Agama dalam Perspektif Sosiologi: Keyakinan akan Kebenaran & Kebijaksanaan Manusia

Ketika kita mencoba memahami keberadaan diri kita sendiri, secara pribadi, setiap kita masing-masing individu, tanpa memandang orang lain sama sekali; Apakah dimungkinkan bagi kita untuk memahami bagaimana kita bisa memeluk suatu agama tertentu?

Selangkah lebih jauh lagi, tanyakan pada diri kita, apakah dimungkinkan bagi saya untuk berpindah dan menganut agama yang lain selain daripada yang saya yakini selama ini?

Dan yang terakhir, bisakah orang lain merayu, atau bahkan memaksa saya untuk berpindah dan berpaling dari agama yang saya yakini sebagai sebuah kebenaran?

Saya yakin jawabannya adalah TIDAK. Tidak seorangpun bisa memaksa kita untuk memeluk agama yang berbeda dengan yang saya yakini sebagai kepercayaan saya. Tidak seorangpun bisa meyakinkan saya bahwa agamanya lebih benar daripada agama saya. Saya yakin semua dari kita bisa memahami bahwa agama adalah bagian hidup yang paling personal dan jika ada orang lain yang menganggap bahwa agamanya adalah yang paling benar, tentu saja saya bisa memahami hal itu, karena saya pun menganggap bahwa agama saya yang paling benar. Jika saya tidak memiliki kepastian itu dalam diri saya, maka tentunya saya sudah memeluk agama apapun yang saya anggap sebagai kebenaran mutlak.

Apakah orang lain bisa memaksa saya untuk menyukai es krim rasa durian jika saya menyukai es krim rasa green tea? Orang lain bisa memaksa saya untuk memakan es krim rasa durian, dan akan membuat saya muntah karena saya tidak tahan baunya. Ancaman dan paksaan akan membuat saya ketakutan tentang kenyamanan dan kelangsungan hidup saya, sementara rayuan dan iming-iming akan membuat saya tertarik. Saya akan memakan es krim rasa durian. Orang akan mengira saya penggemar es krim rasa durian.
Tapi siapapun tidak akan pernah bisa memaksa saya untuk menyukai es krim rasa durian. Saya akan semakin mendambakan dan merindukan es krim green tea.  Karena itulah diri saya, penggemar es krim green tea.

Saya yakin kita bisa sangat mengerti dan berelasi dengan jelas terhadap sepotong fakta kehidupan yang barusan saya jelaskan. Jika demikian, maka jelaslah, bahwa melalui ancaman ataupun rayuan, kita yang memiliki keyakinan yang sejati terhadap agama yang kita percayai dengan segenap hidup kita sebagai suatu kebenaran mutlak, tidak akan membuat kita bergeser dan berpindah agama begitu saja.

Mereka yang beragama Kristen, bersekolah di luar negeri yang beragama Buddha, apakah dia tiba-tiba berpindah menjadi Buddhist? Mereka yang sering mendengar panggilan ibadah umat Islam, apakah serta merta memeluk agama Islam? Hiasan Natal yang meriah di negara ateis, apakah serta merta menjadikan banyak penduduk mereka menjadi umat Kristiani? Mereka yang pergi ke pulau Bali untuk merantau mengadu nasib dan peruntungan, apakah mereka kembali sebagai umat Hindu?
Saya bisa terus berceloteh, tapi saya yakin kita semua menangkap maksud dari kalimat-kalimat saya.

Jadi lihatlah sendiri, fenomena perpindahan agama adalah esensi dari suatu sistem kepercayaan yang tidak bisa dipengaruhi –apalagi diintervensi– dari luar diri kita sendiri. Lihatlah sendiri, dalam agama apapun dari sebelah manapun, berapa banyak orang yang mati untuk menunjukkan kepercayaan dan kebenaran agama mereka. Jika hidup dan mati pun sudah tidak bisa menggoyahkan keyakinan seseorang, bagaimana seorang manusia, siapapun dia, bisa begitu saja berpindah agama. Mengapa kita menjadi khawatir ketika melihat ada orang yang berpindah agama, seakan-akan kehilangan pendukung atau kehilangan jumlah anggota. Apakah agama itu seperti keanggotaan dalam sebuah klub yang sedang bersaing jumlah anggota dengan klub lain? Apakah agama itu seperti persaingan jumlah tentara untuk memenangkan pertarungan? Apakah jumlah yang banyak menentukan kemenangan?

Seharusnya tidak sedemikian. Berapa banyak peperangan besar yang gemilang yang terjadi antara pasukan jumlah besar yang dibantai habis oleh pasukan yang jumlah jauh lebih sedikit. Agama adalah bagaimana setiap orang, secara pribadi, berelasi dengan penciptanya. Tidakkah hal itu sifatnya seorang demi seorang, pribadi lepas pribadi. Tidakkah kita masuk kedalam akherat seorang demi seorang, bukan bersifat membership dan borongan/kolektif/beramai-ramai. Apakah kita yakin bahwa mereka yang berdiri disebelah kita saat berada dalam tempat ibadah dalam hatinya yang paling dalam, datang beribadah dengan niat yang sama seperti kita? Apakah kita yakin bahwa amal dan ibadah antara yang seorang dengan yang lain akan diperkenan oleh Sang Pencipta? Tidakkah setiap agama mengajarkan semua yang baik?

Jika demikian, sebenarnya, apakah kita perlu merisaukan bagaimana Sang Pencipta mengurus ciptaan-Nya? Apakah kita perlu membantu Sang Pencipta? Membela Dia seolah-olah kita lebih bijaksana dan lebih hebat daripada Dia yang menciptakan dunia dan segala isinya? Karena itulah setiap orang sepatutnya mempelajari ajaran agamanya seturut dengan kepercayaan masing-masing.
Karena itulah sistem pendidikan menyediakan wadah bagi setiap pelajar suatu bentuk pelajaran agama, supaya melalui wadah pendidikan, terbentuklah pengertian dan pengetahuan tentang konsep kebenaran yang dipercayai sebagai suatu agama dan kebenaran yang pantas untuk dianut, untuk menghindari fanatisme.

Dunia kita menjamin kebebasan hak beragama sebagai salah satu hak asasi manusia yang paling asasi. Karena pemaksaan dalam agama akan menghasilkan peperangan dan korban jiwa yang sangat besar, demi mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak dapat dilihat, disentuh, bahkan tidak dapat terselami. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan hakiki, apakah yang dimaksud dengan “agama” ini? Apakah ini tentang perspektif manusia mengenai bagaimana bersikap dihadapan Tuhan, atau tentang perspektif Tuhan mengenai bagaimana manusia dihadapan Tuhan, atau tentang perspektif manusia tentang bagaimana Tuhan dihadapan manusia?

Lihatlah, kebijaksanaan manusia dalam mengatur segala sesuatu. Lihatlah, agama mengajarkan semua yang baik. Lihatlah, bahwa semua manusia dalam hatinya mengetahui ada kebenaran dan kebaikan supaya tidak mencelakakan manusia lain. Lihatlah dunia sekeliling kita, apa yang kita lihat? Mereka yang mengaku beragama seringkali merupakan orang-orang yang paling berani berbuat jahat. Mari kita buka mata kita lebar-lebar, apakah ini yang diajarkan oleh agama kita, apapun agama itu?

Tidakkah kita semua mendambakan tatanan masyarakat yang baik? Akan tetapi, siapakah masyarakat itu? Tidak lain adalah Anda dan saya, kita semua. Dan jika kita semua memulainya dari menata diri kita sendiri, kita akan pasti dapat mewujudkan apa yang kita dambakan. Saya yakin, kita tidak sendiri.

Advertisements

Perspektif Tentang Problema Manusia dan Ekstensinya

Sebagian dari kita, kadang kala atau bahkan seringkali, terbentur pada pemikiran-pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai hal-hal yang terjadi dalam dunia kita. Mulai dari kesadaran akan pemanasan global (global warming), bencana alam, kerusakan dan pengrusakan alam, kepunahan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan, perubahan ekosistem dan biosphere, ketidakperdulian manusia terhadap banyak hal, perbuatan-perbuatan manusia terhadap alam dan sesamanya yang semakin pragmatis, dan seterusnya, dan sebagainya.

Namun sebagian dari kita sama sekali tidak pernah memikirkan apapun. Sebagian dari kita hanya memikirkan semua yang bersinggungan langsung dengan kita. Tentu saja, karena sebagian dari kita hanya selalu sibuk memikirkan diri kita sendiri.

“Tragedy is when I cut my finger; comedy is when you step on a banana peel, fall into an open sewer and die” – Mel Brooks

Tragedi adalah ketika jariku tergores; komedi adalah ketika kamu terpeleset kulit pisang, jatuh kedalam selokan dan mati. – Mel Brooks

Tidakkah terkadang –atau bahkan sering kali– kita terheran-heran dengan manusia dan perilakunya. Keputusan-keputusan yang diambilnya. Tindakan-tindakan yang dikerjakannya. Kita diterpa dengan berbagai macam hal setiap hari, terutama dalam era digital dan globalisasi informasi ini, menjadikan kita terbiasa dan dengan mudah menjadi tidak perduli dengan banyak hal yang begitu membombardir pemikiran kita. Setelah aliran filsafat pre-modern pada jaman revolusi industri, memasuki masa modern setelah dua kali perang dunia, dan masa post-modern sekarang ini, menjadikan manusia yang dulunya mencari kebenaran secara konsep, kemudian dengan ilmu pengetahuan, sekarang menjadi manusia-manusia yang lebih terfokus pada keuntungan praktis, dan tidak mau berpikir banyak serta pragmatis.

Banyak hal yang dulu dianggap salah, sekarang diterima, dan menjadi arus besar. Banyak hal yang dulu dianggap tidak bernilai, sekarang menjadi hal yang dicari orang. Dunia telah bergeser sedemikian banyak dan mengakibatkan banyak orang kehilangan arah tentang apa yang baik, yang benar dan yang bernilai.

Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) menjadi isu yang dipaksakan untuk harus diakui dan diterima. Desakan yang membuat banyak orang kebingungan ditengah arus besar ini. Keberagamaan menjadi isu yang tidak kalah sengitnya, ditengah-tengah upaya untuk memahami bahwa seharusnya agama membawa manusia kepada kedamaian dan ketenangan, memberikan harmoni dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam, ternyata mengakibatkan pembunuhan dan memporakporandakan dunia. Dan seringkali terlihat bahwa orang yang tidak beragama seringkali lebih baik dari mereka yang menyebut dirinya beragama, namun paling berani berbuat jahat. Manusia juga dihadapkan pada kenyataan bahwa alam sudah semakin berubah dan menjadi tidak nyaman dengan polusi, pencemaran, perubahan cuaca, kerusakan alam, kepunahan hewan dan tumbuhan, dan alam menjadi musuh manusia dengan bencana alam dan berbagai fenomena yang bahkan dulu tidak banyak terjadi.

Manusia menjadi pesimis, terombang-ambing, kehilangan pegangan, tersesat dalam kebingungan dan ketidakmengertian. Sebagian yang berusaha berjuang memperbaiki alam, dihadapkan pada ketidakperdulian banyak orang dan pihak otoritas. Sebagian yang berusaha membangkitkan kesadaran akan kebaikan dan kebenaran menjadi musuh banyak orang. Sebagian yang berusaha mempertahankan integritas, dipertentangkan dengan keegoisan mayoritas manusia yang lain.

Manusia mulai mempertanyakan, apakah kebenaran dan kebaikan itu?

Dan lebih jahat lagi, manusia mempertanyakan dimanakah Tuhan?

Dan inilah jawabannya, yang saya temukan dalam buku orang Kristen dan tidak saya temukan dalam pemikiran manapun. Tuhan tidak berada dimana-mana, karena Dia ada dimana-mana. Kita manusia yang berdosa yang sudah menghilang dari Tuhan. Kita tidak memperdulikan Dia. Kita sudah berdosa dan melawan Dia. Kita merusak diri kita sendiri dan sesama kita, serta semua yang kita sentuh, dan setelah semua rusak, kita bertanya dimana Tuhan. Itulah yang saya sebut dengan ‘JAHAT’.

Manusia adalah ciptaan Tuhan, dalam kita berlaku hukum pencipta dan ciptaan.

Jika kita tidak mengakui bahwa kita adalah ciptaan Tuhan, maka tidak ada jawaban untuk semua yang mau kita bahas sekarang. Karena jika dunia ini adalah berasal dari -misalnya- Big-Bang dan kita adalah makhluk -misalnya- hasil evolusi yang karena anomali, terjadi secara tiba-tiba dan kebetulan, maka kita tidak memiliki tujuan ultimat dan tidak memiliki nilai apapun. Bagaimana sesuatu yang terjadi secara kebetulan bisa memiliki nilai apapun, apalagi nilai yang tinggi.

Tidakkah segala sesuatu yang terjadi kebetulan tidak memiliki nilai dan tidak memiliki tujuan dan tidak memiliki dasar logika yang sah sebagai sesuatu ‘yang bisa diketahui’ (berdasar pada prinsip ‘ILMU PENGETAHUAN’ yang bisa diketahui, maka sesuatu itu harus bisa diuji coba, berulang kali, dan konsisten. “KEBETULAN” tidak memiliki semua hal itu. Evolusi dan Big Bang teori tidak memiliki ciri ilmu pengetahuan yang sah, namun dipercaya secara buta dan diakui kebenarannya secara keyakinan –baca: iman– yang semu.)

Kita lanjutkan: Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut rencana Sang Pencipta berdasar bentuk dan rupa dan kehendak pencipta yang mulia, maka manusia menjadi satu-satunya makhluk yang bisa berpikir karena manusia memiliki bahasa dan berakal budi (buktinya: cobalah berpikir dan merenungkan sesuatu TANPA MENGGUNAKAN BAHASA, -tidak usah dicoba karena tidak akan bisa-).

“Manusia tahu bahwa ada yang baik dan ada yang benar. Tapi manusia kebingungan membedakan mana yang adalah mana.”

Manusia yang dicipta dengan sangat baik adanya, namun yang sekarang telah kehilangan kemuliaan yang sejatinya ada pada kita karena sebenarnya kita diciptakan seturut dengan peta dan teladan Tuhan. Manusia menjadi musuh Tuhan dan sudah melawan Tuhan dan terhilang. Jangan kita mempertanyakan dimana TUHAN. Kita yang telah lari dari Dia. Dan sejak hari ketika manusia mulai berdosa, manusia tidak pernah mencari Dia. Kita hanya selalu merasa bahwa kita mencari Tuhan. Tapi Tuhan yang sejati tidak bisa ditemukan oleh kita yang berdosa. Tidak ada yang mencari Tuhan, tidak ada seorangpun yang baik, dan tidak seorangpun mencari Tuhan.

Saat bolpen kita hilang, atau baju kita hilang, atau kunci kendaraan kita hilang, atau adik atau anak kita hilang, siapa yang mencari siapa? Yang hilang tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Yang tahu bahwa sesuatu itu hilang adalah ketika sang pemilik atau yang ‘lebih tinggi’ menyadari bahwa sesuatu itu hilang.

Bolpen atau baju atau kunci kendaraan tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Adik atau anak kita baru merasa hilang ketika dia menoleh kesana dan kemari dan tidak menemukan kita. Selama dia tidak mengacu dan kembali memikirkan tentang kita, dia tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Bahkan setelah dia merasa hilang, siapa yang lebih mungkin menemukan siapa? Bisakah kita membandingkan diri kita dihadapan pencipta kita seperti anak berusia 3 tahun dengan ibunya? Tidak bisa! Kebijaksanaan ibu tidak bisa dibandingkan dengan kebijaksanaan Tuhan. Dan dihadapan Tuhan, kita yang diciptakan dari debu dan tanah, jauh lebih tolol daripada anak usia 3 tahun. Kita lebih mirip bolpen atau baju atau kunci kendaraan. Bahkan bolpen atau baju atau kunci kendaraan lebih bermakna dan berfungsi daripada kita yang seringkali tidak tau mengapa kita ada dalam dunia dan kenapa kita diciptakan dan untuk apa kita dilahirkan dalam dunia ini. Bolpen, baju dan kunci kendaraan memiliki ‘makna hidup’ yang sangat jelas. Kita manusia seringkali tidak jelas mau berbuat apa dengan kehidupan kita.

Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang mencari manusia. Karena manusia berdosa tidak bisa mencari Tuhan dan menemukan Tuhan.

Manusia dalam keberdosaannya, tetap bisa mengetahui bahwa ada yang benar, dan ada yang salah. Ada yang baik dan ada yang jahat. Ada yang terang, dan ada yang gelap.
Akan tetapi, manusia dalam keberdosaannya tidak tahu apa yang mana. Mana yang baik, mana yang jahat. Dan manusia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Manusia menyukai apa yang dia sukai, manusia menginginkan apa yang dia mau, manusia mengerjakan apa yang menurut dia baik (dan dia merasa baik); namun semua yang dipilih lebih banyak yang salah daripada yang benar. Manusia mencintai, karena merasa cinta itu baik, kemudian mencintai kejahatan dan kesesatan dan kekerasan. Tanpa perspektif yang benar-benar benar, dan pengertian yang sejati, akan ada banyak hal yang dikerjakan manusia yang salah total.

Karena itulah, manusia terus terombang ambing dalam kebingungan, kenapa ada manusia yang tertarik dengan sesama jenis, kenapa ada manusia yang ingin menjadi lawan jenis, kenapa ada manusia yang dengan tidak perduli dan merusak alam, kenapa ada manusia yang tidak perduli menyakiti semua manusia yang lain, kenapa ada manusia yang membenci mereka yang tidak sama dengannya, kenapa ada manusia yang tidak memikirkan dampak dari perbuatannya sekarang yang memiliki potensi untuk merusak hidupnya dimasa depan. Kenapa dan kenapa dan kenapa. Dan kenapa Tuhan tidak campur tangan.

Tuhan tidak punya kewajiban untuk campur tangan.
Bahkan manusia saja tidak merasa perlu campur tangan terhadap barang yang kita ciptakan atau kita miliki. Kita memakai semua yang kita rasa adalah punya kita dengan sesuka hati kita. Itu adalah kuasa yang diberikan kepada kita untuk berbuat sesuka hati kita. Giliran hal buruk terjadi pada kita, mengapa kita menuntut Tuhan untuk melakukan sesuatu buat kita?
Kita bahkan tidak perduli pada Dia dalam seluruh bagian kehidupan kita yang lain, kenapa giliran kita susah, kita marah-marah kepada Tuhan? Tidakkah itu kejahatan dan kekurangajaran bahkan ketika hal sedemikian kita lakukan kepada orang tua atau pasangan hidup kita.

Tundukkanlah hidup kita pada Tuhan yang sejati, pada kebenaran yang sejati, supaya kita memperoleh kebijaksanaan untuk membedakan mana yang baik, mana yang benar, dan mana yang bernilai.

Dengan pengertian akan perspektif yang benar terhadap posisi kita didalam alam semesta ini, seharusnyalah pikiran kita menjadi lebih terbuka dalam perjalanan dan upaya kita mencari kebenaran yang sejati dan penjelasan terhadap berbagai aliran filsafat dan fenomena dan gelombang gerakan-gerakan yang terjadi disekeliling kita dan mengacaukan hidup kita.

Tanpa kebenaran yang menguasai hidup kita, tanpa kita menjadi murid kebenaran dan tunduk mutlak pada kebenaran yang sejati, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk merubah hidup kita. Dengan berada dalam kebenaran, dengan memiliki pengertian dan perspektif yang benar, kiranya kita boleh menjadi manusia-manusia yang lebih baik dan membawa orang-orang disekitar kita menjadi lebih baik. Menjadi berkat buat semua orang disekitar kita, tanpa kecuali, dan menjadikan dunia ini menjadi lebih baik.

Peran Penting Pendidikan Dalam Keluarga

Pendidikan anak selalu menjadi hal yang penting dalam banyak keluarga. Tidak hanya hal yang berkenaan dengan sekolah ataupun pendidikan formal saja, melainkan pendidikan seorang anak sebagai anggota keluarga, aturan moral, sosial, disiplin, dan banyak hal lain yang perlu diajarkan kepada seorang anak.

Sadarkah para orang tua, bahwa pendidikan yang terpenting untuk seorang anak bukanlah pendidikan formal. Melainkan pendidikan moral, ketrampilan sosial, dan yang terutama, adalah pendidikan spiritual. Dengan apakah kelakuan seseorang dijaga? Tidak lain adalah dengan takut akan Tuhan (menurut buku Kristen yang saya baca). Seseorang dapat dibekali dengan segala pengertian moral yang tertinggi, etika teragung, filsafat terbaik, ketrampilan sosial dan kesopanan yang paling beradab, namun tanpa kegentaran pada Tuhan, langkahnya akan jauh dari kebenaran. Tanpa takut akan Tuhan, segala pengetahuan dan pengertian yang dia miliki hanya akan menjadi alat rasionalisasi untuk membentuk segala alasan pembenaran diri yang membungkam hati nuraninya terhadap keadilan dan kebenaran. Buktinya? Betapa banyak orang yang katanya beragama yang kemudian melakukan banyak hal yang sangat tercela tanpa merasa bersalah, semakin tinggi pendidikan, pengertian dan pengetahuan seseorang, semakin besar kerusakan yang dia buat dan semakin licin dia menipu dirinya dan semua orang disekitarnya.

Tidak berarti bahwa pengetahuan formal itu tidak penting. Tentu saja pengetahuan formal itu penting, akan tetapi janganlah sampai yang terpenting dikalahkan oleh yang penting. Disinilah letak pentingnya bijaksana. Dunia ini membutuhkan orang yang bijaksana, bukan orang yang pintar. Dan bijaksana adalah kebijakan yang dari ‘sana’, bukan dari ‘sini’.

Apakah gunanya memiliki segudang data yang menyusun informasi, yang menjadi dasar pengetahuan dan pengertian, jika tidak memilki bijaksana dengan moralitas yang baik. Pistol ditangan penegak hukum tidak terlihat membahayakan jika dibandingkan dengan pistol yang sama berada ditangan penjahat. Demikian pula dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal yang baik dan dapat digunakan untuk kemajuan peradaban, hal yang sama dapat dengan mudah diputarbalikkan dengan berbagai macam alasan dan rasionalisasi untuk mencelakakan manusia yang lain dan masyarakat.

Anak yang baik selalu bermula dari pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik selalu bermula dari keluarga yang baik. Keluarga yang baik selalu bermula dari orang tua yang baik, dan orang tua yang baik bermula dari kepala keluarga yang baik. Kepala keluarga yang baik selalu adalah pria yang dengan integritas baik yang memiliki peran yang tepat dan efektif sebagai suami bagi istrinya, dan ayah bagi anak-anaknya; Dan tidak ada suami dan ayah yang baik tanpa dukungan istri yang menjadi penolong yang sepadan bagi sang suami serta menjadi ibu yang penuh kasih bagi anak-anaknya. Pendidikan harus selalu mulai di dalam keluarga sebagai inti terkecil dalam masyarakat manusia. Begitu pendidikan dalam keluarga gagal, setiap manusia dalam keluarga itu mengambil peran dan berbagian dalam perusakan masyarakat.

Jika kita sering mendengar kalimat bahwa pengaruh lingkungan yang buruk memberikan dampak buruk bagi individu, maka siapakah ‘lingkungan’ itu selain daripada manusia yang muncul dari dalam setiap keluarga yang gagal. Seringkali kita dengan ringan dan mudah, mencetuskan pembelaan diri bahwa anak kita dirusak oleh lingkungan, bahwa suami kita dipengaruhi lingkungan, bahwa istri kita terbawa dalam lingkungan; maka kita harus kembali pada satu prinsip yang utama, jika keluarga memiliki moralitas yang baik, didikan yang baik, integritas yang baik, takut akan Tuhan, maka kita akan bisa yakin bahwa keluarga kita tidak akan berbagian dalam kerusakan ‘lingkungan’.
Dunia kita akan selalu rusak, dan semakin hari akan semakin rusak, dan tidak akan membaik. Dan mengunci diri kita secara sempit dalam paranoia dan ketakutan, menjauhkan diri dari dunia global karena ketakutan akan terpengaruh, memaksa diri hidup dalam gelembung dan rumah kaca yang terlindungi adalah tindakan yang bukan saja kurang bijaksana, melainkan juga kurang berakal sehat. Yang seharusnya dilakukan adalah membekali diri, dengan bijaksana yang tertinggi, integritas yang terbaik, moral yang agung, kemudian terjun ke dalam masyarakat luas, dan berbagian membentuk lingkungan supaya menjadi lebih baik. Bukannya hanya bisa menyalahkan lingkungan sementara kita menganggap lingkungan sebagai sumber kecelakaan kita.
TIdakkah setiap agama dan filsafat mengajarkan setiap manusia untuk menjadi berkat bagi lingkungan sekitar hingga ke seluruh dunia? Lalu apa yang mau kita capai dengan bergaul secara eksklusif untuk melindungi diri kita supaya katanya tidak tercemar dan hidup bagai katak dalam tempurung. Dan bukan hanya mengunci lingkungan secara ekslusif, kita mulai membenci semua orang yang tidak sama dengan kita, dalam fanatisme yang tidak berakal, kita mengumpulkan semua orang yang sama dengan kita dan membuat golongan sendiri yang katanya mau membuat masyarakat yang lebih baik. Hasil yang didapat bukan menjadi berkat, tapi membuat permusuhan dengan semua yang berbeda dengan kita, kemudian kita menjadi bagian dari ‘lingkungan’ yang merusak masyarakat.

Fenomena seperti inilah yang saya maksudkan ketika saya membicarakan tentang kebenaran yang sejati dalam paradoksnya. Semua pemikiran yang tidak sejalan dengan kebenaran sejati, kebenaran yang tidak benar-benar BENAR, memiliki kontradiksi di dalam dirinya sendiri yang tidak bersifat universal, melainkan sebuah kebenaran yang parsial yang tidak bisa berlaku secara integral. Kebenaran semu yang sedemikian akan merusak dirinya sendiri.

Sekarang telah terlihat betapa pentingnya peran keluarga dalam pendidikan manusia. Hal ini juga disadari oleh dunia psikologi dan filsafat, dunia pendidikan dan agama; bahwa seorang anak harus mendapatkan didikan pertama yang benar-benar BENAR dari figur otoritas pertama yang dia kenal. Yaitu dari ayahnya dan ibunya. Didikan pertama (yang dikenal dengan istilah FIRST DECREE) ini merupakan fase yang sangat penting, seperti ‘kesan pertama’ yang mula-mula kita dapatkan tentang seseorang akan membuat sebuah cetakan dan penilaian yang bisa mempengaruhi dinamika hubungan antar individu secara permanen. Kesan pertama yang keliru akan memberikan dampak negatif yang bertahan lama dan susah dirubah; demikian pula halnya dengan didikan pertama ini. Didikan yang pertama dan mula-mula inilah yang akan dibawa anak-anak sepanjang usianya. Sebagian keluarga yang cerdas dan kritis, akan membentuk pengertian dan pemahaman yang baik untuk anak-anaknya dan mewariskan nilai-nilai dengan pengertian dan pemahaman yang berdasar. Sementara keluarga yang lain akan membentuk pengertian dan pemahaman otoritatif dan berakhir dalam prinsip fanatisme yang membabibuta.

Terlepas dari berbagai metode dan pola pendidikan dalam keluarga, pentingnya first decree dalam usia 0 (nol) hingga 7 (tujuh) tahun ini sangat mempengaruhi pertumbuhkembangan anak-anak dalam sebuah keluarga. Anak-anak yang dididik oleh orang tuanya, dengan nilai yang ditanamkan oleh orang tuanya, akan lebih mempermudah proses pendidikan dan penanaman didikan di fase-fase berikutnya. Namun seringkali hal ini diabaikan oleh banyak orang tua, Mereka sering menganggap bahwa anak masih kecil, belum mengerti apa-apa, biarkan orang lain yang mendidik, nanti setelah mereka mulai lancar berbicara dan lebih besar, baru orang tua mulai menggantikan dan mulai mendidik. Hal ini sangat fatal.

Jangan pernah membiarkan anak dididik oleh orang lain selain oleh orang tuanya sendiri. Karena segala permasalahan dengan kepribadiannya di masa yang akan datang akan menjadi kesalahan dan penyesalan orang tua yang terbesar. Orang tua akan menjadi terheran-heran kenapa seorang anak susah diarahkan dalam pola hidup tertentu, kenapa seorang anak memunculkan perilaku tertentu, dan seterusnya; tanpa orang tua menyadari bahwa dia sudah melewatkan kesempatan untuk membangun dasar fondasi bagi bangunan hidup si anak. Tanpa mengenali fondasi yang diletakkan, bagaimana sebuah bangunan dapat didirikan.

Sekali lagi, ‘lingkungan’ yang disalahkan. Orang tua tidak pernah bersalah tampaknya.
Terutama jika orang tua sendiri mengalami kegagalan mengenali maksud dan tujuan keberadaan seorang anak diantarkan ke dalam dunia ini melalui rahim seorang ibu, dalam sebuah keluarga.
Seringkali, orang tua menganggap seorang anak sebagai penerus cita-cita, penerus ambisi, penerus keinginan orang tua. Anak adalah hiburan dan mainan dan kebanggaan di masa muda, asuransi di masa tua, perawat dan pembantu di hari tua, dan hanya itu. Seorang anak sudah dirawat dengan baik, dituntut balas jasanya di kemudian hari; padahal, jika seorang anak dibesarkan dengan keadilan dan kasih yang dijalankan dengan bijaksana, dan orang tua boleh menjadi teladan yang agung dan berintegritas baik serta memiliki hidup yang suci, tidak mungkin seorang anak dalam naturnya akan menyia-nyiakan orang tuanya hingga sampai perlu dituntut untuk membalas jasa orang tua yang telah membesarkan dia.

Namun seringkali, hal itu menjadi tema utama dan orang tua sangat ketakutan jika masa tuanya sendirian lemah tak berdaya dan tidak ada yang merawat dia; seringkali itu yang dijadikan permasalahan besar dan alasan utama dalam pertimbangan untuk memiliki anak. Seolah anak diciptakan oleh orang tua, menurut maksud dan tujuan orang tua, serta mengerjakan pekerjaan yang telah dipersiapkan oleh orang tua sejak sebelumnya. Dan orang tua menjadi tuhan atas diri anak.

“Children begin by loving their parents; as they grows old, they judge them. Sometimes, they forgive them.”  – Oscar Wilde

Terjemahan: Anak-anak selalu bermula dari mengasihi orang tuanya; dan ketika mereka beranjak dewasa, mereka mulai menilai orang tuanya. Kadang kala, mereka memaafkan orang tuanya.

Didikan dalam keluarga adalah hal yang paling susah, karena sebagai pendidik, orang tua dituntut secara konsisten memiliki perilaku yang sejalan dengan apa yang mereka ajarkan dan didikkan. Dan dengan segera, anak-anak akan melihat betapa kehidupan orang tuanya adalah omong kosong dan mereka mulai merasakan ketidakadilan dalam didikan orang tua. Perilaku orang tua yang sembarangan mendatangkan penghakiman bagi dirinya. Namun sebaliknya, orang tua yang hidup suci dan berintegritas akan mendapat penghargaan dalam diri anak, dan orang tua akan menjadi teladan dan idola.

Karena itu, didikan yang pertama dan terutama haruslah didikan moral, bukan ilmu pengetahuan. Didikan tentang etika dan nilai yang agung, bukan tentang materialisme. Didikan dan bekal tentang takut akan Tuhan, bukan menanamkan bibit eksklusifitas dan menarik diri dari ‘lingkungan’.

Buku Kristen dengan sangat singkat dan tajam merangkum isi tulisan ini sedemikian, didiklah anakmu takut akan Tuhan di jalan yang harus dia tempuh, maka seumur hidupnya dia tidak akan menyimpang dari jalan itu. Bekalilah dia dengan didikan dalam iman dan kebijaksaan yang akan muncul dalam pengertiannya karena takut akan Tuhan adalah awal dari segala pengetahuan. Maka hidupnya di dalam Kristus akan menjadi garam dan terang (menjadi berkat bagi) dunia, yang dengan bijaksananya memiliki hidup yang tidak seperti kehidupan dalam dunia ini.

Tentu saja setiap orang boleh memiliki pandangan yang lain dari/terhadap tiga kalimat tersebut.
Tentu saja saya tidak keberatan. Saya hanya kebetulan menemukan intisari itu dalam buku yang saya baca.

Apakah Manusia Itu Sehingga Begitu Penting?

“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Kemudian manusia dengan segenap akal budi, kecerdasan dan kreatifitasnya berpikir bahwa mereka dulunya adalah kera. Sekarang para mantan kera inilah yang menjadi penguasa alam semesta. Ini adalah pemikiran yang sangat menarik dan menjadi salah satu iman dalam dunia ilmu pengetahuan. Disebut iman karena sebenarnya dibutuhkan lebih banyak keberanian (baca: iman) untuk percaya tentang missing-link ketimbang percaya bahwa dunia diciptakan oleh Allah.

Hanya manusia satu-satunya jenis makhluk yang memiliki nafas hidup sehingga menjadikan manusia memiliki akal budi, kemampuan berbahasa dan kreatifitas; lebih dari sekedar debu dan tanah yang hidup seperti binatang. Karena memiliki itu semua, maka manusia memiliki kapabilitas untuk mengerjakan apa yang telah Tuhan tetapkan sejak semula, yaitu untuk mengusahakan dan memelihara ciptaan-Nya. Serta karena memiliki semua itu, maka manusia sekaligus memiliki kapabilitas untuk melawan Tuhan.

Kecuali manusia, seluruh ciptaan bergerak dalam harmoni yang senada, dan dunia menyadari sifat manusia yang merusak keseimbangan alam semesta. Tanpa akal budi, tidak mungkin manusia memiliki kemampuan melawan alam dan ciptaan Tuhan yang baik adanya.

Belum pernah ada jurnal yang mengungkapkan betapa seekor ayam memunculkan perilaku yang penuh kemarahan melihat pembantaian yang dilakukan manusia terhadap kaumnya. Atau seekor induk rusa yang menantang ‘langit’ atau berusaha membalas dendam ketika mengetahui anaknya diterkam harimau. Pernahkah terlintas dalam benak, bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk di alam semesta yang kita kenal sekarang ini yang memaki-maki Tuhan ketika berada dalam kesusahan.

Semua itu mampu dilakukan manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh semua ciptaan lain. Ada sesuatu yang berbeda antara manusia dengan ciptaan lain, dan sesuatu itu adalah kapasitas yang diberikan pencipta yang sebenarnya ditujukan agar manusia mampu menjadi Sang Penguasa.

Allah memberikan hak kepada manusia untuk menguasai seluruh ciptaan. Dan hak tidak pernah diberikan tanpa kewajiban. Sebagai manusia yang diberikan hak dan kewajiban untuk mengusahakan dan memelihara alam, ciptaan yang diberi nafas kehidupan ini memiliki jabatan sebagai penatalayan Allah; Dan menjadi ciptaan diatas semua ciptaan Allah yang lainnya.

Manusia sebagai ciptaan Allah yang diberi wewenang untuk mengurus seluruh alam semesta, telah melupakan tanggung jawabnya dan menggunakan wewenangnya secara tidak bertanggung jawab. Dia hanya mengingat dirinya yang superior dibanding ciptaan lain dan memandang dirinya hanya sebagai Sang Penguasa.

Sang penguasa yang telah jatuh dari natur asalnya adalah penguasa yang berdosa. Dengan jatuh ke dalam dosa, manusia telah dibutakan oleh berbagai-bagai kesesatan dalam daging yang berdosa, mengakibatkan semua keputusan dilihat dari sudut pandang yang keliru dan menghasilkan keputusan-keputusan yang keliru. Manusia mengusahakan banyak hal yang digunakan secara keliru, mencapai banyak penemuan secara keliru, dan mempergunakan banyak hal untuk tujuan yang keliru.

Dalam kemajuannya, manusia kehilangan esensi dari cara untuk meraih suatu tujuan. Ditengah-tengah kesulitan mencari nafkah karena terkutuknya tanah, manusia menciptakan permainannya sendiri dan saling memakan antar sesamanya. Dalam keberdosaannya, manusia kehilangan esensi dari cara untuk menggunakan kemampuan dan kemajuannya. Manusia bahkan kehilangan esensi dari cara untuk menetapkan suatu tujuan. Dalam berbagai-bagai arus pemikiran filsafat, pergerakan ilmu pengetahuan dan pergeseran budaya, manusia terjebak dalam lingkaran tanpa akhir diantara ketiganya yang membawa dirinya dan ciptaan lain dalam kerusakan yang tidak terselesaikan. Sebagai manusia Kristen yang telah ditebus, dia seharusnya dikembalikan ke dalam natur dan posisinya yang semula, yaitu seorang penguasa yang juga merupakan penatalayan Tuhan. Yang memiliki hak atas seluruh ciptaan sebagai penguasa dan kewajiban terhadap Tuhan untuk mengusahakan dan memelihara seluruh ciptaan sebagai pelayan. Dengan mengetahui dan menyadari status sebagai seorang penatalayan Tuhan barulah manusia dapat memulai kehidupannya dengan tepat, menjalaninya dengan baik dan mengakhirinya dengan tuntas.

Mengerti bahwa Allah yang menciptakan alam semesta, seorang Kristen seharusnya sadar bahwa segala sesuatunya adalah dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, bagi Dia kemuliaan sampai selama-lamanya. Bertolak dari sana, seorang penatalayan mengerti bahwa Allah telah memberikan kepada dirinya kapabilitas yang harus disadarinya sendiri untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab terhadap jabatan tersebut. Tugas dan tanggung jawab itulah yang disebut oleh orang Kristen sebagai kehidupan. Allah menuntut pertanggungjawaban untuk semua aspek dalam kehidupan penatalayan-Nya. Bagaimana dia bekerja, meraih dan memiliki sesuatu, menggunakan apa yang dia miliki, dan pada akhirnya mempertanggungjawabkan semua yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya.

Allah menyuruh penatalayan-Nya untuk bekerja, mengusahakan dan memelihara ciptaan-Nya. Bekerja dengan giat, dengan susah payah dan berpeluh hingga kembali menjadi debu dan tanah. Allah tidak pernah mengajarkan bahwa manusia sebagai penatalayanNya harus cepat bertumbuh dan cepat menghasilkan uang untuk kemudian pensiun dini dengan kekayaan melimpah. Allah hanya menyuruh manusia untuk berusaha semaksimal mungkin, memperkembangkan seluruh potensi dirinya dan menggunakan semua talenta yang telah dianugerahkan kepadanya untuk mengerjakan perkerjaan yang telah dipersiapkan oleh Allah sejak sebelumnya. Allah mengasihi manusia dalam natur yang tidak sempurna dan berdosa, namun Allah tidak pernah membiarkan manusia untuk tetap dalam keadaannya yang tidak sempurna dan berdosa. Allah menuntut manusia untuk berproses, bertumbuh, mencapai tujuan yang telah ditetapkan sendiri olehNya, menggunakan talenta yang telah dianugerahkanNya, yang berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain.

Allah menyuruh penatalayan-Nya untuk bertanggung jawab dengan semua yang telah dianugerahkan kepadanya. Allah menuntut pertanggungjawaban dari apa yang dilakukan oleh manusia dalam meraih setiap pencapaian dan hak yang didapatnya dalam memiliki sesuatu. Dengan talenta yang dimilikinya, manusia berhak memiliki apa yang menjadi haknya, berkewajiban melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Hidup dengan benar, belajar diwaktu kecil dan bekerja diwaktu dewasa. Allah menuntut manusia untuk mengejar apa yang baik, yang sempurna, dan yang berkenan kepada-Nya. Seluruh proses kehidupan yang diarahkan dengan ketiga prinsip itu tidak akan menjadi hidup yang hina. Dengan dijalankannya ketiga prinsip tersebut dalam kehidupan seorang manusia, maka manusia akan tahu bagaimana memposisikan dirinya ditengah-tengah seluruh ciptaan, mengusahakan dan memelihara seluruh alam semesta.

Terlebih dari itu, dengan mengejar semua hal yang baik, yang sempurna, dan yang berkenan kepadaNya, seorang manusia akan dapat membawa seluruh hidupnya ke level yang lebih tinggi setiap kalinya, dan menjadi lebih bijaksana. Hal itu lebih bernilai dibanding apapun yang dapat dicapai dalam hidup seseorang; Menjadi seorang penatalayan-Nya yang baik dan setia.

Sang penguasa yang tahu bagaimana menjadi seorang penatalayan Allah, akan menjadi penguasa yang tahu bagaimana memperlakukan seluruh ciptaan dan semua yang dilakukan dan diciptakan oleh ciptaan. Bertanggungjawab dengan hidupnya, membawa setiap aspek kehidupannya kembali untuk kemuliaan nama Tuhan dimanapun dia berada, apapun yang dia kerjakan. Sang penguasa yang tahu bagaimana menjadi seorang penatalayan Allah, tidak akan berani menyebut dirinya sebagai Sang Penguasa. Dia akan menyebut dirinya Hamba. Karena tujuan hidup manusia sebagai ciptaan mengkuti hukum relasi pencipta-ciptaan, maka adalah suatu kemutlakkan bagi ciptaan untuk selalu memikirkan tentang bagaimana Tuhannya dapat dipermuliakan.

Aku melihat sekelilingku, dan hatiku berkata, “Apa yang telah kulakukan terhadap dunia ini? Jika pemilik alam semesta ini menanyakan hal itu padaku, apakah jawabanku?” Dan aku gemetar, ketakutan oleh bayang-bayang itu; seperti seorang anak yang bersalah dan sekarang menanti ayahnya pulang.

Paradoks dalam Pencarian Kebenaran

Sebuah paradoks adalah keberadaan dua pernyataan (terkadang dapat pula berupa kumpulan pernyataan) yang tampaknya benar namun lebih menyerupai kontradiksi atau mengarah pada sebuah situasi yang terlihat sepertinya bertentangan dengan logika ataupun intuisi. Kompleksitas dari sebuah padaroks seringkali disalahartikan dengan kontradiksi, dan penalaran dalam paradoks seringkali disederhanakan sampai hanya tersisa satu situasi dimana salah satu atau semua pernyataan dalam sebuah paradoks itu adalah salah.

Sementara itu, untuk bisa memahami sebuah kebenaran yang sifatnya adalah benar-benar BENAR, maka pengertian di dalam konsep paradoks harus sanggup menjelaskan bahwa kedua pernyataan (atau semua pernyataan) dalam sebuah paradoks tentang kebenaran adalah benar-benar BENAR dan merupakan kesatuan yang utuh dan tidak berkontradiksi antara pernyataan yang satu dengan pernyataan yang lain.­­­­­

Ketika kita berusaha membangun konsep yang benar-benar BENAR, akan bermunculan banyak konsep dan opini. Jika didalam konsep dan opini tersebut terdapat kontradiksi dan perkecualian, maka setiap pernyataan-pernyataan tersebut dengan sendirinya akan bersifat saling melemahkan dan saling menghancurkan keutuhan dari keseluruhan (integrasi dan holistik) konsep yang diajukan. Semakin kompleks konsep yang dipaparkan, semakin banyak pernyataan yang dimunculkan, maka semakin banyak kontradiksi yang akan menimbulkan pertentangan didalam dirinya sendiri yang bersifat menghancurkan (baca: self destruct).
Di sinilah pentingnya pemahaman secara paradoks yang harus mampu menggabungkan semua konsep yang tampaknya bertentangan menjadi sebuah pengertian yang utuh membentuk kerangka yang kokoh.

Sambil lalu, akan saya coba memberikan gambaran singkat mengenai hal tersebut:
Pada dasarnya, kita berusaha mencari kebenaran. Kita mau sesuatu yang benar. Sesuatu yang sejatinya benar. Sebuah kondisi yang benar-benar BENAR. Kita tidak mau yang palsu, atau yang tidak benar-benar BENAR. Kita juga tidak mau yang tidak benar-benar tidak BENAR. Yang paling tidak kita inginkan adalah yang salah, atau dengan kata lain, kondisi yang benar-benar tidak BENAR. Namun terlepas dari keinginan atau idealisme kita, seringkali kita tidak memiliki dasar pengertian yang cukup untuk bisa memahami dan menemukan kondisi yang benar-benar BENAR berikut dengan sifat paradoksnya. Atau dalam era pragmatisme sekarang ini, sebagian kita terlalu malas untuk berusaha mencari kebenaran yang sejati. Seperti yang dilakukan beberapa orang yang akan langsung berhenti membaca tulisan ini dan tidak tergelitik rasa keingintahuan mereka ketika dihadapkan pada pemikiran yang rumit.

Kebenaran yang sejati tidak akan pernah lepas dari paradoks. Semua kebenaran yang benar-benar BENAR selalu akan berbentuk paradoks. Karena didalam paradoks akan ditemukan keadaan yang saling seimbang didalam pemikiran dan konsep yang seakan bertentangan, namun tidak saling menghancurkan.

“The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposed ideas in the mind at the same time, and still retain the ability to function.” – F. Scott Fitzgerald

Terjemahan: Ujian bagi kecerdasan kelas atas adalah kesanggupan untuk memfasilitasi dan memikirkan dua ide yang bertentangan dalam satu waktu, dan tetap memiliki kesanggupan untuk membentuk pengertian yang utuh.

Ketika seseorang melanjutkan perenungan dan pemikiran analitik dalam kondisi yang sulit, yang lainnya menyerah dalam pragmatisme dan berbalik arah. Mereka akan mencari jawaban mudah berupa YA atau TIDAK, BENAR atau SALAH, namun tidak akan pernah memahami alasan dan pemikiran yang melandasi jawabannya. Mereka hanya menjadi budak dari pemikiran orang lain yang tidak tentu merupakan kebenaran sejati. Adalah sebuah kebohongan belaka ketika mereka berkata dan berupaya meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka tidak suka dibohongi dan mencari kebenaran. Mereka dengan buta mempercayai sesuatu dalam fanatisme kosong.

Saya akan menjelaskan sedikit tentang runutan proses pembentukan pengertian dan pengetahuan, sebelum menyinggung dimana letak paradoks sesungguhnya didalam pemikiran.

Paradoks akan dapat kita temukan dimana-mana disekeliling kita. Kebenaran yang benar-benar BENAR ditanamkan didalam dunia sekeliling kita supaya melalui semua yang kita lihat dan alami, kita mau tidak mau harus mengakui bahwa ada yang benar-benar BENAR, setengah BENAR, dan yang tidak BENAR. Memang tidak semua dari kita sanggup membongkar penjelasan secara tuntas, namun kita tahu realita itu; dibuktikan dengan tekad yang ada dalam diri setiap orang yang katanya tidak suka dibohongi dan lebih suka segala sesuatu yang BENAR.

Kebenaran itu terbentang mulai dari semua yang bisa kita pikirkan dalam dunia ilmu pengetahuan (yang dulunya juga tidak kita ketahui, namun sekarang kita ketahui, beberapa hingga tuntas, sementara sebagian lain belum tuntas) yang sifatnya fisik dan natural. Ilmu pengetahuan ini merupakan ilmu yang kita pelajari terhadap alam dalam fisika, fisika teoretis, biologi, quantum teknologi, faal, dan seterusnya.
Terus berlanjut pada dunia pemikiran yang berkesetaraan dengan dunia fisik, yaitu alam rasio dan logika; kita mengenal pemikiran-pemikiran yang masuk akal kita secara umum dalam dasar ilmu pengetahuan, yang kita sebut sebagai rasionalitas. Kita mempelajari hubungan kita berelasi dengan sesama, dengan alam sekitar, dalam pengertian yang bersifat keilmuan bidang ekonomi, manajemen, psikologi, psikiatri, filosofi, dan seterusnya.
Kemudian kita berlanjut pada dunia yang melampaui dunia fisik, dalam dunia yang hampir tidak terpahami secara natural, logika, atau rasional sekalipun. Dunia modern sejak abad pencerahan tidak menganggap bagian ini sebagai ilmu, melainkan sebagai dunia yang tidak logis, tidak rasional, dan tidak ilmiah. Mereka menganggap bidang ini merupakan bidang angan-angan dan tidak bisa dibuktikan. Namun sebagai bagian dari orang yang menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kita di luar sana, kita sangat mengerti pentingnya bagian pemikiran ini dalam prinsip dan keutuhan pemikiran kita didalam kaitannya dengan mencari kebenaran. Ini adalah dunia suprarasional dalam alam supranatural, yang berusaha dijelaskan oleh metafisika, filsafat ontology, epistemology, dan seterusnya. Dan ini adalah wilayah dimana ideologi berada.

Segera setelah ilmu filsafat menyentuh batasan dinding yang tidak kelihatan antara yang “sanggup diketahui” dengan “yang tidak mudah dipahami” hingga pada “yang tidak mungkin diketahui” yang menjadi area abu-abu antara filsafat dan agama, tiba-tiba saja peran logika menjadi sedemikian kecil dan orang-orang yang katanya rasional mengatakan bahwa religi adalah upaya pelarian manusia dari usaha-usaha mencari jawaban yang “masuk akal”.

Mari kita simak sejenak contoh kasus berikut:
Kenapa es batu mengapung, padahal dia padat dan memuai (anomali air), dan es pun sejatinya berasal dari air. Orang-orang ilmiah akan mulai berbicara tentang berat jenis, hukum perkecualian air, penampang atau tegangan permukaan air, dan seterusnya. Banyak orang akan dengan mudah setuju, menganggap itu sebagai penjelasan dan kebenaran. Sesuatu yang benar-benar BENAR.
Namun ketika religi menyodorkan jawabannya, bahwa Tuhan menciptakan makhluk dalam air, jika es tenggelam, banyak makhluk air akan mati. Kalau air membeku mulai dari bawah, dan terus membeku, kemana makhluk air bisa lari, bagaimana tumbuhan dalam air bisa hidup, bagaimana ekosistem air bisa terjaga. Jawaban itu dianggap sebagai kebodohan bagi dunia sains. Tiba-tiba saja, jawaban itu dinyatakan tidak sah dan tidak dapat diterima, walaupun memiliki kerangka pemikiran yang tidak dapat disanggah oleh orang-orang yang katanya rasional.

Filsafat itu sendiri, sebagai bidang yang mempelajari dan mempertanyakan segala sesuatu, terbentang dari dunia (realm) yang nyata, kepada yang bisa diketahui, kemudian hingga konsep abstrak, sampai pada hal yang mungkin dapat diketahui, dan berhenti pada yang tidak mungkin diketahui, dimana beberapa jawaban tampaknya lebih memiliki basis rasional yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban yang lain yang lebih seperti tebakan-tebakan yang sifatnya untung-untungan.

Bagi mereka yang memiliki wawasan memadai dan mendalam mengenai beberapa ideologi religius (baca: iman), mereka memiliki kesanggupan untuk menarik area filsafat sedikit lebih jauh kedalam batasan hal yang tidak mungkin diketahui dengan keyakinan (baca: iman) yang mereka miliki, sebelum semuanya menjadi sama sekali gelap. Tentunya, seperti halnya ilmu pengetahuan dan filsafat, ada iman yang memiliki sistematika lebih baik dibandingkan dengan iman yang lain.

Permasalahan terbesar dengan iman adalah sedemikian: untuk agar iman memiliki kekuatan dan integritas yang cukup untuk menjelaskan segala sesuatu yang melampaui natur dan ilmu pengetahuan, serta menjawab segala hal yang dipertanyakan oleh filsafat, maka iman itu sendiri harus memiliki dukungan dari pengertian dan konsep yang jelas dan sistematis. Bukan fanatisme kosong belaka. Fanatisme tidak mampu menjawab apapun dalam bidang apapun, jika fanatisme tidak mengarah dan tidak didasari oleh pengertian yang cukup. Celakanya, para fanatik seringkali buta dan tuli.

“A fanatic is one who can’t change his mind and won’t change the subject.” – Winston Churchill

Terjemahan: Seorang fanatik adalah orang yang tidak bisa merubah pikirannya dan tidak mau merubah topik subjek pembicaraannya.

Demikian kita sudah membahas tentang runutan pengertian, rasionalitas, dan logika. Mengenai paradoks, semakin kita mendekati kepada hal yang tidak bisa kita mengerti secara tuntas, semakin paradoks akan membantu kita mendekati pada kebenaran yang sifatnya benar-benar BENAR. Semakin jauh kita melangkah, semakin rumit paradoks yang ada dan semakin sulit untuk menyelesaikan paradoks yang muncul untuk bisa kita mengerti dalam pemikiran kita.

Sebagai gambaran:
Di alam yang bisa kita lihat, ilmu pengetahuan alam, kita melihat cahaya warna putih. Benarkah cahaya itu berwarna putih? Benarkah sinar matahari itu putih? Ataukah warna putih itu sebenarnya tidak ada, melainkan adalah spektrum dari jutaan warna yang terbaur dan menimbulkan sinar yang putih. Jadi, apakah warna sinar matahari? Putih atau jutaan warna yang namanya pun tidak sanggup disebutkan. Jawabannya adalah sinar matahari berwarna putih DAN jutaan warna. Itulah paradoks. Warna sinar matahari bukan putih. Warna sinar matahari bukan jutaan warna.

Contoh lain lagi:
Demikian pula dalam simbol “tak terhingga” (infinity symbol). Apakah di dunia ini yang tidak terhingga? Mengapa kita bersikeras meletakkan simbol tersebut didalam ilmu pengetahuan kita? Tidak ada di dunia yang kita tinggali ini yang bahkan secara konsep bisa dikatakan tidak terhingga. Nilai yang terbesar pun memiliki nilai, memiliki ukuran yang tidak bisa dikatakan “tidak terhingga”. Ini adalah konsep paradoks, ketika kita mencoba menghubungkan antara dunia kita yang bersifat terbatas, dengan sesuatu yang sifatnya tidak terbatas.

Penjelasan yang menarik dari buku Kristen adalah bahwa satu-satunya didunia ini yang bersifat tidak terhingga adalah manusia. Paradoks lain lagi dalam alam ini. Sementara semua disekitar manusia dalam alam semesta bersifat terhingga, jiwa manusia memiliki sifat yang tidak terhingga. Sehingga manusia itu sendiri pada dasarnya adalah paradoks. Manusia terbatas usianya DAN manusia memiliki unsur kekekalan.

Didalam area pemikiran kita, mulai dari yang bisa diketahui hingga yang tidak mungkin diketahui, paradoks-paradoks kecil tersebar berupa kebenaran-kebenaran yang benar-benar BENAR didalam ilmu pengetahuan, filsafat, dan religi, dan seterusnya. Dan ketika kita tidak berhasil memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, maka petualangan kita mencari kebenaran yang lebih agung dari tempat yang rendah (yaitu alam) ke yang lebih tinggi (yaitu ideologi dan iman) akan menjadi sesat dan menyimpang.

Area abu-abu antara yang “mungkin bisa diketahui” dengan yang “hanya bisa diketahui melalui iman/keyakinan” itu terdapat paradoks yang sifatnya ultimat. Paradoks terbesar itulah yang menjadi pintu masuk kepada pengertian yang benar-benar BENAR. Ketika seseorang gagal dan menyimpang dari paradoks terbesar ini, dia akan membuahkan pemikiran-pemikiran dan tebakan-tebakan yang keliru dalam menginterpretasikan kebenaran yang benar-benar BENAR (kebenaran yang sejati), berikut dengan semua “paradoks kecil”-nya.

Kita mengenal ada pemikir-pemikir besar sepanjang sejarah yang berhasil mengikuti jejak-jejak paradoks-paradoks kecil, namun tidak menemukan paradoks ultimat. Mengakibatkan dia tidak tuntas pada pendefinisian dan pengertian didalam pencariannya untuk memahami kebenaran sejati.

Ada pemikir-pemikir besar lain lagi yang sanggup memahami paradoks ultimat ini, dia menemukan kebenaran yang benar-benar BENAR, dan melalui pemahaman tersebut, dia sanggup menemukan dan membongkar sebagian paradoks-paradoks kecil yang tersebar dalam alam semesta.
Walaupun tidak bisa tuntas memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, karena alam yang terbatas ini pun sedemikian luas dan besar sehingga tidak dimungkinkan untuk dipahami secara tuntas. Hal inilah yang memicu dan kemudian mengakibatkan munculnya simbol “tak terhingga” ditengah-tengah realm yang seharusnya “terhingga”. Sebuah pengertian akan adanya sesuatu yang tidak berbatas ditengah-tengah keterbatasan realm yang kita tinggali ini. Sebuah fenomena tentang “kekekalan” yang tampak nyata namun tidak tersentuh. Sebuah realm yang ditengarai sebagai sebuah eksistensi, namun tidak merupakan sebuah eksistensi: itulah paradoks yang lain lagi.

Didalam banyak hal, paradoks adalah satu-satunya cara untuk memahami kompleksitas alur berpikir, sudut pandang, dan aspek-aspek penting dari berbagai macam pikiran-pikiran. Namun, perlu dipahami bahwa ketika sebuah paradoks “mampu dimengerti” tidak berarti bahwa paradoks itu “mampu diterima”.

Sekali lagi, buku orang Kristen membukakan kepada kita bahwa paradoks ultimat yang sudah diterima hanya mampu untuk dimengerti ketika seseorang mau tunduk mutlak dibawah penerimaan akan sesuatu yang tidak dia mengerti. Jadi, manakah yang terlebih dahulu muncul, pengertian atau penerimaan? Orang harus menerima dulu baru sanggup mengerti, atau harus mengerti  dulu baru bisa menerima? Sebuah paradoks yang harus disimpulkan masing-masing orang.

Seperti dalam hal pembelajaran. Bagaimana seseorang mampu belajar? Pertama-tama dia harus terlebih dahulu percaya bahwa guru yang mengajar dia adalah benar. Tapi dari mana dia bisa tahu bahwa guru itu benar jika dia belum belajar apapun juga? Jika dia sudah belajar dan sudah merasa tahu atau lebih tahu dari gurunya, buat apa lagi dia mau belajar, karena tidak ada yang dapat ia pelajari kalau ia sudah tahu.

Kembali pada kasus ”pengertian dan penerimaan” diatas. Jika seseorang belum mengerti, bagaimana ia bisa menerima dan percaya akan kebenaran suatu paradoks. Jika seseorang tidak mau menerima sebuah paradoks, bagaimana ia bisa mempelajari hingga mencapai pengertian. Pertanyaan ini sudah saya jawab diatas.

Fanatisme dari perspektif Psikologi

Fanatisme atau fanaticism adalah sebuah pandangan atau pendapat yang ekstrem mengenai suatu pemikiran ataupun objek tertentu; seringkali lebih dikaitkan terhadap suatu konsep kepercayaan atau dogma atau paradigma. Fanatisme tidak pernah menarik untuk dibahas jika hanya mengarah pada merek mobil, alat elektronik, pakaian atau asesoris, atau gaya hidup dan kegemaran akan makanan. Namun ketika fanatisme muncul pada sebuah pandangan politik atau ideologi, issue ini menjadi sangat menarik untuk diperhatikan.

Dikatakan “menarik untuk diperhatikan” karena ketika perilaku fanatisme dibandingkan antara yang mengarah kepada objek tertentu dan yang mengarah kepada politik atau ideologi tertentu, maka akan ditemukan bahwa tidak seorangpun berkenan untuk “berdebat” atau “berargumentasi” sengit ketika membicarakan dan membandingkan objek tertentu. Sebagai contoh, tidak seorangpun berkelahi ketika berbicara tentang fanatisme terhadap merek mobil A dengan merek mobil B. Tidak seorangpun berargumen sengit ketika berbicara tentang fanatisme terhadap makanan dari restoran A dengan makanan yang sama dari restoran B.

Hampir dapat dipastikan, tentunya pendapat dan pandangan masing-masing pihak terhadap objek tertentu dapat diperdebatkan karena telah ada perbedaan analisa ketika membandingkan antara objek satu dengan objek lain. Perbedaan analisa tersebut muncul karena ada perbedaan sudut pandang secara kualitas baik dari segi kebenaran, nilai, moralitas, kaidah, manfaat, maupun variabel yang lain. Itulah sebagian kecil dari variabel-variabel yang mendasari dan akan menentukan mengapa seseorang mengambil sikap (baca: fanatisme) tertentu terhadap suatu objek.

Atau benarkah demikian adanya? Benarkah bahwa fanatisme adalah produk dari pertimbangan rasional yang sudah teruji dan dipertimbangkan serta diketahui secara tuntas, atau mendekati tuntas, atau minimal telah melingkupi sebagian besar pokok-pokok pikiran. Hal lain lagi yang menarik untuk diperhatikan.

Untuk dapat membandingkan dua merek pakaian, dan kemudian memilih merek tertentu yang akan disukai secara konsisten (baca: fanatik), seseorang haruslah melalui sebuah proses kognitif untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan seakurat mungkin, kemudian dapat ditarik sebuah kesimpulan yang valid, baik dan benar. Kedua merek tersebut dibandingkan, mulai dari desain dan siapa desainernya, pemilihan bahan, kehalusan pembuatan, dan banyak faktor yang lain. Bagaimana dengan memilih sebuah partai politik tertentu, atau ideologi tertentu, atau agama tertentu? Tanpa memiliki data statistik yang akurat, saya cukup yakin bahwa sebagian kita akan setuju terhadap pandangan saya bahwa ‘banyak’ orang-orang yang tidak melakukan proses kognitif yang seharusnya dia jalankan ketika mereka menjatuhkan pilihan pada objek politik atau ideologi tertentu.

Jika demikian halnya, bahwa pengambilan keputusan tersebut tidak didasarkan pada proses berpikir yang mengarah pada pengambilan kesimpulan, lalu dengan apakah seseorang memutuskan pilihan pada objek politik atau ideologinya? Dengan presuposisi apa dia melakukan pemilihan? Dengan perasaan belaka kah? Apakah perasaan tersebut bisa dipertanggungjawabkan dan dijelaskan?

Jawabannya adalah dengan keyakinan (baca: iman).

Tetapi keyakinan itu sendiri tidak akan pernah cukup jika tidak kemudian dilanjutkan dengan proses kognitif yang memadai. Cara berpikir pragmatis (atau filsafat pragmatisme) yang melanda era jaman post-modern telah membuat manusia sangat malas berpikir dan menghilangkan sifat keingintahuan tentang begitu banyak hal. Bahkan bisa dikatakan bahwa mereka tidak perduli dengan apapun yang terjadi disekitar mereka kecuali mereka ikut merasakan dampaknya. Mereka tidak berusaha belajar dari pengalaman orang lain, mereka tidak berusaha mengerti dalam keluasan dan wawasan serta sudut pandang yang kritis tentang apapun, mereka bahkan tidak berniat belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Keyakinan adalah yang mendahului semua proses pembelajaran kita sejak masa kecil kita. Kita yakin bahwa kalimat yang diucapkan oleh guru kita adalah benar. Kita yakin bahwa tulisan yang berada dalam buku pelajaran kita adalah benar. Kita yakin bahwa sekolah yang kita masuki akan memberikan kita ilmu yang benar. Tanpa keyakinan, kita tidak akan belajar apapun juga.

“Credo ut intelligam” (I believe so that I may understand) – Anselm of Canterbury

Terjemahan: Aku percaya supaya aku bisa mengerti

Fanatisme dalam dunia politik dan ideologi/agama adalah seperti meyakini bahwa “1 + 1 = 2”. Itu saja. Sesederhana itu. Atau paling tidak, itu yang saya kira. Seorang fanatik adalah orang yang sedemikian yakin bahwa dia sedang mempercayai dan melakukan kebenaran, dia tidak perduli dengan pendapat orang lain, dia tidak dapat diyakinkan sebaliknya. Percaya diri. Itu seharusnya bagus. Paling tidak, saya kira itu bagus.

Tentu saja itu akan menjadi mudah ketika seseorang dihadapkan pada “1 + 1 = 2”, atau ketika dia dihadapkan pada persoalan untuk memilih pakaian atau mobil atau makanan seperti pada contoh kita diatas. Tapi ternyata fanatisme tidak sesederhana yang saya kira.

Fanatisme lebih mengarah pada perilaku obsesif yang ekstrem di dalam diri seseorang untuk meyakinkan dirinya sendiri mengenai pandangannya terhadap objek fanatismenya. Dia meyakinkan dirinya sendiri sampai pada tahap bahwa dia yakin dan percaya bahwa dia tidak bersalah dalam pandangannya terhadap sebuah objek. Ini adalah sebuah keyakinan, ini bukan lagi tentang pemikiran dan pertimbangan, ataupun proses kognitif.

Lebih jauh lagi, mereka tidak hanya yakin bahwa mereka adalah benar. Melainkan mereka yakin bahwa mereka tidak mungkin bersalah, dan tidak akan pernah bersalah mengenai konsep politik atau ideologi atau bahkan dalam seluruh sistem kepercayaan yang mereka miliki. Dan karena mereka sedemikian yakin bahwa mereka adalah pada dasarnya merupakan kebenaran, mereka akan memunculkan pandangan itu dalam perilaku mereka dengan derajat yang berbeda-beda.

Beberapa menunjukkan dalam sikap defensif yang berlebihan dengan ketakutan bahwa keyakinan mereka akan dirobohkan kemudian kehilangan keyakinan yang menjadi jati diri mereka. Yang lainnya menunjukkan sikap ofensif dengan selalu membicarakan topik yang sama dan mengajak orang lain berdebat untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan menunjukkan sikap permusuhan ketika argumennya dipatahkan.

Orang-orang tersebut menjaga fanatisme yang mereka miliki bukan dengan pengetahuan yang cukup, melainkan dengan keyakinan yang mereka lindungi sedemikian sehingga mereka secara konsisten mencari untuk bergabung dengan orang-orang yang setuju dengan mereka dan memupuk kepercayaan diri mereka dengan cara yang salah. Dan sekali lagi perkiraan saya salah. Itu tidak bagus.

Tadi saya mengambil contoh mengenai proses belajar. Bahwa untuk bisa belajar, kita harus memiliki keyakinan bahwa sumber pembelajaran kita adalah benar. Keyakinan adalah yang memulai segala proses pembelajaran kita. Kita harus yakin (baca: fanatik) dulu bahwa apa yang kita yakini adalah kebenaran. Dan proses ini mendahului proses kognitif yang kita miliki. Ini adalah paradoks dalam proses pembelajaran. Bagaimana kita bisa yakin bahwa yang kita pelajari itu adalah benar jika kita belum tahu apakah yang akan kita pelajari itu benar? Tapi jika kita tidak mau yakin bahwa apa yang kita pelajari itu benar, bagaimana caranya kita bisa belajar apapun juga?

“I do what I think and I think what I believe.”  Francis Schaeffer

Terjemahan: Aku melakukan apa yang aku pikirkan dan aku memikirkan apa yang aku percaya

TIdak ada yang salah dengan fanatisme yang benar, yang berdasar, yang berpengetahuan. Tidak ada yang salah dengan memiliki keyakinan terhadap apapun juga, baik objek, atau politik, atau ideologi, atau agama tertentu, namun keyakinan itu haruslah dikonfirmasi dengan pengetahuan yang lengkap. Karena keyakinan yang benar harus menuntut pengetahuan yang menopang dia secara cukup. Keyakinan yang benar harus menuntun orang kepada pengertian yang membuktikan bahwa keyakinan itu adalah memang benar adanya.

Kembali pada contoh proses belajar diatas, keyakinan tentang sumber pembelajaran yang benar itu haruslah dikonfirmasi dengan mengkonfrontasikan keyakinan itu dengan apa yang kita pelajari. Apakah 1 + 1 adalah benar-benar 2? Apakah cahaya putih yang kita lihat itu adalah cahaya yang berwarna putih ataukah warna putih itu dihasilkan dari spektrum warna yang menimbulkan cahaya yang kita sebut berwarna “putih”? Apakah partai politik tertentu berisi orang-orang yang memiliki kualifikasi yang baik, memiliki moral yang baik, sehingga dikemudian hari dia akan menepati janjinya dan tidak akan merugikan rakyat dan negara yang dipimpinnya? Apakah nilai moral yang baik itu secara definisi dan praktika?

Berdasar pada kutipan Francis Schaeffer, “aku melakukan apa yang aku pikirkan dan aku memikirkan apa yang aku percaya”; apakah kepercayaan tertentu menghasilkan nilai moral tertentu? Bisakah ajaran dan kepercayaan yang baik menghasilkan nilai moral yang tidak baik? Sebaliknya, bisakah ajaran dan kepercayaan yang tidak baik menghasilkan manusia yang berkualitas baik?

Kita mengenal peribahasa, “dari mulut anjing, tidak bisa keluar gading.” Dari yang berkualitas rendah, tidak bisa keluar sesuatu yang agung. Dan kita juga mengenal peribahasa, “tidak ada gading yang tidak retak.” Yang bermakna bahwa dari yang agung pun tidak luput dari kecacatan, dan memang ada gading yang retaknya banyak, jadi gading yang dibuang ke tempat sampah, namun ada gading yang retaknya sedikit, yang harganya sangat amat mahal.

Fanatisme (seperti halnya pembelajaran), boleh keluar dari suatu keyakinan (baca: iman) karena memang sedemikian sepatutnya. Namun fanatisme yang berhenti pada keyakinan itu sendiri adalah sesuatu yang sangat rapuh dan tidak bertanggung jawab. Seperti halnya saya mengatakan bahwa nasi goreng di warung seberang kantor saya itu sangat enak. Saya yakin itu enak, karena baunya harum dan kalau siang ramai pembeli. Saya tidak pernah makan disana, saya tidak mau makan disana. Tapi menurut saya, yakin bahwa nasi goreng disana enak. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

Pimpinan politik yang saya pilih itu baik. Karena parasnya bagus. Karena kata-katanya manis dan sedap didengar. Karena dia memberikan uang kepada saya untuk ikut kampanye, pasti dia murah hati dan baik. Pokoknya dia baik. Saya tidak kenal dia. Tapi menurut saya, yakin dia baik. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

Keyakinan saya benar. Saya yakin pemimpin agama saya mengajarkan yang baik. Pokoknya menurut saya, yakin bahwa itu baik. Saya tidak perlu tahu apapun juga. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

“Faith seeking understanding”  Anselm of Canterbury

Terjemahan: Keyakinan menuntut pengertian