Ironi Kontradiksi Antara “Kemauan” dan “Kelakuan” dalam Psikologi

Saya yakin, banyak dari kita –atau mungkin bahkan semua kita– pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat seperti demikian, ‘Saya ingin sehat, tapi susah sekali mau mulai berolahraga,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk memiliki berat badan yang ideal, tapi susah sekali untuk menahan keinginan untuk makan,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk rajin, tapi kenapa selalu gagal fokus.’

Kita semua pasti pernah, atau paling tidak merasakan bahwa ada kesenjangan antara apa yang kita mau dan yang kita lakukan yang ternyata kemudian bertentangan dengan tujuan kita seperti contoh yang barusan saya sebutkan. Fenomena kesenjangan antara keinginan dan kekuatan komitmen kita sering kali menjadi penghambat antara impian dan kenyataan. Fenomena sedemikian menciptakan banyak motivator yang mendorong dan menyemangati kita dengan banyak sekali kalimat-kalimat yang mendongkrak motivasi.

“Everything is about HOW BAD DO YOU WANT IT”

Segala hal adalah tentang SEBERAPA BESAR KEINGINANMU

Saya pribadi menyukai kalimat itu. Kalimat itu menyatakan pada kita untuk mencari kedalam diri kita sendiri, seberapa besar keinginan kita, seberapa dalam ambisi kita, dan ketika kita sudah mengetahuinya, maka sebesar itu pula daya dan tenaga yang akan muncul untuk mendorong kita untuk meraih yang kita dambakan.

Tapi benarkah motivasi-motivasi sedemikian benar-benar bermanfaat? Tidakkah kita semua terus mendengar banyak orang yang mengeluhkan hal yang sama? Yang ingin sehat tetap tidak berolahraga, yang ingin memiliki berat badan ideal tetap tidak berhenti ngemil dan makan, yang ingin tidak mencontek tetap malas belajar, yang tahu bahwa merokok tidak sehat tetap tidak berhenti merokok, yang mengerti bahwa candu itu mengerikan tetap tidak berhenti dengan kecanduan, yang ingin saleh tetap tidak behenti menipu, tidak jujur, dan korupsi, yang beragama dan menyebut nama tuhan tetap saja merebut sikap dan menjadi tuhan bagi manusia lain, yang tahu bahwa diri sendiri memiliki salah tapi tetap berani menghakimi orang lain, dan yang ingin masuk surga tetap tidak berhenti berbuat dosa. Tidak ada yang berubah. Semua tetap sama. Manusia tetap adalah manusia yang penuh dengan kesalahan dan kelemahan.

“Belajar melakukan satu hal yang baik saja belum, sudah selesai melakukan seratus hal yang jahat.”

Pernahkah mendengar pepatah tersebut? Itulah gambaran tentang kita, manusia. Kita berjuang untuk menjadi baik, bersusah payah dan berjerih lelah supaya bisa menjadi orang benar, berkualitas, berbudaya tinggi, agung, anggun, berpengetahuan, berwawasan, berbijaksana, bermoral, dan seterusnya. Dan untuk mencapai itu semua adalah tidak mudah, dituntut ketekunan dan perjuangan dan pembelajaran. Namun apa daya, belum juga selesai belajar untuk menjadi positif, kita semua sudah selesai melakukan semua hal yang sebaliknya, yang bertentangan dan yang negatif: kita egois, tidak toleran, tidak mau mengerti kesulitan orang lain, hidup seenaknya, tidak tertib, tidak taat aturan, malas, tidak perduli dan tidak peka terhadap hal disekitar kita, mengumbar hawa nafsu, dan seterusnya. Dan kesemuanya bahkan tidak perlu kita pelajari, tidak perlu pembelajaran, kita lakukan sambil lalu, bahkan tidak perlu kita upayakan atau kita pikirkan.

Mengapa sedemikian? Karena kita manusia. Itulah alasan yang selalu kita lontarkan. Namanya juga manusia. Setelah selesai meminta maaf, kemudian berbuat salah lagi. Sudah selesai menangis dan menyesal, kemudian kembali melakukan hal yang sama. Kita hanya manusia. Membuat saya kadang bertanya-tanya, benarkah perbuatan baik yang saya lakukan bisa ditimbang dan jadinya lebih banyak daripada kesalahan saya?

Apakah kita tidak memiliki keinginan untuk menjadi baik? Apakah kita tidak termotivasi untuk menjadi makhluk yang agung, makhluk yang berbeda dengan binatang, makhluk yang berakal dan berbudi pekerti? Saya yakin jawabannya adalah tidak demikian, kita termotivasi, sungguh-sungguh mau dan termotivasi. Tapi kita tidak pernah berhasil. Paling tidak, saya tidak pernah berhasil. Saya tidak tahu tentang Anda.

Hal ini bukanlah masalah sosial, bukan problematika sosiologi, bukan juga permasalahan psikologi. Kita seringkali dengan ringan menyalahkan orang lain, “aku berusaha baik, tapi lingkunganku yang membuat aku begini dan mempengaruhi aku.” Dengan kata lain, “aku baik, orang-orang itu yang jahat dan membuat aku ketularan menjadi jahat.” Dan semua orang merasakan hal yang sama, dia merasa baik, tapi lingkungan (baca: semua orang yang lain) yang jahat. Bukankah kita masing-masing adalah ‘lingkungan’ bagi semua orang yang lain? Dengan demikian, tidakkah kita secara kolektif adalah sebenarnya jahat? Sudah diri sendiri jahat, masih menuduh orang lain yang jahat dan mempengaruhi kita –‘katanya’– sehingga kita menjadi jahat. Tidakkah kejahatan kita jadi berlipat, menjadi orang jahat dan menuduh serta memfitnah orang lain sebagai orang jahat?

Masalah tentang perbedaan antara keinginan dan kelakuan ini adalah masalah dengan manusia. Manusia memang sedemikian. Tidak ada jalan keluar.

“This is not a technical problem, not motivational problem, not strong will problem. This is a ‘people problem’. And we cannot fix people. No one can.”

Hal ini bukanlah masalah teknis, bukan masalah motivasi, bukan masalah tekad. Ini adalah ‘masalah manusia’. Dan kita tidak bisa memperbaiki manusia. Tidak ada yang bisa.

Sebagian manusia secara fenomena yang kasat mata terlihat baik, terlihat jujur, terlihat sopan, sampai suatu ketika topeng-topeng itu terbongkar dan terlihat sejatinya. Kembali kepada kalimat motivasi favorit saya, semua itu adalah tentang seberapa besar keinginan kita, tetapi hal itu tidak berlaku untuk semua hal. Dalam beberapa hal, motivasi dapat mendorong kita, namun tidak dalam semua hal. Demikian pula dengan psikologi, sampai dalam hal tertentu, psikologi dapat membantu, namun tidak dalam semua hal. Dan tidak ada jalan keluar lain yang dapat ditawarkan.

Paling tidak, tidak dari apa yang selama ini kita kenali sebagai pengetahuan atau filsafat atau agama.

“You’re a man looking at the world through a keyhole. You’ve spent your whole life trying to widen that keyhole… to see more, to know more. And now, on hearing that it can be widened, in ways you can’t imagine, you reject the possibility.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Kamu adalah seseorang yang mengamati dunia ini dari lubang kunci. Kamu menghabiskan seluruh hidupmu mencari cara untuk memperbesar lubang kunci itu… untuk melihat lebih banyak, mengetahui lebih banyak. Dan sekarang, saat mendengar bahwa lubang itu dapat diperbesar, dengan cara yang tidak dapat kamu bayangkan, kamu menolak kemungkinan itu.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Sampai pada titik ini, pada situasi yang tampaknya tanpa pengharapan, bagi Anda yang merasakan sedemikian, saya dengan jujur akan mengatakan bahwa saya tidak menulis artikel ini untuk membuat Anda berputus asa. Saya menemukan jawaban dalam buku orang Kristen. Bahwa perubahan dan motivasi yang kuat adalah motivasi yang berasal dari dalam diri. Hal ini juga diketahui oleh kita semua. Motivasi yang berasal dari luar diri tidak akan bertahan lama. Akan tetapi, motivasi seperti apa dan darimana motivasi itu bisa berasal (yang kemudian berada dalam diri seseorang) yang bisa bertahan lama?

Di dalam kepercayaan Kristen, dikatakan bahwa di dalam Yesus, ada kuasa yang memperbaharui dan merubahkan. Perubahan secara fenomena dapat dilakukan oleh siapapun, untuk menipu diri sendiri dan orang lain. Tapi tidak jarang pula, perubahan fenomena itu bisa bersifat sejati. Tetapi ketika menyentuh hal-hal tentang perubahan yang sifatnya esensi dan intisari, yang berkenaan dengan kesalehan, moralitas, kebenaran, kasih dan keadilan, tidak ada perubahan secara fenomenal yang dapat bertahan lama. Perubahan dari luar adalah bersifat sementara dan bahkan bisa mendatangkan frustasi dan keputusasaan dan ketegangan dalam diri. Bayangkan seperti ini, tentang pekerja yang hanya kelihatan rajin saat ada atasannya mengawasi. Itu adalah perubahan fenomena. Dia ingin terlihat baik supaya pekerjaannya dihargai. Tetapi perubahan itu hanya akan mendatangkan ketidaktenangan ketika dia mengerjakan pekerjaannya. Akan tetapi dengan perubahan yang dari dalam diri, ketika dia tahu bahwa dia harus bekerja sebaik-baiknya karena itu adalah hal yang jujur dan benar, dia akan bekerja rajin, baik pada saat ada yang melihat ataupun pada saat sendirian.

“Apakah moralitas itu? Moralitas adalah melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang melihat.”

Tentang hal pekerjaan, itu adalah hal yang kelihatan.

Tentang kesalehan, kesucian hidup, kejujuran, dan seterusnya, siapakah yang bisa mengetahui? Hanya takut akan Tuhan yang sejati yang bisa menjaga hal-hal yang sifatnya tidak kelihatan. Di dalam buku orang Kristen dikatakan, “Takut akan Tuhan adalah awal dari pengetahuan.” Itulah moralitas. Hiduplah sedemikian seperti hidup senantiasa dihadapan Tuhan. Perubahan bermula dari penyesalan, dan kita yang telah bersalah, diampuni dosanya oleh Yesus. Dari penebusan dosa oleh Kristus akan ada perubahan dari dalam diri masing-masing orang yang akan mendatangkan dan memunculkan hidup. Kekuatan dari dalam itulah yang menghidupkan seseorang dan memampukan dia untuk dirubahkan.

Sama seperti kehidupan semua makhluk hidup yang berasal dari dalam. Kehidupan tidak pernah berasal dan ditopang dari luar diri, melainkan selalu dari dalam. Ketika manusia berusaha memotivasi diri dari luar, kemudian berputus asa dengan keterbatasannya dan perjuangannya untuk menjadi makhluk yang sejatinya adalah yang berakhlak dan bermoral, ketika tidak ada jalan keluar melalui tuntutan agama dan pengetahuan, iman Kristen memberikan jalan keluar.

Ilmu pengetahuan berbicara tentang benar dan salah. Kemudian Agama –semua tanpa kecuali– berbicara tentang baik dan jahat. Dan Filsafat berbicara tentang bijak dan bodoh. Hanya iman Kristen yang berbicara tentang hidup dan mati yang kekal.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” – Yesus

Tidak pernah ada siapapun pernah mengatakan hal sedemikian (jika Anda menemukan orang waras lain yang pernah mengatakan hal sedemikian, tolong beritahu saya). Iman Kristen tidak hanya bicara tentang benar dan salah atau baik dan jahat, tetapi terutama adalah tentang hidup. Agama mencari jalan. Pengetahuan dan filsafat mencari kebenaran. Dan hampir semua manusia yang pasti akan mati mencari ‘kehidupan’. Dan semuanya ada didalam Tuhan-nya orang Kristen.

Advertisements

Perspektif Tentang Problema Manusia dan Ekstensinya

Sebagian dari kita, kadang kala atau bahkan seringkali, terbentur pada pemikiran-pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai hal-hal yang terjadi dalam dunia kita. Mulai dari kesadaran akan pemanasan global (global warming), bencana alam, kerusakan dan pengrusakan alam, kepunahan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan, perubahan ekosistem dan biosphere, ketidakperdulian manusia terhadap banyak hal, perbuatan-perbuatan manusia terhadap alam dan sesamanya yang semakin pragmatis, dan seterusnya, dan sebagainya.

Namun sebagian dari kita sama sekali tidak pernah memikirkan apapun. Sebagian dari kita hanya memikirkan semua yang bersinggungan langsung dengan kita. Tentu saja, karena sebagian dari kita hanya selalu sibuk memikirkan diri kita sendiri.

“Tragedy is when I cut my finger; comedy is when you step on a banana peel, fall into an open sewer and die” – Mel Brooks

Tragedi adalah ketika jariku tergores; komedi adalah ketika kamu terpeleset kulit pisang, jatuh kedalam selokan dan mati. – Mel Brooks

Tidakkah terkadang –atau bahkan sering kali– kita terheran-heran dengan manusia dan perilakunya. Keputusan-keputusan yang diambilnya. Tindakan-tindakan yang dikerjakannya. Kita diterpa dengan berbagai macam hal setiap hari, terutama dalam era digital dan globalisasi informasi ini, menjadikan kita terbiasa dan dengan mudah menjadi tidak perduli dengan banyak hal yang begitu membombardir pemikiran kita. Setelah aliran filsafat pre-modern pada jaman revolusi industri, memasuki masa modern setelah dua kali perang dunia, dan masa post-modern sekarang ini, menjadikan manusia yang dulunya mencari kebenaran secara konsep, kemudian dengan ilmu pengetahuan, sekarang menjadi manusia-manusia yang lebih terfokus pada keuntungan praktis, dan tidak mau berpikir banyak serta pragmatis.

Banyak hal yang dulu dianggap salah, sekarang diterima, dan menjadi arus besar. Banyak hal yang dulu dianggap tidak bernilai, sekarang menjadi hal yang dicari orang. Dunia telah bergeser sedemikian banyak dan mengakibatkan banyak orang kehilangan arah tentang apa yang baik, yang benar dan yang bernilai.

Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) menjadi isu yang dipaksakan untuk harus diakui dan diterima. Desakan yang membuat banyak orang kebingungan ditengah arus besar ini. Keberagamaan menjadi isu yang tidak kalah sengitnya, ditengah-tengah upaya untuk memahami bahwa seharusnya agama membawa manusia kepada kedamaian dan ketenangan, memberikan harmoni dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam, ternyata mengakibatkan pembunuhan dan memporakporandakan dunia. Dan seringkali terlihat bahwa orang yang tidak beragama seringkali lebih baik dari mereka yang menyebut dirinya beragama, namun paling berani berbuat jahat. Manusia juga dihadapkan pada kenyataan bahwa alam sudah semakin berubah dan menjadi tidak nyaman dengan polusi, pencemaran, perubahan cuaca, kerusakan alam, kepunahan hewan dan tumbuhan, dan alam menjadi musuh manusia dengan bencana alam dan berbagai fenomena yang bahkan dulu tidak banyak terjadi.

Manusia menjadi pesimis, terombang-ambing, kehilangan pegangan, tersesat dalam kebingungan dan ketidakmengertian. Sebagian yang berusaha berjuang memperbaiki alam, dihadapkan pada ketidakperdulian banyak orang dan pihak otoritas. Sebagian yang berusaha membangkitkan kesadaran akan kebaikan dan kebenaran menjadi musuh banyak orang. Sebagian yang berusaha mempertahankan integritas, dipertentangkan dengan keegoisan mayoritas manusia yang lain.

Manusia mulai mempertanyakan, apakah kebenaran dan kebaikan itu?

Dan lebih jahat lagi, manusia mempertanyakan dimanakah Tuhan?

Dan inilah jawabannya, yang saya temukan dalam buku orang Kristen dan tidak saya temukan dalam pemikiran manapun. Tuhan tidak berada dimana-mana, karena Dia ada dimana-mana. Kita manusia yang berdosa yang sudah menghilang dari Tuhan. Kita tidak memperdulikan Dia. Kita sudah berdosa dan melawan Dia. Kita merusak diri kita sendiri dan sesama kita, serta semua yang kita sentuh, dan setelah semua rusak, kita bertanya dimana Tuhan. Itulah yang saya sebut dengan ‘JAHAT’.

Manusia adalah ciptaan Tuhan, dalam kita berlaku hukum pencipta dan ciptaan.

Jika kita tidak mengakui bahwa kita adalah ciptaan Tuhan, maka tidak ada jawaban untuk semua yang mau kita bahas sekarang. Karena jika dunia ini adalah berasal dari -misalnya- Big-Bang dan kita adalah makhluk -misalnya- hasil evolusi yang karena anomali, terjadi secara tiba-tiba dan kebetulan, maka kita tidak memiliki tujuan ultimat dan tidak memiliki nilai apapun. Bagaimana sesuatu yang terjadi secara kebetulan bisa memiliki nilai apapun, apalagi nilai yang tinggi.

Tidakkah segala sesuatu yang terjadi kebetulan tidak memiliki nilai dan tidak memiliki tujuan dan tidak memiliki dasar logika yang sah sebagai sesuatu ‘yang bisa diketahui’ (berdasar pada prinsip ‘ILMU PENGETAHUAN’ yang bisa diketahui, maka sesuatu itu harus bisa diuji coba, berulang kali, dan konsisten. “KEBETULAN” tidak memiliki semua hal itu. Evolusi dan Big Bang teori tidak memiliki ciri ilmu pengetahuan yang sah, namun dipercaya secara buta dan diakui kebenarannya secara keyakinan –baca: iman– yang semu.)

Kita lanjutkan: Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut rencana Sang Pencipta berdasar bentuk dan rupa dan kehendak pencipta yang mulia, maka manusia menjadi satu-satunya makhluk yang bisa berpikir karena manusia memiliki bahasa dan berakal budi (buktinya: cobalah berpikir dan merenungkan sesuatu TANPA MENGGUNAKAN BAHASA, -tidak usah dicoba karena tidak akan bisa-).

“Manusia tahu bahwa ada yang baik dan ada yang benar. Tapi manusia kebingungan membedakan mana yang adalah mana.”

Manusia yang dicipta dengan sangat baik adanya, namun yang sekarang telah kehilangan kemuliaan yang sejatinya ada pada kita karena sebenarnya kita diciptakan seturut dengan peta dan teladan Tuhan. Manusia menjadi musuh Tuhan dan sudah melawan Tuhan dan terhilang. Jangan kita mempertanyakan dimana TUHAN. Kita yang telah lari dari Dia. Dan sejak hari ketika manusia mulai berdosa, manusia tidak pernah mencari Dia. Kita hanya selalu merasa bahwa kita mencari Tuhan. Tapi Tuhan yang sejati tidak bisa ditemukan oleh kita yang berdosa. Tidak ada yang mencari Tuhan, tidak ada seorangpun yang baik, dan tidak seorangpun mencari Tuhan.

Saat bolpen kita hilang, atau baju kita hilang, atau kunci kendaraan kita hilang, atau adik atau anak kita hilang, siapa yang mencari siapa? Yang hilang tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Yang tahu bahwa sesuatu itu hilang adalah ketika sang pemilik atau yang ‘lebih tinggi’ menyadari bahwa sesuatu itu hilang.

Bolpen atau baju atau kunci kendaraan tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Adik atau anak kita baru merasa hilang ketika dia menoleh kesana dan kemari dan tidak menemukan kita. Selama dia tidak mengacu dan kembali memikirkan tentang kita, dia tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Bahkan setelah dia merasa hilang, siapa yang lebih mungkin menemukan siapa? Bisakah kita membandingkan diri kita dihadapan pencipta kita seperti anak berusia 3 tahun dengan ibunya? Tidak bisa! Kebijaksanaan ibu tidak bisa dibandingkan dengan kebijaksanaan Tuhan. Dan dihadapan Tuhan, kita yang diciptakan dari debu dan tanah, jauh lebih tolol daripada anak usia 3 tahun. Kita lebih mirip bolpen atau baju atau kunci kendaraan. Bahkan bolpen atau baju atau kunci kendaraan lebih bermakna dan berfungsi daripada kita yang seringkali tidak tau mengapa kita ada dalam dunia dan kenapa kita diciptakan dan untuk apa kita dilahirkan dalam dunia ini. Bolpen, baju dan kunci kendaraan memiliki ‘makna hidup’ yang sangat jelas. Kita manusia seringkali tidak jelas mau berbuat apa dengan kehidupan kita.

Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang mencari manusia. Karena manusia berdosa tidak bisa mencari Tuhan dan menemukan Tuhan.

Manusia dalam keberdosaannya, tetap bisa mengetahui bahwa ada yang benar, dan ada yang salah. Ada yang baik dan ada yang jahat. Ada yang terang, dan ada yang gelap.
Akan tetapi, manusia dalam keberdosaannya tidak tahu apa yang mana. Mana yang baik, mana yang jahat. Dan manusia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Manusia menyukai apa yang dia sukai, manusia menginginkan apa yang dia mau, manusia mengerjakan apa yang menurut dia baik (dan dia merasa baik); namun semua yang dipilih lebih banyak yang salah daripada yang benar. Manusia mencintai, karena merasa cinta itu baik, kemudian mencintai kejahatan dan kesesatan dan kekerasan. Tanpa perspektif yang benar-benar benar, dan pengertian yang sejati, akan ada banyak hal yang dikerjakan manusia yang salah total.

Karena itulah, manusia terus terombang ambing dalam kebingungan, kenapa ada manusia yang tertarik dengan sesama jenis, kenapa ada manusia yang ingin menjadi lawan jenis, kenapa ada manusia yang dengan tidak perduli dan merusak alam, kenapa ada manusia yang tidak perduli menyakiti semua manusia yang lain, kenapa ada manusia yang membenci mereka yang tidak sama dengannya, kenapa ada manusia yang tidak memikirkan dampak dari perbuatannya sekarang yang memiliki potensi untuk merusak hidupnya dimasa depan. Kenapa dan kenapa dan kenapa. Dan kenapa Tuhan tidak campur tangan.

Tuhan tidak punya kewajiban untuk campur tangan.
Bahkan manusia saja tidak merasa perlu campur tangan terhadap barang yang kita ciptakan atau kita miliki. Kita memakai semua yang kita rasa adalah punya kita dengan sesuka hati kita. Itu adalah kuasa yang diberikan kepada kita untuk berbuat sesuka hati kita. Giliran hal buruk terjadi pada kita, mengapa kita menuntut Tuhan untuk melakukan sesuatu buat kita?
Kita bahkan tidak perduli pada Dia dalam seluruh bagian kehidupan kita yang lain, kenapa giliran kita susah, kita marah-marah kepada Tuhan? Tidakkah itu kejahatan dan kekurangajaran bahkan ketika hal sedemikian kita lakukan kepada orang tua atau pasangan hidup kita.

Tundukkanlah hidup kita pada Tuhan yang sejati, pada kebenaran yang sejati, supaya kita memperoleh kebijaksanaan untuk membedakan mana yang baik, mana yang benar, dan mana yang bernilai.

Dengan pengertian akan perspektif yang benar terhadap posisi kita didalam alam semesta ini, seharusnyalah pikiran kita menjadi lebih terbuka dalam perjalanan dan upaya kita mencari kebenaran yang sejati dan penjelasan terhadap berbagai aliran filsafat dan fenomena dan gelombang gerakan-gerakan yang terjadi disekeliling kita dan mengacaukan hidup kita.

Tanpa kebenaran yang menguasai hidup kita, tanpa kita menjadi murid kebenaran dan tunduk mutlak pada kebenaran yang sejati, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk merubah hidup kita. Dengan berada dalam kebenaran, dengan memiliki pengertian dan perspektif yang benar, kiranya kita boleh menjadi manusia-manusia yang lebih baik dan membawa orang-orang disekitar kita menjadi lebih baik. Menjadi berkat buat semua orang disekitar kita, tanpa kecuali, dan menjadikan dunia ini menjadi lebih baik.

Hukum Kausalitas Dalam Sosiologi dan Psikologi

Kausalitas adalah satu bentuk relasi yang menghubungkan sebuah peristiwa dengan peristiwa berikutnya. Relasi itu memberikan sebuah gambaran tentang peristiwa yang menjadi penyebab dan peristiwa yang menjadi akibat, dimana peristiwa yang pertama dimengerti sebagai penyebab dari peristiwa kedua. Demikian pula sebagai konsekwensinya, peristiwa yang pertama tersebut juga adalah merupakan hasil akibat dari peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Berdasarkan hukum yang dipahami dan disetujui secara luas ini, ditarik sebuah pengertian bahwa dalam alam semesta ini, segala sesuatu terjadi karena ada penyebabnya. Dan segala sesuatu ada karena ada inisiatornya. Inisiator tersebut dapat berupa berbagai macam faktor dan hasilnya adalah merupakan sebuah fenomena yang menjadi akibat dari inisiatif oleh inisiator.

Hukum kausalitas harus diakui oleh berbagai bidang, mulai dari filsafat yang bisa ditelusuri bahkan sampai pada Aristotle, sosiologi, psikologi, hingga sains dan seluruh pelosok konsep dan pemikiran yang mungkin dipikirkan manusia. Hukum inilah yang membuat segala sesuatu bisa memiliki kemungkinan untuk diprediksi dan memiliki konsistensi. Bisa kita bayangkan jika hukum ini tidak ada dalam dunia kita, maka tidak akan ada pola tertentu di dalam alam semesta yang bisa mungkin kita pelajari karena semuanya akan kacau balau.

Hukum sebab akibat – tabur tuai

You reap what you sow

Terjemahan: Kamu menuai apa yang kamu tabur

Secara universal, hukum kausalitas membentuk pengertian tentang determinisme bahwa ada satu hukum timbal balik yang berlaku secara umum dalam kehidupan manusia dan segala sesuatu yang relevan dengannya. Secara deterministik, kita menuai apa yang kita tabur, segala yang kita perbuat akan kembali pada kita pada akhirnya, semua yang kita kerjakan akan berbalik pada kita. Semua yang kita mengerti mengenai prinsip karma dan perbuatan jahat/baik adalah berdasar pada pengertian hukum kausalitas.

Karena semua orang mengejar kenikmatan dan kenyamanan, hukum ini baik secara langsung maupun tidak langsung memaksa orang untuk berbuat baik, karena dia mengerti bahwa dia tidak akan dapat lari dari pembalasan dan imbalan atau hukuman dan pahala dari pekerjaan tangannya. Hukum ini menjadi kengerian bagi mereka yang berbuat jahat dan merupakan penghiburan bagi mereka yang berbuat baik. Konsistensi, kemutlakkan, dan kekakuan keberadaan hukum kausalitas dalam segala sesuatu yang bergerak di dalam ruang dan waktu ini menjadi motivator tersendiri dalam kehidupan setiap diri manusia. Manusia terdorong dan termotivasi (baca: terpaksa dengan sukarela) untuk berbuat baik.

Resiprokal determinisme

Dalam hubungan antar manusia, ide tentang keberadaan resiprokal determinsme ini dicetuskan oleh Albert Bandura. Resiprokal determinisme menjelaskan tentang keberadaan hubungan timbal balik atau sebab akibat yang membentuk perilaku dalam teori pembelajaran sosial (yang merupakan dasar teori yang lebih tajam yaitu teori sosial kognitif). Timbal balik dalam proses pertumbuhkembangan seseorang terhadap lingkungan sekitarnya membentuk perilaku dan cara berpikir seseorang.

Secara sederhana, perkembangan manusia sejak kecil adalah merupakan proses pembelajaran dan penyesuaian antara dirinya dengan lingkungan sosialnya. Karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, dia terdorong untuk mendapatkan penerimaan atau persetujuan dari lingkungannya. Hal itu memaksa (baca: mendorong) seseorang untuk memunculkan perilaku tertentu yang disetujui oleh lingkungan tempat dia ingin diterima.

Sebagai contoh sederhana, seseorang yang ingin diterima kedalam sebuah perkumpulan, akan mulai mengadopsi identitas dari perkumpulan tersebut. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, sikap, tingkah dan perilaku, dan seterusnya, supaya dia bisa diterima dengan baik, bisa masuk kedalam kelompok tersebut.

Hal ini yang memunculkan kutipan peribahasa Cina yang berbunyi, “Kumpul dengan merah, jadi merah. Kumpul dengan warna hitam, jadi hitam.” Juga kalimat lain, “Kamu akan menjadi seperti lima orang teman yang paling dekat dengamu.” Serta, “Katakan padaku siapa teman-temanmu, maka akan kukatakan padamu siapa dirimu sebenarnya.”

Maksud dari semua kalimat itu adalah sama, yaitu setiap orang dipengaruhi lingkungannya. Memang benar, lingkungan akan sangat mempengaruhi seseorang, akan tetapi adalah benar pula bahwa setiap orang bisa dan boleh memiliki kemungkinan untuk memilih lingkungannya sendiri. Setiap orang diharapkan mampu bertumbuh seturut dengan pembaharuan pikiran dan akal budinya; memunculkan potensi untuk mengerti apa yang baik, apa yang benar, dan apa yang bernilai. Hal itu akan membuat dia memilih lingkungan yang dapat menerima dan mengakomodasi pertumbuhkembangan dirinya.
Sehingga adalah kekeliruan besar jika seseorang yang sudah beranjak dewasa dan memiliki pengertian terus menerus menyalahkan lingkungannya. Perilaku sedemikian adalah perbuatan yang merendahkan dirinya sendiri dan menghina kedewasaan diri.

Hak dan tanggung jawab

Topik bahasan lain yang tidak kalah menarik tentang hubungan sebab akibat dalam masyarakat manusia adalah tentang hak dan kewajiban. Manusia selalu ribut tentang hak dia sebagai manusia, dan hampir selalu lupa bahwa selalu ada kewajiban dan tanggung jawab yang berhubungan langsung secara timbal balik dengan hak tersebut.

Pergunjingan masalah hak dan tanggung jawab ini terus menerus tarik menarik sejak seorang anak kecil mulai memiliki kesadaran. Dan masalah ini semakin dibuat rumit oleh ketidakmengertian orang tua dalam memberikan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Ketidakmengertian orang tua, membuat kesalahpengertian anak dalam pertumbuhannya sehingga anak itu pun akan bertumbuh dalam pengertian yang salah tentang hak dan kewajiban di dalam hidupnya. Demikianlah tatanan lingkungan dan masyarakat dirusak dengan perasaan ketidakadilan yang kadang tidak pada tempatnya. Banyak orang kemudian merasa dirinya selalu menjadi korban ketidakadilan dari hak mereka. Padahal tidak selalu demikian adanya.

Kebanyakan (jika tidak semua) orang baru ribut tentang hak ketika dia merasa dirinya tidak mendapat apa yang menjadi haknya. Dia tidak banyak ribut ketika hak orang lain diambil, apalagi jika yang mengambil hak orang lain adalah dirinya. Demikian pula dengan setiap orang lain, meributkan haknya sendiri-sendiri, tapi seringkali lupa dengan tanggung jawabnya.

Mau gaji naik setiap tahun, tapi pekerjaan dan ketrampilan tidak memenuhi syarat. Mau mendapat nilai bagus di sekolah, tapi tidak mau belajar. Mau hidup berkecukupan, tapi tidak mau berjuang. Memiliki cita-cita setinggi langit, tapi tidak mau berusaha bangun dari tidur dan mulai bekerja. Dan yang lebih buruk lagi adalah kemudian menyalahkan semua hal dan semua orang yang disekitar dia kecuali dirinya sendiri.

Hak selalu harus diberikan lebih rendah daripada tanggung jawab. Kenapa harus lebih rendah? Karena manusia selalu men-over-estimasi kemampuan dirinya sendiri, menilai dirinya sendiri lebih tinggi dari yang seharusnya. Jika dia menilai dirinya tinggi, lakukanlah pekerjaan yang tinggi, kualitas yang tinggi, maka hak akan menyusul naik seturut dengan kemampuan, kewajiban, dan tanggung jawab yang berani dia pikul. Jangan hanya meributkan hak, tapi terlebih penting lagi, ributkanlah kewajiban dan tanggung jawab.

Banyak orang, belum mulai bekerja, sudah minta gaji tinggi, tunjangan ini dan itu. Belum menunjukkan diri bisa apa, kualitas kerja setinggi apa, dedikasi sebesar apa, etos kerja seperti apa, sudah menilai diri tinggi sekali.
Dunia olah raga sangat mengenal keseimbangan hak dan kewajiban. Dalam pertandingan lari, semua orang berlatih dahulu, berusaha dahulu, berjuang dahulu, seorang lebih keras daripada yang lain. Apakah kemudian pada saat pertandingan, yang merasa sudah berlatih lebih keras selalu bisa mengalahkan orang lain? Tidak tentu. Dia boleh saja merasa bahwa dia adalah orang tercepat karena merasa punya hak untuk mendapat medali emas, tapi dia harus menunjukkan dulu hasil latihannya, disiplinnya, usahanya, dan berlari sekuat tenaga. Yang mendapat medali emas adalah yang memasuki garis finish pertama. Setelah dia membuktikan diri, baru dia mendapat medali. Itulah ilustrasi yang paling bisa menggambarkan hak dan kewajiban.

Hak selalu menyusul setelah kewajiban. Kewajiban harus selangkah lebih maju daripada hak. Hak harus selalu lebih rendah daripada kewajiban.

Dihormati dan menghormati

Satu hal lagi yang sangat mempengaruhi relasi antar manusia, yaitu tentang kehormatan. Manusia manapun selalu sangat peka ketika kehormatannya diganggu. Seperti halnya hak. Semua manusia ingin dihargai, dan untuk itu dia seringkali berani membayar mahal untuk membeli kehormatan. Menempelkan berbagai macam benda pada dirinya untuk menaikkan nilainya dihadapan orang lain.

Hal itu adalah sesuatu yang sia-sia dan semu. Karena suatu ketika, dia harus menanggalkan semuanya dan saat itu orang akan menilai segala hal yang tidak bisa dia beli, yaitu nilai kehidupannya. Entah sampai kapan orang akan mengerti bahwa segala sesuatu yang terpenting tidak bisa dibeli dengan uang; Dan segala sesuatu yang memiliki nilai paling tinggi tidak pernah bisa dilihat dengan mata jasmani.

Alam sudah memberi contoh jelas: udara. Tidak bisa dibeli dengan harga berapapun dan tidak kelihatan. Tapi tidak pernah orang berpikir bahwa udara tidak penting dan tidak ada nilainya karena tidak bisa dilihat.

Ada tiga hal besar yang sangat penting dan tidak bisa dibeli dengan apapun dan hanya bisa diperoleh dengan cara memberikannya terlebih dahulu pada orang lain: Kasih, Kehormatan, dan Kepercayaan. Ketiganya memiliki sifat yang sama dan berlaku hukum timbal balik dan sebab akibat.

Agar dihormati orang lain, hormatilah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dihormati.
Agar dikasihi orang lain, kasihilah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dikasihi.
Agar dipercaya orang lain, percayalah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dipercaya.

Tidak ada jalan lain. Seringkali orang hanya bisa menuntut orang lain untuk menghormati dia, tapi dia memunculkan perilaku yang tidak layak dihormati. Dia hanya merasa ber-‘HAK’ untuk dihormati.

The Golden Rule dan Etika Kristen

Hukum yang selalu disebut sebagai hukum etika dan moral tentang hubungan manusia yang tertinggi adalah hukum kasih. Istilah Golden Rule sendiri muncul sekitar pertengahan abad ke-17 dengan konsepnya yang membicarakan tentang etika yang bersifat timbal balik (istilah asli: the ethic of reciprocity).

Di dunia sebelah barat, kebudayaan kuno Babilon dalam Hukum Hammurabi (Lex Talionis) menyatakan, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi.” Etika yang lebih bersifat hukuman ini menyatakan hukuman yang setimpal dengan perbuatan. Demikan pula dengan filsuf Yunani kuno yang mengatakan hubungan sebab akibat dalam relasi antar manusia, “Jangan lakukan hal yang akan kamu persalahkan jika dilakukan oleh orang lain – Thales.” Isocrates mengatakan pula, “Jangan lakukan pada orang lain hal yang akan membuatmu marah kalau mereka melakukannya padamu.”

Kalimat dalam dunia filsafat timur pun tidak berbeda jauh dengan kalimat dunia filsafat barat. Confusius mengatakan, “Jangan lakukan pada orang lain hal yang kamu tidak ingin orang lakukan padamu.” Dan Laozi, “Anggaplah keuntungan tetanggamu seperti keuntunganmu, dan kerugian mereka seperti kerugianmu.”

Persamaan semua kalimat itu adalah sifat kalimat pasif: jangan lakukan pada orang lain.
The Golden Rule itu sendiri mengatakan, “Perbuatlah kepada orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan – Yesus.” Ini merupakan etika yang lebih tinggi: perbuatlah dan lakukanlah pada orang lain.

Jika seseorang tidak suka ditipu, jangan menipu orang lain. Itu adalah implikasi kalimat negatif. Sedangkan implikasi kalimat positif adalah, jujurlah pada orang lain kalau kamu ingin orang lain jujur padamu.
Jika seseorang tidak ingin difitnah, jangan memfitnah orang lain. Itu kalimat negatif. Implikasi kalimat positifnya adalah, berkata-katalah denga benar tentang orang lain. Yang pertama adalah jangan berbicara, yang terakhir adalah berbicaralah, tapi yang benar.

Dalam Golden Rule dan etika Kristen, muncul sebuah kalimat lagi yang sangat penting dan menjadi hukum kasih, “Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri – Yesus.” Mudah diucapkan, sangat agung, dan sangat sulit untuk dikerjakan. Lebih mudah untuk menjadi pasif dan tidak membenci sesamamu manusia, tapi untuk menjadi aktif dan mengasihi, membuat saya terus bertanya-tanya, siapa yang sanggup mengerjakan perbuatan baik yang memiliki etika dengan standard yang begitu tinggi.

Q: Bagaimana mungkin tidak ada seorangpun yang baik?

ABerbicara tentang kebaikan hampir selalu mengarah pada hal yang sifatnya lebih kepada pembicaraan filsafat dan teologi sebagai ujung terakhir. Sadar ataupun tidak sadar, kita berbuat baik karena ada tuntutan dalam diri kita, suara hati nurani dan kesadaran yang menganiaya kita, menuntut kita untuk melakukan hal yang baik seturut dengan pengertian yang kita miliki, dan terlebih lagi untuk menghindari perasaan bersalah yang akan menjauhkan kita dari ketenangan diri. Hati nurani dan kesadaran akan perasaan bersalah adalah sebuah konsep pengertian akal budi yang hanya dimiliki manusia, jauh di dalam jiwa kita tentang penghukuman dan pembalasan yang setimpal dengan perbuatan kita.

Dalam pengertian akan penghakiman dan penghukuman serta pembalasan itulah setiap orang, pribadi lepas pribadi, masing-masing orang sepanjang sejarah di sadarkan akan konsep ‘keselamatan’ dalam ‘kehidupan setelah kematian.’ Itulah yang mendorong orang untuk berbuat baik. Namun tidak ada yang baik, tidak ada yang sanggup berbuat baik dalam kebaikan yang sempurna. Tidak ada seorang pun memiliki kebaikan yang bisa dipertimbangkan sebagai alasan bagi dia untuk boleh diselamatkan. Itu adalah kesadaran yang mengerikan bagi orang sepanjang sejarah, sehingga muncullah perlawanan terhadap figur tuhan karena tuhan sangat mengganggu eksistensi manusia. Jika tidak ada tuhan, maka tidak ada penghakiman. Siapa pula tuhan itu sehingga dia berhak seenaknya menentukan nasib manusia. Manusia bahkan tidak tahu apakah dia ada atau tidak. Hal-hal inilah yang dibahas oleh agnostisisme.

Namun sekali lagi, hati nurani, moralitas, kesadaran dan perasaan bersalah terus menegur jiwa manusia. Walaupun pragmatisme berusaha membunuh suara hati nurani, namun suara itu hanya membungkam, tidak pernah mati. Itulah sebabnya tidak pernah luntur dalam sepanjang sejarah manusia, upaya manusia berbuat baik supaya dia boleh diterima dalam kehidupan yang baik sesudah kematian. Tapi sebagian kita menyadari bahwa perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan kita, karena alasan yang sangat sederhana dan mudah, “tidak ada yang baik, seorang pun tidak. Hanya TUHAN yang baik.”

Sebenarnya pertanyaan ini memiliki antitesis, “Siapakah yang bisa dikatakan baik?” Dan antitesis itu membawa tiap orang kepada satu perenungan, “Apakah baik itu?”

Serta merta kita akan menyadari bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kebaikan yang kita lakukan adalah sangat terbatas, berlaku sementara, dan terpecah-pecah. Baik bagi satu orang, belum tentu baik bagi orang yang lain. Orang hanya akan mengatakan kita baik jika kita menguntungkan atau melakukan hal yang dia sukai. Kita hanya bisa dikatakan baik dalam satu waktu dan kondisi tertentu, tapi tidak dalam totalitas keseluruhan hidup kita.

Siapakah yang berani berkata, “Aku ini orang baik.” Dia yang berani berkata sedemikian sudah pasti tidak baik, satu hal yang pasti, dia adalah pembohong. Atau tentu saja, jika dia gila. Agama menuntun kita untuk melakukan perbuatan kebaikan supaya kita boleh diselamatkan (baca: pergi kepada tuhan, di sorga, di nirvana, di langit, dan seterusnya), namun semua agama sendiri menyadari bahwa kebaikan tidak mungkin dilakukan secara universal, secara integral, oleh setiap orang.

Ketika seseorang bersedekah terhadap pengemis, ada banyak pengemis lain yang tidak mendapat sedekah dari kita. Ketika kita membantu anak yatim piatu, ada ratusan anak yatim lain yang tidak mendapat kebaikan dari kita. Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.
Ketika kita menolong seseorang, ada puluhan orang yang datang kepada kita yang tidak sanggup kita tolong. Jadi bagaimana kita bisa menjadi baik secara utuh dan sempurna supaya kita boleh diselamatkan? Semakin kita berusaha baik, semakin tidak baik kita jadinya.

Sebagian besar kita tidak menyukai mereka yang hanya berbuat baik pada kita karena sedang ‘ada maunya.’ Kita jengkel karena kita merasa diperalat. Datang membawa bingkisan dan hadiah kecil, supaya kita membalasnya dengan melakukan sesuatu untuk mereka. Kita juga tidak senang jika kita datang kepada seseorang untuk meminta bantuan, kemudian malah kita diperas dan diminta untuk memberikan bingkisan. Perbuatan baik dengan motivasi tertentu tidak bisa dikategorikan sebagai kebaikan.
Tapi tidakkah itu yang dilakukan oleh orang yang katanya beragama? Agama ‘mengajarkan’ cara untuk memperalat tuhan, berbuat sedikit kebaikan supaya tuhan mau menyelamatkan kita dan membawa kita ke surga. Perbuatan baik kita tidak pernah lepas dari motivasi tertentu, entah tersembunyi atau mungkin terang-terangan.

Karena kesadaran akan ketidakmungkinan untuk melakukan kebaikan secara sempurna, pemikiran curang manusia menambahkan pengajaran baru, bahwa akan ada “pengadilan” yang menimbang perbuatan baik kita terhadap perbuatan buruk kita. Melebih-lebihkan nilai perbuatan baik kita di hadapan tuhan, seolah kita layak atau bahkan berjasa kepada tuhan. Padahal di dalam segala hal ada relasi pencipta-ciptaan yang berlaku di alam semesta ini, dan adalah kegagalan di titik pertama ketika munculnya pemikiran bahwa kita memiliki kemungkinan untuk memiliki jasa dihadapan pencipta kita.
Tapi baiklah kita bahas pula kemungkinan ini. Benarkah kebaikan kita bisa lebih banyak atau paling tidak sama banyak dengan kejahatan dan kesalahan kita?

Ilustrasi kecil:
Apakah saja syarat murid sekolah yang baik? Patuh pada guru. Hormat pada yang lebih tua. Tidak mencontek. Tidak berbohong. Tidak mengganggu teman. Belajar yang rajin. Datang sekolah tepat waktu. Menjaga ketertiban sekolah.
Jika seorang anak melakukan kesemuanya dengan sempurna, tapi suatu hari dia datang sekolah terlambat, dengan sejuta alasan yang valid dan masuk akal. Apakah dia masih bisa dikatakan sebagai murid yang baik? Jika selama dia bersekolah selama 300 hari selama setahun, dia tidak belajar dengan rajin suatu ketika, apakah dia masih bisa dikatakan murid yang baik? Jadi berapa kali dia boleh ‘TIDAK BAIK’ dan masih dapat dikatakan bahwa dia ‘MASIH BAIK’? Satu aturan dilanggar, dia sudah melanggar semua aturan.

Ilustrasi yang lebih ekstrim:
Apakah syarat istri yang baik? Rajin mengurus rumah. Merawat suami dan anak. Teliti dalam urusan rumah tangga. Pandai berdandan. Bisa masak. Memberikan pertimbangan dan nasihat yang baik bagi suami dan anak-anaknya.
Kemudian dalam 40 tahun pernikahan, dia pernah satu kali tidur dengan pria lain. Apakah dia masih merupakan istri yang baik?

Demikian pula kita dalam hidup kita. Benarkah kita berani mengatakan bahwa jika kebaikan dan kejahatan saya selama hidup ditimbang, maka saya masih ada kelebihan baik. Benarkah kita berani mengakui bahwa kita baik dihadapan tuhan dan meminta dia untuk menyelamatkan kita?

Apakah benar-benar agama atau diri kita sendiri yakin bahwa kita bisa diselamatkan oleh perbuatan baik? Justru karena adanya tuntutan moral dan segala hukum yang berlaku, membuktikan kepada kita bahwa kita tidak bisa berbuat baik. Karena kita tidak bisa berbuat baik, maka kita semua tidak bisa diselamatkan.
Seluruh agama adalah sia-sia. Seluruh upaya manusia untuk bisa diselamatkan adalah upaya menjaring angin. Kita tidak bisa diselamatkan. Jika kita bahkan tidak bisa berbuat baik, dengan apa kita bisa diselamatkan? Jika perbuatan baik kita (jika seandainya, seumpama, misalnya, contoh omong kosong jika kita benar-benar berbuat baik tanpa cela) pun pada dasarnya disertai oleh motivasi tertentu, masihkah kita bisa disebut baik? Karena kita mengharapkan imbalan atas jasa kita. Sebuah buku filsafat Islam yang pernah saya baca memberikan ilustrasi yang menarik: perbuatan baik itu seharusnya seperti saat kita buang air besar, tidak ada motivasi, ikhlas, penuh kerelaan, tidak mengungkit jasa kita kepada siapapun di kemudian hari. Itulah perbuatan baik yang sejati.

Tidak ada yang baik. Seorang pun tidak.
Tidak ada jalan keluar lain. Kita tidak bisa diselamatkan jika kita tidak menghadap Tuhan dan membesar-besarkan jasa kita dihadapan-Nya (tapi itu akan membuat manusia semakin berdosa, bahkan menurut etika rendah manusia; Apalagi di dalam etika Tuhan.)
Namun bukunya orang Kristen memberikan kepada kita penghiburan dan jalan keluar. Karena manusia tidak bisa berbuat baik dan tidak bisa menyelesaikan dosanya sendiri dalam hidupnya di hadapan tuntutan penghakiman keadilan TUHAN, maka Tuhan mengutus Anak-NYA sebagai satu-satunya jalan keluar, supaya mereka yang percaya pada berita aneh dan supranatural itu boleh diselamatkan. Tuhan Yesus, Anak Tunggal Tuhan, mengambil bentuk manusia supaya Dia bisa mati, menggantikan manusia berdosa, menyatakan kasih Tuhan yang besar untuk manusia yang berdosa. Harus bentuk manusia, karena Dia tidak bisa mati jika Dia tetap sebagai Tuhan.
Kasih itu tidak murah, karena masih ada keadilan yang harus ditanggungkan sebagai pertanggungjawaban manusia. Manusia boleh saja meminta maaf dan manusia akan dimaafkan hanya di dalam Kristus Yesus sebagai pengganti yang sah yang diakui Tuhan, tapi konsekuensi hukuman harus jalan dan masih ada ganti rugi yang harus dibayar seturut dengan keadilan Tuhan. Sehingga itulah yang dikerjakan dalam karya keselamatan, Anak Allah yang tunggal itu menggantikan manusia dan mati di dalam kesucian dan ketidakberdosaan untuk memuaskan penghakiman Tuhan.

Jangan ditanyakan kenapa harus cara itu, Dia pencipta. Cara apapun yang Dia lakukan, selalu akan ada manusia yang mempertanyakan, “kenapa harus cara itu?” Dia berhak menggunakan cara itu. Dan itulah jalan keluar yang ditawarkan. Kita mau menerima atau menolak, Tuhan tidak rugi apapun juga.

Paradigma Kontradiksi Kebaikan vs. Kejahatan dalam Filsafat

Sepanjang sejarah, agama dan kepercayaan, filsafat dan pemikiran, berusaha menggali alam yang nyata dan alam yang tidak nyata. Upaya tersebut menimbulkan pemikiran dualisme tentang dunia spiritual atau dunia ide dan dunia material yang dapat dikenali oleh semua indra dan dengan mudah dicerna oleh pemikiran rasional. Entah sejak kapan hal itu ada dan dikerjakan oleh manusia, tapi selalu ada pengakuan bahwa ada sesuatu yang melampaui dunia material yang kita kenal berikut dengan kekuatan dan pengaruhnya yang lebih besar daripada batasan dan kemampuan manusia.

Semuanya berlangsung hingga saat manusia mencapai kemajuan pemikiran yang memunculkan ide bahwa manusia adalah awal dari segala hal, puncak dari segala sesuatu dan akhir dari segala sesuatu; Dan pemikiran itu serta merta menganggap bahwa kepercayaan tentang keberadaan kuasa di luar manusia adalah takhyul, kuno, dan terbelakang. Manusia membuang semua ide tentang kuasa yang lebih besar dari manusia dan meletakkan figur manusia di tempat tersebut. Akan tetapi kemudian hal itu menimbulkan kekosongan yang luar biasa dalam hidup manusia karena ide itu mentelantarkan manusia kepada keterhilangan dan ketersesatannya di sepanjang hidupnya, dan mendegradasi nilai hidupnya menjadi kekosongan dan kesia-siaan. Hingga pada akhir hayatnya, kematian menjadi sesuatu yang tidak terelakkan dan hati nuraninya menganiaya dia dengan ketakutan seandainya ada kehidupan setelah kematian. Contoh yang menarik adalah Friedrich Nietzsche dengan ateisme dan ucapannya yang terkenal dengan sedemikian terus terang dan terbuka, “Tuhan sudah mati! Aku sudah membunuhnya,” yang diungkapkannya berulang-ulang, memiliki akhir kehidupan yang menarik pula.

Pemikiran demi pemikiran terus menerus bermunculan dari berbagai aliran filsafat baik dari filsafat barat yang menekankan pada rasionalitas maupun dari filsafat timur yang menekankan pada emosi dan perasaan yang menjadi jalan dan cara hidup. Sementara berbagai budaya menghasilkan konsep perseteruan tentang kebaikan dan kejahatan dalam mitos dan legenda para dewa, pertarungan tanpa akhir antara dunia spiritual dan dunia material, ketegangan antara keteraturan dan kekacauan, dan permusuhan antara pencipta, pemelihara, dan perusak. Hingga akhirnya muncul suatu pemikiran sinkretisme sebagai penengah dalam antroposentrisme bahwa tidak ada kebaikan ultimat ataupun kejahatan ultimat. Selalu ada kebaikan dalam diri orang jahat, dan selalu ada kejahatan dalam diri orang baik. Filsafat timur dengan sangat indahnya menyebut hal ini sebagai Yin dan Yang, sebagai dualisme antara kebaikan dan kejahatan, terang dan gelap.

Inilah yang akan menjadi pembicaraan kita kali ini.

Sepintas lalu, upaya ini terlihat memberikan penyelesaian yang jelas untuk menggambarkan keadaan dunia kita. Terlihat logis dan rasional, bahwa ada kejahatan dan kebaikan, ada terang dan gelap, ada api dan air, ada hal-hal yang memang bertentangan yang ada dalam dunia ini. Hal ini terlihat seperti sebuah paradoks yang merupakan kebenaran.

Tapi hal ini sebenarnya adalah merupakan kontradiksi yang tidak memberikan jawaban, melainkan lebih menimbulkan pertanyaan daripada memberikan jawaban penyelesaian. Adapun cara pandang terhadap fenomena ini kurang tepat. Pandangan bahwa ada kebaikan dan kejahatan dalam diri manusia, bahwa di dalam terang, ada sisi gelap dan di dalam gelap ada sisi terang. Pertentangan yang berusaha diselesaikan dengan secara paradoks.

Pertentangan ini bermula dari pandangan bahwa kegelapan dan kejahatan dalam hal ini dijadikan sebuah keadaan atau entity atau entitas. Kegelapan dianggap sebagai keadaan yang memiliki eksistensi yang jelas dan berdiri sendiri secara kondisi dan keadaan yang nyata. Demikian pula kejahatan. Walaupun tampaknya demikian, kegelapan bukanlah entitas sendiri.

Kegelapan adalah kondisi dari tidak adanya terang.
Kejahatan adalah kondisi dari tidak adanya kebaikan.

Manusia memiliki kecenderungan untuk memikirkan jalan tengah dan kemudian berdiri sendiri. Contoh kontradiksi yang menarik dan dipakai dalam skala luas adalah “keadaan tidak memihak”; Ketika ada dua golongan sedang berseteru, muncul orang-orang yang katanya tidak memihak, bersikap netral, ambigu, menjadikan kondisi abstain sebagai penyelesaian natural. Padahal mengambil posisi yang katanya “tidak memihak” itu malah menjadikan mereka membentuk sebuah kelompok penanding lain yang namanya “tidak memihak”. Sekarang, dari dua golongan yang berseteru tersebut, muncul kelompok ketiga yang dinamai “kelompok tanpa pihak”. Kelompok ini menjadi masalah karena akhirnya menjadi kelompok oposisi dari dua kelompok yang mula-mula yang berseteru. Sehingga sekarang ada tiga kelompok yang sedang berseteru.
Seringkali, kita harus memihak. Kita tidak bisa melepas tanggung jawab dan menyelesaikannya dengan jalan keluar yang pragmatis yang seolah-olah merupakan jalan keluar.

Melalui paradigma dan perspektif tersebut, kita bersama-sama telah melihat bahwa ternyata tidak ada kondisi gelap yang bercampur terang ataupun kejahatan yang bercampur kebaikan. Seolah-olah hal itu digambarkan seperti bagaimana seseorang yang berselingkuh tidak mungkin mencintai dua orang secara sama rata, dia akan selalu mencintai yang satu lebih daripada yang lainnya. Seperti fenomena tarik-menarik dalam diri seseorang yang berusaha hidup baik, namun membuat perkecualian dari waktu ke waktu dengan mengambil keputusan-keputusan yang kejam.

Tidak pernah mungkin akan terjadi saat ketika kegelapan datang dan mengusir keberadaan terang. Yang akan selalu ada adalah terang datang dan mengusir kegelapan, karena kegelapan itu bukanlah eksistensi, melainkan non-eksistensi dari terang. Kegelapan itu ada karena terang tidak ada.
Demikian pula kejahatan dan kelaliman. Kondisi itu ada karena tidak ada kebenaran dan keadilan. Ketika ada keadilan, maka kejahatan dan kelaliman tidak bisa terjadi. Ketika kebaikan dalam eksistensinya menjadi non-eksisten, muncul kejahatan.

Sama seperti terang dan gelap, terang merupakan energi, dan energi harus memiiliki sumbernya. Harus ada upaya dan usaha yang dilakukan untuk membuat terang. Dan hal tersebut tidak mudah. Akan jauh lebih mudah membuat kegelapan.

Demikian pula dengan kebaikan dan kejahatan, dibutuhkan upaya keras untuk melakukan kebaikan, dan kebaikan itu harus memiliki sumbernya sendiri. Dan hal itu tidak mudah. Akan lebih mudah untuk tidak mau mengakui sumber kebaikan itu dan membiarkan kejahatan dan kelaliman ada.

Demikian pula dengan manusia, manusia itu pada dasarnya jahat (berlawanan dengan pendapat dan pandangan dari psikologi dan sosiologi yang berkata bahwa manusia itu pada dasarnya baik). Jika manusia pada dasarnya baik, maka manusia tidak akan perlu dididik dan diajar untuk berbuat hal yang baik, yang benar, yang bermoral, yang bernilai tinggi, dan yang suci, namun pada kenyataannya, manusia membutuhkan didikan yang susah dan keras dan berat untuk menjadikannya manusia yang baik. Manusia tidak perlu dididik dan dia akan selalu jahat dan tidak bermoral dan egois serta serakah.

Jikalau demikian, darimanakah sumber kebaikan itu sendiri supaya manusia dimampukan untuk berbuat baik dan mengusir kejahatan dan kelaliman dari dalam dirinya?
Buku orang Kristen memberikan jawabannya: bahwa kebaikan itu berasal dari Tuhan yang sejati. Dia adalah kebaikan itu sendiri dalam eksistensinya. Dia tidak menghasilkan kebaikan, karena diri Dia ADALAH kebaikan, Dia adalah terang itu sendiri di dalam diri-Nya. Jika ciptaan-Nya tidak kembali kepada Dia, tidak ada seorangpun bisa berbuat baik, seorang pun tidak.

Tidakkah kita lihat sendiri, ketika seseorang membuang Tuhan yang sejati, tidak akan pada dia perbuatan baik itu. Dan tidakkah kita lihat sendiri, orang yang paling berani berbuat jahat adalah orang yang mengaku sebagai orang yang paling beragama. Kondisi itu menimbulkan kekecewaan dalam diri manusia, karena bagi mereka, mereka mengira bahwa agama seharusnya mendatangkan kebaikan. Yang gagal dilihat oleh manusia, walaupun sudah ada dalam sejarah (seperti kata Friedrich Hegel, “Kita belajar dari sejarah bahwa kita tidak belajar apapun dari sejarah.”), bahwa ada begitu banyak pemikiran tentang tuhan dan manusia mengambil kesimpulan bahwa semua tuhan adalah salah. Padahal sudah ada satu Tuhan yang menyatakan dirinya ke dalam sejarah, tapi kemudian itupun ditolak oleh manusia. Jadi dengan apalagi manusia bisa diyakinkan, sehingga kemudian mereka mengusir semua tuhan pergi keluar dari hidupnya dan menerima entah apa secara pragmatis dan mengambil jalan mudah yang sebenarnya tidak bisa dikatakan mudah pula.
Pengusiran keberadaan Tuhan dari hidup manusia mengembalikan manusia pada pola pikir ateistik yang sudah kita bahas di atas.

Sehingga dalam upaya manusia menggali dan mengupayakan kebaikan dalam hidupnya, mau tidak mau, dia harus mengakui keberadaan Tuhan yang benar, sebagai kebenaran yang benar-benar BENAR. Kegagalan manusia untuk mengakui Tuhan yang benar dalam hidupnya akan membawa balik manusia kepada pencarian tanpa akhir, perseteruan kebaikan dan kejahatan serta sinkretisme “yin dan yang” tadi.

Implikasi “Tak terhingga” Dalam Matematika dan Filsafat

Sejak masa sekolah, kita mengenal tanda “tak terhingga” (simbol:  ; infinity atau lemniscate) melalui bangku sekolah. Kita menemukan tanda itu pada kedua ujung positif dan negatif dalam garis bilangan, kita menemukan tanda tersebut pada prinsip operasional dasar, juga pada operasional intergral dan diferensial. Kita mengenal simbol tersebut sebagai suatu “angka” dalam garis bilangan, yang padanya terjadi perlakuan khusus.

Simbol tak terhingga itu merupakan suatu “angka” yang dapat dioperasionalkan dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, namun hasilnya tidak berubah selain daripada dirinya sendiri. “Angka” itu merupakan angka yang bukan angka, tetapi dianggap sebagai perwakilan sebuah angka namun tidak memiliki prinsip sebagai angka (baca: nilai). Secara prinsip, simbol tak-terhingga ini menjadi satu bentuk paradoks ditengah-tengah angka yang terhingga.

Sebenarnya, apakah simbol “tak terhingga” itu? Mengapa dia bisa muncul ditengah-tengah dunia kita yang tidak satupun bersifat “tak terhingga”? Jika mau dirunutkan, beberapa filsuf Yunani seperti Pythagoras, Plato, dan Aristotle mengakui keberadaan dunia yang terbatas dan dapat diukur dengan bilangan yang natural. Namun Aristotle mengenali bahwa ada banyak hal yang seakan-akan bergerak menuju kepada ke-takterhingga-an, seperti waktu yang seolah tidak berujung. Karena itulah Aristotle memiliki sebuah pemikiran tentang sesuatu yang sifatnya “mungkin tak terbatas” (potentially infinite). Seperti pada garis bilangan misalnya, Aristotle melindungi a priori tentang dunia yang terbatas dengan menjelaskan bahwa garis bilangan itu terbatas, namun sifat garis bilangan itu sendiri memiliki “potensi untuk menjadi tak terbatas” karena tidak akan pernah ditemukan angka terakhir yang jelas dan pasti yang menutup garis bilangan.

Plotinus merupakan pemikir setelah Plato, yang saya ketahui menjadi pemikir pertama yang menyebutkan ada “THE ONE” (baca: yang SATU) yang TUHAN yang tidak terhingga (infinite). Dia menyatakan bahwa SATU ini tidak pernah mengenal pengukuran ataupun pembatasan, SATU ini berada dalam ketidakterbatasan dalam apapun secara eksternal maupun internal, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya.

Agustinus (St. Augustine) kemudian menyatakan hal ini lagi dengan pengertian Plotinus ini secara lebih mendalam dan menyatakan bahwa TUHAN bukan hanya tidak terbatas, melainkan ketidakterbatasan adalah merupakan diri TUHAN itu sendiri, ketidakterbatasan bukan merupakan kondisi atau situasi yang menyebabkan TUHAN ini tidak terbatas, tetapi ketidakterbatasan ini muncul dari dalam dirinya TUHAN yang tidak terbatas yang memiliki kesanggupan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terbatas.

Dalam upaya memahami kondisi tak terhingga, manusia berulang-ulang sejak abad pertengahan mencoba merumuskan dan memahami batasan dalam dunia yang katanya terbatas ini. Namun beberapa upaya yang satu lebih banyak menghasilkan kontradiksi dibandingkan dengan beberapa tawaran penyelesaian yang lain.

Sehingga muncul beberapa teori lain yang kemudian berbalik dari upaya memahami “mungkin tak terbatas” (potentially infinite) dan mencari “pasti tak terbatas” (actually infinite) dalam dunia yang katanya terbatas ini. Yang paling saya sukai adalah teori fractal milik Mandelbrot, selain dari Koch snowflakes.

Filsafat yang satu berbicara tentang mencari batasan, yang lain berbicara tentang mencari ketidakterbatasan, dan keduanya tidak menemukan keterbatasan maupun batasan dari dunia ini. Teori matematika yang dikemukakan mulai dari Galileo, Georg Cantor, Helge von Koch, dan Benoit Mandelbrot. Perhitungan mulai dari kalkulus, hyperspace, hingga pembagian tak terbatas dari DNA kepada ‘quark’. Tidak ditemukan penjelasan tentang ketidakterbatasan. Upaya mencari hal yang tak-terhingga berujung pada “mendekati tak terhingga”, dan mencari hal yang ‘nol’ berujung pada “mendekati nol”; keduanya menjadi upaya yang tidak jelas dalam dunia yang katanya terbatas ini.

Namun simbol tak-terhingga tidak bisa dibuang ataupun diabaikan.

PARADOKS: Dimanakah batasan dunia yang katanya terbatas ini? Ataukah dunia ini sebenarnya adalah tidak berbatas?

PARADOKS: Dimanakah batasan dunia yang katanya terbatas ini? Ataukah dunia ini sebenarnya adalah tidak berbatas?

Sampai disini, saya tidak bisa melakukan hal lain selain daripada membawa kebuntuan yang tanpa akhir ini kedalam paradoks berikut penjelasan dari perspektif yang berbeda.

Ketidakterhinggaan adalah sebuah kondisi yang statis, tidak berubah, tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Dia adalah sesuatu yang sifatnya kekal. Sementara dunia kita dengan segala isinya adalah sebuah kondisi yang dinamis, selalu berubah, memiliki awal dan memiliki akhir. Dengan kata lain, tidak ada yang tinggal tetap dalam dunia kita karena satu-satunya yang tetap adalah perubahannya. Ini adalah wilayah kesementaraan. Yang kekal tidak bisa dimasukkan dalam kesementaraan. Yang sementara, tidak bisa memasuki kekekalan. Usaha terbaik dari upaya mendekati kekekalan adalah mencapai kondisi yang dinamakan “mendekati kekekalan” secara dinamis dan terus berubah dan terus menerus. Disinilah muncul dunia ide dan dunia pragmatis. Dari sinilah muncul filsafat “is-ought problem” (perbedaan antara yang kenyataan dengan yang di harapkan) yang dicetuskan oleh David Hume.

Hasil terbaik dari usaha yang terus menerus untuk mendekati kekekalan itu hanyalah pengertian mengenai kesia-siaan karena tidak mungkin kita dari dunia yang dinamis ini memasuki alam yang statis. Tidak mungkin kita dari alam yang sementara ini memasuki alam yang kekal. Dan upaya melakukannya berakhir dengan kesia-siaan.

Secara filosofi, manusia tidak mungkin mencapai tempat dimana TUHAN berada.

Tidak dimungkinkan dengan cara apapun. Dunia ilmu pengetahuan sudah mencoba membuktikannya, dan dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan hanya menghasilkan filsafat-filsafat yang terus menanyakan hal yang semakin banyak dan tidak pernah terjawab kecuali didalam religi. Dan diantara semua religi itu pun tidak semua bisa menjawab paradoks bagaimana kita yang sementara bisa mencapai tempat TUHAN yang kekal.

Setelah ilmu pengetahuan dan filsafat gagal menemukan cara untuk menuju kepada kekekalan, agama menawarkan solusinya: dengan perbuatan baik. Namun cara ini sudah dipikirkan oleh Aristotle, dikatakan bahwa sebuah perbuatan baik itu baru benar-benar baik jika ada maksud yang baik, dilakukan dengan baik, untuk tujuan yang baik, demi kebaikan, dan hasilnya adalah untuk kebaikan itu sendiri. Dan Socrates juga mengatakan bahwa kebaikan yang sejati itu haruslah berlaku secara universal.

Sekarang, bagaimanakah kita manusia dimungkinkan untuk mencapai kekekalan dengan perbuatan baik?

Definisi perbuatan baik pun sudah tidak bersifat universal dan integral. Dan seandainya, jikalau seumpama, misalnya kita berhasil menemukan definisi tentang perbuatan baik yang sifatnya universal dan integral, itupun tidak baik karena perbuatan baik kita pun tercemar oleh motivasi lain dibalik perbuatan baik kita. Jika kita gagal dititik definisi, bagaimana kita bisa melakukannya tanpa bersalah?

Coba saya jelaskan. Kebaikan itu harus bersifat universal, berarti dilakukan dimanapun, dia harus bersifat baik dan benar adanya. Juga bersifat integral, bahwa perbuatan baik itu di dalam dirinya adalah mengandung semua unsur kebaikan yang tidak tercemar, baik secara maksud, perlakuan, tujuan dan motivasi adalah murni demi kebaikan itu sendiri.

Contoh: Saya memiliki dua permen, dan saya memberikan kepada seorang teman saya salah satu permen. Apakah perbuatan ini baik? Kita lihat apakah perbuatan ini baik? Jika teman saya itu sedang sakit gigi, maka perbuatan saya adalah kurang bertanggung jawab. Jika ada beberapa teman saya disana menginginkan permen, saya menjadi “kurang baik” bagi yang lain karena saya tidak memberikan kepada mereka permen, padahal ada yang sangat menginginkan permen dari saya. Jadi saya hanya baik bagi teman yang saya beri permen, namun kurang baik bagi orang lain yang tidak kebagian permen.
Lebih lanjut lagi, apa maksud saya menjatuhkan pilihan saya untuk membagikan permen saya yang terbatas ini kepada dia, dan bukannya untuk orang lain? Mungkin saya mau supaya dia menganggap saya baik, atau mungkin karena saya menganggap bahwa dia adalah teman dekat saya yang terbaik dan saya mencoba menjaga hubungan baik itu. Sehingga perilaku saya memiliki motif dan tujuan tertentu.

Sama halnya dengan saya berusaha berbuat baik pada atasan saya, dengan maksud supaya saya boleh mendapat kemudahan kenaikan jabatan. Saya yakin tidak sepatutnya kita merayu yang SATU itu yang berada dalam kekekalan untuk meminta Dia membawa kita kepada kekekalan dengan perbuatan baik kita yang tidak seberapa. Bagaimana saya bisa berbuat baik jika perbuatan baik itu sendiri tidak boleh memiliki motif? Jadi apakah benar dengan kata-kata para agamawan yang menyarankan saya untuk berbuat baik, supaya amal saya memampukan saya masuk dalam kekekalan untuk bersama dengan yang SATU itu? Hal itu menimbulkan kontradiksi kebenaran yang sifatnya menghancurkan diri sendiri, bukannya menghasilkan paradoks.

Setiap perilaku perbuatan baik yang saya munculkan, selalu menjepit saya dan membuat perbuatan saya hingga pada level tertentu, menjadi kurang baik. Hal ini menimbulkan suatu frustasi dalam diri manusia yang berusaha mencapai kekekalan (baca: TUHAN).

Inipun sudah dipikirkan oleh filsuf sejak jaman eudaimonisme Yunani kuno. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa kebaikan itu adalah kebahagiaan kita, dan jika mungkin, menjadi kebahagiaan kita bersama dengan banyak orang. Mulai dari Sokrates, Plato, Aristotle, hingga kemudian pada Epikuros, definisi kebahagiaan menjadi apa yang disebut kenikmatan. Itulah kebaikan sejati.

Kebaikan yang disejajarkan dengan kebahagiaan yang kemudian disejajarkan pula dengan kenikmatan menimbulkan suatu pertanyaan yang tidak terungkap dalam diri manusia. Benarkah sifat mengumbar egoisme dan hedonisme diri itu merupakan kebaikan ultimat? Kaum stoic kemudian mencetuskan sesuatu yang berbeda dan berlawanan. Seperti beberapa agama yang menuntut bahwa perbuatan baik adalah menjauhi semua hal yang sifatnya sementara ini, mendekatkan diri kepada gaya hidup yang meninggalkan keinginan duniawi.

Disini saya tidak membahas jalan hidup orang yang tidak mengakui keberadaan kekekalan. Manusia yang pernah mati, belum pernah hidup kembali dan menceritakan apakah ada kehidupan setelah kematian. Yang masih hidup, belum tahu apakah ada kehidupan setelah kematian. Tapi kita semua pada akhirnya akan mengetahuinya. Dan semoga kita semua telah memilih jalan yang benar untuk menuju kepada kekekalan.

Kesemua upaya itu adalah upaya manusia dengan segala pemikiran dan agamanya yang ditawarkan ketengah dunia ini untuk mencapai kekekalan. Dan sekarang sudah dijelaskan bahwa tidak ada jalan keluar bagi manusia untuk menuju pada kekekalan. Tidak ada satu orang pun yang baik, satupun tidak. Hanya TUHAN yang baik di dalam ketidakterbatasannya, seperti yang dikatakan Plotinus dan Agustinus.

Didalam kesia-siaan upaya, kebuntuan pemikiran dalam pencarian jalan keluar, dengan apakah kita bisa mencapai kekekalan? Keputusasaan manusia memunculkan penghiburan semu dengan sikap pragmatis-nya, mengatakan bahwa semua agama itu sama, pada akhirnya nanti kita akan mencapai kekekalan dengan sendirinya; bahwa semua ini tidak perlu dipusingkan karena jika kita mengikuti siapapun yang katanya baik, kita boleh teruslah berbuat baik, nanti akan ditimbang pada akhirnya, mana yang lebih banyak, perbuatan baik atau perbuatan jahat. Dan manusia terus yakin bahwa perbuatan baiknya akan membawa dia kepada kekekalan, meskipun sudah disanggah sejak jaman Yunani kuno oleh semua pemikir besar bahwa kekekalan tidak mungkin dicapai dengan perbuatan baik, ataupun melalui perhitungan, logika, idea, dan seterusnya.

Di dalam keputusasaan ini, sekali lagi, dalam kelelahan yang sangat, saya tidak bisa tidak, mau tidak mau harus kembali pada apa yang ditulis dan dijelaskan dalam bukunya orang Kristen. Bahwa manusia tidak akan pernah mencapai kekekalan, jika kekekalan itu tidak lebih dahulu menembus dan masuk kedalam kesementaraan. Tidak ada orang yang dapat mencapai Tuhan jika Tuhan tidak terlebih dahulu membukakan jalan bagi manusia. Tidak ada jalan lain, hanya satu jalan, dan jelas bukan melalui perbuatan, melainkan melalui inisiatif Tuhan sendiri karena bagi Tuhan, tidak ada hal yang tidak mungkin dalam ketidakterbatasan pikiran Dia (pengakuan Plotinus dan Agustinus). Tuhan-nya orang Kristen mengakui sendiri dan memberitahukan (sebagai inisiator) yang berhak dia lakukan seturut dalam hukum relasi pencipta dan cipataan; bahwa tidak ada jalan lain untuk menuju kepada Dia jika tidak melalui Anak-nya yang kekal itu sebagai satu-satunya jalan “yang SATU”, supaya didalam Anak-Nya yang SATU itu, manusia bisa melakukan perbuatan yang benar-benar baik, yang tidak memiliki motif. Dialah yang SATU dan tidak terbatas yang selama ini kita cari dalam simbol tak terhingga. Dia yang tak-terhingga. Anaknya yang tak-terhingga. Kesemuanya yang TUNGGAL, yang SATU, yang ESA, bukan DUA – tetapi SATU, yang satu-satunya, karena simbol tak-terhingga bisa dioperasikan (dalam hal ini: dijumlahkan) tanpa merubah hasil selain daripada dirinya sendiri.

Tentu saja ini adalah hasil pemikiran saya. Tidak harus berlaku untuk orang lain.

Tentu saja kita semua yakin mengenai jalan yang kita masing-masing ambil. Jika tidak, tidak ada alasan untuk terus menjalani apa yang kita jalani selama ini. Tapi saya tahu persis apa yang saya lakukan adalah berdasar dan bukan merupakan fanatisme kosong.