Agama dalam Perspektif Sosiologi: Keyakinan akan Kebenaran & Kebijaksanaan Manusia

Ketika kita mencoba memahami keberadaan diri kita sendiri, secara pribadi, setiap kita masing-masing individu, tanpa memandang orang lain sama sekali; Apakah dimungkinkan bagi kita untuk memahami bagaimana kita bisa memeluk suatu agama tertentu?

Selangkah lebih jauh lagi, tanyakan pada diri kita, apakah dimungkinkan bagi saya untuk berpindah dan menganut agama yang lain selain daripada yang saya yakini selama ini?

Dan yang terakhir, bisakah orang lain merayu, atau bahkan memaksa saya untuk berpindah dan berpaling dari agama yang saya yakini sebagai sebuah kebenaran?

Saya yakin jawabannya adalah TIDAK. Tidak seorangpun bisa memaksa kita untuk memeluk agama yang berbeda dengan yang saya yakini sebagai kepercayaan saya. Tidak seorangpun bisa meyakinkan saya bahwa agamanya lebih benar daripada agama saya. Saya yakin semua dari kita bisa memahami bahwa agama adalah bagian hidup yang paling personal dan jika ada orang lain yang menganggap bahwa agamanya adalah yang paling benar, tentu saja saya bisa memahami hal itu, karena saya pun menganggap bahwa agama saya yang paling benar. Jika saya tidak memiliki kepastian itu dalam diri saya, maka tentunya saya sudah memeluk agama apapun yang saya anggap sebagai kebenaran mutlak.

Apakah orang lain bisa memaksa saya untuk menyukai es krim rasa durian jika saya menyukai es krim rasa green tea? Orang lain bisa memaksa saya untuk memakan es krim rasa durian, dan akan membuat saya muntah karena saya tidak tahan baunya. Ancaman dan paksaan akan membuat saya ketakutan tentang kenyamanan dan kelangsungan hidup saya, sementara rayuan dan iming-iming akan membuat saya tertarik. Saya akan memakan es krim rasa durian. Orang akan mengira saya penggemar es krim rasa durian.
Tapi siapapun tidak akan pernah bisa memaksa saya untuk menyukai es krim rasa durian. Saya akan semakin mendambakan dan merindukan es krim green tea.  Karena itulah diri saya, penggemar es krim green tea.

Saya yakin kita bisa sangat mengerti dan berelasi dengan jelas terhadap sepotong fakta kehidupan yang barusan saya jelaskan. Jika demikian, maka jelaslah, bahwa melalui ancaman ataupun rayuan, kita yang memiliki keyakinan yang sejati terhadap agama yang kita percayai dengan segenap hidup kita sebagai suatu kebenaran mutlak, tidak akan membuat kita bergeser dan berpindah agama begitu saja.

Mereka yang beragama Kristen, bersekolah di luar negeri yang beragama Buddha, apakah dia tiba-tiba berpindah menjadi Buddhist? Mereka yang sering mendengar panggilan ibadah umat Islam, apakah serta merta memeluk agama Islam? Hiasan Natal yang meriah di negara ateis, apakah serta merta menjadikan banyak penduduk mereka menjadi umat Kristiani? Mereka yang pergi ke pulau Bali untuk merantau mengadu nasib dan peruntungan, apakah mereka kembali sebagai umat Hindu?
Saya bisa terus berceloteh, tapi saya yakin kita semua menangkap maksud dari kalimat-kalimat saya.

Jadi lihatlah sendiri, fenomena perpindahan agama adalah esensi dari suatu sistem kepercayaan yang tidak bisa dipengaruhi –apalagi diintervensi– dari luar diri kita sendiri. Lihatlah sendiri, dalam agama apapun dari sebelah manapun, berapa banyak orang yang mati untuk menunjukkan kepercayaan dan kebenaran agama mereka. Jika hidup dan mati pun sudah tidak bisa menggoyahkan keyakinan seseorang, bagaimana seorang manusia, siapapun dia, bisa begitu saja berpindah agama. Mengapa kita menjadi khawatir ketika melihat ada orang yang berpindah agama, seakan-akan kehilangan pendukung atau kehilangan jumlah anggota. Apakah agama itu seperti keanggotaan dalam sebuah klub yang sedang bersaing jumlah anggota dengan klub lain? Apakah agama itu seperti persaingan jumlah tentara untuk memenangkan pertarungan? Apakah jumlah yang banyak menentukan kemenangan?

Seharusnya tidak sedemikian. Berapa banyak peperangan besar yang gemilang yang terjadi antara pasukan jumlah besar yang dibantai habis oleh pasukan yang jumlah jauh lebih sedikit. Agama adalah bagaimana setiap orang, secara pribadi, berelasi dengan penciptanya. Tidakkah hal itu sifatnya seorang demi seorang, pribadi lepas pribadi. Tidakkah kita masuk kedalam akherat seorang demi seorang, bukan bersifat membership dan borongan/kolektif/beramai-ramai. Apakah kita yakin bahwa mereka yang berdiri disebelah kita saat berada dalam tempat ibadah dalam hatinya yang paling dalam, datang beribadah dengan niat yang sama seperti kita? Apakah kita yakin bahwa amal dan ibadah antara yang seorang dengan yang lain akan diperkenan oleh Sang Pencipta? Tidakkah setiap agama mengajarkan semua yang baik?

Jika demikian, sebenarnya, apakah kita perlu merisaukan bagaimana Sang Pencipta mengurus ciptaan-Nya? Apakah kita perlu membantu Sang Pencipta? Membela Dia seolah-olah kita lebih bijaksana dan lebih hebat daripada Dia yang menciptakan dunia dan segala isinya? Karena itulah setiap orang sepatutnya mempelajari ajaran agamanya seturut dengan kepercayaan masing-masing.
Karena itulah sistem pendidikan menyediakan wadah bagi setiap pelajar suatu bentuk pelajaran agama, supaya melalui wadah pendidikan, terbentuklah pengertian dan pengetahuan tentang konsep kebenaran yang dipercayai sebagai suatu agama dan kebenaran yang pantas untuk dianut, untuk menghindari fanatisme.

Dunia kita menjamin kebebasan hak beragama sebagai salah satu hak asasi manusia yang paling asasi. Karena pemaksaan dalam agama akan menghasilkan peperangan dan korban jiwa yang sangat besar, demi mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak dapat dilihat, disentuh, bahkan tidak dapat terselami. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan hakiki, apakah yang dimaksud dengan “agama” ini? Apakah ini tentang perspektif manusia mengenai bagaimana bersikap dihadapan Tuhan, atau tentang perspektif Tuhan mengenai bagaimana manusia dihadapan Tuhan, atau tentang perspektif manusia tentang bagaimana Tuhan dihadapan manusia?

Lihatlah, kebijaksanaan manusia dalam mengatur segala sesuatu. Lihatlah, agama mengajarkan semua yang baik. Lihatlah, bahwa semua manusia dalam hatinya mengetahui ada kebenaran dan kebaikan supaya tidak mencelakakan manusia lain. Lihatlah dunia sekeliling kita, apa yang kita lihat? Mereka yang mengaku beragama seringkali merupakan orang-orang yang paling berani berbuat jahat. Mari kita buka mata kita lebar-lebar, apakah ini yang diajarkan oleh agama kita, apapun agama itu?

Tidakkah kita semua mendambakan tatanan masyarakat yang baik? Akan tetapi, siapakah masyarakat itu? Tidak lain adalah Anda dan saya, kita semua. Dan jika kita semua memulainya dari menata diri kita sendiri, kita akan pasti dapat mewujudkan apa yang kita dambakan. Saya yakin, kita tidak sendiri.

Advertisements

Esensi Kebebasan dalam Diri Manusia

Manusia selalu mempermasalahkan mengenai kebebasan dirinya, kebebasan kehendaknya, kebebasan sebagai hak yang paling asasi, katanya. Tetapi ketika kebebasan itu diberikan padanya, manusia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya dan apa yang akan dilakukan dengan kebebasan yang dia miliki tersebut.

Manusia adalah makhluk yang tidak bisa dipercaya untuk mengelola kebebasan yang dia miliki, karena pemikiran-pemikiran manusia banyak yang tidak lurus. Sejak berakhirnya era enlightenment serta jaman modern, kemudian memasuki era post-modernisme, pemikiran-pemikiran manusia semakin lama semakin menjadi pemikiran yang berupa kesadaran kolektif. Keunikan dari era post-modern ini adalah ketika identitas individu semakin ditegakkan, ketika kebenaran-kebenaran pribadi yang sifatnya parsial semakin ditonjolkan, akhirnya malah membentuk sebuah identitas diri yang sifatnya menjadi global dan individualitas masing-masing orang lenyap dalam sebuah arus besar (hal ini tentu saja karena kemajuan teknologi jaringan global data internet dan komunikasi). Permasalahan dengan hilangnya identitas individu yang ditegakkan ditengah identitas global semakin menunjukkan bahwa setiap orang itu berbeda, akan tetapi tidak unik. Manusia tidak lagi dipandang sebagai individu-individu yang unik. Setiap orang secara sadar atau tidak, kemudian akan mengikuti sebuah arus kesadaran atau identitas antara seorang yang satu dengan yang lain membentuk sebuah arus yang besar. Sebagai makhluk sosial, adalah natur manusia untuk melakukan konformitas supaya dirinya bisa diterima oleh sebuah golongan yang merepresentasikan identitasnya.

Tapi sekali lagi, dalam kurva Gauss atau kurva distribusi normal, rata-rata orang dalam kelompok terbesar adalah kelompok mayoritas. Dalam distribusi apapun dalam dunia ini, berlaku distribusi yang berbentuk piramida. Semua arus paling besar, kualitas paling rendah, semua yang sifatnya paling umum, jumlah manusia yang tidak berusaha belajar, merupakan jumlah terbesar. Sementara semua yang menempati puncak piramida atau salah satu ujung kurva distribusi normal, merupakan kualitas yang paling tinggi, semua yang sifatnya paling unik dan terbatas, merupakan jumlah yang paling sedikit. Dan sejujur-jujurnya terlihat, manusia selalu mencari arus paling besar, paling mudah, paling seenaknya, paling menggampangkan, dan paling kecil tanggung jawabnya.

Dengan itulah manusia menggunakan kebebasannya. Untuk melakukan semua yang mudah, yang tidak mengikat, dan yang tidak bertanggung jawab. Semua yang tidak benar dan yang tidak bernilai. Manusia tidak bisa dipercaya untuk memegang kebebasan, karena begitu kebebasan diberikan, dia langsung menggunakan kebebasan itu untuk merusak hidupnya. Uniknya, ketika kebebasan itu diambil dari manusia, dia memberontak luar biasa dan menentang habis-habisan, berusaha memperjuangkan haknya untuk boleh merusak dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini tidak menggambarkan keadaan manusia dalam individu yang unik (jika yang unik itu masih ada), namun jelas menggambarkan keadaan manusia secara kolektif.

Ujung kurva Gauss, dalam kurva distribusi normal, puncak piramida, diisi oleh orang-orang yang mengekang dirinya sendiri dalam standard yang sedemikian tinggi, tanggung jawab yang besar, dan menyerahkan kesenangan dirinya. Ini adalah kelompok orang-orang besar yang menyerahkan kebebasan dirinya dan sebagai gantinya, dia mendapatkan kebebasan dalam hidupnya.

gaussian curve

Kurva Gauss atau Kurva Distribusi Normal

Inilah paradox kebebasan dalam hidup manusia. Siapa yang menyerahkan kebebasannya, dia memperoleh kebebasan itu. Siapa yang mempertahankan kebebasannya, dia akan kehilangan kebebasan dirinya. Manusia harus kembali pada kebenaran yang sejati, karena kebenaran yang sejati mengandung kebebasan yang sejati. Kebenaran yang sejati menuntut penyangkalan diri mutlak dan mengikuti idealisme yang benar-benar benar, yang baik, yang bernilai kekal. Di dalam kebenaran yang sejati barulah manusia mengetahui arah dan tujuan hidupnya dalam mempergunakan kebebasan yang dia miliki. Di dalam ‘ketidakbebasan’, manusia menemukan kebebasan yang sejati.

Seperti dalam kurva distribusi normal, akan ditemukan dua ujung, ujung tempat semua yang sangat baik, kualitas yang sangat tinggi; Dan ujung seberangnya tempat semua yang paling buruk, dengan kualitas yang sangat buruk. Penyangkalan diri mutlak terhadap idealisme yang rendah, yang tidak baik, yang tidak bernilai dan yang salah akan menghasilkan kehidupan yang merusak diri sendiri dan orang lain. Penyangkalan diri mutlak terhadap idealisme yang tinggi, kebenaran yang sejati, yang bernilai kekal, akan menghasilkan kehidupan yang mendatangkan faedah dan kebaikan bagi banyak orang dan bagi diri sendiri.

truth like a lion

Hal inilah yang membawa pengertian pada kalimat yang pernah saya baca dalam The Golden Rule – Sermon on The Mount (Khotbah di Bukit), kumpulan prinsip moralitas yang tertinggi dan sifat altruisme teragung yang ada dalam buku orang Kristen yang kebetulan saja hingga saat ini belum saya temukan pembandingnya yang setara dalam filsafat manapun. Topik tersebut kemudian membawa saya kepada naskah aslinya (Matius 5, Matius 6, Matius 7) yang menjadi bacaan yang sangat menarik. Yang jika kita baca bersama akan membawa kita kepada pengertian yang lebih tentang kebijaksanaan dalam moralitas kebenaran yang sifatnya membebaskan.

“Mereka melihat, tapi tidak melihat. Mereka mendengar, tapi tidak mendengar. Dan mereka tidak mengerti.”

Kemarahan Dalam Didikan

Keteladanan bukanlah salah satu cara yang paling efektif dalam mendidik, melainkan satu-satunya cara dalam mendidik.

Kemarahan merupakan salah satu emosi yang harus muncul dalam proses pendidikan dimanapun, selain emosi-emosi lain yang tentunya juga harus ada seperti empati, simpati, kasih, dan kemarahan serta keadilan. Kasih dan keadilan harus selalu berjalan bersamaan dalam pendidikan. Kasih tanpa keadilan itu menghasilkan pendidikan yang lemah, tidak berwibawa, tidak menjadi teladan yang kuat. Sedangkan keadilan tanpa kasih menghasilkan pendidikan yang kejam.

Berbicara tentang emosi secara umum, seperti halnya berbicara tentang segala sesuatu, selayaknya akan selalu mengarah pada prinsip-prinsip nilai dan kebenaran. Apakah emosi itu secara konsisten dikeluarkan pada saat yang tepat, terhadap orang yang tepat, dengan bobot yang tepat, serta memiliki nilai yang tepat?

Selalu ada cara yang benar dan salah dalam melakukan segala sesuatu.

Demikian pula dengan kemarahan dalam didikan. Pada tahun 1990-an, dalam era post-modern, banyak sekali pendapat yang menyarankan bagaimana melangsungkan pendidikan anak tanpa kemarahan dan teriakan sebagai respon terhadap pendidikan yang sifatnya terlalu keras bahkan sampai pada penganiayaan anak, baik secara fisik dan psikis.

Pendapat-pendapat tersebut banyak digunakan oleh para orang tua dan hasilnya yang dirasakan sekarang adalah begitu banyak anak yang menjadi manusia-manusia yang kurang didikan, kurang berdisiplin, kurang tahan dalam kesulitan, kurang kesopanan, kurang tata krama, kurang berintegritas, kurang berjuang, kurang keinginan untuk mencari hal-hal yang bernilai tinggi, dan kurang etos kerja yang baik. Abad ke-20 kurang menghasilkan orang-orang yang berkualitas tinggi, berintelektual tinggi, bermoral tinggi, berpemikiran tinggi; Abad ini hanya menjadi pengikut atau pelawan dari pemikir-pemikir besar era terdahulu.

Yang seharusnya menjadi perhatian bukanlah boleh atau tidak boleh marah. Namun yang seharusnya menjadi perhatian adalah bagaimana cara marah. Dalam hubungan sosial dengan sesama manusia, entah dengan relasi kerja, teman, pasangan, orang tua, guru, ataupun kepada anak, tidak mungkin seorang manusia dilepaskan dari emosi-emosi yang muncul antara satu orang terhadap orang yang lain. Relevansi antara emosi tersebut dengan suatu keadaan adalah bagaimana emosi-emosi itu dikeluarkan dengan tepat berdasar aspek kesucian, kebaikan, kebenaran, dan apakah emosi itu berguna dan membangun orang lain selain membangun diri sendiri.

Dalam hal emosi marah, yang menjadi masalah utama adalah kita seringkali marah karena kita merasa terganggu. Kemarahan semacam ini adalah emosi yang tidak berakal budi baik dan seringkali tidak terkendali. Diberbagai budaya yang agung dengan rasionalitas yang tinggi (misalnya dalam budaya bangsawan Eropa maupun Jepang; ataupun dalam lingkungan sosial berkelas tinggi), kemarahan dalam situasi apapun seringkali dinilai sebagai ketidakdewasaan, tidak ada kontrol diri, tidak bisa mengendalikan situasi, tidak beradab, tidak elegan, dan tidak sopan.

Demikian pula dalam dunia pendidikan, terutama dalam dunia pendidikan antara orang tua dan anak, dalam hubungan yang dekat serta berintesitas tinggi, kemarahan dalam didikan tidak dapat dihindari dan tidak boleh dihindari.

Saat yang tepat

Kemarahan yang dikeluarkan pada saat yang tepat memiliki pengaruh yang baik. Hal ini akan langsung menjadi teladan dalam diri anak tentang kapan dan bagaimana seseorang diperbolehkan untuk marah. Kebanyakan orang tua, mereka marah karena mereka merasa terganggu.

Kalau tidak ingin merasa terganggu, jangan punya anak.

Ini merupakan saat marah yang paling salah dan paling merusak. Anak memiliki sifatnya sendiri yang perlu dibimbing dan diarahkan supaya dia memiliki teladan dan patokan tentang “saat yang tepat” untuk melakukan sesuatu. Untuk segala sesuatu dimuka bumi ini ada waktunya. Ada waktu untuk makan, ada waktu untuk tidur, ada waktu untuk bermain, ada waktu untuk belajar, dan seterusnya hingga ada waktu untuk membangun, dan ada waktu untuk merusak. Ada waktu untuk marah dan ada waktu untuk mencintai.

Anak perlu belajar dan mengerti tentang konsep waktu sebelum dia mengerti tentang arti keteraturan, disiplin diri, pengendalian diri, dan toleransi terhadap orang lain. Dengan telaten orang tua harus mengajari dia dengan teladan yang baik tentang bagaimana dia bersikap dan kapan dia boleh bersikap seperti apa.

Seorang anak kecil seringkali diberi label “NAKAL” hanya karena dia belum mengerti kapan dia boleh berlari-lari dan kapan dia tidak boleh berlari-lari. Anak yang belum mengerti, harus dibuat mengerti. Seperti orang yang belum tahu, harus diberi tahu apa yang dia perlu tahu. Kemarahan dan caci maki dalam hal ini tidak membantu, tidak membangun, tidak benar, tidak baik, dan tidak suci. Apakah proses ini mudah? Jawabannya adalah TIDAK. Kita sendiri kadang perlu mengulang berapa banyak kali kesalahan yang sama, atau perlu berapa banyak kali mempelajari hal yang sama supaya kita bisa hidup dengan baik. Bagaimana mungkin kita bisa berharap bahwa siapapun termasuk anak kecil bisa diberi tahu sekali kemudian langsung jadi baik.

Terhadap orang yang tepat

Setiap orang tua harus peka dan menjadi teladan tentang kepada siapa kemarahan itu ditujukan. Seringkali kita marah kepada orang yang tidak tepat, kepada obyek yang tidak seharusnya, atau menyalahkan situasi/kondisi/orang lain untuk keteledoran yang kita perbuat. Jarang sekali kita dengan bijaksana dan berani mengambil tanggung jawab dan berkata pada diri kita sendiri, “Ini salahku, lain kali tidak boleh lagi terulang hal sedemikian. Aku akan berusaha berpikir lebih jauh dan lebih panjang dan melihat potensi dan aspek lain yang mungkin bisa menjadi salah di lain waktu untuk melihat segala kemungkinan supaya hal ini tidak terjadi lagi.

Dengan kesadaran diri yang tinggi dan kebijaksanaan untuk berani bertanggung jawab, hal itu akan membuat hidup kita sebagai orang tua memiliki integritas sebagai teladan. Sehingga orang tua tidak lagi berperilaku ketika anaknya terjatuh atau terbentur meja dan menangis, datang menghampiri anaknya dan kemudia memukul-mukul lantai atau meja yang membentur anaknya sambil berkata, “Nakal ya mejanya..!! Ini sudah dipukul meja yang membentur kamu… sudah jangan menangis ya.”

Dalam kasus tersebut, orang tua sudah mengajarkan anaknya bahwa yang salah bukan dia, tapi lingkungan; dan mereka yang salah boleh dipukul supaya aku tidak sakit. Bukan anak itu belajar bahwa dia yang harus berhati-hati, tetapi orang lain yang harus berhati-hati supaya dia tidak celaka. Jangan heran jika dia tumbuh dewasa dengan egois. Jangan heran orang tua yang sedemikian pasti egois. Karena buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya.

Konsisten dengan bobot dan nilai yang tepat

Pendidikan yang baik harus memiliki bobot dan nilai yang tinggi dan harus bersifat konsisten. Pendidikan yang tidak konsisten akan menjadi pendidikan yang bersifat sangat relatif dan sangat membingungkan. Orang tua yang mendidik dengan cara yang membingungkan akan menghasilkan anak-anak yang cuek dan pragmatis. Karena mereka tidak bisa melihat pola didik yang konsisten, mereka akan berhenti berusaha mengerti kemauan orang tuanya dan mengambil sikap tidak perduli.

Hal ini juga yang akan terjadi jika ayah dan ibu dirumah tidak memiliki pola didik yang sama. Ayah bilang boleh, sementara ibu bilang tidak boleh. Ditambah lagi kalau ayah atau ibu sedang dalam suasana hati yang jelek, apapun yang dikerjakan anak jadi serba salah dan dia kena marah, bahkan untuk hal-hal yang sebelumnya mungkin dipuji oleh orang tuanya.

Sebagai gambaran, ada anak kecil yang berulang-ulang menghilangkan bolpen yang dibawanya ke sekolah. Orang tuanya tidak pernah marah dan untuk anak itu, orang tuanya menyediakan sekotak bolpen murah yang boleh dipakai anak itu ketika bolpen dia hilang (lagi). Hingga suatu hari, kotak bolpen itu kosong dan habis isinya dan dia tidak punya bolpen. Serta merta dia mengambil bolpen ayahnya dari meja tulis dan membawanya ke sekolah. Sepulangnya dari sekolah, seperti yang sudah bisa kita tebak, bolpen ayahnya pun hilang. Dan ketika ayahnya tahu, murkalah si ayah dan menampar serta menghajar anak itu dengan keras karena harga bolpen itu sangat mahal.

Ayahnya marah karena dia merasa terganggu. Selama ini dia tidak mendidik si anak untuk bertanggung jawab, melainkan membiarkan dia teledor. Ayah ini sudah salah mengajarkan kepada anaknya tentang prinsip nilai; yaitu barang yang dianggap tidak berharga boleh disia-siakan. Anaknya tidak tahu tentang bolpen murah atau mahal, dia hanya tahu bahwa bolpen itu buat menulis. Sementara bolpennya habis dan belum dibelikan lagi oleh ayahnya, dia ambil saja bolpen lain yang bisa dia pakai.
Tidak ada konsistensi dalam didikan si ayah dan tidak ada pengajaran tentang tanggung jawab pribadi serta prinsip-prinsip yang bernilai tinggi dalam didikan si ayah. Si anak bahkan tidak tahu kenapa dia dipukuli dengan sangat keras, padahal biasanya kalau bolpen hilang, si ayah cuma tersenyum dan pergi membeli bolpen yang baru buat dia. Dia bahkan tidak tahu kenapa bolpen itu bisa hilang, sama seperti semua bolpen yang lain yang pernah dia hilangkan, itu bahkan bukan salahnya. Bolpennya itu sendiri yang entah pergi kemana.
Tapi hari itu si anak mendapatkan dirinya kesakitan untuk sesuatu yang tidak dia mengerti.

Pendidikan manusia dibahas dengan sangat tajam dalam buku orang Kristen. Dan tujuan pendidikan diterangkan dengan prinsip yang sangat ketat pula. Bahwa dasar pendidikan anak adalah untuk membentuk manusia seperti yang sebagaimana telah Tuhan rencanakan terhadap masing-masing orang seturut dengan bekal yang telah Tuhan berikan. Berhati-hatilah dalam mendidik anak-anak yang dipercayakan ke dalam keluarga kita. Didiklah diri kita sendiri dengan keras hingga kita bisa menjadi teladan yang baik sebelum kita siap mendidik jiwa yang kecil dan murni itu.

Jangan pernah marah dalam keadaan marah. Tapi marahlah karena kita perlu marah supaya ditanggapi dengan serius oleh anak didik kita. Kemarahan dalam intesitas yang berbeda akan memberikan penekanan tentang seberapa besar kesalahan yang dia perbuat. Kesalahan kecil jangan dibuat besar. Kesalahan besar jangan dibuat kecil. Didiklah anak-anak sesuai dengan prinsip keadilan yang memiliki kasih. Kasihilah anak-anak dengan prinsip kasih yang memiliki didikan.

Para orang tua, janganlah mendidik sampai membangkitkan marah dan sakit hati dalam hati anak-anakmu. Bilur dan memar di kulit mereka akan hilang, tapi luka dalam batin mereka akan merusak jiwa mereka. Tapi didikan yang keras, yang membangun jiwa mereka akan disyukurinya dan bilur dan memar yang pernah singgah di kulit mereka akan menjadi kebanggaan mereka.

Etika dan Estetika: Rasional vs Intuisi

Etika

Etika, secara luas, adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang moralitas: baik dan buruk, benar dan salah. Topik utama dari studi tentang etika adalah pertanyaan, “Bagaimana cara terbaik bagi seseorang untuk hidup?” Hal ini sudah dipikirkan sejak jaman Confusius dan Aristotle sebagai dua filsuf yang banyak berbicara tentang etika. Dari mereka keluar ide dan pemikiran tentang kebaikan, kepantasan, cara hidup dan relasi antar manusia berikut hubungan manusia dengan sekitarnya.

Ketika kita berbicara tentang cara hidup yang terbaik, tidak mungkin kita bisa lepas dari konteks dan konten (atau seringkali kita ungkapkan sebagai “situasi dan kondisi”). Bersamaan dengan pergerakan filsafat dan pemikiran di dalam bentangan sejarah yang merubah wajah sejarah, kebudayaan, dan masyarakat, kita harus sangat berhati-hati dalam memahami tentang pergeseran relatif di dalam etika. Etika dalam sekelompok masyarakat akan berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain, contohnya: orang Jerman dan orang Indonesia. Lingkungan yang berbeda akan memiliki etika tertentu, contohnya: lingkungan sekolah, lingkungan olah raga. Demikian pula dalam ruang lingkup tertentu, contohnya: etika bisnis, etika militer, dan seterusnya. Juga terdapat perbedaan dalam satu era dengan era yang lain, contohnya: hukuman jaman abad pertengahan dibandingkan dengan hukuman dalam abad modern. Kita tidak boleh dengan serampangan menilai betapa kejamnya hukuman dalam abad pertengahan tanpa mengenal secara keseluruhan konteks dan konten etika dalam dunia pada masa abad pertengahan. Tidak ada hak bagi suatu jaman untuk menghakimi jaman sebelumnya.

Etika berasal dari kata ethos yang berarti kebiasaan dan aturan. Etika dalam Bahasa Yunani, mengandung makna ilmu pengetahuan tentang moralitas. Sehingga pada saat kita berbicara tentang etika, sebenarnya kita sedang membicarakan tentang suatu sistem hukum yang kadang tertulis ataupun tidak tertulis tentang sesuatu yang seharusnya kita lakukan, muncul dalam perbuatan yang nyata dan bukan sekedar sebagai pembicaraan dan perdebatan filsafat. Seseorang dikatakan beretika baik ketika dia dalam hidupnya melakukan sesuatu yang baik menurut norma kepantasan, kesopanan, kebaikan, kebenaran, kesucian, dan seterusnya, yang berlaku umum dalam suatu konteks dan konten. Ketika seseorang tidak melakukan semua hal tersebut, dia tidak dikatakan netral, melainkan dia dikatakan tidak beretika, tidak sopan, biadab, kurang ajar, dan seterusnya. Tidak ada posisi netral dalam etika.

Karena itu, seseorang diharapkan dididik dengan baik di masa mudanya dengan pengetahuan teori akan nilai, norma dan etika yang pantas, untuk kemudian dimunculkan secara praktika dalam tingkah laku hidupnya sehingga dia tidak menjadi manusia yang dianggap tidak manusiawi. Keberadaan manusia yang tidak manusiawi menunjukkan kegagalan pendidiknya yang pasti juga kurang manusiawi. Melalui macam tingkatan didikan dan aplikasi moral tersebut, dapat terlihat relasi langsung bahwa ada etika yang tinggi dan ada etika yang rendah yang membentuk seorang manusia.

Etika yang lebih tinggi akan memiliki sifat yang melampaui batasan ruang, entah kelompok masyarakat, budaya, tradisi dan seterusnya. Etika yang tinggi bahkan akan diakui oleh dunia sebagai sebuah budaya dunia. Etika yang lebih tinggi lagi akan melampaui batasan waktu dan memiliki sifat yang awet dan memiliki ketahanan yang tidak mudah ditelan waktu dan menjadi usang. Semakin tinggi suatu etika, semakin lama dia akan bertahan di dalam waktu. Etika yang semakin remeh dan semakin rendah akan sangat terjepit dalam ruang dan waktu yang semakin sempit dan terbatas.

Estetika

Estetika adalah bidang filsafat yang membicarakan segala hal yang berkenaan dengan kesenian, keindahan, kecantikan, kepantasan, perasaan, dan seterusnya. Segala hal yang bisa dinikmati oleh indra kita adalah topik pembelajaran dalam bidang estetika, yaitu kriteria dan sistematika tentang semua yang bisa dikatakan sebagai “kesenian”, “keindahan”, dan “sensasi yang dirasakan oleh jiwa”.

Berdasarkan pengalaman sensasi dan indra tubuh kita, kita bisa berelasi langsung dengan apa yang disebut sebagai bagus dan jelek, enak dan tidak enak, megah dan kumuh, dan yang sangat relevan dalam kehidupan kita adalah konsep kualitas tinggi dan kualitas rendah. Sehingga secara umum, estetika adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang, “Bagaimana cara menikmati keindahan?” Agar sebuah keindahan dapat dinikmati, maka harus terlebih dahulu dijelaskan, “Apakah yang dimaksud dengan keindahan?” Untuk memahami keindahan, maka harus dipahami dulu kualitas apa yang mendefinisikan sesuatu menjadi indah, kurang indah, dan jelek.

Estetika juga memiliki relativitas tersendiri di dalam hubungannya dengan manusia. Setiap kelompok manusia memiliki definisi tersendiri tentang estetika yang memunculkan budaya-budaya yang sangat beraneka ragam, dan di dalam keanekaragaman tersebut muncul pula varian keindahan yang sifatnya lebih personal. Misalnya cara seseorang dari bangsa Italia dengan budaya Italia mendekorasi rumahnya dibandingkan dengan orang Inggris. Pasti akan ditemukan perbedaan dan variasi tersendiri. Orang Italia mendekorasi rumahnya dengan nyaman, indah, dan mewah; tapi dari tampak luar bangunan rumahnya akan terlihat biasa saja. Sementara orang Inggris akan memiliki lingkungan luar rumah yang terawat, bersih, arsitektur yang elegan, namun dekorasi dalam rumahnya lebih bersifat sentimental dan fungsional. Dalam setiap rumah pun akan ditemukan sentuhan-sentuhan personal yang akan sangat berbeda antara rumah yang satu dengan rumah yang lain. Dan seperti halnya etika, demikian pula estetika dalam perjalanan waktu dan sejarah, berubah dan mengalami pergeseran seturut dengan pergeseran aliran pemikiran dan filsafat.

Pengaruh estetika, baik disadari atau tidak, akan selalu tampak dalam perilaku seseorang dan cara seseorang menjalani hidupnya. Estetika dalam banyak kesempatan selalu bersifat dan memiliki pengaruh yang lebih personal dalam masing-masing orang. Ada orang yang lebih suka rasa coklat atau vanilla. Ada orang yang lebih suka warna hitam, dan yang lain lebih suka warna kuning. Ada yang menyukai musik pop, ada yang menyukai musik klasik.

Sekalipun estetika bersifat sangat praktis, tapi kepraktisan itu sama sekali tidak bersifat pragmatis. Estetika bukanlah sekedar menyukai rasa coklat atau vanilla, warna hitam ataupun kuning, musik pop atau klasik; melainkan lebih berkenaan tentang sebuah konsep di dalam diri manusia yang menghubungkan antara jiwa manusia dengan natur yang berada di luar tubuhnya. Ketika kita sedang mengatakan bahwa seorang pria itu tampan atau seorang gadis itu cantik, kita tidak bisa mendefinisi dan mereduksi konsep estetika dengan berusaha memahami bahwa cantik atau tampan itu adalah ketika hidungnya memiliki panjang sekian sentimeter, atau jarak antara mata kiri dan mata kanan adalah sekian sentimeter, atau bahwa wajahnya memiliki simetri antara kiri dan kanan. Tidak pula bahwa bunga anggrek baru bisa dikatakan indah karena keindahan itu bisa direduksi hingga kepada kumpulan fakta. Hal ini sudah dicoba dan bisa dilihat dari eksistensi dan ekstensi dari Golden Ratio : 1.618 (karena itu konsep keindahan selalu memiliki relasi dengan matematika, psikologi, arsitektur, kesenian, lukisan, biologi, dan entah apa lagi.) Estetika lebih merupakan konsep yang merangkum segala fakta dan terlebih lagi dalam berbagai konteks dan konten yang memberikan suatu pemahaman utuh dalam diri seseorang yang seringkali tidak dapat dijelaskan.

Akan tetapi, walaupun estetika adalah hal yang berkenaan dengan konsep keindahan yang sifatnya seakan-akan personal dan pribadi dan boleh berbeda antara orang yang satu dengan yang lain, tetap ada unsur kualitas mutlak yang ada secara intrinsik di dalam natur tiap objek. Setiap objek yang memiliki kualitas tinggi, dia akan melintasi ruang dan waktu dan diakui sebagai hal yang memiliki nilai tinggi, bukan karena banyak orang yang menyetujuinya, melainkan karena secara nilai di dalam dirinya sendiri menyatakan bahwa dia memiliki keindahan.
Sebagai ilustrasi: Berlian memiliki nilai intrinsik yang tinggi sebagai batu mulia yang sangat keras, transparan dan kilau yang cemerlang. Orang boleh setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka, tapi berlian akan selalu menjadi batu yang berharga.

Etika dan Estetika

Secara keutuhan yang menyeluruh dalam kehidupan seseorang, etika berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia supaya ia dikatakan ‘baik’. Sementara estetika berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia supaya ia dikatakan bagus atau lebih tepatnya ‘bernilai’. Keberadaan keduanya, yaitu tentang ‘baik’ dan ‘bernilai’, memiliki kaitan langsung antara prinsip/konsep tertentu yang berada dalam diri seorang manusia dengan lingkungannya, yang dimunculkan melalui perbuatan-perbuatan dan pilihan-pilihan yang mempresentasikan kehidupannya.

Kepada arah mana dan hidup yang seperti apa seseorang menjatuhkan pilihannya, akan termanisfestasi dalam etika dan estetika dalam hidupnya. Semakin tinggi idealisme seseorang, etika yang muncul dari dalam dirinya berikut dengan pilihan-pilihannya terhadap estetika tertentu akan tampak jelas menghiasi perjalanan hidupnya dan menyatakan situasi dan kondisi jiwa seseorang.

Seorang dengan didikan dan ajaran etika yang terhormat, akan memunculkan sikap yang baik. Ketika dia mengarahkan hidupnya pada hal-hal yang agung, yang bernilai, yang memiliki standar kualitas tinggi, maka entah sadar atau tidak, dia dalam perjalanan hidupnya akan memunculkan cara hidup yang mengarah pada keagungan secara etika. Kemudian secara estetika, dia tidak akan mengisi perjalanan hidupnya itu dengan hal-hal yang tidak mencerminkan idealisme dan etika yang ada pada dirinya.

Secara sederhana, sebagai contoh kecil, saya yakin dalam pergaulan keseharian kita, kita bertemu dengan berbagai macam orang. Kita bertemu dan ‘melihat’ orang yang kita pandang berwibawa, entah dari cara pilihan kata, intonasi dan cara pengucapan kata, hingga bahasa tubuhnya. Kita serta merta ‘merasakan’ ada sesuatu dengan orang ini yang seolah memaksa kita untuk berespon dengan cara tertentu terhadap dia. Orang dengan etika tertentu akan memunculkan sebuah perasaan estetika tertentu dalam diri kita yang akan tampak dalam etika yang akan kita munculkan. Keterbatasan etika yang kita miliki untuk berespon dengan kelas etika tertentu menjadikan kita sebagai manusia yang ‘kurang beretika’.

Orang yang mengejar hal-hal yang remeh dalam hidupnya, akan terlihat pula dalam hidupnya, dalam perilaku, dalam pilihan-pilihannya terhadap apa yang dianggapnya baik dan bernilai. Demikian pula dalam setiap pergeseran jaman, selalu ada pergeseran etika dan estetika, celakanya, pergeseran tersebut selalu mengarah pada segala hal yang lebih bobrok daripada sebelumnya. Entah kita merasakannya, atau tidak mau mengakuinya.
Manusia semakin hari semakin lebih mementingkan diri sendiri dan bersikap humanis dan materialis, tidak lagi perduli tentang apapun yang tidak berkaitan langsung dengan dirinya. Nilai kesopanan semakin menipis dan sikap hormat terhadap generasi yang lebih tua semakin hilang. Mereka yang lebih tua semakin lama semakin tidak menjadi teladan dan tidak lagi memiliki kelakuan yang layak dihormati. Secara praktis, segala sesuatu yang berada disekitar kita memiliki kualitas yang semakin lama semakin jelek, semakin murah, semakin mudah, semakin cepat, semakin tidak sehat, dan seterusnya.

Sepanjang sejarah, pergeseran filsafat dunia tampak dalam tiga hal besar: musik, arsitektur, dan lukisan. Dan sepanjang sejarah, budaya manusia semakin jauh dari kualitas yang bisa melampaui ruang dan yang bisa tahan di dalam waktu. Hingga abad ke-20, hampir tidak ada pemikir besar yang merubah wajah sejarah. Dunia modern hanya menjadi budak pemikir-pemikir besar dari abad terdahulu, terlelap dalam fatamorgana dan euphoria fenomena yang menyerukan bahwa jaman kita semakin maju, semua menjadi semakin murah, semua menjadi semakin kecil dan semakin cepat. Jaman yang dulu itu sudah kuno, sulit dan tertinggal. Jaman sekarang inilah yang superior.

Contoh ilustrasi yang selalu saya sukai sejak tahun 1993: Dalam mengurus rumah tangga. Sekarang sudah ada jenis kain yang tidak perlu di setrika, selalu licin. Sekarang ada mesin cuci. Sekarang ada mobil yang cepat. Sekarang memasak lebih mudah, ada bumbu instan. Sekarang semua serba cepat dan praktis. Tapi lihatlah para istri dan para ibu yang mengurus rumahnya sendiri, tetap saja dibutuhkan waktu yang sama untuk membereskan sebuah rumah dari jaman nenek dari nenek kita. Kesibukan ibu rumah tangga tidak berubah selama 20 tahun lebih. Musik klasik dikatakan kuno, namun tidak ada seorangpun musikus jaman ini yang bisa membuat satu saja musik sekelas Tchaikovsky atau Rachmaninov (keduanya komposer abad ke-19). Apalagi musik jaman Baroque abad ke-17. Semua musik baru berganti dalam hitungan minggu, beberapa dalam hitungan bulan, jarang yang bertahan selama puluhan tahun.

Rasional vs. Intuisi

Seringkali dalam pragmatisme manusia, kita menganggap bahwa cara hidup kita adalah tergantung kesenangan diri kita. Etika bersifat lebih mengikat dan estetika bersifat jauh lebih longgar. Namun di tengah kehidupan ini, tidak perlu sibuk dengan idealisme yang muluk-muluk, jangan dibuat susah, pikirkan segalanya secara praktis (baca: pragmatis, utilitarian). Manusia berkata, “Semua orang memiliki selera yang berbeda, kamu suka yang kamu suka, dan aku suka yang aku suka.” “Setiap orang memiliki jalan hidup dan pilihan yang berbeda, kamu pilih jalanmu dan jangan ganggu aku dengan jalanku.” Inilah hasil pemikiran modern hingga postmodern. Kita memilih segala sesuatu berdasarkan intuisi dan perasaan keinginan hati kita. Selama hati nurani kita tidak terganggu, kita bebas melakukan apa saja. Martin Luther dari abad ke-15 telah mengatakan, “Rasionalitas itu seperti pelacur.” Logika kita akan merasionalitaskan semua yang kita mau sehingga terlihat seperti masuk akal dan benar.

Sebagai contoh singkat, seringkali keinginan kita adalah bukanlah hal yang kita butuhkan. Dan seringkali apa yang kita butuhkan sebenarnya bukan keinginan kita. Kita memiliki televisi, model lama; dan kita merasa bahwa kita membutuhkan televisi: yang besar, yang flat, yang LED, yang bisa ditempel ke tembok. Itu keinginan kita. Apakah kita tidak bisa menginginkan yang ukuran biasa, atau apakah yang plasma yang lebih murah tidak bisa digunakan sehingga harus yang LED? Apakah benar kita sama sekali tidak ada televisi di rumah? Tapi kemudian rasio kita akan menjelaskan mengapa kita membutuhkan yang kita inginkan dan kita tidak menginginkan yang kita sebenarnya kita butuhkan.
Demikian pula dalam atheisme dunia modern, kita membutuhkan Tuhan, tapi kita tidak menginginkan Dia karena Dia membuat banyak aturan yang menyusahkan dan memberatkan hati nurani. Kemudian rasionalitas kita akan menjelaskan kenapa kita tidak membutuhkan Tuhan karena kita tidak menginginkan keberadaan kuasa yang lebih tinggi dari kita. Kita hanya menginginkan tuhan yang bisa kita peralat untuk memuaskan keinginan kita, melindungi kita, merawat kita, menjauhkan kita dari bahaya dan sakit penyakit; tepatnya, kita menginginkan pembantu yang maha kuasa.

Tidak banyak orang mau memikirkan apa yang baik, apa yang bernilai, apa yang berkualitas. Tidak banyak orang mau memikirkan bagaimana cara hidup yang terbaik yang mungkin bisa dikerjakan oleh seseorang supaya hidupnya tidak tersia-siakan. “You Only Live Once!” YOLO! “Lakukanlah semua yang kita suka, karena besok kita akan mati.” Inilah filsafat new-age. Mendorong manusia untuk menikmati hidup sebebas-bebasnya dalam kebebasan yang semu.

Apakah benar etika dan estetika itu adalah tergantung mutlak pada diri kita sendiri, dengan selera dan intuisi (sesuatu yang tidak membutuhkan alasan rasional; baca: suara hati) masing-masing orang? Apakah tidak ada standar nilai didalamnya?
Tentu saja ada. Telah dibahas di atas bahwa semakin tinggi nilai etika dan estetika, semakin dia melampaui batasan ruang dan waktu. Segala sesuatu yang memiliki nilai yang semakin tinggi, bertahan semakin lama di dalam waktu dan diakui oleh siapapun tanpa dibatasi ruang. Segala sesuatu yang bernilai semakin tinggi, memiliki kualitas yang mengandung unsur baik, benar, dan bernilai. Unsur tersebut akan keluar dari dalam dirinya sebagai nilai intrinsik yang sama sekali terlepas dari pendapat dan pandangan umum.

Bahkan dalam hal makan pun, sesuatu yang sebenarnya adalah murni kembali pada selera masing-masing orang, ada standard yang mutlak. Makanan yang baik bisa dinilai secara objektif, dari pemilihan bahan, cara memasak, ketepatan proporsi rasa dan tingkat kematangan, keindahan presentasi dan seterusnya. Rasional dan intuisi harus selalu berjalan bersamaan. Kita menikmati makanan berdasar intuisi kita, dan kita mengetahui nilai estetika suatu makanan dengan rasionalitas kita. Kita tidak boleh seenaknya saja mengatakan bahwa roti keju itu tidak enak hanya karena kita tidak suka. Ada beda besar antara ‘tidak enak’ dengan ‘tidak suka’.  Hal ini berlaku dalam semua hal yang berada di sekitar kita. Seringkali kita seenaknya saja mencampur aduk antara kesukaan kita dengan kualitas. Kualitas adalah nilai intrinsik di dalam segala sesuatu, tidak ada hubungan dengan kita suka atau tidak suka. Justru kita harus belajar untuk mengerti (bukan selalu harus menyukai) semua yang baik, yang benar, yang bernilai, supaya hidup kita memiliki pengertian dan tidak terarah pada hal yang sifatnya remeh. Demikianlah etika dan estetika yang keluar dari dalam diri kita akan memiliki nilai yang tinggi.

Musik klasik itu bukan musik jelek hanya karena kita tidak sanggup mendengarkannya, karena butuh usaha besar untuk belajar menikmati musik klasik. Butuh pengertian dan lidah yang belajar untuk bisa menikmati minuman anggur yang berkualitas. Orang yang pandai adalah orang yang bisa melihat dan memahami perbedaan; orang yang bodoh adalah orang yang menganggap semua hal itu sama. Orang yang tidak mau belajar pasti adalah orang yang tidak pandai. Dan orang yang lebih bodoh adalah orang yang menghina hal yang baik hanya karena tidak sesuai dengan selera dia.

Segala hal yang semakin berunsur baik, benar, dan bernilai, akan semakin mendekati nilai kebenaran yang sejati. Dan kebenaran yang sejati akan memiliki sifat yang universal, kekal, integral, dan moral yang tinggi. Hal ini menjelaskan kenapa segala sesuatu yang memiliki nilai tinggi akan memiliki sifat yang sanggup melampaui batasan ruang dan waktu serta mendekati kekekalan dari dalam dirinya sendiri.

Kegagalan mengenali kualitas etika dan estetika yang benar-benar BENAR dimulai ketika kita ditipu oleh keinginan diri sendiri yang sifatnya remeh, mudah, dan sementara. Dan rasionalitas kita menjadi pelacur dari keinginan kita. Kita tidak mau berpikir panjang, kita tidak mau melakukan pertimbangan-pertimbangan yang rumit. Kita tidak mau belajar. Kita terlalu malas untuk melakukan semua itu karena belajar itu membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Karena semua yang baik, benar, bernilai itu memiliki kualitas dan level yang tinggi, yang susah, yang rumit, sehingga tidak seorangpun dari kita yang mau mengerjakannya. Kita mengambil sikap pragmatis, mengerjakan semua hal yang mudah dan mendatangkan uang secepat mungkin supaya kita bisa pensiun dini dan secepat mungkin menjadi kaya raya dengan cara tercepat dan termudah. Seringkali itu tujuan akhir manusia dan manusia mengarahkan hidupnya kesana.

Secara pragmatis dan intuitif, semua yang tidak kita sukai kita anggap jelek, berkualitas rendah, kemudian tidak kita perdulikan. Semua yang kita sukai kita anggap baik dan berkualitas. Ini adalah kesesatan cara berpikir. Ketika seseorang mengejar semua yang sepele dan remeh hanya karena hal itu adalah hal yang dia sukai secara intuitif, maka semua yang dia kerjakan, semua yang muncul dalam hidupnya, semua pilihan yang dia lakukan, perbuatan yang keluar dari jiwanya, akan menjadi sepele dan remeh.

Secara rasional, sebaliknya, ketika seseorang berusaha mengejar semua hal yang terbaik, teragung, sehingga dia sama sekali menjauhkan dirinya dari kesenangan dan menahan diri dari segala keinginan yang menurut dia tidak bernilai, dia akan memiliki hidup yang melahirkan keputusasaan dan beban yang berat. Namun tidak tentu dia akan memiliki hidup yang lebih bernilai daripada orang yang mengikuti intuisinya saja. Dia tidak akan bisa menikmati segala hal yang baik dalam dunia ini dan mungkin kehidupan yang dia miliki bersifat semu dan hanya berada pada tampilan luar.

Saya tidak mengatakan bahwa intuisi itu salah; bahwa semuanya harus rasional. Saya juga tidak mengatakan bahwa rasional itu salah, karena setiap orang bebas merasakan apa yang hendak dia rasakan. Saya mengatakan bahwa intuisi dan rasionalitas harus berjalan bersamaan. Bagaimana kita mengarahkan hidup kita pada idealisme dalam etika dan estetika yang baik, benar dan bernilai, dan secara otomatis, etika dan estetika yang keluar dari hidup kita akan mengarah pada hal yang berkualitas tinggi secara totalitas. Demikian pula sebaliknya, baiklah kita menikmati segala macam keindahan dan estetika dengan etika dan moralitas yang tinggi. Agar hidup kita mengarah pada idealisme yang baik, benar, dan bernilai.

Q: Apa maksudnya “semua kebenaran yang tidak sejati pasti menghancurkan diri sendiri?”

Kebenaran yang benar-benar BENAR atau kebenaran yang sejati haruslah merupakan kebenaran di dalam dirinya sendiri, terlepas dari konfirmasi yang terdapat di luar dirinya. Kebenaran yang sejati tidak menjadi benar jika ada hal lain di luar dirinya yang mengkonfirmasikan bahwa dia benar. Kebenaran yang sejati selalu akan menjadi kebenaran walaupun ada banyak hal di luar dirinya mengatakan sebaliknya.

Sebagai contoh sederhana, udara itu ada. Kita tidak bisa melihatnya. Kita bahkan sering tidak secara langsung menyadari bahwa udara itu ada; Atau bahkan sering lupa bahwa udara itu ada. Entah kita mengakui atau tidak mengakui apakah udara itu ada atau tidak, udara akan selalu ada. Udara tidak membutuhkan kita untuk mengakui keberadaannya, baru dia menjadi ada. Kita membutuhkan udara, entah kita mau mengakui atau tidak tentang keberadaannya.

Demikian pula dengan kebenaran yang sejati. Segala kebenaran harus dapat dibuktikan benar atau tidak benar melalui pengujian dari dalam dirinya sendiri. Segala yang bukan kebenaran yang sejati, tidak akan memiliki integritas yang konsisten dalam dirinya sendiri serta akan ditemukan keberadaan kontradiksi yang pada akhirnya menghancurkan diri sendiri. Hal itu tidak akan ditemukan dalam kebenaran yang sejati, keberadaan sesuatu yang tampaknya bertentangan di dalam kebenaran yang sejati berbentuk paradoks, bukan kontradiksi.

Ciri-ciri dari kebenaran yang sejati adalah dia harus memiliki 3 (tiga) sifat yaitu: universal, integral, dan moral / kemurnian / kesucian / tidak tercemar.

  • Universal yang berarti bahwa dimanapun dia berada, dia harus selalu benar. Tidak ada perkecualian. Perkecualian adalah bukti langsung bahwa sebuah kebenaran sudah gagal pada titik yang paling awal.
  • Integral yang berarti bawah di dalam dirinya, segala sesuatu bersifat utuh dan saling membenarkan, segala proposisi di dalam dirinya tidak mengandung kontradiksi. Semakin luas, dia akan bersifat complex (terj: kompleks) dan bukan complicated (terj: rumit atau ruwet atau sulit). Kebenaran yang tidak sejati, ketika dia diperluas, akan semakin rumit dan kerumitan itu menjadi benang kusut yang menimbulkan kontradiksi di dalam dirinya sendiri dan proposisi-proposisi di dalamnya bertentangan antara satu dengan yang lain sehingga akhirnya akan membutuhkan perkecualian sebagai jalan keluar.
  • Moral / kemurnian / kesucian / tidak tercemar yang berarti bahwa kebenaran yang sejati harus memiliki nilai intrinsik yang sangat tinggi di dalam dirinya, kemurnian / tidak tercemar (seperti dalam logam mulia), kesucian (seperti dalam etika), moral (seperti dalam tatanan struktur penilaian tentang segala sesuatu). Semua yang merupakan kebenaran sejati harus memiliki jati diri dengan kualitas intrinsik dalam diri yang sangat tinggi dalam semua tatanannya. Tidak mungkin sebuah kebenaran dapat dikatakan sebagai yang sejati jika dia universal, integral, moral, suci, tapi kemudian muncul tidak adil. Atau suci, adil, murni, tapi tidak memiliki kasih dan kejam. Atau suci, kasih, baik, murni, tapi tidak jujur.
    Seperti ada berlian yang transparan, berkilau, bersih, tidak bernoda, dan mudah pecah. Jelas bukan berlian yang asli.

Dalam pengertian tersebut, maka segala kebenaran yang kita terima sebagai kebenaran yang menentukan totalitas dan arah kehidupan kita haruslah kita uji sendiri dengan keberanian dan pikiran yang kritis. Seringkali kita entah takut dan gentar atau terlalu malas untuk menguji kebenaran-kebenaran yang kita percaya sebagai kebenaran yang sejati karena kita khawatir akan kehilangan pegangan atau kita menjadi goyah dan kehilangan jati diri jika ternyata ditemukan bahwa apa yang dipercaya memiliki tanda-tanda sebagai kebenaran palsu.

Seperti seseorang yang habis membeli arloji Rolex, sekarang dia merasa tidak yakin apakah arloji Rolex miliknya palsu atau asli, akan tetapi terlalu takut untuk menerima kenyataan. Sehingga dia membiarkan saja, dan terus mengenakan arloji Rolex itu, hingga suatu hari ada seseorang yang ahli tentang arloji Rolex melihat arlojinya dan mengatakan bahwa Rolex yang dia punya itu palsu. Bukannya dia berterima kasih karena telah diberi tahu tentang kebenaran, orang ini malah marah besar dan menghina sang ahli Rolex sebagai orang yang tidak tahu diri dan suka mencampuri urusan orang lain, “Saya punya Rolex ini aseli! Kamu yang bodoh dan tidak tahu! Saya beli arloji ini mahal, tahu?!”
Apakah ruginya atau untungnya untuk sang ahli ini menunjukkan bahwa Rolex itu palsu? Sang ahli ini hanya berpikir bahwa KATANYA, orang tidak suka ditipu. KATANYA, orang suka kebenaran. KATANYA, orang lebih suka kejujuran walaupun menyakitkan. TERNYATA, orang hanya mau tahu apa yang dia mau tahu, selama hatinya tenteram; Karena apa yang dia tidak tahu tidak bisa menyakiti hatinya.

Dunia Perlu Orang Bijak ― Bukan Orang Pintar

Menurut Anda, apakah atau siapakah yang disebut pintar?
Apakah guru itu pintar? Seseorang yang juara kelas, apakah dia pintar? Apakah orang tua itu pintar?

Guru disebut pintar karena dia lebih dahulu tahu daripada saya. Segera setelah saya belajar lebih banyak, dengan pengetahuan yang lebih dari pada dia, saya tahu bahwa saya akan jadi lebih pintar.

Seorang anak yang juara kelas, bagaimana caranya dia bisa menjadi juara kelas? Dengan menghafalkan semua data dalam buku dan menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam kertas ujian dengan jawaban yang tepat. Menghafal jawaban, mengerti pertanyaan, apakah itu pintar? Apakah benar, bahwa menjadi juara kelas itu adalah indikasi mutlak bahwa seseorang itu pintar?

Orang tua disebut pintar karena dia lebih dahulu mendidik anak-anaknya dan memberikan prinsip-prinsip yang sebelumnya telah dia terima dari orang tuanya, dia tidak bisa mengajarkan kepada anaknya hal yang berbeda daripada yang dia terima; dia tidak bisa mendidik dengan cara yang dia tidak ketahui.

Jadi berdasar pengertian di atas, seseorang boleh disebut pintar jika dan hanya jika dia dinilai sebatas bidang atau bagian yang dia tahu. Hal ini berlaku dalam segala kepintaran yang lainnya pula.
Sementara itu, dunia psikologi telah mengakui bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada orang yang pintar di bidang bahasa, ada orang yang pintar di bidang sosial, ada yang pintar di bidang matematika.
Mereka yang pintar di bidang bahasa, tidak berarti lebih rendah dibanding yang pintar di bidang sosial, dan yang pintar di bidang sosial, tidak lebih rendah dibanding dengan mereka yang pintar di bidang matematika. Pembandingan kepintaran dengan cara seperti itu adalah seperti mengumpulkan segala jenis binatang dan menilai mereka dari kemampuan memanjat pohon. Sehingga keluar pemenang dari berbagai macam kera, simpanse, gorila, bunglon, ular, dan lain sebagainya. Segala ikan adalah idiot dan segala burung adalah bodoh. Inilah pentingnya pemahaman konsep talenta. Hal yang lebih celaka adalah kecenderungan para pendidik yang kemudian menjadikan segala hal menjadi kompetisi.

Jadi apakah definisi pintar itu? Secara lebih ilmiah, dikatakan pintar itu jikalau memiliki IQ yang tinggi. IQ adalah kapasitas seseorang, potensi dalam diri seseorang, yang berusaha dinilai dari kemampuan berpikir secara logika, daya bayang ruang, kemampuan berkonsentrasi, dan ketrampilan mempergunakan daya pikir untuk memahami masalah dan mencari solusi. Hanya itu.

Apakah IQ memberikan gambaran yang akurat tentang kepintaran seseorang? Ya, tentu saja, namun jika dan hanya jika kepintaran itu didefinisikan dan dikaitkan dengan kapasitas seseorang berkenaan dengan fakta dan logika dan persoalan berhitung. Di luar hal-hal tersebut, belum tentu bisa dikatakan pintar. Karena itu, berdasar pengertian bahwa kesuksesan seseorang dalam hidup tidak hanya digantungkan pada unsur matematika saja, keluarlah kemudian berbagai alat ukur yang lain seperti emotional quotient, social quotient, spiritual quotient, dan lain sebagainya.

Pertanyaan yang berikut, apakah kepintaran berikut segala macam cara pengukuran itu akan menunjukkan kesuksesan seseorang dalam hidup? Berapa banyak orang yang tidak sekolah, yang disangka tidak pintar secara akademis, namun yang bisa menjadi pengusaha besar; bisa berkarya; menghasilkan sesuatu yang besar? Jawabannya adalah: banyak.

Jika demikian, maka berarti ada faktor lain selain daripada kepintaran bidang studi yang membuat seseorang bisa menghasilkan sesuatu dalam hidupnya, yang menjadikan hidupnya memiliki nilai lebih.

Faktor lain tersebut adalah kebijaksanaan.
Saya sangat menyukai kata ‘bijaksana’ yang mengandung 2 kata, ‘bijak’ dan ‘sana’. Bijaksana berarti ada suatu kebijakan yang berasal dari ‘sana’; atau kebijakan yang memiliki kepentingan dengan sesuatu yang ada di ‘sana’; kebijakan bukan untuk sesuatu yang di ‘sini’ melainkan untuk yang berada di ‘sana’.
Bijaksana memiliki wadah yang lebih luas, lebih agung, lebih tinggi daripada sekedar kepintaran atau pengetahuan dalam suatu bidang. Hal ini lebih mengarah kepada bagaimana mempergunakan kepintaran. Menggabungkan atau mengaitkan beberapa macam kepintaran untuk diarahkan pada sesuatu yang memiliki nilai tambah atau nilai lebih. Melihat sesuatu dengan tajam, mampu mendiferensiasi banyak hal di dalam kompleksitas dan kerumitannya, kemudian menghasilkan suatu pemikiran yang membaca inti pokok fenomena dan mendefinisikan fenomena tersebut.

Contohnya adalah sedemikian:
Di sebuah jalan persimpangan lalu lintas yang besar dan ramai di depan universitas terkenal, terjadi kecelakaan antara mobil dengan motor. Hal ini terjadi saat jam makan siang, waktu memang keadaan jalan paling ramai karena banyak orang berada di jalanan dekat kampus untuk mencari makan siang di warung dan depot di daerah universitas. Beberapa dosen, profesor, guru besar, dan mahasiswa dari bebagai jurusan mulai berkerumun, beberapa komentar mulai terdengar.
Dari jurusan sosiologi, seorang ibu dosen berkomentar, inilah kondisi masyarakat kita, sudah tidak ada orang yang mau mengalah, semua dengan egoisme sendiri berusaha mau mendahului yang lain.
Dari jurusan politik, seorang kepala jurusan berkata, banyak memang pemilik perusahaan yang tidak menghargai para pekerjanya, mereka harus mengadu nyawa dan bergerak dengan lincah mengejar waktu supaya menghasilkan keuntungan buat perusahaan. Inilah masyarakat kapitalis.
Dari jurusan ekonomi, mendengar komentar mereka yang dari sosiologi dan politik menyahut, tidak mau kalah, melihat pergerakan ekonomi global, dan dengan minimnya regulasi yang mendukung kinerja perekonomian dalam negeri, pengusaha mau tidak mau harus bergerak cepat. Jika perusahaan tidak menghasilkan profit, tidak akan ada seorang pun yang akan memiliki pekerjaan.
Sementara dari jurusan hukum berkomentar, yang sudah terjadi tidak bisa diapa-apakan, sekarang bagaimana kita perlu memperjelas marka jalan, memberi rambu dan lampu lalu lintas supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi. Perlu ada ketentuan supaya peraturan dilakukan dengan tegas dan tanpa budaya suap.
Seorang dosen kedokteran senior melihat keadaan pengemudi motor dan berkata, melihat posisi jatuhnya, dia mengalami trauma ringan pada tulang panggul sebelah kanan dan cedera pada lengan sebelah atas.
Sambil mereka semua berkomentar dan mengemukakan pendapat yang sangat tajam tentang fenomena di hadapan mereka, seorang penjual nasi bungkus yang berada disana datang dan menolong pengemudi sepeda motor yang terjatuh, meminggirkan motornya dan mengatur jalan di sekitar yang menjadi macet.

Apakah komentar-komentar orang-orang yang pintar itu keliru?
Tentu tidak. Komentar mereka sangat baik dan realistis dan sangat berguna. Tapi pada saat itu, respon mereka terhadap fenomena itu keliru. Mereka melihat dari berbagai sudut pandang yang tajam dan jitu, tapi sudut pandang yang mereka ambil dalam menangani situasi itu keliru. Mengambil persepektif yang salah terhadap sebuah situasi, menghasilkan respon yang keliru dalam menangani situasi tersebut. Respon yang keliru menghasilkan kekeliruan dalam totalitas tindakan.

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa, “Anda tidak membakar rumah Anda untuk membersihkan rumah Anda dari tikus.” Seluruh totalitas kehidupan kita membutuhkan kebijaksanaan untuk berespon terhadap segala situasi. Pengetahuan yang banyak saja tidak cukup untuk menyelesaikan berbagai macam hal yang terjadi disekitar kita.

Bijaksana yang banyak tanpa pengetahuan yang cukup, masih jauh lebih baik daripada pengetahuan yang banyak tanpa bijaksana yang cukup. Balik ke contoh kecelakaan tadi, bapak penjual nasi bungkus tadi tidak punya segala pengetahuan dan analisa, tapi dia dengan tepat melihat apakah kebutuhan yang penting pada saat itu, dan bertindak dengan tepat. Dia tidak memiliki gelar kedokteran, dan dia tidak akan bisa menyembuhkan dengan tepat, cepat dan akurat si pengemudi motor itu. Tapi dia cukup tahu bahwa orang yang ada di tengah jalan ini perlu dipinggirkan supaya tidak mengganggu lalu lintas dan tidak membahayakan dirinya sendiri tergeletak di tengah jalan di atas aspal panas, tergencet di bawah motor.
Setelah situasi berhasil dianalisa dengan tepat, diarahkan kepada kondisi yang lebih baik, baru dilakukan segala upaya yang mengarah kepada penyelesaian masalah. Mengarahkan hidup dan tindakan menuju ke arah yang benar, itulah bijaksana. Di dalam arah yang benar, baru pengetahuan bisa memiliki fungsi dan mendukung kebijaksanaan dan menjalankan kebijaksanaan dengan lebih baik dan lebih efisien.

Contoh lainnya, dalam sebuah perusahaan pemasaran, pak boss berusaha menaikkan omzet perusahaan dan meningkatkan pendapatan. Dia berpikir, kalau pegawai disuruh lebih giat melakukan penjualan, berarti pendapatan akan meningkat. Sangat logis. Satu-satunya cara untuk menaikkan keuntungan perusahaan adalah dengan menaikkan penjualan.
Tapi yang tidak dia perhitungkan adalah modal dia tidak besar, sehingga dari uang perusahaan, harus ada uang masuk terlebih dahulu, baru ada uang untuk melakukan pembelian barang. Dia menjadi heran kenapa setelah pegawai disuruh menjual lebih banyak, keuntungan tidak segera bertambah banyak. Pak boss menjadi pusing dan lebih mudah marah sekarang. Dia tidak berhasil melihat bahwa jumlah barang yang dia beli adalah sama. Jika dia tidak menambah jumlah barang yang bisa dijual menjadi lebih banyak, apakah yang bisa dijual oleh pekerjanya untuk menaikkan omzet dan pendapatan?

Itulah contoh-contoh kecil dari tidak adanya bijaksana. Kegagalan untuk membaca situasi secara lengkap dan menyeluruh, membuat setiap orang terpecah-pecah dalam pemikiran dan hidupnya. Membuat segala tingkah lakunya menjadi sangat pragmatis dengan metode trial-error, setiap kali trial, setiap kali error. Pengetahuan tanpa kebijaksanaan seperti memiliki informasi namun tidak tahu untuk apa dan bagaimana menggunakannya. Kegagalan memiliki bijaksana membuat analisa statistik menjadi keliru dan mengarah pada hal yang jauh dari kebenaran.

Memiliki bijaksana namun tidak punya banyak pengetahuan adalah seperti menjadi pianis yang handal, namun tidak memiliki gelar akademis musik. Memiliki keahlian tinggi, tapi tidak memiliki gelar, itu kerugian kecil. Memiliki gelar, tapi tanpa keahlian, itu kerugian besar.
Memiliki pengetahuan yang banyak, tapi tidak berbijaksana, itu adalah kecelakaan besar.

Ada beberapa macam manusia di dunia ini:
Yang pertama adalah orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu namun selalu merasa paling tahu ― ini adalah orang bebal, seringkali oleh mereka yang merasa dirinya ‘berkuasa’ dan ‘sukses’. Mereka menyamakan antara ‘kesuksesan’ dengan kepintaran bahkan kebijaksanaan.
Yang kedua adalah orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu ― ini adalah orang bodoh.
Yang ketiga adalah orang yang tahu bahwa dia tahu ― ini adalah orang pintar.
Yang keempat adalah orang yang tahu bahwa dia tidak tahu ― ini adalah orang bijak.

Banyak orang yang selalu merasa pintar, sudah memilki gelar, selalu merasa lebih tahu, merasa sudah belajar banyak. Sedikit orang yang selalu merasa haus akan pengetahuan, selalu mencari tahu banyak hal, selalu belajar karena merasa tidak tahu banyak. Apakah tidak pernah melihat seseorang sedemikian? Tidak mengapa, karena orang-orang seperti itu amat sangat jarang. Kita memang hampir tidak pernah melihat orang sekelas Socrates, Plato, Aristotle, mereka yang selalu merasa kurang tahu banyak dan harus belajar banyak.
Lebih mudah menemukan orang yang pandai, yang sudah tahu banyak dan ingin lekas bersuara menunjukkan kepintarannya dan mengerjakan banyak hal untuk menunjukkan aktualisasi diri.
Yang terlebih mudah lagi adalah menemukan orang bebal.