Ironi Kontradiksi Antara “Kemauan” dan “Kelakuan” dalam Psikologi

Saya yakin, banyak dari kita –atau mungkin bahkan semua kita– pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat seperti demikian, ‘Saya ingin sehat, tapi susah sekali mau mulai berolahraga,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk memiliki berat badan yang ideal, tapi susah sekali untuk menahan keinginan untuk makan,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk rajin, tapi kenapa selalu gagal fokus.’

Kita semua pasti pernah, atau paling tidak merasakan bahwa ada kesenjangan antara apa yang kita mau dan yang kita lakukan yang ternyata kemudian bertentangan dengan tujuan kita seperti contoh yang barusan saya sebutkan. Fenomena kesenjangan antara keinginan dan kekuatan komitmen kita sering kali menjadi penghambat antara impian dan kenyataan. Fenomena sedemikian menciptakan banyak motivator yang mendorong dan menyemangati kita dengan banyak sekali kalimat-kalimat yang mendongkrak motivasi.

“Everything is about HOW BAD DO YOU WANT IT”

Segala hal adalah tentang SEBERAPA BESAR KEINGINANMU

Saya pribadi menyukai kalimat itu. Kalimat itu menyatakan pada kita untuk mencari kedalam diri kita sendiri, seberapa besar keinginan kita, seberapa dalam ambisi kita, dan ketika kita sudah mengetahuinya, maka sebesar itu pula daya dan tenaga yang akan muncul untuk mendorong kita untuk meraih yang kita dambakan.

Tapi benarkah motivasi-motivasi sedemikian benar-benar bermanfaat? Tidakkah kita semua terus mendengar banyak orang yang mengeluhkan hal yang sama? Yang ingin sehat tetap tidak berolahraga, yang ingin memiliki berat badan ideal tetap tidak berhenti ngemil dan makan, yang ingin tidak mencontek tetap malas belajar, yang tahu bahwa merokok tidak sehat tetap tidak berhenti merokok, yang mengerti bahwa candu itu mengerikan tetap tidak berhenti dengan kecanduan, yang ingin saleh tetap tidak behenti menipu, tidak jujur, dan korupsi, yang beragama dan menyebut nama tuhan tetap saja merebut sikap dan menjadi tuhan bagi manusia lain, yang tahu bahwa diri sendiri memiliki salah tapi tetap berani menghakimi orang lain, dan yang ingin masuk surga tetap tidak berhenti berbuat dosa. Tidak ada yang berubah. Semua tetap sama. Manusia tetap adalah manusia yang penuh dengan kesalahan dan kelemahan.

“Belajar melakukan satu hal yang baik saja belum, sudah selesai melakukan seratus hal yang jahat.”

Pernahkah mendengar pepatah tersebut? Itulah gambaran tentang kita, manusia. Kita berjuang untuk menjadi baik, bersusah payah dan berjerih lelah supaya bisa menjadi orang benar, berkualitas, berbudaya tinggi, agung, anggun, berpengetahuan, berwawasan, berbijaksana, bermoral, dan seterusnya. Dan untuk mencapai itu semua adalah tidak mudah, dituntut ketekunan dan perjuangan dan pembelajaran. Namun apa daya, belum juga selesai belajar untuk menjadi positif, kita semua sudah selesai melakukan semua hal yang sebaliknya, yang bertentangan dan yang negatif: kita egois, tidak toleran, tidak mau mengerti kesulitan orang lain, hidup seenaknya, tidak tertib, tidak taat aturan, malas, tidak perduli dan tidak peka terhadap hal disekitar kita, mengumbar hawa nafsu, dan seterusnya. Dan kesemuanya bahkan tidak perlu kita pelajari, tidak perlu pembelajaran, kita lakukan sambil lalu, bahkan tidak perlu kita upayakan atau kita pikirkan.

Mengapa sedemikian? Karena kita manusia. Itulah alasan yang selalu kita lontarkan. Namanya juga manusia. Setelah selesai meminta maaf, kemudian berbuat salah lagi. Sudah selesai menangis dan menyesal, kemudian kembali melakukan hal yang sama. Kita hanya manusia. Membuat saya kadang bertanya-tanya, benarkah perbuatan baik yang saya lakukan bisa ditimbang dan jadinya lebih banyak daripada kesalahan saya?

Apakah kita tidak memiliki keinginan untuk menjadi baik? Apakah kita tidak termotivasi untuk menjadi makhluk yang agung, makhluk yang berbeda dengan binatang, makhluk yang berakal dan berbudi pekerti? Saya yakin jawabannya adalah tidak demikian, kita termotivasi, sungguh-sungguh mau dan termotivasi. Tapi kita tidak pernah berhasil. Paling tidak, saya tidak pernah berhasil. Saya tidak tahu tentang Anda.

Hal ini bukanlah masalah sosial, bukan problematika sosiologi, bukan juga permasalahan psikologi. Kita seringkali dengan ringan menyalahkan orang lain, “aku berusaha baik, tapi lingkunganku yang membuat aku begini dan mempengaruhi aku.” Dengan kata lain, “aku baik, orang-orang itu yang jahat dan membuat aku ketularan menjadi jahat.” Dan semua orang merasakan hal yang sama, dia merasa baik, tapi lingkungan (baca: semua orang yang lain) yang jahat. Bukankah kita masing-masing adalah ‘lingkungan’ bagi semua orang yang lain? Dengan demikian, tidakkah kita secara kolektif adalah sebenarnya jahat? Sudah diri sendiri jahat, masih menuduh orang lain yang jahat dan mempengaruhi kita –‘katanya’– sehingga kita menjadi jahat. Tidakkah kejahatan kita jadi berlipat, menjadi orang jahat dan menuduh serta memfitnah orang lain sebagai orang jahat?

Masalah tentang perbedaan antara keinginan dan kelakuan ini adalah masalah dengan manusia. Manusia memang sedemikian. Tidak ada jalan keluar.

“This is not a technical problem, not motivational problem, not strong will problem. This is a ‘people problem’. And we cannot fix people. No one can.”

Hal ini bukanlah masalah teknis, bukan masalah motivasi, bukan masalah tekad. Ini adalah ‘masalah manusia’. Dan kita tidak bisa memperbaiki manusia. Tidak ada yang bisa.

Sebagian manusia secara fenomena yang kasat mata terlihat baik, terlihat jujur, terlihat sopan, sampai suatu ketika topeng-topeng itu terbongkar dan terlihat sejatinya. Kembali kepada kalimat motivasi favorit saya, semua itu adalah tentang seberapa besar keinginan kita, tetapi hal itu tidak berlaku untuk semua hal. Dalam beberapa hal, motivasi dapat mendorong kita, namun tidak dalam semua hal. Demikian pula dengan psikologi, sampai dalam hal tertentu, psikologi dapat membantu, namun tidak dalam semua hal. Dan tidak ada jalan keluar lain yang dapat ditawarkan.

Paling tidak, tidak dari apa yang selama ini kita kenali sebagai pengetahuan atau filsafat atau agama.

“You’re a man looking at the world through a keyhole. You’ve spent your whole life trying to widen that keyhole… to see more, to know more. And now, on hearing that it can be widened, in ways you can’t imagine, you reject the possibility.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Kamu adalah seseorang yang mengamati dunia ini dari lubang kunci. Kamu menghabiskan seluruh hidupmu mencari cara untuk memperbesar lubang kunci itu… untuk melihat lebih banyak, mengetahui lebih banyak. Dan sekarang, saat mendengar bahwa lubang itu dapat diperbesar, dengan cara yang tidak dapat kamu bayangkan, kamu menolak kemungkinan itu.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Sampai pada titik ini, pada situasi yang tampaknya tanpa pengharapan, bagi Anda yang merasakan sedemikian, saya dengan jujur akan mengatakan bahwa saya tidak menulis artikel ini untuk membuat Anda berputus asa. Saya menemukan jawaban dalam buku orang Kristen. Bahwa perubahan dan motivasi yang kuat adalah motivasi yang berasal dari dalam diri. Hal ini juga diketahui oleh kita semua. Motivasi yang berasal dari luar diri tidak akan bertahan lama. Akan tetapi, motivasi seperti apa dan darimana motivasi itu bisa berasal (yang kemudian berada dalam diri seseorang) yang bisa bertahan lama?

Di dalam kepercayaan Kristen, dikatakan bahwa di dalam Yesus, ada kuasa yang memperbaharui dan merubahkan. Perubahan secara fenomena dapat dilakukan oleh siapapun, untuk menipu diri sendiri dan orang lain. Tapi tidak jarang pula, perubahan fenomena itu bisa bersifat sejati. Tetapi ketika menyentuh hal-hal tentang perubahan yang sifatnya esensi dan intisari, yang berkenaan dengan kesalehan, moralitas, kebenaran, kasih dan keadilan, tidak ada perubahan secara fenomenal yang dapat bertahan lama. Perubahan dari luar adalah bersifat sementara dan bahkan bisa mendatangkan frustasi dan keputusasaan dan ketegangan dalam diri. Bayangkan seperti ini, tentang pekerja yang hanya kelihatan rajin saat ada atasannya mengawasi. Itu adalah perubahan fenomena. Dia ingin terlihat baik supaya pekerjaannya dihargai. Tetapi perubahan itu hanya akan mendatangkan ketidaktenangan ketika dia mengerjakan pekerjaannya. Akan tetapi dengan perubahan yang dari dalam diri, ketika dia tahu bahwa dia harus bekerja sebaik-baiknya karena itu adalah hal yang jujur dan benar, dia akan bekerja rajin, baik pada saat ada yang melihat ataupun pada saat sendirian.

“Apakah moralitas itu? Moralitas adalah melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang melihat.”

Tentang hal pekerjaan, itu adalah hal yang kelihatan.

Tentang kesalehan, kesucian hidup, kejujuran, dan seterusnya, siapakah yang bisa mengetahui? Hanya takut akan Tuhan yang sejati yang bisa menjaga hal-hal yang sifatnya tidak kelihatan. Di dalam buku orang Kristen dikatakan, “Takut akan Tuhan adalah awal dari pengetahuan.” Itulah moralitas. Hiduplah sedemikian seperti hidup senantiasa dihadapan Tuhan. Perubahan bermula dari penyesalan, dan kita yang telah bersalah, diampuni dosanya oleh Yesus. Dari penebusan dosa oleh Kristus akan ada perubahan dari dalam diri masing-masing orang yang akan mendatangkan dan memunculkan hidup. Kekuatan dari dalam itulah yang menghidupkan seseorang dan memampukan dia untuk dirubahkan.

Sama seperti kehidupan semua makhluk hidup yang berasal dari dalam. Kehidupan tidak pernah berasal dan ditopang dari luar diri, melainkan selalu dari dalam. Ketika manusia berusaha memotivasi diri dari luar, kemudian berputus asa dengan keterbatasannya dan perjuangannya untuk menjadi makhluk yang sejatinya adalah yang berakhlak dan bermoral, ketika tidak ada jalan keluar melalui tuntutan agama dan pengetahuan, iman Kristen memberikan jalan keluar.

Ilmu pengetahuan berbicara tentang benar dan salah. Kemudian Agama –semua tanpa kecuali– berbicara tentang baik dan jahat. Dan Filsafat berbicara tentang bijak dan bodoh. Hanya iman Kristen yang berbicara tentang hidup dan mati yang kekal.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” – Yesus

Tidak pernah ada siapapun pernah mengatakan hal sedemikian (jika Anda menemukan orang waras lain yang pernah mengatakan hal sedemikian, tolong beritahu saya). Iman Kristen tidak hanya bicara tentang benar dan salah atau baik dan jahat, tetapi terutama adalah tentang hidup. Agama mencari jalan. Pengetahuan dan filsafat mencari kebenaran. Dan hampir semua manusia yang pasti akan mati mencari ‘kehidupan’. Dan semuanya ada didalam Tuhan-nya orang Kristen.

Advertisements

Agama dalam Perspektif Sosiologi: Keyakinan akan Kebenaran & Kebijaksanaan Manusia

Ketika kita mencoba memahami keberadaan diri kita sendiri, secara pribadi, setiap kita masing-masing individu, tanpa memandang orang lain sama sekali; Apakah dimungkinkan bagi kita untuk memahami bagaimana kita bisa memeluk suatu agama tertentu?

Selangkah lebih jauh lagi, tanyakan pada diri kita, apakah dimungkinkan bagi saya untuk berpindah dan menganut agama yang lain selain daripada yang saya yakini selama ini?

Dan yang terakhir, bisakah orang lain merayu, atau bahkan memaksa saya untuk berpindah dan berpaling dari agama yang saya yakini sebagai sebuah kebenaran?

Saya yakin jawabannya adalah TIDAK. Tidak seorangpun bisa memaksa kita untuk memeluk agama yang berbeda dengan yang saya yakini sebagai kepercayaan saya. Tidak seorangpun bisa meyakinkan saya bahwa agamanya lebih benar daripada agama saya. Saya yakin semua dari kita bisa memahami bahwa agama adalah bagian hidup yang paling personal dan jika ada orang lain yang menganggap bahwa agamanya adalah yang paling benar, tentu saja saya bisa memahami hal itu, karena saya pun menganggap bahwa agama saya yang paling benar. Jika saya tidak memiliki kepastian itu dalam diri saya, maka tentunya saya sudah memeluk agama apapun yang saya anggap sebagai kebenaran mutlak.

Apakah orang lain bisa memaksa saya untuk menyukai es krim rasa durian jika saya menyukai es krim rasa green tea? Orang lain bisa memaksa saya untuk memakan es krim rasa durian, dan akan membuat saya muntah karena saya tidak tahan baunya. Ancaman dan paksaan akan membuat saya ketakutan tentang kenyamanan dan kelangsungan hidup saya, sementara rayuan dan iming-iming akan membuat saya tertarik. Saya akan memakan es krim rasa durian. Orang akan mengira saya penggemar es krim rasa durian.
Tapi siapapun tidak akan pernah bisa memaksa saya untuk menyukai es krim rasa durian. Saya akan semakin mendambakan dan merindukan es krim green tea.  Karena itulah diri saya, penggemar es krim green tea.

Saya yakin kita bisa sangat mengerti dan berelasi dengan jelas terhadap sepotong fakta kehidupan yang barusan saya jelaskan. Jika demikian, maka jelaslah, bahwa melalui ancaman ataupun rayuan, kita yang memiliki keyakinan yang sejati terhadap agama yang kita percayai dengan segenap hidup kita sebagai suatu kebenaran mutlak, tidak akan membuat kita bergeser dan berpindah agama begitu saja.

Mereka yang beragama Kristen, bersekolah di luar negeri yang beragama Buddha, apakah dia tiba-tiba berpindah menjadi Buddhist? Mereka yang sering mendengar panggilan ibadah umat Islam, apakah serta merta memeluk agama Islam? Hiasan Natal yang meriah di negara ateis, apakah serta merta menjadikan banyak penduduk mereka menjadi umat Kristiani? Mereka yang pergi ke pulau Bali untuk merantau mengadu nasib dan peruntungan, apakah mereka kembali sebagai umat Hindu?
Saya bisa terus berceloteh, tapi saya yakin kita semua menangkap maksud dari kalimat-kalimat saya.

Jadi lihatlah sendiri, fenomena perpindahan agama adalah esensi dari suatu sistem kepercayaan yang tidak bisa dipengaruhi –apalagi diintervensi– dari luar diri kita sendiri. Lihatlah sendiri, dalam agama apapun dari sebelah manapun, berapa banyak orang yang mati untuk menunjukkan kepercayaan dan kebenaran agama mereka. Jika hidup dan mati pun sudah tidak bisa menggoyahkan keyakinan seseorang, bagaimana seorang manusia, siapapun dia, bisa begitu saja berpindah agama. Mengapa kita menjadi khawatir ketika melihat ada orang yang berpindah agama, seakan-akan kehilangan pendukung atau kehilangan jumlah anggota. Apakah agama itu seperti keanggotaan dalam sebuah klub yang sedang bersaing jumlah anggota dengan klub lain? Apakah agama itu seperti persaingan jumlah tentara untuk memenangkan pertarungan? Apakah jumlah yang banyak menentukan kemenangan?

Seharusnya tidak sedemikian. Berapa banyak peperangan besar yang gemilang yang terjadi antara pasukan jumlah besar yang dibantai habis oleh pasukan yang jumlah jauh lebih sedikit. Agama adalah bagaimana setiap orang, secara pribadi, berelasi dengan penciptanya. Tidakkah hal itu sifatnya seorang demi seorang, pribadi lepas pribadi. Tidakkah kita masuk kedalam akherat seorang demi seorang, bukan bersifat membership dan borongan/kolektif/beramai-ramai. Apakah kita yakin bahwa mereka yang berdiri disebelah kita saat berada dalam tempat ibadah dalam hatinya yang paling dalam, datang beribadah dengan niat yang sama seperti kita? Apakah kita yakin bahwa amal dan ibadah antara yang seorang dengan yang lain akan diperkenan oleh Sang Pencipta? Tidakkah setiap agama mengajarkan semua yang baik?

Jika demikian, sebenarnya, apakah kita perlu merisaukan bagaimana Sang Pencipta mengurus ciptaan-Nya? Apakah kita perlu membantu Sang Pencipta? Membela Dia seolah-olah kita lebih bijaksana dan lebih hebat daripada Dia yang menciptakan dunia dan segala isinya? Karena itulah setiap orang sepatutnya mempelajari ajaran agamanya seturut dengan kepercayaan masing-masing.
Karena itulah sistem pendidikan menyediakan wadah bagi setiap pelajar suatu bentuk pelajaran agama, supaya melalui wadah pendidikan, terbentuklah pengertian dan pengetahuan tentang konsep kebenaran yang dipercayai sebagai suatu agama dan kebenaran yang pantas untuk dianut, untuk menghindari fanatisme.

Dunia kita menjamin kebebasan hak beragama sebagai salah satu hak asasi manusia yang paling asasi. Karena pemaksaan dalam agama akan menghasilkan peperangan dan korban jiwa yang sangat besar, demi mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak dapat dilihat, disentuh, bahkan tidak dapat terselami. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan hakiki, apakah yang dimaksud dengan “agama” ini? Apakah ini tentang perspektif manusia mengenai bagaimana bersikap dihadapan Tuhan, atau tentang perspektif Tuhan mengenai bagaimana manusia dihadapan Tuhan, atau tentang perspektif manusia tentang bagaimana Tuhan dihadapan manusia?

Lihatlah, kebijaksanaan manusia dalam mengatur segala sesuatu. Lihatlah, agama mengajarkan semua yang baik. Lihatlah, bahwa semua manusia dalam hatinya mengetahui ada kebenaran dan kebaikan supaya tidak mencelakakan manusia lain. Lihatlah dunia sekeliling kita, apa yang kita lihat? Mereka yang mengaku beragama seringkali merupakan orang-orang yang paling berani berbuat jahat. Mari kita buka mata kita lebar-lebar, apakah ini yang diajarkan oleh agama kita, apapun agama itu?

Tidakkah kita semua mendambakan tatanan masyarakat yang baik? Akan tetapi, siapakah masyarakat itu? Tidak lain adalah Anda dan saya, kita semua. Dan jika kita semua memulainya dari menata diri kita sendiri, kita akan pasti dapat mewujudkan apa yang kita dambakan. Saya yakin, kita tidak sendiri.

Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kesadaran Moral

Saya yakin kita semua pernah berada dalam suatu dilema moral, yang satu lebih kompleks dan berat dibanding yang lain. Ketika kita melihat suami dari sahabat kita berselingkuh, apakah yang akan kita lakukan? Berdiam diri atau menegur atau menyampaikan hal tersebut? Jika kita sampaikan, akan terjadi kerusakan parah dalam keluarga mereka, mungkin anak-anak mereka akan dibesarkan dalam keluarga yang hancur. Jika tidak kita sampaikan, hal itu mungkin akan berlanjut dan menjadi lebih parah.
Atau ketika seseorang sedang dalam antrian dalam ruang praktek dokter, ada seseorang yang anak kecil dan tampaknya jauh lebih kesakitan daripada kita, baru datang dan mengantri sesudah kita. Kita yang sudah mengantri lebih dari satu jam, yang juga sedang migren, demam dan nyeri dengan bisul di bibir ; apakah kita akan membiarkan anak itu masuk terlebih dahulu padahal dia baru saja datang?
Atau ketika kita memiliki posisi sebagai pejabat pemerintah, seseorang datang memohon persetujuan dan pengesahan dari dokumen dan perjanjian kontrak; datang dengan membawa uang suap. Semua orang di kantor kita memiliki budaya dan kebiasaan yang sama. Semua orang tau bahwa suap itu adalah etika yang rusak, tapi semua orang melakukannya. Jadi akan kita terima kah uang suap itu? Jika kita tolak, kita menjadi orang yang sok suci, dikucilkan karena tidak sejalan dengan semua orang dalam kantor kita. Jika kita terima, hati nurani kita menegur kita bersalah.
Atau ketika kita melihat handphone yang tergeletak di kamar mandi pusat perbelanjaan, tanpa pemiliknya. Akankah kita ambil? Atau kita biarkan? Atau kita bawa pulang? Atau kita serahkan kepada pihak managemen atau pihak keamanan gedung? Tidak akan ada seorangpun yang menyalahkan kita kalau kita bawa pulang dan kita jual, karena tidak ada yang tahu. Tidak ada siapapun yang akan menegur kita selain daripada diri kita sendiri dan hati nurani kita.

Ada banyak dilema moral yang terjadi di sekitar kita, dimana kita dituntut untuk mengambil sebuah posisi didalamnya. Seperti pepatah yang berbunyi, “Bagaikan buah simalakama, dimakan: bapak mati, tidak dimakan: ibu mati.” Semakin kita memiliki pengertian moralitas dan pengetahuan norma kebaikan dan kebenaran, semakin banyak kita akan menempatkan diri kita dalam dilema moral.

Moralitas dan Perasaan Bersalah

Dari manakah munculnya kesadaran moral? Secara sangat singkat, dari didikan budaya dan agama. Saya yakin kita semua akan setuju jika saya katakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Saya yakin sebagian kita akan setuju jika saya katakan bahwa kesadaran moral adalah sama seperti kesadaran tentang keberadaan Tuhan, yang ada sejak manusia dilahirkan. Namun bersamaan dengan kesadaran moral tersebut, ada hal dalam diri kita yang ada sejak lahir, namun tidak kita sadari, yaitu amoralitas.

Saya mengasumsikan kita semua pernah mendengar kalimat bahwa, “manusia itu pada dasarnya baik. Manusia dilahirkan seperti lembaran kertas putih polos. Masyarakatlah yang membuat manusia menjadi rusak dengan pengaruh negatif.”

Saya pribadi tidak setuju dengan kalimat itu. Siapakah masyarakat? Masyarakat adalah kumpulan manusia. Jika kumpulan manusia semua berasal dari kertas putih polos, darimana datangnya ketidakbaikan?
Ingatkan kita ketika kita pertama kali mencuri? Ingatkah betapa kita sangat ketakutan ketika itu? Atau ingatkan kita ketika kita pertama kali berbohong?

Kita tahu bahwa kita bersalah. Hati nurani menegur kita, dan hidup kita menjadi tidak tenang karenanya. Dalam perkembangan kita, kita mulai mengenal kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, keadilan dan kelaliman, dan seterusnya; berikut dengan segala kompleksitas dan dilema didalamnya.

Kita mengenal dan belajar tentang semua itu dari mereka-mereka yang memiliki kepekaan terhadap teguran hati nurani mereka, mereka-mereka yang menjaga moralitas mereka, dan kita menganggap mereka itu sebagai orang-orang saleh. Dan kita mengenal mereka semua sebagai pengajar moral, pemuka agama, pemimpin agama, dan seterusnya.

Pernahkah kita sadari bahwa justru dari pengetahuan akan moralitas tersebut membangkitkan kesadaran kebersalahan? Perasaan bersalah itu muncul karena kita mengerti hal yang baik dan hal buruk. Ketika kita tidak  mengerti akan perbedaan benar dan salah, tidak ada dalam diri kita yang menegur.

Konsep Dosa

Saya yakin kita semua setuju bahwa sebagai orang yang beragama, kita semua mengenal konsep dosa. Bahkan orang yang tidak beragama pun harus mengakui suatu perasaan bersalah yang timbul dalam diri seseorang, termasuk didalamnya adalah perasaan menyesal. Setiap orang yang tidak memiliki perasaan bersalah atau penyesalan dikategorikan kedalam orang yang memiliki gangguan kejiwaan yang parah atau psychopathy.

Sesungguhnya, agama tidak pernah membawa kita kepada kebenaran. Agama membawa kita kepada konsep pengertian bahwa ada kebenaran dan kebaikan. Melalui pengertian tersebut, kita dibawa pada pengetahuan akan yang baik dan yang jahat. Semakin kita mengenali dan mendalami perihal kebaikan, semakin kita mengetahui bahwa kita ini adalah orang yang memiliki banyak kesalahan.

Ketika kita berbuat baik, menolong orang, memberikan kepada seorang pengemis bantuan berupa uang, kita merasa sudah baik. Kita berbuat baik. Kita adalah orang baik. Kita menolong orang lain.

Pernahkah kita memikirkan lebih jauh, apakah perbuatan kita menolong pengemis itu akan berakibat baik bagi dia atau malah menjerumuskan dia? Apakah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengemis tersebut? Apakah uang? Ataukah pekerjaan? Ataukah kesempatan? Apakah uang yang kita berikan dia gunakan untuk membeli makanan atau malah membeli rokok yang malah tidak menyehatkan?

Saya sekali lagi yakin, bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan seharusnya menggugah sebagian kita dan menyadarkan kita. Tapi kita merasionalisasikan perasaan tanggung jawab moral dan kesadaran moral itu dengan alasan-alasan seperti berikut: yang penting kita sudah berniat baik. Yang penting adalah niatnya. Masalah pengemis itu mau terus menjadi pengemis, atau uang itu mau dipakai untuk beli makanan, atau beli rokok, atau beli pisau untuk menodong orang, atau dipakai untuk menyekolahkan anaknya, kita tidak tahu. Tepatnya, kita tidak cukup perduli.

Dengan kata lain, kita tidak bisa dipersalahkan ketika kita tidak tau.

Hal itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Pengertian itu seharusnya membangkitkan suatu perasaan bersalah yang lain. Yaitu seberapa jauh pun kita mau berbuat baik, kita tidak bisa berbuat baik. Kita tidak bisa secara tuntas berbuat kebaikan yang dapat membenarkan diri kita atau membuat diri kita dibenarkan. Karena kita tidak tahu, hal itu cukup untuk menenangkan hati nurani kita dan menjauhkan kita dari perasaan bersalah.

Agama dan kebenarannya hanyalah membuktikan bahwa diri kita ternyata tidak mampu melakukan kebaikan. Dan melakukan satu kesalahan dari satu larangan dalam agama berarti telah melanggar semua hukum. Agama tidak menyelamatkan. Perbuatan baik tidak membuat kita dibenarkan. Saya yakin kita semua bisa menyetujui kalimat berikut, apakah semua orang dalam penjara adalah orang yang tidak beragama? Tidak. Pasti ada banyak orang yang berada dalam penjara yang adalah orang yang taat beragama. Apakah koruptor adalah orang yang tidak taat beragama? Jika mereka beragama, mengapa mereka tetap korupsi?

Akan tetapi melalui jalan agama, seseorang diberi tahu bahwa dia bersalah, dia berdosa. Dan sebagian besar agama menawarkan penyelesaian, yaitu melalui perbuatan baik. Namun hal tersebut menimbulkan permasalahan yang lain lagi yang sudah kita bahas, yaitu kesadaran bahwa tidak ada perbuatan baik kita yang benar-benar tuntas merupakan kebaikan yang dapat dibanggakan dan dijadikan pengganti perbuatan dosa kita dan menenangkan perasaan bersalah kita.

Masalahnya utamanya adalah kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan. Kita berusaha melakukan penebusan kesalahan kita dalam setiap upacara besar keagamaan. Setiap kali. Dan setiap kali kita melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada jalan keluar melalui agama, karena perbuatan amal kita tidak bisa menyelamatkan kita.
Berusaha menyelamatkan diri melalui perbuatan amal adalah seperti melanggar lampu merah. Kita keluar rumah, hendak menuju ke rumah kekasih kita, di jalan ada sepuluh lampu merah. Setelah melalui 9 lampu merah, kita sadar bahwa kita sudah terlambat. Maka di lampu merah ke-10, kita serobot dan langgar. Kemudian kita dihentikan oleh polisi dan di tilang. Kita tidak bisa berargumen kepada polisi itu, “Bapak tidak boleh menilang saya. Saya sudah melewati 9 lampu merah dengan tertib, masa baru 1 lampu merah yang saya langgar, sudah ditilang?”
Kita tidak bisa juga berargumen kepada seorang hakim, “Sudah 39 tahun saya hidup sebagai warga negara Indonesia, tidak pernah saya berurusan dengan hamba hukum, masakan baru satu kali ini saya mencuri karena anak saya sakit keras dan hampir mati, saya akan langsung masuk penjara?”

Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan. Dan agama memperjelas hal itu. Melalui agama kita mengenal semua baik dan jahat. Dan semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak kita sadar bahwa semakin banyak yang kita perbuat ternyata tidak baik.

Jika kita bisa dianggap baik hanya dengan mempercayai suatu agama tertentu tanpa perlu hidup bertanggung jawab dan suci, apa gunanya kita hidup bersusah payah berusaha mengejar kesalehan? Apa gunanya kesadaran kita akan moralitas? Jika demikian halnya, apakah gunanya beragama? Dan disini jawaban yang saya temukan yang selalu saja diucapkan orang: Ada begitu banyak agama di luar sana. Apakah semua agama itu sama saja dan berakhir dengan kebuntuan dan dilema sedemikian?

Q: Bukankah semua agama itu sama, mengajarkan kebaikan dan mendatangkan keselamatan?

AAda tiga pertanyaan dalam satu kalimat tanya tersebut. Pertanyaan tersebut hanya bisa terjawab melalui –paling sedikit– dalam empat pembahasan.

Yang pertama adalah apakah yang dimaksud dengan keselamatan? Ada agama dan kepercayaan yang mengatakan bahwa keselamatan itu adalah surga. Jika kita beragama, maka kita akan masuk surga.
Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu adalah kita akan hidup kaya raya, makmur dan sejahtera, dijauhkan dari segala macam kesulitan, sakit penyakit, bahaya, baik dalam dunia ini, maupun akhirat.
Sementara yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita akan melalui kehidupan yang ini, untuk menuju pada kehidupan yang lain, yang berikutnya, yang lebih baik daripada kehidupan yang sekarang kita jalani.
Dan yang lain lagi mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita tidak akan mati secara rohani, kita akan hidup setelah jasmani kita dalam kehidupan yang fana ini berakhir; dan kita akan hidup sampai selama-lamanya.

Jadi manakah yang benar dengan pendapat tersebut? Setiap agama dan kepercayaan memiliki definisi yang berbeda tentang “KESELAMATAN”. Ada agama dan kepercayaan yang menggambarkan bahwa keselamatan yang adalah surga itu adalah kehidupan yang mirip dengan kehidupan kita yang sekarang, namun disana tidak terdapat kesulitan, sakit penyakit, kematian, malapetaka, dan seterusnya. Yang lain menggambarkan bahwa kehidupan di surga itu adalah kehidupan sebagai pertapa dan kekal, dalam ketenangan dan kedamaian yang tiada akhir. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa kehidupan di surga itu adalah kemewahan dan kepuasan dan pemenuhan segala keinginan manusia yang tidak tercapai di dunia ini, segala uang, logam mulia, batu mulia, tempat tinggal seperti istana, kehidupan seperti raja, dan mengumbar segala nafsu, keinginan, kenikmatan lidah dan seksualitas, sejauh dan sebanyak yang dapat kita bayangkan dengan imajinasi manusia, bahkan lebih daripada batasan imajinasi kita.

Yang kedua adalah berkenaan dengan tujuan akhir hidup manusia, kita akan mulai masuk dalam pembahasan untuk menjawab pertanyaan tersebut, mulai dari yang paling akhir. Agama mendatangkan keselamatan. Kita semua adalah manusia. Manusia itu bisa bersalah, dan sudah bersalah, dan tidak seorangpun yang tidak pernah tidak bersalah. Karena itu manusia akan binasa, karena kesalahan kita sendiri. Air yang kita minum, berusaha kita bersihkan dari air yang kita cemari. Makanan yang kita makan, mengandung segala kemajuan teknologi dan rekayasa yang secara perlahan dan komulatif meracuni kita. Sebagian dari kita dengan tubuh yang lebih lemah menderita penyakit yang aneh-aneh, mulai dari kanker, kerusakan organ, keracunan logam berat atau kimia, penyakit multiple sclerosis, autoimun, dan seterusnya. Udara yang kita hirup sudah kita cemari sendiri dengan pencemaran udara, berbagai jenis radiasi, penebangan hutan, perusakan alam, eksploitasi sumber daya, kerusakan keseimbangan jumlah populasi flora dan fauna, dan seterusnya. Langsung ataupun tidak langsung, kita semua terlibat dan ikut sama bersalahnya, dan kita semua akan binasa karena kesalahan kita sendiri. Dunia sudah terlalu rusak dan perbaikan yang kita lakukan akan menjadi penyebab kerusakan yang berikutnya. Hal itu adalah akibat kesalahan kita semua, tidak terelakkan dan tidak ada yang dapat kita lakukan selain kita berusaha bertahan.

Namun sebagai manusia, kita juga memiliki roh. Tidak ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia jasmani kita, dan untunglah jasmani kita tidak mengandung unsur kekekalan. Tapi ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia rohani kita yang akan terus berlanjut, bahkan ketika dunia jasmani ini sudah lewat. Kita bisa dimampukan untuk memilih jalan hidup yang tepat, yang bisa membawa kita pada keselamatan, menghindarkan kita daripada kematian rohani yang sifatnya selama-lamanya dan kekal.

Disinilah isu tentang agama menjadi sangat penting. Melihat kembali tentang definisi masing-masing agama tentang keselamatan, manakah definisi yang benar? Kesalahan memilih jalan hidup dan mengikuti ajaran yang salah adalah meresikokan kehidupan kekal dalam roh. Apakah kita akan diselamatkan didalam roh atau kita akan tidak terselamatkan didalam roh sampai selama-lama-lamanya.

Untuk menentukan kita akan mau makan apa sore ini, kita memilih. Memilih makanan yang dimasak oleh seseorang di suatu rumah makan, yang memiliki kualitas yang sesuai dengan yang kita harapkan. Demikian pula untuk memilih pakaian, sekolah, universitas, calon istri dan suami, dan seterusnya. Kita memilih dan mempertimbangkan. Untuk bisa memilih dan mempertimbangkan, kita mengambil informasi dan data, kita analisa antara informasi dan data yang satu dengan yang lain. Kita bersikap terbuka, objektif, dan rela hati untuk mempelajari setiap aspek, kemudian mengambil keputusan berdasar pada informasi yang kita kumpulkan.

Itu semua rela kita lakukan untuk memilih makanan, pakaian, sekolah, pasangan hidup, dan seterusnya. Padahal itu semua sifatnya sementara. Jarang dari kita yang benar-benar mempertimbangkan dan mempelajari agama dan kepercayaan yang kita pegang, membandingkannya dengan agama lain untuk kemudian kita pilih. Tidak, kita tidak melakukan itu. Kita bahkan seringkali tidak mempelajari baik-baik dan secara mendalam agama yang sedang kita yakini dengan buta.
Kita bisa penasaran beda antara panci dan loyang yang satu dengan yang lain hanya karena beda harga, yang satu lebih murah daripada yang lain. Atau kita ingin tahu beda antara smartphone yang satu dengan yang lain, mana yang lebih bagus, mana yang lebih berkualitas.

Tidakkah roh kita yang kekal lebih penting daripada dompet kita, panci atau smartphone?
Inilah bahasan yang ketiga, yaitu bagaimana kita bisa tidak perduli dan tidak mau mempelajari dan mengenali siapa atau apa yang kita percaya yang katanya bisa membawa kita pada keselamatan? Bagaimana kita bisa secara pragmatis menganggap bahwa semua kebaikan adalah sama dan semua ajaran adalah sama rata baik adanya. Sementara jelas kelihatan bahwa agama dan kepercayaan yang satu menyatakan bahwa binatang itu makhluk hidup yang tidak boleh kita bunuh dan makan. Sementara agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua boleh kita nikmati dan makan dengan bertanggung jawab. Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua manusia adalah ciptaan yang paling tinggi dan darahnya sangat berharga sehingga tidak boleh dibunuh. Sementara ada agama dan kepercayaan yang lain menyatakan bahwa darah manusia itu boleh dikorbankan dan darah manusia yang satu lebih berharga dibanding darah manusia yang lain.

Bagaimana mungkin kita bisa dengan polos mengatakan bahwa semua agama itu sama?

Sekarang, bahasan yang keempat, apa yang hendak kita lakukan dengan perbedaan itu? Kita bisa tidak perduli dan tetap menganggap semua agama sama. Kita bisa mulai belajar, membandingkan, dan mencari kebenaran sejati, yang benar-benar benar. Kita bisa menutup diri dan menganggap semua agama salah dan agama kita yang paling benar.
Manusia menajamkan manusia, dengan kritik yang membangun, berdiskusi, berbicara, membuka diri; ilmu pengetahuan bertumbuh dengan sangat cepat karena setiap orang bisa saling mendukung dan melengkapi. Demikian pula dalam hal filsafat, filsuf yang satu memberikan pendapat dan pengajaran, dan filsuf yang lain memberikan tanggapan, dan kita mempelajari kemajuan berpikir mereka dan meningkatkan kualitas hidup intelektual kita.

Demikian pula halnya dengan agama dan kepercayaan kita. Menutup diri dengan fanatisme adalah sama dengan menjadi katak dalam tempurung. Seperti anak kecil yang menganggap dirinya sangat pandai dan paling tahu dan paling benar. Dia tidak menerima pengajaran dari orang lain. Dan kita semua tahu kemana anak kecil sedemikian akan berakhir jikalau didikan tidak diterapkan dalam dirinya.

Kebenaran itu persis seperti singa, dimanapun dia berada, dia akan selalu ditakuti dan membuat perbedaan. Kita yang mempercayai dan memelihara singa yang hidup, kita tidak perlu membela singa itu pada saat ada musuh mau menyerang. Singa itu bisa membela dirinya sendiri, dari dalam dirinya sendiri, dia akan menunjukkan bahwa dia hidup, bahwa dia layak ditakuti. Yang perlu dibela adalah “singa-singa”-an; singa palsu. Singa itu lain dengan singa-singa-an.

Kalau saudara mengeluarkan uang 500juta untuk membeli mobil, kemudian sebuah mobil-mobil-an disodorkan kepada saudara, maka saudara akan marah besar. Karena saudara tahu bahwa mobil itu berbeda dengan mobil-mobil-an. Setelah saudara membawa pulang mobil yang sejati, dan ada orang yang mengatakan bahwa Anda tolol karena membeli mobil-mobil-an, Anda hanya akan tersenyum. Itu pasti orang gila. Anda tidak marah, karena Anda tahu, Anda membayar 500jt untuk membeli mobil, dan mobil itu yang Anda bawa pulang.

Demikian pula dengan kebenaran yang sejati, agama yang sejati, kebenaran yang sejati. Setelah saudara mendapatkan kebenaran yang sejati, dan ada yang mengatakan bahwa kebenaran itu palsu, maka Anda akan tersenyum dan bisa mulai menjelaskan dan memberikan argumen. Karena Anda sudah belajar, dan sudah mengerti, dan sudah memilih dan mendapat kebenaran yang sejati.

Menjawab pertanyaan diatas: Bukankah semua agama itu sama? Hanya kalau Anda tidak pernah belajar, maka semua agama itu sama. Sama seperti semua mobil itu sama, sama seperti semua singa itu sama. Sama seperti semua perempuan/laki itu sama, asal perempuan/laki, boleh dijadikan istri/suami.

“The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.”― Augustine of Hippo

Hukum Kausalitas Dalam Sosiologi dan Psikologi

Kausalitas adalah satu bentuk relasi yang menghubungkan sebuah peristiwa dengan peristiwa berikutnya. Relasi itu memberikan sebuah gambaran tentang peristiwa yang menjadi penyebab dan peristiwa yang menjadi akibat, dimana peristiwa yang pertama dimengerti sebagai penyebab dari peristiwa kedua. Demikian pula sebagai konsekwensinya, peristiwa yang pertama tersebut juga adalah merupakan hasil akibat dari peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Berdasarkan hukum yang dipahami dan disetujui secara luas ini, ditarik sebuah pengertian bahwa dalam alam semesta ini, segala sesuatu terjadi karena ada penyebabnya. Dan segala sesuatu ada karena ada inisiatornya. Inisiator tersebut dapat berupa berbagai macam faktor dan hasilnya adalah merupakan sebuah fenomena yang menjadi akibat dari inisiatif oleh inisiator.

Hukum kausalitas harus diakui oleh berbagai bidang, mulai dari filsafat yang bisa ditelusuri bahkan sampai pada Aristotle, sosiologi, psikologi, hingga sains dan seluruh pelosok konsep dan pemikiran yang mungkin dipikirkan manusia. Hukum inilah yang membuat segala sesuatu bisa memiliki kemungkinan untuk diprediksi dan memiliki konsistensi. Bisa kita bayangkan jika hukum ini tidak ada dalam dunia kita, maka tidak akan ada pola tertentu di dalam alam semesta yang bisa mungkin kita pelajari karena semuanya akan kacau balau.

Hukum sebab akibat – tabur tuai

You reap what you sow

Terjemahan: Kamu menuai apa yang kamu tabur

Secara universal, hukum kausalitas membentuk pengertian tentang determinisme bahwa ada satu hukum timbal balik yang berlaku secara umum dalam kehidupan manusia dan segala sesuatu yang relevan dengannya. Secara deterministik, kita menuai apa yang kita tabur, segala yang kita perbuat akan kembali pada kita pada akhirnya, semua yang kita kerjakan akan berbalik pada kita. Semua yang kita mengerti mengenai prinsip karma dan perbuatan jahat/baik adalah berdasar pada pengertian hukum kausalitas.

Karena semua orang mengejar kenikmatan dan kenyamanan, hukum ini baik secara langsung maupun tidak langsung memaksa orang untuk berbuat baik, karena dia mengerti bahwa dia tidak akan dapat lari dari pembalasan dan imbalan atau hukuman dan pahala dari pekerjaan tangannya. Hukum ini menjadi kengerian bagi mereka yang berbuat jahat dan merupakan penghiburan bagi mereka yang berbuat baik. Konsistensi, kemutlakkan, dan kekakuan keberadaan hukum kausalitas dalam segala sesuatu yang bergerak di dalam ruang dan waktu ini menjadi motivator tersendiri dalam kehidupan setiap diri manusia. Manusia terdorong dan termotivasi (baca: terpaksa dengan sukarela) untuk berbuat baik.

Resiprokal determinisme

Dalam hubungan antar manusia, ide tentang keberadaan resiprokal determinsme ini dicetuskan oleh Albert Bandura. Resiprokal determinisme menjelaskan tentang keberadaan hubungan timbal balik atau sebab akibat yang membentuk perilaku dalam teori pembelajaran sosial (yang merupakan dasar teori yang lebih tajam yaitu teori sosial kognitif). Timbal balik dalam proses pertumbuhkembangan seseorang terhadap lingkungan sekitarnya membentuk perilaku dan cara berpikir seseorang.

Secara sederhana, perkembangan manusia sejak kecil adalah merupakan proses pembelajaran dan penyesuaian antara dirinya dengan lingkungan sosialnya. Karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, dia terdorong untuk mendapatkan penerimaan atau persetujuan dari lingkungannya. Hal itu memaksa (baca: mendorong) seseorang untuk memunculkan perilaku tertentu yang disetujui oleh lingkungan tempat dia ingin diterima.

Sebagai contoh sederhana, seseorang yang ingin diterima kedalam sebuah perkumpulan, akan mulai mengadopsi identitas dari perkumpulan tersebut. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, sikap, tingkah dan perilaku, dan seterusnya, supaya dia bisa diterima dengan baik, bisa masuk kedalam kelompok tersebut.

Hal ini yang memunculkan kutipan peribahasa Cina yang berbunyi, “Kumpul dengan merah, jadi merah. Kumpul dengan warna hitam, jadi hitam.” Juga kalimat lain, “Kamu akan menjadi seperti lima orang teman yang paling dekat dengamu.” Serta, “Katakan padaku siapa teman-temanmu, maka akan kukatakan padamu siapa dirimu sebenarnya.”

Maksud dari semua kalimat itu adalah sama, yaitu setiap orang dipengaruhi lingkungannya. Memang benar, lingkungan akan sangat mempengaruhi seseorang, akan tetapi adalah benar pula bahwa setiap orang bisa dan boleh memiliki kemungkinan untuk memilih lingkungannya sendiri. Setiap orang diharapkan mampu bertumbuh seturut dengan pembaharuan pikiran dan akal budinya; memunculkan potensi untuk mengerti apa yang baik, apa yang benar, dan apa yang bernilai. Hal itu akan membuat dia memilih lingkungan yang dapat menerima dan mengakomodasi pertumbuhkembangan dirinya.
Sehingga adalah kekeliruan besar jika seseorang yang sudah beranjak dewasa dan memiliki pengertian terus menerus menyalahkan lingkungannya. Perilaku sedemikian adalah perbuatan yang merendahkan dirinya sendiri dan menghina kedewasaan diri.

Hak dan tanggung jawab

Topik bahasan lain yang tidak kalah menarik tentang hubungan sebab akibat dalam masyarakat manusia adalah tentang hak dan kewajiban. Manusia selalu ribut tentang hak dia sebagai manusia, dan hampir selalu lupa bahwa selalu ada kewajiban dan tanggung jawab yang berhubungan langsung secara timbal balik dengan hak tersebut.

Pergunjingan masalah hak dan tanggung jawab ini terus menerus tarik menarik sejak seorang anak kecil mulai memiliki kesadaran. Dan masalah ini semakin dibuat rumit oleh ketidakmengertian orang tua dalam memberikan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Ketidakmengertian orang tua, membuat kesalahpengertian anak dalam pertumbuhannya sehingga anak itu pun akan bertumbuh dalam pengertian yang salah tentang hak dan kewajiban di dalam hidupnya. Demikianlah tatanan lingkungan dan masyarakat dirusak dengan perasaan ketidakadilan yang kadang tidak pada tempatnya. Banyak orang kemudian merasa dirinya selalu menjadi korban ketidakadilan dari hak mereka. Padahal tidak selalu demikian adanya.

Kebanyakan (jika tidak semua) orang baru ribut tentang hak ketika dia merasa dirinya tidak mendapat apa yang menjadi haknya. Dia tidak banyak ribut ketika hak orang lain diambil, apalagi jika yang mengambil hak orang lain adalah dirinya. Demikian pula dengan setiap orang lain, meributkan haknya sendiri-sendiri, tapi seringkali lupa dengan tanggung jawabnya.

Mau gaji naik setiap tahun, tapi pekerjaan dan ketrampilan tidak memenuhi syarat. Mau mendapat nilai bagus di sekolah, tapi tidak mau belajar. Mau hidup berkecukupan, tapi tidak mau berjuang. Memiliki cita-cita setinggi langit, tapi tidak mau berusaha bangun dari tidur dan mulai bekerja. Dan yang lebih buruk lagi adalah kemudian menyalahkan semua hal dan semua orang yang disekitar dia kecuali dirinya sendiri.

Hak selalu harus diberikan lebih rendah daripada tanggung jawab. Kenapa harus lebih rendah? Karena manusia selalu men-over-estimasi kemampuan dirinya sendiri, menilai dirinya sendiri lebih tinggi dari yang seharusnya. Jika dia menilai dirinya tinggi, lakukanlah pekerjaan yang tinggi, kualitas yang tinggi, maka hak akan menyusul naik seturut dengan kemampuan, kewajiban, dan tanggung jawab yang berani dia pikul. Jangan hanya meributkan hak, tapi terlebih penting lagi, ributkanlah kewajiban dan tanggung jawab.

Banyak orang, belum mulai bekerja, sudah minta gaji tinggi, tunjangan ini dan itu. Belum menunjukkan diri bisa apa, kualitas kerja setinggi apa, dedikasi sebesar apa, etos kerja seperti apa, sudah menilai diri tinggi sekali.
Dunia olah raga sangat mengenal keseimbangan hak dan kewajiban. Dalam pertandingan lari, semua orang berlatih dahulu, berusaha dahulu, berjuang dahulu, seorang lebih keras daripada yang lain. Apakah kemudian pada saat pertandingan, yang merasa sudah berlatih lebih keras selalu bisa mengalahkan orang lain? Tidak tentu. Dia boleh saja merasa bahwa dia adalah orang tercepat karena merasa punya hak untuk mendapat medali emas, tapi dia harus menunjukkan dulu hasil latihannya, disiplinnya, usahanya, dan berlari sekuat tenaga. Yang mendapat medali emas adalah yang memasuki garis finish pertama. Setelah dia membuktikan diri, baru dia mendapat medali. Itulah ilustrasi yang paling bisa menggambarkan hak dan kewajiban.

Hak selalu menyusul setelah kewajiban. Kewajiban harus selangkah lebih maju daripada hak. Hak harus selalu lebih rendah daripada kewajiban.

Dihormati dan menghormati

Satu hal lagi yang sangat mempengaruhi relasi antar manusia, yaitu tentang kehormatan. Manusia manapun selalu sangat peka ketika kehormatannya diganggu. Seperti halnya hak. Semua manusia ingin dihargai, dan untuk itu dia seringkali berani membayar mahal untuk membeli kehormatan. Menempelkan berbagai macam benda pada dirinya untuk menaikkan nilainya dihadapan orang lain.

Hal itu adalah sesuatu yang sia-sia dan semu. Karena suatu ketika, dia harus menanggalkan semuanya dan saat itu orang akan menilai segala hal yang tidak bisa dia beli, yaitu nilai kehidupannya. Entah sampai kapan orang akan mengerti bahwa segala sesuatu yang terpenting tidak bisa dibeli dengan uang; Dan segala sesuatu yang memiliki nilai paling tinggi tidak pernah bisa dilihat dengan mata jasmani.

Alam sudah memberi contoh jelas: udara. Tidak bisa dibeli dengan harga berapapun dan tidak kelihatan. Tapi tidak pernah orang berpikir bahwa udara tidak penting dan tidak ada nilainya karena tidak bisa dilihat.

Ada tiga hal besar yang sangat penting dan tidak bisa dibeli dengan apapun dan hanya bisa diperoleh dengan cara memberikannya terlebih dahulu pada orang lain: Kasih, Kehormatan, dan Kepercayaan. Ketiganya memiliki sifat yang sama dan berlaku hukum timbal balik dan sebab akibat.

Agar dihormati orang lain, hormatilah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dihormati.
Agar dikasihi orang lain, kasihilah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dikasihi.
Agar dipercaya orang lain, percayalah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dipercaya.

Tidak ada jalan lain. Seringkali orang hanya bisa menuntut orang lain untuk menghormati dia, tapi dia memunculkan perilaku yang tidak layak dihormati. Dia hanya merasa ber-‘HAK’ untuk dihormati.

The Golden Rule dan Etika Kristen

Hukum yang selalu disebut sebagai hukum etika dan moral tentang hubungan manusia yang tertinggi adalah hukum kasih. Istilah Golden Rule sendiri muncul sekitar pertengahan abad ke-17 dengan konsepnya yang membicarakan tentang etika yang bersifat timbal balik (istilah asli: the ethic of reciprocity).

Di dunia sebelah barat, kebudayaan kuno Babilon dalam Hukum Hammurabi (Lex Talionis) menyatakan, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi.” Etika yang lebih bersifat hukuman ini menyatakan hukuman yang setimpal dengan perbuatan. Demikan pula dengan filsuf Yunani kuno yang mengatakan hubungan sebab akibat dalam relasi antar manusia, “Jangan lakukan hal yang akan kamu persalahkan jika dilakukan oleh orang lain – Thales.” Isocrates mengatakan pula, “Jangan lakukan pada orang lain hal yang akan membuatmu marah kalau mereka melakukannya padamu.”

Kalimat dalam dunia filsafat timur pun tidak berbeda jauh dengan kalimat dunia filsafat barat. Confusius mengatakan, “Jangan lakukan pada orang lain hal yang kamu tidak ingin orang lakukan padamu.” Dan Laozi, “Anggaplah keuntungan tetanggamu seperti keuntunganmu, dan kerugian mereka seperti kerugianmu.”

Persamaan semua kalimat itu adalah sifat kalimat pasif: jangan lakukan pada orang lain.
The Golden Rule itu sendiri mengatakan, “Perbuatlah kepada orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan – Yesus.” Ini merupakan etika yang lebih tinggi: perbuatlah dan lakukanlah pada orang lain.

Jika seseorang tidak suka ditipu, jangan menipu orang lain. Itu adalah implikasi kalimat negatif. Sedangkan implikasi kalimat positif adalah, jujurlah pada orang lain kalau kamu ingin orang lain jujur padamu.
Jika seseorang tidak ingin difitnah, jangan memfitnah orang lain. Itu kalimat negatif. Implikasi kalimat positifnya adalah, berkata-katalah denga benar tentang orang lain. Yang pertama adalah jangan berbicara, yang terakhir adalah berbicaralah, tapi yang benar.

Dalam Golden Rule dan etika Kristen, muncul sebuah kalimat lagi yang sangat penting dan menjadi hukum kasih, “Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri – Yesus.” Mudah diucapkan, sangat agung, dan sangat sulit untuk dikerjakan. Lebih mudah untuk menjadi pasif dan tidak membenci sesamamu manusia, tapi untuk menjadi aktif dan mengasihi, membuat saya terus bertanya-tanya, siapa yang sanggup mengerjakan perbuatan baik yang memiliki etika dengan standard yang begitu tinggi.

Q: Bagaimana mungkin tidak ada seorangpun yang baik?

ABerbicara tentang kebaikan hampir selalu mengarah pada hal yang sifatnya lebih kepada pembicaraan filsafat dan teologi sebagai ujung terakhir. Sadar ataupun tidak sadar, kita berbuat baik karena ada tuntutan dalam diri kita, suara hati nurani dan kesadaran yang menganiaya kita, menuntut kita untuk melakukan hal yang baik seturut dengan pengertian yang kita miliki, dan terlebih lagi untuk menghindari perasaan bersalah yang akan menjauhkan kita dari ketenangan diri. Hati nurani dan kesadaran akan perasaan bersalah adalah sebuah konsep pengertian akal budi yang hanya dimiliki manusia, jauh di dalam jiwa kita tentang penghukuman dan pembalasan yang setimpal dengan perbuatan kita.

Dalam pengertian akan penghakiman dan penghukuman serta pembalasan itulah setiap orang, pribadi lepas pribadi, masing-masing orang sepanjang sejarah di sadarkan akan konsep ‘keselamatan’ dalam ‘kehidupan setelah kematian.’ Itulah yang mendorong orang untuk berbuat baik. Namun tidak ada yang baik, tidak ada yang sanggup berbuat baik dalam kebaikan yang sempurna. Tidak ada seorang pun memiliki kebaikan yang bisa dipertimbangkan sebagai alasan bagi dia untuk boleh diselamatkan. Itu adalah kesadaran yang mengerikan bagi orang sepanjang sejarah, sehingga muncullah perlawanan terhadap figur tuhan karena tuhan sangat mengganggu eksistensi manusia. Jika tidak ada tuhan, maka tidak ada penghakiman. Siapa pula tuhan itu sehingga dia berhak seenaknya menentukan nasib manusia. Manusia bahkan tidak tahu apakah dia ada atau tidak. Hal-hal inilah yang dibahas oleh agnostisisme.

Namun sekali lagi, hati nurani, moralitas, kesadaran dan perasaan bersalah terus menegur jiwa manusia. Walaupun pragmatisme berusaha membunuh suara hati nurani, namun suara itu hanya membungkam, tidak pernah mati. Itulah sebabnya tidak pernah luntur dalam sepanjang sejarah manusia, upaya manusia berbuat baik supaya dia boleh diterima dalam kehidupan yang baik sesudah kematian. Tapi sebagian kita menyadari bahwa perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan kita, karena alasan yang sangat sederhana dan mudah, “tidak ada yang baik, seorang pun tidak. Hanya TUHAN yang baik.”

Sebenarnya pertanyaan ini memiliki antitesis, “Siapakah yang bisa dikatakan baik?” Dan antitesis itu membawa tiap orang kepada satu perenungan, “Apakah baik itu?”

Serta merta kita akan menyadari bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kebaikan yang kita lakukan adalah sangat terbatas, berlaku sementara, dan terpecah-pecah. Baik bagi satu orang, belum tentu baik bagi orang yang lain. Orang hanya akan mengatakan kita baik jika kita menguntungkan atau melakukan hal yang dia sukai. Kita hanya bisa dikatakan baik dalam satu waktu dan kondisi tertentu, tapi tidak dalam totalitas keseluruhan hidup kita.

Siapakah yang berani berkata, “Aku ini orang baik.” Dia yang berani berkata sedemikian sudah pasti tidak baik, satu hal yang pasti, dia adalah pembohong. Atau tentu saja, jika dia gila. Agama menuntun kita untuk melakukan perbuatan kebaikan supaya kita boleh diselamatkan (baca: pergi kepada tuhan, di sorga, di nirvana, di langit, dan seterusnya), namun semua agama sendiri menyadari bahwa kebaikan tidak mungkin dilakukan secara universal, secara integral, oleh setiap orang.

Ketika seseorang bersedekah terhadap pengemis, ada banyak pengemis lain yang tidak mendapat sedekah dari kita. Ketika kita membantu anak yatim piatu, ada ratusan anak yatim lain yang tidak mendapat kebaikan dari kita. Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.
Ketika kita menolong seseorang, ada puluhan orang yang datang kepada kita yang tidak sanggup kita tolong. Jadi bagaimana kita bisa menjadi baik secara utuh dan sempurna supaya kita boleh diselamatkan? Semakin kita berusaha baik, semakin tidak baik kita jadinya.

Sebagian besar kita tidak menyukai mereka yang hanya berbuat baik pada kita karena sedang ‘ada maunya.’ Kita jengkel karena kita merasa diperalat. Datang membawa bingkisan dan hadiah kecil, supaya kita membalasnya dengan melakukan sesuatu untuk mereka. Kita juga tidak senang jika kita datang kepada seseorang untuk meminta bantuan, kemudian malah kita diperas dan diminta untuk memberikan bingkisan. Perbuatan baik dengan motivasi tertentu tidak bisa dikategorikan sebagai kebaikan.
Tapi tidakkah itu yang dilakukan oleh orang yang katanya beragama? Agama ‘mengajarkan’ cara untuk memperalat tuhan, berbuat sedikit kebaikan supaya tuhan mau menyelamatkan kita dan membawa kita ke surga. Perbuatan baik kita tidak pernah lepas dari motivasi tertentu, entah tersembunyi atau mungkin terang-terangan.

Karena kesadaran akan ketidakmungkinan untuk melakukan kebaikan secara sempurna, pemikiran curang manusia menambahkan pengajaran baru, bahwa akan ada “pengadilan” yang menimbang perbuatan baik kita terhadap perbuatan buruk kita. Melebih-lebihkan nilai perbuatan baik kita di hadapan tuhan, seolah kita layak atau bahkan berjasa kepada tuhan. Padahal di dalam segala hal ada relasi pencipta-ciptaan yang berlaku di alam semesta ini, dan adalah kegagalan di titik pertama ketika munculnya pemikiran bahwa kita memiliki kemungkinan untuk memiliki jasa dihadapan pencipta kita.
Tapi baiklah kita bahas pula kemungkinan ini. Benarkah kebaikan kita bisa lebih banyak atau paling tidak sama banyak dengan kejahatan dan kesalahan kita?

Ilustrasi kecil:
Apakah saja syarat murid sekolah yang baik? Patuh pada guru. Hormat pada yang lebih tua. Tidak mencontek. Tidak berbohong. Tidak mengganggu teman. Belajar yang rajin. Datang sekolah tepat waktu. Menjaga ketertiban sekolah.
Jika seorang anak melakukan kesemuanya dengan sempurna, tapi suatu hari dia datang sekolah terlambat, dengan sejuta alasan yang valid dan masuk akal. Apakah dia masih bisa dikatakan sebagai murid yang baik? Jika selama dia bersekolah selama 300 hari selama setahun, dia tidak belajar dengan rajin suatu ketika, apakah dia masih bisa dikatakan murid yang baik? Jadi berapa kali dia boleh ‘TIDAK BAIK’ dan masih dapat dikatakan bahwa dia ‘MASIH BAIK’? Satu aturan dilanggar, dia sudah melanggar semua aturan.

Ilustrasi yang lebih ekstrim:
Apakah syarat istri yang baik? Rajin mengurus rumah. Merawat suami dan anak. Teliti dalam urusan rumah tangga. Pandai berdandan. Bisa masak. Memberikan pertimbangan dan nasihat yang baik bagi suami dan anak-anaknya.
Kemudian dalam 40 tahun pernikahan, dia pernah satu kali tidur dengan pria lain. Apakah dia masih merupakan istri yang baik?

Demikian pula kita dalam hidup kita. Benarkah kita berani mengatakan bahwa jika kebaikan dan kejahatan saya selama hidup ditimbang, maka saya masih ada kelebihan baik. Benarkah kita berani mengakui bahwa kita baik dihadapan tuhan dan meminta dia untuk menyelamatkan kita?

Apakah benar-benar agama atau diri kita sendiri yakin bahwa kita bisa diselamatkan oleh perbuatan baik? Justru karena adanya tuntutan moral dan segala hukum yang berlaku, membuktikan kepada kita bahwa kita tidak bisa berbuat baik. Karena kita tidak bisa berbuat baik, maka kita semua tidak bisa diselamatkan.
Seluruh agama adalah sia-sia. Seluruh upaya manusia untuk bisa diselamatkan adalah upaya menjaring angin. Kita tidak bisa diselamatkan. Jika kita bahkan tidak bisa berbuat baik, dengan apa kita bisa diselamatkan? Jika perbuatan baik kita (jika seandainya, seumpama, misalnya, contoh omong kosong jika kita benar-benar berbuat baik tanpa cela) pun pada dasarnya disertai oleh motivasi tertentu, masihkah kita bisa disebut baik? Karena kita mengharapkan imbalan atas jasa kita. Sebuah buku filsafat Islam yang pernah saya baca memberikan ilustrasi yang menarik: perbuatan baik itu seharusnya seperti saat kita buang air besar, tidak ada motivasi, ikhlas, penuh kerelaan, tidak mengungkit jasa kita kepada siapapun di kemudian hari. Itulah perbuatan baik yang sejati.

Tidak ada yang baik. Seorang pun tidak.
Tidak ada jalan keluar lain. Kita tidak bisa diselamatkan jika kita tidak menghadap Tuhan dan membesar-besarkan jasa kita dihadapan-Nya (tapi itu akan membuat manusia semakin berdosa, bahkan menurut etika rendah manusia; Apalagi di dalam etika Tuhan.)
Namun bukunya orang Kristen memberikan kepada kita penghiburan dan jalan keluar. Karena manusia tidak bisa berbuat baik dan tidak bisa menyelesaikan dosanya sendiri dalam hidupnya di hadapan tuntutan penghakiman keadilan TUHAN, maka Tuhan mengutus Anak-NYA sebagai satu-satunya jalan keluar, supaya mereka yang percaya pada berita aneh dan supranatural itu boleh diselamatkan. Tuhan Yesus, Anak Tunggal Tuhan, mengambil bentuk manusia supaya Dia bisa mati, menggantikan manusia berdosa, menyatakan kasih Tuhan yang besar untuk manusia yang berdosa. Harus bentuk manusia, karena Dia tidak bisa mati jika Dia tetap sebagai Tuhan.
Kasih itu tidak murah, karena masih ada keadilan yang harus ditanggungkan sebagai pertanggungjawaban manusia. Manusia boleh saja meminta maaf dan manusia akan dimaafkan hanya di dalam Kristus Yesus sebagai pengganti yang sah yang diakui Tuhan, tapi konsekuensi hukuman harus jalan dan masih ada ganti rugi yang harus dibayar seturut dengan keadilan Tuhan. Sehingga itulah yang dikerjakan dalam karya keselamatan, Anak Allah yang tunggal itu menggantikan manusia dan mati di dalam kesucian dan ketidakberdosaan untuk memuaskan penghakiman Tuhan.

Jangan ditanyakan kenapa harus cara itu, Dia pencipta. Cara apapun yang Dia lakukan, selalu akan ada manusia yang mempertanyakan, “kenapa harus cara itu?” Dia berhak menggunakan cara itu. Dan itulah jalan keluar yang ditawarkan. Kita mau menerima atau menolak, Tuhan tidak rugi apapun juga.