Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kesadaran Moral

Saya yakin kita semua pernah berada dalam suatu dilema moral, yang satu lebih kompleks dan berat dibanding yang lain. Ketika kita melihat suami dari sahabat kita berselingkuh, apakah yang akan kita lakukan? Berdiam diri atau menegur atau menyampaikan hal tersebut? Jika kita sampaikan, akan terjadi kerusakan parah dalam keluarga mereka, mungkin anak-anak mereka akan dibesarkan dalam keluarga yang hancur. Jika tidak kita sampaikan, hal itu mungkin akan berlanjut dan menjadi lebih parah.
Atau ketika seseorang sedang dalam antrian dalam ruang praktek dokter, ada seseorang yang anak kecil dan tampaknya jauh lebih kesakitan daripada kita, baru datang dan mengantri sesudah kita. Kita yang sudah mengantri lebih dari satu jam, yang juga sedang migren, demam dan nyeri dengan bisul di bibir ; apakah kita akan membiarkan anak itu masuk terlebih dahulu padahal dia baru saja datang?
Atau ketika kita memiliki posisi sebagai pejabat pemerintah, seseorang datang memohon persetujuan dan pengesahan dari dokumen dan perjanjian kontrak; datang dengan membawa uang suap. Semua orang di kantor kita memiliki budaya dan kebiasaan yang sama. Semua orang tau bahwa suap itu adalah etika yang rusak, tapi semua orang melakukannya. Jadi akan kita terima kah uang suap itu? Jika kita tolak, kita menjadi orang yang sok suci, dikucilkan karena tidak sejalan dengan semua orang dalam kantor kita. Jika kita terima, hati nurani kita menegur kita bersalah.
Atau ketika kita melihat handphone yang tergeletak di kamar mandi pusat perbelanjaan, tanpa pemiliknya. Akankah kita ambil? Atau kita biarkan? Atau kita bawa pulang? Atau kita serahkan kepada pihak managemen atau pihak keamanan gedung? Tidak akan ada seorangpun yang menyalahkan kita kalau kita bawa pulang dan kita jual, karena tidak ada yang tahu. Tidak ada siapapun yang akan menegur kita selain daripada diri kita sendiri dan hati nurani kita.

Ada banyak dilema moral yang terjadi di sekitar kita, dimana kita dituntut untuk mengambil sebuah posisi didalamnya. Seperti pepatah yang berbunyi, “Bagaikan buah simalakama, dimakan: bapak mati, tidak dimakan: ibu mati.” Semakin kita memiliki pengertian moralitas dan pengetahuan norma kebaikan dan kebenaran, semakin banyak kita akan menempatkan diri kita dalam dilema moral.

Moralitas dan Perasaan Bersalah

Dari manakah munculnya kesadaran moral? Secara sangat singkat, dari didikan budaya dan agama. Saya yakin kita semua akan setuju jika saya katakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Saya yakin sebagian kita akan setuju jika saya katakan bahwa kesadaran moral adalah sama seperti kesadaran tentang keberadaan Tuhan, yang ada sejak manusia dilahirkan. Namun bersamaan dengan kesadaran moral tersebut, ada hal dalam diri kita yang ada sejak lahir, namun tidak kita sadari, yaitu amoralitas.

Saya mengasumsikan kita semua pernah mendengar kalimat bahwa, “manusia itu pada dasarnya baik. Manusia dilahirkan seperti lembaran kertas putih polos. Masyarakatlah yang membuat manusia menjadi rusak dengan pengaruh negatif.”

Saya pribadi tidak setuju dengan kalimat itu. Siapakah masyarakat? Masyarakat adalah kumpulan manusia. Jika kumpulan manusia semua berasal dari kertas putih polos, darimana datangnya ketidakbaikan?
Ingatkan kita ketika kita pertama kali mencuri? Ingatkah betapa kita sangat ketakutan ketika itu? Atau ingatkan kita ketika kita pertama kali berbohong?

Kita tahu bahwa kita bersalah. Hati nurani menegur kita, dan hidup kita menjadi tidak tenang karenanya. Dalam perkembangan kita, kita mulai mengenal kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, keadilan dan kelaliman, dan seterusnya; berikut dengan segala kompleksitas dan dilema didalamnya.

Kita mengenal dan belajar tentang semua itu dari mereka-mereka yang memiliki kepekaan terhadap teguran hati nurani mereka, mereka-mereka yang menjaga moralitas mereka, dan kita menganggap mereka itu sebagai orang-orang saleh. Dan kita mengenal mereka semua sebagai pengajar moral, pemuka agama, pemimpin agama, dan seterusnya.

Pernahkah kita sadari bahwa justru dari pengetahuan akan moralitas tersebut membangkitkan kesadaran kebersalahan? Perasaan bersalah itu muncul karena kita mengerti hal yang baik dan hal buruk. Ketika kita tidak  mengerti akan perbedaan benar dan salah, tidak ada dalam diri kita yang menegur.

Konsep Dosa

Saya yakin kita semua setuju bahwa sebagai orang yang beragama, kita semua mengenal konsep dosa. Bahkan orang yang tidak beragama pun harus mengakui suatu perasaan bersalah yang timbul dalam diri seseorang, termasuk didalamnya adalah perasaan menyesal. Setiap orang yang tidak memiliki perasaan bersalah atau penyesalan dikategorikan kedalam orang yang memiliki gangguan kejiwaan yang parah atau psychopathy.

Sesungguhnya, agama tidak pernah membawa kita kepada kebenaran. Agama membawa kita kepada konsep pengertian bahwa ada kebenaran dan kebaikan. Melalui pengertian tersebut, kita dibawa pada pengetahuan akan yang baik dan yang jahat. Semakin kita mengenali dan mendalami perihal kebaikan, semakin kita mengetahui bahwa kita ini adalah orang yang memiliki banyak kesalahan.

Ketika kita berbuat baik, menolong orang, memberikan kepada seorang pengemis bantuan berupa uang, kita merasa sudah baik. Kita berbuat baik. Kita adalah orang baik. Kita menolong orang lain.

Pernahkah kita memikirkan lebih jauh, apakah perbuatan kita menolong pengemis itu akan berakibat baik bagi dia atau malah menjerumuskan dia? Apakah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengemis tersebut? Apakah uang? Ataukah pekerjaan? Ataukah kesempatan? Apakah uang yang kita berikan dia gunakan untuk membeli makanan atau malah membeli rokok yang malah tidak menyehatkan?

Saya sekali lagi yakin, bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan seharusnya menggugah sebagian kita dan menyadarkan kita. Tapi kita merasionalisasikan perasaan tanggung jawab moral dan kesadaran moral itu dengan alasan-alasan seperti berikut: yang penting kita sudah berniat baik. Yang penting adalah niatnya. Masalah pengemis itu mau terus menjadi pengemis, atau uang itu mau dipakai untuk beli makanan, atau beli rokok, atau beli pisau untuk menodong orang, atau dipakai untuk menyekolahkan anaknya, kita tidak tahu. Tepatnya, kita tidak cukup perduli.

Dengan kata lain, kita tidak bisa dipersalahkan ketika kita tidak tau.

Hal itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Pengertian itu seharusnya membangkitkan suatu perasaan bersalah yang lain. Yaitu seberapa jauh pun kita mau berbuat baik, kita tidak bisa berbuat baik. Kita tidak bisa secara tuntas berbuat kebaikan yang dapat membenarkan diri kita atau membuat diri kita dibenarkan. Karena kita tidak tahu, hal itu cukup untuk menenangkan hati nurani kita dan menjauhkan kita dari perasaan bersalah.

Agama dan kebenarannya hanyalah membuktikan bahwa diri kita ternyata tidak mampu melakukan kebaikan. Dan melakukan satu kesalahan dari satu larangan dalam agama berarti telah melanggar semua hukum. Agama tidak menyelamatkan. Perbuatan baik tidak membuat kita dibenarkan. Saya yakin kita semua bisa menyetujui kalimat berikut, apakah semua orang dalam penjara adalah orang yang tidak beragama? Tidak. Pasti ada banyak orang yang berada dalam penjara yang adalah orang yang taat beragama. Apakah koruptor adalah orang yang tidak taat beragama? Jika mereka beragama, mengapa mereka tetap korupsi?

Akan tetapi melalui jalan agama, seseorang diberi tahu bahwa dia bersalah, dia berdosa. Dan sebagian besar agama menawarkan penyelesaian, yaitu melalui perbuatan baik. Namun hal tersebut menimbulkan permasalahan yang lain lagi yang sudah kita bahas, yaitu kesadaran bahwa tidak ada perbuatan baik kita yang benar-benar tuntas merupakan kebaikan yang dapat dibanggakan dan dijadikan pengganti perbuatan dosa kita dan menenangkan perasaan bersalah kita.

Masalahnya utamanya adalah kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan. Kita berusaha melakukan penebusan kesalahan kita dalam setiap upacara besar keagamaan. Setiap kali. Dan setiap kali kita melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada jalan keluar melalui agama, karena perbuatan amal kita tidak bisa menyelamatkan kita.
Berusaha menyelamatkan diri melalui perbuatan amal adalah seperti melanggar lampu merah. Kita keluar rumah, hendak menuju ke rumah kekasih kita, di jalan ada sepuluh lampu merah. Setelah melalui 9 lampu merah, kita sadar bahwa kita sudah terlambat. Maka di lampu merah ke-10, kita serobot dan langgar. Kemudian kita dihentikan oleh polisi dan di tilang. Kita tidak bisa berargumen kepada polisi itu, “Bapak tidak boleh menilang saya. Saya sudah melewati 9 lampu merah dengan tertib, masa baru 1 lampu merah yang saya langgar, sudah ditilang?”
Kita tidak bisa juga berargumen kepada seorang hakim, “Sudah 39 tahun saya hidup sebagai warga negara Indonesia, tidak pernah saya berurusan dengan hamba hukum, masakan baru satu kali ini saya mencuri karena anak saya sakit keras dan hampir mati, saya akan langsung masuk penjara?”

Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan. Dan agama memperjelas hal itu. Melalui agama kita mengenal semua baik dan jahat. Dan semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak kita sadar bahwa semakin banyak yang kita perbuat ternyata tidak baik.

Jika kita bisa dianggap baik hanya dengan mempercayai suatu agama tertentu tanpa perlu hidup bertanggung jawab dan suci, apa gunanya kita hidup bersusah payah berusaha mengejar kesalehan? Apa gunanya kesadaran kita akan moralitas? Jika demikian halnya, apakah gunanya beragama? Dan disini jawaban yang saya temukan yang selalu saja diucapkan orang: Ada begitu banyak agama di luar sana. Apakah semua agama itu sama saja dan berakhir dengan kebuntuan dan dilema sedemikian?

Perspektif Tentang Problema Manusia dan Ekstensinya

Sebagian dari kita, kadang kala atau bahkan seringkali, terbentur pada pemikiran-pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai hal-hal yang terjadi dalam dunia kita. Mulai dari kesadaran akan pemanasan global (global warming), bencana alam, kerusakan dan pengrusakan alam, kepunahan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan, perubahan ekosistem dan biosphere, ketidakperdulian manusia terhadap banyak hal, perbuatan-perbuatan manusia terhadap alam dan sesamanya yang semakin pragmatis, dan seterusnya, dan sebagainya.

Namun sebagian dari kita sama sekali tidak pernah memikirkan apapun. Sebagian dari kita hanya memikirkan semua yang bersinggungan langsung dengan kita. Tentu saja, karena sebagian dari kita hanya selalu sibuk memikirkan diri kita sendiri.

“Tragedy is when I cut my finger; comedy is when you step on a banana peel, fall into an open sewer and die” – Mel Brooks

Tragedi adalah ketika jariku tergores; komedi adalah ketika kamu terpeleset kulit pisang, jatuh kedalam selokan dan mati. – Mel Brooks

Tidakkah terkadang –atau bahkan sering kali– kita terheran-heran dengan manusia dan perilakunya. Keputusan-keputusan yang diambilnya. Tindakan-tindakan yang dikerjakannya. Kita diterpa dengan berbagai macam hal setiap hari, terutama dalam era digital dan globalisasi informasi ini, menjadikan kita terbiasa dan dengan mudah menjadi tidak perduli dengan banyak hal yang begitu membombardir pemikiran kita. Setelah aliran filsafat pre-modern pada jaman revolusi industri, memasuki masa modern setelah dua kali perang dunia, dan masa post-modern sekarang ini, menjadikan manusia yang dulunya mencari kebenaran secara konsep, kemudian dengan ilmu pengetahuan, sekarang menjadi manusia-manusia yang lebih terfokus pada keuntungan praktis, dan tidak mau berpikir banyak serta pragmatis.

Banyak hal yang dulu dianggap salah, sekarang diterima, dan menjadi arus besar. Banyak hal yang dulu dianggap tidak bernilai, sekarang menjadi hal yang dicari orang. Dunia telah bergeser sedemikian banyak dan mengakibatkan banyak orang kehilangan arah tentang apa yang baik, yang benar dan yang bernilai.

Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) menjadi isu yang dipaksakan untuk harus diakui dan diterima. Desakan yang membuat banyak orang kebingungan ditengah arus besar ini. Keberagamaan menjadi isu yang tidak kalah sengitnya, ditengah-tengah upaya untuk memahami bahwa seharusnya agama membawa manusia kepada kedamaian dan ketenangan, memberikan harmoni dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam, ternyata mengakibatkan pembunuhan dan memporakporandakan dunia. Dan seringkali terlihat bahwa orang yang tidak beragama seringkali lebih baik dari mereka yang menyebut dirinya beragama, namun paling berani berbuat jahat. Manusia juga dihadapkan pada kenyataan bahwa alam sudah semakin berubah dan menjadi tidak nyaman dengan polusi, pencemaran, perubahan cuaca, kerusakan alam, kepunahan hewan dan tumbuhan, dan alam menjadi musuh manusia dengan bencana alam dan berbagai fenomena yang bahkan dulu tidak banyak terjadi.

Manusia menjadi pesimis, terombang-ambing, kehilangan pegangan, tersesat dalam kebingungan dan ketidakmengertian. Sebagian yang berusaha berjuang memperbaiki alam, dihadapkan pada ketidakperdulian banyak orang dan pihak otoritas. Sebagian yang berusaha membangkitkan kesadaran akan kebaikan dan kebenaran menjadi musuh banyak orang. Sebagian yang berusaha mempertahankan integritas, dipertentangkan dengan keegoisan mayoritas manusia yang lain.

Manusia mulai mempertanyakan, apakah kebenaran dan kebaikan itu?

Dan lebih jahat lagi, manusia mempertanyakan dimanakah Tuhan?

Dan inilah jawabannya, yang saya temukan dalam buku orang Kristen dan tidak saya temukan dalam pemikiran manapun. Tuhan tidak berada dimana-mana, karena Dia ada dimana-mana. Kita manusia yang berdosa yang sudah menghilang dari Tuhan. Kita tidak memperdulikan Dia. Kita sudah berdosa dan melawan Dia. Kita merusak diri kita sendiri dan sesama kita, serta semua yang kita sentuh, dan setelah semua rusak, kita bertanya dimana Tuhan. Itulah yang saya sebut dengan ‘JAHAT’.

Manusia adalah ciptaan Tuhan, dalam kita berlaku hukum pencipta dan ciptaan.

Jika kita tidak mengakui bahwa kita adalah ciptaan Tuhan, maka tidak ada jawaban untuk semua yang mau kita bahas sekarang. Karena jika dunia ini adalah berasal dari -misalnya- Big-Bang dan kita adalah makhluk -misalnya- hasil evolusi yang karena anomali, terjadi secara tiba-tiba dan kebetulan, maka kita tidak memiliki tujuan ultimat dan tidak memiliki nilai apapun. Bagaimana sesuatu yang terjadi secara kebetulan bisa memiliki nilai apapun, apalagi nilai yang tinggi.

Tidakkah segala sesuatu yang terjadi kebetulan tidak memiliki nilai dan tidak memiliki tujuan dan tidak memiliki dasar logika yang sah sebagai sesuatu ‘yang bisa diketahui’ (berdasar pada prinsip ‘ILMU PENGETAHUAN’ yang bisa diketahui, maka sesuatu itu harus bisa diuji coba, berulang kali, dan konsisten. “KEBETULAN” tidak memiliki semua hal itu. Evolusi dan Big Bang teori tidak memiliki ciri ilmu pengetahuan yang sah, namun dipercaya secara buta dan diakui kebenarannya secara keyakinan –baca: iman– yang semu.)

Kita lanjutkan: Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut rencana Sang Pencipta berdasar bentuk dan rupa dan kehendak pencipta yang mulia, maka manusia menjadi satu-satunya makhluk yang bisa berpikir karena manusia memiliki bahasa dan berakal budi (buktinya: cobalah berpikir dan merenungkan sesuatu TANPA MENGGUNAKAN BAHASA, -tidak usah dicoba karena tidak akan bisa-).

“Manusia tahu bahwa ada yang baik dan ada yang benar. Tapi manusia kebingungan membedakan mana yang adalah mana.”

Manusia yang dicipta dengan sangat baik adanya, namun yang sekarang telah kehilangan kemuliaan yang sejatinya ada pada kita karena sebenarnya kita diciptakan seturut dengan peta dan teladan Tuhan. Manusia menjadi musuh Tuhan dan sudah melawan Tuhan dan terhilang. Jangan kita mempertanyakan dimana TUHAN. Kita yang telah lari dari Dia. Dan sejak hari ketika manusia mulai berdosa, manusia tidak pernah mencari Dia. Kita hanya selalu merasa bahwa kita mencari Tuhan. Tapi Tuhan yang sejati tidak bisa ditemukan oleh kita yang berdosa. Tidak ada yang mencari Tuhan, tidak ada seorangpun yang baik, dan tidak seorangpun mencari Tuhan.

Saat bolpen kita hilang, atau baju kita hilang, atau kunci kendaraan kita hilang, atau adik atau anak kita hilang, siapa yang mencari siapa? Yang hilang tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Yang tahu bahwa sesuatu itu hilang adalah ketika sang pemilik atau yang ‘lebih tinggi’ menyadari bahwa sesuatu itu hilang.

Bolpen atau baju atau kunci kendaraan tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Adik atau anak kita baru merasa hilang ketika dia menoleh kesana dan kemari dan tidak menemukan kita. Selama dia tidak mengacu dan kembali memikirkan tentang kita, dia tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Bahkan setelah dia merasa hilang, siapa yang lebih mungkin menemukan siapa? Bisakah kita membandingkan diri kita dihadapan pencipta kita seperti anak berusia 3 tahun dengan ibunya? Tidak bisa! Kebijaksanaan ibu tidak bisa dibandingkan dengan kebijaksanaan Tuhan. Dan dihadapan Tuhan, kita yang diciptakan dari debu dan tanah, jauh lebih tolol daripada anak usia 3 tahun. Kita lebih mirip bolpen atau baju atau kunci kendaraan. Bahkan bolpen atau baju atau kunci kendaraan lebih bermakna dan berfungsi daripada kita yang seringkali tidak tau mengapa kita ada dalam dunia dan kenapa kita diciptakan dan untuk apa kita dilahirkan dalam dunia ini. Bolpen, baju dan kunci kendaraan memiliki ‘makna hidup’ yang sangat jelas. Kita manusia seringkali tidak jelas mau berbuat apa dengan kehidupan kita.

Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang mencari manusia. Karena manusia berdosa tidak bisa mencari Tuhan dan menemukan Tuhan.

Manusia dalam keberdosaannya, tetap bisa mengetahui bahwa ada yang benar, dan ada yang salah. Ada yang baik dan ada yang jahat. Ada yang terang, dan ada yang gelap.
Akan tetapi, manusia dalam keberdosaannya tidak tahu apa yang mana. Mana yang baik, mana yang jahat. Dan manusia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Manusia menyukai apa yang dia sukai, manusia menginginkan apa yang dia mau, manusia mengerjakan apa yang menurut dia baik (dan dia merasa baik); namun semua yang dipilih lebih banyak yang salah daripada yang benar. Manusia mencintai, karena merasa cinta itu baik, kemudian mencintai kejahatan dan kesesatan dan kekerasan. Tanpa perspektif yang benar-benar benar, dan pengertian yang sejati, akan ada banyak hal yang dikerjakan manusia yang salah total.

Karena itulah, manusia terus terombang ambing dalam kebingungan, kenapa ada manusia yang tertarik dengan sesama jenis, kenapa ada manusia yang ingin menjadi lawan jenis, kenapa ada manusia yang dengan tidak perduli dan merusak alam, kenapa ada manusia yang tidak perduli menyakiti semua manusia yang lain, kenapa ada manusia yang membenci mereka yang tidak sama dengannya, kenapa ada manusia yang tidak memikirkan dampak dari perbuatannya sekarang yang memiliki potensi untuk merusak hidupnya dimasa depan. Kenapa dan kenapa dan kenapa. Dan kenapa Tuhan tidak campur tangan.

Tuhan tidak punya kewajiban untuk campur tangan.
Bahkan manusia saja tidak merasa perlu campur tangan terhadap barang yang kita ciptakan atau kita miliki. Kita memakai semua yang kita rasa adalah punya kita dengan sesuka hati kita. Itu adalah kuasa yang diberikan kepada kita untuk berbuat sesuka hati kita. Giliran hal buruk terjadi pada kita, mengapa kita menuntut Tuhan untuk melakukan sesuatu buat kita?
Kita bahkan tidak perduli pada Dia dalam seluruh bagian kehidupan kita yang lain, kenapa giliran kita susah, kita marah-marah kepada Tuhan? Tidakkah itu kejahatan dan kekurangajaran bahkan ketika hal sedemikian kita lakukan kepada orang tua atau pasangan hidup kita.

Tundukkanlah hidup kita pada Tuhan yang sejati, pada kebenaran yang sejati, supaya kita memperoleh kebijaksanaan untuk membedakan mana yang baik, mana yang benar, dan mana yang bernilai.

Dengan pengertian akan perspektif yang benar terhadap posisi kita didalam alam semesta ini, seharusnyalah pikiran kita menjadi lebih terbuka dalam perjalanan dan upaya kita mencari kebenaran yang sejati dan penjelasan terhadap berbagai aliran filsafat dan fenomena dan gelombang gerakan-gerakan yang terjadi disekeliling kita dan mengacaukan hidup kita.

Tanpa kebenaran yang menguasai hidup kita, tanpa kita menjadi murid kebenaran dan tunduk mutlak pada kebenaran yang sejati, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk merubah hidup kita. Dengan berada dalam kebenaran, dengan memiliki pengertian dan perspektif yang benar, kiranya kita boleh menjadi manusia-manusia yang lebih baik dan membawa orang-orang disekitar kita menjadi lebih baik. Menjadi berkat buat semua orang disekitar kita, tanpa kecuali, dan menjadikan dunia ini menjadi lebih baik.

Q: Bagaimana mungkin tidak ada seorangpun yang baik?

ABerbicara tentang kebaikan hampir selalu mengarah pada hal yang sifatnya lebih kepada pembicaraan filsafat dan teologi sebagai ujung terakhir. Sadar ataupun tidak sadar, kita berbuat baik karena ada tuntutan dalam diri kita, suara hati nurani dan kesadaran yang menganiaya kita, menuntut kita untuk melakukan hal yang baik seturut dengan pengertian yang kita miliki, dan terlebih lagi untuk menghindari perasaan bersalah yang akan menjauhkan kita dari ketenangan diri. Hati nurani dan kesadaran akan perasaan bersalah adalah sebuah konsep pengertian akal budi yang hanya dimiliki manusia, jauh di dalam jiwa kita tentang penghukuman dan pembalasan yang setimpal dengan perbuatan kita.

Dalam pengertian akan penghakiman dan penghukuman serta pembalasan itulah setiap orang, pribadi lepas pribadi, masing-masing orang sepanjang sejarah di sadarkan akan konsep ‘keselamatan’ dalam ‘kehidupan setelah kematian.’ Itulah yang mendorong orang untuk berbuat baik. Namun tidak ada yang baik, tidak ada yang sanggup berbuat baik dalam kebaikan yang sempurna. Tidak ada seorang pun memiliki kebaikan yang bisa dipertimbangkan sebagai alasan bagi dia untuk boleh diselamatkan. Itu adalah kesadaran yang mengerikan bagi orang sepanjang sejarah, sehingga muncullah perlawanan terhadap figur tuhan karena tuhan sangat mengganggu eksistensi manusia. Jika tidak ada tuhan, maka tidak ada penghakiman. Siapa pula tuhan itu sehingga dia berhak seenaknya menentukan nasib manusia. Manusia bahkan tidak tahu apakah dia ada atau tidak. Hal-hal inilah yang dibahas oleh agnostisisme.

Namun sekali lagi, hati nurani, moralitas, kesadaran dan perasaan bersalah terus menegur jiwa manusia. Walaupun pragmatisme berusaha membunuh suara hati nurani, namun suara itu hanya membungkam, tidak pernah mati. Itulah sebabnya tidak pernah luntur dalam sepanjang sejarah manusia, upaya manusia berbuat baik supaya dia boleh diterima dalam kehidupan yang baik sesudah kematian. Tapi sebagian kita menyadari bahwa perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan kita, karena alasan yang sangat sederhana dan mudah, “tidak ada yang baik, seorang pun tidak. Hanya TUHAN yang baik.”

Sebenarnya pertanyaan ini memiliki antitesis, “Siapakah yang bisa dikatakan baik?” Dan antitesis itu membawa tiap orang kepada satu perenungan, “Apakah baik itu?”

Serta merta kita akan menyadari bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kebaikan yang kita lakukan adalah sangat terbatas, berlaku sementara, dan terpecah-pecah. Baik bagi satu orang, belum tentu baik bagi orang yang lain. Orang hanya akan mengatakan kita baik jika kita menguntungkan atau melakukan hal yang dia sukai. Kita hanya bisa dikatakan baik dalam satu waktu dan kondisi tertentu, tapi tidak dalam totalitas keseluruhan hidup kita.

Siapakah yang berani berkata, “Aku ini orang baik.” Dia yang berani berkata sedemikian sudah pasti tidak baik, satu hal yang pasti, dia adalah pembohong. Atau tentu saja, jika dia gila. Agama menuntun kita untuk melakukan perbuatan kebaikan supaya kita boleh diselamatkan (baca: pergi kepada tuhan, di sorga, di nirvana, di langit, dan seterusnya), namun semua agama sendiri menyadari bahwa kebaikan tidak mungkin dilakukan secara universal, secara integral, oleh setiap orang.

Ketika seseorang bersedekah terhadap pengemis, ada banyak pengemis lain yang tidak mendapat sedekah dari kita. Ketika kita membantu anak yatim piatu, ada ratusan anak yatim lain yang tidak mendapat kebaikan dari kita. Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.
Ketika kita menolong seseorang, ada puluhan orang yang datang kepada kita yang tidak sanggup kita tolong. Jadi bagaimana kita bisa menjadi baik secara utuh dan sempurna supaya kita boleh diselamatkan? Semakin kita berusaha baik, semakin tidak baik kita jadinya.

Sebagian besar kita tidak menyukai mereka yang hanya berbuat baik pada kita karena sedang ‘ada maunya.’ Kita jengkel karena kita merasa diperalat. Datang membawa bingkisan dan hadiah kecil, supaya kita membalasnya dengan melakukan sesuatu untuk mereka. Kita juga tidak senang jika kita datang kepada seseorang untuk meminta bantuan, kemudian malah kita diperas dan diminta untuk memberikan bingkisan. Perbuatan baik dengan motivasi tertentu tidak bisa dikategorikan sebagai kebaikan.
Tapi tidakkah itu yang dilakukan oleh orang yang katanya beragama? Agama ‘mengajarkan’ cara untuk memperalat tuhan, berbuat sedikit kebaikan supaya tuhan mau menyelamatkan kita dan membawa kita ke surga. Perbuatan baik kita tidak pernah lepas dari motivasi tertentu, entah tersembunyi atau mungkin terang-terangan.

Karena kesadaran akan ketidakmungkinan untuk melakukan kebaikan secara sempurna, pemikiran curang manusia menambahkan pengajaran baru, bahwa akan ada “pengadilan” yang menimbang perbuatan baik kita terhadap perbuatan buruk kita. Melebih-lebihkan nilai perbuatan baik kita di hadapan tuhan, seolah kita layak atau bahkan berjasa kepada tuhan. Padahal di dalam segala hal ada relasi pencipta-ciptaan yang berlaku di alam semesta ini, dan adalah kegagalan di titik pertama ketika munculnya pemikiran bahwa kita memiliki kemungkinan untuk memiliki jasa dihadapan pencipta kita.
Tapi baiklah kita bahas pula kemungkinan ini. Benarkah kebaikan kita bisa lebih banyak atau paling tidak sama banyak dengan kejahatan dan kesalahan kita?

Ilustrasi kecil:
Apakah saja syarat murid sekolah yang baik? Patuh pada guru. Hormat pada yang lebih tua. Tidak mencontek. Tidak berbohong. Tidak mengganggu teman. Belajar yang rajin. Datang sekolah tepat waktu. Menjaga ketertiban sekolah.
Jika seorang anak melakukan kesemuanya dengan sempurna, tapi suatu hari dia datang sekolah terlambat, dengan sejuta alasan yang valid dan masuk akal. Apakah dia masih bisa dikatakan sebagai murid yang baik? Jika selama dia bersekolah selama 300 hari selama setahun, dia tidak belajar dengan rajin suatu ketika, apakah dia masih bisa dikatakan murid yang baik? Jadi berapa kali dia boleh ‘TIDAK BAIK’ dan masih dapat dikatakan bahwa dia ‘MASIH BAIK’? Satu aturan dilanggar, dia sudah melanggar semua aturan.

Ilustrasi yang lebih ekstrim:
Apakah syarat istri yang baik? Rajin mengurus rumah. Merawat suami dan anak. Teliti dalam urusan rumah tangga. Pandai berdandan. Bisa masak. Memberikan pertimbangan dan nasihat yang baik bagi suami dan anak-anaknya.
Kemudian dalam 40 tahun pernikahan, dia pernah satu kali tidur dengan pria lain. Apakah dia masih merupakan istri yang baik?

Demikian pula kita dalam hidup kita. Benarkah kita berani mengatakan bahwa jika kebaikan dan kejahatan saya selama hidup ditimbang, maka saya masih ada kelebihan baik. Benarkah kita berani mengakui bahwa kita baik dihadapan tuhan dan meminta dia untuk menyelamatkan kita?

Apakah benar-benar agama atau diri kita sendiri yakin bahwa kita bisa diselamatkan oleh perbuatan baik? Justru karena adanya tuntutan moral dan segala hukum yang berlaku, membuktikan kepada kita bahwa kita tidak bisa berbuat baik. Karena kita tidak bisa berbuat baik, maka kita semua tidak bisa diselamatkan.
Seluruh agama adalah sia-sia. Seluruh upaya manusia untuk bisa diselamatkan adalah upaya menjaring angin. Kita tidak bisa diselamatkan. Jika kita bahkan tidak bisa berbuat baik, dengan apa kita bisa diselamatkan? Jika perbuatan baik kita (jika seandainya, seumpama, misalnya, contoh omong kosong jika kita benar-benar berbuat baik tanpa cela) pun pada dasarnya disertai oleh motivasi tertentu, masihkah kita bisa disebut baik? Karena kita mengharapkan imbalan atas jasa kita. Sebuah buku filsafat Islam yang pernah saya baca memberikan ilustrasi yang menarik: perbuatan baik itu seharusnya seperti saat kita buang air besar, tidak ada motivasi, ikhlas, penuh kerelaan, tidak mengungkit jasa kita kepada siapapun di kemudian hari. Itulah perbuatan baik yang sejati.

Tidak ada yang baik. Seorang pun tidak.
Tidak ada jalan keluar lain. Kita tidak bisa diselamatkan jika kita tidak menghadap Tuhan dan membesar-besarkan jasa kita dihadapan-Nya (tapi itu akan membuat manusia semakin berdosa, bahkan menurut etika rendah manusia; Apalagi di dalam etika Tuhan.)
Namun bukunya orang Kristen memberikan kepada kita penghiburan dan jalan keluar. Karena manusia tidak bisa berbuat baik dan tidak bisa menyelesaikan dosanya sendiri dalam hidupnya di hadapan tuntutan penghakiman keadilan TUHAN, maka Tuhan mengutus Anak-NYA sebagai satu-satunya jalan keluar, supaya mereka yang percaya pada berita aneh dan supranatural itu boleh diselamatkan. Tuhan Yesus, Anak Tunggal Tuhan, mengambil bentuk manusia supaya Dia bisa mati, menggantikan manusia berdosa, menyatakan kasih Tuhan yang besar untuk manusia yang berdosa. Harus bentuk manusia, karena Dia tidak bisa mati jika Dia tetap sebagai Tuhan.
Kasih itu tidak murah, karena masih ada keadilan yang harus ditanggungkan sebagai pertanggungjawaban manusia. Manusia boleh saja meminta maaf dan manusia akan dimaafkan hanya di dalam Kristus Yesus sebagai pengganti yang sah yang diakui Tuhan, tapi konsekuensi hukuman harus jalan dan masih ada ganti rugi yang harus dibayar seturut dengan keadilan Tuhan. Sehingga itulah yang dikerjakan dalam karya keselamatan, Anak Allah yang tunggal itu menggantikan manusia dan mati di dalam kesucian dan ketidakberdosaan untuk memuaskan penghakiman Tuhan.

Jangan ditanyakan kenapa harus cara itu, Dia pencipta. Cara apapun yang Dia lakukan, selalu akan ada manusia yang mempertanyakan, “kenapa harus cara itu?” Dia berhak menggunakan cara itu. Dan itulah jalan keluar yang ditawarkan. Kita mau menerima atau menolak, Tuhan tidak rugi apapun juga.

Paradigma Kontradiksi Kebaikan vs. Kejahatan dalam Filsafat

Sepanjang sejarah, agama dan kepercayaan, filsafat dan pemikiran, berusaha menggali alam yang nyata dan alam yang tidak nyata. Upaya tersebut menimbulkan pemikiran dualisme tentang dunia spiritual atau dunia ide dan dunia material yang dapat dikenali oleh semua indra dan dengan mudah dicerna oleh pemikiran rasional. Entah sejak kapan hal itu ada dan dikerjakan oleh manusia, tapi selalu ada pengakuan bahwa ada sesuatu yang melampaui dunia material yang kita kenal berikut dengan kekuatan dan pengaruhnya yang lebih besar daripada batasan dan kemampuan manusia.

Semuanya berlangsung hingga saat manusia mencapai kemajuan pemikiran yang memunculkan ide bahwa manusia adalah awal dari segala hal, puncak dari segala sesuatu dan akhir dari segala sesuatu; Dan pemikiran itu serta merta menganggap bahwa kepercayaan tentang keberadaan kuasa di luar manusia adalah takhyul, kuno, dan terbelakang. Manusia membuang semua ide tentang kuasa yang lebih besar dari manusia dan meletakkan figur manusia di tempat tersebut. Akan tetapi kemudian hal itu menimbulkan kekosongan yang luar biasa dalam hidup manusia karena ide itu mentelantarkan manusia kepada keterhilangan dan ketersesatannya di sepanjang hidupnya, dan mendegradasi nilai hidupnya menjadi kekosongan dan kesia-siaan. Hingga pada akhir hayatnya, kematian menjadi sesuatu yang tidak terelakkan dan hati nuraninya menganiaya dia dengan ketakutan seandainya ada kehidupan setelah kematian. Contoh yang menarik adalah Friedrich Nietzsche dengan ateisme dan ucapannya yang terkenal dengan sedemikian terus terang dan terbuka, “Tuhan sudah mati! Aku sudah membunuhnya,” yang diungkapkannya berulang-ulang, memiliki akhir kehidupan yang menarik pula.

Pemikiran demi pemikiran terus menerus bermunculan dari berbagai aliran filsafat baik dari filsafat barat yang menekankan pada rasionalitas maupun dari filsafat timur yang menekankan pada emosi dan perasaan yang menjadi jalan dan cara hidup. Sementara berbagai budaya menghasilkan konsep perseteruan tentang kebaikan dan kejahatan dalam mitos dan legenda para dewa, pertarungan tanpa akhir antara dunia spiritual dan dunia material, ketegangan antara keteraturan dan kekacauan, dan permusuhan antara pencipta, pemelihara, dan perusak. Hingga akhirnya muncul suatu pemikiran sinkretisme sebagai penengah dalam antroposentrisme bahwa tidak ada kebaikan ultimat ataupun kejahatan ultimat. Selalu ada kebaikan dalam diri orang jahat, dan selalu ada kejahatan dalam diri orang baik. Filsafat timur dengan sangat indahnya menyebut hal ini sebagai Yin dan Yang, sebagai dualisme antara kebaikan dan kejahatan, terang dan gelap.

Inilah yang akan menjadi pembicaraan kita kali ini.

Sepintas lalu, upaya ini terlihat memberikan penyelesaian yang jelas untuk menggambarkan keadaan dunia kita. Terlihat logis dan rasional, bahwa ada kejahatan dan kebaikan, ada terang dan gelap, ada api dan air, ada hal-hal yang memang bertentangan yang ada dalam dunia ini. Hal ini terlihat seperti sebuah paradoks yang merupakan kebenaran.

Tapi hal ini sebenarnya adalah merupakan kontradiksi yang tidak memberikan jawaban, melainkan lebih menimbulkan pertanyaan daripada memberikan jawaban penyelesaian. Adapun cara pandang terhadap fenomena ini kurang tepat. Pandangan bahwa ada kebaikan dan kejahatan dalam diri manusia, bahwa di dalam terang, ada sisi gelap dan di dalam gelap ada sisi terang. Pertentangan yang berusaha diselesaikan dengan secara paradoks.

Pertentangan ini bermula dari pandangan bahwa kegelapan dan kejahatan dalam hal ini dijadikan sebuah keadaan atau entity atau entitas. Kegelapan dianggap sebagai keadaan yang memiliki eksistensi yang jelas dan berdiri sendiri secara kondisi dan keadaan yang nyata. Demikian pula kejahatan. Walaupun tampaknya demikian, kegelapan bukanlah entitas sendiri.

Kegelapan adalah kondisi dari tidak adanya terang.
Kejahatan adalah kondisi dari tidak adanya kebaikan.

Manusia memiliki kecenderungan untuk memikirkan jalan tengah dan kemudian berdiri sendiri. Contoh kontradiksi yang menarik dan dipakai dalam skala luas adalah “keadaan tidak memihak”; Ketika ada dua golongan sedang berseteru, muncul orang-orang yang katanya tidak memihak, bersikap netral, ambigu, menjadikan kondisi abstain sebagai penyelesaian natural. Padahal mengambil posisi yang katanya “tidak memihak” itu malah menjadikan mereka membentuk sebuah kelompok penanding lain yang namanya “tidak memihak”. Sekarang, dari dua golongan yang berseteru tersebut, muncul kelompok ketiga yang dinamai “kelompok tanpa pihak”. Kelompok ini menjadi masalah karena akhirnya menjadi kelompok oposisi dari dua kelompok yang mula-mula yang berseteru. Sehingga sekarang ada tiga kelompok yang sedang berseteru.
Seringkali, kita harus memihak. Kita tidak bisa melepas tanggung jawab dan menyelesaikannya dengan jalan keluar yang pragmatis yang seolah-olah merupakan jalan keluar.

Melalui paradigma dan perspektif tersebut, kita bersama-sama telah melihat bahwa ternyata tidak ada kondisi gelap yang bercampur terang ataupun kejahatan yang bercampur kebaikan. Seolah-olah hal itu digambarkan seperti bagaimana seseorang yang berselingkuh tidak mungkin mencintai dua orang secara sama rata, dia akan selalu mencintai yang satu lebih daripada yang lainnya. Seperti fenomena tarik-menarik dalam diri seseorang yang berusaha hidup baik, namun membuat perkecualian dari waktu ke waktu dengan mengambil keputusan-keputusan yang kejam.

Tidak pernah mungkin akan terjadi saat ketika kegelapan datang dan mengusir keberadaan terang. Yang akan selalu ada adalah terang datang dan mengusir kegelapan, karena kegelapan itu bukanlah eksistensi, melainkan non-eksistensi dari terang. Kegelapan itu ada karena terang tidak ada.
Demikian pula kejahatan dan kelaliman. Kondisi itu ada karena tidak ada kebenaran dan keadilan. Ketika ada keadilan, maka kejahatan dan kelaliman tidak bisa terjadi. Ketika kebaikan dalam eksistensinya menjadi non-eksisten, muncul kejahatan.

Sama seperti terang dan gelap, terang merupakan energi, dan energi harus memiiliki sumbernya. Harus ada upaya dan usaha yang dilakukan untuk membuat terang. Dan hal tersebut tidak mudah. Akan jauh lebih mudah membuat kegelapan.

Demikian pula dengan kebaikan dan kejahatan, dibutuhkan upaya keras untuk melakukan kebaikan, dan kebaikan itu harus memiliki sumbernya sendiri. Dan hal itu tidak mudah. Akan lebih mudah untuk tidak mau mengakui sumber kebaikan itu dan membiarkan kejahatan dan kelaliman ada.

Demikian pula dengan manusia, manusia itu pada dasarnya jahat (berlawanan dengan pendapat dan pandangan dari psikologi dan sosiologi yang berkata bahwa manusia itu pada dasarnya baik). Jika manusia pada dasarnya baik, maka manusia tidak akan perlu dididik dan diajar untuk berbuat hal yang baik, yang benar, yang bermoral, yang bernilai tinggi, dan yang suci, namun pada kenyataannya, manusia membutuhkan didikan yang susah dan keras dan berat untuk menjadikannya manusia yang baik. Manusia tidak perlu dididik dan dia akan selalu jahat dan tidak bermoral dan egois serta serakah.

Jikalau demikian, darimanakah sumber kebaikan itu sendiri supaya manusia dimampukan untuk berbuat baik dan mengusir kejahatan dan kelaliman dari dalam dirinya?
Buku orang Kristen memberikan jawabannya: bahwa kebaikan itu berasal dari Tuhan yang sejati. Dia adalah kebaikan itu sendiri dalam eksistensinya. Dia tidak menghasilkan kebaikan, karena diri Dia ADALAH kebaikan, Dia adalah terang itu sendiri di dalam diri-Nya. Jika ciptaan-Nya tidak kembali kepada Dia, tidak ada seorangpun bisa berbuat baik, seorang pun tidak.

Tidakkah kita lihat sendiri, ketika seseorang membuang Tuhan yang sejati, tidak akan pada dia perbuatan baik itu. Dan tidakkah kita lihat sendiri, orang yang paling berani berbuat jahat adalah orang yang mengaku sebagai orang yang paling beragama. Kondisi itu menimbulkan kekecewaan dalam diri manusia, karena bagi mereka, mereka mengira bahwa agama seharusnya mendatangkan kebaikan. Yang gagal dilihat oleh manusia, walaupun sudah ada dalam sejarah (seperti kata Friedrich Hegel, “Kita belajar dari sejarah bahwa kita tidak belajar apapun dari sejarah.”), bahwa ada begitu banyak pemikiran tentang tuhan dan manusia mengambil kesimpulan bahwa semua tuhan adalah salah. Padahal sudah ada satu Tuhan yang menyatakan dirinya ke dalam sejarah, tapi kemudian itupun ditolak oleh manusia. Jadi dengan apalagi manusia bisa diyakinkan, sehingga kemudian mereka mengusir semua tuhan pergi keluar dari hidupnya dan menerima entah apa secara pragmatis dan mengambil jalan mudah yang sebenarnya tidak bisa dikatakan mudah pula.
Pengusiran keberadaan Tuhan dari hidup manusia mengembalikan manusia pada pola pikir ateistik yang sudah kita bahas di atas.

Sehingga dalam upaya manusia menggali dan mengupayakan kebaikan dalam hidupnya, mau tidak mau, dia harus mengakui keberadaan Tuhan yang benar, sebagai kebenaran yang benar-benar BENAR. Kegagalan manusia untuk mengakui Tuhan yang benar dalam hidupnya akan membawa balik manusia kepada pencarian tanpa akhir, perseteruan kebaikan dan kejahatan serta sinkretisme “yin dan yang” tadi.

Pengetahuan dan Pengertian; Kebenaran dan Kebijaksanaan

Tema tentang pengetahuan (knowledge) merupakan pembahasan yang telah berlangsung sepanjang sejarah pemikiran manusia. Filsuf dan pemikir, sosiolog, psikolog, ahli agama dan teolog, penyair, penulis dan sastrawan telah berupaya memahami tentang hal ini. Berbagai pendapat dan argumen dari berbagai sudut pandang membahas tentang “bagaimana seseorang bisa mengetahui yang dia ketahui.” Metafisika membahas topik ini dengan sangat rumit dan kompleks melalui proposisi-proposisi yang begitu luas melalui berbagai presuposisi.

Membahas mengenai para pemikir tersebut akan menjadi topik bahasan yang sangat besar dan sangat luas, tidak akan ada habisnya. Sudut pandang idealisme dan teori juga bukan merupakan posisi dan titik awal yang di ambil dalam pembahasan ini. Hanya membayangkannya saja sudah terasa sangat mengerikan.

Apakah TAHU itu?

Orang yang sudah tahu, tidak perlu diberi tahu.
Orang yang tidak tahu, tidak bisa diberi tahu.
Inilah paradoks pengetahuan. Jika seseorang sudah mengetahui, apa gunanya dia diberi tahu. Jika seseorang tidak mengetahui, bagaimana caranya dia bisa diberi tahu. Agar seseorang bisa tahu, dia pertama-tama harus tahu bahwa dia tidak tahu. Tapi bagaimana caranya dia bisa tahu apa yang dia tidak tahu? Bagaimana bisa ada penerobosan di dalam dirinya untuk menyadari bahwa dia tidak tahu, jika dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu? Jadi, untuk menjadi tahu, dia harus tahu; padahal dia tidak tahu.

Kiranya sekarang sudah terbayang betapa besar kesulitan pemikiran sepanjang sejarah manusia berusaha memahami hal ini. Socrates (filsuf Yunani yang hidup dikisaran tahun 470 BC) mengatakan, “I only know one thing: I know nothing.” (Terj: Aku hanya tahu satu hal: Aku tidak tahu apa-apa.) Ini adalah paradoks Socrates tentang pengetahuan.

Tetap tidak dapat menjawab bagaimana manusia bisa tahu akan banyak hal yang mengisi kepalanya. Kita bisa mengatakan bahwa kita lebih pintar daripada Socrates dan berkata karena ada orang lain yang memberi tahu, jadi kita bisa akhirnya dari tidak tahu, menjadi bisa mengetahui. Socrates itu bodoh, orang kuno, waktu itu dia belum mengerti bahwa kalau sudah diberi tahu, orang bisa tahu.

Mengapa harus TAHU?

Baiklah, setelah diberi tahu, orang seharusnya tahu.
Tapi mengapa ada orang yang sudah diberi tahu, masih juga tidak tahu? Kenyataannya, kita bisa memberi tahu kepada banyak orang segala jenis pengetahuan dan segala macam pengetahuan, tapi akan selalu ada orang yang tidak tahu.

Kita diajarkan segala macam ilmu di bangku sekolah, apakah kita tahu semua yang diajarkan pada kita? Apakah raport kita semuanya mencerminkan nilai yang sempurna sebagai tanda bahwa kita mengetahui semua yang diberitahukan kepada kita?

Tetap tidak menjawab bagaimana seseorang bisa mengetahui apa yang dia ketahui.
Kita bisa mengatakan lagi bahwa itu berbeda. Ada tahu yang asal tahu, ada tahu yang benar-benar tahu, ada tahu yang menuju pada pengertian. Tahu itu tidak sama dengan mengerti.
Sekarang, ada sebuah wawasan baru yang terbuka. Dan Socrates sudah tidak lagi kelihatan terlalu bodoh. Kita sekarang mengetahui ada ‘tahu’ yang sungguh, dan ada ‘tahu’ yang tidak sungguh.

Apakah yang dimaksud dengan mengerti?

Setelah seseorang diberi tahu, kepada dia diharapkan untuk mengerti.
Itulah prinsip pendidikan manusia. Seseorang bermula dari tidak tahu; setelah diberi tahu, dia diharapkan menjadi tahu, tidak sekedar tahu melainkan mengerti; setelah dia mengerti, dia diharapkan untuk melakukan tindakan yang benar sesuai dengan pengertian yang benar yang sesuai dengan pengetahuan yang benar.
Tahapannya diharapkan terjadi sesederhana itu.

Akan tetapi sekarang keluar satu wawasan baru lagi: ‘benar’ / ‘kebenaran’.

Seharusnya sekarang kita mengetahui bahwa manusia tidak boleh hanya sekedar tahu; akan tetapi, selain tahu, dia juga harus mengerti. Apakah kita mengerti (selain mengetahui) akan pengetahuan itu? Apakah kita mengerti apa yang kita mengerti?

David Rosenthal, seorang filsuf dan pengajar di City University of New York, dia sangat dikenal melalui karyanya higher-order-thought theory of consciousness. Dia mengatakan bahwa seseorang tidak memiliki kesadaran yang benar-benar sadar jika  dia tidak menyadari kesadaran tersebut; jadi, sebuah kondisi kesadaran itu baru dapat dikatakan dalam keadaan sadar, jika dia sendiri menyadari apa yang dia sadari.

Demikian pula halnya dengan pengetahuan dan pengertian yang dimiliki seseorang. Sebagai paradoks, dapat pula dijelaskan bahwa seseorang baru dapat dikatakan mengetahui jika dia mengetahui apa yang tidak dia ketahui. Karena melalui ketidaktahuan baru dia dapat diberi tahu.

Kesemua pengertian ini masih juga tidak menjelaskan bagaimana orang bisa mengetahui apa yang dia tidak tahu. Tapi sejauh ini, kita sekarang mengerti bahwa pengetahuan muncul dari sebuah pengetahuan akan ketidaktahuan; walaupun tidak dapat dijelaskan bagaimana orang bisa merasa tidak tahu kalau dia sudah merasa tahu (tahu bahwa dia tidak tahu). Inilah kesulitan terbesar dalam paradoks pengetahuan.

Kebenaran dan kebijaksanaan

Tujuan dari kita tahu dan mengerti adalah supaya pengetahuan kita menuntun pada pengertian kita, membawa kita kepada kehidupan yang lebih bernilai. Supaya tindakan dan perbuatan kita, pekerjaan tangan kita diperbaharui oleh pembaruan dalam akal budi kita. Supaya dari tahu dan mengerti, kita boleh menjadi orang yang benar dan bijak. Tahu dan mengerti di dalam wilayah ide dan idealisme, benar dan bijak dalam perbuatan nyata kehidupan yang praktis sebagai wujud nyata adanya keberadaan pengetahuan dan pengertian.

Kita tidak belajar supaya kita tahu banyak hal, melainkan supaya kita mengerti banyak hal. Pengertian yang membawa kita kepada kualitas hidup yang lebih tinggi. Pengertian yang membawa kita kepada perilaku yang benar dan bijak. Sebuah perilaku yang muncul dari satu sudut pandang yang tepat, menganalisa sesuatu dengan tepat, mengambil kesimpulan yang tepat, dan menjalankan solusi dengan tepat. Sedemikian diperlukannya pengetahuan dan pengertian sehingga menuntun manusia untuk memandang segala sesuatu dengan tepat.

Kendatipun demikian, sejak jaman Socrates, melalui ‘interogasi’ dalam penelitiannya terhadap politisi, penyair, dan orang-orang ahli dalam bidang-bidang tertentu, telah disimpulkan bahwa kebanyakan manusia tidak mengerti apa yang dia ketahui, dan dia hidup mengerjakan sesuatu yang ternyata tidak dia mengerti. Kebanyakan orang yang mengaku berpengetahuan ternyata tidak benar-benar mengetahui hal yang katanya mereka ketahui; atau mereka mengetahui jauh lebih sedikit dari yang katanya mereka ketahui. Politisi ternyata tidak benar-benar tahu ataupun mengerti mengenai politik, keadilan, ketatanegaraan, pelayanan dan pengaturan masyarakat, dan seterusnya; demikian pula halnya dengan penyair maupun para ahli. Mereka hanya mengaku atau bersikap bahwa mereka memiliki banyak pengetahuan dan pengertian, yang ketika digali ternyata semuanya kosong dan berbelit-belit.

Seperti tujuan pendidikan yang kita bahas di atas, bahwa pengetahuan itu diharapkan mengarah pada pengertian; pengertian itu diharapkan mengarah pada perbuatan yang sejalan dengan pengertian. Setiap manusia mengerti betapa amat sangat penting bagi seseorang dididik dan diberi pengetahuan yang baik dan benar.

Tidak seorangpun dididik untuk menjadi penjahat, atau perampok, atau pembunuh, atau koruptor. Tapi entah kenapa, pengetahuan mereka membawa mereka kepada kecelakaan dan menjadi kecelakaan bagi orang lain. Jelas terlihat bahwa alasannya terdapat pada ketidaktahuan bahwa mereka tidak tahu.

Namun naïf sekali kalau dikatakan bahwa mereka tidak tahu tentang perbuatan mereka itu adalah tidak benar dan tidak mengandung kebenaran. Sekali lagi, tidak ditemukan penjelasan bagaimana orang bisa tidak tahu apa yang dia lakukan.

Contoh yang paling saya gemari adalah perilaku merokok.
Seseorang sudah diberi tahu, secara ekstensif, diberikan penjelasan segala akibat buruk merokok dan dibandingkan dengan kebaikan dari merokok. Dan setiap orang tahu –bahkan mengerti– bahaya dari merokok. Namun yang perokok tetap saja merokok. Entah dia profesor, pebisnis besar, presiden, menteri, ahli ekonomi, mahasiswa, pelajar, guru, orang tua, pemuka agama, petani, buruh rendah, dan entah siapa lagi. Apakah mereka orang bodoh? Apakah mereka tidak mengerti?

Perhatikan kalimat di bawah ini:
Mereka tentunya tahu dan mengerti. Namun mereka memandang itu semua dari sudut pandang yang tidak tepat. Mereka menganalisa pengetahuan mereka dari pengertian yang keliru, sehingga tidak ada kebenaran dan kebijaksaan dalam perilaku mereka. Mereka menganalisa pengetahuan dan pengertian mereka tanpa kebenaran dan kebijaksanaan, sehingga terjadi kekeliruan dalam perilaku mereka.
Dari penjelasan barusan, kita bisa melihat bahwa bisa jadi, ‘pengetahuan dan pengertian’ berada di wilayah yang sama sekali berbeda dengan wilayah ‘kebenaran dan kebijaksanaan’.

Hal ini menjelaskan bagaimana orang yang tahu banyak dan mengerti banyak dalam kepalanya, tidak selalu benar dan bijak dalam perbuatannya. Sama seperti orang yang benar dan bijak dalam perbuatannya tidak selalu tahu banyak dalam kepalanya.
Apakah Socrates bersekolah dan tahu ilmu pengetahuan yang kita kenal sekarang? Socrates adalah orang bodoh yang terbelakang di jaman kita sekarang. Kenapa kita masih sangat menghargai pemikiran dia? Karena dia mengerti teori quantum dan membongkar untaian DNA? Alih-alih dengan semua itu, saya bahkan tidak yakin dia tahu dunia ini bulat!
Pengetahuan dan pengertian datang dan pergi, ilmu pengetahuan diperdebatkan sepanjang jaman. Tapi kebenaran dan kebijaksaan tidak sanggup dihancurkan oleh waktu dan sejarah.

Musik klasik kuno dari jaman Baroque yang bertahan ratusan tahun dan diakui oleh para ilmuwan dan ahli musik besar hingga jaman ini; manusia modern dan anak-anak muda yang dicengkeram pragmatisme tidak sanggup mendengarkan musik dengan kualitas sedemikian tinggi. Mereka bahkan menganggap itu musik kuno pengantar tidur, dan lebih suka mendengarkan musik rendah yang selalu berganti dalam hitungan minggu. Modernitas tidak bisa memahami nilai yang tinggi dan sulit, mereka menyukai hal yang rendah dan mudah; padahal mereka TAHU dan MENGERTI bahwa tidak ada sesuatu yang bernilai tinggi yang muncul dari hal yang mudah dan sepele. Musik sedemikian tinggi yang diakui oleh orang-orang yang sangat otoritatif di bidang musik, yang menghabiskan waktu dalam hidupnya mempelajari Johann Sebastian Bach, George Frideric Handel, Antonio Vivaldi, Henry Purcell, Johann Pachelbel, dan seterusnya.

Namun apa yang dikerjakan oleh masyarakat modern dengan pragmatismenya? Musik itu adalah selera pribadi, kata mereka. Tidak usah ribut dengan musik klasik, “ku tahu yang ku mau.” Apakah mereka tidak tahu dan tidak mengerti bahwa dunia terpelajar mengakui karya komposer besar itu sebagai karya yang agung dan megah yang memiliki kualitas dan keindahan yang bertahan ratusan tahun dan tidak sanggup dihasilkan oleh dunia modern?
Mereka tahu. Mereka mengerti. Tetapi mereka tidak mau tahu. Dan tidak mau mengerti.

Sama halnya dengan kebiasaan merokok.
Sama halnya dengan tindakan kejahatan.
Tidak ada seorang pun yang setelah melakukan kejahatan, menolak untuk ditangkap oleh hukum, kemudian berkata, “saya sungguh mati tidak tahu bahwa korupsi itu tidak boleh.” Atau berdalih, “karena saya tidak tahu bahwa membunuh itu tidak boleh, jadi saya harus diampuni.”
Mereka semua tahu apa yang baik. Tetapi yang buruk yang dipilih.

Hal itu menimbulkan pertanyaan yang terus menerus dan tidak habis-habisnya di dalam kepala saya. Kenapa setelah tahu yang baik dan benar dan bernilai, yang dipilih adalah yang rendah, yang salah dan tidak bernilai?

Jelas sekali terlihat keberadaan jurang pemisah yang sangat dalam antara mengetahui, mengerti, dengan kebenaran dan kebijaksaan. Sama seperti adanya harus ada ‘lompatan yang mustahil’ tentang bagaimana seseorang bisa tahu bahwa dia tidak tahu; sedemikian pula harus ada ‘lompatan yang mustahil’ dari pengetahuan dan pengertian kepada kebenaran dan kebijaksanaan. Bagaimana seorang manusia dimampukan untuk melakukan lompatan yang mustahil itu?

Filsafat sepanjang jaman mempertanyakan hal yang esensi ini.

Dan jawabannya –terpaksa harus saya akui– saya temukan dalam buku Cornelius Van Til, seorang Kristen dengan teologi Reformed.
Dia menjelaskan bahwa harus ada campur tangan dari Tuhan, membukakan pengertian yang menginspirasikan (dunia agama mengenali hal ini sebagai ‘pewahyuan’),  dari kekekalan menerobos masuk kepada alam manusia, supaya seseorang dimungkinkan untuk mengetahui bahwa dia tidak tahu. Hal ini langsung menjawab paradoks Socrates.

Bahwa seluruh dunia sudah rusak total sejak kejatuhan dalam dosa setelah penciptaan, dan semuanya sudah berdosa dan dicengkeram oleh dosa. Menyebabkan manusia yang meskipun tahu dan mengerti apa yang baik dan benar, tidak memiliki kemampuan untuk membuat pilihan yang tepa. Cengkeraman dosa membuat manusia tidak mungkin bebas dan memilih yang baik, sehingga yang dipilih selalu yang rendah dan cemar dan jahat. Dan hal ini langsung menjawab perihal contoh-contoh saya di atas.

Hanya melalui kembali kepada kebenaran yang sejati, menjadi murid-Nya, mengetahui apa yang benar, mengerti apa yang benar, baru manusia dapat dimerdekakan dari cengkeraman dunia yang mengikat manusia. Barulah seseorang dimerdekakan (meminjam istilah orang Kristen) untuk kemudian dimampukan melakukan ‘lompatan yang mustahil’ itu: dari ‘mengetahui dan mengerti’ kepada ‘kebenaran dan kebijaksanaan’.

Di titik ini, kepada kita ditawarkan sebuah presuposisi baru, pemahaman yang tampaknya sederhana, yang mendahului ‘tahu dan mengerti’. Urutannya berjalan terbalik sedemikian: supaya kita bisa mengerti, maka kita harus lebih dahulu tahu. Untuk bisa tahu, maka kita harus ‘percaya’ dulu kepada pengajar kita atau kepada yang memberikan ‘tahu’, baru kita bisa mengetahui. Kita tidak akan belajar apa pun jika kita sudah merasa tahu, ataupun jika kita meragukan (baca: tidak mempercayai) orang yang memberi tahu kita.
Hal tersebut sudah pernah saya bahas dengan rumit di sini.

Sekarang, semua pokok bahasan sudah dibahas, dan semua pertanyaan sudah terjawab.
Sekarang tinggal permasalahan apakah jawaban itu mau ditolak untuk kemudian kembali ke titik awal permasalahan tanpa jawaban.