Membela yang Lemah Vs. Membela yang Benar: Ketika yang Lemah Menganiaya yang Kuat.

Sepanjang sejarah, banyak kisah tentang kaum yang tertindas dan penganiayaan. Yang kuat menindas yang kurang kuat, yang kaya menindas yang kurang kaya, yang besar menindas yang kurang besar, yang pria menindas yang kurang pria, dan seterusnya. Dan kisah ini menjadi sumber inspirasi dan imajinasi dari cerita yang menjadi luapan hati banyak orang dalam masyarakat tentang kisah para pahlawan super. Sebuah dambaan yang kekanak-kanakan, mungkin, akan tetapi siapakah yang tidak merasa memiliki relasi dengan fenomena para pahlawan super?

Jiwa yang tertindas, entah mengalami penindasan oleh teman bermain di sekolah, atau mengalami perlakuan dan ketidakadilan di kantor, atau terjadi tragedi dalam kehidupan yang berada diluar kendali. Seandainya ada seseorang diluar sana yang bisa melepaskan kita dari pergumulan hidup kita. Akan tetapi hal itu tidak ada. Tidak ada pahlawan super. Tidak ada yang mendengarkan seruan minta tolong kita. Tidak ada yang datang menolong saat kita terdesak.

Kita harus berjuang sendiri.

Mempertahankan hak kita sendiri. Demi diri kita sendiri. Karena adalah hak kita untuk bisa memiliki kehidupan yang aman. Adalah hak kita untuk hidup sejahtera. Adalah hak kita untuk memperjuangkan apa yang kita inginkan.
Atau benarkah demikian?

Hak Vs Kewajiban

Manusia selalu ribut tentang HAK-nya. Dan paling cepat merespon ketika merasa HAK-nya diganggu. Dan untuk mempertahankan apa yang dirasa menjadi HAK-nya, manusia melakukan sedemikian banyak hal.
Apakah HAK datang begitu saja? Jawabannya adalah TIDAK.

Hati nurani setiap orang menyadari jika saya katakan bahwa seorang anak perlu dididik dengan baik. Dia memiliki hak yang harus dikompensasikan dengan kewajiban. Setiap orang harus belajar, baru berhak mendapatkan pengakuan prestasi. Setiap orang harus bekerja, baru berhak mendapatkan upah. Apakah hanya sedemikian? Sekali lagi jawabannya adalah TIDAK.

Belajar kimia selama 5 menit tidak akan membuat seorang anak memiliki HAK untuk menjadi juara kelas dan memperoleh beasiswa. Bekerja secara sembarangan dengan kualitas rendah tidak membuat seseorang memiliki HAK untuk mendapatkan penghasilan yang seperti yang dia inginkan.

Hak akan selalu diberikan setelah kewajiban dijalankan. Bukan sebelumnya. Anda tidak bisa melamar kesebuah perusahaan sebagai petugas resepsionis dan langsung meminta upah sebesar 7 juta per bulan. Anda juga tidak bisa melamar kesebuah perusahaan tanpa ketrampilan sama sekali dan berharap bahwa hasil kerja Anda harus dihargai sesuai dengan yang Anda mau. Bukan Anda yang memberi penilaian. Itu bukan hak Anda. Anda berkewajiban menunjukkan kemampuan Anda terlebih dahulu, sebelum hak itu diberikan kepada Anda.

Kasih vs. Keadilan

Bagaimana dengan mereka yang kurang beruntung dan tidak mendapatkan kesempatan untuk memupuk ketrampilan? Apakah mereka memiliki hak? Tentu saja!

Sejak dunia jatuh dalam dosa, tidak ada yang sempurna. Dunia ini tidak lagi mencerminkan kemuliaan dan kehormatan penciptanya. Dalam banyak hal, terjadi ketimpangan dan jurang pemisah. Ada yang lebih beruntung dengan segala kesempatan (yang tidak selalu dimanfaatkan dengan baik), dan ada yang kurang beruntung dengan kesempatan yang lebih terbatas (yang -sekali lagi- juga tidak dimanfaatkan dengan baik). Dan yang dari semua kelompok manusia itu, mereka yang paling celaka adalah mereka yang malas dan enggan berjuang.

Yang lebih beruntung, seharusnyalah memiliki kasih dan empati kepada mereka yang kurang beruntung. Memberikan kepada mereka kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Karena itu bermula dari beberapa negara dengan latar belakang Kristen, ada yang disebut upah minimum. Sehingga orang dengan ketrampilan paling rendah pun boleh memiliki pendapatan yang cukup walaupun seharusnya dia tidak layak dibayar dengan upah setinggi itu. Itu yang disebut sebagai keadilan.

Diharapkan dengan upah yang lebih baik, kesempatan semakin terbuka bagi setiap orang untuk boleh mengasah ketrampilannya dan menciptakan peluang untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan upah minimum yang dia peroleh, dia boleh melatih dirinya dengan ketrampilan untuk menggantikan kesempatan belajar yang mungkin selama ini tidak pernah dia dapatkan. Dengan bertambahnya ketrampilan diri, dia bisa mendapatkan kenaikan jenjang karir untuk kemudian mendapatkan upah yang lebih baik dan kehidupan yang seperti dia inginkan.

Akan tetapi, sekali lagi, manusia yang paling celaka adalah mereka yang enggan belajar dan menggunakan uangnya untuk hal yang lebih tidak berguna.

Saya sadari kalimat barusan sudah dua kali saya tuliskan. Bekerja demi masa depan dengan tekun dan rajin dan menahan diri; ada satu ilustrasi yang sering saya gunakan, harap dibaca dan dimengerti dari sisi analoginya saja, tidak perlu dijadikan bahan perdebatan ataupun hiper-rasionalitas:

Semisalkan kita berada dalam satu desa kecil yang miskin, makanan kita sehari-hari adalah nasi dan jagung, dan kemudian saya dan Anda tiba-tiba mendapatkan seekor ayam yang gemuk, apakah yang akan Anda lakukan terhadap ayam itu? Apakah akan Anda goreng atau panggang atau rebus dan dibuat opor? Apakah Anda makan untuk hari ini dan esok lagi? Maksud saya, kita hampir tidak pernah bisa makan daging ayam. Dan ini kesempatan baik untuk makan daging ayam, tidak kah demikian? Dan jawaban saya adalah TIDAK.

Anda akan makan ayam hari ini.

Saya akan makan nasi jagung hari ini. Ayam itu akan saya pelihara. Dia akan bertelur. Dan setelah dia bertelur, saya masih akan makan nasi jagung. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, sebulan, dua bulan. Saya masih makan nasi jagung. Telur saya kumpulkan, saya jual dipasar di kota terdekat. Dari telur itu, ada yang saya biarkan menjadi anak ayam. Setelah beberapa bulan, Anda sudah lupa rasanya makan ayam gemuk. Dan saya masih belum makan daging ayam. Anak ayam akan menjadi ayam, dan ayam-ayam itu akan bertelur lebih banyak dan menghasilkan pula banyak ayam kecil. Setengah tahun berlalu, saya baru makan telur ayam, itupun kadang-kadang, karena memelihara ayam itu bukan hal murah. Saya yakin saya tidak perlu meneruskan contoh ini; Anda sudah mengerti maksud saya.

Banyak orang menerima upah mereka dan serta merta membelanjakannya untuk membeli yang mereka MAU, bukan yang mereka PERLU. Mereka menghabiskannya untuk gaya hidup. Bukannya berusaha menambah ketrampilan mereka dibidang kerja yang mereka geluti demi masa depan mereka, mereka berpuas diri dan bermimpi kapan akan naik gaji.

Adil itu bukan “sama”. Sama rata itu bukan adil. Anda tidak mungkin memberi makanan dengan porsi yang sama kepada anak perempuan Anda yang berusia 5 tahun dengan anak laki-laki Anda yang berusia 25 tahun. Tapi kesemuanya Anda beri makan. Itulah kasih dan adil.
Adil itu bukan menyamakan lulusan sarjana dengan mereka yang lulusan SD. Penyamarataan yang bodoh itu akan membangun masyarakat yang bodoh. Untuk apa sekolah tinggi, kalau bisa, tidak sekolah pun akan disamaratakan. Inilah yang membuat negara komunis dan sosialis kacau balau.

Penganiayaan Dalam Masyarakat

Ketidakrataan dalam masyarakat menimbulkan ketegangan-ketegangan yang terjadi di semua negara. Yang lemah, yang miskin, yang minoritas, merasa ditindas. Setelah sejarah manusia dahulu penuh dengan penindasan oleh pemerintah kepada rakyat, kaum bangsawan kepada rakyat jelata, kaum intelektual kepada kaum awam, masyarakat manusia mulai berusaha berubah. Penindasan dihilangkan dan diupayakan penyamarataaan. Yang superior berusaha mengerti kesulitan yang lebih inferior. Perbudakan dihapuskan hampir disemua bagian dimuka bumi.

Keadaan masyarakat mulai membaik. Setidaknya sampai kesadaran tentang hak dan ketidakmengertian tentang kewajiban mengambil alih situasi. Dimanapun hak seseorang diributkan, ditempat yang sama ada kewajiban yang diabaikan dan hak orang lain dianiaya.

Sekarang, kaum inferior bermegah diatas kelemahannya dan menganiaya yang superior. Rakyat menganiaya pemerintah, yang miskin menganiaya yang kaya, yang lemah menganiaya yang kuat, dan seterusnya. Dan semua pihak yang dianiaya tidak tahu bagaimana harus bersikap, karena sikap keras akan dikatai sebagai sikap opresif dan penganiayaan terhadap kaum lemah (lagi). Hal itu terus berlanjut hingga kejahatan menganiaya kebaikan. Kriminal menganiaya pengadilan, penjahat menganiaya petugas hukum, orang yang merasa dirinya suci menindas orang yang benar, dan seterusnya.

Tidak ada sikap tegas yang berani diambil. Dan kebenaran dipermainkan. Yang lemah harus dibela. Saya pribadi tidak mengerti darimana asal muasal pemikiran ini, akan tetapi seingat saya hal itu terus digaungkan sepanjang masa sekolah dasar saya, “Membela kaum lemah.” Apakah itu hanya saya, atau Anda juga sependapat dengan saya. Tidakkah seharusnya kita membela yang benar, bukan yang lemah.

Karena itu didalam Kekristenan, adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan antara kasih dan keadilan yang ditekankan secara terus menerus dan bersama-sama. Salah satunya tidak boleh dihilangkan. Kasih tanpa keadilan adalah kasih yang lemah, tidak berdaya, merusak, seperti kalimat “membela yang lemah”. Keadilan tanpa kasih adalah hukum yang kejam, tidak bisa melihat sisi keberdosaan kemanusiaan dan pengampunan.

Advertisements

Paradigma Bekerja dan Etos Kerja

Seringkali menjadi salah kaprah dan salah sudut pandang ketika seorang manusia dididik sejak awal bahwa tujuan hidup dia adalah untuk mencari uang. Adalah kurang tepat pula jika dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk bekerja sehingga menghasilkan uang. Entah kenapa, dalam keseluruhan hidup kita, uang, harta benda, dan kepemilikan merajai dan menguasai serta mencengkeram habis segala aspek hidup kita.

Bekerja untuk mencari makan atau bekerja untuk mencari uang itu seperti layaknya seekor sapi yang bekerja. Sapi juga bekerja, supaya dia boleh makan. Sebab sapi yang tidak bekerja akan jadi makanan kita. Jelas manusia memiliki makna lebih tinggi tentang pekerjaan yang dia lakukan.

Di satu sisi, ada orang yang berusaha sedemikian keras untuk mengumpulkan uang. Sementara di sisi lain, ada orang yang mengekang diri sedemikian keras untuk menjauhi uang. Dan di sisi lain, ada orang yang berusaha mengejar kekuasaan, kehormatan dan kebanggaan dalam bentuk ketrampilan atau kepandaian yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan uang. Itulah tiga hal utama yang menguasai hidup manusia.

Pandangan ini diambil dari salah satu buku orang Kristen yang menyatakan bahwa tiga perihal utama yang menjadi pusat dalam hidup manusia, yang pertama adalah tentang uang. Yang kedua adalah tentang pengetahuan atau kebijaksaan. Yang ketiga adalah tentang kesulitan dan penderitaan.

Ketiga hal tersebut terangkum dalam segala hal yang dikerjakan oleh manusia selama hidupnya. Dengan kata lain, baik disadari atau tidak, hidup manusia mengerjakan segala hal berkenaan dengan ketiga hal tersebut. Tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari hal-hal tersebut.

Seseorang mengerjakan pekerjaan belajar untuk mendapat ilmu dan pengetahuan. Seorang yang lain mengerjakan pekerjaannya siang dan malam untuk menghasilkan uang. Seorang ibu mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga dalam jerih payah yang berkenaan dengan penderitaan dan kesulitan dan mendidik anak-anaknya untuk memiliki kehidupan yang baik dan berbijaksana budi pekerti. Dan seorang pemalas bersusah payah dengan kemalasannya menahan penderitaan dan kemelut yang ditimpakannya sendiri kepada dirinya karena kemalasannya.

Setiap orang mengerjakan sesuatu tentang hidupnya. Namun tidak semuanya baik, tidak semuanya benar, dan tidak semuanya berguna –entah bagi dirinya ataupun orang lain. Tidak seorangpun bisa lepas dari suatu pekerjaan. Karena hidup adalah untuk bekerja.

Belajar bukan untuk mencari uang

Entah mengapa, seringkali sekolah dan belajar dan upaya untuk mencari ilmu pengetahuan selalu dikaitkan dengan upaya untuk mencari uang. Hidup adalah untuk bekerja, bukan mencari uang. Uang adalah hasil tidak langsung dari bekerja. Bekerja adalah berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dari sumbangsih seseorang terhadap orang lain, dia boleh mendapatkan uang sebagai imbalannya.

Dengan kata lain, setiap orang harus bekerja dan mengerjakan dalam hidupnya sebuah karya, sebuah pencapaian, sebuah tujuan yang baik dan bernilai tinggi dengan kualitas tertinggi sesuai dengan kapasitas, ketrampilan, kemampuan, dan talenta yang dimilikinya. Uang adalah sarana yang boleh dia pakai untuk mencapai tujuan itu. Uang bukanlah tujuan akhir.

Itu sebabnya banyak orang yang setelah mendapatkan uang, dia kebingungan tentang bagaimana caranya menggunakan uang yang dia miliki. Yang terjadi kemudian adalah uang menguasai hidupnya dan bukannya dia yang menguasai uang. Dia menjadi semakin serakah, semakin kikir, semakin egois, dan semakin banyak uang yang dia miliki, hidupnya menjadi semakin miskin dan tidak bernilai. Dia menjadi selalu merasa miskin dan kekurangan dan tidak pernah merasa cukup walaupun uangnya banyak. Tidakkah kita pernah merasa bahwa orang yang pelit seringkali adalah orang yang berkelimpahan uang? Dan sebaliknya, orang yang boros adalah orang yang tidak mendapatkan uang dengan berjerih payah, tapi mendapatkannya dengan mudah? Serta orang yang miskin adalah orang yang tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan uang yang dia peroleh?

Kesalahan paradigma bekerja dan kaitannya dengan uang ini yang membuat dunia kita sekarang kacau balau. Karena mengejar uang, orang-orang menimpakan kepada dirinya berbagai-bagai kesusahan dan kesulitan dan penderitaan. Muncul pemikiran-pemikiran dan ide-ide untuk menghasilkan uang tanpa harus bekerja, tanpa harus menghasilkan sesuatu, tanpa harus memberikan manfaat bagi orang lain. Cara-cara yang berbagai macam untuk memanipulasi orang lain dan memanfaatkan orang lain demi kepentingan diri sendiri, mulai dari penipuan, korupsi, penggelapan, hingga tipu muslihat yang seolah-olah menguntungkan, sampai pada permainan di pasar modal dan komoditi yang kesemuanya berupa asset diatas kertas tanpa ada barang nyata.

Jika belajar adalah untuk mencari uang, maka korupsi itu seharusnya dibenarkan. Penipuan harus dibiarkan dan perampokan harus dipuji, karena mereka berusaha keras dengan kecerdikan dan kepintaran serta ketekunan yang luar biasa sehingga bisa menghasilkan uang.

Belajar adalah untuk bekerja

Korupsi, perampokan, penipuan, penggelapan, dan seterusnya tidak pernah dikategorikan sebagai “pekerjaan”. Walaupun para pelakunya berusaha dengan susah payah ‘bekerja’ untuk berhasil dalam melakukan tindakannya, dengan rajin dan cerdik dan upaya keras. Tidak bisa dikatakan sebagai bekerja karena tindakan mereka tidak mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Bekerja adalah sebuah tindakan yang seharusnya mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Tujuan dari proses di dalam hidup manusia ini adalah untuk bekerja. Tidak banyak hal dalam hidup manusia yang tidak bisa diselesaikan dengan bekerja, dan kalimat ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan uang. Bekerja adalah untuk menggunakan waktu dengan baik, menjadikan waktu-waktu yang berlalu menjadi bernilai. Bekerja adalah untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan membuat hidup seseorang memiliki kemajuan dan bertambah nilainya. Melalui pekerjaan seseorang, orang lain dapat melihat jati diri seseorang yang sebenarnya, kualitas hidupnya. Seperti sebuah pohon dinilai dari buahnya. Dari pohon yang buruk tidak akan keluar buah yang baik.

Bekerja dan menghasilkan uang

Melalui hasil pekerjaan yang baik, seseorang boleh mendapatkan upahnya. Melalui kehidupan yang baik, seseorang boleh mendapatkan kehormatan. Melalui pembelajaran yang bertanggung jawab, seseorang boleh mendapatkan gelar. Melalui ketekunan dan usaha keras, seseorang boleh menikmati hidangannya dengan tenang dan mencukupkan dirinya dan keluarganya.

Bekerja adalah untuk berkarya, bukan untuk semata-mata menghasilkan uang. Orang yang meninggalkan posisi jabatan manager di perusahaan untuk menjadi supir taksi karena dia bisa mendapatkan uang lebih banyak sebagai supir taksi adalah orang yang tidak mengerti esensi dan inti dari ‘BEKERJA’. Dia tidak mengerti nilai hidupnya sendiri dan dia tidak mengerti prinsip ‘BERKARYA’. Bagaimana dia seharusnya bisa menggunakan hidupnya secara lebih bermakna namun dia buang semua itu demi uang. Lain halnya jika kesempatan belum terbuka dan menjadi supir taksi adalah hal yang paling bermakna yang bisa dia kerjakan, maka bekerjalah sebagai supir taksi.
Apakah ada wanita yang kemudian memilih untuk menjadi pelacur ketimbang menjadi pegawai di toko kelontong karena sebagai pelacur dia boleh mendapatkan uang yang lebih banyak?

Melalui hasil kerjanya, seorang pegawai berhak mendapatkan upahnya. Melihat hasil kerja seorang pegawai yang baik dan bertanggung jawab, seorang tuan berkewajiban memberikan upah yang setimpal. Hak dan tanggung jawab harus dijalankan dengan tepat, yaitu hak harus selalu berada dibawah kewajiban. Hak tidak pernah boleh lebih tinggi daripada kewajiban dan hak tidak boleh mendahului kewajiban. Seorang atasan harus melihat hasil kerja bawahannya terlebih dahulu sebelum dapat menentukan hak yang pas dan tepat sebagai upah pekerjanya.

Namun ditengah dunia dengan paradigma yang banyak melenceng ini, muncul terlalu banyak cara berpikir yang serba terbalik dan tidak tepat. Para pegawai yang menuntut haknya. Para atasan yang tidak perduli dengan bawahannya. Pemerintah yang menuntut terlalu banyak hak dari rakyat dan bersikap melupakan tanggung jawab jabatan dari rakyatnya. Rakyat yang bersikap pragmatis dan tidak menggunakan haknya untuk memilih dengan benar karena tidak mau tahu tentang banyak hal selain dari kepentingan dirinya sendiri. Kesemuanya terjadi karena peletakkan antara hak dan kewajiban yang sama sekali tidak pada posisi yang tepat.

Etos kerja

Tidak adanya pengertian yang tepat tentang hak dan kewajiban mengakibatkan orang memiliki etos kerja dan cara kerja yang tidak tepat. Banyak pegawai mau gaji naik setiap tahun, tapi pekerjaan dan ketrampilan tidak memenuhi syarat. Mau mendapat nilai bagus di sekolah, tapi tidak mau belajar. Mau hidup berkecukupan, tapi tidak mau berjuang.

Hak selalu harus diberikan lebih rendah daripada tanggung jawab. Kenapa harus lebih rendah? Karena manusia selalu men-over-estimasi kemampuan dirinya sendiri, menilai dirinya sendiri lebih tinggi dari yang seharusnya. Jika seseorang menilai dirinya tinggi, lakukanlah pekerjaan yang tinggi, kualitas yang tinggi, maka hak akan menyusul naik seturut dengan kemampuan, kewajiban, dan tanggung jawab yang berani dia pikul. Jangan hanya meributkan hak, tapi terlebih penting lagi, ributkanlah kewajiban dan tanggung jawab.

Banyak orang, belum mulai bekerja, sudah minta gaji tinggi, tunjangan ini dan itu. Belum menunjukkan diri bisa apa, kualitas kerja setinggi apa, dedikasi sebesar apa, etos kerja seperti apa, sudah menilai diri tinggi sekali.
Dunia olah raga sangat mengenal keseimbangan hak dan kewajiban. Dalam pertandingan lari, semua orang berlatih dahulu, berusaha dahulu, berjuang dahulu, seorang lebih keras daripada yang lain. Apakah kemudian pada saat pertandingan, yang merasa sudah berlatih lebih keras selalu bisa mengalahkan orang lain? Tidak tentu. Dia boleh saja merasa bahwa dia adalah orang tercepat karena merasa punya hak untuk mendapat medali emas, tapi dia harus menunjukkan dulu hasil latihannya, disiplinnya, usahanya, dan berlari sekuat tenaga. Yang mendapat medali emas adalah yang memasuki garis finish pertama. Setelah dia membuktikan diri, baru dia mendapat medali. Itulah ilustrasi yang paling bisa menggambarkan hak dan kewajiban.

Seseorang harus bekerja dahulu untuk menunjukkan kelas, kualitas dan nilai hidupnya. Baru dia boleh mulai menuntut haknya. Itulah etos kerja yang tepat. Bekerja dengan keras dan berjuang dengan tekun.

Bukan hanya itu saja, setiap orang yang mau berjuang dengan keras dan tekun, tidak mungkin pekerjaan tangannya tidak berhasil. Tidak mungkin orang yang gigih berjuang dengan rajin dan tekun, tidak menghasilkan nilai yang tinggi dalam hidupnya. Mereka akan memiliki potensi untuk memiliki penghasilan dan mereka berhak atas pengasilan itu dan mereka berhak menikmati hidup berkecukupan. Namun, etos kerja yang baik adalah juga mencakup cara hidup yang dengan ketat mengatur bagaimana hasil kerja dia digunakan dalam hidupnya. Etos kerja yang baik akan memunculkan hidup yang hemat dan tidak boros. Memperhitungkan pengeluaran seperlunya dan tidak berfoya-foya. Terlepas dari berapa banyak uang yang dia hasilkan, dengan etos kerja dan paradigma bekerja yang baik, dia akan terus berusaha memiliki buah-buah yang baik dalam hidupnya. Supaya hidupnya boleh menjadi berkat bagi orang lain pula dan pekerjaan tangannya boleh dirasakan oleh orang-orang yang berada disekitar mereka.

Upah dan taraf hidup kesejahteraan

Ada satu fenomena yang selama bertahun-tahun menjadi problematika besar di Indonesia, yaitu mengenai upah minimum pekerja. Setiap kali, setiap tahun, pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai upah minimum. Sayangnya, kenaikan upah ini tanpa disertai etos kerja dan etiket yang baik dari para pekerja.

Prinsip dasar upah minimum sebenarnya adalah sebuah bentuk ‘kemurahan hati’ dan ‘belas kasihan’ dari atasan untuk para pekerja yang kualitas kerjanya tidak mencapai kualitas minimal untuk mendapatkan upah yang cukup sehingga dia boleh hidup layak. Upah minimum bukanlah hak yang boleh mereka perjuangkan dan dituntutkan kepada pemberi upah.

Upah minimum selalu dan hanya akan diributkan oleh mereka yang kualitas kerja dan berketrampilan rendah. Mereka yang belajar baik dan sekolah baik serta memiliki ketrampilan yang cukup tidak pernah meributkan upah minimum, karena ketrampilan mereka memiliki hasil kerja yang cukup memiliki kualitas untuk boleh dibayar dengan upah yang bisa membuat mereka hidup layak.
Mereka yang tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk memiliki hasil kerja yang berkualitas cukup untuk dibayar layak, merekalah yang mendapatkan upah minimum.

Daripada meributkan tentang peraturan-peraturan atau penyelesaian yang sifatnya pragmatis dan tidak menyelesaikan permasalahan, tidakkah akan jauh lebih baik jika pemerintah bekerja sama dengan pengusaha untuk memberikan materi training dan sertifikasi untuk memberikan para pegawai kesempatan untuk menaikkan nilai dan kualitas kerjanya supaya dengan demikian dia boleh diberi upah secara layak?

Namun masalah baru akan muncul, apakah mereka mau meluangkan waktu untuk berjuang dan belajar lebih baik ketika ada kesempatan untuk menaikkan nilai dan kualitas kerja mereka?
Bisa jadi jawabannya adalah tidak. Karena tidak adanya etos kerja yang baik. Mengambil sikap pragmatis, mau ada hasil yang baik tanpa memiliki paradigma yang tepat. Tidakkah lebih mudah meninggalkan tanggung jawab dan melakukan unjuk rasa daripada belajar dan hidup baik-baik dan bertanggung jawab.

Selain daripada itu, mengenai upah, kapankah cukup itu bisa dikatakan cukup? Mereka yang tidak memiliki etos kerja yang baik, hampir selalu tidak memiliki prinsip yang baik tentang membelanjakan uang yang mereka dapatkan. Uang yang didapat dengan mudah, akan pergi meninggalkan mereka dengan mudah pula.

Tanpa paradigma yang tepat tentang bekerja dan prinsip etos kerja yang ketat, setiap orang tidak akan dapat melepaskan diri dari begitu banyak kesulitan dan kesusahan yang dia timpakan terhadap dirinya sendiri.

Disiplin Diri

Seberapa sering kita mendengar atau bahkan kita sendiri mengucapkan kalimat-kalimat sedemikian, “Saya ingin mendapatkan nilai baik, tapi kemarin saya tidak sempat belajar,” atau “Saya ingin menurunkan berat badan, tapi saya sangat suka sekali gorengan dan kue coklat,” atau “Saya sudah berusaha untuk bangun lebih pagi supaya tidak terlambat masuk kerja, tapi saya tidak punya cukup motivasi,” atau yang terakhir ini “Saya sudah mencoba mencari motivasi baru supaya pekerjaan saya ini tidak terasa membosankan sehingga saya bisa berprestasi.”

Seringkali kita mengira kurangnya motivasi merupakan sebab utama kegagalan kita. Namun saya sangat yakin, kekurangan atau ketiadaan motivasi bukanlah sumber permasalahan disini. Beberapa orang mengira bahwa dirinya membutuhkan motivasi, sementara yang sebenarnya dia butuhkan adalah disiplin diri. Meninjau semua contoh di atas, ingin mendapatkan nilai yang baik sudah merupakan motivasi belajar lebih giat; Kemauan menurunkan berat badan adalah motivasi; Upaya untuk bangun lebih pagi supaya tidak terlambat masuk kerja adalah motivasi; Memiliki keinginan untuk berprestasi, itu sudah merupakan motivasi. Jadi motivasi sudah terlebih dahulu ada melalui kesadaran untuk melakukan sesuatu.

Yang mereka butuhkan bukanlah motivasi, mereka membutuhkan disiplin diri.

Orang yang keras terhadap dirinya sendiri adalah orang yang jarang merasa menyesal. – Confusius

Disiplin didefinisikan sebagai kegiatan aktif untuk mengikuti suatu aturan atau ketentuan perilaku tertentu. Seringkali disiplin berkaitan langsung dengan konsekuensi dan hukuman yang bersifat menekan munculnya perilaku yang menyimpang dari aturan. Dengan demikian, secara prinsip, disiplin diri memiliki makna sebagai upaya aktif untuk menekan keinginan dasar dari diri sendiri yang tidak baik atau tidak benar atau tidak tertib dengan cara mengekang keinginan dan mengendalikan perilaku diri sendiri. Hingga sampai batas tertentu, disiplin diri merupakan suatu bentuk dari motivasi.

Disiplin diri adalah proses yang terjadi ketika seseorang menggunakan pengertiannya untuk mengekang segala keinginan yang tidak sejalan dengan motivasi atau idealisme atau tujuan hidup seseorang. Secara sederhana, disiplin diri berarti menentang kesenangan diri. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang cinta diri (baca: humanis). Segala yang diinginkan oleh manusia selalu mengarah pada hal yang remeh, yang impulsif, dan tidak baik atau tidak benar. Karena itu manusia harus dididik supaya menjadi manusia yang seutuhnya ‘manusia’.

Saya tidak pernah setuju dengan pemikiran dunia psikologi yang menyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Karena saya yakin tidak seorangpun merasa mudah untuk mengendalikan keinginan dirinya sendiri. Anak-anak harus dididik dengan tekun dan berulang-ulang, dengan keras dan susah payah sebelum dia menjadi dewasa dan berperilaku dengan patut. Setelah dia dewasa dan mengetahui segala hal yang baik di dalam kepalanya pun, yang jelek dan salah yang dikerjakannya.

Contoh yang paling saya sukai adalah perihal perilaku merokok. Siapa yang tidak tahu bahwa merokok itu tidak baik dan sangat merusak kesehatan? Mulai dari orang yang tidak bisa membaca hingga yang berpendidikan sangat tinggi, hingga mereka yang duduk dalam pemerintahan yang mengatur jutaan orang dalam sebuah bangsa, tidak mungkin mereka tidak mengetahui bahaya merokok terhadap dirinya dan terhadap orang disekitarnya. Tapi betapa susahnya bagi seseorang ketika bahkan dirinya sendiri berusaha untuk berhenti merokok.

Karena manusia itu pada dasarnya liar dan rusak maka manusia perlu dididik. Mula-mula oleh orang tua, orang yang lebih tua, pendidik, dan hingga tiba waktunya dia harus mendidik dirinya sendiri dan bertanggung jawab penuh terhadap dirinya sendiri. Dengan akal budi dan pikirannya, dia harus bisa mengarahkan hidup dan tingkah laku dalam menentukan langkah yang terbaik untuk mencapai tujuan hidupnya; Mengambil keputusan dan langkah-langkah yang berlawanan dari yang dia sukai atau dia inginkan. Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa dia harus mengambil langkah yang bertentangan dengan apa yang dianggapnya sebagai kesenangan. Dibutuhkan disiplin dan kontrol diri untuk memampukan diri dia sendiri mengendalikan dan mengarahkan dirinya pada tujuan dan keinginan hidupnya yang kadang kala tidak baik atau benar atau bernilai.

Dalam proses mendisiplinkan diri sendiri, seringkali yang menjadi penghambat bagi seseorang untuk berkomitmen penuh pada sebuah tujuan bukanlah tingkatan atau bentuk motivasi yang dia miliki, namun lebih kepada pola pikir yang mendasari sifat dan perilaku yang melawan komitmennya. Banyak orang berpikir bahwa keberhasilan itu adalah kasus tertentu karena orang lain memiliki tingkat disiplin atau motivasi yang jauh lebih besar daripada dirinya. Hal itu sama sekali tidak benar, terlepas dari pengertian tentang bakat dan talenta.

Hard work beats talents if talents do not work hard.

Terjemahan: Kerja keras mengalahkan bakat, jika bakat tidak dikerjakan dengan keras.

Sebagai ilustrasi:
Banyak orang ingin menjadi juara kelas, namun tidak mau melakukan apa yang dilakukan oleh seorang juara kelas. Banyak pula orang yang mau menjadi pintar, namun tidak mau mengorbankan waktu bermainnya untuk membaca banyak buku. Sementara yang lain hanya memiliki motivasi untuk menjadi sehat namun menolak untuk mengekang seleranya terhadap makanan yang tidak sehat. Dan banyak sekali orang ingin menjadi berhasil dalam pekerjaannya, namun tidak mau bekerja keras dan bersusah payah.

Sebenarnya mereka yang memiliki atau berhasil menciptakan kebiasaan yang mendukung suatu idealisme atau tujuan tertentu dengan hidup mereka tidak memiliki kekhususan atau kelebihan dalam kemampuan disiplin atau kontrol diri atau pun motivasi diri yang lebih besar. Mereka bukan orang-orang yang sempurna dan tidak pernah tersandung atau gagal. Mereka tidak selalu konsisten seperti yang sering diperkirakan oleh banyak orang. Kedisiplinan mereka juga pernah gagal dan perilaku mereka terkadang kendor dan tidak sejalan dengan tujuan hidup dan idealisme mereka.

Sang juara kelas tidak selalu berada di depan buku dan belajar. Orang yang pintar tidak selamanya membaca buku dan tidak tahu akan dunia luar. Orang yang hidup sehat tidak berarti tidak mau atau tidak bisa atau tidak pernah menikmati makanan yang dia sukai. Dan stereotype yang umum namun keliru adalah bahwa orang pintar adalah kutu buku, berkacamata tebal, fisik yang lemah, dan tidak pandai bersosialisasi. Padahal Neils Bohr dan Philip Baker adalah pemegang hadiah Nobel yang juga adalah olah ragawan yang ikut dalam Olympic. Dalam filsafat pendidikan Yunani kuno pun faktor fisik telah menjadi perhatian.

Keberhasilan mereka dibandingkan dengan kegagalan semua yang lain ada pada satu kualitas mental dan pola pikir dalam diri mereka yang lebih konsisten, yaitu bahwa mereka secara disiplin dan konsisten melawan diri dan keinginan yang bertentangan dengan idealisme mereka. Dalam diri mereka terdapat pengertian bahwa musuh terbesar mereka bukanlah hal-hal yang diluar, melainkan diri mereka sendiri.

Mereka tidak melihat fenomena di sekitar mereka sebagai permasalahan, namun sebagai tantangan yang harus diselesaikan dan dilalui. Mereka mendahulukan rasionalitas dan logika mereka dan mengabaikan keinginan hati mereka, memikirkan arah dan tindakan yang harus mereka lakukan untuk melampaui tantangan yang mereka hadapi. Mereka tidak dengan mudah mencari alasan untuk pembenaran diri atas sebuah kelalaian atau kegagalan, sebaliknya mereka mengambil tanggung jawab penuh dalam tiap kesalahan yang mereka perbuat dan belajar dari kesalahan itu, memastikan bahwa kesalahan yang sama tidak boleh terulang. Mereka mendidik diri mereka dengan keras, dengan idealisme yang tinggi namun bertindak secara pragmatis.

Bukannya bersikap kasar dan menghajar tanpa belas kasihan terhadap diri sendiri, mereka dengan tegas dan keras mendidik diri dan mencari solusi untuk memperbaiki cara mereka menghadapi situasi yang sama di lain waktu.

Ketika seseorang terlambat bangun saat hari-hari bekerja, bukannya bangun dan kemudian marah-marah pada dirinya sendiri, dia mencari solusi terhadap kegagalannya hari itu. Dia berjanji akan memaksa dirinya dengan lebih keras untuk tidur lebih awal di lain waktu.
Yang celaka adalah dia yang terlambat bangun kemudian marah pada orang disekitarnya. Orang seperti itulah yang tidak akan pernah menjadi manusia yang lebih berkualitas baik.

Itulah yang dikerjakan oleh orang-orang yang ‘sukses’ dalam hidupnya. Mereka dengan sadar penuh akan tanggung jawab mereka terhadap diri mereka dan secara konsisten terus menerus memikirkan cara untuk menjalani hidup mereka dengan lebih baik dalam segala hal. Itu adalah mentalitas, bukan perilaku yang hanya di permukaan. Setiap kegagalan adalah tantangan baru yang harus mereka pelajari agar lain waktu bisa mereka hadapi dengan lebih baik. Orang-orang seperti itu memiliki banyak skenario dan pola pikir di dalam kepalanya tentang bagaimana menghadapi segala situasi berdasarkan kekayaan pengalaman hidup mereka. Mereka adalah orang-orang yang akan semakin lama semakin jarang merasa menyesali tindakan mereka, mental mereka terus diperbaharui oleh pembaruan akal budi mereka.

Discipline is doing what you know needs to be done. Even when you don’t want to do it.

Terjemahan: Disiplin adalah melakukan hal yang kita tahu harus dikerjakan. Bahkan ketika kita tidak ingin melakukannya.

Paradigma Tentang Sukses

Sepanjang sejarah, orang bijak dan orang kaya telah menyerukan bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Dan sejak jaman kapitalisme, dunia terus menyerukan bahwa uang adalah sumber kebahagiaan dengan satu asumsi utama, yaitu ketika kita bisa mendapatkan semua yang kita mau, kita akan bahagia.

Satu kali lagi, mari kita coba bahas secara sederhana pernyataan-pernyataan dalam beberapa pemikiran tentang uang. Dan sekali lagi, ketika kita berbicara tentang manusia dan materi, ada dua dasar pemikiran yang utama: yang pertama adalah bahwa manusia sangat mencintai dirinya sendiri. Yang kedua adalah manusia berusaha menyenangkan dirinya dengan segala yang bisa disebutnya sebagai kepunyaannya (baca: materi) untuk memuaskan keinginannya.
Yang pertama tadi adalah humanisme, sementara yang terakhir adalah materialisme.

Dari sinilah kemudian perjalanan hidup manusia dimulai dalam pemikirannya. Sejak ketika seorang manusia kecil hidup, dia memiliki keinginan. Mula-mula adalah kebutuhan yang menunjang dia untuk hidup, makanan, minuman, keamanan, perlindungan, perawatan, perhatian, dan seterusnya. Hal itu tidak pernah berubah seumur hidupnya selama dia hidup seolah-olah hal itu telah terprogram dalam segala keseluruhan aspek hidupnya. Hal-hal itu bertransformasi menjadi semakin kompleks dalam perjalanan hidupnya seperti lipatan kertas kecil yang kemudian terbuka satu per satu menjadi lembaran kertas yang semakin besar. Tidak ada seorang manusia pun bisa lari dari keinginan-keinginan dalam dirinya untuk memuaskan rasa cintanya pada dirinya dan pada material.

Ada satu lubang di dalam hidup manusia yang kosong yang tidak dapat di penuhi oleh apapun yang berada dalam dunia ini. Kapankah manusia pernah merasa cukup? Manusia selalu berada dalam pencarian seumur hidupnya untuk mengisi kekosongan dalam hidupnya, dan dia mencarinya di dalam semua hal yang dapat dilihatnya. Dia selalu hidup dalam angan-angan bahwa jika dia berhasil mendapatkan yang dia inginkan, dia akan suatu hari ketika dapat dipuaskan. Tapi sejarah telah membuktikan hal itu tidak pernah tercapai.

Untuk bisa mengerti dan memahami apa itu yang disebut dengan SUKSES, kita harus memulai dulu dengan definisi SUKSES. Sukses memiliki arti mencapai tujuan atau garis finish, tepat pada sasaran dan target. Ketika seorang pemanah atau penembak jitu berhasil mengenai sasarannya, itulah sukses. Pemanah yang melampaui sasarannya tidak dikatakan lebih hebat atau lebih kuat daripada yang mengenai sasaran, dia tidak akan merasa bangga dan berkata, “Aku telah melampaui sasaranku.” Seorang pelari yang berlari terus setelah mencapai garis finish, apakah akan dikatakan lebih hebat dari orang mencapai garis finish dan kemudian berhenti? Mungkin. Tapi tetap tidak akan dianggap lebih juara daripada yang berhenti setelah mencapai garis finish.
Sukses adalah suatu titik dimana seseorang boleh kemudian berhenti dan merasa puas karena sudah mencapai suatu keberhasilan tentang sesuatu.

Tapi kata SUKSES seringkali tidak menggambarkan semua hal tersebut. Setiap kali kata sukses terdengar, seringkali yang pertama kali muncul dalam benak kita adalah segala hal yang sifatnya materialisme dan humanisme. Seringkali pula kata itu tidak menggambarkan sebuah perhentian dan kepuasan, melainkan sebuah tantangan baru untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi, untuk mengisi kekosongan dalam hidup manusia yang tidak pernah bisa dipenuhi dengan apapun. Kesuksesan demi kesuksesan terus berusaha dikejar seperti sebuah garis finish semu yang tidak pernah berakhir seperti layaknya sebuah fatamorgana. Tidak ada perhentian, seperti seekor hamster yang berlari dalam rodanya.

Setiap orang memiliki bayang-bayangnya sendiri, fatamorgana yang hanya menjadi miliknya sendiri, sebuah idealisme yang dipercaya bahwa jika dia berhasil meraihnya, dia akan bahagia. Sebagian orang mendapat kesempatan untuk mencicipi, sebagian kecil mendapat kesempatan untuk menikmati, sisanya tidak mendapat kesempatan sama sekali seumur hidupnya untuk meraih idealisme yang humanis/materialis itu. Tapi satu hal yang pasti, semua idealisme yang katanya, diyakini bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan dan perhentian, ternyata adalah omong kosong.

Mereka yang sudah katanya sudah sukses, tidak mendapatkan kebahagiaan dan perhentian. Mereka yang belum mencapainya, terus melakukan segala hal yang mereka pikir dapat membawa mereka kepada kebahagiaan dan perhentian. Mereka yang masih terus berusaha dan masih mencari kebahagiaan dan perhentian, membuktikan bahwa mereka masih belum sukses.

Sebagian besar kita telah mendengar berbagai kalimat yang mengatakan bahwa humanisme/materialisme tidak mendatangkan kebahagiaan. Bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Akan saya kutip beberapa diantaranya:

Money never made a man happy yet, nor will it. The more a man has, the more he wants. Instead of filling a vacuum, it makes one. – Benjamin Franklin
(Uang tidak akan pernah dapat membuat orang bahagia. Semakin banyak uang yang dimiliki seseorang, bukannya mengisi kekosongan, uang malah akan membuat kekosongan baru.)

We make a living by what we get, but we make a life by what we give. – Winston Churchill
(Kita menikmati hidup melalui yang kita dapat, tapi kita menikmati kehidupan melalui yang kita berikan.)

Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants. – Epictetus
(Kekayaan tidak berarti memiliki banyak hal, akan tetapi memiliki sedikit keinginan.)

It is not the man who has too little, but the man who craves more, that is poor. – Seneca
(Kemiskinan bukanlah tentang orang yang memiliki sedikit, melainkan tentang orang yang menginginkan lebih.)

Masih ada puluhan yang bisa mungkin ditulis, tapi tidak akan ada gunanya, semuanya mengatakan hal yang sama. Bahwa uang bukan yang terpenting. Semua yang terpenting dalam hidup manusia tidak bisa dibeli dengan uang. Sepanjang sejarah, orang bijak dan orang kaya telah mengatakan hal tersebut. Tapi tetap saja istilah sukses tidak berubah.

Ilustrasi kecil yang saya sukai adalah tentang gaji atau penghasilan:
Orang yang mendapat gaji dua juta sebulan, merasa tidak cukup. Dia yakin jika nanti mendapat gaji empat juta sebulan, hidupnya akan lebih enak dan dia akan mulai bisa menabung.
Setelah dia mendapat gaji empat juta, tetap tidak cukup, karenanya dia kemudian merasa kalau nanti sudah dapat gaji delapan juta, dia akan bisa hidup lebih enak dan akan bisa mulai menabung.
Kemudian gajinya naik menjadi delapan juta, tetap saja belum bisa menabung karena satu dan lain hal. Dia berpikir, jika nanti dapat enam belas juta, hidupnya akan berubah dan dia akan mulai menabung.
Benar pula, gajinya menjadi enam belas juta, dia mulai mencicil mobil, berpikir untuk mengontrak rumah, dan gajinya tidak cukup. Dia kembali berpikir, seandainya gajinya menjadi tiga puluh dua juta, pasti dia akan tenang dan bahagia.
Kemudian dia mendapat gaji tiga puluh dua juta sebulan, dan sekarang dia ingin memiliki rumah sendiri dan mobil yang lebih baik. Orang-orang melihat dia sudah cukup sukses. Tapi dia tetap merasa kurang sukses. Sementara orang lain memimpikan hal yang sama, “seandainya aku mendapat gaji setengahnya saja, tentu aku akan bahagia.”

Ketika seseorang mengatakan, “seandainya penghasilanku lima puluh juta sebulan, aku pasti bahagia dan berkecukupan.” Hal itu hanya menyatakan bahwa dia tidak punya gaji sebesar itu. Ketika seseorang mengatakan bahwa jika dia memiliki sesuatu, maka dia berarti sudah sukses; Itu hanya membuktikan bahwa dia tidak memiliki hal itu. Lagi pula, seringkali orang mencampuradukkan antara kebahagiaan dengan kekayaan atau kecukupan atau harta atau kepuasan diri atau nafsu diri atau ambisi. Padahal seharusnya tidak ada hubungan antara kebahagiaan dengan memiliki semua hal yang mampu diinginkan seseorang. Paling tidak, tidak ada hubungan langsung yang setara antara kebahagiaan dengan pemuasan keinginan. Justru sebaliknya, seperti halnya paradoks kebebasan, seseorang menjadi berkecukupan dan puas dan menjadi bahagia ketika dia menahan dirinya dari banyak keinginan.

Dalam hidup manusia, apakah yang disebut sebagai sukses? Dimanakah letak kesuksesan manusia? Dimanakah letak titik dimana dia boleh mendapat perhentian dan merasa puas?
Apakah ketika dia menjadi kaya? Ketika memiliki banyak uang? Ketika ada orang yang mengakui bahwa dia sudah sukses? Ketika ada orang yang iri pada dirinya? Ketika menjadi orang yang bisa membeli apa pun yang dia mau?

Tentu saja titik itu seharusnya berada di titik akhir kehidupan manusia, garis finish nafas manusia. Bagaimana seseorang menjalani hidupnya secara totalitas dan keseluruhan dan kemudian di akhir hidupnya, dia bisa merasa puas dan mendapat ketenangan.
Kehidupan manusia sama seperti pelari, apakah selama dia berlari tidak pernah merasa lelah? Apakah tidak pernah terjatuh? Apakah tidak pernah merasa putus nafas? Apakah dia tidak secara sadar merubah kecepatan larinya menyesuaikan dengan tantangan medan dan fisik yang berubah selama dia berlari? Demikian pula manusia dalam hidupnya. Ada jatuh bangun, kelemahan dan kegagalan, berbagai pergumulan secara fisik dan mental dalam upayanya mencapai garis finish.

Kesuksesan manusia tidak ditentukan oleh dirinya sendiri. Manusia tidak bisa dan tidak boleh menilai dirinya sendiri, segala penilaian tentang seseorang harus berasal dari luar dirinya sendiri. Jadi pada akhirnya, siapakah yang menentukan kesuksesan seseorang?

Ada cerita dalam sebuah pemakaman orang yang kaya dan dermawan. Pemakaman itu dihadiri oleh banyak orang, dan beberapa orang membagikan kisah tentang bagaimana orang yang kaya ini selama hidupnya.
“Bapak inilah yang mendirikan yayasan besar yang memberikan bantuan berupa operasi katarak gratis bagi ratusan orang tua setiap tahunnya.”
“Bapak ini selama hidupnya tidak pelit dengan kekayaannya dan memberikan banyak sumbangan pada rumah yatim piatu.”
“Banyak sumbangan telah diberikan bapak ini kepada pembangunan rumah ibadah, tidak hanya di wilayahnya, melainkan di banyak daerah di berbagai kepulauan dan desa terpencil.”
Dan hingga giliran anggota keluarganya, anaknya yang paling besar berkata, “Semua yang kalian katakan tentang bapak saya, sama sekali tidak saya mengerti. Dia tidak pernah berada di rumah, ibu saya terus menangis karena dia memiliki simpanan di kota lain. Perusahaan kontraktor miliknya melakukan pembangunan dimana-mana dan mencuri spesifikasi sehingga beberapa kali saya hampir dijebloskan kedalam penjara karena saya adalah wakil direktur dari ayah saya. Saya membenci ayah saya.”

Apakah bapak dermawan tadi adalah orang yang baik ataukah orang yang jahat? Apakah dia bisa dikatakan sukses? Jika bisa dikatakan sukses, apakah target yang sudah dia capai dalam hidupnya? Siapa yang berhak mengatakan bahwa dia sudah sukses mencapai garis finish, jika dia sendiri tidak tahu apa yang harus dikerjakan dalam hidupnya?
Demikian pula dengan semua manusia. Apakah sukses itu sebenarnya?
Pemanah, pelari, penembak jitu, memiliki target. Apakah ‘target’ dari hidup manusia? Sementara umur manusia pun tidak berada ditangannya sendiri. Garis finish tiap manusia tidak ditentukan sendiri oleh masing-masing manusia. Jadi dari mana bisa muncul definisi ‘SUKSES’?

Tidak ada jawaban yang bisa ditawarkan dalam dunia ini, oleh filsafat sekalipun. Tidak ada kemungkinan selain dari jika seseorang memahami hukum relasi pencipta-ciptaan.
Dalam hukum itu barulah akan ditemukan pemahaman tentang tujuan hidup manusia. Di dalam pengertian tentang tujuan hidup manusia, akan ditemukan alasan untuk apa dia hidup dan apa yang harus dikerjakannya dalam hidup ini. Kemudian pada akhirnya, barulah bisa ditentukan apakah dia sudah bisa dikatakan SUKSES dalam hidupnya atau tidak.

Terlalu banyak orang yang membuang seluruh hidupnya, belajar dan bekerja, untuk sesuatu yang bernilai kecil atau bahkan tidak bernilai. Itu disebabkan karena kesalahan konsep nilai dalam hidup manusia. Manusia sebenarnya tidak tahu untuk apa dia hidup.

The real measure of your wealth is how much you’d be worth if you lost all your money.

Terjemahan: Ukuran kekayaan bukanlah berapa banyak hartamu, melainkan seberapa tinggi orang lain menilai dirimu ketika kamu kehilangan semua uangmu.

Esensi Belajar dan Bekerja

Berikut ini adalah salah satu paradigma dasar dalam dunia pendidikan yang harus dibenahi. Yaitu alasan mengapa setiap orang perlu sekolah, supaya bisa memiliki ketrampilan untuk bekerja. Ada dua hal yang harus seumur hidup kita kerjakan, yaitu: belajar dan bekerja. Kita belajar dan bekerja untuk supaya bisa hidup. Terus belajar, terus bekerja, selama masih perlu hidup.

Hidup adalah untuk belajar dan bekerja. Belajar dan bekerja adalah untuk hidup. Dua hal ini tidak bisa lepas dari kehidupan manusia karena itulah tujuan hidup manusia. Tidak banyak hal yang tidak bisa di atasi dengan bekerja, dan kalimat tersebut barusan sama sekali tidak ada urusannya dengan uang.

Namun seringkali yang kita dengar adalah kita perlu sekolah supaya menjadi pandai. Mengapa perlu pandai? Supaya bisa bekerja. Jadi mengapa perlu bekerja? Seringkali alasan pertama adalah, “Supaya bisa cari uang.” Mengapa perlu cari uang? Sekali lagi, seringkali adalah, “Supaya bisa sukses.” Dan sukses selalu seringkali di ukur dengan jumlah harta yang dimiliki.

Kita mulai belajar tidak hanya di sekolah. Melainkan juga di rumah. Sejak lahir kita belajar. Kita mulai dengan belajar melihat, meraba, mendengar, menirukan, dan seterusnya. Kita mulai belajar mengenali benda, berbicara, mengingat nama, dan seterusnya. Kita mulai belajar apa yang boleh kita lakukan dan yang tidak boleh kita lakukan, mulai belajar membedakan konteks dengan konten, mengerti konsep nyata dan abstrak, dan seterusnya. Belajar tidak boleh selalu dihubungkan dengan sekolah. Sekolah adalah permulaan bagi kita untuk belajar bagaimana cara belajar. Setelah lulus dari bangku sekolah pun kita masih harus terus belajar. Dengan memahami sistematika belajar, kita akan lebih mudah mempelajari apapun yang perlu kita pelajari untuk membantu kita menjalani hidup.

Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran formal di sekolah saat berusia 7 (tujuh) tahun. Setelah jenjang formal selesai, kita masih harus terus belajar, mengikuti dan beradaptasi dengan segala sesuatu yang berubah disekitar kita, baik secara fisik, secara mental, sosial, pekerjaan, ketrampilan, dan seterusnya. Kita belajar bersosialisasi, berkomunikasi, beradaptasi dengan lingkungan baru, dengan rekan kerja, atasan dan bawahan, dan pasangan lawan jenis.

Hidup kita tidak henti-hentinya berubah dari satu tahapan kepada tahapan yang berikutnya. Menikah dan memiliki anak menuntut pembelajaran lagi, dan hingga tua, kita masih harus belajar, beradaptasi dengan kekuatan fisik dan mental yang mulai menurun, berusaha menjalankan fungsi hidup dengan cara yang berbeda.

Kita tidak pernah berhenti belajar. Selalu harus belajar mengatasi perubahan yang terus terjadi dari waktu ke waktu. Marilah kita perhatikan, bahwa ternyata tidak ada satu pun aspek hidup kita di desain untuk mengarahkan kita menjadi kaya. Kalaupun kita mengarahkan hidup kita untuk menjadi kaya, tidak ada satupun dalam proses pembelajaran yang kita lakukan tersebut yang berkenaan dengan hidup ini yang mengarahkan kita secara langsung untuk menjadi kaya secara materi. Dikatakan “kaya secara materi” karena ada kekayaan lain yang berbeda. Kaya secara intelektual, kaya secara spiritual, kaya secara moral, atau kaya secara ketrampilan. Semua yang kita pelajari dalam hidup ini mengarahkan kita untuk menjadi kaya dalam hal-hal yang baru saja saya sebutkan tadi. Semua kekayaan itu sejalan dengan natur hidup kita dan mengarahkan kita kepada HIDUP, serta berkenaan langsung dengan penambahan dan menaikkan nilai-nilai dalam seluruh aspek-aspek yang berada dalam hidup kita. Menuntun kita dari hidup, kepada hidup yang lebih tinggi.

Itulah yang selalu kita kerjakan. Sambil kita belajar, kita pun sedang bekerja untuk meningkatkan nilai hidup kita. Bekerja adalah merupakan natur dalam hidup manusia. Bekerja seharusnya adalah sesuatu yang terjadi secara natural, sama seperti kita bernapas dan makan. Bekerja adalah sebuah kebutuhan hidup. Tubuh kita tidak di ciptakan untuk tidak melakukan apa-apa dan menganggur. Semakin banyak kita menganggur dan tidak melakukan apa-apa, semakin buruk jadinya bagi fungsi tubuh kita. Semakin malas kita menggerakkan tubuh kita, semakin kita jauh daripada HIDUP.

Itulah tujuan dari belajar. Persis sama dengan proses kita bersekolah, dari kelas yang rendah, naik kepada kelas yang tinggi. Dari yang dulunya tidak bisa, naik menjadi bisa. Dari yang dulunya kurang ‘hidup’, menjadi lebih ‘hidup’. Dari bayi yang hanya bisa menangis dan berteriak, menjadi manusia dewasa yang bisa mengurus segala sesuatunya sendiri. Dari bayi yang tidak bisa bekerja, menjadi manusia dewasa yang bisa bekerja mengurus kebutuhan dan mencukupkan diri.

Sedangkan perihal menjadi kaya secara keuangan, itu adalah jalur yang berbeda dengan apa yang kita jalani ketika kita sedang mengarahkan jalan kita kepada hidup seperti yang sudah saya uraikan tadi. Kita harus dengan sengaja mengambil jalur hidup yang sama sekali berbeda ketika kita mau dengan sungguh-sungguh mengejar kekayaan. Sebuah jalur hidup yang mengarahkan kita kepada dunia materi. Jalan yang menuntun kita dari hidup, kepada yang mati. Tidakkah kita sadari bahwa jika mau dengan jujur kita renungkan, kita menempuh jalan yang memiliki kesulitan-kesulitan yang sebenarnya tidak perlu untuk mengejar kekayaan dan menumpuk harta yang sebenarnya untuk mengisi kekosongan hidup dan perasaan serakah serta kekhawatiran akan hari depan.

Kita sebenarnya ingin untuk memiliki hidup yang baik, yang berguna, yang bisa berkarya. Namun kemudian kita menoleh kepada sekitar kita dan mulai membandingkan diri kita dengan orang lain dengan semangat kompetisi yang tertanam dalam diri kita berikut dengan sifat iri, serakah, dan tidak mau kalah dengan orang lain. Sifat yang seolah-olah yakin bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang sama dengan modal yang sama, atau bahkan kita menilai diri kita lebih daripada orang lain. Kita ingin memilik harta yang lebih banyak atau paling tidak sama dengan orang lain. Sehingga kita memaksakan diri membeli semua barang yang kita tidak perlu, seringkali dengan uang yang tidak kita miliki, agar dapat membanggakannya di depan orang yang seringkali kita tidak kenal atau tidak kita sukai, supaya kita bisa membuat iri orang di sekitar kita; Dan ketika orang di sekitar kita benar-benar menjadi iri, kita mulai mengeluhkan hal tersebut.
Padahal kita mengerti betul bahwa orang-orang yang paling penting dalam hidup kita tidak membutuhkan itu semua, mereka mau menerima kita apa adanya dan mereka menghargai kita. Teman yang sejati, keluarga, sahabat baik, mereka yang berada dekat dengan kita pada saat suka dan duka, apakah mereka perduli berapa besar kekayaan kita?

Kita pasti sering mendengar kisah orang-orang yang “sukses” (baca: KAYA); ada yang dari keluarga miskin, tidak mendapat kesempatan bersekolah, tapi dia berjuang dengan berdagang, atau mendirikan usaha yang kemudian maju dan dia menjadi kaya. Kisah-kisah seperti itu menarik untuk beberapa saat dan lenyap ketika dia jatuh bangkrut atau meninggalkan dunia ini. Kisah yang bertahan seketika saja untuk sementara waktu sampai tergantikan dengan kisah sukses yang lain. Dan ketika dia mati, tidak ada orang yang mengingat namanya.
Kisah-kisah yang demikian banyak sekali mengemukakan bahwa untuk menjadi kaya, tidak harus selalu sekolah. Banyak yang putus sekolah tapi juga bisa menjadi kaya. Jadi jelas sebuah kesalahan besar jika anak-anak disekolahkan supaya bisa bekerja untuk menjadi kaya.

Anak-anak yang disekolahkan itu akan menjadi pintar. Dan pintar tidak akan membuat dia kaya. Untuk menjadi kaya, dia harus menggunakan kepintarannya di dalam jalan yang berbeda. Mereka menggunakan seluruh hidupnya bekerja untuk dirinya sendiri dan hanya untuk dirinya sendiri. Ironisnya, mereka tidak kekurangan dalam hidupnya tapi mereka tidak bisa menikmatinya, mereka akan melihat orang lain yang akan menikmati hartanya dan tidak ada yang bisa dia lakukan, sementara dia sendiri bekerja keras dan memikul segala beban yang tidak perlu dan resiko yang tidak semestinya.

Kita juga pasti pernah mendengar kisah orang yang besar, yang agung, yang namanya dimuat dalam sejarah, yang tidak seorang pun dari mereka dinilai dari uang yang mereka hasilkan, mereka adalah orang-orang yang “sukses” dalam wilayah yang hidup. Mereka sukses dalam kehidupan mereka dan dunia mengakui nama mereka sebagai orang yang mulia. Entah karena kebaikan mereka, pengorbanan mereka, keagungan moral dan spiritual mereka ditengah-tengah kesulitan hidup dan berhasil melampaui itu semua untuk kemudian mengarahkan hidup mereka kepada HIDUP dengan kualitas yang diakui seluruh dunia. Mereka yang namanya dikenang oleh sejarah, yang buku biografinya dibaca selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun setelah dia mati.
Mereka adalah orang-orang yang bekerja untuk menghasilkan sesuatu dalam hidupnya bagi orang lain. Mereka yang bekerja dalam kesenangannya, mengerjakan yang dia sukai sesuai dengan bakatnya, makan sedikit ataupun makan banyak, mereka tidur dengan nyenyak dan menikmati hidupnya dan hasil kerjanya.

Sekarang, definisi “sukes” yang mana yang sebenarnya ingin kita capai?
Pendidikan macam apa dan kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani. Apakah kita mau mendidik hidup kita dan mengarahkannya kepada hidup, atau kita mau mengarahkannya kearah yang lain?
Apakah kita mau mengarahkan seluruh hidup kita untuk diri kita sendiri, egoisme pribadi, keinginan diri sendiri; Ataukah kita mau membagikan hidup kita untuk orang lain, menjadi berkat bagi orang lain, atau paling tidak memiliki hidup yang bisa kita nikmati dengan mengerjakan hal-hal yang menjadi bagian kita?
Dengan cara apa kita hendak mendidik generasi dibawah kita, anak-anak kita, anak didik kita?

Saya yakin bahwa jawabannya adalah mengarah kepada hidup.
Saya juga cukup yakin, setelah selesai dengan menjawab, mata kita melihat semua orang di sekeliling kita, kemudian kaki dan tangan kemudian melangkah dan menunjuk ke arah yang lain. Sangat bisa dimengerti, karena sepanjang sejarah, itulah semangat yang dikumandangkan sepanjang sejarah melalui filsafat humanisme, materialisme, dan hedonisme. Karena akar dari segala hal yang berada di dalam dunia ini adalah cinta diri sendiri dan cinta kepada uang.

Kebahagiaan hidup adalah pencernaan yang baik dan tidur yang nyenyak.