Ironi Kontradiksi Antara “Kemauan” dan “Kelakuan” dalam Psikologi

Saya yakin, banyak dari kita –atau mungkin bahkan semua kita– pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat seperti demikian, ‘Saya ingin sehat, tapi susah sekali mau mulai berolahraga,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk memiliki berat badan yang ideal, tapi susah sekali untuk menahan keinginan untuk makan,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk rajin, tapi kenapa selalu gagal fokus.’

Kita semua pasti pernah, atau paling tidak merasakan bahwa ada kesenjangan antara apa yang kita mau dan yang kita lakukan yang ternyata kemudian bertentangan dengan tujuan kita seperti contoh yang barusan saya sebutkan. Fenomena kesenjangan antara keinginan dan kekuatan komitmen kita sering kali menjadi penghambat antara impian dan kenyataan. Fenomena sedemikian menciptakan banyak motivator yang mendorong dan menyemangati kita dengan banyak sekali kalimat-kalimat yang mendongkrak motivasi.

“Everything is about HOW BAD DO YOU WANT IT”

Segala hal adalah tentang SEBERAPA BESAR KEINGINANMU

Saya pribadi menyukai kalimat itu. Kalimat itu menyatakan pada kita untuk mencari kedalam diri kita sendiri, seberapa besar keinginan kita, seberapa dalam ambisi kita, dan ketika kita sudah mengetahuinya, maka sebesar itu pula daya dan tenaga yang akan muncul untuk mendorong kita untuk meraih yang kita dambakan.

Tapi benarkah motivasi-motivasi sedemikian benar-benar bermanfaat? Tidakkah kita semua terus mendengar banyak orang yang mengeluhkan hal yang sama? Yang ingin sehat tetap tidak berolahraga, yang ingin memiliki berat badan ideal tetap tidak berhenti ngemil dan makan, yang ingin tidak mencontek tetap malas belajar, yang tahu bahwa merokok tidak sehat tetap tidak berhenti merokok, yang mengerti bahwa candu itu mengerikan tetap tidak berhenti dengan kecanduan, yang ingin saleh tetap tidak behenti menipu, tidak jujur, dan korupsi, yang beragama dan menyebut nama tuhan tetap saja merebut sikap dan menjadi tuhan bagi manusia lain, yang tahu bahwa diri sendiri memiliki salah tapi tetap berani menghakimi orang lain, dan yang ingin masuk surga tetap tidak berhenti berbuat dosa. Tidak ada yang berubah. Semua tetap sama. Manusia tetap adalah manusia yang penuh dengan kesalahan dan kelemahan.

“Belajar melakukan satu hal yang baik saja belum, sudah selesai melakukan seratus hal yang jahat.”

Pernahkah mendengar pepatah tersebut? Itulah gambaran tentang kita, manusia. Kita berjuang untuk menjadi baik, bersusah payah dan berjerih lelah supaya bisa menjadi orang benar, berkualitas, berbudaya tinggi, agung, anggun, berpengetahuan, berwawasan, berbijaksana, bermoral, dan seterusnya. Dan untuk mencapai itu semua adalah tidak mudah, dituntut ketekunan dan perjuangan dan pembelajaran. Namun apa daya, belum juga selesai belajar untuk menjadi positif, kita semua sudah selesai melakukan semua hal yang sebaliknya, yang bertentangan dan yang negatif: kita egois, tidak toleran, tidak mau mengerti kesulitan orang lain, hidup seenaknya, tidak tertib, tidak taat aturan, malas, tidak perduli dan tidak peka terhadap hal disekitar kita, mengumbar hawa nafsu, dan seterusnya. Dan kesemuanya bahkan tidak perlu kita pelajari, tidak perlu pembelajaran, kita lakukan sambil lalu, bahkan tidak perlu kita upayakan atau kita pikirkan.

Mengapa sedemikian? Karena kita manusia. Itulah alasan yang selalu kita lontarkan. Namanya juga manusia. Setelah selesai meminta maaf, kemudian berbuat salah lagi. Sudah selesai menangis dan menyesal, kemudian kembali melakukan hal yang sama. Kita hanya manusia. Membuat saya kadang bertanya-tanya, benarkah perbuatan baik yang saya lakukan bisa ditimbang dan jadinya lebih banyak daripada kesalahan saya?

Apakah kita tidak memiliki keinginan untuk menjadi baik? Apakah kita tidak termotivasi untuk menjadi makhluk yang agung, makhluk yang berbeda dengan binatang, makhluk yang berakal dan berbudi pekerti? Saya yakin jawabannya adalah tidak demikian, kita termotivasi, sungguh-sungguh mau dan termotivasi. Tapi kita tidak pernah berhasil. Paling tidak, saya tidak pernah berhasil. Saya tidak tahu tentang Anda.

Hal ini bukanlah masalah sosial, bukan problematika sosiologi, bukan juga permasalahan psikologi. Kita seringkali dengan ringan menyalahkan orang lain, “aku berusaha baik, tapi lingkunganku yang membuat aku begini dan mempengaruhi aku.” Dengan kata lain, “aku baik, orang-orang itu yang jahat dan membuat aku ketularan menjadi jahat.” Dan semua orang merasakan hal yang sama, dia merasa baik, tapi lingkungan (baca: semua orang yang lain) yang jahat. Bukankah kita masing-masing adalah ‘lingkungan’ bagi semua orang yang lain? Dengan demikian, tidakkah kita secara kolektif adalah sebenarnya jahat? Sudah diri sendiri jahat, masih menuduh orang lain yang jahat dan mempengaruhi kita –‘katanya’– sehingga kita menjadi jahat. Tidakkah kejahatan kita jadi berlipat, menjadi orang jahat dan menuduh serta memfitnah orang lain sebagai orang jahat?

Masalah tentang perbedaan antara keinginan dan kelakuan ini adalah masalah dengan manusia. Manusia memang sedemikian. Tidak ada jalan keluar.

“This is not a technical problem, not motivational problem, not strong will problem. This is a ‘people problem’. And we cannot fix people. No one can.”

Hal ini bukanlah masalah teknis, bukan masalah motivasi, bukan masalah tekad. Ini adalah ‘masalah manusia’. Dan kita tidak bisa memperbaiki manusia. Tidak ada yang bisa.

Sebagian manusia secara fenomena yang kasat mata terlihat baik, terlihat jujur, terlihat sopan, sampai suatu ketika topeng-topeng itu terbongkar dan terlihat sejatinya. Kembali kepada kalimat motivasi favorit saya, semua itu adalah tentang seberapa besar keinginan kita, tetapi hal itu tidak berlaku untuk semua hal. Dalam beberapa hal, motivasi dapat mendorong kita, namun tidak dalam semua hal. Demikian pula dengan psikologi, sampai dalam hal tertentu, psikologi dapat membantu, namun tidak dalam semua hal. Dan tidak ada jalan keluar lain yang dapat ditawarkan.

Paling tidak, tidak dari apa yang selama ini kita kenali sebagai pengetahuan atau filsafat atau agama.

“You’re a man looking at the world through a keyhole. You’ve spent your whole life trying to widen that keyhole… to see more, to know more. And now, on hearing that it can be widened, in ways you can’t imagine, you reject the possibility.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Kamu adalah seseorang yang mengamati dunia ini dari lubang kunci. Kamu menghabiskan seluruh hidupmu mencari cara untuk memperbesar lubang kunci itu… untuk melihat lebih banyak, mengetahui lebih banyak. Dan sekarang, saat mendengar bahwa lubang itu dapat diperbesar, dengan cara yang tidak dapat kamu bayangkan, kamu menolak kemungkinan itu.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Sampai pada titik ini, pada situasi yang tampaknya tanpa pengharapan, bagi Anda yang merasakan sedemikian, saya dengan jujur akan mengatakan bahwa saya tidak menulis artikel ini untuk membuat Anda berputus asa. Saya menemukan jawaban dalam buku orang Kristen. Bahwa perubahan dan motivasi yang kuat adalah motivasi yang berasal dari dalam diri. Hal ini juga diketahui oleh kita semua. Motivasi yang berasal dari luar diri tidak akan bertahan lama. Akan tetapi, motivasi seperti apa dan darimana motivasi itu bisa berasal (yang kemudian berada dalam diri seseorang) yang bisa bertahan lama?

Di dalam kepercayaan Kristen, dikatakan bahwa di dalam Yesus, ada kuasa yang memperbaharui dan merubahkan. Perubahan secara fenomena dapat dilakukan oleh siapapun, untuk menipu diri sendiri dan orang lain. Tapi tidak jarang pula, perubahan fenomena itu bisa bersifat sejati. Tetapi ketika menyentuh hal-hal tentang perubahan yang sifatnya esensi dan intisari, yang berkenaan dengan kesalehan, moralitas, kebenaran, kasih dan keadilan, tidak ada perubahan secara fenomenal yang dapat bertahan lama. Perubahan dari luar adalah bersifat sementara dan bahkan bisa mendatangkan frustasi dan keputusasaan dan ketegangan dalam diri. Bayangkan seperti ini, tentang pekerja yang hanya kelihatan rajin saat ada atasannya mengawasi. Itu adalah perubahan fenomena. Dia ingin terlihat baik supaya pekerjaannya dihargai. Tetapi perubahan itu hanya akan mendatangkan ketidaktenangan ketika dia mengerjakan pekerjaannya. Akan tetapi dengan perubahan yang dari dalam diri, ketika dia tahu bahwa dia harus bekerja sebaik-baiknya karena itu adalah hal yang jujur dan benar, dia akan bekerja rajin, baik pada saat ada yang melihat ataupun pada saat sendirian.

“Apakah moralitas itu? Moralitas adalah melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang melihat.”

Tentang hal pekerjaan, itu adalah hal yang kelihatan.

Tentang kesalehan, kesucian hidup, kejujuran, dan seterusnya, siapakah yang bisa mengetahui? Hanya takut akan Tuhan yang sejati yang bisa menjaga hal-hal yang sifatnya tidak kelihatan. Di dalam buku orang Kristen dikatakan, “Takut akan Tuhan adalah awal dari pengetahuan.” Itulah moralitas. Hiduplah sedemikian seperti hidup senantiasa dihadapan Tuhan. Perubahan bermula dari penyesalan, dan kita yang telah bersalah, diampuni dosanya oleh Yesus. Dari penebusan dosa oleh Kristus akan ada perubahan dari dalam diri masing-masing orang yang akan mendatangkan dan memunculkan hidup. Kekuatan dari dalam itulah yang menghidupkan seseorang dan memampukan dia untuk dirubahkan.

Sama seperti kehidupan semua makhluk hidup yang berasal dari dalam. Kehidupan tidak pernah berasal dan ditopang dari luar diri, melainkan selalu dari dalam. Ketika manusia berusaha memotivasi diri dari luar, kemudian berputus asa dengan keterbatasannya dan perjuangannya untuk menjadi makhluk yang sejatinya adalah yang berakhlak dan bermoral, ketika tidak ada jalan keluar melalui tuntutan agama dan pengetahuan, iman Kristen memberikan jalan keluar.

Ilmu pengetahuan berbicara tentang benar dan salah. Kemudian Agama –semua tanpa kecuali– berbicara tentang baik dan jahat. Dan Filsafat berbicara tentang bijak dan bodoh. Hanya iman Kristen yang berbicara tentang hidup dan mati yang kekal.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” – Yesus

Tidak pernah ada siapapun pernah mengatakan hal sedemikian (jika Anda menemukan orang waras lain yang pernah mengatakan hal sedemikian, tolong beritahu saya). Iman Kristen tidak hanya bicara tentang benar dan salah atau baik dan jahat, tetapi terutama adalah tentang hidup. Agama mencari jalan. Pengetahuan dan filsafat mencari kebenaran. Dan hampir semua manusia yang pasti akan mati mencari ‘kehidupan’. Dan semuanya ada didalam Tuhan-nya orang Kristen.

Advertisements