau ingatkan kita ketika kita pertama kali berbohong?

Kita tahu bahwa kita bersalah. Hati nurani menegur kita, dan hidup kita menjadi tidak tenang karenanya. Dalam perkembangan kita, kita mulai mengenal kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, keadilan dan kelaliman, dan seterusnya; berikut dengan segala kompleksitas dan dilema didalamnya.

Kita mengenal dan belajar tentang semua itu dari mereka-mereka yang memiliki kepekaan terhadap teguran hati nurani mereka, mereka-mereka yang menjaga moralitas mereka, dan kita menganggap mereka itu sebagai orang-orang saleh. Dan kita mengenal mereka semua sebagai pengajar moral, pemuka agama, pemimpin agama, dan seterusnya.

Pernahkah kita sadari bahwa justru dari pengetahuan akan moralitas tersebut membangkitkan kesadaran kebersalahan? Perasaan bersalah itu muncul karena kita mengerti hal yang baik dan hal buruk. Ketika kita tidak  mengerti akan perbedaan benar dan salah, tidak ada dalam diri kita yang menegur.

Konsep Dosa

Saya yakin kita semua setuju bahwa sebagai orang yang beragama, kita semua mengenal konsep dosa. Bahkan orang yang tidak beragama pun harus mengakui suatu perasaan bersalah yang timbul dalam diri seseorang, termasuk didalamnya adalah perasaan menyesal. Setiap orang yang tidak memiliki perasaan bersalah atau penyesalan dikategorikan kedalam orang yang memiliki gangguan kejiwaan yang parah atau psychopathy.

Sesungguhnya, agama tidak pernah membawa kita kepada kebenaran. Agama membawa kita kepada konsep pengertian bahwa ada kebenaran dan kebaikan. Melalui pengertian tersebut, kita dibawa pada pengetahuan akan yang baik dan yang jahat. Semakin kita mengenali dan mendalami perihal kebaikan, semakin kita mengetahui bahwa kita ini adalah orang yang memiliki banyak kesalahan.

Ketika kita berbuat baik, menolong orang, memberikan kepada seorang pengemis bantuan berupa uang, kita merasa sudah baik. Kita berbuat baik. Kita adalah orang baik. Kita menolong orang lain.

Pernahkah kita memikirkan lebih jauh, apakah perbuatan kita menolong pengemis itu akan berakibat baik bagi dia atau malah menjerumuskan dia? Apakah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengemis tersebut? Apakah uang? Ataukah pekerjaan? Ataukah kesempatan? Apakah uang yang kita berikan dia gunakan untuk membeli makanan atau malah membeli rokok yang malah tidak menyehatkan?

Saya sekali lagi yakin, bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan seharusnya menggugah sebagian kita dan menyadarkan kita. Tapi kita merasionalisasikan perasaan tanggung jawab moral dan kesadaran moral itu dengan alasan-alasan seperti berikut: yang penting kita sudah berniat baik. Yang penting adalah niatnya. Masalah pengemis itu mau terus menjadi pengemis, atau uang itu mau dipakai untuk beli makanan, atau beli rokok, atau beli pisau untuk menodong orang, atau dipakai untuk menyekolahkan anaknya, kita tidak tahu. Tepatnya, kita tidak cukup perduli.

Dengan kata lain, kita tidak bisa dipersalahkan ketika kita tidak tau.

Hal itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Pengertian itu seharusnya membangkitkan suatu perasaan bersalah yang lain. Yaitu seberapa jauh pun kita mau berbuat baik, kita tidak bisa berbuat baik. Kita tidak bisa secara tuntas berbuat kebaikan yang dapat membenarkan diri kita atau membuat diri kita dibenarkan. Karena kita tidak tahu, hal itu cukup untuk menenangkan hati nurani kita dan menjauhkan kita dari perasaan bersalah.

Agama dan kebenarannya hanyalah membuktikan bahwa diri kita ternyata tidak mampu melakukan kebaikan. Dan melakukan satu kesalahan dari satu larangan dalam agama berarti telah melanggar semua hukum. Agama tidak menyelamatkan. Perbuatan baik tidak membuat kita dibenarkan. Saya yakin kita semua bisa menyetujui kalimat berikut, apakah semua orang dalam penjara adalah orang yang tidak beragama? Tidak. Pasti ada banyak orang yang berada dalam penjara yang adalah orang yang taat beragama. Apakah koruptor adalah orang yang tidak taat beragama? Jika mereka beragama, mengapa mereka tetap korupsi?

Akan tetapi melalui jalan agama, seseorang diberi tahu bahwa dia bersalah, dia berdosa. Dan sebagian besar agama menawarkan penyelesaian, yaitu melalui perbuatan baik. Namun hal tersebut menimbulkan permasalahan yang lain lagi yang sudah kita bahas, yaitu kesadaran bahwa tidak ada perbuatan baik kita yang benar-benar tuntas merupakan kebaikan yang dapat dibanggakan dan dijadikan pengganti perbuatan dosa kita dan menenangkan perasaan bersalah kita.

Masalahnya utamanya adalah kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan. Kita berusaha melakukan penebusan kesalahan kita dalam setiap upacara besar keagamaan. Setiap kali. Dan setiap kali kita melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada jalan keluar melalui agama, karena perbuatan amal kita tidak bisa menyelamatkan kita.
Berusaha menyelamatkan diri melalui perbuatan amal adalah seperti melanggar lampu merah. Kita keluar rumah, hendak menuju ke rumah kekasih kita, di jalan ada sepuluh lampu merah. Setelah melalui 9 lampu merah, kita sadar bahwa kita sudah terlambat. Maka di lampu merah ke-10, kita serobot dan langgar. Kemudian kita dihentikan oleh polisi dan di tilang. Kita tidak bisa berargumen kepada polisi itu, “Bapak tidak boleh menilang saya. Saya sudah melewati 9 lampu merah dengan tertib, masa baru 1 lampu merah yang saya langgar, sudah ditilang?”
Kita tidak bisa juga berargumen kepada seorang hakim, “Sudah 39 tahun saya hidup sebagai warga negara Indonesia, tidak pernah saya berurusan dengan hamba hukum, masakan baru satu kali ini saya mencuri karena anak saya sakit keras dan hampir mati, saya akan langsung masuk penjara?”

Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan. Dan agama memperjelas hal itu. Melalui agama kita mengenal semua baik dan jahat. Dan semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak kita sadar bahwa semakin banyak yang kita perbuat ternyata tidak baik.

Jika kita bisa dianggap baik hanya dengan mempercayai suatu agama tertentu tanpa perlu hidup bertanggung jawab dan suci, apa gunanya kita hidup bersusah payah berusaha mengejar kesalehan? Apa gunanya kesadaran kita akan moralitas? Jika demikian halnya, apakah gunanya beragama? Dan disini jawaban yang saya temukan yang selalu saja diucapkan orang: Ada begitu banyak agama di luar sana. Apakah semua agama itu sama saja dan berakhir dengan kebuntuan dan dilema sedemikian?

Q: Bukankah semua agama itu sama, mengajarkan kebaikan dan mendatangkan keselamatan?

AAda tiga pertanyaan dalam satu kalimat tanya tersebut. Pertanyaan tersebut hanya bisa terjawab melalui –paling sedikit– dalam empat pembahasan.

Yang pertama adalah apakah yang dimaksud dengan keselamatan? Ada agama dan kepercayaan yang mengatakan bahwa keselamatan itu adalah surga. Jika kita beragama, maka kita akan masuk surga.
Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu adalah kita akan hidup kaya raya, makmur dan sejahtera, dijauhkan dari segala macam kesulitan, sakit penyakit, bahaya, baik dalam dunia ini, maupun akhirat.
Sementara yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita akan melalui kehidupan yang ini, untuk menuju pada kehidupan yang lain, yang berikutnya, yang lebih baik daripada kehidupan yang sekarang kita jalani.
Dan yang lain lagi mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita tidak akan mati secara rohani, kita akan hidup setelah jasmani kita dalam kehidupan yang fana ini berakhir; dan kita akan hidup sampai selama-lamanya.

Jadi manakah yang benar dengan pendapat tersebut? Setiap agama dan kepercayaan memiliki definisi yang berbeda tentang “KESELAMATAN”. Ada agama dan kepercayaan yang menggambarkan bahwa keselamatan yang adalah surga itu adalah kehidupan yang mirip dengan kehidupan kita yang sekarang, namun disana tidak terdapat kesulitan, sakit penyakit, kematian, malapetaka, dan seterusnya. Yang lain menggambarkan bahwa kehidupan di surga itu adalah kehidupan sebagai pertapa dan kekal, dalam ketenangan dan kedamaian yang tiada akhir. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa kehidupan di surga itu adalah kemewahan dan kepuasan dan pemenuhan segala keinginan manusia yang tidak tercapai di dunia ini, segala uang, logam mulia, batu mulia, tempat tinggal seperti istana, kehidupan seperti raja, dan mengumbar segala nafsu, keinginan, kenikmatan lidah dan seksualitas, sejauh dan sebanyak yang dapat kita bayangkan dengan imajinasi manusia, bahkan lebih daripada batasan imajinasi kita.

Yang kedua adalah berkenaan dengan tujuan akhir hidup manusia, kita akan mulai masuk dalam pembahasan untuk menjawab pertanyaan tersebut, mulai dari yang paling akhir. Agama mendatangkan keselamatan. Kita semua adalah manusia. Manusia itu bisa bersalah, dan sudah bersalah, dan tidak seorangpun yang tidak pernah tidak bersalah. Karena itu manusia akan binasa, karena kesalahan kita sendiri. Air yang kita minum, berusaha kita bersihkan dari air yang kita cemari. Makanan yang kita makan, mengandung segala kemajuan teknologi dan rekayasa yang secara perlahan dan komulatif meracuni kita. Sebagian dari kita dengan tubuh yang lebih lemah menderita penyakit yang aneh-aneh, mulai dari kanker, kerusakan organ, keracunan logam berat atau kimia, penyakit multiple sclerosis, autoimun, dan seterusnya. Udara yang kita hirup sudah kita cemari sendiri dengan pencemaran udara, berbagai jenis radiasi, penebangan hutan, perusakan alam, eksploitasi sumber daya, kerusakan keseimbangan jumlah populasi flora dan fauna, dan seterusnya. Langsung ataupun tidak langsung, kita semua terlibat dan ikut sama bersalahnya, dan kita semua akan binasa karena kesalahan kita sendiri. Dunia sudah terlalu rusak dan perbaikan yang kita lakukan akan menjadi penyebab kerusakan yang berikutnya. Hal itu adalah akibat kesalahan kita semua, tidak terelakkan dan tidak ada yang dapat kita lakukan selain kita berusaha bertahan.

Namun sebagai manusia, kita juga memiliki roh. Tidak ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia jasmani kita, dan untunglah jasmani kita tidak mengandung unsur kekekalan. Tapi ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia rohani kita yang akan terus berlanjut, bahkan ketika dunia jasmani ini sudah lewat. Kita bisa dimampukan untuk memilih jalan hidup yang tepat, yang bisa membawa kita pada keselamatan, menghindarkan kita daripada kematian rohani yang sifatnya selama-lamanya dan kekal.

Disinilah isu tentang agama menjadi sangat penting. Melihat kembali tentang definisi masing-masing agama tentang keselamatan, manakah definisi yang benar? Kesalahan memilih jalan hidup dan mengikuti ajaran yang salah adalah meresikokan kehidupan kekal dalam roh. Apakah kita akan diselamatkan didalam roh atau kita akan tidak terselamatkan didalam roh sampai selama-lama-lamanya.

Untuk menentukan kita akan mau makan apa sore ini, kita memilih. Memilih makanan yang dimasak oleh seseorang di suatu rumah makan, yang memiliki kualitas yang sesuai dengan yang kita harapkan. Demikian pula untuk memilih pakaian, sekolah, universitas, calon istri dan suami, dan seterusnya. Kita memilih dan mempertimbangkan. Untuk bisa memilih dan mempertimbangkan, kita mengambil informasi dan data, kita analisa antara informasi dan data yang satu dengan yang lain. Kita bersikap terbuka, objektif, dan rela hati untuk mempelajari setiap aspek, kemudian mengambil keputusan berdasar pada informasi yang kita kumpulkan.

Itu semua rela kita lakukan untuk memilih makanan, pakaian, sekolah, pasangan hidup, dan seterusnya. Padahal itu semua sifatnya sementara. Jarang dari kita yang benar-benar mempertimbangkan dan mempelajari agama dan kepercayaan yang kita pegang, membandingkannya dengan agama lain untuk kemudian kita pilih. Tidak, kita tidak melakukan itu. Kita bahkan seringkali tidak mempelajari baik-baik dan secara mendalam agama yang sedang kita yakini dengan buta.
Kita bisa penasaran beda antara panci dan loyang yang satu dengan yang lain hanya karena beda harga, yang satu lebih murah daripada yang lain. Atau kita ingin tahu beda antara smartphone yang satu dengan yang lain, mana yang lebih bagus, mana yang lebih berkualitas.

Tidakkah roh kita yang kekal lebih penting daripada dompet kita, panci atau smartphone?
Inilah bahasan yang ketiga, yaitu bagaimana kita bisa tidak perduli dan tidak mau mempelajari dan mengenali siapa atau apa yang kita percaya yang katanya bisa membawa kita pada keselamatan? Bagaimana kita bisa secara pragmatis menganggap bahwa semua kebaikan adalah sama dan semua ajaran adalah sama rata baik adanya. Sementara jelas kelihatan bahwa agama dan kepercayaan yang satu menyatakan bahwa binatang itu makhluk hidup yang tidak boleh kita bunuh dan makan. Sementara agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua boleh kita nikmati dan makan dengan bertanggung jawab. Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua manusia adalah ciptaan yang paling tinggi dan darahnya sangat berharga sehingga tidak boleh dibunuh. Sementara ada agama dan kepercayaan yang lain menyatakan bahwa darah manusia itu boleh dikorbankan dan darah manusia yang satu lebih berharga dibanding darah manusia yang lain.

Bagaimana mungkin kita bisa dengan polos mengatakan bahwa semua agama itu sama?

Sekarang, bahasan yang keempat, apa yang hendak kita lakukan dengan perbedaan itu? Kita bisa tidak perduli dan tetap menganggap semua agama sama. Kita bisa mulai belajar, membandingkan, dan mencari kebenaran sejati, yang benar-benar benar. Kita bisa menutup diri dan menganggap semua agama salah dan agama kita yang paling benar.
Manusia menajamkan manusia, dengan kritik yang membangun, berdiskusi, berbicara, membuka diri; ilmu pengetahuan bertumbuh dengan sangat cepat karena setiap orang bisa saling mendukung dan melengkapi. Demikian pula dalam hal filsafat, filsuf yang satu memberikan pendapat dan pengajaran, dan filsuf yang lain memberikan tanggapan, dan kita mempelajari kemajuan berpikir mereka dan meningkatkan kualitas hidup intelektual kita.

Demikian pula halnya dengan agama dan kepercayaan kita. Menutup diri dengan fanatisme adalah sama dengan menjadi katak dalam tempurung. Seperti anak kecil yang menganggap dirinya sangat pandai dan paling tahu dan paling benar. Dia tidak menerima pengajaran dari orang lain. Dan kita semua tahu kemana anak kecil sedemikian akan berakhir jikalau didikan tidak diterapkan dalam dirinya.

Kebenaran itu persis seperti singa, dimanapun dia berada, dia akan selalu ditakuti dan membuat perbedaan. Kita yang mempercayai dan memelihara singa yang hidup, kita tidak perlu membela singa itu pada saat ada musuh mau menyerang. Singa itu bisa membela dirinya sendiri, dari dalam dirinya sendiri, dia akan menunjukkan bahwa dia hidup, bahwa dia layak ditakuti. Yang perlu dibela adalah “singa-singa”-an; singa palsu. Singa itu lain dengan singa-singa-an.

Kalau saudara mengeluarkan uang 500juta untuk membeli mobil, kemudian sebuah mobil-mobil-an disodorkan kepada saudara, maka saudara akan marah besar. Karena saudara tahu bahwa mobil itu berbeda dengan mobil-mobil-an. Setelah saudara membawa pulang mobil yang sejati, dan ada orang yang mengatakan bahwa Anda tolol karena membeli mobil-mobil-an, Anda hanya akan tersenyum. Itu pasti orang gila. Anda tidak marah, karena Anda tahu, Anda membayar 500jt untuk membeli mobil, dan mobil itu yang Anda bawa pulang.

Demikian pula dengan kebenaran yang sejati, agama yang sejati, kebenaran yang sejati. Setelah saudara mendapatkan kebenaran yang sejati, dan ada yang mengatakan bahwa kebenaran itu palsu, maka Anda akan tersenyum dan bisa mulai menjelaskan dan memberikan argumen. Karena Anda sudah belajar, dan sudah mengerti, dan sudah memilih dan mendapat kebenaran yang sejati.

Menjawab pertanyaan diatas: Bukankah semua agama itu sama? Hanya kalau Anda tidak pernah belajar, maka semua agama itu sama. Sama seperti semua mobil itu sama, sama seperti semua singa itu sama. Sama seperti semua perempuan/laki itu sama, asal perempuan/laki, boleh dijadikan istri/suami.

“The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.”― Augustine of Hippo

Paradigma Bekerja dan Etos Kerja

Seringkali menjadi salah kaprah dan salah sudut pandang ketika seorang manusia dididik sejak awal bahwa tujuan hidup dia adalah untuk mencari uang. Adalah kurang tepat pula jika dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk bekerja sehingga menghasilkan uang. Entah kenapa, dalam keseluruhan hidup kita, uang, harta benda, dan kepemilikan merajai dan menguasai serta mencengkeram habis segala aspek hidup kita.

Bekerja untuk mencari makan atau bekerja untuk mencari uang itu seperti layaknya seekor sapi yang bekerja. Sapi juga bekerja, supaya dia boleh makan. Sebab sapi yang tidak bekerja akan jadi makanan kita. Jelas manusia memiliki makna lebih tinggi tentang pekerjaan yang dia lakukan.

Di satu sisi, ada orang yang berusaha sedemikian keras untuk mengumpulkan uang. Sementara di sisi lain, ada orang yang mengekang diri sedemikian keras untuk menjauhi uang. Dan di sisi lain, ada orang yang berusaha mengejar kekuasaan, kehormatan dan kebanggaan dalam bentuk ketrampilan atau kepandaian yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan uang. Itulah tiga hal utama yang menguasai hidup manusia.

Pandangan ini diambil dari salah satu buku orang Kristen yang menyatakan bahwa tiga perihal utama yang menjadi pusat dalam hidup manusia, yang pertama adalah tentang uang. Yang kedua adalah tentang pengetahuan atau kebijaksaan. Yang ketiga adalah tentang kesulitan dan penderitaan.

Ketiga hal tersebut terangkum dalam segala hal yang dikerjakan oleh manusia selama hidupnya. Dengan kata lain, baik disadari atau tidak, hidup manusia mengerjakan segala hal berkenaan dengan ketiga hal tersebut. Tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari hal-hal tersebut.

Seseorang mengerjakan pekerjaan belajar untuk mendapat ilmu dan pengetahuan. Seorang yang lain mengerjakan pekerjaannya siang dan malam untuk menghasilkan uang. Seorang ibu mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga dalam jerih payah yang berkenaan dengan penderitaan dan kesulitan dan mendidik anak-anaknya untuk memiliki kehidupan yang baik dan berbijaksana budi pekerti. Dan seorang pemalas bersusah payah dengan kemalasannya menahan penderitaan dan kemelut yang ditimpakannya sendiri kepada dirinya karena kemalasannya.

Setiap orang mengerjakan sesuatu tentang hidupnya. Namun tidak semuanya baik, tidak semuanya benar, dan tidak semuanya berguna –entah bagi dirinya ataupun orang lain. Tidak seorangpun bisa lepas dari suatu pekerjaan. Karena hidup adalah untuk bekerja.

Belajar bukan untuk mencari uang

Entah mengapa, seringkali sekolah dan belajar dan upaya untuk mencari ilmu pengetahuan selalu dikaitkan dengan upaya untuk mencari uang. Hidup adalah untuk bekerja, bukan mencari uang. Uang adalah hasil tidak langsung dari bekerja. Bekerja adalah berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dari sumbangsih seseorang terhadap orang lain, dia boleh mendapatkan uang sebagai imbalannya.

Dengan kata lain, setiap orang harus bekerja dan mengerjakan dalam hidupnya sebuah karya, sebuah pencapaian, sebuah tujuan yang baik dan bernilai tinggi dengan kualitas tertinggi sesuai dengan kapasitas, ketrampilan, kemampuan, dan talenta yang dimilikinya. Uang adalah sarana yang boleh dia pakai untuk mencapai tujuan itu. Uang bukanlah tujuan akhir.

Itu sebabnya banyak orang yang setelah mendapatkan uang, dia kebingungan tentang bagaimana caranya menggunakan uang yang dia miliki. Yang terjadi kemudian adalah uang menguasai hidupnya dan bukannya dia yang menguasai uang. Dia menjadi semakin serakah, semakin kikir, semakin egois, dan semakin banyak uang yang dia miliki, hidupnya menjadi semakin miskin dan tidak bernilai. Dia menjadi selalu merasa miskin dan kekurangan dan tidak pernah merasa cukup walaupun uangnya banyak. Tidakkah kita pernah merasa bahwa orang yang pelit seringkali adalah orang yang berkelimpahan uang? Dan sebaliknya, orang yang boros adalah orang yang tidak mendapatkan uang dengan berjerih payah, tapi mendapatkannya dengan mudah? Serta orang yang miskin adalah orang yang tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan uang yang dia peroleh?

Kesalahan paradigma bekerja dan kaitannya dengan uang ini yang membuat dunia kita sekarang kacau balau. Karena mengejar uang, orang-orang menimpakan kepada dirinya berbagai-bagai kesusahan dan kesulitan dan penderitaan. Muncul pemikiran-pemikiran dan ide-ide untuk menghasilkan uang tanpa harus bekerja, tanpa harus menghasilkan sesuatu, tanpa harus memberikan manfaat bagi orang lain. Cara-cara yang berbagai macam untuk memanipulasi orang lain dan memanfaatkan orang lain demi kepentingan diri sendiri, mulai dari penipuan, korupsi, penggelapan, hingga tipu muslihat yang seolah-olah menguntungkan, sampai pada permainan di pasar modal dan komoditi yang kesemuanya berupa asset diatas kertas tanpa ada barang nyata.

Jika belajar adalah untuk mencari uang, maka korupsi itu seharusnya dibenarkan. Penipuan harus dibiarkan dan perampokan harus dipuji, karena mereka berusaha keras dengan kecerdikan dan kepintaran serta ketekunan yang luar biasa sehingga bisa menghasilkan uang.

Belajar adalah untuk bekerja

Korupsi, perampokan, penipuan, penggelapan, dan seterusnya tidak pernah dikategorikan sebagai “pekerjaan”. Walaupun para pelakunya berusaha dengan susah payah ‘bekerja’ untuk berhasil dalam melakukan tindakannya, dengan rajin dan cerdik dan upaya keras. Tidak bisa dikatakan sebagai bekerja karena tindakan mereka tidak mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Bekerja adalah sebuah tindakan yang seharusnya mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Tujuan dari proses di dalam hidup manusia ini adalah untuk bekerja. Tidak banyak hal dalam hidup manusia yang tidak bisa diselesaikan dengan bekerja, dan kalimat ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan uang. Bekerja adalah untuk menggunakan waktu dengan baik, menjadikan waktu-waktu yang berlalu menjadi bernilai. Bekerja adalah untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan membuat hidup seseorang memiliki kemajuan dan bertambah nilainya. Melalui pekerjaan seseorang, orang lain dapat melihat jati diri seseorang yang sebenarnya, kualitas hidupnya. Seperti sebuah pohon dinilai dari buahnya. Dari pohon yang buruk tidak akan keluar buah yang baik.

Bekerja dan menghasilkan uang

Melalui hasil pekerjaan yang baik, seseorang boleh mendapatkan upahnya. Melalui kehidupan yang baik, seseorang boleh mendapatkan kehormatan. Melalui pembelajaran yang bertanggung jawab, seseorang boleh mendapatkan gelar. Melalui ketekunan dan usaha keras, seseorang boleh menikmati hidangannya dengan tenang dan mencukupkan dirinya dan keluarganya.

Bekerja adalah untuk berkarya, bukan untuk semata-mata menghasilkan uang. Orang yang meninggalkan posisi jabatan manager di perusahaan untuk menjadi supir taksi karena dia bisa mendapatkan uang lebih banyak sebagai supir taksi adalah orang yang tidak mengerti esensi dan inti dari ‘BEKERJA’. Dia tidak mengerti nilai hidupnya sendiri dan dia tidak mengerti prinsip ‘BERKARYA’. Bagaimana dia seharusnya bisa menggunakan hidupnya secara lebih bermakna namun dia buang semua itu demi uang. Lain halnya jika kesempatan belum terbuka dan menjadi supir taksi adalah hal yang paling bermakna yang bisa dia kerjakan, maka bekerjalah sebagai supir taksi.
Apakah ada wanita yang kemudian memilih untuk menjadi pelacur ketimbang menjadi pegawai di toko kelontong karena sebagai pelacur dia boleh mendapatkan uang yang lebih banyak?

Melalui hasil kerjanya, seorang pegawai berhak mendapatkan upahnya. Melihat hasil kerja seorang pegawai yang baik dan bertanggung jawab, seorang tuan berkewajiban memberikan upah yang setimpal. Hak dan tanggung jawab harus dijalankan dengan tepat, yaitu hak harus selalu berada dibawah kewajiban. Hak tidak pernah boleh lebih tinggi daripada kewajiban dan hak tidak boleh mendahului kewajiban. Seorang atasan harus melihat hasil kerja bawahannya terlebih dahulu sebelum dapat menentukan hak yang pas dan tepat sebagai upah pekerjanya.

Namun ditengah dunia dengan paradigma yang banyak melenceng ini, muncul terlalu banyak cara berpikir yang serba terbalik dan tidak tepat. Para pegawai yang menuntut haknya. Para atasan yang tidak perduli dengan bawahannya. Pemerintah yang menuntut terlalu banyak hak dari rakyat dan bersikap melupakan tanggung jawab jabatan dari rakyatnya. Rakyat yang bersikap pragmatis dan tidak menggunakan haknya untuk memilih dengan benar karena tidak mau tahu tentang banyak hal selain dari kepentingan dirinya sendiri. Kesemuanya terjadi karena peletakkan antara hak dan kewajiban yang sama sekali tidak pada posisi yang tepat.

Etos kerja

Tidak adanya pengertian yang tepat tentang hak dan kewajiban mengakibatkan orang memiliki etos kerja dan cara kerja yang tidak tepat. Banyak pegawai mau gaji naik setiap tahun, tapi pekerjaan dan ketrampilan tidak memenuhi syarat. Mau mendapat nilai bagus di sekolah, tapi tidak mau belajar. Mau hidup berkecukupan, tapi tidak mau berjuang.

Hak selalu harus diberikan lebih rendah daripada tanggung jawab. Kenapa harus lebih rendah? Karena manusia selalu men-over-estimasi kemampuan dirinya sendiri, menilai dirinya sendiri lebih tinggi dari yang seharusnya. Jika seseorang menilai dirinya tinggi, lakukanlah pekerjaan yang tinggi, kualitas yang tinggi, maka hak akan menyusul naik seturut dengan kemampuan, kewajiban, dan tanggung jawab yang berani dia pikul. Jangan hanya meributkan hak, tapi terlebih penting lagi, ributkanlah kewajiban dan tanggung jawab.

Banyak orang, belum mulai bekerja, sudah minta gaji tinggi, tunjangan ini dan itu. Belum menunjukkan diri bisa apa, kualitas kerja setinggi apa, dedikasi sebesar apa, etos kerja seperti apa, sudah menilai diri tinggi sekali.
Dunia olah raga sangat mengenal keseimbangan hak dan kewajiban. Dalam pertandingan lari, semua orang berlatih dahulu, berusaha dahulu, berjuang dahulu, seorang lebih keras daripada yang lain. Apakah kemudian pada saat pertandingan, yang merasa sudah berlatih lebih keras selalu bisa mengalahkan orang lain? Tidak tentu. Dia boleh saja merasa bahwa dia adalah orang tercepat karena merasa punya hak untuk mendapat medali emas, tapi dia harus menunjukkan dulu hasil latihannya, disiplinnya, usahanya, dan berlari sekuat tenaga. Yang mendapat medali emas adalah yang memasuki garis finish pertama. Setelah dia membuktikan diri, baru dia mendapat medali. Itulah ilustrasi yang paling bisa menggambarkan hak dan kewajiban.

Seseorang harus bekerja dahulu untuk menunjukkan kelas, kualitas dan nilai hidupnya. Baru dia boleh mulai menuntut haknya. Itulah etos kerja yang tepat. Bekerja dengan keras dan berjuang dengan tekun.

Bukan hanya itu saja, setiap orang yang mau berjuang dengan keras dan tekun, tidak mungkin pekerjaan tangannya tidak berhasil. Tidak mungkin orang yang gigih berjuang dengan rajin dan tekun, tidak menghasilkan nilai yang tinggi dalam hidupnya. Mereka akan memiliki potensi untuk memiliki penghasilan dan mereka berhak atas pengasilan itu dan mereka berhak menikmati hidup berkecukupan. Namun, etos kerja yang baik adalah juga mencakup cara hidup yang dengan ketat mengatur bagaimana hasil kerja dia digunakan dalam hidupnya. Etos kerja yang baik akan memunculkan hidup yang hemat dan tidak boros. Memperhitungkan pengeluaran seperlunya dan tidak berfoya-foya. Terlepas dari berapa banyak uang yang dia hasilkan, dengan etos kerja dan paradigma bekerja yang baik, dia akan terus berusaha memiliki buah-buah yang baik dalam hidupnya. Supaya hidupnya boleh menjadi berkat bagi orang lain pula dan pekerjaan tangannya boleh dirasakan oleh orang-orang yang berada disekitar mereka.

Upah dan taraf hidup kesejahteraan

Ada satu fenomena yang selama bertahun-tahun menjadi problematika besar di Indonesia, yaitu mengenai upah minimum pekerja. Setiap kali, setiap tahun, pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai upah minimum. Sayangnya, kenaikan upah ini tanpa disertai etos kerja dan etiket yang baik dari para pekerja.

Prinsip dasar upah minimum sebenarnya adalah sebuah bentuk ‘kemurahan hati’ dan ‘belas kasihan’ dari atasan untuk para pekerja yang kualitas kerjanya tidak mencapai kualitas minimal untuk mendapatkan upah yang cukup sehingga dia boleh hidup layak. Upah minimum bukanlah hak yang boleh mereka perjuangkan dan dituntutkan kepada pemberi upah.

Upah minimum selalu dan hanya akan diributkan oleh mereka yang kualitas kerja dan berketrampilan rendah. Mereka yang belajar baik dan sekolah baik serta memiliki ketrampilan yang cukup tidak pernah meributkan upah minimum, karena ketrampilan mereka memiliki hasil kerja yang cukup memiliki kualitas untuk boleh dibayar dengan upah yang bisa membuat mereka hidup layak.
Mereka yang tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk memiliki hasil kerja yang berkualitas cukup untuk dibayar layak, merekalah yang mendapatkan upah minimum.

Daripada meributkan tentang peraturan-peraturan atau penyelesaian yang sifatnya pragmatis dan tidak menyelesaikan permasalahan, tidakkah akan jauh lebih baik jika pemerintah bekerja sama dengan pengusaha untuk memberikan materi training dan sertifikasi untuk memberikan para pegawai kesempatan untuk menaikkan nilai dan kualitas kerjanya supaya dengan demikian dia boleh diberi upah secara layak?

Namun masalah baru akan muncul, apakah mereka mau meluangkan waktu untuk berjuang dan belajar lebih baik ketika ada kesempatan untuk menaikkan nilai dan kualitas kerja mereka?
Bisa jadi jawabannya adalah tidak. Karena tidak adanya etos kerja yang baik. Mengambil sikap pragmatis, mau ada hasil yang baik tanpa memiliki paradigma yang tepat. Tidakkah lebih mudah meninggalkan tanggung jawab dan melakukan unjuk rasa daripada belajar dan hidup baik-baik dan bertanggung jawab.

Selain daripada itu, mengenai upah, kapankah cukup itu bisa dikatakan cukup? Mereka yang tidak memiliki etos kerja yang baik, hampir selalu tidak memiliki prinsip yang baik tentang membelanjakan uang yang mereka dapatkan. Uang yang didapat dengan mudah, akan pergi meninggalkan mereka dengan mudah pula.

Tanpa paradigma yang tepat tentang bekerja dan prinsip etos kerja yang ketat, setiap orang tidak akan dapat melepaskan diri dari begitu banyak kesulitan dan kesusahan yang dia timpakan terhadap dirinya sendiri.

Kesadaran Tentang Waktu

Apakah itu yang dimaksud dengan ‘WAKTU’?

Mengutip dari Agustinus, “Ketika tidak ada yang menanyakan, aku tahu apa itu waktu. Ketika aku berusaha menjawab pertanyaan tentang waktu, aku tidak tahu apa itu waktu.”

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kesadaran tentang waktu (sense of TIME). Dalam artian bahwa manusia mengerti dan mengenali pergerakan waktu dan relasinya dengan hidup dia. Binatang dan tumbuhan memang juga memiliki kesadaran akan waktu, namun dalam pengertian yang sama sekali berbeda dan lebih bersifat intuisi dan instingtif daripada kesadaran.

Waktu dan Kekekalan

Manusia mengenali waktu serta memiliki suatu ‘perasaan’ (jika tidak dapat disebut sebagai kesadaran total) dalam dirinya tentang paradoksitas waktu yang memiliki awal dan akhir, namun juga bersifat seolah-olah kekal karena terasa tanpa akhir. Terlebih daripada itu, ‘perasaan’ manusia tentang waktu dalam paradoks yang lebih besar memiliki cakupan yang melampaui waktu, yang bersifat kekal. Hal tersebut tampak sangat jelas dalam banyaknya pandangan dan pemikiran tentang adanya kehidupan setelah kematian.

Hidup manusia yang sangat terbatas dan pendek memunculkan suatu pengertian tentang waktu dan pencarian makna diri seumur hidupnya. Beberapa orang menemukannya, sementara yang lain kebingungan, dan sisanya tidak perduli atau berusaha untuk tidak perduli dalam pragmatisme penipuan diri. Namun, tidak perduli siapapun dia, selama kita hidup, kita tidak akan pernah lepas dari pemikiran tentang waktu.

Manusia berusaha memperpanjang hidupnya. Itu merupakan salah satu kesadaran paling nyata tentang pemikiran manusia dalam waktu dan kekekalan. Legenda dan dongeng serta mitos tentang kehidupan kekal, awet muda, hidup selama-lamanya, tidak bisa mati, adalah hal-hal yang mewarnai dan terus muncul dalam ide-ide pemikiran manusia sepanjang jaman mulai dari pengawetan jenazah, hingga upaya untuk menjaga kesehatan hingga mampu mencapai umur panjang, bahkan sampai pada pemikiran-pemikiran tentang upaya mencangkokkan otak atau kepala kepada tubuh yang baru dan lebih muda, kloning, memindahkan kesadaran manusia kedalam bentuk kesadaran digital atau robotik terus tanpa henti bermunculan dalam sejarah dunia.

Semua manusia yang normal dan berakal sehat, hidup dalam sebuah kesadaran ketat akan waktu yang mengikat dia. Setiap rencana yang dibuat selalu memiliki unsur waktu. Apapun yang dikerjakan akan selalu terkandung di dalamnya unsur waktu. Namun, seperti kata Agustinus, unsur waktu itu tidak selalu dapat dijelaskan dan hampir selalu tidak dapat dijelaskan.

Waktu dan Nilai

Dalam kesadaran tentang waktu, sadar ataupun tidak, mau ataupun tidak, kita tidak dapat lepas dari unsur NILAI atau value. Salah satu –jika bukan satu-satunya– alasan kenapa manusia mau menjadi kekal adalah karena dia memiliki pemikiran tentang nilai yang berusaha dicapainya supaya dia boleh terus berada dalam sejarah. Supaya dia boleh mendapatkan nama bagi dirinya di dalam dunia, menjadi seseorang yang tidak dilupakan, seseorang yang memiliki hidup yang diakui nilainya. Karena manusia menyadari, sebentar saja dia lahir, sebentar pula dia menghidupi waktunya, dan besok dia akan mati, dan semuanya menjadi sia-sia.

Seketika itu pula tiba-tiba nilai hidup dan makna hidup menjadi hal yang penting. Seketika itu pula kehidupan tiba-tiba dirasakan menjadi sangat pendek untuk disia-siakan jika tidak dinikmati dan dihidupi secara sungguh-sungguh dan sepenuh-penuhnya. Dan manusia mulai memikirkan eksistensi dan tujuan hidupnya. Dalam hidup yang sedemikian singkat, dalam 24 jam sehari, 8 jam digunakan untuk tidur, 8 jam untuk bekerja, dan 8 jam sisanya entah untuk apa. Dari hari ke minggu, minggu ke bulan, bulan ke tahun, dan semuanya tiba-tiba berlalu. Untuk apakah manusia berjerih payah dibawah terik matahari dan berusaha mendapatkan seluruh dunia dengan merusak seluruh dunia, dan sebentar pula dia mungkin tersentak menyadari bahwa kesadaran dirinya dan kesadaran hidupnya sudah berada di penghujung nyawanya.

Jadi, apakah yang memiliki nilai yang tertinggi yang patut kita kejar seumur hidup kita supaya hidup yang sebentar ini boleh memiliki nilai yang tinggi?

Waktu dan Kehidupan Kekal

Kehidupan kekal hanya berada di dalam dua dunia (baca: realm): dunia budaya dan dunia religi. Dengan kalimat tersebut, akan kita bedakan dan tekankan bahwa religi yang dimaksud disini tidak diklasifikasikan sebagai hasil dari budaya, apapun juga religinya. Hal ini juga demi mempermudah pembahasan.

Yang pertama bercerita tentang pengharapan manusia untuk bisa kekal di dalam waktu. Yang terakhir bercerita tentang pengharapan manusia untuk bisa kekal di luar waktu. Dunia budaya bercerita tentang manusia yang hidup, sementara dunia religi bercerita tentang manusia yang mati tetapi tidak mati melainkan hidup di dalam jiwa atau roh di dalam alam atau dimensi yang lain.

Pengertian akan masing-masing pandangan ini menghasilkan idealisme yang sama sekali berbeda dalam dunia praktika kehidupan seseorang. Perlu disadari dan ditekankan sebelumnya yaitu tidak seorang pun pernah tidak mati ataupun pernah hidup dalam jiwa atau roh. Sehingga tepatlah kata yang dipilih: IDEALISME, suatu bayangan ideal yang tidak diketahui kebenarannya secara empiris.

Budaya membayangkan kehidupan kekal sebagai kehidupan tanpa akhir di dunia ini. Hal ini tidak menarik untuk dibahas karena kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi dan apa yang akan kita lakukan jika manusia hidup abadi dalam bumi ini.

Religi lebih menarik untuk dibicarakan, karena tidak seorangpun bisa membayangkan bagaimana kehidupan setelah kematian. Tapi tampaknya dunia religi sepakat bahwa ada satu dunia di sana yang disebut neraka dan surga yang tentunya memiliki banyak sebutan dan istilah yang berbeda-beda, tapi memiliki makna yang sama. Yang satu adalah tempat dimana orang yang jahat berada dan yang lain adalah tempat dimana orang yang baik berada. Konsep dan kisah serta penggambaran kedua tempat tersebut pun berbeda-beda tergantung dari masing-masing religi yang bermacam-macam.

Konsep surga dan neraka inilah yang menentukan bagaimana seseorang menjalani hidupnya serta menentukan pilihan-pilihan nilai yang akan dipegangnya selama masa hidupnya.

Apakah itu WAKTU?

Waktu adalah kesempatan yang terbatas sepanjang kehidupan kita yang tidak tentu kapan berakhirnya yang berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Waktu adalah pengertian tentang kesempatan yang tidak pernah akan datang kembali dan setiap kesempatan yang kita pergunakan akan mempengaruhi kesempatan yang berikutnya.

Orang yang mengenakan jam tangan untuk mengukur waktu (dikatakan demikian karena ada orang yang mengenakan jam tangan hanya untuk menjadi hiasan yang mahal) biasanya memiliki pengertian yang lebih dalam dan lebih peka tentang waktu karena dia merasa perlu tahu akan posisi dia di dalam waktu.

Orang yang peka terhadap waktu, secara sadar akan mulai memperhatikan hidup dan nilai hidup yang dijalaninya sesuai dengan pola pikirnya. Seorang penjahat akan mengukur waktu dengan teliti untuk merampok buruannya dan seorang pelari akan mengukur waktu dengan teliti untuk mengasah kemampuannya. Seorang beragama akan mempergunakan waktu untuk memperbaiki hidupnya seturut kepercayaannya supaya masuk surga, sementara yang tidak beragama akan mempergunakan waktu untuk membangun hidupnya seturut pemahaman dia akan konsep nilai hidupnya.

Sampai disini, mungkin kita sadari bahwa waktu hanyalah sebuah wadah yang bersama-sama dengan ruang, membentuk suatu tempat dan kesempatan bagi kita. Namun terlepas dari apakah penjelasan itu valid atau tidak secara filosofis, penjelasan itu tidak lebih penting daripada apa yang harus kita lakukan di dalam waktu yang kita miliki. Perasaan tentang kesadaran tentang waktu seharusnya membawa kita kepada pengertian bahwa sebentar saja semua ini akan berlalu dan apa yang akan kita lakukan tentang itu.

Apakah waktu itu adalah kesadaran tentang nilai hidup, ataukah waktu itu adalah perasaan tentang nilai kekekalan, ataukah waktu itu adalah kesadaran akan keterbatasan, semuanya tidak lebih penting daripada respon yang harus tepat menyikapi waktu.

Waktu dan Kekekalan Yang Lain

Ada satu hal yang menarik tentang waktu dan kekekalan yang saya rasa layak untuk disinggung sedikit dalam tulisan ini, yaitu dari religi Kristen. Sementara agama berbicara tentang bagaimana surga dan neraka, agama yang satu ini terus menerus berbicara tentang keselamatan jauh lebih banyak daripada berbicara tentang surga dan neraka. Agama ini menuntut pengikutnya untuk mengejar nilai yang tertinggi supaya mereka boleh diselamatkan dan tidak binasa, bukan untuk masuk surga, karena surga pada nantinya akan menjadi konsekwensi atau hasil dari keselamatan itu. Dan keselamatan itu diberikan sebagai hasil dari pengampunan akan dosa dan kesalahan manusia yang tahu bahwa dirinya berdosa dan mau mengakui dosanya – semata-mata karena orang yang tidak tahu dirinya berdosa tentu saja tidak membutuhkan pengampunan. Setelah seseorang diselamatkan, barulah ia dituntut untuk merubah pola pikirnya dan mempergunakan waktunya dengan bijaksana dan mengejar nilai-nilai yang tertinggi, yang terbaik, yang benar; untuk membuktikan bahwa dirinya sudah diselamatkan dan sekarang tidak mau kembali kepada masa lalunya yang berdosa.

Tampaknya konsep ini yang menyebabkan Kekristenan menghasilkan warisan budaya yang tinggi seperti musik, arsitektur, lukisan, yang mempengaruhi waktu dan sejarah selama ratusan tahun. Termasuk mempengaruhi munculnya alat pengukur waktu (baca: jam, arloji) yang sangat baik dari Geneva.

Disiplin Diri

Seberapa sering kita mendengar atau bahkan kita sendiri mengucapkan kalimat-kalimat sedemikian, “Saya ingin mendapatkan nilai baik, tapi kemarin saya tidak sempat belajar,” atau “Saya ingin menurunkan berat badan, tapi saya sangat suka sekali gorengan dan kue coklat,” atau “Saya sudah berusaha untuk bangun lebih pagi supaya tidak terlambat masuk kerja, tapi saya tidak punya cukup motivasi,” atau yang terakhir ini “Saya sudah mencoba mencari motivasi baru supaya pekerjaan saya ini tidak terasa membosankan sehingga saya bisa berprestasi.”

Seringkali kita mengira kurangnya motivasi merupakan sebab utama kegagalan kita. Namun saya sangat yakin, kekurangan atau ketiadaan motivasi bukanlah sumber permasalahan disini. Beberapa orang mengira bahwa dirinya membutuhkan motivasi, sementara yang sebenarnya dia butuhkan adalah disiplin diri. Meninjau semua contoh di atas, ingin mendapatkan nilai yang baik sudah merupakan motivasi belajar lebih giat; Kemauan menurunkan berat badan adalah motivasi; Upaya untuk bangun lebih pagi supaya tidak terlambat masuk kerja adalah motivasi; Memiliki keinginan untuk berprestasi, itu sudah merupakan motivasi. Jadi motivasi sudah terlebih dahulu ada melalui kesadaran untuk melakukan sesuatu.

Yang mereka butuhkan bukanlah motivasi, mereka membutuhkan disiplin diri.

Orang yang keras terhadap dirinya sendiri adalah orang yang jarang merasa menyesal. – Confusius

Disiplin didefinisikan sebagai kegiatan aktif untuk mengikuti suatu aturan atau ketentuan perilaku tertentu. Seringkali disiplin berkaitan langsung dengan konsekuensi dan hukuman yang bersifat menekan munculnya perilaku yang menyimpang dari aturan. Dengan demikian, secara prinsip, disiplin diri memiliki makna sebagai upaya aktif untuk menekan keinginan dasar dari diri sendiri yang tidak baik atau tidak benar atau tidak tertib dengan cara mengekang keinginan dan mengendalikan perilaku diri sendiri. Hingga sampai batas tertentu, disiplin diri merupakan suatu bentuk dari motivasi.

Disiplin diri adalah proses yang terjadi ketika seseorang menggunakan pengertiannya untuk mengekang segala keinginan yang tidak sejalan dengan motivasi atau idealisme atau tujuan hidup seseorang. Secara sederhana, disiplin diri berarti menentang kesenangan diri. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang cinta diri (baca: humanis). Segala yang diinginkan oleh manusia selalu mengarah pada hal yang remeh, yang impulsif, dan tidak baik atau tidak benar. Karena itu manusia harus dididik supaya menjadi manusia yang seutuhnya ‘manusia’.

Saya tidak pernah setuju dengan pemikiran dunia psikologi yang menyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Karena saya yakin tidak seorangpun merasa mudah untuk mengendalikan keinginan dirinya sendiri. Anak-anak harus dididik dengan tekun dan berulang-ulang, dengan keras dan susah payah sebelum dia menjadi dewasa dan berperilaku dengan patut. Setelah dia dewasa dan mengetahui segala hal yang baik di dalam kepalanya pun, yang jelek dan salah yang dikerjakannya.

Contoh yang paling saya sukai adalah perihal perilaku merokok. Siapa yang tidak tahu bahwa merokok itu tidak baik dan sangat merusak kesehatan? Mulai dari orang yang tidak bisa membaca hingga yang berpendidikan sangat tinggi, hingga mereka yang duduk dalam pemerintahan yang mengatur jutaan orang dalam sebuah bangsa, tidak mungkin mereka tidak mengetahui bahaya merokok terhadap dirinya dan terhadap orang disekitarnya. Tapi betapa susahnya bagi seseorang ketika bahkan dirinya sendiri berusaha untuk berhenti merokok.

Karena manusia itu pada dasarnya liar dan rusak maka manusia perlu dididik. Mula-mula oleh orang tua, orang yang lebih tua, pendidik, dan hingga tiba waktunya dia harus mendidik dirinya sendiri dan bertanggung jawab penuh terhadap dirinya sendiri. Dengan akal budi dan pikirannya, dia harus bisa mengarahkan hidup dan tingkah laku dalam menentukan langkah yang terbaik untuk mencapai tujuan hidupnya; Mengambil keputusan dan langkah-langkah yang berlawanan dari yang dia sukai atau dia inginkan. Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa dia harus mengambil langkah yang bertentangan dengan apa yang dianggapnya sebagai kesenangan. Dibutuhkan disiplin dan kontrol diri untuk memampukan diri dia sendiri mengendalikan dan mengarahkan dirinya pada tujuan dan keinginan hidupnya yang kadang kala tidak baik atau benar atau bernilai.

Dalam proses mendisiplinkan diri sendiri, seringkali yang menjadi penghambat bagi seseorang untuk berkomitmen penuh pada sebuah tujuan bukanlah tingkatan atau bentuk motivasi yang dia miliki, namun lebih kepada pola pikir yang mendasari sifat dan perilaku yang melawan komitmennya. Banyak orang berpikir bahwa keberhasilan itu adalah kasus tertentu karena orang lain memiliki tingkat disiplin atau motivasi yang jauh lebih besar daripada dirinya. Hal itu sama sekali tidak benar, terlepas dari pengertian tentang bakat dan talenta.

Hard work beats talents if talents do not work hard.

Terjemahan: Kerja keras mengalahkan bakat, jika bakat tidak dikerjakan dengan keras.

Sebagai ilustrasi:
Banyak orang ingin menjadi juara kelas, namun tidak mau melakukan apa yang dilakukan oleh seorang juara kelas. Banyak pula orang yang mau menjadi pintar, namun tidak mau mengorbankan waktu bermainnya untuk membaca banyak buku. Sementara yang lain hanya memiliki motivasi untuk menjadi sehat namun menolak untuk mengekang seleranya terhadap makanan yang tidak sehat. Dan banyak sekali orang ingin menjadi berhasil dalam pekerjaannya, namun tidak mau bekerja keras dan bersusah payah.

Sebenarnya mereka yang memiliki atau berhasil menciptakan kebiasaan yang mendukung suatu idealisme atau tujuan tertentu dengan hidup mereka tidak memiliki kekhususan atau kelebihan dalam kemampuan disiplin atau kontrol diri atau pun motivasi diri yang lebih besar. Mereka bukan orang-orang yang sempurna dan tidak pernah tersandung atau gagal. Mereka tidak selalu konsisten seperti yang sering diperkirakan oleh banyak orang. Kedisiplinan mereka juga pernah gagal dan perilaku mereka terkadang kendor dan tidak sejalan dengan tujuan hidup dan idealisme mereka.

Sang juara kelas tidak selalu berada di depan buku dan belajar. Orang yang pintar tidak selamanya membaca buku dan tidak tahu akan dunia luar. Orang yang hidup sehat tidak berarti tidak mau atau tidak bisa atau tidak pernah menikmati makanan yang dia sukai. Dan stereotype yang umum namun keliru adalah bahwa orang pintar adalah kutu buku, berkacamata tebal, fisik yang lemah, dan tidak pandai bersosialisasi. Padahal Neils Bohr dan Philip Baker adalah pemegang hadiah Nobel yang juga adalah olah ragawan yang ikut dalam Olympic. Dalam filsafat pendidikan Yunani kuno pun faktor fisik telah menjadi perhatian.

Keberhasilan mereka dibandingkan dengan kegagalan semua yang lain ada pada satu kualitas mental dan pola pikir dalam diri mereka yang lebih konsisten, yaitu bahwa mereka secara disiplin dan konsisten melawan diri dan keinginan yang bertentangan dengan idealisme mereka. Dalam diri mereka terdapat pengertian bahwa musuh terbesar mereka bukanlah hal-hal yang diluar, melainkan diri mereka sendiri.

Mereka tidak melihat fenomena di sekitar mereka sebagai permasalahan, namun sebagai tantangan yang harus diselesaikan dan dilalui. Mereka mendahulukan rasionalitas dan logika mereka dan mengabaikan keinginan hati mereka, memikirkan arah dan tindakan yang harus mereka lakukan untuk melampaui tantangan yang mereka hadapi. Mereka tidak dengan mudah mencari alasan untuk pembenaran diri atas sebuah kelalaian atau kegagalan, sebaliknya mereka mengambil tanggung jawab penuh dalam tiap kesalahan yang mereka perbuat dan belajar dari kesalahan itu, memastikan bahwa kesalahan yang sama tidak boleh terulang. Mereka mendidik diri mereka dengan keras, dengan idealisme yang tinggi namun bertindak secara pragmatis.

Bukannya bersikap kasar dan menghajar tanpa belas kasihan terhadap diri sendiri, mereka dengan tegas dan keras mendidik diri dan mencari solusi untuk memperbaiki cara mereka menghadapi situasi yang sama di lain waktu.

Ketika seseorang terlambat bangun saat hari-hari bekerja, bukannya bangun dan kemudian marah-marah pada dirinya sendiri, dia mencari solusi terhadap kegagalannya hari itu. Dia berjanji akan memaksa dirinya dengan lebih keras untuk tidur lebih awal di lain waktu.
Yang celaka adalah dia yang terlambat bangun kemudian marah pada orang disekitarnya. Orang seperti itulah yang tidak akan pernah menjadi manusia yang lebih berkualitas baik.

Itulah yang dikerjakan oleh orang-orang yang ‘sukses’ dalam hidupnya. Mereka dengan sadar penuh akan tanggung jawab mereka terhadap diri mereka dan secara konsisten terus menerus memikirkan cara untuk menjalani hidup mereka dengan lebih baik dalam segala hal. Itu adalah mentalitas, bukan perilaku yang hanya di permukaan. Setiap kegagalan adalah tantangan baru yang harus mereka pelajari agar lain waktu bisa mereka hadapi dengan lebih baik. Orang-orang seperti itu memiliki banyak skenario dan pola pikir di dalam kepalanya tentang bagaimana menghadapi segala situasi berdasarkan kekayaan pengalaman hidup mereka. Mereka adalah orang-orang yang akan semakin lama semakin jarang merasa menyesali tindakan mereka, mental mereka terus diperbaharui oleh pembaruan akal budi mereka.

Discipline is doing what you know needs to be done. Even when you don’t want to do it.

Terjemahan: Disiplin adalah melakukan hal yang kita tahu harus dikerjakan. Bahkan ketika kita tidak ingin melakukannya.