Konser Musik Klasik 2017

Apresiasi budaya tingkat dunia.

Mereka yang mengarahkan hidupnya kepada hal-hal yang bernilai tinggi, akan membawa pengertiannya dan nilai hidupnya kepada nilai yang ditujunya. Demikian pula sebaliknya, orang-orang yang selalu mengejar hal-hal yang remeh, akan selalu memiliki etika dan estetika yang rendah.
Untuk supaya mampu melakukan yang baik, menikmati hal yang baik, membutuhkan pembelajaran. Hidup dan belajar tidak bisa dipisahkan. Hidup adalah untuk belajar dan belajar adalah untuk hidup. Semua yang remeh, yang buruk, yang rendah, tidak membutuhkan pembelajaran dan mudah disukai.

Jangan sia-siakan kesempata langka ini. Di berbagai belahan dunia, dibutuhkan biaya yang besar untuk menikmati hal yang baik. Ketika acara ini digratiskan, tidak menjadikan acara ini murahan, melainkan menjadi anugerah yang tidak boleh dilewatkan. Ketika gratis pun, ada banyak pihak yang mendukung dan membayar mahal untuk boleh dilangsungkannya acara ini. Pemain musiknya dibayar, sewa gedung perlu dibayar, tiker pesawat dan transportasi serta akomodasi juga membutuhkan uang. Ini bukan bakti sosial tapi sebuah mandat budaya, membawa pengertian kepada masyarakat untuk mengerti nilai yang agung yang diakui seluruh dunia sebagai budaya tinggi.


Paradigma Tentang Sukses

Sepanjang sejarah, orang bijak dan orang kaya telah menyerukan bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Dan sejak jaman kapitalisme, dunia terus menyerukan bahwa uang adalah sumber kebahagiaan dengan satu asumsi utama, yaitu ketika kita bisa mendapatkan semua yang kita mau, kita akan bahagia.

Satu kali lagi, mari kita coba bahas secara sederhana pernyataan-pernyataan dalam beberapa pemikiran tentang uang. Dan sekali lagi, ketika kita berbicara tentang manusia dan materi, ada dua dasar pemikiran yang utama: yang pertama adalah bahwa manusia sangat mencintai dirinya sendiri. Yang kedua adalah manusia berusaha menyenangkan dirinya dengan segala yang bisa disebutnya sebagai kepunyaannya (baca: materi) untuk memuaskan keinginannya.
Yang pertama tadi adalah humanisme, sementara yang terakhir adalah materialisme.

Dari sinilah kemudian perjalanan hidup manusia dimulai dalam pemikirannya. Sejak ketika seorang manusia kecil hidup, dia memiliki keinginan. Mula-mula adalah kebutuhan yang menunjang dia untuk hidup, makanan, minuman, keamanan, perlindungan, perawatan, perhatian, dan seterusnya. Hal itu tidak pernah berubah seumur hidupnya selama dia hidup seolah-olah hal itu telah terprogram dalam segala keseluruhan aspek hidupnya. Hal-hal itu bertransformasi menjadi semakin kompleks dalam perjalanan hidupnya seperti lipatan kertas kecil yang kemudian terbuka satu per satu menjadi lembaran kertas yang semakin besar. Tidak ada seorang manusia pun bisa lari dari keinginan-keinginan dalam dirinya untuk memuaskan rasa cintanya pada dirinya dan pada material.

Ada satu lubang di dalam hidup manusia yang kosong yang tidak dapat di penuhi oleh apapun yang berada dalam dunia ini. Kapankah manusia pernah merasa cukup? Manusia selalu berada dalam pencarian seumur hidupnya untuk mengisi kekosongan dalam hidupnya, dan dia mencarinya di dalam semua hal yang dapat dilihatnya. Dia selalu hidup dalam angan-angan bahwa jika dia berhasil mendapatkan yang dia inginkan, dia akan suatu hari ketika dapat dipuaskan. Tapi sejarah telah membuktikan hal itu tidak pernah tercapai.

Untuk bisa mengerti dan memahami apa itu yang disebut dengan SUKSES, kita harus memulai dulu dengan definisi SUKSES. Sukses memiliki arti mencapai tujuan atau garis finish, tepat pada sasaran dan target. Ketika seorang pemanah atau penembak jitu berhasil mengenai sasarannya, itulah sukses. Pemanah yang melampaui sasarannya tidak dikatakan lebih hebat atau lebih kuat daripada yang mengenai sasaran, dia tidak akan merasa bangga dan berkata, “Aku telah melampaui sasaranku.” Seorang pelari yang berlari terus setelah mencapai garis finish, apakah akan dikatakan lebih hebat dari orang mencapai garis finish dan kemudian berhenti? Mungkin. Tapi tetap tidak akan dianggap lebih juara daripada yang berhenti setelah mencapai garis finish.
Sukses adalah suatu titik dimana seseorang boleh kemudian berhenti dan merasa puas karena sudah mencapai suatu keberhasilan tentang sesuatu.

Tapi kata SUKSES seringkali tidak menggambarkan semua hal tersebut. Setiap kali kata sukses terdengar, seringkali yang pertama kali muncul dalam benak kita adalah segala hal yang sifatnya materialisme dan humanisme. Seringkali pula kata itu tidak menggambarkan sebuah perhentian dan kepuasan, melainkan sebuah tantangan baru untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi, untuk mengisi kekosongan dalam hidup manusia yang tidak pernah bisa dipenuhi dengan apapun. Kesuksesan demi kesuksesan terus berusaha dikejar seperti sebuah garis finish semu yang tidak pernah berakhir seperti layaknya sebuah fatamorgana. Tidak ada perhentian, seperti seekor hamster yang berlari dalam rodanya.

Setiap orang memiliki bayang-bayangnya sendiri, fatamorgana yang hanya menjadi miliknya sendiri, sebuah idealisme yang dipercaya bahwa jika dia berhasil meraihnya, dia akan bahagia. Sebagian orang mendapat kesempatan untuk mencicipi, sebagian kecil mendapat kesempatan untuk menikmati, sisanya tidak mendapat kesempatan sama sekali seumur hidupnya untuk meraih idealisme yang humanis/materialis itu. Tapi satu hal yang pasti, semua idealisme yang katanya, diyakini bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan dan perhentian, ternyata adalah omong kosong.

Mereka yang sudah katanya sudah sukses, tidak mendapatkan kebahagiaan dan perhentian. Mereka yang belum mencapainya, terus melakukan segala hal yang mereka pikir dapat membawa mereka kepada kebahagiaan dan perhentian. Mereka yang masih terus berusaha dan masih mencari kebahagiaan dan perhentian, membuktikan bahwa mereka masih belum sukses.

Sebagian besar kita telah mendengar berbagai kalimat yang mengatakan bahwa humanisme/materialisme tidak mendatangkan kebahagiaan. Bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Akan saya kutip beberapa diantaranya:

Money never made a man happy yet, nor will it. The more a man has, the more he wants. Instead of filling a vacuum, it makes one. – Benjamin Franklin
(Uang tidak akan pernah dapat membuat orang bahagia. Semakin banyak uang yang dimiliki seseorang, bukannya mengisi kekosongan, uang malah akan membuat kekosongan baru.)

We make a living by what we get, but we make a life by what we give. – Winston Churchill
(Kita menikmati hidup melalui yang kita dapat, tapi kita menikmati kehidupan melalui yang kita berikan.)

Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants. – Epictetus
(Kekayaan tidak berarti memiliki banyak hal, akan tetapi memiliki sedikit keinginan.)

It is not the man who has too little, but the man who craves more, that is poor. – Seneca
(Kemiskinan bukanlah tentang orang yang memiliki sedikit, melainkan tentang orang yang menginginkan lebih.)

Masih ada puluhan yang bisa mungkin ditulis, tapi tidak akan ada gunanya, semuanya mengatakan hal yang sama. Bahwa uang bukan yang terpenting. Semua yang terpenting dalam hidup manusia tidak bisa dibeli dengan uang. Sepanjang sejarah, orang bijak dan orang kaya telah mengatakan hal tersebut. Tapi tetap saja istilah sukses tidak berubah.

Ilustrasi kecil yang saya sukai adalah tentang gaji atau penghasilan:
Orang yang mendapat gaji dua juta sebulan, merasa tidak cukup. Dia yakin jika nanti mendapat gaji empat juta sebulan, hidupnya akan lebih enak dan dia akan mulai bisa menabung.
Setelah dia mendapat gaji empat juta, tetap tidak cukup, karenanya dia kemudian merasa kalau nanti sudah dapat gaji delapan juta, dia akan bisa hidup lebih enak dan akan bisa mulai menabung.
Kemudian gajinya naik menjadi delapan juta, tetap saja belum bisa menabung karena satu dan lain hal. Dia berpikir, jika nanti dapat enam belas juta, hidupnya akan berubah dan dia akan mulai menabung.
Benar pula, gajinya menjadi enam belas juta, dia mulai mencicil mobil, berpikir untuk mengontrak rumah, dan gajinya tidak cukup. Dia kembali berpikir, seandainya gajinya menjadi tiga puluh dua juta, pasti dia akan tenang dan bahagia.
Kemudian dia mendapat gaji tiga puluh dua juta sebulan, dan sekarang dia ingin memiliki rumah sendiri dan mobil yang lebih baik. Orang-orang melihat dia sudah cukup sukses. Tapi dia tetap merasa kurang sukses. Sementara orang lain memimpikan hal yang sama, “seandainya aku mendapat gaji setengahnya saja, tentu aku akan bahagia.”

Ketika seseorang mengatakan, “seandainya penghasilanku lima puluh juta sebulan, aku pasti bahagia dan berkecukupan.” Hal itu hanya menyatakan bahwa dia tidak punya gaji sebesar itu. Ketika seseorang mengatakan bahwa jika dia memiliki sesuatu, maka dia berarti sudah sukses; Itu hanya membuktikan bahwa dia tidak memiliki hal itu. Lagi pula, seringkali orang mencampuradukkan antara kebahagiaan dengan kekayaan atau kecukupan atau harta atau kepuasan diri atau nafsu diri atau ambisi. Padahal seharusnya tidak ada hubungan antara kebahagiaan dengan memiliki semua hal yang mampu diinginkan seseorang. Paling tidak, tidak ada hubungan langsung yang setara antara kebahagiaan dengan pemuasan keinginan. Justru sebaliknya, seperti halnya paradoks kebebasan, seseorang menjadi berkecukupan dan puas dan menjadi bahagia ketika dia menahan dirinya dari banyak keinginan.

Dalam hidup manusia, apakah yang disebut sebagai sukses? Dimanakah letak kesuksesan manusia? Dimanakah letak titik dimana dia boleh mendapat perhentian dan merasa puas?
Apakah ketika dia menjadi kaya? Ketika memiliki banyak uang? Ketika ada orang yang mengakui bahwa dia sudah sukses? Ketika ada orang yang iri pada dirinya? Ketika menjadi orang yang bisa membeli apa pun yang dia mau?

Tentu saja titik itu seharusnya berada di titik akhir kehidupan manusia, garis finish nafas manusia. Bagaimana seseorang menjalani hidupnya secara totalitas dan keseluruhan dan kemudian di akhir hidupnya, dia bisa merasa puas dan mendapat ketenangan.
Kehidupan manusia sama seperti pelari, apakah selama dia berlari tidak pernah merasa lelah? Apakah tidak pernah terjatuh? Apakah tidak pernah merasa putus nafas? Apakah dia tidak secara sadar merubah kecepatan larinya menyesuaikan dengan tantangan medan dan fisik yang berubah selama dia berlari? Demikian pula manusia dalam hidupnya. Ada jatuh bangun, kelemahan dan kegagalan, berbagai pergumulan secara fisik dan mental dalam upayanya mencapai garis finish.

Kesuksesan manusia tidak ditentukan oleh dirinya sendiri. Manusia tidak bisa dan tidak boleh menilai dirinya sendiri, segala penilaian tentang seseorang harus berasal dari luar dirinya sendiri. Jadi pada akhirnya, siapakah yang menentukan kesuksesan seseorang?

Ada cerita dalam sebuah pemakaman orang yang kaya dan dermawan. Pemakaman itu dihadiri oleh banyak orang, dan beberapa orang membagikan kisah tentang bagaimana orang yang kaya ini selama hidupnya.
“Bapak inilah yang mendirikan yayasan besar yang memberikan bantuan berupa operasi katarak gratis bagi ratusan orang tua setiap tahunnya.”
“Bapak ini selama hidupnya tidak pelit dengan kekayaannya dan memberikan banyak sumbangan pada rumah yatim piatu.”
“Banyak sumbangan telah diberikan bapak ini kepada pembangunan rumah ibadah, tidak hanya di wilayahnya, melainkan di banyak daerah di berbagai kepulauan dan desa terpencil.”
Dan hingga giliran anggota keluarganya, anaknya yang paling besar berkata, “Semua yang kalian katakan tentang bapak saya, sama sekali tidak saya mengerti. Dia tidak pernah berada di rumah, ibu saya terus menangis karena dia memiliki simpanan di kota lain. Perusahaan kontraktor miliknya melakukan pembangunan dimana-mana dan mencuri spesifikasi sehingga beberapa kali saya hampir dijebloskan kedalam penjara karena saya adalah wakil direktur dari ayah saya. Saya membenci ayah saya.”

Apakah bapak dermawan tadi adalah orang yang baik ataukah orang yang jahat? Apakah dia bisa dikatakan sukses? Jika bisa dikatakan sukses, apakah target yang sudah dia capai dalam hidupnya? Siapa yang berhak mengatakan bahwa dia sudah sukses mencapai garis finish, jika dia sendiri tidak tahu apa yang harus dikerjakan dalam hidupnya?
Demikian pula dengan semua manusia. Apakah sukses itu sebenarnya?
Pemanah, pelari, penembak jitu, memiliki target. Apakah ‘target’ dari hidup manusia? Sementara umur manusia pun tidak berada ditangannya sendiri. Garis finish tiap manusia tidak ditentukan sendiri oleh masing-masing manusia. Jadi dari mana bisa muncul definisi ‘SUKSES’?

Tidak ada jawaban yang bisa ditawarkan dalam dunia ini, oleh filsafat sekalipun. Tidak ada kemungkinan selain dari jika seseorang memahami hukum relasi pencipta-ciptaan.
Dalam hukum itu barulah akan ditemukan pemahaman tentang tujuan hidup manusia. Di dalam pengertian tentang tujuan hidup manusia, akan ditemukan alasan untuk apa dia hidup dan apa yang harus dikerjakannya dalam hidup ini. Kemudian pada akhirnya, barulah bisa ditentukan apakah dia sudah bisa dikatakan SUKSES dalam hidupnya atau tidak.

Terlalu banyak orang yang membuang seluruh hidupnya, belajar dan bekerja, untuk sesuatu yang bernilai kecil atau bahkan tidak bernilai. Itu disebabkan karena kesalahan konsep nilai dalam hidup manusia. Manusia sebenarnya tidak tahu untuk apa dia hidup.

The real measure of your wealth is how much you’d be worth if you lost all your money.

Terjemahan: Ukuran kekayaan bukanlah berapa banyak hartamu, melainkan seberapa tinggi orang lain menilai dirimu ketika kamu kehilangan semua uangmu.

Q: Apakah gunanya anak, peran serta dan tanggung jawab dia dalam keluarga?

ADalam hal ini, perlu dijelaskan terlebih dahulu apakah ‘ANAK’ itu. Setelah mengerti dan memahami apakah ‘ANAK’ itu, baru kita bisa mulai membicarakan kenapa dia ada, secara eksistensi. Baru kemudian bisa diketahui peran, fungsi, dan tanggung jawab dia di dalam keluarga yang adalah bagian terkecil dari masyarakat manusia.

Saya tidak memiliki perspektif, paradigma, dan presuposisi lain, selain daripada prinsip utama bahwa anak bukan hasil ciptaan orang tua menurut maksud dan tujuan orang tua, sehingga tujuan anak jelas bukan untuk mengerjakan pekerjaan yang telah dipersiapkan oleh kehendak keinginan orang tua. Seturut dengan hukum relasi pencipta-ciptaan, orang tua tidak memiliki hak mutlak dalam diri anak (seperti yang seringkali muncul dalam budaya timur). Setelah semua jelas tentang ‘ANAK’ itu BUKAN apa, baru kita dapat dengan jelas melihat apakah ‘ANAK’ itu.

Saya sangat menyukai istilah Bahasa Inggris untuk kata ‘melahirkan’, kata yang digunakan adalah delivery, terjemahannya adalah ‘mengantarkan’. Seorang ibu ‘mengantarkan’ seorang anak ke dalam dunia; Seorang anak diantarkan ke dalam dunia melalui rahim seorang ibu. Tidak ada unsur kepemilikan disana, seorang ibu merupakan ‘kurir’ pengantar. Anak bukan milik ibu, tapi untuk sementara dititipkan kepada ibu sebagai kepunyaannya untuk dipelihara. Demikian halnya seorang kurir yang mengantarkan paket, dia bertanggung jawab penuh selama paket itu berada di tangannya, dijagainya seolah-olah paket itu adalah milik kepunyaannya sendiri.
Seorang ibu pun demikian, menjagai anaknya, hingga sekali waktu anak itu menjadi besar dan dewasa untuk kemudian meninggalkan ayahnya dan ibunya, untuk menjadi satu dengan istrinya dan proses itu berulang kembali, terus menerus secara konsisten.

Selama anak itu berada dalam pengawasan ayah dan ibunya, anak itu akan dibekali dan dipersiapkan. Sama seperti semua kejadian yang boleh kita lihat disekitar kita dalam dunia binatang. Bedanya adalah bayi manusia perlu belasan tahun bersama orang tuanya sebelum dia bisa hidup sendiri.

Dalam pada masa itu, seorang anak dididik, disekolahkan, diberi pembelajaran di berbagai tempat. Dua institusi terbesar dalam kehidupan seorang anak adalah rumah dan sekolah, terkadang ditambah satu institusi lagi yaitu tempat ibadah. Di dalam kesemua institusi itu, apakah tanggung jawab dan peran anak? Belajar, dengan sebaik-baiknya, bukan untuk keuntungan siapapun juga melainkan demi dirinya sendiri dan masa depannya. Mempersiapkan diri dan dengan taat mengikuti didikan, ajaran, dan latihan yang diberikan oleh masing-masing institusi. Entah apakah setiap institusi mengerti tentang prinsip pendidikan atau tidak, apakah ajaran yang diberikan benar atau tidak, apakah ajaran yang disodorkan bernilai tinggi atau tidak, apakah didikan yang diajarkan itu baik dan dilakukan dengan baik serta memiliki motivasi yang baik atau tidak, anak hanya bisa menghormati dan menghargai semua itu di dalam ketidakmengertiannya. Hingga suatu kali nanti dia akan mampu untuk tunduk pada apa yang baik, dan benar, dan bernilai.

Anak adalah manusia kecil yang berpotensi menjadi pemberontak-pemberontak dan begundal-begundal pembuat keonaran jika tidak dididik dengan baik. Fakta ini yang membuat saya heran dengan pernyataan yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik. Jika manusia pada dasarnya baik, maka anak tidak perlu dididik, dia akan bertumbuh dengan baik; Sedangkan yang sudah sampai berusia dewasa saja sangat susah membuat dirinya sendiri menjadi baik, apalagi anak-anak.

Karena itulah setiap anak harus dididik dengan baik, dengan keadilan, dengan kasih, dengan keras dan tegas, secara bijaksana dan otoritas yang bertanggung jawab. Orang tua harus memberikan teladan dan didikan yang harus dia terima, dan anak harus mendengarkan didikan ayahnya dan tidak menyia-nyiakan ajaran ibunya. Tidak ada yang lebih celaka daripada seorang anak yang lebih suka melangkahkan kakinya ke jalan dan lebih menyukai ajakan temannya dibanding mencari kebijaksanaan. Tidak ada tindakan yang lebih merugikan diri sendiri yang bisa dilakukan oleh seorang anak selain menolak didikan dan ajaran dan hajaran orang tuanya.

Setiap tanggung jawab yang diberikan oleh pendidik, akan memberikan bekal yang baru akan disadari oleh anak tersebut di kemudian hari. Orang tua pernah menjadi anak, anak belum pernah menjadi orang tua. Pendidik sudah pernah menjadi anak, anak belum pernah mengalami perjalanan yang sudah dialami pendidik. Karena belum pernah tahu, jangan sok tahu dan merasa sudah tahu; karena belum pernah menjalani, jangan merasa bahwa apa yang diajarkan sekarang tidak penting.

Orang yang paling bodoh adalah merupakan orang yang paling berani di dunia. Dia tidak takut dan tidak bisa merasa khawatir. Khawatir hanya bisa dikerjakan oleh orang yang pintar dan tahu banyak. Anak-anak selalu memiliki kecenderungan untuk bersikap sedemikian, dia baru tahu sedikit, sudah merasa tahu banyak, dan merasa paling tahu. Gengsi dan harga dirinya mencegah dia untuk mengakui bahwa dia tidak tahu. Seperti tong yang berisi sedikit, lebih ribut daripada tong yang isinya banyak. Semakin sedikit isinya, semakin nyaring bunyinya. Seperti halnya padi, padi yang tidak berisi selalu padi yang berdiri paling tegak, padi yang banyak isi selalu menunduk seolah lebih hormat dan tahu diri; Anak muda juga banyak yang seperti itu, berjalan tegak dengan kepala mendongak, raport di sekolah sangat tinggi nilainya, merasa paling pintar di sekolah, merasa diri sudah sangat hebat. Mereka seperti katak dalam tempurung yang gagal melihat ada hal lain yang lebih besar di dunia ini, seperti kebijakan, moralitas, kebenaran, integritas, dan kehormatan sebagai hal yang hanya dapat diperoleh melalui perjalanan waktu dan tidak bisa dibayar dengan apapun selain daripada hidup mereka sendiri. Mereka belum melihat di dunia ini bahwa di atas yang paling hebat selalu ada yang lebih hebat.

Anak-anak yang tidak bisa mendidik dirinya sendiri, mengekang dirinya sendiri dan tekun, patuh, tunduk serta belajar sebaik-baiknya melalui didikan dalam institusi yang mendidik dia dan yang gagal dididik oleh orang tuanya, akan suatu hari dihajar oleh lingkungan dan masyarakat, oleh pengalaman pahit dan kesulitan besar. Dan pada saat itu, setiap pelajaran akan dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Mereka yang tidak menghargai didikan, ajaran, dan hajaran yang bisa dibayar dengan kesulitan sedikit dan harga yang rendah, akan membayar dan menebus hidupnya di kemudian hari dengan harga yang tinggi. Mereka yang tidak bisa menghargai orang yang lebih tua, lebih senior, entah karena merasa lebih pintar, lebih bergelar, lebih berkuasa, atau lebih kaya, akan menerima banyak penghinaan dan dipandang rendah oleh orang bijak dan orang besar. Karena kekuasaan dan kekayaan yang dia dapat pasti berasal dari orang tuanya; dia hanya membanggakan hal yang tidak dia miliki, memetik yang tidak dia tanam, mendapat yang tidak dia cari.

Prinsip berikutnya yang menurut saya menjadi kunci utama pemahaman prinsip mengenai peranan orang tua dan peranan anak dalam keluarga adalah seperti yang ada dalam buku orang Kristen. Seorang anak harus menghormati ayahnya dan ibunya, dan tunduk mutlak hanya pada Tuhan yang menciptakan dia. Dia harus mengisi hidupnya dengan ajaran-ajaran yang praktis, dan memiliki ketaatan pada idealisme Tuhan yang telah menciptakan dia seturut dengan maksud dan tujuan Tuhan. Selain daripada itu, di dalam keluarga, tidak ada peran anak yang lebih penting dibandingkan peran orang tua dalam diri anak. Sebagai orang tua yang harus bertanggung jawab pada Tuhan yang sudah mempercayakan anak kepada mereka untuk dididik dan dibesarkan dan dibimbing untuk mengetahui tujuan hidupnya sendiri seturut dengan yang Tuhan mau. Tanpa prinsip ini, pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan ujung-ujungnya hanya berakhir pada ambisi manusia berikut dengan kompetisi dalam hidup.

Esensi Belajar dan Bekerja

Berikut ini adalah salah satu paradigma dasar dalam dunia pendidikan yang harus dibenahi. Yaitu alasan mengapa setiap orang perlu sekolah, supaya bisa memiliki ketrampilan untuk bekerja. Ada dua hal yang harus seumur hidup kita kerjakan, yaitu: belajar dan bekerja. Kita belajar dan bekerja untuk supaya bisa hidup. Terus belajar, terus bekerja, selama masih perlu hidup.

Hidup adalah untuk belajar dan bekerja. Belajar dan bekerja adalah untuk hidup. Dua hal ini tidak bisa lepas dari kehidupan manusia karena itulah tujuan hidup manusia. Tidak banyak hal yang tidak bisa di atasi dengan bekerja, dan kalimat tersebut barusan sama sekali tidak ada urusannya dengan uang.

Namun seringkali yang kita dengar adalah kita perlu sekolah supaya menjadi pandai. Mengapa perlu pandai? Supaya bisa bekerja. Jadi mengapa perlu bekerja? Seringkali alasan pertama adalah, “Supaya bisa cari uang.” Mengapa perlu cari uang? Sekali lagi, seringkali adalah, “Supaya bisa sukses.” Dan sukses selalu seringkali di ukur dengan jumlah harta yang dimiliki.

Kita mulai belajar tidak hanya di sekolah. Melainkan juga di rumah. Sejak lahir kita belajar. Kita mulai dengan belajar melihat, meraba, mendengar, menirukan, dan seterusnya. Kita mulai belajar mengenali benda, berbicara, mengingat nama, dan seterusnya. Kita mulai belajar apa yang boleh kita lakukan dan yang tidak boleh kita lakukan, mulai belajar membedakan konteks dengan konten, mengerti konsep nyata dan abstrak, dan seterusnya. Belajar tidak boleh selalu dihubungkan dengan sekolah. Sekolah adalah permulaan bagi kita untuk belajar bagaimana cara belajar. Setelah lulus dari bangku sekolah pun kita masih harus terus belajar. Dengan memahami sistematika belajar, kita akan lebih mudah mempelajari apapun yang perlu kita pelajari untuk membantu kita menjalani hidup.

Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran formal di sekolah saat berusia 7 (tujuh) tahun. Setelah jenjang formal selesai, kita masih harus terus belajar, mengikuti dan beradaptasi dengan segala sesuatu yang berubah disekitar kita, baik secara fisik, secara mental, sosial, pekerjaan, ketrampilan, dan seterusnya. Kita belajar bersosialisasi, berkomunikasi, beradaptasi dengan lingkungan baru, dengan rekan kerja, atasan dan bawahan, dan pasangan lawan jenis.

Hidup kita tidak henti-hentinya berubah dari satu tahapan kepada tahapan yang berikutnya. Menikah dan memiliki anak menuntut pembelajaran lagi, dan hingga tua, kita masih harus belajar, beradaptasi dengan kekuatan fisik dan mental yang mulai menurun, berusaha menjalankan fungsi hidup dengan cara yang berbeda.

Kita tidak pernah berhenti belajar. Selalu harus belajar mengatasi perubahan yang terus terjadi dari waktu ke waktu. Marilah kita perhatikan, bahwa ternyata tidak ada satu pun aspek hidup kita di desain untuk mengarahkan kita menjadi kaya. Kalaupun kita mengarahkan hidup kita untuk menjadi kaya, tidak ada satupun dalam proses pembelajaran yang kita lakukan tersebut yang berkenaan dengan hidup ini yang mengarahkan kita secara langsung untuk menjadi kaya secara materi. Dikatakan “kaya secara materi” karena ada kekayaan lain yang berbeda. Kaya secara intelektual, kaya secara spiritual, kaya secara moral, atau kaya secara ketrampilan. Semua yang kita pelajari dalam hidup ini mengarahkan kita untuk menjadi kaya dalam hal-hal yang baru saja saya sebutkan tadi. Semua kekayaan itu sejalan dengan natur hidup kita dan mengarahkan kita kepada HIDUP, serta berkenaan langsung dengan penambahan dan menaikkan nilai-nilai dalam seluruh aspek-aspek yang berada dalam hidup kita. Menuntun kita dari hidup, kepada hidup yang lebih tinggi.

Itulah yang selalu kita kerjakan. Sambil kita belajar, kita pun sedang bekerja untuk meningkatkan nilai hidup kita. Bekerja adalah merupakan natur dalam hidup manusia. Bekerja seharusnya adalah sesuatu yang terjadi secara natural, sama seperti kita bernapas dan makan. Bekerja adalah sebuah kebutuhan hidup. Tubuh kita tidak di ciptakan untuk tidak melakukan apa-apa dan menganggur. Semakin banyak kita menganggur dan tidak melakukan apa-apa, semakin buruk jadinya bagi fungsi tubuh kita. Semakin malas kita menggerakkan tubuh kita, semakin kita jauh daripada HIDUP.

Itulah tujuan dari belajar. Persis sama dengan proses kita bersekolah, dari kelas yang rendah, naik kepada kelas yang tinggi. Dari yang dulunya tidak bisa, naik menjadi bisa. Dari yang dulunya kurang ‘hidup’, menjadi lebih ‘hidup’. Dari bayi yang hanya bisa menangis dan berteriak, menjadi manusia dewasa yang bisa mengurus segala sesuatunya sendiri. Dari bayi yang tidak bisa bekerja, menjadi manusia dewasa yang bisa bekerja mengurus kebutuhan dan mencukupkan diri.

Sedangkan perihal menjadi kaya secara keuangan, itu adalah jalur yang berbeda dengan apa yang kita jalani ketika kita sedang mengarahkan jalan kita kepada hidup seperti yang sudah saya uraikan tadi. Kita harus dengan sengaja mengambil jalur hidup yang sama sekali berbeda ketika kita mau dengan sungguh-sungguh mengejar kekayaan. Sebuah jalur hidup yang mengarahkan kita kepada dunia materi. Jalan yang menuntun kita dari hidup, kepada yang mati. Tidakkah kita sadari bahwa jika mau dengan jujur kita renungkan, kita menempuh jalan yang memiliki kesulitan-kesulitan yang sebenarnya tidak perlu untuk mengejar kekayaan dan menumpuk harta yang sebenarnya untuk mengisi kekosongan hidup dan perasaan serakah serta kekhawatiran akan hari depan.

Kita sebenarnya ingin untuk memiliki hidup yang baik, yang berguna, yang bisa berkarya. Namun kemudian kita menoleh kepada sekitar kita dan mulai membandingkan diri kita dengan orang lain dengan semangat kompetisi yang tertanam dalam diri kita berikut dengan sifat iri, serakah, dan tidak mau kalah dengan orang lain. Sifat yang seolah-olah yakin bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang sama dengan modal yang sama, atau bahkan kita menilai diri kita lebih daripada orang lain. Kita ingin memilik harta yang lebih banyak atau paling tidak sama dengan orang lain. Sehingga kita memaksakan diri membeli semua barang yang kita tidak perlu, seringkali dengan uang yang tidak kita miliki, agar dapat membanggakannya di depan orang yang seringkali kita tidak kenal atau tidak kita sukai, supaya kita bisa membuat iri orang di sekitar kita; Dan ketika orang di sekitar kita benar-benar menjadi iri, kita mulai mengeluhkan hal tersebut.
Padahal kita mengerti betul bahwa orang-orang yang paling penting dalam hidup kita tidak membutuhkan itu semua, mereka mau menerima kita apa adanya dan mereka menghargai kita. Teman yang sejati, keluarga, sahabat baik, mereka yang berada dekat dengan kita pada saat suka dan duka, apakah mereka perduli berapa besar kekayaan kita?

Kita pasti sering mendengar kisah orang-orang yang “sukses” (baca: KAYA); ada yang dari keluarga miskin, tidak mendapat kesempatan bersekolah, tapi dia berjuang dengan berdagang, atau mendirikan usaha yang kemudian maju dan dia menjadi kaya. Kisah-kisah seperti itu menarik untuk beberapa saat dan lenyap ketika dia jatuh bangkrut atau meninggalkan dunia ini. Kisah yang bertahan seketika saja untuk sementara waktu sampai tergantikan dengan kisah sukses yang lain. Dan ketika dia mati, tidak ada orang yang mengingat namanya.
Kisah-kisah yang demikian banyak sekali mengemukakan bahwa untuk menjadi kaya, tidak harus selalu sekolah. Banyak yang putus sekolah tapi juga bisa menjadi kaya. Jadi jelas sebuah kesalahan besar jika anak-anak disekolahkan supaya bisa bekerja untuk menjadi kaya.

Anak-anak yang disekolahkan itu akan menjadi pintar. Dan pintar tidak akan membuat dia kaya. Untuk menjadi kaya, dia harus menggunakan kepintarannya di dalam jalan yang berbeda. Mereka menggunakan seluruh hidupnya bekerja untuk dirinya sendiri dan hanya untuk dirinya sendiri. Ironisnya, mereka tidak kekurangan dalam hidupnya tapi mereka tidak bisa menikmatinya, mereka akan melihat orang lain yang akan menikmati hartanya dan tidak ada yang bisa dia lakukan, sementara dia sendiri bekerja keras dan memikul segala beban yang tidak perlu dan resiko yang tidak semestinya.

Kita juga pasti pernah mendengar kisah orang yang besar, yang agung, yang namanya dimuat dalam sejarah, yang tidak seorang pun dari mereka dinilai dari uang yang mereka hasilkan, mereka adalah orang-orang yang “sukses” dalam wilayah yang hidup. Mereka sukses dalam kehidupan mereka dan dunia mengakui nama mereka sebagai orang yang mulia. Entah karena kebaikan mereka, pengorbanan mereka, keagungan moral dan spiritual mereka ditengah-tengah kesulitan hidup dan berhasil melampaui itu semua untuk kemudian mengarahkan hidup mereka kepada HIDUP dengan kualitas yang diakui seluruh dunia. Mereka yang namanya dikenang oleh sejarah, yang buku biografinya dibaca selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun setelah dia mati.
Mereka adalah orang-orang yang bekerja untuk menghasilkan sesuatu dalam hidupnya bagi orang lain. Mereka yang bekerja dalam kesenangannya, mengerjakan yang dia sukai sesuai dengan bakatnya, makan sedikit ataupun makan banyak, mereka tidur dengan nyenyak dan menikmati hidupnya dan hasil kerjanya.

Sekarang, definisi “sukes” yang mana yang sebenarnya ingin kita capai?
Pendidikan macam apa dan kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani. Apakah kita mau mendidik hidup kita dan mengarahkannya kepada hidup, atau kita mau mengarahkannya kearah yang lain?
Apakah kita mau mengarahkan seluruh hidup kita untuk diri kita sendiri, egoisme pribadi, keinginan diri sendiri; Ataukah kita mau membagikan hidup kita untuk orang lain, menjadi berkat bagi orang lain, atau paling tidak memiliki hidup yang bisa kita nikmati dengan mengerjakan hal-hal yang menjadi bagian kita?
Dengan cara apa kita hendak mendidik generasi dibawah kita, anak-anak kita, anak didik kita?

Saya yakin bahwa jawabannya adalah mengarah kepada hidup.
Saya juga cukup yakin, setelah selesai dengan menjawab, mata kita melihat semua orang di sekeliling kita, kemudian kaki dan tangan kemudian melangkah dan menunjuk ke arah yang lain. Sangat bisa dimengerti, karena sepanjang sejarah, itulah semangat yang dikumandangkan sepanjang sejarah melalui filsafat humanisme, materialisme, dan hedonisme. Karena akar dari segala hal yang berada di dalam dunia ini adalah cinta diri sendiri dan cinta kepada uang.

Kebahagiaan hidup adalah pencernaan yang baik dan tidur yang nyenyak.