Membela yang Lemah Vs. Membela yang Benar: Ketika yang Lemah Menganiaya yang Kuat.

Sepanjang sejarah, banyak kisah tentang kaum yang tertindas dan penganiayaan. Yang kuat menindas yang kurang kuat, yang kaya menindas yang kurang kaya, yang besar menindas yang kurang besar, yang pria menindas yang kurang pria, dan seterusnya. Dan kisah ini menjadi sumber inspirasi dan imajinasi dari cerita yang menjadi luapan hati banyak orang dalam masyarakat tentang kisah para pahlawan super. Sebuah dambaan yang kekanak-kanakan, mungkin, akan tetapi siapakah yang tidak merasa memiliki relasi dengan fenomena para pahlawan super?

Jiwa yang tertindas, entah mengalami penindasan oleh teman bermain di sekolah, atau mengalami perlakuan dan ketidakadilan di kantor, atau terjadi tragedi dalam kehidupan yang berada diluar kendali. Seandainya ada seseorang diluar sana yang bisa melepaskan kita dari pergumulan hidup kita. Akan tetapi hal itu tidak ada. Tidak ada pahlawan super. Tidak ada yang mendengarkan seruan minta tolong kita. Tidak ada yang datang menolong saat kita terdesak.

Kita harus berjuang sendiri.

Mempertahankan hak kita sendiri. Demi diri kita sendiri. Karena adalah hak kita untuk bisa memiliki kehidupan yang aman. Adalah hak kita untuk hidup sejahtera. Adalah hak kita untuk memperjuangkan apa yang kita inginkan.
Atau benarkah demikian?

Hak Vs Kewajiban

Manusia selalu ribut tentang HAK-nya. Dan paling cepat merespon ketika merasa HAK-nya diganggu. Dan untuk mempertahankan apa yang dirasa menjadi HAK-nya, manusia melakukan sedemikian banyak hal.
Apakah HAK datang begitu saja? Jawabannya adalah TIDAK.

Hati nurani setiap orang menyadari jika saya katakan bahwa seorang anak perlu dididik dengan baik. Dia memiliki hak yang harus dikompensasikan dengan kewajiban. Setiap orang harus belajar, baru berhak mendapatkan pengakuan prestasi. Setiap orang harus bekerja, baru berhak mendapatkan upah. Apakah hanya sedemikian? Sekali lagi jawabannya adalah TIDAK.

Belajar kimia selama 5 menit tidak akan membuat seorang anak memiliki HAK untuk menjadi juara kelas dan memperoleh beasiswa. Bekerja secara sembarangan dengan kualitas rendah tidak membuat seseorang memiliki HAK untuk mendapatkan penghasilan yang seperti yang dia inginkan.

Hak akan selalu diberikan setelah kewajiban dijalankan. Bukan sebelumnya. Anda tidak bisa melamar kesebuah perusahaan sebagai petugas resepsionis dan langsung meminta upah sebesar 7 juta per bulan. Anda juga tidak bisa melamar kesebuah perusahaan tanpa ketrampilan sama sekali dan berharap bahwa hasil kerja Anda harus dihargai sesuai dengan yang Anda mau. Bukan Anda yang memberi penilaian. Itu bukan hak Anda. Anda berkewajiban menunjukkan kemampuan Anda terlebih dahulu, sebelum hak itu diberikan kepada Anda.

Kasih vs. Keadilan

Bagaimana dengan mereka yang kurang beruntung dan tidak mendapatkan kesempatan untuk memupuk ketrampilan? Apakah mereka memiliki hak? Tentu saja!

Sejak dunia jatuh dalam dosa, tidak ada yang sempurna. Dunia ini tidak lagi mencerminkan kemuliaan dan kehormatan penciptanya. Dalam banyak hal, terjadi ketimpangan dan jurang pemisah. Ada yang lebih beruntung dengan segala kesempatan (yang tidak selalu dimanfaatkan dengan baik), dan ada yang kurang beruntung dengan kesempatan yang lebih terbatas (yang -sekali lagi- juga tidak dimanfaatkan dengan baik). Dan yang dari semua kelompok manusia itu, mereka yang paling celaka adalah mereka yang malas dan enggan berjuang.

Yang lebih beruntung, seharusnyalah memiliki kasih dan empati kepada mereka yang kurang beruntung. Memberikan kepada mereka kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Karena itu bermula dari beberapa negara dengan latar belakang Kristen, ada yang disebut upah minimum. Sehingga orang dengan ketrampilan paling rendah pun boleh memiliki pendapatan yang cukup walaupun seharusnya dia tidak layak dibayar dengan upah setinggi itu. Itu yang disebut sebagai keadilan.

Diharapkan dengan upah yang lebih baik, kesempatan semakin terbuka bagi setiap orang untuk boleh mengasah ketrampilannya dan menciptakan peluang untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan upah minimum yang dia peroleh, dia boleh melatih dirinya dengan ketrampilan untuk menggantikan kesempatan belajar yang mungkin selama ini tidak pernah dia dapatkan. Dengan bertambahnya ketrampilan diri, dia bisa mendapatkan kenaikan jenjang karir untuk kemudian mendapatkan upah yang lebih baik dan kehidupan yang seperti dia inginkan.

Akan tetapi, sekali lagi, manusia yang paling celaka adalah mereka yang enggan belajar dan menggunakan uangnya untuk hal yang lebih tidak berguna.

Saya sadari kalimat barusan sudah dua kali saya tuliskan. Bekerja demi masa depan dengan tekun dan rajin dan menahan diri; ada satu ilustrasi yang sering saya gunakan, harap dibaca dan dimengerti dari sisi analoginya saja, tidak perlu dijadikan bahan perdebatan ataupun hiper-rasionalitas:

Semisalkan kita berada dalam satu desa kecil yang miskin, makanan kita sehari-hari adalah nasi dan jagung, dan kemudian saya dan Anda tiba-tiba mendapatkan seekor ayam yang gemuk, apakah yang akan Anda lakukan terhadap ayam itu? Apakah akan Anda goreng atau panggang atau rebus dan dibuat opor? Apakah Anda makan untuk hari ini dan esok lagi? Maksud saya, kita hampir tidak pernah bisa makan daging ayam. Dan ini kesempatan baik untuk makan daging ayam, tidak kah demikian? Dan jawaban saya adalah TIDAK.

Anda akan makan ayam hari ini.

Saya akan makan nasi jagung hari ini. Ayam itu akan saya pelihara. Dia akan bertelur. Dan setelah dia bertelur, saya masih akan makan nasi jagung. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, sebulan, dua bulan. Saya masih makan nasi jagung. Telur saya kumpulkan, saya jual dipasar di kota terdekat. Dari telur itu, ada yang saya biarkan menjadi anak ayam. Setelah beberapa bulan, Anda sudah lupa rasanya makan ayam gemuk. Dan saya masih belum makan daging ayam. Anak ayam akan menjadi ayam, dan ayam-ayam itu akan bertelur lebih banyak dan menghasilkan pula banyak ayam kecil. Setengah tahun berlalu, saya baru makan telur ayam, itupun kadang-kadang, karena memelihara ayam itu bukan hal murah. Saya yakin saya tidak perlu meneruskan contoh ini; Anda sudah mengerti maksud saya.

Banyak orang menerima upah mereka dan serta merta membelanjakannya untuk membeli yang mereka MAU, bukan yang mereka PERLU. Mereka menghabiskannya untuk gaya hidup. Bukannya berusaha menambah ketrampilan mereka dibidang kerja yang mereka geluti demi masa depan mereka, mereka berpuas diri dan bermimpi kapan akan naik gaji.

Adil itu bukan “sama”. Sama rata itu bukan adil. Anda tidak mungkin memberi makanan dengan porsi yang sama kepada anak perempuan Anda yang berusia 5 tahun dengan anak laki-laki Anda yang berusia 25 tahun. Tapi kesemuanya Anda beri makan. Itulah kasih dan adil.
Adil itu bukan menyamakan lulusan sarjana dengan mereka yang lulusan SD. Penyamarataan yang bodoh itu akan membangun masyarakat yang bodoh. Untuk apa sekolah tinggi, kalau bisa, tidak sekolah pun akan disamaratakan. Inilah yang membuat negara komunis dan sosialis kacau balau.

Penganiayaan Dalam Masyarakat

Ketidakrataan dalam masyarakat menimbulkan ketegangan-ketegangan yang terjadi di semua negara. Yang lemah, yang miskin, yang minoritas, merasa ditindas. Setelah sejarah manusia dahulu penuh dengan penindasan oleh pemerintah kepada rakyat, kaum bangsawan kepada rakyat jelata, kaum intelektual kepada kaum awam, masyarakat manusia mulai berusaha berubah. Penindasan dihilangkan dan diupayakan penyamarataaan. Yang superior berusaha mengerti kesulitan yang lebih inferior. Perbudakan dihapuskan hampir disemua bagian dimuka bumi.

Keadaan masyarakat mulai membaik. Setidaknya sampai kesadaran tentang hak dan ketidakmengertian tentang kewajiban mengambil alih situasi. Dimanapun hak seseorang diributkan, ditempat yang sama ada kewajiban yang diabaikan dan hak orang lain dianiaya.

Sekarang, kaum inferior bermegah diatas kelemahannya dan menganiaya yang superior. Rakyat menganiaya pemerintah, yang miskin menganiaya yang kaya, yang lemah menganiaya yang kuat, dan seterusnya. Dan semua pihak yang dianiaya tidak tahu bagaimana harus bersikap, karena sikap keras akan dikatai sebagai sikap opresif dan penganiayaan terhadap kaum lemah (lagi). Hal itu terus berlanjut hingga kejahatan menganiaya kebaikan. Kriminal menganiaya pengadilan, penjahat menganiaya petugas hukum, orang yang merasa dirinya suci menindas orang yang benar, dan seterusnya.

Tidak ada sikap tegas yang berani diambil. Dan kebenaran dipermainkan. Yang lemah harus dibela. Saya pribadi tidak mengerti darimana asal muasal pemikiran ini, akan tetapi seingat saya hal itu terus digaungkan sepanjang masa sekolah dasar saya, “Membela kaum lemah.” Apakah itu hanya saya, atau Anda juga sependapat dengan saya. Tidakkah seharusnya kita membela yang benar, bukan yang lemah.

Karena itu didalam Kekristenan, adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan antara kasih dan keadilan yang ditekankan secara terus menerus dan bersama-sama. Salah satunya tidak boleh dihilangkan. Kasih tanpa keadilan adalah kasih yang lemah, tidak berdaya, merusak, seperti kalimat “membela yang lemah”. Keadilan tanpa kasih adalah hukum yang kejam, tidak bisa melihat sisi keberdosaan kemanusiaan dan pengampunan.

Advertisements

Kemarahan Dalam Didikan

Keteladanan bukanlah salah satu cara yang paling efektif dalam mendidik, melainkan satu-satunya cara dalam mendidik.

Kemarahan merupakan salah satu emosi yang harus muncul dalam proses pendidikan dimanapun, selain emosi-emosi lain yang tentunya juga harus ada seperti empati, simpati, kasih, dan kemarahan serta keadilan. Kasih dan keadilan harus selalu berjalan bersamaan dalam pendidikan. Kasih tanpa keadilan itu menghasilkan pendidikan yang lemah, tidak berwibawa, tidak menjadi teladan yang kuat. Sedangkan keadilan tanpa kasih menghasilkan pendidikan yang kejam.

Berbicara tentang emosi secara umum, seperti halnya berbicara tentang segala sesuatu, selayaknya akan selalu mengarah pada prinsip-prinsip nilai dan kebenaran. Apakah emosi itu secara konsisten dikeluarkan pada saat yang tepat, terhadap orang yang tepat, dengan bobot yang tepat, serta memiliki nilai yang tepat?

Selalu ada cara yang benar dan salah dalam melakukan segala sesuatu.

Demikian pula dengan kemarahan dalam didikan. Pada tahun 1990-an, dalam era post-modern, banyak sekali pendapat yang menyarankan bagaimana melangsungkan pendidikan anak tanpa kemarahan dan teriakan sebagai respon terhadap pendidikan yang sifatnya terlalu keras bahkan sampai pada penganiayaan anak, baik secara fisik dan psikis.

Pendapat-pendapat tersebut banyak digunakan oleh para orang tua dan hasilnya yang dirasakan sekarang adalah begitu banyak anak yang menjadi manusia-manusia yang kurang didikan, kurang berdisiplin, kurang tahan dalam kesulitan, kurang kesopanan, kurang tata krama, kurang berintegritas, kurang berjuang, kurang keinginan untuk mencari hal-hal yang bernilai tinggi, dan kurang etos kerja yang baik. Abad ke-20 kurang menghasilkan orang-orang yang berkualitas tinggi, berintelektual tinggi, bermoral tinggi, berpemikiran tinggi; Abad ini hanya menjadi pengikut atau pelawan dari pemikir-pemikir besar era terdahulu.

Yang seharusnya menjadi perhatian bukanlah boleh atau tidak boleh marah. Namun yang seharusnya menjadi perhatian adalah bagaimana cara marah. Dalam hubungan sosial dengan sesama manusia, entah dengan relasi kerja, teman, pasangan, orang tua, guru, ataupun kepada anak, tidak mungkin seorang manusia dilepaskan dari emosi-emosi yang muncul antara satu orang terhadap orang yang lain. Relevansi antara emosi tersebut dengan suatu keadaan adalah bagaimana emosi-emosi itu dikeluarkan dengan tepat berdasar aspek kesucian, kebaikan, kebenaran, dan apakah emosi itu berguna dan membangun orang lain selain membangun diri sendiri.

Dalam hal emosi marah, yang menjadi masalah utama adalah kita seringkali marah karena kita merasa terganggu. Kemarahan semacam ini adalah emosi yang tidak berakal budi baik dan seringkali tidak terkendali. Diberbagai budaya yang agung dengan rasionalitas yang tinggi (misalnya dalam budaya bangsawan Eropa maupun Jepang; ataupun dalam lingkungan sosial berkelas tinggi), kemarahan dalam situasi apapun seringkali dinilai sebagai ketidakdewasaan, tidak ada kontrol diri, tidak bisa mengendalikan situasi, tidak beradab, tidak elegan, dan tidak sopan.

Demikian pula dalam dunia pendidikan, terutama dalam dunia pendidikan antara orang tua dan anak, dalam hubungan yang dekat serta berintesitas tinggi, kemarahan dalam didikan tidak dapat dihindari dan tidak boleh dihindari.

Saat yang tepat

Kemarahan yang dikeluarkan pada saat yang tepat memiliki pengaruh yang baik. Hal ini akan langsung menjadi teladan dalam diri anak tentang kapan dan bagaimana seseorang diperbolehkan untuk marah. Kebanyakan orang tua, mereka marah karena mereka merasa terganggu.

Kalau tidak ingin merasa terganggu, jangan punya anak.

Ini merupakan saat marah yang paling salah dan paling merusak. Anak memiliki sifatnya sendiri yang perlu dibimbing dan diarahkan supaya dia memiliki teladan dan patokan tentang “saat yang tepat” untuk melakukan sesuatu. Untuk segala sesuatu dimuka bumi ini ada waktunya. Ada waktu untuk makan, ada waktu untuk tidur, ada waktu untuk bermain, ada waktu untuk belajar, dan seterusnya hingga ada waktu untuk membangun, dan ada waktu untuk merusak. Ada waktu untuk marah dan ada waktu untuk mencintai.

Anak perlu belajar dan mengerti tentang konsep waktu sebelum dia mengerti tentang arti keteraturan, disiplin diri, pengendalian diri, dan toleransi terhadap orang lain. Dengan telaten orang tua harus mengajari dia dengan teladan yang baik tentang bagaimana dia bersikap dan kapan dia boleh bersikap seperti apa.

Seorang anak kecil seringkali diberi label “NAKAL” hanya karena dia belum mengerti kapan dia boleh berlari-lari dan kapan dia tidak boleh berlari-lari. Anak yang belum mengerti, harus dibuat mengerti. Seperti orang yang belum tahu, harus diberi tahu apa yang dia perlu tahu. Kemarahan dan caci maki dalam hal ini tidak membantu, tidak membangun, tidak benar, tidak baik, dan tidak suci. Apakah proses ini mudah? Jawabannya adalah TIDAK. Kita sendiri kadang perlu mengulang berapa banyak kali kesalahan yang sama, atau perlu berapa banyak kali mempelajari hal yang sama supaya kita bisa hidup dengan baik. Bagaimana mungkin kita bisa berharap bahwa siapapun termasuk anak kecil bisa diberi tahu sekali kemudian langsung jadi baik.

Terhadap orang yang tepat

Setiap orang tua harus peka dan menjadi teladan tentang kepada siapa kemarahan itu ditujukan. Seringkali kita marah kepada orang yang tidak tepat, kepada obyek yang tidak seharusnya, atau menyalahkan situasi/kondisi/orang lain untuk keteledoran yang kita perbuat. Jarang sekali kita dengan bijaksana dan berani mengambil tanggung jawab dan berkata pada diri kita sendiri, “Ini salahku, lain kali tidak boleh lagi terulang hal sedemikian. Aku akan berusaha berpikir lebih jauh dan lebih panjang dan melihat potensi dan aspek lain yang mungkin bisa menjadi salah di lain waktu untuk melihat segala kemungkinan supaya hal ini tidak terjadi lagi.

Dengan kesadaran diri yang tinggi dan kebijaksanaan untuk berani bertanggung jawab, hal itu akan membuat hidup kita sebagai orang tua memiliki integritas sebagai teladan. Sehingga orang tua tidak lagi berperilaku ketika anaknya terjatuh atau terbentur meja dan menangis, datang menghampiri anaknya dan kemudia memukul-mukul lantai atau meja yang membentur anaknya sambil berkata, “Nakal ya mejanya..!! Ini sudah dipukul meja yang membentur kamu… sudah jangan menangis ya.”

Dalam kasus tersebut, orang tua sudah mengajarkan anaknya bahwa yang salah bukan dia, tapi lingkungan; dan mereka yang salah boleh dipukul supaya aku tidak sakit. Bukan anak itu belajar bahwa dia yang harus berhati-hati, tetapi orang lain yang harus berhati-hati supaya dia tidak celaka. Jangan heran jika dia tumbuh dewasa dengan egois. Jangan heran orang tua yang sedemikian pasti egois. Karena buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya.

Konsisten dengan bobot dan nilai yang tepat

Pendidikan yang baik harus memiliki bobot dan nilai yang tinggi dan harus bersifat konsisten. Pendidikan yang tidak konsisten akan menjadi pendidikan yang bersifat sangat relatif dan sangat membingungkan. Orang tua yang mendidik dengan cara yang membingungkan akan menghasilkan anak-anak yang cuek dan pragmatis. Karena mereka tidak bisa melihat pola didik yang konsisten, mereka akan berhenti berusaha mengerti kemauan orang tuanya dan mengambil sikap tidak perduli.

Hal ini juga yang akan terjadi jika ayah dan ibu dirumah tidak memiliki pola didik yang sama. Ayah bilang boleh, sementara ibu bilang tidak boleh. Ditambah lagi kalau ayah atau ibu sedang dalam suasana hati yang jelek, apapun yang dikerjakan anak jadi serba salah dan dia kena marah, bahkan untuk hal-hal yang sebelumnya mungkin dipuji oleh orang tuanya.

Sebagai gambaran, ada anak kecil yang berulang-ulang menghilangkan bolpen yang dibawanya ke sekolah. Orang tuanya tidak pernah marah dan untuk anak itu, orang tuanya menyediakan sekotak bolpen murah yang boleh dipakai anak itu ketika bolpen dia hilang (lagi). Hingga suatu hari, kotak bolpen itu kosong dan habis isinya dan dia tidak punya bolpen. Serta merta dia mengambil bolpen ayahnya dari meja tulis dan membawanya ke sekolah. Sepulangnya dari sekolah, seperti yang sudah bisa kita tebak, bolpen ayahnya pun hilang. Dan ketika ayahnya tahu, murkalah si ayah dan menampar serta menghajar anak itu dengan keras karena harga bolpen itu sangat mahal.

Ayahnya marah karena dia merasa terganggu. Selama ini dia tidak mendidik si anak untuk bertanggung jawab, melainkan membiarkan dia teledor. Ayah ini sudah salah mengajarkan kepada anaknya tentang prinsip nilai; yaitu barang yang dianggap tidak berharga boleh disia-siakan. Anaknya tidak tahu tentang bolpen murah atau mahal, dia hanya tahu bahwa bolpen itu buat menulis. Sementara bolpennya habis dan belum dibelikan lagi oleh ayahnya, dia ambil saja bolpen lain yang bisa dia pakai.
Tidak ada konsistensi dalam didikan si ayah dan tidak ada pengajaran tentang tanggung jawab pribadi serta prinsip-prinsip yang bernilai tinggi dalam didikan si ayah. Si anak bahkan tidak tahu kenapa dia dipukuli dengan sangat keras, padahal biasanya kalau bolpen hilang, si ayah cuma tersenyum dan pergi membeli bolpen yang baru buat dia. Dia bahkan tidak tahu kenapa bolpen itu bisa hilang, sama seperti semua bolpen yang lain yang pernah dia hilangkan, itu bahkan bukan salahnya. Bolpennya itu sendiri yang entah pergi kemana.
Tapi hari itu si anak mendapatkan dirinya kesakitan untuk sesuatu yang tidak dia mengerti.

Pendidikan manusia dibahas dengan sangat tajam dalam buku orang Kristen. Dan tujuan pendidikan diterangkan dengan prinsip yang sangat ketat pula. Bahwa dasar pendidikan anak adalah untuk membentuk manusia seperti yang sebagaimana telah Tuhan rencanakan terhadap masing-masing orang seturut dengan bekal yang telah Tuhan berikan. Berhati-hatilah dalam mendidik anak-anak yang dipercayakan ke dalam keluarga kita. Didiklah diri kita sendiri dengan keras hingga kita bisa menjadi teladan yang baik sebelum kita siap mendidik jiwa yang kecil dan murni itu.

Jangan pernah marah dalam keadaan marah. Tapi marahlah karena kita perlu marah supaya ditanggapi dengan serius oleh anak didik kita. Kemarahan dalam intesitas yang berbeda akan memberikan penekanan tentang seberapa besar kesalahan yang dia perbuat. Kesalahan kecil jangan dibuat besar. Kesalahan besar jangan dibuat kecil. Didiklah anak-anak sesuai dengan prinsip keadilan yang memiliki kasih. Kasihilah anak-anak dengan prinsip kasih yang memiliki didikan.

Para orang tua, janganlah mendidik sampai membangkitkan marah dan sakit hati dalam hati anak-anakmu. Bilur dan memar di kulit mereka akan hilang, tapi luka dalam batin mereka akan merusak jiwa mereka. Tapi didikan yang keras, yang membangun jiwa mereka akan disyukurinya dan bilur dan memar yang pernah singgah di kulit mereka akan menjadi kebanggaan mereka.

Kasih dan Kebaikan vs. Adil dan Kebenaran

Banyak orang mau menjadi orang baik, namun hanya sedikit orang yang mau menjadi orang benar.

Kebanyakan manusia dapat merasakan relasi langsung dengan kalimat di atas. Kebanyakan orang sangat ingin dinilai orang lain sebagai orang baik. Orang yang baik itu orang yang disukai orang banyak. Memiliki reputasi sebagai orang baik sangat penting bagi manusia untuk menjaga status dan posisinya di dalam sebuah komunitas. Semua agama mengajarkan bahwa antara sesama manusia harus saling mengasihi dan menghormati. Semua agama mengajarkan kebaikan. Bahkan orang tidak beragama pun melakukan perbuatan yang baik. Setiap orang berusaha melakukan kebaikan dengan berbagai macam alasan: mulai dari yang paling idealis yaitu menjalankan perintah agama, hingga pada yang paling pragmatis yaitu supaya tidak dibenci orang lain.

Tapi apakah definisi BAIK? Kita bisa saja mengatakan, baik itu suka menolong orang lain, membela kaum yang lemah, memiliki belas kasihan, suka memberikan sedekah pada orang yang kurang mampu, memelihara janda dan anak yatim piatu, taat menjalankan ibadah, dan seterusnya. Setiap kali yang terjadi adalah kebaikan itu didefinisikan sebagai perbuatan yang memiliki unsur KASIH. Memang demikianlah adanya, terlepas dari ide dan pemikiran lebih dalam tentang yang disebut “BAIK”. Kebaikan harus selalu berupa perbuatan yang nyata.

Setiap orang, dalam tingkatan yang berbeda-beda, selalu merasa dirinya baik. Mereka yang merasa dirinya tidak baik tidak akan pernah merasa tenang dalam hidupnya, hingga mereka melakukan sesuatu yang di rasionalisasi oleh logika mereka sebagai kompensasi untuk membungkam hati nurani. Seorang koruptor mungkin akan memberikan sumbangan yang besar kepada yatim piatu untuk membungkam hati nuraninya. Seorang penipu mungkin akan banyak melakukan puasa dan berdoa untuk mengimbangi perasaan bersalah yang menegur jiwanya. Seorang penjahat besar bisa jadi sangat rajin menjalankan ritual agama agar dia terlihat baik dan boleh diterima dalam lingkungan sosialnya.

Kebaikan berupa belas kasihan yang diumbar dalam komunitas manusia seringkali sebenarnya adalah kebaikan yang semu, kebaikan yang kelihatan sepintas lalu sepertinya nyata dan sungguh-sungguh. Membela yang lemah, memberikan sedekah, merawat janda dan yatim piatu, dan seterusnya, kesemuanya sering kali hanyalah merupakan salah satu alat untuk menampilkan gambaran baik tentang diri sendiri. Seringkali semua perilaku kebaikan dan belas kasihan yang dilakukan orang lebih banyak mendatangkan keuntungan untuk dirinya sendiri dibandingkan untuk orang yang ditolong.

Orang yang kurang baik menjadikan perbuatan baik sebagai kompensasi. Orang beragama menjadikan perbuatan baik sebagai alat untuk masuk surga. Yang lainnya berbuat baik untuk menonjolkan diri. Dan seterusnya. Selalu ada agenda dan motivasi tertentu bagi seseorang dalam perbuatan baik; dan seringkali motivasi tersebut adalah sangat baik. Tidak semua agenda dan motivasi perbuatan baik itu jahat dan buruk.

Namun, karena dirasa bahwa perbuatan baik itu sudah pasti baik, dan terlihat sepintas mendatangkan sukacita dan kebahagiaan dan tidak merugikan siapapun, serta dilakukan dengan tulus dan ikhlas, jarang sekali orang memikirkan dampak perbuatan baik yang dia lakukan itu secara mendalam dan berpikir panjang serta mempertimbangkan manfaatnya.

Orang tua yang sangat mengasihi anaknya kemudian memberikan semua hal baik yang diminta oleh si anak, apakah itu baik? Tentu saja kelihatan baik.
Seorang pengemis yang kelaparan dan mencuri ayam di sebuah rumah. Karena merasa iba, maling ayam itu kemudian dilepaskan begitu saja. Apakah itu salah? Tentu saja tidak salah. Pemilik ayam juga tidak keberatan setelah mengetahui duduk perkaranya.
Memberi sedekah kepada pengemis di persimpangan jalan dan tempat umum. Apakah itu tidak baik? Pasti itu adalah perbuatan yang dipandang baik dan welas asih.
Membela anak kecil yang sedang dimarahi dengan keras karena dia telah dengan sengaja melempar batu kepada seekor anjing yang menggonggong di dalam rumah orang lain. Apakah itu tidak boleh? Tentu saja boleh. Dia masih anak-anak, dan kenakalan yang dilakukannya adalah kenakalan anak-anak. Membela anak itu berarti termasuk dalam kategori membela orang yang lemah.

Semua perbuatan yang disebutkan di atas sebagai contoh. Apakah setiap masing-masingnya adalah baik? Ya. Tentu saja baik. Sekarang, pertanyaan berikutnya, apakah ada suatu perasaan yang terasa mengganggu dari setiap contoh di atas?
Apakah perbuatan baik dalam contoh tersebut adalah tindakan yang benar? Ternyata akan kita sadari, bahwa yang baik belum tentu benar. Dan ternyata jika mau kita renungkan lebih tajam, semua yang benar tidak akan selalu kelihatan baik di mata orang lain; bahkan seringkali, perbuatan yang benar terlihat sangat tidak baik.

Mari kita tinjau kembali satu persatu contoh di atas.
Orang tua yang sangat mengasihi anaknya kemudian memberikan semua hal baik yang diminta oleh si anak. Anak ini akan tumbuh menjadi anak yang tidak berjuang, manja, dan hanya tahu meminta tanpa mau berusaha sendiri.
Seorang pengemis yang kelaparan dan mencuri ayam di sebuah rumah. Karena merasa iba, maling ayam itu kemudian dilepaskan begitu saja. Pengemis ini akan selalu memiliki mental yang menuntut orang untuk mengasihani dia. Dia tidak akan berjuang dan berusaha bekerja dengan baik, melainkan akan menjadikan kelemahannya sebagai pembenaran diri dengan mentalitas sebagai korban keadaan.
Memberi sedekah kepada pengemis di persimpangan jalan dan tempat umum. Kalau dengan mengemis saja bisa dapat uang, untuk apa susah bekerja. Jika hari ini saya memberikan uang kepada pengemis untuk menolong dia, keesokan hari, jumlah pengemis akan semakin banyak atau semakin berkurang karena sudah ada satu pengemis yang saya tolong? Pasti bertambah banyak orang yang katanya ‘perlu dan mau ditolong’. Dan ketika saat itu saya tidak menolong, tiba-tiba saya disebut sebagai orang yang tidak berbelas kasihan dan tidak suka menolong orang lain yang kurang mampu. Tiba-tiba saja saya menjadi orang jahat.
Membela anak kecil yang sedang dimarahi dengan keras karena dia telah dengan sengaja melempar batu kepada seekor anjing yang menggonggong di dalam rumah orang lain. Mana yang lebih perlu, membela orang yang BENAR atau membela orang yang LEMAH? Kekacauan pemikiran dan prinsip-prinsip utama tentang kebenaran sudah membutakan banyak orang. Tidakkah kita seharusnya membela KEBENARAN dan bukan sembarangan membela orang yang katanya lemah?

Jadi sekarang kita pahami bahwa perlu ada kebenaran dalam setiap tindakan kita. Mari kita tinjau ulang semua contoh di atas berdasarkan sudut pandang kebenaran.
Orang tua yang sangat disiplin mendidik dengan keras supaya anaknya memiliki mental yang kuat. Dia tidak boleh mendapatkan sesuatu yang bukan berasal dari hasil usahanya. Dia harus dididik memiliki semangat perjuangan supaya saat dewasa nanti dia akan memiliki masa depan yang cemerlang, giat bekerja dan tidak malas.
Seorang pengemis yang kelaparan dan mencuri ayam di sebuah rumah, harus dihukum demi menegakkan hukum dan kebenaran. Setiap perbuatan yang dengan sengaja merugikan orang lain harus dihukum keras untuk menimbulkan efek jera dan menjadi peringatan dan pembelajaran bagi orang lain.
Pengemis harus ditindak berdasarkan hukum yang berlaku, menimbulkan kerawanan dalam satu wilayah dan membuat ketidaknyamanan bagi masyarakat umum. Mereka diharuskan bekerja dengan giat, karena meminta-minta adalah perbuatan yang merendahkan harkat dan martabat manusia. Solusinya, pekerjakan mereka sebagai tenaga pembersih kota jika ketrampilan mereka hanya sebatas memegang sapu.
Anak kecil yang sengaja melempar batu kepada seekor anjing yang menggonggong di dalam rumah orang lain tentu saja harus dididik dengan keras dan dijatuhi hukuman karena telah dengan sengaja merugikan orang lain dan membahayakan orang lain. Jika tidak sejak kecil dididik, apa mau menunggu hingga nanti besar dan terlambat?

Setelah melihat semua contoh di atas disikapi dari sudut pandang yang berbeda, apakah terlihat bahwa kesemua hal itu mencerminkan kebenaran? Tentu saja. Itu adalah keadilan dan didikan yang sangat baik. Memang tidak terlihat terlalu baik, tapi secara jangka panjang, pasti akan mendatangkan kebaikan, disiplin, dan keteraturan.
Dan seperti sebelumnya, apakah ada suatu perasaan yang terasa mengganggu dari setiap contoh di atas? Saya cukup yakin bahwa jawabannya adalah ‘iya’.

Kita harus selalu dengan bijaksana dan berpengertian luas menyikapi kebaikan, supaya kebaikan itu bisa mendatangkan kebenaran. Kasih yang berdiri sendiri tanpa pengertian dan kebijaksanaan akan kebenaran adalah perbuatan yang lemah dan merusak. Seperti contoh di atas yang sudah kita lihat. Sebaliknya, adil dan benar yang berdiri sendiri tanpa pengertian dan kebijaksanaan akan kasih mendatangkan kekejaman yang tidak kalah merusak.

Kasih dan adil harus berjalan bersama. Ketika ada keadilan, pada saat yang sama pula harus ada kasih. Pada saat ada kasih, harus ada keadilan yang muncul pula tepat secara bersamaan. Kasih dan keadilan bukan dua keping mata uang yang muncul bergantian, melainkan berupa paradoks. Tidak boleh ada kasih tanpa keadilan dan tidak boleh muncul keadilan tanpa kasih.

Melampaui semua pemahaman tersebut, satu hal yang harus selalu diingat adalah yang dipandang benar tidak akan selalu terlihat baik. Sementara semua yang terlihat baik belum tentu dipandang benar. Ketidakmengertian atau ketidakmampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kebaikan inilah yang membuat seringkali orang benar disalah mengerti, kendatipun dia sudah menjalankan kebenaran dan kebaikan secara lengkap dan sempurna dalam paradoksnya. Karena kasih yang besar sering terlihat sebagai kelemahan dan kegagalan. Sementara keadilan yang besar langsung terlihat sebagai kekejaman.

Kegagalan menemukan keberadaan paradoks kasih di dalam keadilan membuat manusia sering merasa diperlakukan tidak adil. Sebaliknya, kegagalan menemukan keberadaan paradoks keadilan di dalam kasih membuat manusia memandang remeh belas kasihan yang diterimanya dan sekali lagi, merasa diperlakukan tidak adil. Akan tetapi, yang pertama dan terutama adalah belas kasihan terhadap semua manusia. Itulah dasar dari segala hukum yang paling agung

Hampir tidak ada seorang pun mau rela mati untuk orang yang benar, tetapi mungkin untuk orang yang baik, masih ada orang yang berani mati.