Ironi Kontradiksi Antara “Kemauan” dan “Kelakuan” dalam Psikologi

Saya yakin, banyak dari kita –atau mungkin bahkan semua kita– pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat seperti demikian, ‘Saya ingin sehat, tapi susah sekali mau mulai berolahraga,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk memiliki berat badan yang ideal, tapi susah sekali untuk menahan keinginan untuk makan,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk rajin, tapi kenapa selalu gagal fokus.’

Kita semua pasti pernah, atau paling tidak merasakan bahwa ada kesenjangan antara apa yang kita mau dan yang kita lakukan yang ternyata kemudian bertentangan dengan tujuan kita seperti contoh yang barusan saya sebutkan. Fenomena kesenjangan antara keinginan dan kekuatan komitmen kita sering kali menjadi penghambat antara impian dan kenyataan. Fenomena sedemikian menciptakan banyak motivator yang mendorong dan menyemangati kita dengan banyak sekali kalimat-kalimat yang mendongkrak motivasi.

“Everything is about HOW BAD DO YOU WANT IT”

Segala hal adalah tentang SEBERAPA BESAR KEINGINANMU

Saya pribadi menyukai kalimat itu. Kalimat itu menyatakan pada kita untuk mencari kedalam diri kita sendiri, seberapa besar keinginan kita, seberapa dalam ambisi kita, dan ketika kita sudah mengetahuinya, maka sebesar itu pula daya dan tenaga yang akan muncul untuk mendorong kita untuk meraih yang kita dambakan.

Tapi benarkah motivasi-motivasi sedemikian benar-benar bermanfaat? Tidakkah kita semua terus mendengar banyak orang yang mengeluhkan hal yang sama? Yang ingin sehat tetap tidak berolahraga, yang ingin memiliki berat badan ideal tetap tidak berhenti ngemil dan makan, yang ingin tidak mencontek tetap malas belajar, yang tahu bahwa merokok tidak sehat tetap tidak berhenti merokok, yang mengerti bahwa candu itu mengerikan tetap tidak berhenti dengan kecanduan, yang ingin saleh tetap tidak behenti menipu, tidak jujur, dan korupsi, yang beragama dan menyebut nama tuhan tetap saja merebut sikap dan menjadi tuhan bagi manusia lain, yang tahu bahwa diri sendiri memiliki salah tapi tetap berani menghakimi orang lain, dan yang ingin masuk surga tetap tidak berhenti berbuat dosa. Tidak ada yang berubah. Semua tetap sama. Manusia tetap adalah manusia yang penuh dengan kesalahan dan kelemahan.

“Belajar melakukan satu hal yang baik saja belum, sudah selesai melakukan seratus hal yang jahat.”

Pernahkah mendengar pepatah tersebut? Itulah gambaran tentang kita, manusia. Kita berjuang untuk menjadi baik, bersusah payah dan berjerih lelah supaya bisa menjadi orang benar, berkualitas, berbudaya tinggi, agung, anggun, berpengetahuan, berwawasan, berbijaksana, bermoral, dan seterusnya. Dan untuk mencapai itu semua adalah tidak mudah, dituntut ketekunan dan perjuangan dan pembelajaran. Namun apa daya, belum juga selesai belajar untuk menjadi positif, kita semua sudah selesai melakukan semua hal yang sebaliknya, yang bertentangan dan yang negatif: kita egois, tidak toleran, tidak mau mengerti kesulitan orang lain, hidup seenaknya, tidak tertib, tidak taat aturan, malas, tidak perduli dan tidak peka terhadap hal disekitar kita, mengumbar hawa nafsu, dan seterusnya. Dan kesemuanya bahkan tidak perlu kita pelajari, tidak perlu pembelajaran, kita lakukan sambil lalu, bahkan tidak perlu kita upayakan atau kita pikirkan.

Mengapa sedemikian? Karena kita manusia. Itulah alasan yang selalu kita lontarkan. Namanya juga manusia. Setelah selesai meminta maaf, kemudian berbuat salah lagi. Sudah selesai menangis dan menyesal, kemudian kembali melakukan hal yang sama. Kita hanya manusia. Membuat saya kadang bertanya-tanya, benarkah perbuatan baik yang saya lakukan bisa ditimbang dan jadinya lebih banyak daripada kesalahan saya?

Apakah kita tidak memiliki keinginan untuk menjadi baik? Apakah kita tidak termotivasi untuk menjadi makhluk yang agung, makhluk yang berbeda dengan binatang, makhluk yang berakal dan berbudi pekerti? Saya yakin jawabannya adalah tidak demikian, kita termotivasi, sungguh-sungguh mau dan termotivasi. Tapi kita tidak pernah berhasil. Paling tidak, saya tidak pernah berhasil. Saya tidak tahu tentang Anda.

Hal ini bukanlah masalah sosial, bukan problematika sosiologi, bukan juga permasalahan psikologi. Kita seringkali dengan ringan menyalahkan orang lain, “aku berusaha baik, tapi lingkunganku yang membuat aku begini dan mempengaruhi aku.” Dengan kata lain, “aku baik, orang-orang itu yang jahat dan membuat aku ketularan menjadi jahat.” Dan semua orang merasakan hal yang sama, dia merasa baik, tapi lingkungan (baca: semua orang yang lain) yang jahat. Bukankah kita masing-masing adalah ‘lingkungan’ bagi semua orang yang lain? Dengan demikian, tidakkah kita secara kolektif adalah sebenarnya jahat? Sudah diri sendiri jahat, masih menuduh orang lain yang jahat dan mempengaruhi kita –‘katanya’– sehingga kita menjadi jahat. Tidakkah kejahatan kita jadi berlipat, menjadi orang jahat dan menuduh serta memfitnah orang lain sebagai orang jahat?

Masalah tentang perbedaan antara keinginan dan kelakuan ini adalah masalah dengan manusia. Manusia memang sedemikian. Tidak ada jalan keluar.

“This is not a technical problem, not motivational problem, not strong will problem. This is a ‘people problem’. And we cannot fix people. No one can.”

Hal ini bukanlah masalah teknis, bukan masalah motivasi, bukan masalah tekad. Ini adalah ‘masalah manusia’. Dan kita tidak bisa memperbaiki manusia. Tidak ada yang bisa.

Sebagian manusia secara fenomena yang kasat mata terlihat baik, terlihat jujur, terlihat sopan, sampai suatu ketika topeng-topeng itu terbongkar dan terlihat sejatinya. Kembali kepada kalimat motivasi favorit saya, semua itu adalah tentang seberapa besar keinginan kita, tetapi hal itu tidak berlaku untuk semua hal. Dalam beberapa hal, motivasi dapat mendorong kita, namun tidak dalam semua hal. Demikian pula dengan psikologi, sampai dalam hal tertentu, psikologi dapat membantu, namun tidak dalam semua hal. Dan tidak ada jalan keluar lain yang dapat ditawarkan.

Paling tidak, tidak dari apa yang selama ini kita kenali sebagai pengetahuan atau filsafat atau agama.

“You’re a man looking at the world through a keyhole. You’ve spent your whole life trying to widen that keyhole… to see more, to know more. And now, on hearing that it can be widened, in ways you can’t imagine, you reject the possibility.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Kamu adalah seseorang yang mengamati dunia ini dari lubang kunci. Kamu menghabiskan seluruh hidupmu mencari cara untuk memperbesar lubang kunci itu… untuk melihat lebih banyak, mengetahui lebih banyak. Dan sekarang, saat mendengar bahwa lubang itu dapat diperbesar, dengan cara yang tidak dapat kamu bayangkan, kamu menolak kemungkinan itu.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Sampai pada titik ini, pada situasi yang tampaknya tanpa pengharapan, bagi Anda yang merasakan sedemikian, saya dengan jujur akan mengatakan bahwa saya tidak menulis artikel ini untuk membuat Anda berputus asa. Saya menemukan jawaban dalam buku orang Kristen. Bahwa perubahan dan motivasi yang kuat adalah motivasi yang berasal dari dalam diri. Hal ini juga diketahui oleh kita semua. Motivasi yang berasal dari luar diri tidak akan bertahan lama. Akan tetapi, motivasi seperti apa dan darimana motivasi itu bisa berasal (yang kemudian berada dalam diri seseorang) yang bisa bertahan lama?

Di dalam kepercayaan Kristen, dikatakan bahwa di dalam Yesus, ada kuasa yang memperbaharui dan merubahkan. Perubahan secara fenomena dapat dilakukan oleh siapapun, untuk menipu diri sendiri dan orang lain. Tapi tidak jarang pula, perubahan fenomena itu bisa bersifat sejati. Tetapi ketika menyentuh hal-hal tentang perubahan yang sifatnya esensi dan intisari, yang berkenaan dengan kesalehan, moralitas, kebenaran, kasih dan keadilan, tidak ada perubahan secara fenomenal yang dapat bertahan lama. Perubahan dari luar adalah bersifat sementara dan bahkan bisa mendatangkan frustasi dan keputusasaan dan ketegangan dalam diri. Bayangkan seperti ini, tentang pekerja yang hanya kelihatan rajin saat ada atasannya mengawasi. Itu adalah perubahan fenomena. Dia ingin terlihat baik supaya pekerjaannya dihargai. Tetapi perubahan itu hanya akan mendatangkan ketidaktenangan ketika dia mengerjakan pekerjaannya. Akan tetapi dengan perubahan yang dari dalam diri, ketika dia tahu bahwa dia harus bekerja sebaik-baiknya karena itu adalah hal yang jujur dan benar, dia akan bekerja rajin, baik pada saat ada yang melihat ataupun pada saat sendirian.

“Apakah moralitas itu? Moralitas adalah melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang melihat.”

Tentang hal pekerjaan, itu adalah hal yang kelihatan.

Tentang kesalehan, kesucian hidup, kejujuran, dan seterusnya, siapakah yang bisa mengetahui? Hanya takut akan Tuhan yang sejati yang bisa menjaga hal-hal yang sifatnya tidak kelihatan. Di dalam buku orang Kristen dikatakan, “Takut akan Tuhan adalah awal dari pengetahuan.” Itulah moralitas. Hiduplah sedemikian seperti hidup senantiasa dihadapan Tuhan. Perubahan bermula dari penyesalan, dan kita yang telah bersalah, diampuni dosanya oleh Yesus. Dari penebusan dosa oleh Kristus akan ada perubahan dari dalam diri masing-masing orang yang akan mendatangkan dan memunculkan hidup. Kekuatan dari dalam itulah yang menghidupkan seseorang dan memampukan dia untuk dirubahkan.

Sama seperti kehidupan semua makhluk hidup yang berasal dari dalam. Kehidupan tidak pernah berasal dan ditopang dari luar diri, melainkan selalu dari dalam. Ketika manusia berusaha memotivasi diri dari luar, kemudian berputus asa dengan keterbatasannya dan perjuangannya untuk menjadi makhluk yang sejatinya adalah yang berakhlak dan bermoral, ketika tidak ada jalan keluar melalui tuntutan agama dan pengetahuan, iman Kristen memberikan jalan keluar.

Ilmu pengetahuan berbicara tentang benar dan salah. Kemudian Agama –semua tanpa kecuali– berbicara tentang baik dan jahat. Dan Filsafat berbicara tentang bijak dan bodoh. Hanya iman Kristen yang berbicara tentang hidup dan mati yang kekal.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” – Yesus

Tidak pernah ada siapapun pernah mengatakan hal sedemikian (jika Anda menemukan orang waras lain yang pernah mengatakan hal sedemikian, tolong beritahu saya). Iman Kristen tidak hanya bicara tentang benar dan salah atau baik dan jahat, tetapi terutama adalah tentang hidup. Agama mencari jalan. Pengetahuan dan filsafat mencari kebenaran. Dan hampir semua manusia yang pasti akan mati mencari ‘kehidupan’. Dan semuanya ada didalam Tuhan-nya orang Kristen.

Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kesadaran Moral

Saya yakin kita semua pernah berada dalam suatu dilema moral, yang satu lebih kompleks dan berat dibanding yang lain. Ketika kita melihat suami dari sahabat kita berselingkuh, apakah yang akan kita lakukan? Berdiam diri atau menegur atau menyampaikan hal tersebut? Jika kita sampaikan, akan terjadi kerusakan parah dalam keluarga mereka, mungkin anak-anak mereka akan dibesarkan dalam keluarga yang hancur. Jika tidak kita sampaikan, hal itu mungkin akan berlanjut dan menjadi lebih parah.
Atau ketika seseorang sedang dalam antrian dalam ruang praktek dokter, ada seseorang yang anak kecil dan tampaknya jauh lebih kesakitan daripada kita, baru datang dan mengantri sesudah kita. Kita yang sudah mengantri lebih dari satu jam, yang juga sedang migren, demam dan nyeri dengan bisul di bibir ; apakah kita akan membiarkan anak itu masuk terlebih dahulu padahal dia baru saja datang?
Atau ketika kita memiliki posisi sebagai pejabat pemerintah, seseorang datang memohon persetujuan dan pengesahan dari dokumen dan perjanjian kontrak; datang dengan membawa uang suap. Semua orang di kantor kita memiliki budaya dan kebiasaan yang sama. Semua orang tau bahwa suap itu adalah etika yang rusak, tapi semua orang melakukannya. Jadi akan kita terima kah uang suap itu? Jika kita tolak, kita menjadi orang yang sok suci, dikucilkan karena tidak sejalan dengan semua orang dalam kantor kita. Jika kita terima, hati nurani kita menegur kita bersalah.
Atau ketika kita melihat handphone yang tergeletak di kamar mandi pusat perbelanjaan, tanpa pemiliknya. Akankah kita ambil? Atau kita biarkan? Atau kita bawa pulang? Atau kita serahkan kepada pihak managemen atau pihak keamanan gedung? Tidak akan ada seorangpun yang menyalahkan kita kalau kita bawa pulang dan kita jual, karena tidak ada yang tahu. Tidak ada siapapun yang akan menegur kita selain daripada diri kita sendiri dan hati nurani kita.

Ada banyak dilema moral yang terjadi di sekitar kita, dimana kita dituntut untuk mengambil sebuah posisi didalamnya. Seperti pepatah yang berbunyi, “Bagaikan buah simalakama, dimakan: bapak mati, tidak dimakan: ibu mati.” Semakin kita memiliki pengertian moralitas dan pengetahuan norma kebaikan dan kebenaran, semakin banyak kita akan menempatkan diri kita dalam dilema moral.

Moralitas dan Perasaan Bersalah

Dari manakah munculnya kesadaran moral? Secara sangat singkat, dari didikan budaya dan agama. Saya yakin kita semua akan setuju jika saya katakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Saya yakin sebagian kita akan setuju jika saya katakan bahwa kesadaran moral adalah sama seperti kesadaran tentang keberadaan Tuhan, yang ada sejak manusia dilahirkan. Namun bersamaan dengan kesadaran moral tersebut, ada hal dalam diri kita yang ada sejak lahir, namun tidak kita sadari, yaitu amoralitas.

Saya mengasumsikan kita semua pernah mendengar kalimat bahwa, “manusia itu pada dasarnya baik. Manusia dilahirkan seperti lembaran kertas putih polos. Masyarakatlah yang membuat manusia menjadi rusak dengan pengaruh negatif.”

Saya pribadi tidak setuju dengan kalimat itu. Siapakah masyarakat? Masyarakat adalah kumpulan manusia. Jika kumpulan manusia semua berasal dari kertas putih polos, darimana datangnya ketidakbaikan?
Ingatkan kita ketika kita pertama kali mencuri? Ingatkah betapa kita sangat ketakutan ketika itu? Atau ingatkan kita ketika kita pertama kali berbohong?

Kita tahu bahwa kita bersalah. Hati nurani menegur kita, dan hidup kita menjadi tidak tenang karenanya. Dalam perkembangan kita, kita mulai mengenal kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, keadilan dan kelaliman, dan seterusnya; berikut dengan segala kompleksitas dan dilema didalamnya.

Kita mengenal dan belajar tentang semua itu dari mereka-mereka yang memiliki kepekaan terhadap teguran hati nurani mereka, mereka-mereka yang menjaga moralitas mereka, dan kita menganggap mereka itu sebagai orang-orang saleh. Dan kita mengenal mereka semua sebagai pengajar moral, pemuka agama, pemimpin agama, dan seterusnya.

Pernahkah kita sadari bahwa justru dari pengetahuan akan moralitas tersebut membangkitkan kesadaran kebersalahan? Perasaan bersalah itu muncul karena kita mengerti hal yang baik dan hal buruk. Ketika kita tidak  mengerti akan perbedaan benar dan salah, tidak ada dalam diri kita yang menegur.

Konsep Dosa

Saya yakin kita semua setuju bahwa sebagai orang yang beragama, kita semua mengenal konsep dosa. Bahkan orang yang tidak beragama pun harus mengakui suatu perasaan bersalah yang timbul dalam diri seseorang, termasuk didalamnya adalah perasaan menyesal. Setiap orang yang tidak memiliki perasaan bersalah atau penyesalan dikategorikan kedalam orang yang memiliki gangguan kejiwaan yang parah atau psychopathy.

Sesungguhnya, agama tidak pernah membawa kita kepada kebenaran. Agama membawa kita kepada konsep pengertian bahwa ada kebenaran dan kebaikan. Melalui pengertian tersebut, kita dibawa pada pengetahuan akan yang baik dan yang jahat. Semakin kita mengenali dan mendalami perihal kebaikan, semakin kita mengetahui bahwa kita ini adalah orang yang memiliki banyak kesalahan.

Ketika kita berbuat baik, menolong orang, memberikan kepada seorang pengemis bantuan berupa uang, kita merasa sudah baik. Kita berbuat baik. Kita adalah orang baik. Kita menolong orang lain.

Pernahkah kita memikirkan lebih jauh, apakah perbuatan kita menolong pengemis itu akan berakibat baik bagi dia atau malah menjerumuskan dia? Apakah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengemis tersebut? Apakah uang? Ataukah pekerjaan? Ataukah kesempatan? Apakah uang yang kita berikan dia gunakan untuk membeli makanan atau malah membeli rokok yang malah tidak menyehatkan?

Saya sekali lagi yakin, bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan seharusnya menggugah sebagian kita dan menyadarkan kita. Tapi kita merasionalisasikan perasaan tanggung jawab moral dan kesadaran moral itu dengan alasan-alasan seperti berikut: yang penting kita sudah berniat baik. Yang penting adalah niatnya. Masalah pengemis itu mau terus menjadi pengemis, atau uang itu mau dipakai untuk beli makanan, atau beli rokok, atau beli pisau untuk menodong orang, atau dipakai untuk menyekolahkan anaknya, kita tidak tahu. Tepatnya, kita tidak cukup perduli.

Dengan kata lain, kita tidak bisa dipersalahkan ketika kita tidak tau.

Hal itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Pengertian itu seharusnya membangkitkan suatu perasaan bersalah yang lain. Yaitu seberapa jauh pun kita mau berbuat baik, kita tidak bisa berbuat baik. Kita tidak bisa secara tuntas berbuat kebaikan yang dapat membenarkan diri kita atau membuat diri kita dibenarkan. Karena kita tidak tahu, hal itu cukup untuk menenangkan hati nurani kita dan menjauhkan kita dari perasaan bersalah.

Agama dan kebenarannya hanyalah membuktikan bahwa diri kita ternyata tidak mampu melakukan kebaikan. Dan melakukan satu kesalahan dari satu larangan dalam agama berarti telah melanggar semua hukum. Agama tidak menyelamatkan. Perbuatan baik tidak membuat kita dibenarkan. Saya yakin kita semua bisa menyetujui kalimat berikut, apakah semua orang dalam penjara adalah orang yang tidak beragama? Tidak. Pasti ada banyak orang yang berada dalam penjara yang adalah orang yang taat beragama. Apakah koruptor adalah orang yang tidak taat beragama? Jika mereka beragama, mengapa mereka tetap korupsi?

Akan tetapi melalui jalan agama, seseorang diberi tahu bahwa dia bersalah, dia berdosa. Dan sebagian besar agama menawarkan penyelesaian, yaitu melalui perbuatan baik. Namun hal tersebut menimbulkan permasalahan yang lain lagi yang sudah kita bahas, yaitu kesadaran bahwa tidak ada perbuatan baik kita yang benar-benar tuntas merupakan kebaikan yang dapat dibanggakan dan dijadikan pengganti perbuatan dosa kita dan menenangkan perasaan bersalah kita.

Masalahnya utamanya adalah kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan. Kita berusaha melakukan penebusan kesalahan kita dalam setiap upacara besar keagamaan. Setiap kali. Dan setiap kali kita melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada jalan keluar melalui agama, karena perbuatan amal kita tidak bisa menyelamatkan kita.
Berusaha menyelamatkan diri melalui perbuatan amal adalah seperti melanggar lampu merah. Kita keluar rumah, hendak menuju ke rumah kekasih kita, di jalan ada sepuluh lampu merah. Setelah melalui 9 lampu merah, kita sadar bahwa kita sudah terlambat. Maka di lampu merah ke-10, kita serobot dan langgar. Kemudian kita dihentikan oleh polisi dan di tilang. Kita tidak bisa berargumen kepada polisi itu, “Bapak tidak boleh menilang saya. Saya sudah melewati 9 lampu merah dengan tertib, masa baru 1 lampu merah yang saya langgar, sudah ditilang?”
Kita tidak bisa juga berargumen kepada seorang hakim, “Sudah 39 tahun saya hidup sebagai warga negara Indonesia, tidak pernah saya berurusan dengan hamba hukum, masakan baru satu kali ini saya mencuri karena anak saya sakit keras dan hampir mati, saya akan langsung masuk penjara?”

Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan. Dan agama memperjelas hal itu. Melalui agama kita mengenal semua baik dan jahat. Dan semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak kita sadar bahwa semakin banyak yang kita perbuat ternyata tidak baik.

Jika kita bisa dianggap baik hanya dengan mempercayai suatu agama tertentu tanpa perlu hidup bertanggung jawab dan suci, apa gunanya kita hidup bersusah payah berusaha mengejar kesalehan? Apa gunanya kesadaran kita akan moralitas? Jika demikian halnya, apakah gunanya beragama? Dan disini jawaban yang saya temukan yang selalu saja diucapkan orang: Ada begitu banyak agama di luar sana. Apakah semua agama itu sama saja dan berakhir dengan kebuntuan dan dilema sedemikian?

Hukum Kausalitas Dalam Sosiologi dan Psikologi

Kausalitas adalah satu bentuk relasi yang menghubungkan sebuah peristiwa dengan peristiwa berikutnya. Relasi itu memberikan sebuah gambaran tentang peristiwa yang menjadi penyebab dan peristiwa yang menjadi akibat, dimana peristiwa yang pertama dimengerti sebagai penyebab dari peristiwa kedua. Demikian pula sebagai konsekwensinya, peristiwa yang pertama tersebut juga adalah merupakan hasil akibat dari peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Berdasarkan hukum yang dipahami dan disetujui secara luas ini, ditarik sebuah pengertian bahwa dalam alam semesta ini, segala sesuatu terjadi karena ada penyebabnya. Dan segala sesuatu ada karena ada inisiatornya. Inisiator tersebut dapat berupa berbagai macam faktor dan hasilnya adalah merupakan sebuah fenomena yang menjadi akibat dari inisiatif oleh inisiator.

Hukum kausalitas harus diakui oleh berbagai bidang, mulai dari filsafat yang bisa ditelusuri bahkan sampai pada Aristotle, sosiologi, psikologi, hingga sains dan seluruh pelosok konsep dan pemikiran yang mungkin dipikirkan manusia. Hukum inilah yang membuat segala sesuatu bisa memiliki kemungkinan untuk diprediksi dan memiliki konsistensi. Bisa kita bayangkan jika hukum ini tidak ada dalam dunia kita, maka tidak akan ada pola tertentu di dalam alam semesta yang bisa mungkin kita pelajari karena semuanya akan kacau balau.

Hukum sebab akibat – tabur tuai

You reap what you sow

Terjemahan: Kamu menuai apa yang kamu tabur

Secara universal, hukum kausalitas membentuk pengertian tentang determinisme bahwa ada satu hukum timbal balik yang berlaku secara umum dalam kehidupan manusia dan segala sesuatu yang relevan dengannya. Secara deterministik, kita menuai apa yang kita tabur, segala yang kita perbuat akan kembali pada kita pada akhirnya, semua yang kita kerjakan akan berbalik pada kita. Semua yang kita mengerti mengenai prinsip karma dan perbuatan jahat/baik adalah berdasar pada pengertian hukum kausalitas.

Karena semua orang mengejar kenikmatan dan kenyamanan, hukum ini baik secara langsung maupun tidak langsung memaksa orang untuk berbuat baik, karena dia mengerti bahwa dia tidak akan dapat lari dari pembalasan dan imbalan atau hukuman dan pahala dari pekerjaan tangannya. Hukum ini menjadi kengerian bagi mereka yang berbuat jahat dan merupakan penghiburan bagi mereka yang berbuat baik. Konsistensi, kemutlakkan, dan kekakuan keberadaan hukum kausalitas dalam segala sesuatu yang bergerak di dalam ruang dan waktu ini menjadi motivator tersendiri dalam kehidupan setiap diri manusia. Manusia terdorong dan termotivasi (baca: terpaksa dengan sukarela) untuk berbuat baik.

Resiprokal determinisme

Dalam hubungan antar manusia, ide tentang keberadaan resiprokal determinsme ini dicetuskan oleh Albert Bandura. Resiprokal determinisme menjelaskan tentang keberadaan hubungan timbal balik atau sebab akibat yang membentuk perilaku dalam teori pembelajaran sosial (yang merupakan dasar teori yang lebih tajam yaitu teori sosial kognitif). Timbal balik dalam proses pertumbuhkembangan seseorang terhadap lingkungan sekitarnya membentuk perilaku dan cara berpikir seseorang.

Secara sederhana, perkembangan manusia sejak kecil adalah merupakan proses pembelajaran dan penyesuaian antara dirinya dengan lingkungan sosialnya. Karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, dia terdorong untuk mendapatkan penerimaan atau persetujuan dari lingkungannya. Hal itu memaksa (baca: mendorong) seseorang untuk memunculkan perilaku tertentu yang disetujui oleh lingkungan tempat dia ingin diterima.

Sebagai contoh sederhana, seseorang yang ingin diterima kedalam sebuah perkumpulan, akan mulai mengadopsi identitas dari perkumpulan tersebut. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, sikap, tingkah dan perilaku, dan seterusnya, supaya dia bisa diterima dengan baik, bisa masuk kedalam kelompok tersebut.

Hal ini yang memunculkan kutipan peribahasa Cina yang berbunyi, “Kumpul dengan merah, jadi merah. Kumpul dengan warna hitam, jadi hitam.” Juga kalimat lain, “Kamu akan menjadi seperti lima orang teman yang paling dekat dengamu.” Serta, “Katakan padaku siapa teman-temanmu, maka akan kukatakan padamu siapa dirimu sebenarnya.”

Maksud dari semua kalimat itu adalah sama, yaitu setiap orang dipengaruhi lingkungannya. Memang benar, lingkungan akan sangat mempengaruhi seseorang, akan tetapi adalah benar pula bahwa setiap orang bisa dan boleh memiliki kemungkinan untuk memilih lingkungannya sendiri. Setiap orang diharapkan mampu bertumbuh seturut dengan pembaharuan pikiran dan akal budinya; memunculkan potensi untuk mengerti apa yang baik, apa yang benar, dan apa yang bernilai. Hal itu akan membuat dia memilih lingkungan yang dapat menerima dan mengakomodasi pertumbuhkembangan dirinya.
Sehingga adalah kekeliruan besar jika seseorang yang sudah beranjak dewasa dan memiliki pengertian terus menerus menyalahkan lingkungannya. Perilaku sedemikian adalah perbuatan yang merendahkan dirinya sendiri dan menghina kedewasaan diri.

Hak dan tanggung jawab

Topik bahasan lain yang tidak kalah menarik tentang hubungan sebab akibat dalam masyarakat manusia adalah tentang hak dan kewajiban. Manusia selalu ribut tentang hak dia sebagai manusia, dan hampir selalu lupa bahwa selalu ada kewajiban dan tanggung jawab yang berhubungan langsung secara timbal balik dengan hak tersebut.

Pergunjingan masalah hak dan tanggung jawab ini terus menerus tarik menarik sejak seorang anak kecil mulai memiliki kesadaran. Dan masalah ini semakin dibuat rumit oleh ketidakmengertian orang tua dalam memberikan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Ketidakmengertian orang tua, membuat kesalahpengertian anak dalam pertumbuhannya sehingga anak itu pun akan bertumbuh dalam pengertian yang salah tentang hak dan kewajiban di dalam hidupnya. Demikianlah tatanan lingkungan dan masyarakat dirusak dengan perasaan ketidakadilan yang kadang tidak pada tempatnya. Banyak orang kemudian merasa dirinya selalu menjadi korban ketidakadilan dari hak mereka. Padahal tidak selalu demikian adanya.

Kebanyakan (jika tidak semua) orang baru ribut tentang hak ketika dia merasa dirinya tidak mendapat apa yang menjadi haknya. Dia tidak banyak ribut ketika hak orang lain diambil, apalagi jika yang mengambil hak orang lain adalah dirinya. Demikian pula dengan setiap orang lain, meributkan haknya sendiri-sendiri, tapi seringkali lupa dengan tanggung jawabnya.

Mau gaji naik setiap tahun, tapi pekerjaan dan ketrampilan tidak memenuhi syarat. Mau mendapat nilai bagus di sekolah, tapi tidak mau belajar. Mau hidup berkecukupan, tapi tidak mau berjuang. Memiliki cita-cita setinggi langit, tapi tidak mau berusaha bangun dari tidur dan mulai bekerja. Dan yang lebih buruk lagi adalah kemudian menyalahkan semua hal dan semua orang yang disekitar dia kecuali dirinya sendiri.

Hak selalu harus diberikan lebih rendah daripada tanggung jawab. Kenapa harus lebih rendah? Karena manusia selalu men-over-estimasi kemampuan dirinya sendiri, menilai dirinya sendiri lebih tinggi dari yang seharusnya. Jika dia menilai dirinya tinggi, lakukanlah pekerjaan yang tinggi, kualitas yang tinggi, maka hak akan menyusul naik seturut dengan kemampuan, kewajiban, dan tanggung jawab yang berani dia pikul. Jangan hanya meributkan hak, tapi terlebih penting lagi, ributkanlah kewajiban dan tanggung jawab.

Banyak orang, belum mulai bekerja, sudah minta gaji tinggi, tunjangan ini dan itu. Belum menunjukkan diri bisa apa, kualitas kerja setinggi apa, dedikasi sebesar apa, etos kerja seperti apa, sudah menilai diri tinggi sekali.
Dunia olah raga sangat mengenal keseimbangan hak dan kewajiban. Dalam pertandingan lari, semua orang berlatih dahulu, berusaha dahulu, berjuang dahulu, seorang lebih keras daripada yang lain. Apakah kemudian pada saat pertandingan, yang merasa sudah berlatih lebih keras selalu bisa mengalahkan orang lain? Tidak tentu. Dia boleh saja merasa bahwa dia adalah orang tercepat karena merasa punya hak untuk mendapat medali emas, tapi dia harus menunjukkan dulu hasil latihannya, disiplinnya, usahanya, dan berlari sekuat tenaga. Yang mendapat medali emas adalah yang memasuki garis finish pertama. Setelah dia membuktikan diri, baru dia mendapat medali. Itulah ilustrasi yang paling bisa menggambarkan hak dan kewajiban.

Hak selalu menyusul setelah kewajiban. Kewajiban harus selangkah lebih maju daripada hak. Hak harus selalu lebih rendah daripada kewajiban.

Dihormati dan menghormati

Satu hal lagi yang sangat mempengaruhi relasi antar manusia, yaitu tentang kehormatan. Manusia manapun selalu sangat peka ketika kehormatannya diganggu. Seperti halnya hak. Semua manusia ingin dihargai, dan untuk itu dia seringkali berani membayar mahal untuk membeli kehormatan. Menempelkan berbagai macam benda pada dirinya untuk menaikkan nilainya dihadapan orang lain.

Hal itu adalah sesuatu yang sia-sia dan semu. Karena suatu ketika, dia harus menanggalkan semuanya dan saat itu orang akan menilai segala hal yang tidak bisa dia beli, yaitu nilai kehidupannya. Entah sampai kapan orang akan mengerti bahwa segala sesuatu yang terpenting tidak bisa dibeli dengan uang; Dan segala sesuatu yang memiliki nilai paling tinggi tidak pernah bisa dilihat dengan mata jasmani.

Alam sudah memberi contoh jelas: udara. Tidak bisa dibeli dengan harga berapapun dan tidak kelihatan. Tapi tidak pernah orang berpikir bahwa udara tidak penting dan tidak ada nilainya karena tidak bisa dilihat.

Ada tiga hal besar yang sangat penting dan tidak bisa dibeli dengan apapun dan hanya bisa diperoleh dengan cara memberikannya terlebih dahulu pada orang lain: Kasih, Kehormatan, dan Kepercayaan. Ketiganya memiliki sifat yang sama dan berlaku hukum timbal balik dan sebab akibat.

Agar dihormati orang lain, hormatilah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dihormati.
Agar dikasihi orang lain, kasihilah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dikasihi.
Agar dipercaya orang lain, percayalah orang lain. Dan jadilah orang yang layak untuk dipercaya.

Tidak ada jalan lain. Seringkali orang hanya bisa menuntut orang lain untuk menghormati dia, tapi dia memunculkan perilaku yang tidak layak dihormati. Dia hanya merasa ber-‘HAK’ untuk dihormati.

The Golden Rule dan Etika Kristen

Hukum yang selalu disebut sebagai hukum etika dan moral tentang hubungan manusia yang tertinggi adalah hukum kasih. Istilah Golden Rule sendiri muncul sekitar pertengahan abad ke-17 dengan konsepnya yang membicarakan tentang etika yang bersifat timbal balik (istilah asli: the ethic of reciprocity).

Di dunia sebelah barat, kebudayaan kuno Babilon dalam Hukum Hammurabi (Lex Talionis) menyatakan, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi.” Etika yang lebih bersifat hukuman ini menyatakan hukuman yang setimpal dengan perbuatan. Demikan pula dengan filsuf Yunani kuno yang mengatakan hubungan sebab akibat dalam relasi antar manusia, “Jangan lakukan hal yang akan kamu persalahkan jika dilakukan oleh orang lain – Thales.” Isocrates mengatakan pula, “Jangan lakukan pada orang lain hal yang akan membuatmu marah kalau mereka melakukannya padamu.”

Kalimat dalam dunia filsafat timur pun tidak berbeda jauh dengan kalimat dunia filsafat barat. Confusius mengatakan, “Jangan lakukan pada orang lain hal yang kamu tidak ingin orang lakukan padamu.” Dan Laozi, “Anggaplah keuntungan tetanggamu seperti keuntunganmu, dan kerugian mereka seperti kerugianmu.”

Persamaan semua kalimat itu adalah sifat kalimat pasif: jangan lakukan pada orang lain.
The Golden Rule itu sendiri mengatakan, “Perbuatlah kepada orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan – Yesus.” Ini merupakan etika yang lebih tinggi: perbuatlah dan lakukanlah pada orang lain.

Jika seseorang tidak suka ditipu, jangan menipu orang lain. Itu adalah implikasi kalimat negatif. Sedangkan implikasi kalimat positif adalah, jujurlah pada orang lain kalau kamu ingin orang lain jujur padamu.
Jika seseorang tidak ingin difitnah, jangan memfitnah orang lain. Itu kalimat negatif. Implikasi kalimat positifnya adalah, berkata-katalah denga benar tentang orang lain. Yang pertama adalah jangan berbicara, yang terakhir adalah berbicaralah, tapi yang benar.

Dalam Golden Rule dan etika Kristen, muncul sebuah kalimat lagi yang sangat penting dan menjadi hukum kasih, “Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri – Yesus.” Mudah diucapkan, sangat agung, dan sangat sulit untuk dikerjakan. Lebih mudah untuk menjadi pasif dan tidak membenci sesamamu manusia, tapi untuk menjadi aktif dan mengasihi, membuat saya terus bertanya-tanya, siapa yang sanggup mengerjakan perbuatan baik yang memiliki etika dengan standard yang begitu tinggi.

Kasih dan Kebaikan vs. Adil dan Kebenaran

Banyak orang mau menjadi orang baik, namun hanya sedikit orang yang mau menjadi orang benar.

Kebanyakan manusia dapat merasakan relasi langsung dengan kalimat di atas. Kebanyakan orang sangat ingin dinilai orang lain sebagai orang baik. Orang yang baik itu orang yang disukai orang banyak. Memiliki reputasi sebagai orang baik sangat penting bagi manusia untuk menjaga status dan posisinya di dalam sebuah komunitas. Semua agama mengajarkan bahwa antara sesama manusia harus saling mengasihi dan menghormati. Semua agama mengajarkan kebaikan. Bahkan orang tidak beragama pun melakukan perbuatan yang baik. Setiap orang berusaha melakukan kebaikan dengan berbagai macam alasan: mulai dari yang paling idealis yaitu menjalankan perintah agama, hingga pada yang paling pragmatis yaitu supaya tidak dibenci orang lain.

Tapi apakah definisi BAIK? Kita bisa saja mengatakan, baik itu suka menolong orang lain, membela kaum yang lemah, memiliki belas kasihan, suka memberikan sedekah pada orang yang kurang mampu, memelihara janda dan anak yatim piatu, taat menjalankan ibadah, dan seterusnya. Setiap kali yang terjadi adalah kebaikan itu didefinisikan sebagai perbuatan yang memiliki unsur KASIH. Memang demikianlah adanya, terlepas dari ide dan pemikiran lebih dalam tentang yang disebut “BAIK”. Kebaikan harus selalu berupa perbuatan yang nyata.

Setiap orang, dalam tingkatan yang berbeda-beda, selalu merasa dirinya baik. Mereka yang merasa dirinya tidak baik tidak akan pernah merasa tenang dalam hidupnya, hingga mereka melakukan sesuatu yang di rasionalisasi oleh logika mereka sebagai kompensasi untuk membungkam hati nurani. Seorang koruptor mungkin akan memberikan sumbangan yang besar kepada yatim piatu untuk membungkam hati nuraninya. Seorang penipu mungkin akan banyak melakukan puasa dan berdoa untuk mengimbangi perasaan bersalah yang menegur jiwanya. Seorang penjahat besar bisa jadi sangat rajin menjalankan ritual agama agar dia terlihat baik dan boleh diterima dalam lingkungan sosialnya.

Kebaikan berupa belas kasihan yang diumbar dalam komunitas manusia seringkali sebenarnya adalah kebaikan yang semu, kebaikan yang kelihatan sepintas lalu sepertinya nyata dan sungguh-sungguh. Membela yang lemah, memberikan sedekah, merawat janda dan yatim piatu, dan seterusnya, kesemuanya sering kali hanyalah merupakan salah satu alat untuk menampilkan gambaran baik tentang diri sendiri. Seringkali semua perilaku kebaikan dan belas kasihan yang dilakukan orang lebih banyak mendatangkan keuntungan untuk dirinya sendiri dibandingkan untuk orang yang ditolong.

Orang yang kurang baik menjadikan perbuatan baik sebagai kompensasi. Orang beragama menjadikan perbuatan baik sebagai alat untuk masuk surga. Yang lainnya berbuat baik untuk menonjolkan diri. Dan seterusnya. Selalu ada agenda dan motivasi tertentu bagi seseorang dalam perbuatan baik; dan seringkali motivasi tersebut adalah sangat baik. Tidak semua agenda dan motivasi perbuatan baik itu jahat dan buruk.

Namun, karena dirasa bahwa perbuatan baik itu sudah pasti baik, dan terlihat sepintas mendatangkan sukacita dan kebahagiaan dan tidak merugikan siapapun, serta dilakukan dengan tulus dan ikhlas, jarang sekali orang memikirkan dampak perbuatan baik yang dia lakukan itu secara mendalam dan berpikir panjang serta mempertimbangkan manfaatnya.

Orang tua yang sangat mengasihi anaknya kemudian memberikan semua hal baik yang diminta oleh si anak, apakah itu baik? Tentu saja kelihatan baik.
Seorang pengemis yang kelaparan dan mencuri ayam di sebuah rumah. Karena merasa iba, maling ayam itu kemudian dilepaskan begitu saja. Apakah itu salah? Tentu saja tidak salah. Pemilik ayam juga tidak keberatan setelah mengetahui duduk perkaranya.
Memberi sedekah kepada pengemis di persimpangan jalan dan tempat umum. Apakah itu tidak baik? Pasti itu adalah perbuatan yang dipandang baik dan welas asih.
Membela anak kecil yang sedang dimarahi dengan keras karena dia telah dengan sengaja melempar batu kepada seekor anjing yang menggonggong di dalam rumah orang lain. Apakah itu tidak boleh? Tentu saja boleh. Dia masih anak-anak, dan kenakalan yang dilakukannya adalah kenakalan anak-anak. Membela anak itu berarti termasuk dalam kategori membela orang yang lemah.

Semua perbuatan yang disebutkan di atas sebagai contoh. Apakah setiap masing-masingnya adalah baik? Ya. Tentu saja baik. Sekarang, pertanyaan berikutnya, apakah ada suatu perasaan yang terasa mengganggu dari setiap contoh di atas?
Apakah perbuatan baik dalam contoh tersebut adalah tindakan yang benar? Ternyata akan kita sadari, bahwa yang baik belum tentu benar. Dan ternyata jika mau kita renungkan lebih tajam, semua yang benar tidak akan selalu kelihatan baik di mata orang lain; bahkan seringkali, perbuatan yang benar terlihat sangat tidak baik.

Mari kita tinjau kembali satu persatu contoh di atas.
Orang tua yang sangat mengasihi anaknya kemudian memberikan semua hal baik yang diminta oleh si anak. Anak ini akan tumbuh menjadi anak yang tidak berjuang, manja, dan hanya tahu meminta tanpa mau berusaha sendiri.
Seorang pengemis yang kelaparan dan mencuri ayam di sebuah rumah. Karena merasa iba, maling ayam itu kemudian dilepaskan begitu saja. Pengemis ini akan selalu memiliki mental yang menuntut orang untuk mengasihani dia. Dia tidak akan berjuang dan berusaha bekerja dengan baik, melainkan akan menjadikan kelemahannya sebagai pembenaran diri dengan mentalitas sebagai korban keadaan.
Memberi sedekah kepada pengemis di persimpangan jalan dan tempat umum. Kalau dengan mengemis saja bisa dapat uang, untuk apa susah bekerja. Jika hari ini saya memberikan uang kepada pengemis untuk menolong dia, keesokan hari, jumlah pengemis akan semakin banyak atau semakin berkurang karena sudah ada satu pengemis yang saya tolong? Pasti bertambah banyak orang yang katanya ‘perlu dan mau ditolong’. Dan ketika saat itu saya tidak menolong, tiba-tiba saya disebut sebagai orang yang tidak berbelas kasihan dan tidak suka menolong orang lain yang kurang mampu. Tiba-tiba saja saya menjadi orang jahat.
Membela anak kecil yang sedang dimarahi dengan keras karena dia telah dengan sengaja melempar batu kepada seekor anjing yang menggonggong di dalam rumah orang lain. Mana yang lebih perlu, membela orang yang BENAR atau membela orang yang LEMAH? Kekacauan pemikiran dan prinsip-prinsip utama tentang kebenaran sudah membutakan banyak orang. Tidakkah kita seharusnya membela KEBENARAN dan bukan sembarangan membela orang yang katanya lemah?

Jadi sekarang kita pahami bahwa perlu ada kebenaran dalam setiap tindakan kita. Mari kita tinjau ulang semua contoh di atas berdasarkan sudut pandang kebenaran.
Orang tua yang sangat disiplin mendidik dengan keras supaya anaknya memiliki mental yang kuat. Dia tidak boleh mendapatkan sesuatu yang bukan berasal dari hasil usahanya. Dia harus dididik memiliki semangat perjuangan supaya saat dewasa nanti dia akan memiliki masa depan yang cemerlang, giat bekerja dan tidak malas.
Seorang pengemis yang kelaparan dan mencuri ayam di sebuah rumah, harus dihukum demi menegakkan hukum dan kebenaran. Setiap perbuatan yang dengan sengaja merugikan orang lain harus dihukum keras untuk menimbulkan efek jera dan menjadi peringatan dan pembelajaran bagi orang lain.
Pengemis harus ditindak berdasarkan hukum yang berlaku, menimbulkan kerawanan dalam satu wilayah dan membuat ketidaknyamanan bagi masyarakat umum. Mereka diharuskan bekerja dengan giat, karena meminta-minta adalah perbuatan yang merendahkan harkat dan martabat manusia. Solusinya, pekerjakan mereka sebagai tenaga pembersih kota jika ketrampilan mereka hanya sebatas memegang sapu.
Anak kecil yang sengaja melempar batu kepada seekor anjing yang menggonggong di dalam rumah orang lain tentu saja harus dididik dengan keras dan dijatuhi hukuman karena telah dengan sengaja merugikan orang lain dan membahayakan orang lain. Jika tidak sejak kecil dididik, apa mau menunggu hingga nanti besar dan terlambat?

Setelah melihat semua contoh di atas disikapi dari sudut pandang yang berbeda, apakah terlihat bahwa kesemua hal itu mencerminkan kebenaran? Tentu saja. Itu adalah keadilan dan didikan yang sangat baik. Memang tidak terlihat terlalu baik, tapi secara jangka panjang, pasti akan mendatangkan kebaikan, disiplin, dan keteraturan.
Dan seperti sebelumnya, apakah ada suatu perasaan yang terasa mengganggu dari setiap contoh di atas? Saya cukup yakin bahwa jawabannya adalah ‘iya’.

Kita harus selalu dengan bijaksana dan berpengertian luas menyikapi kebaikan, supaya kebaikan itu bisa mendatangkan kebenaran. Kasih yang berdiri sendiri tanpa pengertian dan kebijaksanaan akan kebenaran adalah perbuatan yang lemah dan merusak. Seperti contoh di atas yang sudah kita lihat. Sebaliknya, adil dan benar yang berdiri sendiri tanpa pengertian dan kebijaksanaan akan kasih mendatangkan kekejaman yang tidak kalah merusak.

Kasih dan adil harus berjalan bersama. Ketika ada keadilan, pada saat yang sama pula harus ada kasih. Pada saat ada kasih, harus ada keadilan yang muncul pula tepat secara bersamaan. Kasih dan keadilan bukan dua keping mata uang yang muncul bergantian, melainkan berupa paradoks. Tidak boleh ada kasih tanpa keadilan dan tidak boleh muncul keadilan tanpa kasih.

Melampaui semua pemahaman tersebut, satu hal yang harus selalu diingat adalah yang dipandang benar tidak akan selalu terlihat baik. Sementara semua yang terlihat baik belum tentu dipandang benar. Ketidakmengertian atau ketidakmampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kebaikan inilah yang membuat seringkali orang benar disalah mengerti, kendatipun dia sudah menjalankan kebenaran dan kebaikan secara lengkap dan sempurna dalam paradoksnya. Karena kasih yang besar sering terlihat sebagai kelemahan dan kegagalan. Sementara keadilan yang besar langsung terlihat sebagai kekejaman.

Kegagalan menemukan keberadaan paradoks kasih di dalam keadilan membuat manusia sering merasa diperlakukan tidak adil. Sebaliknya, kegagalan menemukan keberadaan paradoks keadilan di dalam kasih membuat manusia memandang remeh belas kasihan yang diterimanya dan sekali lagi, merasa diperlakukan tidak adil. Akan tetapi, yang pertama dan terutama adalah belas kasihan terhadap semua manusia. Itulah dasar dari segala hukum yang paling agung

Hampir tidak ada seorang pun mau rela mati untuk orang yang benar, tetapi mungkin untuk orang yang baik, masih ada orang yang berani mati.

Q: Bagaimana mungkin tidak ada seorangpun yang baik?

ABerbicara tentang kebaikan hampir selalu mengarah pada hal yang sifatnya lebih kepada pembicaraan filsafat dan teologi sebagai ujung terakhir. Sadar ataupun tidak sadar, kita berbuat baik karena ada tuntutan dalam diri kita, suara hati nurani dan kesadaran yang menganiaya kita, menuntut kita untuk melakukan hal yang baik seturut dengan pengertian yang kita miliki, dan terlebih lagi untuk menghindari perasaan bersalah yang akan menjauhkan kita dari ketenangan diri. Hati nurani dan kesadaran akan perasaan bersalah adalah sebuah konsep pengertian akal budi yang hanya dimiliki manusia, jauh di dalam jiwa kita tentang penghukuman dan pembalasan yang setimpal dengan perbuatan kita.

Dalam pengertian akan penghakiman dan penghukuman serta pembalasan itulah setiap orang, pribadi lepas pribadi, masing-masing orang sepanjang sejarah di sadarkan akan konsep ‘keselamatan’ dalam ‘kehidupan setelah kematian.’ Itulah yang mendorong orang untuk berbuat baik. Namun tidak ada yang baik, tidak ada yang sanggup berbuat baik dalam kebaikan yang sempurna. Tidak ada seorang pun memiliki kebaikan yang bisa dipertimbangkan sebagai alasan bagi dia untuk boleh diselamatkan. Itu adalah kesadaran yang mengerikan bagi orang sepanjang sejarah, sehingga muncullah perlawanan terhadap figur tuhan karena tuhan sangat mengganggu eksistensi manusia. Jika tidak ada tuhan, maka tidak ada penghakiman. Siapa pula tuhan itu sehingga dia berhak seenaknya menentukan nasib manusia. Manusia bahkan tidak tahu apakah dia ada atau tidak. Hal-hal inilah yang dibahas oleh agnostisisme.

Namun sekali lagi, hati nurani, moralitas, kesadaran dan perasaan bersalah terus menegur jiwa manusia. Walaupun pragmatisme berusaha membunuh suara hati nurani, namun suara itu hanya membungkam, tidak pernah mati. Itulah sebabnya tidak pernah luntur dalam sepanjang sejarah manusia, upaya manusia berbuat baik supaya dia boleh diterima dalam kehidupan yang baik sesudah kematian. Tapi sebagian kita menyadari bahwa perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan kita, karena alasan yang sangat sederhana dan mudah, “tidak ada yang baik, seorang pun tidak. Hanya TUHAN yang baik.”

Sebenarnya pertanyaan ini memiliki antitesis, “Siapakah yang bisa dikatakan baik?” Dan antitesis itu membawa tiap orang kepada satu perenungan, “Apakah baik itu?”

Serta merta kita akan menyadari bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kebaikan yang kita lakukan adalah sangat terbatas, berlaku sementara, dan terpecah-pecah. Baik bagi satu orang, belum tentu baik bagi orang yang lain. Orang hanya akan mengatakan kita baik jika kita menguntungkan atau melakukan hal yang dia sukai. Kita hanya bisa dikatakan baik dalam satu waktu dan kondisi tertentu, tapi tidak dalam totalitas keseluruhan hidup kita.

Siapakah yang berani berkata, “Aku ini orang baik.” Dia yang berani berkata sedemikian sudah pasti tidak baik, satu hal yang pasti, dia adalah pembohong. Atau tentu saja, jika dia gila. Agama menuntun kita untuk melakukan perbuatan kebaikan supaya kita boleh diselamatkan (baca: pergi kepada tuhan, di sorga, di nirvana, di langit, dan seterusnya), namun semua agama sendiri menyadari bahwa kebaikan tidak mungkin dilakukan secara universal, secara integral, oleh setiap orang.

Ketika seseorang bersedekah terhadap pengemis, ada banyak pengemis lain yang tidak mendapat sedekah dari kita. Ketika kita membantu anak yatim piatu, ada ratusan anak yatim lain yang tidak mendapat kebaikan dari kita. Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.
Ketika kita menolong seseorang, ada puluhan orang yang datang kepada kita yang tidak sanggup kita tolong. Jadi bagaimana kita bisa menjadi baik secara utuh dan sempurna supaya kita boleh diselamatkan? Semakin kita berusaha baik, semakin tidak baik kita jadinya.

Sebagian besar kita tidak menyukai mereka yang hanya berbuat baik pada kita karena sedang ‘ada maunya.’ Kita jengkel karena kita merasa diperalat. Datang membawa bingkisan dan hadiah kecil, supaya kita membalasnya dengan melakukan sesuatu untuk mereka. Kita juga tidak senang jika kita datang kepada seseorang untuk meminta bantuan, kemudian malah kita diperas dan diminta untuk memberikan bingkisan. Perbuatan baik dengan motivasi tertentu tidak bisa dikategorikan sebagai kebaikan.
Tapi tidakkah itu yang dilakukan oleh orang yang katanya beragama? Agama ‘mengajarkan’ cara untuk memperalat tuhan, berbuat sedikit kebaikan supaya tuhan mau menyelamatkan kita dan membawa kita ke surga. Perbuatan baik kita tidak pernah lepas dari motivasi tertentu, entah tersembunyi atau mungkin terang-terangan.

Karena kesadaran akan ketidakmungkinan untuk melakukan kebaikan secara sempurna, pemikiran curang manusia menambahkan pengajaran baru, bahwa akan ada “pengadilan” yang menimbang perbuatan baik kita terhadap perbuatan buruk kita. Melebih-lebihkan nilai perbuatan baik kita di hadapan tuhan, seolah kita layak atau bahkan berjasa kepada tuhan. Padahal di dalam segala hal ada relasi pencipta-ciptaan yang berlaku di alam semesta ini, dan adalah kegagalan di titik pertama ketika munculnya pemikiran bahwa kita memiliki kemungkinan untuk memiliki jasa dihadapan pencipta kita.
Tapi baiklah kita bahas pula kemungkinan ini. Benarkah kebaikan kita bisa lebih banyak atau paling tidak sama banyak dengan kejahatan dan kesalahan kita?

Ilustrasi kecil:
Apakah saja syarat murid sekolah yang baik? Patuh pada guru. Hormat pada yang lebih tua. Tidak mencontek. Tidak berbohong. Tidak mengganggu teman. Belajar yang rajin. Datang sekolah tepat waktu. Menjaga ketertiban sekolah.
Jika seorang anak melakukan kesemuanya dengan sempurna, tapi suatu hari dia datang sekolah terlambat, dengan sejuta alasan yang valid dan masuk akal. Apakah dia masih bisa dikatakan sebagai murid yang baik? Jika selama dia bersekolah selama 300 hari selama setahun, dia tidak belajar dengan rajin suatu ketika, apakah dia masih bisa dikatakan murid yang baik? Jadi berapa kali dia boleh ‘TIDAK BAIK’ dan masih dapat dikatakan bahwa dia ‘MASIH BAIK’? Satu aturan dilanggar, dia sudah melanggar semua aturan.

Ilustrasi yang lebih ekstrim:
Apakah syarat istri yang baik? Rajin mengurus rumah. Merawat suami dan anak. Teliti dalam urusan rumah tangga. Pandai berdandan. Bisa masak. Memberikan pertimbangan dan nasihat yang baik bagi suami dan anak-anaknya.
Kemudian dalam 40 tahun pernikahan, dia pernah satu kali tidur dengan pria lain. Apakah dia masih merupakan istri yang baik?

Demikian pula kita dalam hidup kita. Benarkah kita berani mengatakan bahwa jika kebaikan dan kejahatan saya selama hidup ditimbang, maka saya masih ada kelebihan baik. Benarkah kita berani mengakui bahwa kita baik dihadapan tuhan dan meminta dia untuk menyelamatkan kita?

Apakah benar-benar agama atau diri kita sendiri yakin bahwa kita bisa diselamatkan oleh perbuatan baik? Justru karena adanya tuntutan moral dan segala hukum yang berlaku, membuktikan kepada kita bahwa kita tidak bisa berbuat baik. Karena kita tidak bisa berbuat baik, maka kita semua tidak bisa diselamatkan.
Seluruh agama adalah sia-sia. Seluruh upaya manusia untuk bisa diselamatkan adalah upaya menjaring angin. Kita tidak bisa diselamatkan. Jika kita bahkan tidak bisa berbuat baik, dengan apa kita bisa diselamatkan? Jika perbuatan baik kita (jika seandainya, seumpama, misalnya, contoh omong kosong jika kita benar-benar berbuat baik tanpa cela) pun pada dasarnya disertai oleh motivasi tertentu, masihkah kita bisa disebut baik? Karena kita mengharapkan imbalan atas jasa kita. Sebuah buku filsafat Islam yang pernah saya baca memberikan ilustrasi yang menarik: perbuatan baik itu seharusnya seperti saat kita buang air besar, tidak ada motivasi, ikhlas, penuh kerelaan, tidak mengungkit jasa kita kepada siapapun di kemudian hari. Itulah perbuatan baik yang sejati.

Tidak ada yang baik. Seorang pun tidak.
Tidak ada jalan keluar lain. Kita tidak bisa diselamatkan jika kita tidak menghadap Tuhan dan membesar-besarkan jasa kita dihadapan-Nya (tapi itu akan membuat manusia semakin berdosa, bahkan menurut etika rendah manusia; Apalagi di dalam etika Tuhan.)
Namun bukunya orang Kristen memberikan kepada kita penghiburan dan jalan keluar. Karena manusia tidak bisa berbuat baik dan tidak bisa menyelesaikan dosanya sendiri dalam hidupnya di hadapan tuntutan penghakiman keadilan TUHAN, maka Tuhan mengutus Anak-NYA sebagai satu-satunya jalan keluar, supaya mereka yang percaya pada berita aneh dan supranatural itu boleh diselamatkan. Tuhan Yesus, Anak Tunggal Tuhan, mengambil bentuk manusia supaya Dia bisa mati, menggantikan manusia berdosa, menyatakan kasih Tuhan yang besar untuk manusia yang berdosa. Harus bentuk manusia, karena Dia tidak bisa mati jika Dia tetap sebagai Tuhan.
Kasih itu tidak murah, karena masih ada keadilan yang harus ditanggungkan sebagai pertanggungjawaban manusia. Manusia boleh saja meminta maaf dan manusia akan dimaafkan hanya di dalam Kristus Yesus sebagai pengganti yang sah yang diakui Tuhan, tapi konsekuensi hukuman harus jalan dan masih ada ganti rugi yang harus dibayar seturut dengan keadilan Tuhan. Sehingga itulah yang dikerjakan dalam karya keselamatan, Anak Allah yang tunggal itu menggantikan manusia dan mati di dalam kesucian dan ketidakberdosaan untuk memuaskan penghakiman Tuhan.

Jangan ditanyakan kenapa harus cara itu, Dia pencipta. Cara apapun yang Dia lakukan, selalu akan ada manusia yang mempertanyakan, “kenapa harus cara itu?” Dia berhak menggunakan cara itu. Dan itulah jalan keluar yang ditawarkan. Kita mau menerima atau menolak, Tuhan tidak rugi apapun juga.

Spiritualitas Dalam Sosiologi dan Filsafat

Secara sosiologi, filsafat, dan kebudayaan, sudah sangat lama di dalam sejarah manusia kita mengenal apa yang disebut sebagai penyembahan terhadap suatu demiurge (Bahasa Inggris; terj: entitas/keberadaan yang menjadi sumber keteraturan dan penciptaan alam semesta) yang bisa berupa kuasa atau pribadi atau banyak pribadi yang dipercaya melampaui kekuatan manusia dan alam semesta, yang mengatur seluruh jalannya dunia ini. Ada suatu kekosongan yang terasa sangat perlu dan mendesak dalam diri manusia untuk diisi dengan sebuah pengakuan bahwa manusia harus tunduk mutlak di bawah kuasa itu.

Demikianlah muncul segala ide tentang agama dan kepercayaan sepanjang sejarah hidup manusia. Melalui rasionalisme otak, dihasilkan segala pengetahuan dan filsafat untuk mendefinisikan kuasa yang agung berikut sistematika kepercayaan mereka di dalam mitos dan legenda para dewa. Melalui perasaan dan persepsi hati, dihasilkan segala pengertian dan filsafat yang mendefinisikan jalan tentang kebenaran yang megah dalam pengajaran-pengajaran tentang kehidupan.

Sejalan dengan itu, muncullah kemudian berbagai macam agama dan kepercayaan yang membentuk suatu sistem pengetahuan dan pengertian yang kemudian dijadikan penuntun dan pedoman hidup bagi manusia.  Berbagai macam, namun dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu semua kepercayaan yang sifatnya antroposentris (berpusat pada manusia) dan theosentris (berpusat pada tuhan).

Untuk membatasi keluasan dan kebesaran topik ini, antroposentris theistik dan theosentris akan menjadi perspektif utama dalam tulisan ini. Saya tidak akan membahas gnostisisme  dengan ekstensinya dan saya tidak sanggup membahas perdebatan agnostisisme.

Secara umum, segala hal dalam berbagai keunikan konsep dan prinsip masing-masing yang dipercaya oleh manusia sebagai demiurge akan disebut sebagai ‘agama’. Hanya ada dua macam kelompok besar agama dalam dunia ini sepanjang sejarah manusia sejak semula. Agama yang sifatnya antroposentris, yaitu agama yang menjadikan manusia sebagai pusat. Dan agama yang sifatnya theosentris, yaitu agama yang menjadikan tuhan sebagai pusat. Ada sangat banyak kata tuhan yang digunakan dalam kesemua agama tersebut. Ada banyak pengakuan terhadap berbagai figur yang disebut tuhan dalam bentangan sejarah. Dan selamanya selalu ada keterkaitan antara prinsip ketuhanan dan prinsip kebenaran yang tidak bisa dilepaskan dalam esensi setiap agama.

Tuhan adalah pasti benar dan kebenaran sejati pasti adalah kebenaran tuhan, menurut pengikutnya masing-masing. Jika tuhan bisa salah atau jika tidak ada kebenaran dalam dirinya, maka pasti tuhan itu bukan tuhan. Sekarang, permasalahannya adalah siapakah penentu kebenaran tuhan? Tuhan itu benar atau salah menurut siapa, menurut manusia kah atau menurut tuhan? Apakah tuhan berhak menentukan kebenarannya sendiri ataukah manusia yang lebih berhak menentukan?

Ada penyembahan tuhan yang menuntut pengorbanan manusia; baik berupa materi, jiwa, hingga nyawa. Ada pula penyembahan tuhan yang menuntut pengorbanan hewan. Mana yang lebih benar? Apakah kita akan mengatakan bahwa pengorbanan hewan itu benar. Pengorbanan manusia itu juga benar asal tidak mengambil nyawanya atau asal manusia tidak disembelih. Jadi siapakah penentu kebenaran?

Yang terjadi kemudian adalah manusia mulai menilai tuhan yang lain, agama yang lain dari yang dia percaya, karena menurut dia, tuhan yang lain itu salah kalau meminta manusia untuk disembelih. Tapi bagi orang-orang yang mengikuti ajaran agama itu, hal itu dianggap wajar. Apakah memang manusia merupakan titik mutlak penentu kebenaran dalam agama? Jika jawabannya adalah ‘ya’, maka suatu pandangan terhadap suatu agama atau kebenaran terhadap suatu agama bersifat antroposentris.

Antroposentris

Inilah yang terjadi sepanjang sejarah, manusia saling menghakimi dengan standar masing-masing dan saling bertikai karena perbedaan sudut pandang. Menganggap diri lebih benar daripada yang lain. Terlihatlah dengan sangat jelas, bahwa ternyata ada kebenaran yang benar-benar BENAR dan ada kebenaran yang tampaknya kurang BENAR. Hal itu terdapat dalam argumentasi yang berbasis pada pemikiran manusia (antroposentris). Yang benar menurut manusia yang satu belum tentu benar bagi manusia yang lain. Hal ini menimbulkan upaya untuk mencari kebenaran yang sejati dalam seluruh pemikiran manusia, mulai dari Shakyamuni, Lau Tzu, Confucius, Plato, Socrates, dan Aristotle.

Inilah yang terjadi dalam perdebatan agama antroposentris. Agama yang berpusat pada manusia. Manusia memiliki agama yang berasal dari pemikirannya sendiri tentang tuhan, menjadikan tuhan itu dari gambar dan rupa manusia atau rupa hewan atau yang lainnya, dan disembah untuk mendatangkan manfaat bagi manusia. Manfaatnya adalah untuk menjadi jaminan dalam kehidupan setelah kematian atau sekedar alasan manfaat yang praktis yaitu untuk mendatangkan kehidupan yang nyaman dan jauh daripada kecelakaan.

Upaya mencari kebenaran itupun kemudian menyatakan bahwa kebenaran itu tidak bisa berasal dari manusia karena manusia ternyata bisa bersalah dan kebenaran dalam sifat manusia tidak bersifat mutlak. Jika demikian, bagaimana mungkin dari dalam diri manusia bisa memunculkan kebenaran yang benar-benar BENAR? Jika manusia pasti bersalah, bagaimana dengan agama yang berasal dari kebenaran dan pemikiran menurut manusia yang bersalah, tidakkah berarti bahwa agama itu pula akan memiliki kesalahan-kesalahan di dalam dirinya sendiri?

Demikianlah kemudian orang mulai menyadari bahwa melalui diri manusia dan agama yang muncul dari dalam diri manusia memiliki kelemahan yang besar. Manusia hanya mampu untuk memikirkan jalan keluar di dalam perbuatan baik dan berharap bahwa perbuatan baik itu nantinya akan membawa dia kepada tuhan. Namun tidak ada kepastian di dalam pemikiran itu dan tidak jalan keluar yang mutlak melalui kebenaran tersebut.

Theosentris

Setelah tahun masehi, muncul pemikiran baru dalam dunia, yaitu bahwa kebenaran itu baru benar-benar BENAR jika dimunculkan oleh kebenaran yang tidak berasal dari manusia, melainkan langsung dari tuhan. Tuhan dianggap sebagai figur mutlak di luar diri manusia yang tidak bisa bersalah, sehingga kebenaran tuhan juga tidak bisa bersalah. Tuhan dijadikan figur utama dalam agama dan berada dalam tingkatan yang lebih tinggi daripada manusia di dalam kesempurnaannya.

Karena itu kemudian muncul pula banyak agama yang katanya dari tuhan, dalam berbagai variasi dan mengakui bahwa di dalam dirinya tidak bersalah, dibanding dengan semua agama lain yang berasal dari pemikiran dan bijaksana manusia yang bercacat di dalam dirinya sendiri. Jika suatu agama adalah berasal langsung dari tuhan yang tidak bersalah, maka agama itu pasti tidak bersalah.

Setelah tahun masehi itulah muncul istilah ‘wahyu’ yang secara spesifik dikaitkan dan dimengerti sebagai ‘tuhan sendiri yang menyatakan dirinya secara terbuka dan terus terang kepada manusia’. Wahyu adalah kebenaran tuhan yang diturunkan dari kekekalan yang statis kepada dunia sementara yang sifatnya dinamis. Dari sudut pandang dan gaya bahasa agamawi: Turunnya tuhan yang sejati yang menyatakan dirinya ke tengah-tengah dunia itulah disebut sebagai wahyu tentang kebenaran yang sejati. Tuhan yang menyatakan dirinya kepada manusia. Agama theosentris ini kemudian merasa lebih percaya diri akan kemutlakkan kebenarannya setelah mereka membandingkan dirinya dengan agama lain yang sifatnya antroposentris.

Namun dengan adanya berbagai agama yang berasal langsung dari tuhan yang menyatakan dirinya ketengah-tengah sejarah, muncul kemudian perdebatan baru, manakah diantara agama theosentris itu yang benar-benar BENAR? Karena semua yang sifatnya sejati seharusnya hanya boleh ada satu. Seharusnya hanya ada satu yang benar. Di luar yang satu yang benar itu berarti ada yang tidak benar. Jika semua manusia yakin bahwa semuanya benar, maka tidak akan pernah ada pertikaian antar umat beragama. Tidak akan ada orang atau kelompok yang merasa agamanya lebih benar daripada yang lain yang kemudian mengatasnamakan agama untuk menganiaya agama yang lain.

Penganiayaan antara manusia beragama atas nama agama justru terjadi saat manusia merasa mutlak yakin bahwa agamanya yang katanya berasal dari tuhan itu adalah kebenaran yang sejati. Sebelum muncul keyakinan itu, penganiayaan antar manusia lebih bersifat antroposentris, yaitu kebencian, iri hati, dengki, keserakahan, dan seterusnya.

Hal ini menimbulkan kerumitan yang baru. Karena sama-sama merasa bahwa kebenaran dan agama yang mereka miliki adalah dari tuhan langsung, semua merasa bahwa kebenaran yang mereka miliki adalah yang benar-benar BENAR. Sikap kritis yang mula-mula ada untuk mempertanyakan dan memikirkan tentang kebenaran, sekarang digantikan dengan berbagai perilaku fanatisme mulai dari yang sifatnya membabi buta, tertutup, tidak berpengetahuan ataupun yang berpengetahuan namun sempit dan tertutup; Hingga kepada fanatisme yang berpengertian dan terbuka yang sudah tidak bisa lagi dikatakan sebagai perilaku fanatik melainkan sebuah keyakinan yang berpengetahuan.

Antroposentris Dalam Theosentris

Hal lain yang muncul kemudian adalah bahwa karena kebenaran itu di wahyukan, maka kebenaran itu harus dipelajari dengan metode yang berbeda karena bukan berasal dari pengetahuan manusia. Dalam proses pembelajaran dan upaya memahami kebenaran tuhan, terjadi kesulitan yang sama dengan semua permasalahan agama yang berasal dari alam dan pemikiran manusia. Interpretasi terhadap alam yang dilakukan oleh orang yang berbeda, menimbulkan interpretasi yang berbeda. Demikian pula interpretasi terhadap kebenaran yang katanya dari tuhan, dilakukan oleh orang yang berbeda, menimbulkan pemahaman yang berbeda. Dan akhirnya, dalam satu alam, muncul berbagai agama. Seperti juga dari yang bahkan katanya satu kebenaran, muncul prinsip agama yang berbeda. Dalam satu interpretasi kebenaran, muncul kepercayaan yang berbeda dalam aplikasinya. Dan terus berulang-ulang terjadi berbagai perbedaan. Hal itu dapat terjadi semata-mata karena cara interpretasi kebenaran yang katanya diwahyukan, diperlakukan sama halnya dengan kebenaran yang berasal dari alam, yaitu di tinjau dari perspektif manusia sebagai pusat kebenaran.

Manusia tetap saja tidak memahami satu hal penting. Ada satu kegagalan dan kesalahan yang terus menerus dilakukan oleh kebanyakan manusia dalam upaya menginterpretasi entah alam, entah kebenaran, entah yang dari pemikiran manusia maupun dari wahyu: manusia menginterpretasikan segalanya secara antroposentris. Saya tidak bisa menyalahkan kegagalan interpretasi terhadap segala hal yang pada dasarnya adalah antroposentris dari sudut pandang antroposentris. Tapi saya menyesalkan adanya upaya meninjau segala hal yang bukan antroposentris (dalam hal ini bersifat theosentris) dari sudut pandang antroposentris.

Kita harus meninjau wahyu yang katanya berasal dari tuhan, tentunya dari sudut pandang tuhan. Tuhan yang mewahyukan kebenarannya, maka kebenaran itu harus kita tinjau secara theosentris. Akan menimbulkan kekacauan pengertian jika sesuatu yang theosentris pun kemudian kita turunkan dan kita analisa secara antroposentris. Jika kita meyakini bahwa wahyu itu adalah tuhan yang berbicara, maka sudah sepatutnya kita mendengarkan apa yang tuhan mau bicarakan.

Namun seringkali manusia hanya mau mendengarkan apa yang dia mau dengar, melihat apa yang mau dia lihat, dan akhirnya, dia hanya bisa mengerti tentang apa yang dia mau mengerti. Sesuatu yang theosentris pun kemudian menjadi bersifat antroposentris. Dengan munculnya orang-orang yang menginterpretasikan agama seturut dengan kepentingan dia, keinginan dia, tujuan dan rencana, baik secara religius ataupun pragmatis, baik untuk tujuan sosiologi, politik, ideologi, agama, dan seterusnya, menjadikan agama yang katanya paling theosentris bisa menjadi agama yang sifatnya tidak berbeda jauh dengan agama lain yang sifatnya antroposentris. Agama yang dari tuhan pun akan kemudian menjadi agama yang sangat bersifat humanis, mengutamakan kepentingan manusia dengan segala keinginan dan nafsunya yang tidak terpuaskan. Untuk kemudian menjadikan tuhan sebagai sarana mencapai cita-cita, memperalat tuhan untuk membenarkan diri sendiri, dan kemudian menjadikan kekekalan tuhan persis seperti keadaan dunia ini berikut dengan egoisme manusia.

Tuhan pun ditakar menurut pemikiran manusia dan ajaran tuhan dianggap tidak masuk akal manusia, kecuali kebesaran dan kuasa dia yang bisa diperalat untuk kepentingan manusia. Bahwa di dalam tuhan tidak ada yang mustahil, bahwa di bersama tuhan semua akan baik-baik saja; namun tidak ada upaya sedikitpun dari manusia untuk mencari tuhan kecuali untuk mencari berkatnya untuk memuaskan segala keinginan manusia dan menjadikan tuhan seperti pembantu atau dokter atau manager atau pesuruh dan seterusnya.
Bahwa di surga nanti kita akan mendapat tempat yang luas, istana yang besar, emas dan permata yang berlimpah, kenikmatan dan kepuasan badani, menjadi raja dengan kuasanya dan memerintah dunia di sana, dan seterusnya. Kesemuanya persis seperti halnya keadaan dunia ini dibawa ke tempat tuhan berada, katanya.

Hingga Karl Marx menteriakkan seruannya yang terkenal, “Agama dibuat oleh manusia; agama tidak membuat manusia menjadi manusia. Agama dibuat oleh negara dan masyarakat. Agama adalah desahan nafas putus asa oleh makhluk yang tertekan, oleh perasaan dari dunia yang tidak memiliki hati, oleh jiwa dari dunia yang penuh dengan kekosongan hidup. Agama adalah candu bagi masyarakat.”
Dengan perilaku manusia sepanjang jaman, ucapan itu sama sekali tidak bisa ditentang.

Perilaku kebanyakan agamawan membuktikan hal tersebut dengan teori yang muluk-muluk, idealisme yang seolah tinggi namun penuh diselubungi maksud dan agenda sosial, bahkan politik. Serta mereka mengajarkan pengajaran yang semuanya mengumbar nafsu yang begitu remeh dan hina yang bahkan tidak ditemukan dalam agama-agama yang katanya berpusat pada manusia, agama yang katanya rendah karena kebenarannya berasal dari manusia yang bisa salah. Namun agama-agama yang katanya berasal dari tuhan ternyata memiliki idealisme yang tidak agung.

Kontradiksi Dalam Theosentris

Seharusnya, kebenaran yang katanya berasal dari tuhan di interpretasikan secara theosentris dipelajari dengan setia, dengan taat, dengan teliti, dan dengan bertanggung jawab. Agama yang berasal dari tuhan tersebut adalah merupakan wahyu tuhan, tapi manusia telah menerima wahyu itu dan memperlakukan wahyu itu dengan tidak sepantasnya. Dengan pemahaman yang tidak komprehensif, menghasilkan penafsiran dan pengertian yang saling berkontradiksi dan kacau balau. Penuh perkecualian dan pertentangan, tidak bersifat universal, integral, dan moral yang tinggi. Kesemuanya bertentangan dengan prinsip filsafat tentang kebenaran yang sejati.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah buku Kristen yang pernah saya baca, “Manusia adalah makhluk yang cinta diri (baca: humanis) dan cinta uang (baca: materialis). Mereka menolak kebenaran Tuhan, menolak Dia yang diutus Tuhan untuk memberitakan kebenaran Tuhan. Mereka menganggap berita Tuhan sebagai kebodohan dan ketidakmasukakalan. Mereka berkata bahwa mereka mencari kebenaran dan mencari Tuhan, namun mereka hanya mencari kebijaksanaan yang masuk akal dan mencari tanda-tanda kuasa mujizat. Ketika Tuhan datang ketengah-tengah mereka, menyatakan dirinya dan menjadi satu-satunya manusia dalam sejarah dunia yang mengatakan bahwa Dia berasal dari TUHAN, manusia membunuh Dia. Tidak seorangpun mencari Tuhan. Satu pun tidak. Tidak ada yang baik, satupun tidak. Hanya Tuhan yang baik.”

Hal tersebut sangat menarik bagi saya sebagai kontradiksi kebenaran dalam diri manusia.
Hal ini pula yang seharusnya membawa orang yang katanya mencari kebenaran kepada kesimpulan bahwa upaya persaingan jumlah pengikut suatu agama adalah omong kosong dan pekerjaan yang sia-sia. Siapapun boleh pindah dari agama satu kepada agama lain. Tidak ada bedanya untuk tuhan di dalam kekekalan. Jika tuhan itu adalah TUHAN, dengan segala kuasa yang MUTLAK, bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-NYA, seperti pemikiran agama-agama yang antroposentris (terlebih lagi seharusnya oleh agama yang katanya theosentris), maka seharusnya DIA berdaulat penuh untuk memilih orang yang DIA mau menjadi milik-NYA.
Sama juga seperti orang-orang yang melakukan tindakan anarkis demi agamanya untuk menolong tuhannya, membela tuhannya, dan menjaga dan melindungi kebenaran yang katanya dari tuhan.

“The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.” Augustine of Hippo

Terjemahan: Kebenaran yang sejati itu seperti singa; sama sekali tidak perlu dibela. Biarkan dia lepas dan bebas; dia akan membela dirinya sendiri.

Sekali lagi, orang yang tahu tentang kebenaran, dia tidak perlu diberi tahu. Orang yang tidak tahu tentang kebenaran, dia tidak bisa diberi tahu. Ini adalah paradoks tentang ‘tahu’. Karena semua itu adalah tentang wahyu yang dipercaya berasal dari tuhan. Kebenaran dibukakan ke dalam diri seseorang sebagai wahyu, menjadikan seseorang menjadi tahu bahwa dia tidak tahu. Siapa yang dapat memberi tahu dia bahwa dia tidak tahu, jikalau dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu selain daripada wahyu tuhan memunculkan suatu perasaan ketidaktahuan. Dengan jujur, pemikiran ini bukan dari saya, melainkan pemikiran Cornelius Van Til.

Dalam pengertian tentang wahyu ini, seharusnya penganut agama yang katanya percaya bahwa katanya kebenaran itu di wahyukan, tidak perlu ribut dengan orang lain yang berbeda agama, karena mereka seharusnya percaya bahwa kalau wahyu tuhan turun atas manusia yang lain, maka mereka akan menjadi satu agama. Akan tetapi, tampaknya semua orang sedang berusaha membantu tuhan dan mau berbuat jasa untuk tuhan, seolah tuhan tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan manusia (sekali lagi, agama theosentris diseret menjadi agama antroposentris).

Berkenaan dengan penyebaran agama, setiap agama (baik yang antroposentris maupun theosentris) harus mengakui bahwa tujuan dari agama adalah untuk menjadi kebaikan bagi seluruh umat manusia. Menjadi panduan dan pegangan manusia dalam perilaku dan perbuatan. Sebarkanlah itu kepada semua orang, supaya masyarakat menjadi lebih baik. Supaya manusia yang berpegang pada kebenaran diri sendiri disadarkan bahwa ada kebenaran yang lebih tinggi. Bahkan masyarakat Budhisme menyebarkan dharma, menjadi teladan, hidup baik dan toleran dengan semua makhluk. Memberikan pengajaran kepada semua manusia tentang jalan dan kebaikan. Tidakkah itu baik adanya. Demikian pula dengan semua yang dikerjakan Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan Dalai Lama. Mereka menyebarkan pengajaran yang baik dengan damai. Kenapa kemudian malah agama yang mengaku katanya sebagai kebenaran yang sejati lebih banyak membuat kekacauan daripada menjadi berkat?

Paradoks Kebodohan dan Kebijaksanaan Manusia Dalam Theosentris

Ketika perspektif antroposentris digunakan untuk memahami agama theosentris, kembali muncul upaya manusia berusaha berbuat baik supaya dirinya diterima tuhan. Kendatipun seharusnya sudah jelas bahwa perbuatan baik tidak berlaku dalam agama theosentris karena tidak ada seorangpun sanggup berbuat baik. Hal itu semata-mata karena tidak ada yang baik, hanya tuhan yang baik (katanya orang-orang yang memiliki agama yang theosentris).

Tuhan sendiri harus mengakui bahwa dia telah menurunkan kebenarannya, bahkan mengutus Anak-Nya. Yang sering menjadi keliru adalah manusia yang selalu terus kembali menggunakan dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu dan menjadikan dirinya sebagai tolok ukur dalam perspektifnya sendiri.

Tidakkah katanya wahyu adalah inti dari agama theosentris, bahwa tuhan sendiri harus membukakan kebenarannya sebagai kebenaran yang sejati. Bahwa tuhan itu sendiri harus mengakui oleh dirinya sendiri sebagai kejujuran yang satu-satunya dan tidak ada tuhan yang lain selain daripada dia. Namun manusia terus berusaha mencari kebenaran yang sejati tanpa menghiraukan wahyu tuhan, kebenaran yang benar-benar BENAR dalam dunia ini. Juga bahkan tidak terima ketika tuhan itu sendiri kemudian telah datang dan berkata, “Akulah Tuhan. Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup.”

Itulah inti dari agama yang katanya  diwahyukan. Kebenaran yang tidak berasal dari manusia yang bisa bersalah.
Dalam pengertian wahyu Tuhan orang Kristen, Tuhan dikatakan dalam kedaulatan-Nya tahu bahwa kebenaran-Nya adalah merupakan kebodohan yang tidak masuk akal bagi manusia yang antroposentris; karena itulah Dia kemudian mewahyukan kebenaran sejati itu bagi mereka yang bersedia menjadi bodoh demi Anak-Nya yang tunggal yang menjadi utusan-Nya. Bahwa keselamatan hanya datang oleh Dia satu-satunya, yang dengan kebodohan-NYA mati di atas salib untuk menebus dosa manusia. Supaya manusia yang bersedia menjadi tolol (baca: theosentris) bisa diselamatkan bukan oleh perbuatan baik. Supaya di dalam penebusan-Nya, orang baru dimampukan untuk berbuat baik, karena sekarang ‘baik’ itu bukan lagi menurut manusia, tetapi apa yang ‘baik’ menurut wahyu Tuhan: keadilan, murah hati, rendah hati, dan mengikut Tuhan. Dan tidak ada hukum dan etika dunia yang bertentangan dengan kebaikan itu.