Ironi Kontradiksi Antara “Kemauan” dan “Kelakuan” dalam Psikologi

Saya yakin, banyak dari kita –atau mungkin bahkan semua kita– pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat seperti demikian, ‘Saya ingin sehat, tapi susah sekali mau mulai berolahraga,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk memiliki berat badan yang ideal, tapi susah sekali untuk menahan keinginan untuk makan,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk rajin, tapi kenapa selalu gagal fokus.’

Kita semua pasti pernah, atau paling tidak merasakan bahwa ada kesenjangan antara apa yang kita mau dan yang kita lakukan yang ternyata kemudian bertentangan dengan tujuan kita seperti contoh yang barusan saya sebutkan. Fenomena kesenjangan antara keinginan dan kekuatan komitmen kita sering kali menjadi penghambat antara impian dan kenyataan. Fenomena sedemikian menciptakan banyak motivator yang mendorong dan menyemangati kita dengan banyak sekali kalimat-kalimat yang mendongkrak motivasi.

“Everything is about HOW BAD DO YOU WANT IT”

Segala hal adalah tentang SEBERAPA BESAR KEINGINANMU

Saya pribadi menyukai kalimat itu. Kalimat itu menyatakan pada kita untuk mencari kedalam diri kita sendiri, seberapa besar keinginan kita, seberapa dalam ambisi kita, dan ketika kita sudah mengetahuinya, maka sebesar itu pula daya dan tenaga yang akan muncul untuk mendorong kita untuk meraih yang kita dambakan.

Tapi benarkah motivasi-motivasi sedemikian benar-benar bermanfaat? Tidakkah kita semua terus mendengar banyak orang yang mengeluhkan hal yang sama? Yang ingin sehat tetap tidak berolahraga, yang ingin memiliki berat badan ideal tetap tidak berhenti ngemil dan makan, yang ingin tidak mencontek tetap malas belajar, yang tahu bahwa merokok tidak sehat tetap tidak berhenti merokok, yang mengerti bahwa candu itu mengerikan tetap tidak berhenti dengan kecanduan, yang ingin saleh tetap tidak behenti menipu, tidak jujur, dan korupsi, yang beragama dan menyebut nama tuhan tetap saja merebut sikap dan menjadi tuhan bagi manusia lain, yang tahu bahwa diri sendiri memiliki salah tapi tetap berani menghakimi orang lain, dan yang ingin masuk surga tetap tidak berhenti berbuat dosa. Tidak ada yang berubah. Semua tetap sama. Manusia tetap adalah manusia yang penuh dengan kesalahan dan kelemahan.

“Belajar melakukan satu hal yang baik saja belum, sudah selesai melakukan seratus hal yang jahat.”

Pernahkah mendengar pepatah tersebut? Itulah gambaran tentang kita, manusia. Kita berjuang untuk menjadi baik, bersusah payah dan berjerih lelah supaya bisa menjadi orang benar, berkualitas, berbudaya tinggi, agung, anggun, berpengetahuan, berwawasan, berbijaksana, bermoral, dan seterusnya. Dan untuk mencapai itu semua adalah tidak mudah, dituntut ketekunan dan perjuangan dan pembelajaran. Namun apa daya, belum juga selesai belajar untuk menjadi positif, kita semua sudah selesai melakukan semua hal yang sebaliknya, yang bertentangan dan yang negatif: kita egois, tidak toleran, tidak mau mengerti kesulitan orang lain, hidup seenaknya, tidak tertib, tidak taat aturan, malas, tidak perduli dan tidak peka terhadap hal disekitar kita, mengumbar hawa nafsu, dan seterusnya. Dan kesemuanya bahkan tidak perlu kita pelajari, tidak perlu pembelajaran, kita lakukan sambil lalu, bahkan tidak perlu kita upayakan atau kita pikirkan.

Mengapa sedemikian? Karena kita manusia. Itulah alasan yang selalu kita lontarkan. Namanya juga manusia. Setelah selesai meminta maaf, kemudian berbuat salah lagi. Sudah selesai menangis dan menyesal, kemudian kembali melakukan hal yang sama. Kita hanya manusia. Membuat saya kadang bertanya-tanya, benarkah perbuatan baik yang saya lakukan bisa ditimbang dan jadinya lebih banyak daripada kesalahan saya?

Apakah kita tidak memiliki keinginan untuk menjadi baik? Apakah kita tidak termotivasi untuk menjadi makhluk yang agung, makhluk yang berbeda dengan binatang, makhluk yang berakal dan berbudi pekerti? Saya yakin jawabannya adalah tidak demikian, kita termotivasi, sungguh-sungguh mau dan termotivasi. Tapi kita tidak pernah berhasil. Paling tidak, saya tidak pernah berhasil. Saya tidak tahu tentang Anda.

Hal ini bukanlah masalah sosial, bukan problematika sosiologi, bukan juga permasalahan psikologi. Kita seringkali dengan ringan menyalahkan orang lain, “aku berusaha baik, tapi lingkunganku yang membuat aku begini dan mempengaruhi aku.” Dengan kata lain, “aku baik, orang-orang itu yang jahat dan membuat aku ketularan menjadi jahat.” Dan semua orang merasakan hal yang sama, dia merasa baik, tapi lingkungan (baca: semua orang yang lain) yang jahat. Bukankah kita masing-masing adalah ‘lingkungan’ bagi semua orang yang lain? Dengan demikian, tidakkah kita secara kolektif adalah sebenarnya jahat? Sudah diri sendiri jahat, masih menuduh orang lain yang jahat dan mempengaruhi kita –‘katanya’– sehingga kita menjadi jahat. Tidakkah kejahatan kita jadi berlipat, menjadi orang jahat dan menuduh serta memfitnah orang lain sebagai orang jahat?

Masalah tentang perbedaan antara keinginan dan kelakuan ini adalah masalah dengan manusia. Manusia memang sedemikian. Tidak ada jalan keluar.

“This is not a technical problem, not motivational problem, not strong will problem. This is a ‘people problem’. And we cannot fix people. No one can.”

Hal ini bukanlah masalah teknis, bukan masalah motivasi, bukan masalah tekad. Ini adalah ‘masalah manusia’. Dan kita tidak bisa memperbaiki manusia. Tidak ada yang bisa.

Sebagian manusia secara fenomena yang kasat mata terlihat baik, terlihat jujur, terlihat sopan, sampai suatu ketika topeng-topeng itu terbongkar dan terlihat sejatinya. Kembali kepada kalimat motivasi favorit saya, semua itu adalah tentang seberapa besar keinginan kita, tetapi hal itu tidak berlaku untuk semua hal. Dalam beberapa hal, motivasi dapat mendorong kita, namun tidak dalam semua hal. Demikian pula dengan psikologi, sampai dalam hal tertentu, psikologi dapat membantu, namun tidak dalam semua hal. Dan tidak ada jalan keluar lain yang dapat ditawarkan.

Paling tidak, tidak dari apa yang selama ini kita kenali sebagai pengetahuan atau filsafat atau agama.

“You’re a man looking at the world through a keyhole. You’ve spent your whole life trying to widen that keyhole… to see more, to know more. And now, on hearing that it can be widened, in ways you can’t imagine, you reject the possibility.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Kamu adalah seseorang yang mengamati dunia ini dari lubang kunci. Kamu menghabiskan seluruh hidupmu mencari cara untuk memperbesar lubang kunci itu… untuk melihat lebih banyak, mengetahui lebih banyak. Dan sekarang, saat mendengar bahwa lubang itu dapat diperbesar, dengan cara yang tidak dapat kamu bayangkan, kamu menolak kemungkinan itu.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Sampai pada titik ini, pada situasi yang tampaknya tanpa pengharapan, bagi Anda yang merasakan sedemikian, saya dengan jujur akan mengatakan bahwa saya tidak menulis artikel ini untuk membuat Anda berputus asa. Saya menemukan jawaban dalam buku orang Kristen. Bahwa perubahan dan motivasi yang kuat adalah motivasi yang berasal dari dalam diri. Hal ini juga diketahui oleh kita semua. Motivasi yang berasal dari luar diri tidak akan bertahan lama. Akan tetapi, motivasi seperti apa dan darimana motivasi itu bisa berasal (yang kemudian berada dalam diri seseorang) yang bisa bertahan lama?

Di dalam kepercayaan Kristen, dikatakan bahwa di dalam Yesus, ada kuasa yang memperbaharui dan merubahkan. Perubahan secara fenomena dapat dilakukan oleh siapapun, untuk menipu diri sendiri dan orang lain. Tapi tidak jarang pula, perubahan fenomena itu bisa bersifat sejati. Tetapi ketika menyentuh hal-hal tentang perubahan yang sifatnya esensi dan intisari, yang berkenaan dengan kesalehan, moralitas, kebenaran, kasih dan keadilan, tidak ada perubahan secara fenomenal yang dapat bertahan lama. Perubahan dari luar adalah bersifat sementara dan bahkan bisa mendatangkan frustasi dan keputusasaan dan ketegangan dalam diri. Bayangkan seperti ini, tentang pekerja yang hanya kelihatan rajin saat ada atasannya mengawasi. Itu adalah perubahan fenomena. Dia ingin terlihat baik supaya pekerjaannya dihargai. Tetapi perubahan itu hanya akan mendatangkan ketidaktenangan ketika dia mengerjakan pekerjaannya. Akan tetapi dengan perubahan yang dari dalam diri, ketika dia tahu bahwa dia harus bekerja sebaik-baiknya karena itu adalah hal yang jujur dan benar, dia akan bekerja rajin, baik pada saat ada yang melihat ataupun pada saat sendirian.

“Apakah moralitas itu? Moralitas adalah melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang melihat.”

Tentang hal pekerjaan, itu adalah hal yang kelihatan.

Tentang kesalehan, kesucian hidup, kejujuran, dan seterusnya, siapakah yang bisa mengetahui? Hanya takut akan Tuhan yang sejati yang bisa menjaga hal-hal yang sifatnya tidak kelihatan. Di dalam buku orang Kristen dikatakan, “Takut akan Tuhan adalah awal dari pengetahuan.” Itulah moralitas. Hiduplah sedemikian seperti hidup senantiasa dihadapan Tuhan. Perubahan bermula dari penyesalan, dan kita yang telah bersalah, diampuni dosanya oleh Yesus. Dari penebusan dosa oleh Kristus akan ada perubahan dari dalam diri masing-masing orang yang akan mendatangkan dan memunculkan hidup. Kekuatan dari dalam itulah yang menghidupkan seseorang dan memampukan dia untuk dirubahkan.

Sama seperti kehidupan semua makhluk hidup yang berasal dari dalam. Kehidupan tidak pernah berasal dan ditopang dari luar diri, melainkan selalu dari dalam. Ketika manusia berusaha memotivasi diri dari luar, kemudian berputus asa dengan keterbatasannya dan perjuangannya untuk menjadi makhluk yang sejatinya adalah yang berakhlak dan bermoral, ketika tidak ada jalan keluar melalui tuntutan agama dan pengetahuan, iman Kristen memberikan jalan keluar.

Ilmu pengetahuan berbicara tentang benar dan salah. Kemudian Agama –semua tanpa kecuali– berbicara tentang baik dan jahat. Dan Filsafat berbicara tentang bijak dan bodoh. Hanya iman Kristen yang berbicara tentang hidup dan mati yang kekal.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” – Yesus

Tidak pernah ada siapapun pernah mengatakan hal sedemikian (jika Anda menemukan orang waras lain yang pernah mengatakan hal sedemikian, tolong beritahu saya). Iman Kristen tidak hanya bicara tentang benar dan salah atau baik dan jahat, tetapi terutama adalah tentang hidup. Agama mencari jalan. Pengetahuan dan filsafat mencari kebenaran. Dan hampir semua manusia yang pasti akan mati mencari ‘kehidupan’. Dan semuanya ada didalam Tuhan-nya orang Kristen.

Advertisements

Perspektif Tentang Problema Manusia dan Ekstensinya

Sebagian dari kita, kadang kala atau bahkan seringkali, terbentur pada pemikiran-pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai hal-hal yang terjadi dalam dunia kita. Mulai dari kesadaran akan pemanasan global (global warming), bencana alam, kerusakan dan pengrusakan alam, kepunahan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan, perubahan ekosistem dan biosphere, ketidakperdulian manusia terhadap banyak hal, perbuatan-perbuatan manusia terhadap alam dan sesamanya yang semakin pragmatis, dan seterusnya, dan sebagainya.

Namun sebagian dari kita sama sekali tidak pernah memikirkan apapun. Sebagian dari kita hanya memikirkan semua yang bersinggungan langsung dengan kita. Tentu saja, karena sebagian dari kita hanya selalu sibuk memikirkan diri kita sendiri.

“Tragedy is when I cut my finger; comedy is when you step on a banana peel, fall into an open sewer and die” – Mel Brooks

Tragedi adalah ketika jariku tergores; komedi adalah ketika kamu terpeleset kulit pisang, jatuh kedalam selokan dan mati. – Mel Brooks

Tidakkah terkadang –atau bahkan sering kali– kita terheran-heran dengan manusia dan perilakunya. Keputusan-keputusan yang diambilnya. Tindakan-tindakan yang dikerjakannya. Kita diterpa dengan berbagai macam hal setiap hari, terutama dalam era digital dan globalisasi informasi ini, menjadikan kita terbiasa dan dengan mudah menjadi tidak perduli dengan banyak hal yang begitu membombardir pemikiran kita. Setelah aliran filsafat pre-modern pada jaman revolusi industri, memasuki masa modern setelah dua kali perang dunia, dan masa post-modern sekarang ini, menjadikan manusia yang dulunya mencari kebenaran secara konsep, kemudian dengan ilmu pengetahuan, sekarang menjadi manusia-manusia yang lebih terfokus pada keuntungan praktis, dan tidak mau berpikir banyak serta pragmatis.

Banyak hal yang dulu dianggap salah, sekarang diterima, dan menjadi arus besar. Banyak hal yang dulu dianggap tidak bernilai, sekarang menjadi hal yang dicari orang. Dunia telah bergeser sedemikian banyak dan mengakibatkan banyak orang kehilangan arah tentang apa yang baik, yang benar dan yang bernilai.

Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) menjadi isu yang dipaksakan untuk harus diakui dan diterima. Desakan yang membuat banyak orang kebingungan ditengah arus besar ini. Keberagamaan menjadi isu yang tidak kalah sengitnya, ditengah-tengah upaya untuk memahami bahwa seharusnya agama membawa manusia kepada kedamaian dan ketenangan, memberikan harmoni dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam, ternyata mengakibatkan pembunuhan dan memporakporandakan dunia. Dan seringkali terlihat bahwa orang yang tidak beragama seringkali lebih baik dari mereka yang menyebut dirinya beragama, namun paling berani berbuat jahat. Manusia juga dihadapkan pada kenyataan bahwa alam sudah semakin berubah dan menjadi tidak nyaman dengan polusi, pencemaran, perubahan cuaca, kerusakan alam, kepunahan hewan dan tumbuhan, dan alam menjadi musuh manusia dengan bencana alam dan berbagai fenomena yang bahkan dulu tidak banyak terjadi.

Manusia menjadi pesimis, terombang-ambing, kehilangan pegangan, tersesat dalam kebingungan dan ketidakmengertian. Sebagian yang berusaha berjuang memperbaiki alam, dihadapkan pada ketidakperdulian banyak orang dan pihak otoritas. Sebagian yang berusaha membangkitkan kesadaran akan kebaikan dan kebenaran menjadi musuh banyak orang. Sebagian yang berusaha mempertahankan integritas, dipertentangkan dengan keegoisan mayoritas manusia yang lain.

Manusia mulai mempertanyakan, apakah kebenaran dan kebaikan itu?

Dan lebih jahat lagi, manusia mempertanyakan dimanakah Tuhan?

Dan inilah jawabannya, yang saya temukan dalam buku orang Kristen dan tidak saya temukan dalam pemikiran manapun. Tuhan tidak berada dimana-mana, karena Dia ada dimana-mana. Kita manusia yang berdosa yang sudah menghilang dari Tuhan. Kita tidak memperdulikan Dia. Kita sudah berdosa dan melawan Dia. Kita merusak diri kita sendiri dan sesama kita, serta semua yang kita sentuh, dan setelah semua rusak, kita bertanya dimana Tuhan. Itulah yang saya sebut dengan ‘JAHAT’.

Manusia adalah ciptaan Tuhan, dalam kita berlaku hukum pencipta dan ciptaan.

Jika kita tidak mengakui bahwa kita adalah ciptaan Tuhan, maka tidak ada jawaban untuk semua yang mau kita bahas sekarang. Karena jika dunia ini adalah berasal dari -misalnya- Big-Bang dan kita adalah makhluk -misalnya- hasil evolusi yang karena anomali, terjadi secara tiba-tiba dan kebetulan, maka kita tidak memiliki tujuan ultimat dan tidak memiliki nilai apapun. Bagaimana sesuatu yang terjadi secara kebetulan bisa memiliki nilai apapun, apalagi nilai yang tinggi.

Tidakkah segala sesuatu yang terjadi kebetulan tidak memiliki nilai dan tidak memiliki tujuan dan tidak memiliki dasar logika yang sah sebagai sesuatu ‘yang bisa diketahui’ (berdasar pada prinsip ‘ILMU PENGETAHUAN’ yang bisa diketahui, maka sesuatu itu harus bisa diuji coba, berulang kali, dan konsisten. “KEBETULAN” tidak memiliki semua hal itu. Evolusi dan Big Bang teori tidak memiliki ciri ilmu pengetahuan yang sah, namun dipercaya secara buta dan diakui kebenarannya secara keyakinan –baca: iman– yang semu.)

Kita lanjutkan: Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut rencana Sang Pencipta berdasar bentuk dan rupa dan kehendak pencipta yang mulia, maka manusia menjadi satu-satunya makhluk yang bisa berpikir karena manusia memiliki bahasa dan berakal budi (buktinya: cobalah berpikir dan merenungkan sesuatu TANPA MENGGUNAKAN BAHASA, -tidak usah dicoba karena tidak akan bisa-).

“Manusia tahu bahwa ada yang baik dan ada yang benar. Tapi manusia kebingungan membedakan mana yang adalah mana.”

Manusia yang dicipta dengan sangat baik adanya, namun yang sekarang telah kehilangan kemuliaan yang sejatinya ada pada kita karena sebenarnya kita diciptakan seturut dengan peta dan teladan Tuhan. Manusia menjadi musuh Tuhan dan sudah melawan Tuhan dan terhilang. Jangan kita mempertanyakan dimana TUHAN. Kita yang telah lari dari Dia. Dan sejak hari ketika manusia mulai berdosa, manusia tidak pernah mencari Dia. Kita hanya selalu merasa bahwa kita mencari Tuhan. Tapi Tuhan yang sejati tidak bisa ditemukan oleh kita yang berdosa. Tidak ada yang mencari Tuhan, tidak ada seorangpun yang baik, dan tidak seorangpun mencari Tuhan.

Saat bolpen kita hilang, atau baju kita hilang, atau kunci kendaraan kita hilang, atau adik atau anak kita hilang, siapa yang mencari siapa? Yang hilang tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Yang tahu bahwa sesuatu itu hilang adalah ketika sang pemilik atau yang ‘lebih tinggi’ menyadari bahwa sesuatu itu hilang.

Bolpen atau baju atau kunci kendaraan tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Adik atau anak kita baru merasa hilang ketika dia menoleh kesana dan kemari dan tidak menemukan kita. Selama dia tidak mengacu dan kembali memikirkan tentang kita, dia tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Bahkan setelah dia merasa hilang, siapa yang lebih mungkin menemukan siapa? Bisakah kita membandingkan diri kita dihadapan pencipta kita seperti anak berusia 3 tahun dengan ibunya? Tidak bisa! Kebijaksanaan ibu tidak bisa dibandingkan dengan kebijaksanaan Tuhan. Dan dihadapan Tuhan, kita yang diciptakan dari debu dan tanah, jauh lebih tolol daripada anak usia 3 tahun. Kita lebih mirip bolpen atau baju atau kunci kendaraan. Bahkan bolpen atau baju atau kunci kendaraan lebih bermakna dan berfungsi daripada kita yang seringkali tidak tau mengapa kita ada dalam dunia dan kenapa kita diciptakan dan untuk apa kita dilahirkan dalam dunia ini. Bolpen, baju dan kunci kendaraan memiliki ‘makna hidup’ yang sangat jelas. Kita manusia seringkali tidak jelas mau berbuat apa dengan kehidupan kita.

Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang mencari manusia. Karena manusia berdosa tidak bisa mencari Tuhan dan menemukan Tuhan.

Manusia dalam keberdosaannya, tetap bisa mengetahui bahwa ada yang benar, dan ada yang salah. Ada yang baik dan ada yang jahat. Ada yang terang, dan ada yang gelap.
Akan tetapi, manusia dalam keberdosaannya tidak tahu apa yang mana. Mana yang baik, mana yang jahat. Dan manusia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Manusia menyukai apa yang dia sukai, manusia menginginkan apa yang dia mau, manusia mengerjakan apa yang menurut dia baik (dan dia merasa baik); namun semua yang dipilih lebih banyak yang salah daripada yang benar. Manusia mencintai, karena merasa cinta itu baik, kemudian mencintai kejahatan dan kesesatan dan kekerasan. Tanpa perspektif yang benar-benar benar, dan pengertian yang sejati, akan ada banyak hal yang dikerjakan manusia yang salah total.

Karena itulah, manusia terus terombang ambing dalam kebingungan, kenapa ada manusia yang tertarik dengan sesama jenis, kenapa ada manusia yang ingin menjadi lawan jenis, kenapa ada manusia yang dengan tidak perduli dan merusak alam, kenapa ada manusia yang tidak perduli menyakiti semua manusia yang lain, kenapa ada manusia yang membenci mereka yang tidak sama dengannya, kenapa ada manusia yang tidak memikirkan dampak dari perbuatannya sekarang yang memiliki potensi untuk merusak hidupnya dimasa depan. Kenapa dan kenapa dan kenapa. Dan kenapa Tuhan tidak campur tangan.

Tuhan tidak punya kewajiban untuk campur tangan.
Bahkan manusia saja tidak merasa perlu campur tangan terhadap barang yang kita ciptakan atau kita miliki. Kita memakai semua yang kita rasa adalah punya kita dengan sesuka hati kita. Itu adalah kuasa yang diberikan kepada kita untuk berbuat sesuka hati kita. Giliran hal buruk terjadi pada kita, mengapa kita menuntut Tuhan untuk melakukan sesuatu buat kita?
Kita bahkan tidak perduli pada Dia dalam seluruh bagian kehidupan kita yang lain, kenapa giliran kita susah, kita marah-marah kepada Tuhan? Tidakkah itu kejahatan dan kekurangajaran bahkan ketika hal sedemikian kita lakukan kepada orang tua atau pasangan hidup kita.

Tundukkanlah hidup kita pada Tuhan yang sejati, pada kebenaran yang sejati, supaya kita memperoleh kebijaksanaan untuk membedakan mana yang baik, mana yang benar, dan mana yang bernilai.

Dengan pengertian akan perspektif yang benar terhadap posisi kita didalam alam semesta ini, seharusnyalah pikiran kita menjadi lebih terbuka dalam perjalanan dan upaya kita mencari kebenaran yang sejati dan penjelasan terhadap berbagai aliran filsafat dan fenomena dan gelombang gerakan-gerakan yang terjadi disekeliling kita dan mengacaukan hidup kita.

Tanpa kebenaran yang menguasai hidup kita, tanpa kita menjadi murid kebenaran dan tunduk mutlak pada kebenaran yang sejati, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk merubah hidup kita. Dengan berada dalam kebenaran, dengan memiliki pengertian dan perspektif yang benar, kiranya kita boleh menjadi manusia-manusia yang lebih baik dan membawa orang-orang disekitar kita menjadi lebih baik. Menjadi berkat buat semua orang disekitar kita, tanpa kecuali, dan menjadikan dunia ini menjadi lebih baik.

Esensi Kebebasan dalam Diri Manusia

Manusia selalu mempermasalahkan mengenai kebebasan dirinya, kebebasan kehendaknya, kebebasan sebagai hak yang paling asasi, katanya. Tetapi ketika kebebasan itu diberikan padanya, manusia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya dan apa yang akan dilakukan dengan kebebasan yang dia miliki tersebut.

Manusia adalah makhluk yang tidak bisa dipercaya untuk mengelola kebebasan yang dia miliki, karena pemikiran-pemikiran manusia banyak yang tidak lurus. Sejak berakhirnya era enlightenment serta jaman modern, kemudian memasuki era post-modernisme, pemikiran-pemikiran manusia semakin lama semakin menjadi pemikiran yang berupa kesadaran kolektif. Keunikan dari era post-modern ini adalah ketika identitas individu semakin ditegakkan, ketika kebenaran-kebenaran pribadi yang sifatnya parsial semakin ditonjolkan, akhirnya malah membentuk sebuah identitas diri yang sifatnya menjadi global dan individualitas masing-masing orang lenyap dalam sebuah arus besar (hal ini tentu saja karena kemajuan teknologi jaringan global data internet dan komunikasi). Permasalahan dengan hilangnya identitas individu yang ditegakkan ditengah identitas global semakin menunjukkan bahwa setiap orang itu berbeda, akan tetapi tidak unik. Manusia tidak lagi dipandang sebagai individu-individu yang unik. Setiap orang secara sadar atau tidak, kemudian akan mengikuti sebuah arus kesadaran atau identitas antara seorang yang satu dengan yang lain membentuk sebuah arus yang besar. Sebagai makhluk sosial, adalah natur manusia untuk melakukan konformitas supaya dirinya bisa diterima oleh sebuah golongan yang merepresentasikan identitasnya.

Tapi sekali lagi, dalam kurva Gauss atau kurva distribusi normal, rata-rata orang dalam kelompok terbesar adalah kelompok mayoritas. Dalam distribusi apapun dalam dunia ini, berlaku distribusi yang berbentuk piramida. Semua arus paling besar, kualitas paling rendah, semua yang sifatnya paling umum, jumlah manusia yang tidak berusaha belajar, merupakan jumlah terbesar. Sementara semua yang menempati puncak piramida atau salah satu ujung kurva distribusi normal, merupakan kualitas yang paling tinggi, semua yang sifatnya paling unik dan terbatas, merupakan jumlah yang paling sedikit. Dan sejujur-jujurnya terlihat, manusia selalu mencari arus paling besar, paling mudah, paling seenaknya, paling menggampangkan, dan paling kecil tanggung jawabnya.

Dengan itulah manusia menggunakan kebebasannya. Untuk melakukan semua yang mudah, yang tidak mengikat, dan yang tidak bertanggung jawab. Semua yang tidak benar dan yang tidak bernilai. Manusia tidak bisa dipercaya untuk memegang kebebasan, karena begitu kebebasan diberikan, dia langsung menggunakan kebebasan itu untuk merusak hidupnya. Uniknya, ketika kebebasan itu diambil dari manusia, dia memberontak luar biasa dan menentang habis-habisan, berusaha memperjuangkan haknya untuk boleh merusak dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini tidak menggambarkan keadaan manusia dalam individu yang unik (jika yang unik itu masih ada), namun jelas menggambarkan keadaan manusia secara kolektif.

Ujung kurva Gauss, dalam kurva distribusi normal, puncak piramida, diisi oleh orang-orang yang mengekang dirinya sendiri dalam standard yang sedemikian tinggi, tanggung jawab yang besar, dan menyerahkan kesenangan dirinya. Ini adalah kelompok orang-orang besar yang menyerahkan kebebasan dirinya dan sebagai gantinya, dia mendapatkan kebebasan dalam hidupnya.

gaussian curve

Kurva Gauss atau Kurva Distribusi Normal

Inilah paradox kebebasan dalam hidup manusia. Siapa yang menyerahkan kebebasannya, dia memperoleh kebebasan itu. Siapa yang mempertahankan kebebasannya, dia akan kehilangan kebebasan dirinya. Manusia harus kembali pada kebenaran yang sejati, karena kebenaran yang sejati mengandung kebebasan yang sejati. Kebenaran yang sejati menuntut penyangkalan diri mutlak dan mengikuti idealisme yang benar-benar benar, yang baik, yang bernilai kekal. Di dalam kebenaran yang sejati barulah manusia mengetahui arah dan tujuan hidupnya dalam mempergunakan kebebasan yang dia miliki. Di dalam ‘ketidakbebasan’, manusia menemukan kebebasan yang sejati.

Seperti dalam kurva distribusi normal, akan ditemukan dua ujung, ujung tempat semua yang sangat baik, kualitas yang sangat tinggi; Dan ujung seberangnya tempat semua yang paling buruk, dengan kualitas yang sangat buruk. Penyangkalan diri mutlak terhadap idealisme yang rendah, yang tidak baik, yang tidak bernilai dan yang salah akan menghasilkan kehidupan yang merusak diri sendiri dan orang lain. Penyangkalan diri mutlak terhadap idealisme yang tinggi, kebenaran yang sejati, yang bernilai kekal, akan menghasilkan kehidupan yang mendatangkan faedah dan kebaikan bagi banyak orang dan bagi diri sendiri.

truth like a lion

Hal inilah yang membawa pengertian pada kalimat yang pernah saya baca dalam The Golden Rule – Sermon on The Mount (Khotbah di Bukit), kumpulan prinsip moralitas yang tertinggi dan sifat altruisme teragung yang ada dalam buku orang Kristen yang kebetulan saja hingga saat ini belum saya temukan pembandingnya yang setara dalam filsafat manapun. Topik tersebut kemudian membawa saya kepada naskah aslinya (Matius 5, Matius 6, Matius 7) yang menjadi bacaan yang sangat menarik. Yang jika kita baca bersama akan membawa kita kepada pengertian yang lebih tentang kebijaksanaan dalam moralitas kebenaran yang sifatnya membebaskan.

“Mereka melihat, tapi tidak melihat. Mereka mendengar, tapi tidak mendengar. Dan mereka tidak mengerti.”

Kesadaran Tentang Waktu

Apakah itu yang dimaksud dengan ‘WAKTU’?

Mengutip dari Agustinus, “Ketika tidak ada yang menanyakan, aku tahu apa itu waktu. Ketika aku berusaha menjawab pertanyaan tentang waktu, aku tidak tahu apa itu waktu.”

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kesadaran tentang waktu (sense of TIME). Dalam artian bahwa manusia mengerti dan mengenali pergerakan waktu dan relasinya dengan hidup dia. Binatang dan tumbuhan memang juga memiliki kesadaran akan waktu, namun dalam pengertian yang sama sekali berbeda dan lebih bersifat intuisi dan instingtif daripada kesadaran.

Waktu dan Kekekalan

Manusia mengenali waktu serta memiliki suatu ‘perasaan’ (jika tidak dapat disebut sebagai kesadaran total) dalam dirinya tentang paradoksitas waktu yang memiliki awal dan akhir, namun juga bersifat seolah-olah kekal karena terasa tanpa akhir. Terlebih daripada itu, ‘perasaan’ manusia tentang waktu dalam paradoks yang lebih besar memiliki cakupan yang melampaui waktu, yang bersifat kekal. Hal tersebut tampak sangat jelas dalam banyaknya pandangan dan pemikiran tentang adanya kehidupan setelah kematian.

Hidup manusia yang sangat terbatas dan pendek memunculkan suatu pengertian tentang waktu dan pencarian makna diri seumur hidupnya. Beberapa orang menemukannya, sementara yang lain kebingungan, dan sisanya tidak perduli atau berusaha untuk tidak perduli dalam pragmatisme penipuan diri. Namun, tidak perduli siapapun dia, selama kita hidup, kita tidak akan pernah lepas dari pemikiran tentang waktu.

Manusia berusaha memperpanjang hidupnya. Itu merupakan salah satu kesadaran paling nyata tentang pemikiran manusia dalam waktu dan kekekalan. Legenda dan dongeng serta mitos tentang kehidupan kekal, awet muda, hidup selama-lamanya, tidak bisa mati, adalah hal-hal yang mewarnai dan terus muncul dalam ide-ide pemikiran manusia sepanjang jaman mulai dari pengawetan jenazah, hingga upaya untuk menjaga kesehatan hingga mampu mencapai umur panjang, bahkan sampai pada pemikiran-pemikiran tentang upaya mencangkokkan otak atau kepala kepada tubuh yang baru dan lebih muda, kloning, memindahkan kesadaran manusia kedalam bentuk kesadaran digital atau robotik terus tanpa henti bermunculan dalam sejarah dunia.

Semua manusia yang normal dan berakal sehat, hidup dalam sebuah kesadaran ketat akan waktu yang mengikat dia. Setiap rencana yang dibuat selalu memiliki unsur waktu. Apapun yang dikerjakan akan selalu terkandung di dalamnya unsur waktu. Namun, seperti kata Agustinus, unsur waktu itu tidak selalu dapat dijelaskan dan hampir selalu tidak dapat dijelaskan.

Waktu dan Nilai

Dalam kesadaran tentang waktu, sadar ataupun tidak, mau ataupun tidak, kita tidak dapat lepas dari unsur NILAI atau value. Salah satu –jika bukan satu-satunya– alasan kenapa manusia mau menjadi kekal adalah karena dia memiliki pemikiran tentang nilai yang berusaha dicapainya supaya dia boleh terus berada dalam sejarah. Supaya dia boleh mendapatkan nama bagi dirinya di dalam dunia, menjadi seseorang yang tidak dilupakan, seseorang yang memiliki hidup yang diakui nilainya. Karena manusia menyadari, sebentar saja dia lahir, sebentar pula dia menghidupi waktunya, dan besok dia akan mati, dan semuanya menjadi sia-sia.

Seketika itu pula tiba-tiba nilai hidup dan makna hidup menjadi hal yang penting. Seketika itu pula kehidupan tiba-tiba dirasakan menjadi sangat pendek untuk disia-siakan jika tidak dinikmati dan dihidupi secara sungguh-sungguh dan sepenuh-penuhnya. Dan manusia mulai memikirkan eksistensi dan tujuan hidupnya. Dalam hidup yang sedemikian singkat, dalam 24 jam sehari, 8 jam digunakan untuk tidur, 8 jam untuk bekerja, dan 8 jam sisanya entah untuk apa. Dari hari ke minggu, minggu ke bulan, bulan ke tahun, dan semuanya tiba-tiba berlalu. Untuk apakah manusia berjerih payah dibawah terik matahari dan berusaha mendapatkan seluruh dunia dengan merusak seluruh dunia, dan sebentar pula dia mungkin tersentak menyadari bahwa kesadaran dirinya dan kesadaran hidupnya sudah berada di penghujung nyawanya.

Jadi, apakah yang memiliki nilai yang tertinggi yang patut kita kejar seumur hidup kita supaya hidup yang sebentar ini boleh memiliki nilai yang tinggi?

Waktu dan Kehidupan Kekal

Kehidupan kekal hanya berada di dalam dua dunia (baca: realm): dunia budaya dan dunia religi. Dengan kalimat tersebut, akan kita bedakan dan tekankan bahwa religi yang dimaksud disini tidak diklasifikasikan sebagai hasil dari budaya, apapun juga religinya. Hal ini juga demi mempermudah pembahasan.

Yang pertama bercerita tentang pengharapan manusia untuk bisa kekal di dalam waktu. Yang terakhir bercerita tentang pengharapan manusia untuk bisa kekal di luar waktu. Dunia budaya bercerita tentang manusia yang hidup, sementara dunia religi bercerita tentang manusia yang mati tetapi tidak mati melainkan hidup di dalam jiwa atau roh di dalam alam atau dimensi yang lain.

Pengertian akan masing-masing pandangan ini menghasilkan idealisme yang sama sekali berbeda dalam dunia praktika kehidupan seseorang. Perlu disadari dan ditekankan sebelumnya yaitu tidak seorang pun pernah tidak mati ataupun pernah hidup dalam jiwa atau roh. Sehingga tepatlah kata yang dipilih: IDEALISME, suatu bayangan ideal yang tidak diketahui kebenarannya secara empiris.

Budaya membayangkan kehidupan kekal sebagai kehidupan tanpa akhir di dunia ini. Hal ini tidak menarik untuk dibahas karena kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi dan apa yang akan kita lakukan jika manusia hidup abadi dalam bumi ini.

Religi lebih menarik untuk dibicarakan, karena tidak seorangpun bisa membayangkan bagaimana kehidupan setelah kematian. Tapi tampaknya dunia religi sepakat bahwa ada satu dunia di sana yang disebut neraka dan surga yang tentunya memiliki banyak sebutan dan istilah yang berbeda-beda, tapi memiliki makna yang sama. Yang satu adalah tempat dimana orang yang jahat berada dan yang lain adalah tempat dimana orang yang baik berada. Konsep dan kisah serta penggambaran kedua tempat tersebut pun berbeda-beda tergantung dari masing-masing religi yang bermacam-macam.

Konsep surga dan neraka inilah yang menentukan bagaimana seseorang menjalani hidupnya serta menentukan pilihan-pilihan nilai yang akan dipegangnya selama masa hidupnya.

Apakah itu WAKTU?

Waktu adalah kesempatan yang terbatas sepanjang kehidupan kita yang tidak tentu kapan berakhirnya yang berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Waktu adalah pengertian tentang kesempatan yang tidak pernah akan datang kembali dan setiap kesempatan yang kita pergunakan akan mempengaruhi kesempatan yang berikutnya.

Orang yang mengenakan jam tangan untuk mengukur waktu (dikatakan demikian karena ada orang yang mengenakan jam tangan hanya untuk menjadi hiasan yang mahal) biasanya memiliki pengertian yang lebih dalam dan lebih peka tentang waktu karena dia merasa perlu tahu akan posisi dia di dalam waktu.

Orang yang peka terhadap waktu, secara sadar akan mulai memperhatikan hidup dan nilai hidup yang dijalaninya sesuai dengan pola pikirnya. Seorang penjahat akan mengukur waktu dengan teliti untuk merampok buruannya dan seorang pelari akan mengukur waktu dengan teliti untuk mengasah kemampuannya. Seorang beragama akan mempergunakan waktu untuk memperbaiki hidupnya seturut kepercayaannya supaya masuk surga, sementara yang tidak beragama akan mempergunakan waktu untuk membangun hidupnya seturut pemahaman dia akan konsep nilai hidupnya.

Sampai disini, mungkin kita sadari bahwa waktu hanyalah sebuah wadah yang bersama-sama dengan ruang, membentuk suatu tempat dan kesempatan bagi kita. Namun terlepas dari apakah penjelasan itu valid atau tidak secara filosofis, penjelasan itu tidak lebih penting daripada apa yang harus kita lakukan di dalam waktu yang kita miliki. Perasaan tentang kesadaran tentang waktu seharusnya membawa kita kepada pengertian bahwa sebentar saja semua ini akan berlalu dan apa yang akan kita lakukan tentang itu.

Apakah waktu itu adalah kesadaran tentang nilai hidup, ataukah waktu itu adalah perasaan tentang nilai kekekalan, ataukah waktu itu adalah kesadaran akan keterbatasan, semuanya tidak lebih penting daripada respon yang harus tepat menyikapi waktu.

Waktu dan Kekekalan Yang Lain

Ada satu hal yang menarik tentang waktu dan kekekalan yang saya rasa layak untuk disinggung sedikit dalam tulisan ini, yaitu dari religi Kristen. Sementara agama berbicara tentang bagaimana surga dan neraka, agama yang satu ini terus menerus berbicara tentang keselamatan jauh lebih banyak daripada berbicara tentang surga dan neraka. Agama ini menuntut pengikutnya untuk mengejar nilai yang tertinggi supaya mereka boleh diselamatkan dan tidak binasa, bukan untuk masuk surga, karena surga pada nantinya akan menjadi konsekwensi atau hasil dari keselamatan itu. Dan keselamatan itu diberikan sebagai hasil dari pengampunan akan dosa dan kesalahan manusia yang tahu bahwa dirinya berdosa dan mau mengakui dosanya – semata-mata karena orang yang tidak tahu dirinya berdosa tentu saja tidak membutuhkan pengampunan. Setelah seseorang diselamatkan, barulah ia dituntut untuk merubah pola pikirnya dan mempergunakan waktunya dengan bijaksana dan mengejar nilai-nilai yang tertinggi, yang terbaik, yang benar; untuk membuktikan bahwa dirinya sudah diselamatkan dan sekarang tidak mau kembali kepada masa lalunya yang berdosa.

Tampaknya konsep ini yang menyebabkan Kekristenan menghasilkan warisan budaya yang tinggi seperti musik, arsitektur, lukisan, yang mempengaruhi waktu dan sejarah selama ratusan tahun. Termasuk mempengaruhi munculnya alat pengukur waktu (baca: jam, arloji) yang sangat baik dari Geneva.

Hukum Kausalitas Dalam Sosiologi dan Psikologi

Kausalitas adalah satu bentuk relasi yang menghubungkan sebuah peristiwa dengan peristiwa berikutnya. Relasi itu memberikan sebuah gambaran tentang peristiwa yang menjadi penyebab dan peristiwa yang menjadi akibat, dimana peristiwa yang pertama dimengerti sebagai penyebab dari peristiwa kedua. Demikian pula sebagai konsekwensinya, peristiwa yang pertama tersebut juga adalah merupakan hasil akibat dari peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Berdasarkan hukum yang dipahami dan disetujui secara luas ini, ditarik sebuah pengertian bahwa dalam alam semesta ini, segala sesuatu terjadi karena ada penyebabnya. Dan segala sesuatu ada karena ada inisiatornya. Inisiator tersebut dapat berupa berbagai macam faktor dan hasilnya adalah merupakan sebuah fenomena yang menjadi akibat dari inisiatif oleh inisiator.

Hukum kausalitas harus diakui oleh berbagai bidang, mulai dari filsafat yang bisa ditelusuri bahkan sampai pada Aristotle, sosiologi, psikologi, hingga sains dan seluruh pelosok konsep dan pemikiran yang mungkin dipikirkan manusia. Hukum inilah yang membuat segala sesuatu bisa memiliki kemungkinan untuk diprediksi dan memiliki konsistensi. Bisa kita bayangkan jika hukum ini tidak ada dalam dunia kita, maka tidak akan ada pola tertentu di dalam alam semesta yang bisa mungkin kita pelajari karena semuanya akan kacau balau.

Hukum sebab akibat – tabur tuai

You reap what you sow

Terjemahan: Kamu menuai apa yang kamu tabur

Secara universal, hukum kausalitas membentuk pengertian tentang determinisme bahwa ada satu hukum timbal balik yang berlaku secara umum dalam kehidupan manusia dan segala sesuatu yang relevan dengannya. Secara deterministik, kita menuai apa yang kita tabur, segala yang kita perbuat akan kembali pada kita pada akhirnya, semua yang kita kerjakan akan berbalik pada kita. Semua yang kita mengerti mengenai prinsip karma dan perbuatan jahat/baik adalah berdasar pada pengertian hukum kausalitas.

Karena semua orang mengejar kenikmatan dan kenyamanan, hukum ini baik secara langsung maupun tidak langsung memaksa orang untuk berbuat baik, karena dia mengerti bahwa dia tidak akan dapat lari dari pembalasan dan imbalan atau hukuman dan pahala dari pekerjaan tangannya. Hukum ini menjadi kengerian bagi mereka yang berbuat jahat dan merupakan penghiburan bagi mereka yang berbuat baik. Konsistensi, kemutlakkan, dan kekakuan keberadaan hukum kausalitas dalam segala sesuatu yang bergerak di dalam ruang dan waktu ini menjadi motivator tersendiri dalam kehidupan setiap diri manusia. Manusia terdorong dan termotivasi (baca: terpaksa dengan sukarela) untuk berbuat baik.

Resiprokal determinisme

Dalam hubungan antar manusia, ide tentang keberadaan resiprokal determinsme ini dicetuskan oleh Albert Bandura. Resiprokal determinisme menjelaskan tentang keberadaan hubungan timbal balik atau sebab akibat yang membentuk perilaku dalam teori pembelajaran sosial (yang merupakan dasar teori yang lebih tajam yaitu teori sosial kognitif). Timbal balik dalam proses pertumbuhkembangan seseorang terhadap lingkungan sekitarnya membentuk perilaku dan cara berpikir seseorang.

Secara sederhana, perkembangan manusia sejak kecil adalah merupakan proses pembelajaran dan penyesuaian antara dirinya dengan lingkungan sosialnya. Karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, dia terdorong untuk mendapatkan penerimaan atau persetujuan dari lingkungannya. Hal itu memaksa (baca: mendorong) seseorang untuk memunculkan perilaku tertentu yang disetujui oleh lingkungan tempat dia ingin diterima.

Sebagai contoh sederhana, seseorang yang ingin diterima kedalam sebuah perkumpulan, akan mulai mengadopsi identitas dari perkumpulan tersebut. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, sikap, tingkah dan perilaku, dan seterusnya, supaya dia bisa diterima dengan baik, bisa masuk kedalam kelompok tersebut.

Hal ini yang memunculkan kutipan peribahasa Cina yang berbunyi, “Kumpul dengan merah, jadi merah. Kumpul dengan warna hitam, jadi hitam.” Juga kalimat lain, “Kamu akan menjadi seperti lima orang teman yang paling dekat dengamu.” Serta, “Katakan padaku siapa teman-temanmu, maka akan kukatakan padamu siapa dirimu sebenarnya.”

Maksud dari semua kalimat itu adalah sama, yaitu setiap orang dipengaruhi lingkungannya. Memang benar, lingkungan akan sangat mempengaruhi seseorang, akan tetapi adalah benar pula bahwa setiap orang bisa dan boleh memiliki kemungkinan untuk memilih lingkungannya sendiri. Setiap orang diharapkan mampu bertumbuh seturut dengan pembaharuan pikiran dan akal budinya; memunculkan potensi untuk mengerti apa yang baik, apa yang benar, dan apa yang bernilai. Hal itu akan membuat dia memilih lingkungan yang dapat menerima dan mengakomodasi pertumbuhkembangan dirinya.
Sehingga adalah kekeliruan besar jika seseorang yang sudah beranjak dewasa dan memiliki pengertian terus menerus menyalahkan lingkungannya. Perilaku sedemikian adalah perbuatan yang merendahkan dirinya sendiri dan menghina kedewasaan diri.

Hak dan tanggung jawab

Topik bahasan lain yang tidak kalah menarik tentang hubungan sebab akibat dalam masyarakat manusia adalah tentang hak dan kewajiban. Manusia selalu ribut tentang hak dia sebagai manusia, dan hampir selalu lupa bahwa selalu ada kewajiban dan tanggung jawab yang berhubungan langsung secara timbal balik dengan hak tersebut.

Pergunjingan masalah hak dan tanggung jawab ini terus menerus tarik menarik sejak seorang anak kecil mulai memiliki kesadaran. Dan masalah ini semakin dibuat rumit oleh ketidakmengertian orang tua dalam memberikan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Ketidakmengertian orang tua, membuat kesalahpengertian anak dalam pertumbuhannya sehingga anak itu pun akan bertumbuh dalam pengertian yang salah tentang hak dan kewajiban di dalam hidupnya. Demikianlah tatanan lingkungan dan masyarakat dirusak dengan perasaan ketidakadilan yang kadang tidak pada tempatnya. Banyak orang kemudian merasa dirinya selalu menjadi korban ketidakadilan dari hak mereka. Padahal tidak selalu demikian adanya.

Kebanyakan (jika tidak semua) orang baru ribut tentang hak ketika dia merasa dirinya tidak mendapat apa yang menjadi haknya. Dia tidak banyak ribut ketika hak orang lain diambil, apalagi jika yang mengambil hak orang lain adalah dirinya. Demikian pula dengan setiap orang lain, meributkan haknya sendiri-sendiri, tapi seringkali lupa dengan tanggung jawabnya.

Mau gaji naik setiap tahun, tapi pekerjaan dan ketrampilan tidak memenuhi syarat. Mau mendapat nilai bagus di sekolah, tapi tidak mau belajar. Mau hidup berkecukupan, tapi tidak mau berjuang. Memiliki cita-cita setinggi langit, tapi tidak mau berusaha bangun dari tidur dan mulai bekerja. Dan yang lebih buruk lagi adalah kemudian menyalahkan semua hal dan semua orang yang disekitar dia kecuali dirinya sendiri.

Hak selalu harus diberikan lebih rendah daripada tanggung jawab. Kenapa harus lebih rendah? Karena manusia selalu men-over-estimasi kemampuan dirinya sendiri, menilai dirinya sendiri lebih tinggi dari yang seharusnya. Jika dia menilai dirinya tinggi, lakukanlah pekerjaan yang tinggi, kualitas yang tinggi, maka hak akan menyusul naik seturut dengan kemampuan, kewajiban, dan tanggung jawab yang berani dia pikul. Jangan hanya meributkan hak, tapi terlebih penting lagi, ributkanlah kewajiban dan tanggung jawab.

Banyak orang, belum mulai bekerja, sudah minta gaji tinggi, tunjangan ini dan itu. Belum menunjukkan diri bisa apa, kualitas kerja setinggi apa, dedikasi sebesar apa, etos kerja seperti apa, sudah menilai diri tinggi sekali.
Dunia olah raga sangat mengenal keseimbangan hak dan kewajiban. Dalam pertandingan lari, semua orang berlatih dahulu, berusaha dahulu, berjuang dahulu, seorang lebih keras daripada yang lain. Apakah kemudian pada saat pertandingan, yang merasa sudah berlatih lebih keras selalu bisa mengalahkan orang lain? Tidak tentu. Dia boleh saja merasa bahwa dia adalah orang tercepat karena merasa punya hak untuk mendapat medali emas, tapi dia harus menunjukkan dulu hasil latihannya, disiplinnya, usahanya, dan berlari sekuat tenaga. Yang mendapat medali emas adalah yang memasuki garis finish pertama. Setelah dia membuktikan diri, baru dia mendapat medali. Itulah ilustrasi yang paling bisa menggambarkan hak dan kewajiban.

Hak selalu menyusul setelah kewajiban. Kewajiban harus selangkah lebih maju daripada hak. Hak harus selalu lebih rendah daripada kewajiban.

Dihormati dan menghormati

Satu hal lagi yang sangat mempengaruhi relasi antar manusia, yaitu tentang kehormatan. Manusia manapun selalu sangat peka ketika kehormatannya diganggu. Seperti halnya hak. Semua manusia ingin dihargai, dan untuk itu dia seringkali berani membayar mahal untuk membeli kehormatan. Menempelkan berbagai macam benda pada dirinya untuk menaikkan nilainya dihadapan orang lain.

Hal itu adalah sesuatu yang sia-sia dan semu. Karena suatu ketika, dia harus menanggalkan semuanya dan saat itu orang akan menilai segala hal yang tidak bisa dia beli, yaitu nilai kehidupannya. Entah sampai kapan orang akan mengerti bahwa segala sesuatu yang terpenting tidak bisa dibeli dengan uang; Dan segala sesuatu yang memiliki nilai paling tinggi tidak pernah bisa dilihat dengan mata jasmani.

Alam sudah memberi contoh jelas: udara. Tidak bisa dibeli dengan harga berapapun dan tidak kelihatan. Tapi tidak pernah orang berpikir bahwa udara tidak penting dan tidak ada nilainya karena tidak bisa dilihat.

Ada tiga hal besar yang sangat penting dan tidak bisa dibeli dengan apapun dan hanya bisa diperoleh dengan cara memberikannya terlebih dahulu pada orang lain: Kasih, Kehormatan, dan Kepercayaan. Ketiganya memiliki sifat yang sama dan berlaku hukum timbal balik dan sebab akibat.

Agar dihormati orang lain, hormatilah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dihormati.
Agar dikasihi orang lain, kasihilah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dikasihi.
Agar dipercaya orang lain, percayalah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dipercaya.

Tidak ada jalan lain. Seringkali orang hanya bisa menuntut orang lain untuk menghormati dia, tapi dia memunculkan perilaku yang tidak layak dihormati. Dia hanya merasa ber-‘HAK’ untuk dihormati.

The Golden Rule dan Etika Kristen

Hukum yang selalu disebut sebagai hukum etika dan moral tentang hubungan manusia yang tertinggi adalah hukum kasih. Istilah Golden Rule sendiri muncul sekitar pertengahan abad ke-17 dengan konsepnya yang membicarakan tentang etika yang bersifat timbal balik (istilah asli: the ethic of reciprocity).

Di dunia sebelah barat, kebudayaan kuno Babilon dalam Hukum Hammurabi (Lex Talionis) menyatakan, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi.” Etika yang lebih bersifat hukuman ini menyatakan hukuman yang setimpal dengan perbuatan. Demikan pula dengan filsuf Yunani kuno yang mengatakan hubungan sebab akibat dalam relasi antar manusia, “Jangan lakukan hal yang akan kamu persalahkan jika dilakukan oleh orang lain – Thales.” Isocrates mengatakan pula, “Jangan lakukan pada orang lain hal yang akan membuatmu marah kalau mereka melakukannya padamu.”

Kalimat dalam dunia filsafat timur pun tidak berbeda jauh dengan kalimat dunia filsafat barat. Confusius mengatakan, “Jangan lakukan pada orang lain hal yang kamu tidak ingin orang lakukan padamu.” Dan Laozi, “Anggaplah keuntungan tetanggamu seperti keuntunganmu, dan kerugian mereka seperti kerugianmu.”

Persamaan semua kalimat itu adalah sifat kalimat pasif: jangan lakukan pada orang lain.
The Golden Rule itu sendiri mengatakan, “Perbuatlah kepada orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan – Yesus.” Ini merupakan etika yang lebih tinggi: perbuatlah dan lakukanlah pada orang lain.

Jika seseorang tidak suka ditipu, jangan menipu orang lain. Itu adalah implikasi kalimat negatif. Sedangkan implikasi kalimat positif adalah, jujurlah pada orang lain kalau kamu ingin orang lain jujur padamu.
Jika seseorang tidak ingin difitnah, jangan memfitnah orang lain. Itu kalimat negatif. Implikasi kalimat positifnya adalah, berkata-katalah denga benar tentang orang lain. Yang pertama adalah jangan berbicara, yang terakhir adalah berbicaralah, tapi yang benar.

Dalam Golden Rule dan etika Kristen, muncul sebuah kalimat lagi yang sangat penting dan menjadi hukum kasih, “Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri – Yesus.” Mudah diucapkan, sangat agung, dan sangat sulit untuk dikerjakan. Lebih mudah untuk menjadi pasif dan tidak membenci sesamamu manusia, tapi untuk menjadi aktif dan mengasihi, membuat saya terus bertanya-tanya, siapa yang sanggup mengerjakan perbuatan baik yang memiliki etika dengan standard yang begitu tinggi.

Paradigma Tentang Sukses

Sepanjang sejarah, orang bijak dan orang kaya telah menyerukan bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Dan sejak jaman kapitalisme, dunia terus menyerukan bahwa uang adalah sumber kebahagiaan dengan satu asumsi utama, yaitu ketika kita bisa mendapatkan semua yang kita mau, kita akan bahagia.

Satu kali lagi, mari kita coba bahas secara sederhana pernyataan-pernyataan dalam beberapa pemikiran tentang uang. Dan sekali lagi, ketika kita berbicara tentang manusia dan materi, ada dua dasar pemikiran yang utama: yang pertama adalah bahwa manusia sangat mencintai dirinya sendiri. Yang kedua adalah manusia berusaha menyenangkan dirinya dengan segala yang bisa disebutnya sebagai kepunyaannya (baca: materi) untuk memuaskan keinginannya.
Yang pertama tadi adalah humanisme, sementara yang terakhir adalah materialisme.

Dari sinilah kemudian perjalanan hidup manusia dimulai dalam pemikirannya. Sejak ketika seorang manusia kecil hidup, dia memiliki keinginan. Mula-mula adalah kebutuhan yang menunjang dia untuk hidup, makanan, minuman, keamanan, perlindungan, perawatan, perhatian, dan seterusnya. Hal itu tidak pernah berubah seumur hidupnya selama dia hidup seolah-olah hal itu telah terprogram dalam segala keseluruhan aspek hidupnya. Hal-hal itu bertransformasi menjadi semakin kompleks dalam perjalanan hidupnya seperti lipatan kertas kecil yang kemudian terbuka satu per satu menjadi lembaran kertas yang semakin besar. Tidak ada seorang manusia pun bisa lari dari keinginan-keinginan dalam dirinya untuk memuaskan rasa cintanya pada dirinya dan pada material.

Ada satu lubang di dalam hidup manusia yang kosong yang tidak dapat di penuhi oleh apapun yang berada dalam dunia ini. Kapankah manusia pernah merasa cukup? Manusia selalu berada dalam pencarian seumur hidupnya untuk mengisi kekosongan dalam hidupnya, dan dia mencarinya di dalam semua hal yang dapat dilihatnya. Dia selalu hidup dalam angan-angan bahwa jika dia berhasil mendapatkan yang dia inginkan, dia akan suatu hari ketika dapat dipuaskan. Tapi sejarah telah membuktikan hal itu tidak pernah tercapai.

Untuk bisa mengerti dan memahami apa itu yang disebut dengan SUKSES, kita harus memulai dulu dengan definisi SUKSES. Sukses memiliki arti mencapai tujuan atau garis finish, tepat pada sasaran dan target. Ketika seorang pemanah atau penembak jitu berhasil mengenai sasarannya, itulah sukses. Pemanah yang melampaui sasarannya tidak dikatakan lebih hebat atau lebih kuat daripada yang mengenai sasaran, dia tidak akan merasa bangga dan berkata, “Aku telah melampaui sasaranku.” Seorang pelari yang berlari terus setelah mencapai garis finish, apakah akan dikatakan lebih hebat dari orang mencapai garis finish dan kemudian berhenti? Mungkin. Tapi tetap tidak akan dianggap lebih juara daripada yang berhenti setelah mencapai garis finish.
Sukses adalah suatu titik dimana seseorang boleh kemudian berhenti dan merasa puas karena sudah mencapai suatu keberhasilan tentang sesuatu.

Tapi kata SUKSES seringkali tidak menggambarkan semua hal tersebut. Setiap kali kata sukses terdengar, seringkali yang pertama kali muncul dalam benak kita adalah segala hal yang sifatnya materialisme dan humanisme. Seringkali pula kata itu tidak menggambarkan sebuah perhentian dan kepuasan, melainkan sebuah tantangan baru untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi, untuk mengisi kekosongan dalam hidup manusia yang tidak pernah bisa dipenuhi dengan apapun. Kesuksesan demi kesuksesan terus berusaha dikejar seperti sebuah garis finish semu yang tidak pernah berakhir seperti layaknya sebuah fatamorgana. Tidak ada perhentian, seperti seekor hamster yang berlari dalam rodanya.

Setiap orang memiliki bayang-bayangnya sendiri, fatamorgana yang hanya menjadi miliknya sendiri, sebuah idealisme yang dipercaya bahwa jika dia berhasil meraihnya, dia akan bahagia. Sebagian orang mendapat kesempatan untuk mencicipi, sebagian kecil mendapat kesempatan untuk menikmati, sisanya tidak mendapat kesempatan sama sekali seumur hidupnya untuk meraih idealisme yang humanis/materialis itu. Tapi satu hal yang pasti, semua idealisme yang katanya, diyakini bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan dan perhentian, ternyata adalah omong kosong.

Mereka yang sudah katanya sudah sukses, tidak mendapatkan kebahagiaan dan perhentian. Mereka yang belum mencapainya, terus melakukan segala hal yang mereka pikir dapat membawa mereka kepada kebahagiaan dan perhentian. Mereka yang masih terus berusaha dan masih mencari kebahagiaan dan perhentian, membuktikan bahwa mereka masih belum sukses.

Sebagian besar kita telah mendengar berbagai kalimat yang mengatakan bahwa humanisme/materialisme tidak mendatangkan kebahagiaan. Bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Akan saya kutip beberapa diantaranya:

Money never made a man happy yet, nor will it. The more a man has, the more he wants. Instead of filling a vacuum, it makes one. – Benjamin Franklin
(Uang tidak akan pernah dapat membuat orang bahagia. Semakin banyak uang yang dimiliki seseorang, bukannya mengisi kekosongan, uang malah akan membuat kekosongan baru.)

We make a living by what we get, but we make a life by what we give. – Winston Churchill
(Kita menikmati hidup melalui yang kita dapat, tapi kita menikmati kehidupan melalui yang kita berikan.)

Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants. – Epictetus
(Kekayaan tidak berarti memiliki banyak hal, akan tetapi memiliki sedikit keinginan.)

It is not the man who has too little, but the man who craves more, that is poor. – Seneca
(Kemiskinan bukanlah tentang orang yang memiliki sedikit, melainkan tentang orang yang menginginkan lebih.)

Masih ada puluhan yang bisa mungkin ditulis, tapi tidak akan ada gunanya, semuanya mengatakan hal yang sama. Bahwa uang bukan yang terpenting. Semua yang terpenting dalam hidup manusia tidak bisa dibeli dengan uang. Sepanjang sejarah, orang bijak dan orang kaya telah mengatakan hal tersebut. Tapi tetap saja istilah sukses tidak berubah.

Ilustrasi kecil yang saya sukai adalah tentang gaji atau penghasilan:
Orang yang mendapat gaji dua juta sebulan, merasa tidak cukup. Dia yakin jika nanti mendapat gaji empat juta sebulan, hidupnya akan lebih enak dan dia akan mulai bisa menabung.
Setelah dia mendapat gaji empat juta, tetap tidak cukup, karenanya dia kemudian merasa kalau nanti sudah dapat gaji delapan juta, dia akan bisa hidup lebih enak dan akan bisa mulai menabung.
Kemudian gajinya naik menjadi delapan juta, tetap saja belum bisa menabung karena satu dan lain hal. Dia berpikir, jika nanti dapat enam belas juta, hidupnya akan berubah dan dia akan mulai menabung.
Benar pula, gajinya menjadi enam belas juta, dia mulai mencicil mobil, berpikir untuk mengontrak rumah, dan gajinya tidak cukup. Dia kembali berpikir, seandainya gajinya menjadi tiga puluh dua juta, pasti dia akan tenang dan bahagia.
Kemudian dia mendapat gaji tiga puluh dua juta sebulan, dan sekarang dia ingin memiliki rumah sendiri dan mobil yang lebih baik. Orang-orang melihat dia sudah cukup sukses. Tapi dia tetap merasa kurang sukses. Sementara orang lain memimpikan hal yang sama, “seandainya aku mendapat gaji setengahnya saja, tentu aku akan bahagia.”

Ketika seseorang mengatakan, “seandainya penghasilanku lima puluh juta sebulan, aku pasti bahagia dan berkecukupan.” Hal itu hanya menyatakan bahwa dia tidak punya gaji sebesar itu. Ketika seseorang mengatakan bahwa jika dia memiliki sesuatu, maka dia berarti sudah sukses; Itu hanya membuktikan bahwa dia tidak memiliki hal itu. Lagi pula, seringkali orang mencampuradukkan antara kebahagiaan dengan kekayaan atau kecukupan atau harta atau kepuasan diri atau nafsu diri atau ambisi. Padahal seharusnya tidak ada hubungan antara kebahagiaan dengan memiliki semua hal yang mampu diinginkan seseorang. Paling tidak, tidak ada hubungan langsung yang setara antara kebahagiaan dengan pemuasan keinginan. Justru sebaliknya, seperti halnya paradoks kebebasan, seseorang menjadi berkecukupan dan puas dan menjadi bahagia ketika dia menahan dirinya dari banyak keinginan.

Dalam hidup manusia, apakah yang disebut sebagai sukses? Dimanakah letak kesuksesan manusia? Dimanakah letak titik dimana dia boleh mendapat perhentian dan merasa puas?
Apakah ketika dia menjadi kaya? Ketika memiliki banyak uang? Ketika ada orang yang mengakui bahwa dia sudah sukses? Ketika ada orang yang iri pada dirinya? Ketika menjadi orang yang bisa membeli apa pun yang dia mau?

Tentu saja titik itu seharusnya berada di titik akhir kehidupan manusia, garis finish nafas manusia. Bagaimana seseorang menjalani hidupnya secara totalitas dan keseluruhan dan kemudian di akhir hidupnya, dia bisa merasa puas dan mendapat ketenangan.
Kehidupan manusia sama seperti pelari, apakah selama dia berlari tidak pernah merasa lelah? Apakah tidak pernah terjatuh? Apakah tidak pernah merasa putus nafas? Apakah dia tidak secara sadar merubah kecepatan larinya menyesuaikan dengan tantangan medan dan fisik yang berubah selama dia berlari? Demikian pula manusia dalam hidupnya. Ada jatuh bangun, kelemahan dan kegagalan, berbagai pergumulan secara fisik dan mental dalam upayanya mencapai garis finish.

Kesuksesan manusia tidak ditentukan oleh dirinya sendiri. Manusia tidak bisa dan tidak boleh menilai dirinya sendiri, segala penilaian tentang seseorang harus berasal dari luar dirinya sendiri. Jadi pada akhirnya, siapakah yang menentukan kesuksesan seseorang?

Ada cerita dalam sebuah pemakaman orang yang kaya dan dermawan. Pemakaman itu dihadiri oleh banyak orang, dan beberapa orang membagikan kisah tentang bagaimana orang yang kaya ini selama hidupnya.
“Bapak inilah yang mendirikan yayasan besar yang memberikan bantuan berupa operasi katarak gratis bagi ratusan orang tua setiap tahunnya.”
“Bapak ini selama hidupnya tidak pelit dengan kekayaannya dan memberikan banyak sumbangan pada rumah yatim piatu.”
“Banyak sumbangan telah diberikan bapak ini kepada pembangunan rumah ibadah, tidak hanya di wilayahnya, melainkan di banyak daerah di berbagai kepulauan dan desa terpencil.”
Dan hingga giliran anggota keluarganya, anaknya yang paling besar berkata, “Semua yang kalian katakan tentang bapak saya, sama sekali tidak saya mengerti. Dia tidak pernah berada di rumah, ibu saya terus menangis karena dia memiliki simpanan di kota lain. Perusahaan kontraktor miliknya melakukan pembangunan dimana-mana dan mencuri spesifikasi sehingga beberapa kali saya hampir dijebloskan kedalam penjara karena saya adalah wakil direktur dari ayah saya. Saya membenci ayah saya.”

Apakah bapak dermawan tadi adalah orang yang baik ataukah orang yang jahat? Apakah dia bisa dikatakan sukses? Jika bisa dikatakan sukses, apakah target yang sudah dia capai dalam hidupnya? Siapa yang berhak mengatakan bahwa dia sudah sukses mencapai garis finish, jika dia sendiri tidak tahu apa yang harus dikerjakan dalam hidupnya?
Demikian pula dengan semua manusia. Apakah sukses itu sebenarnya?
Pemanah, pelari, penembak jitu, memiliki target. Apakah ‘target’ dari hidup manusia? Sementara umur manusia pun tidak berada ditangannya sendiri. Garis finish tiap manusia tidak ditentukan sendiri oleh masing-masing manusia. Jadi dari mana bisa muncul definisi ‘SUKSES’?

Tidak ada jawaban yang bisa ditawarkan dalam dunia ini, oleh filsafat sekalipun. Tidak ada kemungkinan selain dari jika seseorang memahami hukum relasi pencipta-ciptaan.
Dalam hukum itu barulah akan ditemukan pemahaman tentang tujuan hidup manusia. Di dalam pengertian tentang tujuan hidup manusia, akan ditemukan alasan untuk apa dia hidup dan apa yang harus dikerjakannya dalam hidup ini. Kemudian pada akhirnya, barulah bisa ditentukan apakah dia sudah bisa dikatakan SUKSES dalam hidupnya atau tidak.

Terlalu banyak orang yang membuang seluruh hidupnya, belajar dan bekerja, untuk sesuatu yang bernilai kecil atau bahkan tidak bernilai. Itu disebabkan karena kesalahan konsep nilai dalam hidup manusia. Manusia sebenarnya tidak tahu untuk apa dia hidup.

The real measure of your wealth is how much you’d be worth if you lost all your money.

Terjemahan: Ukuran kekayaan bukanlah berapa banyak hartamu, melainkan seberapa tinggi orang lain menilai dirimu ketika kamu kehilangan semua uangmu.