Etika dan Estetika: Rasional vs Intuisi

Etika

Etika, secara luas, adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang moralitas: baik dan buruk, benar dan salah. Topik utama dari studi tentang etika adalah pertanyaan, “Bagaimana cara terbaik bagi seseorang untuk hidup?” Hal ini sudah dipikirkan sejak jaman Confusius dan Aristotle sebagai dua filsuf yang banyak berbicara tentang etika. Dari mereka keluar ide dan pemikiran tentang kebaikan, kepantasan, cara hidup dan relasi antar manusia berikut hubungan manusia dengan sekitarnya.

Ketika kita berbicara tentang cara hidup yang terbaik, tidak mungkin kita bisa lepas dari konteks dan konten (atau seringkali kita ungkapkan sebagai “situasi dan kondisi”). Bersamaan dengan pergerakan filsafat dan pemikiran di dalam bentangan sejarah yang merubah wajah sejarah, kebudayaan, dan masyarakat, kita harus sangat berhati-hati dalam memahami tentang pergeseran relatif di dalam etika. Etika dalam sekelompok masyarakat akan berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain, contohnya: orang Jerman dan orang Indonesia. Lingkungan yang berbeda akan memiliki etika tertentu, contohnya: lingkungan sekolah, lingkungan olah raga. Demikian pula dalam ruang lingkup tertentu, contohnya: etika bisnis, etika militer, dan seterusnya. Juga terdapat perbedaan dalam satu era dengan era yang lain, contohnya: hukuman jaman abad pertengahan dibandingkan dengan hukuman dalam abad modern. Kita tidak boleh dengan serampangan menilai betapa kejamnya hukuman dalam abad pertengahan tanpa mengenal secara keseluruhan konteks dan konten etika dalam dunia pada masa abad pertengahan. Tidak ada hak bagi suatu jaman untuk menghakimi jaman sebelumnya.

Etika berasal dari kata ethos yang berarti kebiasaan dan aturan. Etika dalam Bahasa Yunani, mengandung makna ilmu pengetahuan tentang moralitas. Sehingga pada saat kita berbicara tentang etika, sebenarnya kita sedang membicarakan tentang suatu sistem hukum yang kadang tertulis ataupun tidak tertulis tentang sesuatu yang seharusnya kita lakukan, muncul dalam perbuatan yang nyata dan bukan sekedar sebagai pembicaraan dan perdebatan filsafat. Seseorang dikatakan beretika baik ketika dia dalam hidupnya melakukan sesuatu yang baik menurut norma kepantasan, kesopanan, kebaikan, kebenaran, kesucian, dan seterusnya, yang berlaku umum dalam suatu konteks dan konten. Ketika seseorang tidak melakukan semua hal tersebut, dia tidak dikatakan netral, melainkan dia dikatakan tidak beretika, tidak sopan, biadab, kurang ajar, dan seterusnya. Tidak ada posisi netral dalam etika.

Karena itu, seseorang diharapkan dididik dengan baik di masa mudanya dengan pengetahuan teori akan nilai, norma dan etika yang pantas, untuk kemudian dimunculkan secara praktika dalam tingkah laku hidupnya sehingga dia tidak menjadi manusia yang dianggap tidak manusiawi. Keberadaan manusia yang tidak manusiawi menunjukkan kegagalan pendidiknya yang pasti juga kurang manusiawi. Melalui macam tingkatan didikan dan aplikasi moral tersebut, dapat terlihat relasi langsung bahwa ada etika yang tinggi dan ada etika yang rendah yang membentuk seorang manusia.

Etika yang lebih tinggi akan memiliki sifat yang melampaui batasan ruang, entah kelompok masyarakat, budaya, tradisi dan seterusnya. Etika yang tinggi bahkan akan diakui oleh dunia sebagai sebuah budaya dunia. Etika yang lebih tinggi lagi akan melampaui batasan waktu dan memiliki sifat yang awet dan memiliki ketahanan yang tidak mudah ditelan waktu dan menjadi usang. Semakin tinggi suatu etika, semakin lama dia akan bertahan di dalam waktu. Etika yang semakin remeh dan semakin rendah akan sangat terjepit dalam ruang dan waktu yang semakin sempit dan terbatas.

Estetika

Estetika adalah bidang filsafat yang membicarakan segala hal yang berkenaan dengan kesenian, keindahan, kecantikan, kepantasan, perasaan, dan seterusnya. Segala hal yang bisa dinikmati oleh indra kita adalah topik pembelajaran dalam bidang estetika, yaitu kriteria dan sistematika tentang semua yang bisa dikatakan sebagai “kesenian”, “keindahan”, dan “sensasi yang dirasakan oleh jiwa”.

Berdasarkan pengalaman sensasi dan indra tubuh kita, kita bisa berelasi langsung dengan apa yang disebut sebagai bagus dan jelek, enak dan tidak enak, megah dan kumuh, dan yang sangat relevan dalam kehidupan kita adalah konsep kualitas tinggi dan kualitas rendah. Sehingga secara umum, estetika adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang, “Bagaimana cara menikmati keindahan?” Agar sebuah keindahan dapat dinikmati, maka harus terlebih dahulu dijelaskan, “Apakah yang dimaksud dengan keindahan?” Untuk memahami keindahan, maka harus dipahami dulu kualitas apa yang mendefinisikan sesuatu menjadi indah, kurang indah, dan jelek.

Estetika juga memiliki relativitas tersendiri di dalam hubungannya dengan manusia. Setiap kelompok manusia memiliki definisi tersendiri tentang estetika yang memunculkan budaya-budaya yang sangat beraneka ragam, dan di dalam keanekaragaman tersebut muncul pula varian keindahan yang sifatnya lebih personal. Misalnya cara seseorang dari bangsa Italia dengan budaya Italia mendekorasi rumahnya dibandingkan dengan orang Inggris. Pasti akan ditemukan perbedaan dan variasi tersendiri. Orang Italia mendekorasi rumahnya dengan nyaman, indah, dan mewah; tapi dari tampak luar bangunan rumahnya akan terlihat biasa saja. Sementara orang Inggris akan memiliki lingkungan luar rumah yang terawat, bersih, arsitektur yang elegan, namun dekorasi dalam rumahnya lebih bersifat sentimental dan fungsional. Dalam setiap rumah pun akan ditemukan sentuhan-sentuhan personal yang akan sangat berbeda antara rumah yang satu dengan rumah yang lain. Dan seperti halnya etika, demikian pula estetika dalam perjalanan waktu dan sejarah, berubah dan mengalami pergeseran seturut dengan pergeseran aliran pemikiran dan filsafat.

Pengaruh estetika, baik disadari atau tidak, akan selalu tampak dalam perilaku seseorang dan cara seseorang menjalani hidupnya. Estetika dalam banyak kesempatan selalu bersifat dan memiliki pengaruh yang lebih personal dalam masing-masing orang. Ada orang yang lebih suka rasa coklat atau vanilla. Ada orang yang lebih suka warna hitam, dan yang lain lebih suka warna kuning. Ada yang menyukai musik pop, ada yang menyukai musik klasik.

Sekalipun estetika bersifat sangat praktis, tapi kepraktisan itu sama sekali tidak bersifat pragmatis. Estetika bukanlah sekedar menyukai rasa coklat atau vanilla, warna hitam ataupun kuning, musik pop atau klasik; melainkan lebih berkenaan tentang sebuah konsep di dalam diri manusia yang menghubungkan antara jiwa manusia dengan natur yang berada di luar tubuhnya. Ketika kita sedang mengatakan bahwa seorang pria itu tampan atau seorang gadis itu cantik, kita tidak bisa mendefinisi dan mereduksi konsep estetika dengan berusaha memahami bahwa cantik atau tampan itu adalah ketika hidungnya memiliki panjang sekian sentimeter, atau jarak antara mata kiri dan mata kanan adalah sekian sentimeter, atau bahwa wajahnya memiliki simetri antara kiri dan kanan. Tidak pula bahwa bunga anggrek baru bisa dikatakan indah karena keindahan itu bisa direduksi hingga kepada kumpulan fakta. Hal ini sudah dicoba dan bisa dilihat dari eksistensi dan ekstensi dari Golden Ratio : 1.618 (karena itu konsep keindahan selalu memiliki relasi dengan matematika, psikologi, arsitektur, kesenian, lukisan, biologi, dan entah apa lagi.) Estetika lebih merupakan konsep yang merangkum segala fakta dan terlebih lagi dalam berbagai konteks dan konten yang memberikan suatu pemahaman utuh dalam diri seseorang yang seringkali tidak dapat dijelaskan.

Akan tetapi, walaupun estetika adalah hal yang berkenaan dengan konsep keindahan yang sifatnya seakan-akan personal dan pribadi dan boleh berbeda antara orang yang satu dengan yang lain, tetap ada unsur kualitas mutlak yang ada secara intrinsik di dalam natur tiap objek. Setiap objek yang memiliki kualitas tinggi, dia akan melintasi ruang dan waktu dan diakui sebagai hal yang memiliki nilai tinggi, bukan karena banyak orang yang menyetujuinya, melainkan karena secara nilai di dalam dirinya sendiri menyatakan bahwa dia memiliki keindahan.
Sebagai ilustrasi: Berlian memiliki nilai intrinsik yang tinggi sebagai batu mulia yang sangat keras, transparan dan kilau yang cemerlang. Orang boleh setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka, tapi berlian akan selalu menjadi batu yang berharga.

Etika dan Estetika

Secara keutuhan yang menyeluruh dalam kehidupan seseorang, etika berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia supaya ia dikatakan ‘baik’. Sementara estetika berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia supaya ia dikatakan bagus atau lebih tepatnya ‘bernilai’. Keberadaan keduanya, yaitu tentang ‘baik’ dan ‘bernilai’, memiliki kaitan langsung antara prinsip/konsep tertentu yang berada dalam diri seorang manusia dengan lingkungannya, yang dimunculkan melalui perbuatan-perbuatan dan pilihan-pilihan yang mempresentasikan kehidupannya.

Kepada arah mana dan hidup yang seperti apa seseorang menjatuhkan pilihannya, akan termanisfestasi dalam etika dan estetika dalam hidupnya. Semakin tinggi idealisme seseorang, etika yang muncul dari dalam dirinya berikut dengan pilihan-pilihannya terhadap estetika tertentu akan tampak jelas menghiasi perjalanan hidupnya dan menyatakan situasi dan kondisi jiwa seseorang.

Seorang dengan didikan dan ajaran etika yang terhormat, akan memunculkan sikap yang baik. Ketika dia mengarahkan hidupnya pada hal-hal yang agung, yang bernilai, yang memiliki standar kualitas tinggi, maka entah sadar atau tidak, dia dalam perjalanan hidupnya akan memunculkan cara hidup yang mengarah pada keagungan secara etika. Kemudian secara estetika, dia tidak akan mengisi perjalanan hidupnya itu dengan hal-hal yang tidak mencerminkan idealisme dan etika yang ada pada dirinya.

Secara sederhana, sebagai contoh kecil, saya yakin dalam pergaulan keseharian kita, kita bertemu dengan berbagai macam orang. Kita bertemu dan ‘melihat’ orang yang kita pandang berwibawa, entah dari cara pilihan kata, intonasi dan cara pengucapan kata, hingga bahasa tubuhnya. Kita serta merta ‘merasakan’ ada sesuatu dengan orang ini yang seolah memaksa kita untuk berespon dengan cara tertentu terhadap dia. Orang dengan etika tertentu akan memunculkan sebuah perasaan estetika tertentu dalam diri kita yang akan tampak dalam etika yang akan kita munculkan. Keterbatasan etika yang kita miliki untuk berespon dengan kelas etika tertentu menjadikan kita sebagai manusia yang ‘kurang beretika’.

Orang yang mengejar hal-hal yang remeh dalam hidupnya, akan terlihat pula dalam hidupnya, dalam perilaku, dalam pilihan-pilihannya terhadap apa yang dianggapnya baik dan bernilai. Demikian pula dalam setiap pergeseran jaman, selalu ada pergeseran etika dan estetika, celakanya, pergeseran tersebut selalu mengarah pada segala hal yang lebih bobrok daripada sebelumnya. Entah kita merasakannya, atau tidak mau mengakuinya.
Manusia semakin hari semakin lebih mementingkan diri sendiri dan bersikap humanis dan materialis, tidak lagi perduli tentang apapun yang tidak berkaitan langsung dengan dirinya. Nilai kesopanan semakin menipis dan sikap hormat terhadap generasi yang lebih tua semakin hilang. Mereka yang lebih tua semakin lama semakin tidak menjadi teladan dan tidak lagi memiliki kelakuan yang layak dihormati. Secara praktis, segala sesuatu yang berada disekitar kita memiliki kualitas yang semakin lama semakin jelek, semakin murah, semakin mudah, semakin cepat, semakin tidak sehat, dan seterusnya.

Sepanjang sejarah, pergeseran filsafat dunia tampak dalam tiga hal besar: musik, arsitektur, dan lukisan. Dan sepanjang sejarah, budaya manusia semakin jauh dari kualitas yang bisa melampaui ruang dan yang bisa tahan di dalam waktu. Hingga abad ke-20, hampir tidak ada pemikir besar yang merubah wajah sejarah. Dunia modern hanya menjadi budak pemikir-pemikir besar dari abad terdahulu, terlelap dalam fatamorgana dan euphoria fenomena yang menyerukan bahwa jaman kita semakin maju, semua menjadi semakin murah, semua menjadi semakin kecil dan semakin cepat. Jaman yang dulu itu sudah kuno, sulit dan tertinggal. Jaman sekarang inilah yang superior.

Contoh ilustrasi yang selalu saya sukai sejak tahun 1993: Dalam mengurus rumah tangga. Sekarang sudah ada jenis kain yang tidak perlu di setrika, selalu licin. Sekarang ada mesin cuci. Sekarang ada mobil yang cepat. Sekarang memasak lebih mudah, ada bumbu instan. Sekarang semua serba cepat dan praktis. Tapi lihatlah para istri dan para ibu yang mengurus rumahnya sendiri, tetap saja dibutuhkan waktu yang sama untuk membereskan sebuah rumah dari jaman nenek dari nenek kita. Kesibukan ibu rumah tangga tidak berubah selama 20 tahun lebih. Musik klasik dikatakan kuno, namun tidak ada seorangpun musikus jaman ini yang bisa membuat satu saja musik sekelas Tchaikovsky atau Rachmaninov (keduanya komposer abad ke-19). Apalagi musik jaman Baroque abad ke-17. Semua musik baru berganti dalam hitungan minggu, beberapa dalam hitungan bulan, jarang yang bertahan selama puluhan tahun.

Rasional vs. Intuisi

Seringkali dalam pragmatisme manusia, kita menganggap bahwa cara hidup kita adalah tergantung kesenangan diri kita. Etika bersifat lebih mengikat dan estetika bersifat jauh lebih longgar. Namun di tengah kehidupan ini, tidak perlu sibuk dengan idealisme yang muluk-muluk, jangan dibuat susah, pikirkan segalanya secara praktis (baca: pragmatis, utilitarian). Manusia berkata, “Semua orang memiliki selera yang berbeda, kamu suka yang kamu suka, dan aku suka yang aku suka.” “Setiap orang memiliki jalan hidup dan pilihan yang berbeda, kamu pilih jalanmu dan jangan ganggu aku dengan jalanku.” Inilah hasil pemikiran modern hingga postmodern. Kita memilih segala sesuatu berdasarkan intuisi dan perasaan keinginan hati kita. Selama hati nurani kita tidak terganggu, kita bebas melakukan apa saja. Martin Luther dari abad ke-15 telah mengatakan, “Rasionalitas itu seperti pelacur.” Logika kita akan merasionalitaskan semua yang kita mau sehingga terlihat seperti masuk akal dan benar.

Sebagai contoh singkat, seringkali keinginan kita adalah bukanlah hal yang kita butuhkan. Dan seringkali apa yang kita butuhkan sebenarnya bukan keinginan kita. Kita memiliki televisi, model lama; dan kita merasa bahwa kita membutuhkan televisi: yang besar, yang flat, yang LED, yang bisa ditempel ke tembok. Itu keinginan kita. Apakah kita tidak bisa menginginkan yang ukuran biasa, atau apakah yang plasma yang lebih murah tidak bisa digunakan sehingga harus yang LED? Apakah benar kita sama sekali tidak ada televisi di rumah? Tapi kemudian rasio kita akan menjelaskan mengapa kita membutuhkan yang kita inginkan dan kita tidak menginginkan yang kita sebenarnya kita butuhkan.
Demikian pula dalam atheisme dunia modern, kita membutuhkan Tuhan, tapi kita tidak menginginkan Dia karena Dia membuat banyak aturan yang menyusahkan dan memberatkan hati nurani. Kemudian rasionalitas kita akan menjelaskan kenapa kita tidak membutuhkan Tuhan karena kita tidak menginginkan keberadaan kuasa yang lebih tinggi dari kita. Kita hanya menginginkan tuhan yang bisa kita peralat untuk memuaskan keinginan kita, melindungi kita, merawat kita, menjauhkan kita dari bahaya dan sakit penyakit; tepatnya, kita menginginkan pembantu yang maha kuasa.

Tidak banyak orang mau memikirkan apa yang baik, apa yang bernilai, apa yang berkualitas. Tidak banyak orang mau memikirkan bagaimana cara hidup yang terbaik yang mungkin bisa dikerjakan oleh seseorang supaya hidupnya tidak tersia-siakan. “You Only Live Once!” YOLO! “Lakukanlah semua yang kita suka, karena besok kita akan mati.” Inilah filsafat new-age. Mendorong manusia untuk menikmati hidup sebebas-bebasnya dalam kebebasan yang semu.

Apakah benar etika dan estetika itu adalah tergantung mutlak pada diri kita sendiri, dengan selera dan intuisi (sesuatu yang tidak membutuhkan alasan rasional; baca: suara hati) masing-masing orang? Apakah tidak ada standar nilai didalamnya?
Tentu saja ada. Telah dibahas di atas bahwa semakin tinggi nilai etika dan estetika, semakin dia melampaui batasan ruang dan waktu. Segala sesuatu yang memiliki nilai yang semakin tinggi, bertahan semakin lama di dalam waktu dan diakui oleh siapapun tanpa dibatasi ruang. Segala sesuatu yang bernilai semakin tinggi, memiliki kualitas yang mengandung unsur baik, benar, dan bernilai. Unsur tersebut akan keluar dari dalam dirinya sebagai nilai intrinsik yang sama sekali terlepas dari pendapat dan pandangan umum.

Bahkan dalam hal makan pun, sesuatu yang sebenarnya adalah murni kembali pada selera masing-masing orang, ada standard yang mutlak. Makanan yang baik bisa dinilai secara objektif, dari pemilihan bahan, cara memasak, ketepatan proporsi rasa dan tingkat kematangan, keindahan presentasi dan seterusnya. Rasional dan intuisi harus selalu berjalan bersamaan. Kita menikmati makanan berdasar intuisi kita, dan kita mengetahui nilai estetika suatu makanan dengan rasionalitas kita. Kita tidak boleh seenaknya saja mengatakan bahwa roti keju itu tidak enak hanya karena kita tidak suka. Ada beda besar antara ‘tidak enak’ dengan ‘tidak suka’.  Hal ini berlaku dalam semua hal yang berada di sekitar kita. Seringkali kita seenaknya saja mencampur aduk antara kesukaan kita dengan kualitas. Kualitas adalah nilai intrinsik di dalam segala sesuatu, tidak ada hubungan dengan kita suka atau tidak suka. Justru kita harus belajar untuk mengerti (bukan selalu harus menyukai) semua yang baik, yang benar, yang bernilai, supaya hidup kita memiliki pengertian dan tidak terarah pada hal yang sifatnya remeh. Demikianlah etika dan estetika yang keluar dari dalam diri kita akan memiliki nilai yang tinggi.

Musik klasik itu bukan musik jelek hanya karena kita tidak sanggup mendengarkannya, karena butuh usaha besar untuk belajar menikmati musik klasik. Butuh pengertian dan lidah yang belajar untuk bisa menikmati minuman anggur yang berkualitas. Orang yang pandai adalah orang yang bisa melihat dan memahami perbedaan; orang yang bodoh adalah orang yang menganggap semua hal itu sama. Orang yang tidak mau belajar pasti adalah orang yang tidak pandai. Dan orang yang lebih bodoh adalah orang yang menghina hal yang baik hanya karena tidak sesuai dengan selera dia.

Segala hal yang semakin berunsur baik, benar, dan bernilai, akan semakin mendekati nilai kebenaran yang sejati. Dan kebenaran yang sejati akan memiliki sifat yang universal, kekal, integral, dan moral yang tinggi. Hal ini menjelaskan kenapa segala sesuatu yang memiliki nilai tinggi akan memiliki sifat yang sanggup melampaui batasan ruang dan waktu serta mendekati kekekalan dari dalam dirinya sendiri.

Kegagalan mengenali kualitas etika dan estetika yang benar-benar BENAR dimulai ketika kita ditipu oleh keinginan diri sendiri yang sifatnya remeh, mudah, dan sementara. Dan rasionalitas kita menjadi pelacur dari keinginan kita. Kita tidak mau berpikir panjang, kita tidak mau melakukan pertimbangan-pertimbangan yang rumit. Kita tidak mau belajar. Kita terlalu malas untuk melakukan semua itu karena belajar itu membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Karena semua yang baik, benar, bernilai itu memiliki kualitas dan level yang tinggi, yang susah, yang rumit, sehingga tidak seorangpun dari kita yang mau mengerjakannya. Kita mengambil sikap pragmatis, mengerjakan semua hal yang mudah dan mendatangkan uang secepat mungkin supaya kita bisa pensiun dini dan secepat mungkin menjadi kaya raya dengan cara tercepat dan termudah. Seringkali itu tujuan akhir manusia dan manusia mengarahkan hidupnya kesana.

Secara pragmatis dan intuitif, semua yang tidak kita sukai kita anggap jelek, berkualitas rendah, kemudian tidak kita perdulikan. Semua yang kita sukai kita anggap baik dan berkualitas. Ini adalah kesesatan cara berpikir. Ketika seseorang mengejar semua yang sepele dan remeh hanya karena hal itu adalah hal yang dia sukai secara intuitif, maka semua yang dia kerjakan, semua yang muncul dalam hidupnya, semua pilihan yang dia lakukan, perbuatan yang keluar dari jiwanya, akan menjadi sepele dan remeh.

Secara rasional, sebaliknya, ketika seseorang berusaha mengejar semua hal yang terbaik, teragung, sehingga dia sama sekali menjauhkan dirinya dari kesenangan dan menahan diri dari segala keinginan yang menurut dia tidak bernilai, dia akan memiliki hidup yang melahirkan keputusasaan dan beban yang berat. Namun tidak tentu dia akan memiliki hidup yang lebih bernilai daripada orang yang mengikuti intuisinya saja. Dia tidak akan bisa menikmati segala hal yang baik dalam dunia ini dan mungkin kehidupan yang dia miliki bersifat semu dan hanya berada pada tampilan luar.

Saya tidak mengatakan bahwa intuisi itu salah; bahwa semuanya harus rasional. Saya juga tidak mengatakan bahwa rasional itu salah, karena setiap orang bebas merasakan apa yang hendak dia rasakan. Saya mengatakan bahwa intuisi dan rasionalitas harus berjalan bersamaan. Bagaimana kita mengarahkan hidup kita pada idealisme dalam etika dan estetika yang baik, benar dan bernilai, dan secara otomatis, etika dan estetika yang keluar dari hidup kita akan mengarah pada hal yang berkualitas tinggi secara totalitas. Demikian pula sebaliknya, baiklah kita menikmati segala macam keindahan dan estetika dengan etika dan moralitas yang tinggi. Agar hidup kita mengarah pada idealisme yang baik, benar, dan bernilai.

Advertisements

Spiritualitas Dalam Sosiologi dan Filsafat

Secara sosiologi, filsafat, dan kebudayaan, sudah sangat lama di dalam sejarah manusia kita mengenal apa yang disebut sebagai penyembahan terhadap suatu demiurge (Bahasa Inggris; terj: entitas/keberadaan yang menjadi sumber keteraturan dan penciptaan alam semesta) yang bisa berupa kuasa atau pribadi atau banyak pribadi yang dipercaya melampaui kekuatan manusia dan alam semesta, yang mengatur seluruh jalannya dunia ini. Ada suatu kekosongan yang terasa sangat perlu dan mendesak dalam diri manusia untuk diisi dengan sebuah pengakuan bahwa manusia harus tunduk mutlak di bawah kuasa itu.

Demikianlah muncul segala ide tentang agama dan kepercayaan sepanjang sejarah hidup manusia. Melalui rasionalisme otak, dihasilkan segala pengetahuan dan filsafat untuk mendefinisikan kuasa yang agung berikut sistematika kepercayaan mereka di dalam mitos dan legenda para dewa. Melalui perasaan dan persepsi hati, dihasilkan segala pengertian dan filsafat yang mendefinisikan jalan tentang kebenaran yang megah dalam pengajaran-pengajaran tentang kehidupan.

Sejalan dengan itu, muncullah kemudian berbagai macam agama dan kepercayaan yang membentuk suatu sistem pengetahuan dan pengertian yang kemudian dijadikan penuntun dan pedoman hidup bagi manusia.  Berbagai macam, namun dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu semua kepercayaan yang sifatnya antroposentris (berpusat pada manusia) dan theosentris (berpusat pada tuhan).

Untuk membatasi keluasan dan kebesaran topik ini, antroposentris theistik dan theosentris akan menjadi perspektif utama dalam tulisan ini. Saya tidak akan membahas gnostisisme  dengan ekstensinya dan saya tidak sanggup membahas perdebatan agnostisisme.

Secara umum, segala hal dalam berbagai keunikan konsep dan prinsip masing-masing yang dipercaya oleh manusia sebagai demiurge akan disebut sebagai ‘agama’. Hanya ada dua macam kelompok besar agama dalam dunia ini sepanjang sejarah manusia sejak semula. Agama yang sifatnya antroposentris, yaitu agama yang menjadikan manusia sebagai pusat. Dan agama yang sifatnya theosentris, yaitu agama yang menjadikan tuhan sebagai pusat. Ada sangat banyak kata tuhan yang digunakan dalam kesemua agama tersebut. Ada banyak pengakuan terhadap berbagai figur yang disebut tuhan dalam bentangan sejarah. Dan selamanya selalu ada keterkaitan antara prinsip ketuhanan dan prinsip kebenaran yang tidak bisa dilepaskan dalam esensi setiap agama.

Tuhan adalah pasti benar dan kebenaran sejati pasti adalah kebenaran tuhan, menurut pengikutnya masing-masing. Jika tuhan bisa salah atau jika tidak ada kebenaran dalam dirinya, maka pasti tuhan itu bukan tuhan. Sekarang, permasalahannya adalah siapakah penentu kebenaran tuhan? Tuhan itu benar atau salah menurut siapa, menurut manusia kah atau menurut tuhan? Apakah tuhan berhak menentukan kebenarannya sendiri ataukah manusia yang lebih berhak menentukan?

Ada penyembahan tuhan yang menuntut pengorbanan manusia; baik berupa materi, jiwa, hingga nyawa. Ada pula penyembahan tuhan yang menuntut pengorbanan hewan. Mana yang lebih benar? Apakah kita akan mengatakan bahwa pengorbanan hewan itu benar. Pengorbanan manusia itu juga benar asal tidak mengambil nyawanya atau asal manusia tidak disembelih. Jadi siapakah penentu kebenaran?

Yang terjadi kemudian adalah manusia mulai menilai tuhan yang lain, agama yang lain dari yang dia percaya, karena menurut dia, tuhan yang lain itu salah kalau meminta manusia untuk disembelih. Tapi bagi orang-orang yang mengikuti ajaran agama itu, hal itu dianggap wajar. Apakah memang manusia merupakan titik mutlak penentu kebenaran dalam agama? Jika jawabannya adalah ‘ya’, maka suatu pandangan terhadap suatu agama atau kebenaran terhadap suatu agama bersifat antroposentris.

Antroposentris

Inilah yang terjadi sepanjang sejarah, manusia saling menghakimi dengan standar masing-masing dan saling bertikai karena perbedaan sudut pandang. Menganggap diri lebih benar daripada yang lain. Terlihatlah dengan sangat jelas, bahwa ternyata ada kebenaran yang benar-benar BENAR dan ada kebenaran yang tampaknya kurang BENAR. Hal itu terdapat dalam argumentasi yang berbasis pada pemikiran manusia (antroposentris). Yang benar menurut manusia yang satu belum tentu benar bagi manusia yang lain. Hal ini menimbulkan upaya untuk mencari kebenaran yang sejati dalam seluruh pemikiran manusia, mulai dari Shakyamuni, Lau Tzu, Confucius, Plato, Socrates, dan Aristotle.

Inilah yang terjadi dalam perdebatan agama antroposentris. Agama yang berpusat pada manusia. Manusia memiliki agama yang berasal dari pemikirannya sendiri tentang tuhan, menjadikan tuhan itu dari gambar dan rupa manusia atau rupa hewan atau yang lainnya, dan disembah untuk mendatangkan manfaat bagi manusia. Manfaatnya adalah untuk menjadi jaminan dalam kehidupan setelah kematian atau sekedar alasan manfaat yang praktis yaitu untuk mendatangkan kehidupan yang nyaman dan jauh daripada kecelakaan.

Upaya mencari kebenaran itupun kemudian menyatakan bahwa kebenaran itu tidak bisa berasal dari manusia karena manusia ternyata bisa bersalah dan kebenaran dalam sifat manusia tidak bersifat mutlak. Jika demikian, bagaimana mungkin dari dalam diri manusia bisa memunculkan kebenaran yang benar-benar BENAR? Jika manusia pasti bersalah, bagaimana dengan agama yang berasal dari kebenaran dan pemikiran menurut manusia yang bersalah, tidakkah berarti bahwa agama itu pula akan memiliki kesalahan-kesalahan di dalam dirinya sendiri?

Demikianlah kemudian orang mulai menyadari bahwa melalui diri manusia dan agama yang muncul dari dalam diri manusia memiliki kelemahan yang besar. Manusia hanya mampu untuk memikirkan jalan keluar di dalam perbuatan baik dan berharap bahwa perbuatan baik itu nantinya akan membawa dia kepada tuhan. Namun tidak ada kepastian di dalam pemikiran itu dan tidak jalan keluar yang mutlak melalui kebenaran tersebut.

Theosentris

Setelah tahun masehi, muncul pemikiran baru dalam dunia, yaitu bahwa kebenaran itu baru benar-benar BENAR jika dimunculkan oleh kebenaran yang tidak berasal dari manusia, melainkan langsung dari tuhan. Tuhan dianggap sebagai figur mutlak di luar diri manusia yang tidak bisa bersalah, sehingga kebenaran tuhan juga tidak bisa bersalah. Tuhan dijadikan figur utama dalam agama dan berada dalam tingkatan yang lebih tinggi daripada manusia di dalam kesempurnaannya.

Karena itu kemudian muncul pula banyak agama yang katanya dari tuhan, dalam berbagai variasi dan mengakui bahwa di dalam dirinya tidak bersalah, dibanding dengan semua agama lain yang berasal dari pemikiran dan bijaksana manusia yang bercacat di dalam dirinya sendiri. Jika suatu agama adalah berasal langsung dari tuhan yang tidak bersalah, maka agama itu pasti tidak bersalah.

Setelah tahun masehi itulah muncul istilah ‘wahyu’ yang secara spesifik dikaitkan dan dimengerti sebagai ‘tuhan sendiri yang menyatakan dirinya secara terbuka dan terus terang kepada manusia’. Wahyu adalah kebenaran tuhan yang diturunkan dari kekekalan yang statis kepada dunia sementara yang sifatnya dinamis. Dari sudut pandang dan gaya bahasa agamawi: Turunnya tuhan yang sejati yang menyatakan dirinya ke tengah-tengah dunia itulah disebut sebagai wahyu tentang kebenaran yang sejati. Tuhan yang menyatakan dirinya kepada manusia. Agama theosentris ini kemudian merasa lebih percaya diri akan kemutlakkan kebenarannya setelah mereka membandingkan dirinya dengan agama lain yang sifatnya antroposentris.

Namun dengan adanya berbagai agama yang berasal langsung dari tuhan yang menyatakan dirinya ketengah-tengah sejarah, muncul kemudian perdebatan baru, manakah diantara agama theosentris itu yang benar-benar BENAR? Karena semua yang sifatnya sejati seharusnya hanya boleh ada satu. Seharusnya hanya ada satu yang benar. Di luar yang satu yang benar itu berarti ada yang tidak benar. Jika semua manusia yakin bahwa semuanya benar, maka tidak akan pernah ada pertikaian antar umat beragama. Tidak akan ada orang atau kelompok yang merasa agamanya lebih benar daripada yang lain yang kemudian mengatasnamakan agama untuk menganiaya agama yang lain.

Penganiayaan antara manusia beragama atas nama agama justru terjadi saat manusia merasa mutlak yakin bahwa agamanya yang katanya berasal dari tuhan itu adalah kebenaran yang sejati. Sebelum muncul keyakinan itu, penganiayaan antar manusia lebih bersifat antroposentris, yaitu kebencian, iri hati, dengki, keserakahan, dan seterusnya.

Hal ini menimbulkan kerumitan yang baru. Karena sama-sama merasa bahwa kebenaran dan agama yang mereka miliki adalah dari tuhan langsung, semua merasa bahwa kebenaran yang mereka miliki adalah yang benar-benar BENAR. Sikap kritis yang mula-mula ada untuk mempertanyakan dan memikirkan tentang kebenaran, sekarang digantikan dengan berbagai perilaku fanatisme mulai dari yang sifatnya membabi buta, tertutup, tidak berpengetahuan ataupun yang berpengetahuan namun sempit dan tertutup; Hingga kepada fanatisme yang berpengertian dan terbuka yang sudah tidak bisa lagi dikatakan sebagai perilaku fanatik melainkan sebuah keyakinan yang berpengetahuan.

Antroposentris Dalam Theosentris

Hal lain yang muncul kemudian adalah bahwa karena kebenaran itu di wahyukan, maka kebenaran itu harus dipelajari dengan metode yang berbeda karena bukan berasal dari pengetahuan manusia. Dalam proses pembelajaran dan upaya memahami kebenaran tuhan, terjadi kesulitan yang sama dengan semua permasalahan agama yang berasal dari alam dan pemikiran manusia. Interpretasi terhadap alam yang dilakukan oleh orang yang berbeda, menimbulkan interpretasi yang berbeda. Demikian pula interpretasi terhadap kebenaran yang katanya dari tuhan, dilakukan oleh orang yang berbeda, menimbulkan pemahaman yang berbeda. Dan akhirnya, dalam satu alam, muncul berbagai agama. Seperti juga dari yang bahkan katanya satu kebenaran, muncul prinsip agama yang berbeda. Dalam satu interpretasi kebenaran, muncul kepercayaan yang berbeda dalam aplikasinya. Dan terus berulang-ulang terjadi berbagai perbedaan. Hal itu dapat terjadi semata-mata karena cara interpretasi kebenaran yang katanya diwahyukan, diperlakukan sama halnya dengan kebenaran yang berasal dari alam, yaitu di tinjau dari perspektif manusia sebagai pusat kebenaran.

Manusia tetap saja tidak memahami satu hal penting. Ada satu kegagalan dan kesalahan yang terus menerus dilakukan oleh kebanyakan manusia dalam upaya menginterpretasi entah alam, entah kebenaran, entah yang dari pemikiran manusia maupun dari wahyu: manusia menginterpretasikan segalanya secara antroposentris. Saya tidak bisa menyalahkan kegagalan interpretasi terhadap segala hal yang pada dasarnya adalah antroposentris dari sudut pandang antroposentris. Tapi saya menyesalkan adanya upaya meninjau segala hal yang bukan antroposentris (dalam hal ini bersifat theosentris) dari sudut pandang antroposentris.

Kita harus meninjau wahyu yang katanya berasal dari tuhan, tentunya dari sudut pandang tuhan. Tuhan yang mewahyukan kebenarannya, maka kebenaran itu harus kita tinjau secara theosentris. Akan menimbulkan kekacauan pengertian jika sesuatu yang theosentris pun kemudian kita turunkan dan kita analisa secara antroposentris. Jika kita meyakini bahwa wahyu itu adalah tuhan yang berbicara, maka sudah sepatutnya kita mendengarkan apa yang tuhan mau bicarakan.

Namun seringkali manusia hanya mau mendengarkan apa yang dia mau dengar, melihat apa yang mau dia lihat, dan akhirnya, dia hanya bisa mengerti tentang apa yang dia mau mengerti. Sesuatu yang theosentris pun kemudian menjadi bersifat antroposentris. Dengan munculnya orang-orang yang menginterpretasikan agama seturut dengan kepentingan dia, keinginan dia, tujuan dan rencana, baik secara religius ataupun pragmatis, baik untuk tujuan sosiologi, politik, ideologi, agama, dan seterusnya, menjadikan agama yang katanya paling theosentris bisa menjadi agama yang sifatnya tidak berbeda jauh dengan agama lain yang sifatnya antroposentris. Agama yang dari tuhan pun akan kemudian menjadi agama yang sangat bersifat humanis, mengutamakan kepentingan manusia dengan segala keinginan dan nafsunya yang tidak terpuaskan. Untuk kemudian menjadikan tuhan sebagai sarana mencapai cita-cita, memperalat tuhan untuk membenarkan diri sendiri, dan kemudian menjadikan kekekalan tuhan persis seperti keadaan dunia ini berikut dengan egoisme manusia.

Tuhan pun ditakar menurut pemikiran manusia dan ajaran tuhan dianggap tidak masuk akal manusia, kecuali kebesaran dan kuasa dia yang bisa diperalat untuk kepentingan manusia. Bahwa di dalam tuhan tidak ada yang mustahil, bahwa di bersama tuhan semua akan baik-baik saja; namun tidak ada upaya sedikitpun dari manusia untuk mencari tuhan kecuali untuk mencari berkatnya untuk memuaskan segala keinginan manusia dan menjadikan tuhan seperti pembantu atau dokter atau manager atau pesuruh dan seterusnya.
Bahwa di surga nanti kita akan mendapat tempat yang luas, istana yang besar, emas dan permata yang berlimpah, kenikmatan dan kepuasan badani, menjadi raja dengan kuasanya dan memerintah dunia di sana, dan seterusnya. Kesemuanya persis seperti halnya keadaan dunia ini dibawa ke tempat tuhan berada, katanya.

Hingga Karl Marx menteriakkan seruannya yang terkenal, “Agama dibuat oleh manusia; agama tidak membuat manusia menjadi manusia. Agama dibuat oleh negara dan masyarakat. Agama adalah desahan nafas putus asa oleh makhluk yang tertekan, oleh perasaan dari dunia yang tidak memiliki hati, oleh jiwa dari dunia yang penuh dengan kekosongan hidup. Agama adalah candu bagi masyarakat.”
Dengan perilaku manusia sepanjang jaman, ucapan itu sama sekali tidak bisa ditentang.

Perilaku kebanyakan agamawan membuktikan hal tersebut dengan teori yang muluk-muluk, idealisme yang seolah tinggi namun penuh diselubungi maksud dan agenda sosial, bahkan politik. Serta mereka mengajarkan pengajaran yang semuanya mengumbar nafsu yang begitu remeh dan hina yang bahkan tidak ditemukan dalam agama-agama yang katanya berpusat pada manusia, agama yang katanya rendah karena kebenarannya berasal dari manusia yang bisa salah. Namun agama-agama yang katanya berasal dari tuhan ternyata memiliki idealisme yang tidak agung.

Kontradiksi Dalam Theosentris

Seharusnya, kebenaran yang katanya berasal dari tuhan di interpretasikan secara theosentris dipelajari dengan setia, dengan taat, dengan teliti, dan dengan bertanggung jawab. Agama yang berasal dari tuhan tersebut adalah merupakan wahyu tuhan, tapi manusia telah menerima wahyu itu dan memperlakukan wahyu itu dengan tidak sepantasnya. Dengan pemahaman yang tidak komprehensif, menghasilkan penafsiran dan pengertian yang saling berkontradiksi dan kacau balau. Penuh perkecualian dan pertentangan, tidak bersifat universal, integral, dan moral yang tinggi. Kesemuanya bertentangan dengan prinsip filsafat tentang kebenaran yang sejati.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah buku Kristen yang pernah saya baca, “Manusia adalah makhluk yang cinta diri (baca: humanis) dan cinta uang (baca: materialis). Mereka menolak kebenaran Tuhan, menolak Dia yang diutus Tuhan untuk memberitakan kebenaran Tuhan. Mereka menganggap berita Tuhan sebagai kebodohan dan ketidakmasukakalan. Mereka berkata bahwa mereka mencari kebenaran dan mencari Tuhan, namun mereka hanya mencari kebijaksanaan yang masuk akal dan mencari tanda-tanda kuasa mujizat. Ketika Tuhan datang ketengah-tengah mereka, menyatakan dirinya dan menjadi satu-satunya manusia dalam sejarah dunia yang mengatakan bahwa Dia berasal dari TUHAN, manusia membunuh Dia. Tidak seorangpun mencari Tuhan. Satu pun tidak. Tidak ada yang baik, satupun tidak. Hanya Tuhan yang baik.”

Hal tersebut sangat menarik bagi saya sebagai kontradiksi kebenaran dalam diri manusia.
Hal ini pula yang seharusnya membawa orang yang katanya mencari kebenaran kepada kesimpulan bahwa upaya persaingan jumlah pengikut suatu agama adalah omong kosong dan pekerjaan yang sia-sia. Siapapun boleh pindah dari agama satu kepada agama lain. Tidak ada bedanya untuk tuhan di dalam kekekalan. Jika tuhan itu adalah TUHAN, dengan segala kuasa yang MUTLAK, bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-NYA, seperti pemikiran agama-agama yang antroposentris (terlebih lagi seharusnya oleh agama yang katanya theosentris), maka seharusnya DIA berdaulat penuh untuk memilih orang yang DIA mau menjadi milik-NYA.
Sama juga seperti orang-orang yang melakukan tindakan anarkis demi agamanya untuk menolong tuhannya, membela tuhannya, dan menjaga dan melindungi kebenaran yang katanya dari tuhan.

“The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.” Augustine of Hippo

Terjemahan: Kebenaran yang sejati itu seperti singa; sama sekali tidak perlu dibela. Biarkan dia lepas dan bebas; dia akan membela dirinya sendiri.

Sekali lagi, orang yang tahu tentang kebenaran, dia tidak perlu diberi tahu. Orang yang tidak tahu tentang kebenaran, dia tidak bisa diberi tahu. Ini adalah paradoks tentang ‘tahu’. Karena semua itu adalah tentang wahyu yang dipercaya berasal dari tuhan. Kebenaran dibukakan ke dalam diri seseorang sebagai wahyu, menjadikan seseorang menjadi tahu bahwa dia tidak tahu. Siapa yang dapat memberi tahu dia bahwa dia tidak tahu, jikalau dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu selain daripada wahyu tuhan memunculkan suatu perasaan ketidaktahuan. Dengan jujur, pemikiran ini bukan dari saya, melainkan pemikiran Cornelius Van Til.

Dalam pengertian tentang wahyu ini, seharusnya penganut agama yang katanya percaya bahwa katanya kebenaran itu di wahyukan, tidak perlu ribut dengan orang lain yang berbeda agama, karena mereka seharusnya percaya bahwa kalau wahyu tuhan turun atas manusia yang lain, maka mereka akan menjadi satu agama. Akan tetapi, tampaknya semua orang sedang berusaha membantu tuhan dan mau berbuat jasa untuk tuhan, seolah tuhan tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan manusia (sekali lagi, agama theosentris diseret menjadi agama antroposentris).

Berkenaan dengan penyebaran agama, setiap agama (baik yang antroposentris maupun theosentris) harus mengakui bahwa tujuan dari agama adalah untuk menjadi kebaikan bagi seluruh umat manusia. Menjadi panduan dan pegangan manusia dalam perilaku dan perbuatan. Sebarkanlah itu kepada semua orang, supaya masyarakat menjadi lebih baik. Supaya manusia yang berpegang pada kebenaran diri sendiri disadarkan bahwa ada kebenaran yang lebih tinggi. Bahkan masyarakat Budhisme menyebarkan dharma, menjadi teladan, hidup baik dan toleran dengan semua makhluk. Memberikan pengajaran kepada semua manusia tentang jalan dan kebaikan. Tidakkah itu baik adanya. Demikian pula dengan semua yang dikerjakan Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan Dalai Lama. Mereka menyebarkan pengajaran yang baik dengan damai. Kenapa kemudian malah agama yang mengaku katanya sebagai kebenaran yang sejati lebih banyak membuat kekacauan daripada menjadi berkat?

Paradoks Kebodohan dan Kebijaksanaan Manusia Dalam Theosentris

Ketika perspektif antroposentris digunakan untuk memahami agama theosentris, kembali muncul upaya manusia berusaha berbuat baik supaya dirinya diterima tuhan. Kendatipun seharusnya sudah jelas bahwa perbuatan baik tidak berlaku dalam agama theosentris karena tidak ada seorangpun sanggup berbuat baik. Hal itu semata-mata karena tidak ada yang baik, hanya tuhan yang baik (katanya orang-orang yang memiliki agama yang theosentris).

Tuhan sendiri harus mengakui bahwa dia telah menurunkan kebenarannya, bahkan mengutus Anak-Nya. Yang sering menjadi keliru adalah manusia yang selalu terus kembali menggunakan dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu dan menjadikan dirinya sebagai tolok ukur dalam perspektifnya sendiri.

Tidakkah katanya wahyu adalah inti dari agama theosentris, bahwa tuhan sendiri harus membukakan kebenarannya sebagai kebenaran yang sejati. Bahwa tuhan itu sendiri harus mengakui oleh dirinya sendiri sebagai kejujuran yang satu-satunya dan tidak ada tuhan yang lain selain daripada dia. Namun manusia terus berusaha mencari kebenaran yang sejati tanpa menghiraukan wahyu tuhan, kebenaran yang benar-benar BENAR dalam dunia ini. Juga bahkan tidak terima ketika tuhan itu sendiri kemudian telah datang dan berkata, “Akulah Tuhan. Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup.”

Itulah inti dari agama yang katanya  diwahyukan. Kebenaran yang tidak berasal dari manusia yang bisa bersalah.
Dalam pengertian wahyu Tuhan orang Kristen, Tuhan dikatakan dalam kedaulatan-Nya tahu bahwa kebenaran-Nya adalah merupakan kebodohan yang tidak masuk akal bagi manusia yang antroposentris; karena itulah Dia kemudian mewahyukan kebenaran sejati itu bagi mereka yang bersedia menjadi bodoh demi Anak-Nya yang tunggal yang menjadi utusan-Nya. Bahwa keselamatan hanya datang oleh Dia satu-satunya, yang dengan kebodohan-NYA mati di atas salib untuk menebus dosa manusia. Supaya manusia yang bersedia menjadi tolol (baca: theosentris) bisa diselamatkan bukan oleh perbuatan baik. Supaya di dalam penebusan-Nya, orang baru dimampukan untuk berbuat baik, karena sekarang ‘baik’ itu bukan lagi menurut manusia, tetapi apa yang ‘baik’ menurut wahyu Tuhan: keadilan, murah hati, rendah hati, dan mengikut Tuhan. Dan tidak ada hukum dan etika dunia yang bertentangan dengan kebaikan itu.

Implikasi “Tak terhingga” Dalam Matematika dan Filsafat

Sejak masa sekolah, kita mengenal tanda “tak terhingga” (simbol:  ; infinity atau lemniscate) melalui bangku sekolah. Kita menemukan tanda itu pada kedua ujung positif dan negatif dalam garis bilangan, kita menemukan tanda tersebut pada prinsip operasional dasar, juga pada operasional intergral dan diferensial. Kita mengenal simbol tersebut sebagai suatu “angka” dalam garis bilangan, yang padanya terjadi perlakuan khusus.

Simbol tak terhingga itu merupakan suatu “angka” yang dapat dioperasionalkan dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, namun hasilnya tidak berubah selain daripada dirinya sendiri. “Angka” itu merupakan angka yang bukan angka, tetapi dianggap sebagai perwakilan sebuah angka namun tidak memiliki prinsip sebagai angka (baca: nilai). Secara prinsip, simbol tak-terhingga ini menjadi satu bentuk paradoks ditengah-tengah angka yang terhingga.

Sebenarnya, apakah simbol “tak terhingga” itu? Mengapa dia bisa muncul ditengah-tengah dunia kita yang tidak satupun bersifat “tak terhingga”? Jika mau dirunutkan, beberapa filsuf Yunani seperti Pythagoras, Plato, dan Aristotle mengakui keberadaan dunia yang terbatas dan dapat diukur dengan bilangan yang natural. Namun Aristotle mengenali bahwa ada banyak hal yang seakan-akan bergerak menuju kepada ke-takterhingga-an, seperti waktu yang seolah tidak berujung. Karena itulah Aristotle memiliki sebuah pemikiran tentang sesuatu yang sifatnya “mungkin tak terbatas” (potentially infinite). Seperti pada garis bilangan misalnya, Aristotle melindungi a priori tentang dunia yang terbatas dengan menjelaskan bahwa garis bilangan itu terbatas, namun sifat garis bilangan itu sendiri memiliki “potensi untuk menjadi tak terbatas” karena tidak akan pernah ditemukan angka terakhir yang jelas dan pasti yang menutup garis bilangan.

Plotinus merupakan pemikir setelah Plato, yang saya ketahui menjadi pemikir pertama yang menyebutkan ada “THE ONE” (baca: yang SATU) yang TUHAN yang tidak terhingga (infinite). Dia menyatakan bahwa SATU ini tidak pernah mengenal pengukuran ataupun pembatasan, SATU ini berada dalam ketidakterbatasan dalam apapun secara eksternal maupun internal, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya.

Agustinus (St. Augustine) kemudian menyatakan hal ini lagi dengan pengertian Plotinus ini secara lebih mendalam dan menyatakan bahwa TUHAN bukan hanya tidak terbatas, melainkan ketidakterbatasan adalah merupakan diri TUHAN itu sendiri, ketidakterbatasan bukan merupakan kondisi atau situasi yang menyebabkan TUHAN ini tidak terbatas, tetapi ketidakterbatasan ini muncul dari dalam dirinya TUHAN yang tidak terbatas yang memiliki kesanggupan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terbatas.

Dalam upaya memahami kondisi tak terhingga, manusia berulang-ulang sejak abad pertengahan mencoba merumuskan dan memahami batasan dalam dunia yang katanya terbatas ini. Namun beberapa upaya yang satu lebih banyak menghasilkan kontradiksi dibandingkan dengan beberapa tawaran penyelesaian yang lain.

Sehingga muncul beberapa teori lain yang kemudian berbalik dari upaya memahami “mungkin tak terbatas” (potentially infinite) dan mencari “pasti tak terbatas” (actually infinite) dalam dunia yang katanya terbatas ini. Yang paling saya sukai adalah teori fractal milik Mandelbrot, selain dari Koch snowflakes.

Filsafat yang satu berbicara tentang mencari batasan, yang lain berbicara tentang mencari ketidakterbatasan, dan keduanya tidak menemukan keterbatasan maupun batasan dari dunia ini. Teori matematika yang dikemukakan mulai dari Galileo, Georg Cantor, Helge von Koch, dan Benoit Mandelbrot. Perhitungan mulai dari kalkulus, hyperspace, hingga pembagian tak terbatas dari DNA kepada ‘quark’. Tidak ditemukan penjelasan tentang ketidakterbatasan. Upaya mencari hal yang tak-terhingga berujung pada “mendekati tak terhingga”, dan mencari hal yang ‘nol’ berujung pada “mendekati nol”; keduanya menjadi upaya yang tidak jelas dalam dunia yang katanya terbatas ini.

Namun simbol tak-terhingga tidak bisa dibuang ataupun diabaikan.

PARADOKS: Dimanakah batasan dunia yang katanya terbatas ini? Ataukah dunia ini sebenarnya adalah tidak berbatas?

PARADOKS: Dimanakah batasan dunia yang katanya terbatas ini? Ataukah dunia ini sebenarnya adalah tidak berbatas?

Sampai disini, saya tidak bisa melakukan hal lain selain daripada membawa kebuntuan yang tanpa akhir ini kedalam paradoks berikut penjelasan dari perspektif yang berbeda.

Ketidakterhinggaan adalah sebuah kondisi yang statis, tidak berubah, tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Dia adalah sesuatu yang sifatnya kekal. Sementara dunia kita dengan segala isinya adalah sebuah kondisi yang dinamis, selalu berubah, memiliki awal dan memiliki akhir. Dengan kata lain, tidak ada yang tinggal tetap dalam dunia kita karena satu-satunya yang tetap adalah perubahannya. Ini adalah wilayah kesementaraan. Yang kekal tidak bisa dimasukkan dalam kesementaraan. Yang sementara, tidak bisa memasuki kekekalan. Usaha terbaik dari upaya mendekati kekekalan adalah mencapai kondisi yang dinamakan “mendekati kekekalan” secara dinamis dan terus berubah dan terus menerus. Disinilah muncul dunia ide dan dunia pragmatis. Dari sinilah muncul filsafat “is-ought problem” (perbedaan antara yang kenyataan dengan yang di harapkan) yang dicetuskan oleh David Hume.

Hasil terbaik dari usaha yang terus menerus untuk mendekati kekekalan itu hanyalah pengertian mengenai kesia-siaan karena tidak mungkin kita dari dunia yang dinamis ini memasuki alam yang statis. Tidak mungkin kita dari alam yang sementara ini memasuki alam yang kekal. Dan upaya melakukannya berakhir dengan kesia-siaan.

Secara filosofi, manusia tidak mungkin mencapai tempat dimana TUHAN berada.

Tidak dimungkinkan dengan cara apapun. Dunia ilmu pengetahuan sudah mencoba membuktikannya, dan dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan hanya menghasilkan filsafat-filsafat yang terus menanyakan hal yang semakin banyak dan tidak pernah terjawab kecuali didalam religi. Dan diantara semua religi itu pun tidak semua bisa menjawab paradoks bagaimana kita yang sementara bisa mencapai tempat TUHAN yang kekal.

Setelah ilmu pengetahuan dan filsafat gagal menemukan cara untuk menuju kepada kekekalan, agama menawarkan solusinya: dengan perbuatan baik. Namun cara ini sudah dipikirkan oleh Aristotle, dikatakan bahwa sebuah perbuatan baik itu baru benar-benar baik jika ada maksud yang baik, dilakukan dengan baik, untuk tujuan yang baik, demi kebaikan, dan hasilnya adalah untuk kebaikan itu sendiri. Dan Socrates juga mengatakan bahwa kebaikan yang sejati itu haruslah berlaku secara universal.

Sekarang, bagaimanakah kita manusia dimungkinkan untuk mencapai kekekalan dengan perbuatan baik?

Definisi perbuatan baik pun sudah tidak bersifat universal dan integral. Dan seandainya, jikalau seumpama, misalnya kita berhasil menemukan definisi tentang perbuatan baik yang sifatnya universal dan integral, itupun tidak baik karena perbuatan baik kita pun tercemar oleh motivasi lain dibalik perbuatan baik kita. Jika kita gagal dititik definisi, bagaimana kita bisa melakukannya tanpa bersalah?

Coba saya jelaskan. Kebaikan itu harus bersifat universal, berarti dilakukan dimanapun, dia harus bersifat baik dan benar adanya. Juga bersifat integral, bahwa perbuatan baik itu di dalam dirinya adalah mengandung semua unsur kebaikan yang tidak tercemar, baik secara maksud, perlakuan, tujuan dan motivasi adalah murni demi kebaikan itu sendiri.

Contoh: Saya memiliki dua permen, dan saya memberikan kepada seorang teman saya salah satu permen. Apakah perbuatan ini baik? Kita lihat apakah perbuatan ini baik? Jika teman saya itu sedang sakit gigi, maka perbuatan saya adalah kurang bertanggung jawab. Jika ada beberapa teman saya disana menginginkan permen, saya menjadi “kurang baik” bagi yang lain karena saya tidak memberikan kepada mereka permen, padahal ada yang sangat menginginkan permen dari saya. Jadi saya hanya baik bagi teman yang saya beri permen, namun kurang baik bagi orang lain yang tidak kebagian permen.
Lebih lanjut lagi, apa maksud saya menjatuhkan pilihan saya untuk membagikan permen saya yang terbatas ini kepada dia, dan bukannya untuk orang lain? Mungkin saya mau supaya dia menganggap saya baik, atau mungkin karena saya menganggap bahwa dia adalah teman dekat saya yang terbaik dan saya mencoba menjaga hubungan baik itu. Sehingga perilaku saya memiliki motif dan tujuan tertentu.

Sama halnya dengan saya berusaha berbuat baik pada atasan saya, dengan maksud supaya saya boleh mendapat kemudahan kenaikan jabatan. Saya yakin tidak sepatutnya kita merayu yang SATU itu yang berada dalam kekekalan untuk meminta Dia membawa kita kepada kekekalan dengan perbuatan baik kita yang tidak seberapa. Bagaimana saya bisa berbuat baik jika perbuatan baik itu sendiri tidak boleh memiliki motif? Jadi apakah benar dengan kata-kata para agamawan yang menyarankan saya untuk berbuat baik, supaya amal saya memampukan saya masuk dalam kekekalan untuk bersama dengan yang SATU itu? Hal itu menimbulkan kontradiksi kebenaran yang sifatnya menghancurkan diri sendiri, bukannya menghasilkan paradoks.

Setiap perilaku perbuatan baik yang saya munculkan, selalu menjepit saya dan membuat perbuatan saya hingga pada level tertentu, menjadi kurang baik. Hal ini menimbulkan suatu frustasi dalam diri manusia yang berusaha mencapai kekekalan (baca: TUHAN).

Inipun sudah dipikirkan oleh filsuf sejak jaman eudaimonisme Yunani kuno. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa kebaikan itu adalah kebahagiaan kita, dan jika mungkin, menjadi kebahagiaan kita bersama dengan banyak orang. Mulai dari Sokrates, Plato, Aristotle, hingga kemudian pada Epikuros, definisi kebahagiaan menjadi apa yang disebut kenikmatan. Itulah kebaikan sejati.

Kebaikan yang disejajarkan dengan kebahagiaan yang kemudian disejajarkan pula dengan kenikmatan menimbulkan suatu pertanyaan yang tidak terungkap dalam diri manusia. Benarkah sifat mengumbar egoisme dan hedonisme diri itu merupakan kebaikan ultimat? Kaum stoic kemudian mencetuskan sesuatu yang berbeda dan berlawanan. Seperti beberapa agama yang menuntut bahwa perbuatan baik adalah menjauhi semua hal yang sifatnya sementara ini, mendekatkan diri kepada gaya hidup yang meninggalkan keinginan duniawi.

Disini saya tidak membahas jalan hidup orang yang tidak mengakui keberadaan kekekalan. Manusia yang pernah mati, belum pernah hidup kembali dan menceritakan apakah ada kehidupan setelah kematian. Yang masih hidup, belum tahu apakah ada kehidupan setelah kematian. Tapi kita semua pada akhirnya akan mengetahuinya. Dan semoga kita semua telah memilih jalan yang benar untuk menuju kepada kekekalan.

Kesemua upaya itu adalah upaya manusia dengan segala pemikiran dan agamanya yang ditawarkan ketengah dunia ini untuk mencapai kekekalan. Dan sekarang sudah dijelaskan bahwa tidak ada jalan keluar bagi manusia untuk menuju pada kekekalan. Tidak ada satu orang pun yang baik, satupun tidak. Hanya TUHAN yang baik di dalam ketidakterbatasannya, seperti yang dikatakan Plotinus dan Agustinus.

Didalam kesia-siaan upaya, kebuntuan pemikiran dalam pencarian jalan keluar, dengan apakah kita bisa mencapai kekekalan? Keputusasaan manusia memunculkan penghiburan semu dengan sikap pragmatis-nya, mengatakan bahwa semua agama itu sama, pada akhirnya nanti kita akan mencapai kekekalan dengan sendirinya; bahwa semua ini tidak perlu dipusingkan karena jika kita mengikuti siapapun yang katanya baik, kita boleh teruslah berbuat baik, nanti akan ditimbang pada akhirnya, mana yang lebih banyak, perbuatan baik atau perbuatan jahat. Dan manusia terus yakin bahwa perbuatan baiknya akan membawa dia kepada kekekalan, meskipun sudah disanggah sejak jaman Yunani kuno oleh semua pemikir besar bahwa kekekalan tidak mungkin dicapai dengan perbuatan baik, ataupun melalui perhitungan, logika, idea, dan seterusnya.

Di dalam keputusasaan ini, sekali lagi, dalam kelelahan yang sangat, saya tidak bisa tidak, mau tidak mau harus kembali pada apa yang ditulis dan dijelaskan dalam bukunya orang Kristen. Bahwa manusia tidak akan pernah mencapai kekekalan, jika kekekalan itu tidak lebih dahulu menembus dan masuk kedalam kesementaraan. Tidak ada orang yang dapat mencapai Tuhan jika Tuhan tidak terlebih dahulu membukakan jalan bagi manusia. Tidak ada jalan lain, hanya satu jalan, dan jelas bukan melalui perbuatan, melainkan melalui inisiatif Tuhan sendiri karena bagi Tuhan, tidak ada hal yang tidak mungkin dalam ketidakterbatasan pikiran Dia (pengakuan Plotinus dan Agustinus). Tuhan-nya orang Kristen mengakui sendiri dan memberitahukan (sebagai inisiator) yang berhak dia lakukan seturut dalam hukum relasi pencipta dan cipataan; bahwa tidak ada jalan lain untuk menuju kepada Dia jika tidak melalui Anak-nya yang kekal itu sebagai satu-satunya jalan “yang SATU”, supaya didalam Anak-Nya yang SATU itu, manusia bisa melakukan perbuatan yang benar-benar baik, yang tidak memiliki motif. Dialah yang SATU dan tidak terbatas yang selama ini kita cari dalam simbol tak terhingga. Dia yang tak-terhingga. Anaknya yang tak-terhingga. Kesemuanya yang TUNGGAL, yang SATU, yang ESA, bukan DUA – tetapi SATU, yang satu-satunya, karena simbol tak-terhingga bisa dioperasikan (dalam hal ini: dijumlahkan) tanpa merubah hasil selain daripada dirinya sendiri.

Tentu saja ini adalah hasil pemikiran saya. Tidak harus berlaku untuk orang lain.

Tentu saja kita semua yakin mengenai jalan yang kita masing-masing ambil. Jika tidak, tidak ada alasan untuk terus menjalani apa yang kita jalani selama ini. Tapi saya tahu persis apa yang saya lakukan adalah berdasar dan bukan merupakan fanatisme kosong.