Kegagalan Pemahaman Fenomena dari Perspektif Filsafat

Definisi dari kata fenomena dalam tulisan ini merupakan sebuah persepsi terhadap objek yang dikenali oleh pikiran ataupun oleh indra kita sebagai sebuah sebuah kenyataan. Fenomena dapat dikatakan pula sebagai suatu fakta yang dapat diobservasi dari sebuah keadaan nyata atau kejadian, baik yang dapat di terima oleh akal, maupun yang tidak.

Saya akan membagi fenomena ini dalam kaitannya dengan rasionalitas dalam pola pemikiran sebagai berikut, dalam dunia fenomena:

  1. Fenomena Natural
  2. Fenomena Supranatural
  3. Fenomena Unnatural (terj: tidak natural)

Dalam dunia rasionalitas:

  1. Rasional
  2. Suprarasional
  3. Irasional

Di dalam arus filsafat new-age (filsafat jaman baru), seringkali kita membedakan alam yang kita tinggali ini dalam dua wilayah, yaitu natural dan supernatural (atau supranatural). Wilayah supranatural ini baru-baru saja menjadi bahasan yang popular dalam dunia barat yang sebelumnya sangat anti dengan hal-hal tersebut; bertentangan dengan dunia timur yang memang sejak dahulu mengakui keberadaan alam supranatural secara mistis. Namun saya tidak membahas hal mistis atapun sains (scientology) ataupun filsafat jaman-baru, tidak dalam tulisan ini. Tulisan ini hanya akan membahas sistematika yang mendasari dan membedakan wilayah pemikiran-pemikiran tersebut diatas.

Suprarasional bukanlah irasional.

Dalam membahas rasionalisme, kita tidak dapat membahasnya secara terpisah objek dari rasionalitas tersebut, yaitu fenomena. Kita membedakan antara fenomena yang masuk akal dengan yang tidak masuk akal dalam rasional dan irasional. Hal itu tidak salah, namun kurang tajam. Karena masih ada satu wilayah dengan satu sudut pandang lagi dalam memahami fenomena, yaitu suprarasional.

Kita harus mengenali dulu apakah sebuah fenomena itu adalah fenomena natural, atau supranatural, ataukah unnatural. Dari pengenalan tersebut, kita menggunakan kerangka berpikir dan sudut pandang yang tepat untuk memahami dan menganalisa suatu fenomena. Sudut pandang atau perspektif yang keliru akan menghasilkan kesimpulan yang keliru dalam analisa terhadap fenomena.

Fenomena supranatural harus dilihat dari sudut pandang suprarasional.

Fenomena natural harus dilihat dari sudut pandang rasional.

Fenomena unnatural harus dilihat dari sudut pandang irasional.

Fakta keberadaan mistis misalnya, telah lama oleh dunia modern dianggap sebagai hal yang sifatnya irasional. Keberadaan yang disangkal kebenarannya dan tidak diakui keberadaannya karena gagal dikenali sebagai sesuatu yang ‘masuk akal’. Pertanyaannya adalah ‘masuk akal’ yang mana? Karena jelas hal mistis tidak dapat ‘diukur’ dengan tepat jika alat ukurnya keliru. Kita tidak dapat mengatakan volume air dalam botol adalah 0.3 meter; air tidak diukur dengan cara yang sedemikian. Tinggi badan saya tidak bisa diukur dengan ukuran liter.

Kekacauan sudut pandang inilah yang menyebabkan dunia ilmu pengetahuan gagal mengenali keberadaan “yang lebih besar” daripada dunia ini. Karena mereka berusaha mengkuantifikasi sebuah kualitas yang berbeda dari alam natural. Karena kurangnya pemahaman mereka mengenai fenomena supranatural dari perspektif suprarasional (dan karena mereka mempersamakan antara supranatural dengan irasional) maka mereka gagal melihat kebenaran sebuah fenomena.

Sama seperti suku terbelakang dengan pengertian mistis di area terpencil yang melihat benda terbang yang kita sebut pesawat terbang. Mereka dengan pengetahuan rasional yang terbatas memandang pesawat itu sebagai sebuah kekuatan gaib yang menopang besi hingga bisa melayang ditengah-tengah udara. Karena ada kekuatan gaib yang bisa menopang besi besar, maka besi besar tersebut kemudian disembah sebagai dewa mereka. Suku terbelakang itu gagal mengenali fakta  karena melihat sesuatu yang natural dari perspektif supranatural, dikarenakan kurangnya wawasan mereka akan ilmu pengetahuan natural dan perspektif rasional.

Unnatural adalah irasional dan tidak boleh dirasionalisasikan

Kegagalan lain yang menimbulkan kekacauan dalam dunia modern ini adalah kesalahpengertian segala sesuatu yang sifatnya unnatural yang kemudian dikategorikan dalam dunia rasional, padahal seharusnya merupakan sebuah wawasan yang irasional. Kegagalan ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan wawasan tentang esensi dan inti dari perspektif irasional. Kita mengenali dengan menggunakan akal budi kita, dengan rasional, dengan akal sehat, bahwa adalah irasional adalah ketika sekarang sedang musim dingin dan kita pergi ke pantai untuk berjemur; tidak perduli apa yang kita rasakan atau inginkan. Adalah irasional ketika kita tersesat di gurun pasir dengan persedian air sebanyak 1 liter, dan kemudian kita memutuskan untuk memandikan anjing peliharaan tersayang kita; tidak perduli betapa besar cinta kita kepada anjing itu.

Adalah irasional ketika seorang ayah memutuskan untuk menikahi anak gadisnya, dengan alasan bahwa ia sangat mencintai anak gadisnya. Tidak perduli seberapa besar rasa cinta ayah tersebut pada anak gadisnya, dan tidak perduli seberapa besar kasih gadis tersebut pada ayahnya, tindakan tersebut adalah irasional. Adalah irasional ketika seorang yang sudah menikah kemudian berhubungan seks dengan orang lain (baca: berselingkuh); tidak perduli apapun yang mereka rasakan.

Adalah irasional ketika seorang pria menikah dengan seorang pria, atau seorang wanita menikah dengan wanita lain karena salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk menghasilkan keturunan. Tidak perduli seberapa besar cinta mereka antara yang satu dengan yang lain, tindakan itu adalah unnatural.

Kesalahan dan kegagalan menggunakan perspektif yang tepat dan kemudian mencampuradukkan antara perasaan dengan rasionalitas telah merusakkan hirarki dan pengertian tentang apa yang baik, yang benar dan yang bernilai. Kekacauan yang ditimbulkan karena tidak adanya pemikiran kritis dalam masyarakat modern yang pragmatis yang malas berpikir telah mencampuradukkan rasionalitas, irasionalitas, dan suprarasionalitas.

Supranatural-Suprarasional dan Natural-Rasional

Dahulu, “suprarasional adalah irasional” dalam dunia barat –sehingga dunia barat tidak memiliki warisan agama yang beraneka seperti pada dunia timur– dan “suprarasional adalah rasional” dalam dunia timur –sehingga dunia timur tidak menghasilkan ilmu pengetahuan yang tinggi seperti pada dunia barat. Sekarang, irasional adalah rasional, dan menghasilkan kekacauan budaya dan mendirikan prinsip tatanan nilai yang rusak dan rendah.

Sepanjang sejarah, kegagalan demi kegagalan memahami fenomena alam semesta terjadi karena kegagalan menggunakan perspektif yang tepat. Contoh terakhir adalah tentang kesuksesan seorang manusia, dulu secara rasional, budaya kita mengagungkan Intelligence Quotient (IQ), menganggap bahwa sukses itu adalah jika IQ tinggi. Hingga akhirnya kita mengerti bahwa setiap manusia ternyata memiliki perbedaan kemampuan dan ketrampilan. Jika kesuksesan seekor binatang ditentukan oleh ketrampilan dia memanjat pohon, maka semua ikan dan burung adalah idiot. Maka adalah kegagalan jika manusia hanya diukur dari seberapa ahli dia dalam menalar dan berhitung dan daya bayang ruang. Sehingga muncullah Emotional Quotient (EQ, atau kecerdasan emosional), Social Quotient, Spiritual Quotient, dan seterusnya.

Entah hingga kapan manusia akan sadar dan mau mengerti bahwa setiap manusia secara rasional memiliki talent (terj: talenta) sendiri yang berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Keberadaan kita dalam dunia ini memilki tujuan tertentu yang berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain. Adalah irasional menyamakan seluruh umat manusia dalam satu takaran ukuran.

Setiap manusia memiliki peran dan fungsinya sendiri yang sifatnya suprarasional dalam posisinya terhadap alam semesta yang tidak boleh disamakan apalagi dikompetisikan dengan manusia yang lain. Inilah paradoks manusia dalam keberadaannya yang suprarasional namun adalah rasional. Bahwa IQ, EQ, SQ, tidak seharusnya ada dan adalah sebuah irasionalitas, bahwa tidak ada kesamaan antara manusia yang satu dengan yang lain. Semua ukuran atau Quotient itu adalah upaya mengukur manusia dalam keseragaman dan merupakan sebuah ketidakadilan.

Advertisements

Hukum Relasi Pencipta dan Ciptaan

Secara eksistensialis, dunia dan segala isinya adalah produk dari ciptaan suatu entitas yang kita kenal sebagai dengan berbagai sebutan; tapi saya akan menyebutkan namanya disini adalah TUHAN.

Secara sederhana, posisi eksistensialis saya berasal dari pemahaman yang dapat di jelaskan dengan singkat, yaitu bahwa:
Tidak ada sesuatupun yang berasal dan keluar dari ‘kebetulan’ bisa menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan teratur sistematik.

Tidak ada hal yang agung yang muncul sebagai akibat dari kebetulan. Tidak ada hal yang teratur yang muncul dari kebetulan. Perhatikan ke sekeliling kita, semua yang kita lihat dan kita pelajari mengikuti pola keteraturan yang memiliki ‘value system’ (terj: sistem nilai) tertentu dalam esensinya.

Mulai dari benda yang kita pakai, misalnya telepon, televisi, komputer, mobil, gedung, dan lain-lain. Sistem nilai yang ada di sekitar kita, misalnya hukum dan peraturan, tata kota, sistem pengairan, ekonomi mikro dan ekonomi makro, dan lain-lain. Semua hal lain yang berada dalam alam semesta misalnya gerak rotasi bumi dan revolusi planet, keteraturan hukum alam yang dapat diprediksi, keseimbangan ekosistem kecil dan keteraturan yang membentuk ekosistem dunia.

Kesemuanya teratur rapi. Kesemuanya berada dalam posisinya dan memiliki makna. Berdasar pada presuposisi bahwa “tidak ada sesuatu pun yang berasal dari kebetulan yang bisa memiliki nilai yang tinggi ataupun makna yang terlalu dalam”, maka saya simpulkan bahwa dunia ini adalah diciptakan.

Dunia ini dan segala isinya mengikuti Hukum Relasi Pencipta-Ciptaan.

Pakaian yang kita pakai, dibuat dengan melalui perencanaan sebelum pakaian itu dibuat. Siapa yang akan memakai (pria atau wanita), dipakai seperti apa (atasan atau bawahan atau di kaki atau tangan), dipakai oleh orang yang seperti apa (petualang pendaki gunung atau orang yang hidup di pantai), dan seterusnya.

Demikian pula dengan semua hal yang lain yang kita kerjakan. Kesemuanya yang kita lakukan pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu. Dan semua yang kita kerjakan akan memiliki maksud dan tujuan atau yang kita sebut sebagai ‘return value’ (terj: nilai kembali) kepada kita, untuk keuntungan kita.

Hukum Relasi Pencipta-Ciptaan menyatakan:

Segala sesuatu ada karena direncanakan, dibuat, dan diciptakan; berasal dari inisiatif pencipta, oleh kehendak pencipta, untuk maksud dan tujuan pencipta, dan hasil akhirnya adalah bagi kesenangan pencipta.

Hal itu berlaku untuk segala hal yang dikerjakan oleh manusia, selain daripada manusia, tidak ada makhluk di dunia ini yang sanggup memikirkan konsep maupun aplikasi penciptaan tersebut.

Demikian pula dengan dunia ini. Dunia ini dengan segala keteraturannya haruslah memiliki pencipta. Manusia sejak dahulunya telah mengenal keterbatasan diri kita dihadapkan pada alam, kita takluk dibawah hukum alam, kekuatan alam, kuasa alam yang sedemikian dashyat. Kita mencoba memanipulasi alam, memanfaatkan alam, mengelola alam, akan tetapi tidak semua bisa kita kendalikan. Alam diciptakan dengan segala keteraturannya memiliki tujuan dan fungsinya untuk menjaga keseimbangannya sendiri.

Manusia sejak dahulunya telah mengenali dalam jiwanya bahwa ada sesuatu kuasa yang lebih besar yang mengendalikan alam. Mulai dari kekuatan alam yang paling besar, hingga keteraturan partikel yang paling kecil. Itu sebabnya sepanjang sejarah, bermunculanlah berbagai macam agama, kepercayaan, yang melakukan penyembahan terhadap kuasa ultimat tersebut. Meskipun pada abad pencerahan dan abad modern sempat ada upaya untuk melarikan diri dari kenyataan itu dan mereka menolak rasionalisme terhadap hal-hal yang sifatnya melampaui alam natural. Mereka mensejajarkan keadaan supranatural, suprarasional sebagai kondisi yang irasional.

Kendatipun demikian, kita mau ataupun tidak mau, terjepit dalam fakta konsep yang menuntut kita untuk mempercayai bahwa dunia ini adalah diciptakan. Ekstensi dari pernyataan tersebut adalah bahwa kita ini diciptakan, dan bukan melalui proses kebetulan yang terjadi dalam kosmik dunia makhluk hidup: dari binatang yang tidak berbahasa, muncul manusia yang berbahasa dan memiliki pemikiran eksistensialis serta memahami konsep kronos dan kairos (waktu dan momen).

Jika kita diciptakan oleh Tuhan, maka hukum relasi pencipta-ciptaan berlaku pula terhadap diri kita:
Yaitu bahwa manusia diciptakan dari inisiatif Tuhan, oleh kehendak Tuhan, bagi rencanaTuhan dan untuk tujuan yang telah ditetapkan Tuhan sebelumnya.

Yang menarik adalah bahwa pandangan ini juga terdapat dalam buku orang Kristen. Dan disana lebih jelas lagi dikatakan bahwa kita memiliki tugas dan tanggung jawab tertentu yang dituntut oleh pencipta kita; ada pekerjaan yang harus kita lakukan seturut dengan kehendak Tuhan. Yaitu pekerjaan baik yang telah dipersiapkan bagi kita sejak sebelum manusia dijadikan.

Akibat dari proposisi itu, berarti kita yang mengerti bahwa kita diciptakan oleh Tuhan, tidak diperkenankan untuk sembarangan hidup menurut sesuka hati sendiri dan melakukan semua yang kita mau hanya karena kita bisa. Secara tanggung jawab moral dalam kehidupan keseharian pun kita tidak diijinkan untuk bertindak lain daripada yang ditetapkan dalam batasan tanggung jawab dan hak kita.

Konsekuensi dari berlakunya Hukum Relasi Pencipta-Ciptaan ini seharusnya membuat manusia, yang katanya beragama dan mengakui Tuhan sebagai pemilik kuasa terbesar, menjadi makhluk yang menjaga hidup secara bertanggung jawab, menggunakan moralitas yang baik, dengan kebijaksanaan yang tinggi, mengerjakan segala sesuatu dengan berpikir panjang tentang segala sebab dan akibat yang dimasa sekarang maupun nanti dimasa yang akan datang. Manusia yang mengakui Tuhan itu seharusnya memiliki pengertian lebih dan memiliki hidup yang mengarah pada tujuan hidup yang ditetapkan seturut dengan tujuan penciptaan.

Kita mengenal kalimat, “Segala sesuatu terjadi pasti ada alasannya.”
Jadi apa alasan kita berada di dunia ini? Kita dilahirkan dalam dunia dimana “moralitas” merongrong kita sejak masa kecil kita, menuntut kita untuk melakukan perbuatan yang dipandang baik dan pantas. Dan terlebih daripada tuntutan moral, semua agama mengajarkan perbuatan mengenai kebaikan yang harus dilakukan. Dan beberapa agama yang lebih agung mengajarkan kita untuk mengejar kebaikan bagi seluruh umat manusia dan menjadi berkat dimanapun kita berada. Dan agama yang lebih agung lagi mengajarkan untuk mengasihi semua manusia seperti kita mengasihi diri sendiri, untuk mengasihi manusia lain sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan, bahkan hingga kita rela mengorbankan nyawa untuk supaya menjadi berkat dalam kehidupan orang lain.

Itulah tujuan kita diciptakan. Tujuan manusia berada dalam dunia ini.
Untuk memelihara dan mengelola dunia dan alam dibawah kita, dan menjadi makhluk yang bertanggung jawab terhadap pencipta kita. Bukan untuk hidup sesuka hati kita.
Sama seperti kita mengharapkan bahwa semua yang kita ciptakan haruslah berfungsi seturut dengan tujuan yang maksudkan, menghasilkan nilai seperti yang kita rencanakan. Dan semua yang tidak berfungsi seperti yang kita mau, kita kategorikan sebagai ciptaan yang rusak, dan semua yang rusak akan berakhir di tempat sampah.

Pragmatisme dalam Sosiologi Modern

Pragmatisme, secara sederhana, adalah gerakan filsafat yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan atau pemikiran atau tindakan dianggap benar jika bisa dimaanfatkan atau difungsikan dan berhasil dengan memuaskan. Sebagai ekstensi dari pemikiran ini, pernyataan atau pemikiran atau tindakan yang sifatnya pragmatis, selalu mengarah kepada hal yang praktis, yang harus dapat diterima dengan mudah, dilakukan dengan gampang, dan menyelesaikan masalah dengan hasil yang dapat dilihat dengan segera sebagai takaran “berhasil dengan memuaskan”. Konsekuensinya, segala ide, pemikiran, konsep, teori yang sifatnya tidak bersinggungan langsung dengan aspek praktika dengan segera ditolak.

Di tengah-tengah masyarakat modern, sebagian besar manusia hidup dengan cara yang pragmatis. Entah sadar ataupun tidak sadar, filsafat ini telah mencengkeram pola pikir manusia modern. Entah mereka mengerti atau tidak, pernah mendengar atau bahkan tidak pernah mendengar istilah ini, masyarakat modern melakukan dan mengikuti filsafat pragmatisme.

Contoh yang sangat saya sukai adalah sebagai berikut:

  • Ku tahu yang ku mau  : termasuk didalam gerakan humanisme
  • Emang gua pikirin        : termasuk didalam gerakan post-modernisme
  • Ah, teori                       : termasuk didalam gerakan pragmatisme

Ketidakperdulian terhadap semua pengertian tentang berbagai aliran pemikiran dan filsafat yang berada dalam arus budaya, teknologi, dan sosial dalam masyarakat; termasuk ketidakperdulian terhadap contoh pokok pemikiran yang saya utarakan diatas juga adalah hasil dari arus pragmatisme. Mereka hidup pragmatis, namun mereka tidak tahu bahwa mereka pragmatis. Mereka dalam keseharian hidup humanis, oportunis, utilitarianis, tapi tidak pernah tahu apakah semua -isme itu; kendatipun semuanya sudah mereka kerjakan.

Masyarakat modern semakin tidak memperdulikan konsep dan pemikiran yang baik dan benar dan bernilai. Mereka mengejar segala sesuatu yang sifatnya praktis, menguntungkan, demi kepentingan sendiri, dan untuk masa sekarang ini, detik ini juga. Mereka tidak cukup sabar untuk berpikir jauh kedepan, menabur untuk menuai di kemudian hari. Kita berada dalam dunia berbudaya “mie-instan”. Pemikiran dan pertimbangan jangka panjang, sikap yang perduli terhadap penalaran yang baik telah ditinggalkan. Rasa keingintahuan tentang banyak hal sudah semakin menipis dan diabaikan.

Budaya pragmatisme merusak struktur dan integritas sosial dalam dunia modern dan akan terus berlanjut dalam masa yang akan datang.

Berikut akan saya berikan beberapa contoh akibat filsafat pragmatisme:

  • Siswa sekolah hanya untuk mendapat nilai yang baik, lulus dengan gelar, entah bagaimana pun caranya. Mereka bukan sekolah untuk mencapai suatu taraf ilmu untuk mengejar nilai dan kualitas hidup dan didikan yang tinggi.
  • Pelajar yang belajar satu macam bidang tidak perduli tentang bidang yang lain, tidak perduli tentang kaitan ilmu yang dia pelajari dengan berbagai bidang dalam hidupnya. Mereka tidak tertarik untuk mempelajari hal yang mereka anggap tidak relevan.
  • Anak-anak dididik oleh orang tua dan guru bukan untuk menjadi manusia yang dewasa, bermoral baik, berintegritas, agung, suci, memiliki intelektual yang tinggi. Mereka dididik supaya PANDAI. Untuk apa pandai? Supaya kaya.
    Saya tidak pernah mengerti kaitan pandai dengan kaya. Karena saya banyak sekali melihat orang kaya yang sama sekali rendah dan bodoh.
  • Kualitas manusia yang pragmatis, menghasilkan segala sesuatu yang mutunya tidak tinggi. Barang hasil manufaktur dan industri memiliki kualitas yang rendah karena semakin pendek masa pakai suatu produk, semakin sering produk itu harus dibeli, sehingga keuntungan produsen akan terus meningkat.
  • Manajemen di berbagai bidang termasuk didalamnya mulai dari perusahaan hingga pada pemerintahan sebuah Negara menghasilkan putusan-putusan yang sifatnya pragmatis, spesifik untuk menyelesaikan kasus khusus, namun karena dilakukan tanpa landasan pemikiran dan wawasan yang jelas (karena memikirkan itu semua adalah terlalu merepotkan) sehingga hasil keputusan hampir selalu menimbulkan permasalahan baru.
  • Budaya korupsi juga merupakan hasil dari pragmatisme. Pejabat belajar supaya pintar, pintar supaya kaya. Setelah menjabat, dia perlu kaya. Apapun caranya.
  • Manusia yang katanya beragama memiliki kehidupan yang terpecah-pecah dan fragmental. Mereka hanya baik di dalam rumah ibadah, hanya baik ketika menjalankan ritual agama, namun hidupnya di luar menjadi liar karena mereka menganggap bahwa hidup suci di dalam dunia keseharian dan dunia kerja itu tidak praktis dan merugikan. Sebuah perilaku yang merepotkan dan tidak ada manfaatnya.

Semuanya di atas adalah sebagian contoh kecil pengaruh filsafat pragmatisme dalam masyarakat. Dan masalah terbesar dengan masyarakat pragmatis adalah tidak ada seorangpun mau tahu mengenai apakah itu pragmatisme karena mempelajari dan mengerti pragmatisme itu sangat tidak praktis dan merepotkan dan tidak memiliki nilai apapun.

Untuk menyelesaikan membaca tulisan ini pun mereka tidak mau, karena ini hanya teori kosong. “Ah, teori..!” Saya yakin saya sudah mendengar kata itu diucapkan pada saat kalimat pertama tulisan ini dibaca, tapi mereka tidak tahu bahwa saya sudah tahu bahwa mereka tidak mau tahu.

Di akhir pembahasan ini, saya perlu memberikan keseimbangan, –katakanlah– sebuah paradoks. Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa pragmatisme adalah keburukan yang harus dihindari sepenuhnya.

Dalam realita kehidupan kita yang jauh dari ideal dalam idealisme yang ada pada diri kita tentang segala sesuatu yang baik, yang benar, dan yang bernilai tinggi yang harus kita capai, kita harus hidup dengan cara yang sedemikian sehingga kita hidup seturut dengan kondisi masyarakat. Dengan kata lain: kita perlu hidup secara –sampai pada suatu titik–  pragmatis.

Kita akan sangat kesulitan dan terjepit jika kita hidup dalam konstruksi pikiran yang idealis sepanjang waktu. Namun itu tidak berarti bahwa kita boleh hidup berlawanan dengan idealisme untuk berada dalam pragmatisme total. Di sinilah letak paradoks kebenaran antara pragmatisme dan idealisme.

Dengan demikian, saya akan menyodorkan sebuah definisi tentang pragmatisme dalam paradoksnya dengan idealisme dari kitab orang Kristen:

Pragmatisme adalah mencari cara hidup yang terbaik dari semua yang sudah memburuk untuk mencapai tujuan dari suatu idealisme ditengah-tengah kehidupan dalam dunia nyata yang jauh dari ideal. Bukannya idealisme menjadikan kita bersungut-sungut dan mengeluh bahwa dunia ini seharusnya tidak begini. Ketika kita hidup pragmatis, kita menerima kenyataan bahwa dunia ini adalah sedemikian rusak dan tidak akan berubah, sekalipun kita tidak menyukainya. Kita menggali segala kemungkinan dan mengaitkan segala hubungan yang mengatur hidup kita secara totalitas dan menggunakan kekuatan konseptual itu untuk menarik dunia disekitar kita menjadi lebih baik.

Pragmatisme memiliki makna bahwa kita melihat kepada pemikiran dan perilaku kita sambil menanyakan pada diri kita sendiri, apa yang bisa saya perbuat? Apakah pemikiran dan perilaku saya membawa saya semakin hari semakin baik menuju kepada idealisme saya? Apakah hidup saya semakin hari semakin diproses dan semakin diperbaharui seturut dengan pembaharuan akal budi saya?

Contoh mudahnya adalah sedemikian:
Ketika kita bersama-sama dengan semua pemakai jalan raya; keadaan mulai memburuk dengan kemacetan dan semua orang mulai tidak mau mengalah dan saling serobot mendahulukan kepentingan mereka masing-masing dengan sejuta alasan dan pembenaran diri.

Idealisme dalam diri kita mulai mengkritisi kondisi tersebut, seharusnya kalau mau bergiliran jalan dan tidak saling serobot, kita semua akan mendapat gilirannya dan semua akan berakhir baik. Tapi kita pun berpikir, kalau saya terus mengalah, saya akan jadi korban dan saya tidak akan mendapat giliran untuk jalan.

Secara pragmatis, kita akan mulai ikut main dengan situasi dan mulai ikut menyerobot.
Secara idealis, kita akan menanti dan mengalah dan kita akan berada dalam kemacetan itu selama-lamanya.
Benarkah demikian? Tidak bisakah kita menilai situasi secara berbeda selain daripada pragmatis atau idealis? Atau mungkinkah kita dalam waktu yang sama, bersikap pragmatis DAN idealis? Mengambil sikap paradoks, tidak menambahi kekacauan, namun juga tidak mengalah dengan buta dan mengorbankan diri sendiri; Mengerti kewajiban kita yang sama dengan pengguna jalan yang lain, namun tidak bersikap sembarangan dalam menggunakan hak kita.

A beautiful thing is never perfect.

Terjemahan: Sesuatu yang indah tidak pernah sempurna.

Paradoks dalam Pencarian Kebenaran

Sebuah paradoks adalah keberadaan dua pernyataan (terkadang dapat pula berupa kumpulan pernyataan) yang tampaknya benar namun lebih menyerupai kontradiksi atau mengarah pada sebuah situasi yang terlihat sepertinya bertentangan dengan logika ataupun intuisi. Kompleksitas dari sebuah padaroks seringkali disalahartikan dengan kontradiksi, dan penalaran dalam paradoks seringkali disederhanakan sampai hanya tersisa satu situasi dimana salah satu atau semua pernyataan dalam sebuah paradoks itu adalah salah.

Sementara itu, untuk bisa memahami sebuah kebenaran yang sifatnya adalah benar-benar BENAR, maka pengertian di dalam konsep paradoks harus sanggup menjelaskan bahwa kedua pernyataan (atau semua pernyataan) dalam sebuah paradoks tentang kebenaran adalah benar-benar BENAR dan merupakan kesatuan yang utuh dan tidak berkontradiksi antara pernyataan yang satu dengan pernyataan yang lain.­­­­­

Ketika kita berusaha membangun konsep yang benar-benar BENAR, akan bermunculan banyak konsep dan opini. Jika didalam konsep dan opini tersebut terdapat kontradiksi dan perkecualian, maka setiap pernyataan-pernyataan tersebut dengan sendirinya akan bersifat saling melemahkan dan saling menghancurkan keutuhan dari keseluruhan (integrasi dan holistik) konsep yang diajukan. Semakin kompleks konsep yang dipaparkan, semakin banyak pernyataan yang dimunculkan, maka semakin banyak kontradiksi yang akan menimbulkan pertentangan didalam dirinya sendiri yang bersifat menghancurkan (baca: self destruct).
Di sinilah pentingnya pemahaman secara paradoks yang harus mampu menggabungkan semua konsep yang tampaknya bertentangan menjadi sebuah pengertian yang utuh membentuk kerangka yang kokoh.

Sambil lalu, akan saya coba memberikan gambaran singkat mengenai hal tersebut:
Pada dasarnya, kita berusaha mencari kebenaran. Kita mau sesuatu yang benar. Sesuatu yang sejatinya benar. Sebuah kondisi yang benar-benar BENAR. Kita tidak mau yang palsu, atau yang tidak benar-benar BENAR. Kita juga tidak mau yang tidak benar-benar tidak BENAR. Yang paling tidak kita inginkan adalah yang salah, atau dengan kata lain, kondisi yang benar-benar tidak BENAR. Namun terlepas dari keinginan atau idealisme kita, seringkali kita tidak memiliki dasar pengertian yang cukup untuk bisa memahami dan menemukan kondisi yang benar-benar BENAR berikut dengan sifat paradoksnya. Atau dalam era pragmatisme sekarang ini, sebagian kita terlalu malas untuk berusaha mencari kebenaran yang sejati. Seperti yang dilakukan beberapa orang yang akan langsung berhenti membaca tulisan ini dan tidak tergelitik rasa keingintahuan mereka ketika dihadapkan pada pemikiran yang rumit.

Kebenaran yang sejati tidak akan pernah lepas dari paradoks. Semua kebenaran yang benar-benar BENAR selalu akan berbentuk paradoks. Karena didalam paradoks akan ditemukan keadaan yang saling seimbang didalam pemikiran dan konsep yang seakan bertentangan, namun tidak saling menghancurkan.

“The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposed ideas in the mind at the same time, and still retain the ability to function.” – F. Scott Fitzgerald

Terjemahan: Ujian bagi kecerdasan kelas atas adalah kesanggupan untuk memfasilitasi dan memikirkan dua ide yang bertentangan dalam satu waktu, dan tetap memiliki kesanggupan untuk membentuk pengertian yang utuh.

Ketika seseorang melanjutkan perenungan dan pemikiran analitik dalam kondisi yang sulit, yang lainnya menyerah dalam pragmatisme dan berbalik arah. Mereka akan mencari jawaban mudah berupa YA atau TIDAK, BENAR atau SALAH, namun tidak akan pernah memahami alasan dan pemikiran yang melandasi jawabannya. Mereka hanya menjadi budak dari pemikiran orang lain yang tidak tentu merupakan kebenaran sejati. Adalah sebuah kebohongan belaka ketika mereka berkata dan berupaya meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka tidak suka dibohongi dan mencari kebenaran. Mereka dengan buta mempercayai sesuatu dalam fanatisme kosong.

Saya akan menjelaskan sedikit tentang runutan proses pembentukan pengertian dan pengetahuan, sebelum menyinggung dimana letak paradoks sesungguhnya didalam pemikiran.

Paradoks akan dapat kita temukan dimana-mana disekeliling kita. Kebenaran yang benar-benar BENAR ditanamkan didalam dunia sekeliling kita supaya melalui semua yang kita lihat dan alami, kita mau tidak mau harus mengakui bahwa ada yang benar-benar BENAR, setengah BENAR, dan yang tidak BENAR. Memang tidak semua dari kita sanggup membongkar penjelasan secara tuntas, namun kita tahu realita itu; dibuktikan dengan tekad yang ada dalam diri setiap orang yang katanya tidak suka dibohongi dan lebih suka segala sesuatu yang BENAR.

Kebenaran itu terbentang mulai dari semua yang bisa kita pikirkan dalam dunia ilmu pengetahuan (yang dulunya juga tidak kita ketahui, namun sekarang kita ketahui, beberapa hingga tuntas, sementara sebagian lain belum tuntas) yang sifatnya fisik dan natural. Ilmu pengetahuan ini merupakan ilmu yang kita pelajari terhadap alam dalam fisika, fisika teoretis, biologi, quantum teknologi, faal, dan seterusnya.
Terus berlanjut pada dunia pemikiran yang berkesetaraan dengan dunia fisik, yaitu alam rasio dan logika; kita mengenal pemikiran-pemikiran yang masuk akal kita secara umum dalam dasar ilmu pengetahuan, yang kita sebut sebagai rasionalitas. Kita mempelajari hubungan kita berelasi dengan sesama, dengan alam sekitar, dalam pengertian yang bersifat keilmuan bidang ekonomi, manajemen, psikologi, psikiatri, filosofi, dan seterusnya.
Kemudian kita berlanjut pada dunia yang melampaui dunia fisik, dalam dunia yang hampir tidak terpahami secara natural, logika, atau rasional sekalipun. Dunia modern sejak abad pencerahan tidak menganggap bagian ini sebagai ilmu, melainkan sebagai dunia yang tidak logis, tidak rasional, dan tidak ilmiah. Mereka menganggap bidang ini merupakan bidang angan-angan dan tidak bisa dibuktikan. Namun sebagai bagian dari orang yang menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kita di luar sana, kita sangat mengerti pentingnya bagian pemikiran ini dalam prinsip dan keutuhan pemikiran kita didalam kaitannya dengan mencari kebenaran. Ini adalah dunia suprarasional dalam alam supranatural, yang berusaha dijelaskan oleh metafisika, filsafat ontology, epistemology, dan seterusnya. Dan ini adalah wilayah dimana ideologi berada.

Segera setelah ilmu filsafat menyentuh batasan dinding yang tidak kelihatan antara yang “sanggup diketahui” dengan “yang tidak mudah dipahami” hingga pada “yang tidak mungkin diketahui” yang menjadi area abu-abu antara filsafat dan agama, tiba-tiba saja peran logika menjadi sedemikian kecil dan orang-orang yang katanya rasional mengatakan bahwa religi adalah upaya pelarian manusia dari usaha-usaha mencari jawaban yang “masuk akal”.

Mari kita simak sejenak contoh kasus berikut:
Kenapa es batu mengapung, padahal dia padat dan memuai (anomali air), dan es pun sejatinya berasal dari air. Orang-orang ilmiah akan mulai berbicara tentang berat jenis, hukum perkecualian air, penampang atau tegangan permukaan air, dan seterusnya. Banyak orang akan dengan mudah setuju, menganggap itu sebagai penjelasan dan kebenaran. Sesuatu yang benar-benar BENAR.
Namun ketika religi menyodorkan jawabannya, bahwa Tuhan menciptakan makhluk dalam air, jika es tenggelam, banyak makhluk air akan mati. Kalau air membeku mulai dari bawah, dan terus membeku, kemana makhluk air bisa lari, bagaimana tumbuhan dalam air bisa hidup, bagaimana ekosistem air bisa terjaga. Jawaban itu dianggap sebagai kebodohan bagi dunia sains. Tiba-tiba saja, jawaban itu dinyatakan tidak sah dan tidak dapat diterima, walaupun memiliki kerangka pemikiran yang tidak dapat disanggah oleh orang-orang yang katanya rasional.

Filsafat itu sendiri, sebagai bidang yang mempelajari dan mempertanyakan segala sesuatu, terbentang dari dunia (realm) yang nyata, kepada yang bisa diketahui, kemudian hingga konsep abstrak, sampai pada hal yang mungkin dapat diketahui, dan berhenti pada yang tidak mungkin diketahui, dimana beberapa jawaban tampaknya lebih memiliki basis rasional yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban yang lain yang lebih seperti tebakan-tebakan yang sifatnya untung-untungan.

Bagi mereka yang memiliki wawasan memadai dan mendalam mengenai beberapa ideologi religius (baca: iman), mereka memiliki kesanggupan untuk menarik area filsafat sedikit lebih jauh kedalam batasan hal yang tidak mungkin diketahui dengan keyakinan (baca: iman) yang mereka miliki, sebelum semuanya menjadi sama sekali gelap. Tentunya, seperti halnya ilmu pengetahuan dan filsafat, ada iman yang memiliki sistematika lebih baik dibandingkan dengan iman yang lain.

Permasalahan terbesar dengan iman adalah sedemikian: untuk agar iman memiliki kekuatan dan integritas yang cukup untuk menjelaskan segala sesuatu yang melampaui natur dan ilmu pengetahuan, serta menjawab segala hal yang dipertanyakan oleh filsafat, maka iman itu sendiri harus memiliki dukungan dari pengertian dan konsep yang jelas dan sistematis. Bukan fanatisme kosong belaka. Fanatisme tidak mampu menjawab apapun dalam bidang apapun, jika fanatisme tidak mengarah dan tidak didasari oleh pengertian yang cukup. Celakanya, para fanatik seringkali buta dan tuli.

“A fanatic is one who can’t change his mind and won’t change the subject.” – Winston Churchill

Terjemahan: Seorang fanatik adalah orang yang tidak bisa merubah pikirannya dan tidak mau merubah topik subjek pembicaraannya.

Demikian kita sudah membahas tentang runutan pengertian, rasionalitas, dan logika. Mengenai paradoks, semakin kita mendekati kepada hal yang tidak bisa kita mengerti secara tuntas, semakin paradoks akan membantu kita mendekati pada kebenaran yang sifatnya benar-benar BENAR. Semakin jauh kita melangkah, semakin rumit paradoks yang ada dan semakin sulit untuk menyelesaikan paradoks yang muncul untuk bisa kita mengerti dalam pemikiran kita.

Sebagai gambaran:
Di alam yang bisa kita lihat, ilmu pengetahuan alam, kita melihat cahaya warna putih. Benarkah cahaya itu berwarna putih? Benarkah sinar matahari itu putih? Ataukah warna putih itu sebenarnya tidak ada, melainkan adalah spektrum dari jutaan warna yang terbaur dan menimbulkan sinar yang putih. Jadi, apakah warna sinar matahari? Putih atau jutaan warna yang namanya pun tidak sanggup disebutkan. Jawabannya adalah sinar matahari berwarna putih DAN jutaan warna. Itulah paradoks. Warna sinar matahari bukan putih. Warna sinar matahari bukan jutaan warna.

Contoh lain lagi:
Demikian pula dalam simbol “tak terhingga” (infinity symbol). Apakah di dunia ini yang tidak terhingga? Mengapa kita bersikeras meletakkan simbol tersebut didalam ilmu pengetahuan kita? Tidak ada di dunia yang kita tinggali ini yang bahkan secara konsep bisa dikatakan tidak terhingga. Nilai yang terbesar pun memiliki nilai, memiliki ukuran yang tidak bisa dikatakan “tidak terhingga”. Ini adalah konsep paradoks, ketika kita mencoba menghubungkan antara dunia kita yang bersifat terbatas, dengan sesuatu yang sifatnya tidak terbatas.

Penjelasan yang menarik dari buku Kristen adalah bahwa satu-satunya didunia ini yang bersifat tidak terhingga adalah manusia. Paradoks lain lagi dalam alam ini. Sementara semua disekitar manusia dalam alam semesta bersifat terhingga, jiwa manusia memiliki sifat yang tidak terhingga. Sehingga manusia itu sendiri pada dasarnya adalah paradoks. Manusia terbatas usianya DAN manusia memiliki unsur kekekalan.

Didalam area pemikiran kita, mulai dari yang bisa diketahui hingga yang tidak mungkin diketahui, paradoks-paradoks kecil tersebar berupa kebenaran-kebenaran yang benar-benar BENAR didalam ilmu pengetahuan, filsafat, dan religi, dan seterusnya. Dan ketika kita tidak berhasil memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, maka petualangan kita mencari kebenaran yang lebih agung dari tempat yang rendah (yaitu alam) ke yang lebih tinggi (yaitu ideologi dan iman) akan menjadi sesat dan menyimpang.

Area abu-abu antara yang “mungkin bisa diketahui” dengan yang “hanya bisa diketahui melalui iman/keyakinan” itu terdapat paradoks yang sifatnya ultimat. Paradoks terbesar itulah yang menjadi pintu masuk kepada pengertian yang benar-benar BENAR. Ketika seseorang gagal dan menyimpang dari paradoks terbesar ini, dia akan membuahkan pemikiran-pemikiran dan tebakan-tebakan yang keliru dalam menginterpretasikan kebenaran yang benar-benar BENAR (kebenaran yang sejati), berikut dengan semua “paradoks kecil”-nya.

Kita mengenal ada pemikir-pemikir besar sepanjang sejarah yang berhasil mengikuti jejak-jejak paradoks-paradoks kecil, namun tidak menemukan paradoks ultimat. Mengakibatkan dia tidak tuntas pada pendefinisian dan pengertian didalam pencariannya untuk memahami kebenaran sejati.

Ada pemikir-pemikir besar lain lagi yang sanggup memahami paradoks ultimat ini, dia menemukan kebenaran yang benar-benar BENAR, dan melalui pemahaman tersebut, dia sanggup menemukan dan membongkar sebagian paradoks-paradoks kecil yang tersebar dalam alam semesta.
Walaupun tidak bisa tuntas memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, karena alam yang terbatas ini pun sedemikian luas dan besar sehingga tidak dimungkinkan untuk dipahami secara tuntas. Hal inilah yang memicu dan kemudian mengakibatkan munculnya simbol “tak terhingga” ditengah-tengah realm yang seharusnya “terhingga”. Sebuah pengertian akan adanya sesuatu yang tidak berbatas ditengah-tengah keterbatasan realm yang kita tinggali ini. Sebuah fenomena tentang “kekekalan” yang tampak nyata namun tidak tersentuh. Sebuah realm yang ditengarai sebagai sebuah eksistensi, namun tidak merupakan sebuah eksistensi: itulah paradoks yang lain lagi.

Didalam banyak hal, paradoks adalah satu-satunya cara untuk memahami kompleksitas alur berpikir, sudut pandang, dan aspek-aspek penting dari berbagai macam pikiran-pikiran. Namun, perlu dipahami bahwa ketika sebuah paradoks “mampu dimengerti” tidak berarti bahwa paradoks itu “mampu diterima”.

Sekali lagi, buku orang Kristen membukakan kepada kita bahwa paradoks ultimat yang sudah diterima hanya mampu untuk dimengerti ketika seseorang mau tunduk mutlak dibawah penerimaan akan sesuatu yang tidak dia mengerti. Jadi, manakah yang terlebih dahulu muncul, pengertian atau penerimaan? Orang harus menerima dulu baru sanggup mengerti, atau harus mengerti  dulu baru bisa menerima? Sebuah paradoks yang harus disimpulkan masing-masing orang.

Seperti dalam hal pembelajaran. Bagaimana seseorang mampu belajar? Pertama-tama dia harus terlebih dahulu percaya bahwa guru yang mengajar dia adalah benar. Tapi dari mana dia bisa tahu bahwa guru itu benar jika dia belum belajar apapun juga? Jika dia sudah belajar dan sudah merasa tahu atau lebih tahu dari gurunya, buat apa lagi dia mau belajar, karena tidak ada yang dapat ia pelajari kalau ia sudah tahu.

Kembali pada kasus ”pengertian dan penerimaan” diatas. Jika seseorang belum mengerti, bagaimana ia bisa menerima dan percaya akan kebenaran suatu paradoks. Jika seseorang tidak mau menerima sebuah paradoks, bagaimana ia bisa mempelajari hingga mencapai pengertian. Pertanyaan ini sudah saya jawab diatas.

Fanatisme dari perspektif Psikologi

Fanatisme atau fanaticism adalah sebuah pandangan atau pendapat yang ekstrem mengenai suatu pemikiran ataupun objek tertentu; seringkali lebih dikaitkan terhadap suatu konsep kepercayaan atau dogma atau paradigma. Fanatisme tidak pernah menarik untuk dibahas jika hanya mengarah pada merek mobil, alat elektronik, pakaian atau asesoris, atau gaya hidup dan kegemaran akan makanan. Namun ketika fanatisme muncul pada sebuah pandangan politik atau ideologi, issue ini menjadi sangat menarik untuk diperhatikan.

Dikatakan “menarik untuk diperhatikan” karena ketika perilaku fanatisme dibandingkan antara yang mengarah kepada objek tertentu dan yang mengarah kepada politik atau ideologi tertentu, maka akan ditemukan bahwa tidak seorangpun berkenan untuk “berdebat” atau “berargumentasi” sengit ketika membicarakan dan membandingkan objek tertentu. Sebagai contoh, tidak seorangpun berkelahi ketika berbicara tentang fanatisme terhadap merek mobil A dengan merek mobil B. Tidak seorangpun berargumen sengit ketika berbicara tentang fanatisme terhadap makanan dari restoran A dengan makanan yang sama dari restoran B.

Hampir dapat dipastikan, tentunya pendapat dan pandangan masing-masing pihak terhadap objek tertentu dapat diperdebatkan karena telah ada perbedaan analisa ketika membandingkan antara objek satu dengan objek lain. Perbedaan analisa tersebut muncul karena ada perbedaan sudut pandang secara kualitas baik dari segi kebenaran, nilai, moralitas, kaidah, manfaat, maupun variabel yang lain. Itulah sebagian kecil dari variabel-variabel yang mendasari dan akan menentukan mengapa seseorang mengambil sikap (baca: fanatisme) tertentu terhadap suatu objek.

Atau benarkah demikian adanya? Benarkah bahwa fanatisme adalah produk dari pertimbangan rasional yang sudah teruji dan dipertimbangkan serta diketahui secara tuntas, atau mendekati tuntas, atau minimal telah melingkupi sebagian besar pokok-pokok pikiran. Hal lain lagi yang menarik untuk diperhatikan.

Untuk dapat membandingkan dua merek pakaian, dan kemudian memilih merek tertentu yang akan disukai secara konsisten (baca: fanatik), seseorang haruslah melalui sebuah proses kognitif untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan seakurat mungkin, kemudian dapat ditarik sebuah kesimpulan yang valid, baik dan benar. Kedua merek tersebut dibandingkan, mulai dari desain dan siapa desainernya, pemilihan bahan, kehalusan pembuatan, dan banyak faktor yang lain. Bagaimana dengan memilih sebuah partai politik tertentu, atau ideologi tertentu, atau agama tertentu? Tanpa memiliki data statistik yang akurat, saya cukup yakin bahwa sebagian kita akan setuju terhadap pandangan saya bahwa ‘banyak’ orang-orang yang tidak melakukan proses kognitif yang seharusnya dia jalankan ketika mereka menjatuhkan pilihan pada objek politik atau ideologi tertentu.

Jika demikian halnya, bahwa pengambilan keputusan tersebut tidak didasarkan pada proses berpikir yang mengarah pada pengambilan kesimpulan, lalu dengan apakah seseorang memutuskan pilihan pada objek politik atau ideologinya? Dengan presuposisi apa dia melakukan pemilihan? Dengan perasaan belaka kah? Apakah perasaan tersebut bisa dipertanggungjawabkan dan dijelaskan?

Jawabannya adalah dengan keyakinan (baca: iman).

Tetapi keyakinan itu sendiri tidak akan pernah cukup jika tidak kemudian dilanjutkan dengan proses kognitif yang memadai. Cara berpikir pragmatis (atau filsafat pragmatisme) yang melanda era jaman post-modern telah membuat manusia sangat malas berpikir dan menghilangkan sifat keingintahuan tentang begitu banyak hal. Bahkan bisa dikatakan bahwa mereka tidak perduli dengan apapun yang terjadi disekitar mereka kecuali mereka ikut merasakan dampaknya. Mereka tidak berusaha belajar dari pengalaman orang lain, mereka tidak berusaha mengerti dalam keluasan dan wawasan serta sudut pandang yang kritis tentang apapun, mereka bahkan tidak berniat belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Keyakinan adalah yang mendahului semua proses pembelajaran kita sejak masa kecil kita. Kita yakin bahwa kalimat yang diucapkan oleh guru kita adalah benar. Kita yakin bahwa tulisan yang berada dalam buku pelajaran kita adalah benar. Kita yakin bahwa sekolah yang kita masuki akan memberikan kita ilmu yang benar. Tanpa keyakinan, kita tidak akan belajar apapun juga.

“Credo ut intelligam” (I believe so that I may understand) – Anselm of Canterbury

Terjemahan: Aku percaya supaya aku bisa mengerti

Fanatisme dalam dunia politik dan ideologi/agama adalah seperti meyakini bahwa “1 + 1 = 2”. Itu saja. Sesederhana itu. Atau paling tidak, itu yang saya kira. Seorang fanatik adalah orang yang sedemikian yakin bahwa dia sedang mempercayai dan melakukan kebenaran, dia tidak perduli dengan pendapat orang lain, dia tidak dapat diyakinkan sebaliknya. Percaya diri. Itu seharusnya bagus. Paling tidak, saya kira itu bagus.

Tentu saja itu akan menjadi mudah ketika seseorang dihadapkan pada “1 + 1 = 2”, atau ketika dia dihadapkan pada persoalan untuk memilih pakaian atau mobil atau makanan seperti pada contoh kita diatas. Tapi ternyata fanatisme tidak sesederhana yang saya kira.

Fanatisme lebih mengarah pada perilaku obsesif yang ekstrem di dalam diri seseorang untuk meyakinkan dirinya sendiri mengenai pandangannya terhadap objek fanatismenya. Dia meyakinkan dirinya sendiri sampai pada tahap bahwa dia yakin dan percaya bahwa dia tidak bersalah dalam pandangannya terhadap sebuah objek. Ini adalah sebuah keyakinan, ini bukan lagi tentang pemikiran dan pertimbangan, ataupun proses kognitif.

Lebih jauh lagi, mereka tidak hanya yakin bahwa mereka adalah benar. Melainkan mereka yakin bahwa mereka tidak mungkin bersalah, dan tidak akan pernah bersalah mengenai konsep politik atau ideologi atau bahkan dalam seluruh sistem kepercayaan yang mereka miliki. Dan karena mereka sedemikian yakin bahwa mereka adalah pada dasarnya merupakan kebenaran, mereka akan memunculkan pandangan itu dalam perilaku mereka dengan derajat yang berbeda-beda.

Beberapa menunjukkan dalam sikap defensif yang berlebihan dengan ketakutan bahwa keyakinan mereka akan dirobohkan kemudian kehilangan keyakinan yang menjadi jati diri mereka. Yang lainnya menunjukkan sikap ofensif dengan selalu membicarakan topik yang sama dan mengajak orang lain berdebat untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan menunjukkan sikap permusuhan ketika argumennya dipatahkan.

Orang-orang tersebut menjaga fanatisme yang mereka miliki bukan dengan pengetahuan yang cukup, melainkan dengan keyakinan yang mereka lindungi sedemikian sehingga mereka secara konsisten mencari untuk bergabung dengan orang-orang yang setuju dengan mereka dan memupuk kepercayaan diri mereka dengan cara yang salah. Dan sekali lagi perkiraan saya salah. Itu tidak bagus.

Tadi saya mengambil contoh mengenai proses belajar. Bahwa untuk bisa belajar, kita harus memiliki keyakinan bahwa sumber pembelajaran kita adalah benar. Keyakinan adalah yang memulai segala proses pembelajaran kita. Kita harus yakin (baca: fanatik) dulu bahwa apa yang kita yakini adalah kebenaran. Dan proses ini mendahului proses kognitif yang kita miliki. Ini adalah paradoks dalam proses pembelajaran. Bagaimana kita bisa yakin bahwa yang kita pelajari itu adalah benar jika kita belum tahu apakah yang akan kita pelajari itu benar? Tapi jika kita tidak mau yakin bahwa apa yang kita pelajari itu benar, bagaimana caranya kita bisa belajar apapun juga?

“I do what I think and I think what I believe.”  Francis Schaeffer

Terjemahan: Aku melakukan apa yang aku pikirkan dan aku memikirkan apa yang aku percaya

TIdak ada yang salah dengan fanatisme yang benar, yang berdasar, yang berpengetahuan. Tidak ada yang salah dengan memiliki keyakinan terhadap apapun juga, baik objek, atau politik, atau ideologi, atau agama tertentu, namun keyakinan itu haruslah dikonfirmasi dengan pengetahuan yang lengkap. Karena keyakinan yang benar harus menuntut pengetahuan yang menopang dia secara cukup. Keyakinan yang benar harus menuntun orang kepada pengertian yang membuktikan bahwa keyakinan itu adalah memang benar adanya.

Kembali pada contoh proses belajar diatas, keyakinan tentang sumber pembelajaran yang benar itu haruslah dikonfirmasi dengan mengkonfrontasikan keyakinan itu dengan apa yang kita pelajari. Apakah 1 + 1 adalah benar-benar 2? Apakah cahaya putih yang kita lihat itu adalah cahaya yang berwarna putih ataukah warna putih itu dihasilkan dari spektrum warna yang menimbulkan cahaya yang kita sebut berwarna “putih”? Apakah partai politik tertentu berisi orang-orang yang memiliki kualifikasi yang baik, memiliki moral yang baik, sehingga dikemudian hari dia akan menepati janjinya dan tidak akan merugikan rakyat dan negara yang dipimpinnya? Apakah nilai moral yang baik itu secara definisi dan praktika?

Berdasar pada kutipan Francis Schaeffer, “aku melakukan apa yang aku pikirkan dan aku memikirkan apa yang aku percaya”; apakah kepercayaan tertentu menghasilkan nilai moral tertentu? Bisakah ajaran dan kepercayaan yang baik menghasilkan nilai moral yang tidak baik? Sebaliknya, bisakah ajaran dan kepercayaan yang tidak baik menghasilkan manusia yang berkualitas baik?

Kita mengenal peribahasa, “dari mulut anjing, tidak bisa keluar gading.” Dari yang berkualitas rendah, tidak bisa keluar sesuatu yang agung. Dan kita juga mengenal peribahasa, “tidak ada gading yang tidak retak.” Yang bermakna bahwa dari yang agung pun tidak luput dari kecacatan, dan memang ada gading yang retaknya banyak, jadi gading yang dibuang ke tempat sampah, namun ada gading yang retaknya sedikit, yang harganya sangat amat mahal.

Fanatisme (seperti halnya pembelajaran), boleh keluar dari suatu keyakinan (baca: iman) karena memang sedemikian sepatutnya. Namun fanatisme yang berhenti pada keyakinan itu sendiri adalah sesuatu yang sangat rapuh dan tidak bertanggung jawab. Seperti halnya saya mengatakan bahwa nasi goreng di warung seberang kantor saya itu sangat enak. Saya yakin itu enak, karena baunya harum dan kalau siang ramai pembeli. Saya tidak pernah makan disana, saya tidak mau makan disana. Tapi menurut saya, yakin bahwa nasi goreng disana enak. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

Pimpinan politik yang saya pilih itu baik. Karena parasnya bagus. Karena kata-katanya manis dan sedap didengar. Karena dia memberikan uang kepada saya untuk ikut kampanye, pasti dia murah hati dan baik. Pokoknya dia baik. Saya tidak kenal dia. Tapi menurut saya, yakin dia baik. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

Keyakinan saya benar. Saya yakin pemimpin agama saya mengajarkan yang baik. Pokoknya menurut saya, yakin bahwa itu baik. Saya tidak perlu tahu apapun juga. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

“Faith seeking understanding”  Anselm of Canterbury

Terjemahan: Keyakinan menuntut pengertian