Q: Bukankah semua agama itu sama, mengajarkan kebaikan dan mendatangkan keselamatan?

AAda tiga pertanyaan dalam satu kalimat tanya tersebut. Pertanyaan tersebut hanya bisa terjawab melalui –paling sedikit– dalam empat pembahasan.

Yang pertama adalah apakah yang dimaksud dengan keselamatan? Ada agama dan kepercayaan yang mengatakan bahwa keselamatan itu adalah surga. Jika kita beragama, maka kita akan masuk surga.
Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu adalah kita akan hidup kaya raya, makmur dan sejahtera, dijauhkan dari segala macam kesulitan, sakit penyakit, bahaya, baik dalam dunia ini, maupun akhirat.
Sementara yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita akan melalui kehidupan yang ini, untuk menuju pada kehidupan yang lain, yang berikutnya, yang lebih baik daripada kehidupan yang sekarang kita jalani.
Dan yang lain lagi mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita tidak akan mati secara rohani, kita akan hidup setelah jasmani kita dalam kehidupan yang fana ini berakhir; dan kita akan hidup sampai selama-lamanya.

Jadi manakah yang benar dengan pendapat tersebut? Setiap agama dan kepercayaan memiliki definisi yang berbeda tentang “KESELAMATAN”. Ada agama dan kepercayaan yang menggambarkan bahwa keselamatan yang adalah surga itu adalah kehidupan yang mirip dengan kehidupan kita yang sekarang, namun disana tidak terdapat kesulitan, sakit penyakit, kematian, malapetaka, dan seterusnya. Yang lain menggambarkan bahwa kehidupan di surga itu adalah kehidupan sebagai pertapa dan kekal, dalam ketenangan dan kedamaian yang tiada akhir. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa kehidupan di surga itu adalah kemewahan dan kepuasan dan pemenuhan segala keinginan manusia yang tidak tercapai di dunia ini, segala uang, logam mulia, batu mulia, tempat tinggal seperti istana, kehidupan seperti raja, dan mengumbar segala nafsu, keinginan, kenikmatan lidah dan seksualitas, sejauh dan sebanyak yang dapat kita bayangkan dengan imajinasi manusia, bahkan lebih daripada batasan imajinasi kita.

Yang kedua adalah berkenaan dengan tujuan akhir hidup manusia, kita akan mulai masuk dalam pembahasan untuk menjawab pertanyaan tersebut, mulai dari yang paling akhir. Agama mendatangkan keselamatan. Kita semua adalah manusia. Manusia itu bisa bersalah, dan sudah bersalah, dan tidak seorangpun yang tidak pernah tidak bersalah. Karena itu manusia akan binasa, karena kesalahan kita sendiri. Air yang kita minum, berusaha kita bersihkan dari air yang kita cemari. Makanan yang kita makan, mengandung segala kemajuan teknologi dan rekayasa yang secara perlahan dan komulatif meracuni kita. Sebagian dari kita dengan tubuh yang lebih lemah menderita penyakit yang aneh-aneh, mulai dari kanker, kerusakan organ, keracunan logam berat atau kimia, penyakit multiple sclerosis, autoimun, dan seterusnya. Udara yang kita hirup sudah kita cemari sendiri dengan pencemaran udara, berbagai jenis radiasi, penebangan hutan, perusakan alam, eksploitasi sumber daya, kerusakan keseimbangan jumlah populasi flora dan fauna, dan seterusnya. Langsung ataupun tidak langsung, kita semua terlibat dan ikut sama bersalahnya, dan kita semua akan binasa karena kesalahan kita sendiri. Dunia sudah terlalu rusak dan perbaikan yang kita lakukan akan menjadi penyebab kerusakan yang berikutnya. Hal itu adalah akibat kesalahan kita semua, tidak terelakkan dan tidak ada yang dapat kita lakukan selain kita berusaha bertahan.

Namun sebagai manusia, kita juga memiliki roh. Tidak ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia jasmani kita, dan untunglah jasmani kita tidak mengandung unsur kekekalan. Tapi ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia rohani kita yang akan terus berlanjut, bahkan ketika dunia jasmani ini sudah lewat. Kita bisa dimampukan untuk memilih jalan hidup yang tepat, yang bisa membawa kita pada keselamatan, menghindarkan kita daripada kematian rohani yang sifatnya selama-lamanya dan kekal.

Disinilah isu tentang agama menjadi sangat penting. Melihat kembali tentang definisi masing-masing agama tentang keselamatan, manakah definisi yang benar? Kesalahan memilih jalan hidup dan mengikuti ajaran yang salah adalah meresikokan kehidupan kekal dalam roh. Apakah kita akan diselamatkan didalam roh atau kita akan tidak terselamatkan didalam roh sampai selama-lama-lamanya.

Untuk menentukan kita akan mau makan apa sore ini, kita memilih. Memilih makanan yang dimasak oleh seseorang di suatu rumah makan, yang memiliki kualitas yang sesuai dengan yang kita harapkan. Demikian pula untuk memilih pakaian, sekolah, universitas, calon istri dan suami, dan seterusnya. Kita memilih dan mempertimbangkan. Untuk bisa memilih dan mempertimbangkan, kita mengambil informasi dan data, kita analisa antara informasi dan data yang satu dengan yang lain. Kita bersikap terbuka, objektif, dan rela hati untuk mempelajari setiap aspek, kemudian mengambil keputusan berdasar pada informasi yang kita kumpulkan.

Itu semua rela kita lakukan untuk memilih makanan, pakaian, sekolah, pasangan hidup, dan seterusnya. Padahal itu semua sifatnya sementara. Jarang dari kita yang benar-benar mempertimbangkan dan mempelajari agama dan kepercayaan yang kita pegang, membandingkannya dengan agama lain untuk kemudian kita pilih. Tidak, kita tidak melakukan itu. Kita bahkan seringkali tidak mempelajari baik-baik dan secara mendalam agama yang sedang kita yakini dengan buta.
Kita bisa penasaran beda antara panci dan loyang yang satu dengan yang lain hanya karena beda harga, yang satu lebih murah daripada yang lain. Atau kita ingin tahu beda antara smartphone yang satu dengan yang lain, mana yang lebih bagus, mana yang lebih berkualitas.

Tidakkah roh kita yang kekal lebih penting daripada dompet kita, panci atau smartphone?
Inilah bahasan yang ketiga, yaitu bagaimana kita bisa tidak perduli dan tidak mau mempelajari dan mengenali siapa atau apa yang kita percaya yang katanya bisa membawa kita pada keselamatan? Bagaimana kita bisa secara pragmatis menganggap bahwa semua kebaikan adalah sama dan semua ajaran adalah sama rata baik adanya. Sementara jelas kelihatan bahwa agama dan kepercayaan yang satu menyatakan bahwa binatang itu makhluk hidup yang tidak boleh kita bunuh dan makan. Sementara agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua boleh kita nikmati dan makan dengan bertanggung jawab. Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua manusia adalah ciptaan yang paling tinggi dan darahnya sangat berharga sehingga tidak boleh dibunuh. Sementara ada agama dan kepercayaan yang lain menyatakan bahwa darah manusia itu boleh dikorbankan dan darah manusia yang satu lebih berharga dibanding darah manusia yang lain.

Bagaimana mungkin kita bisa dengan polos mengatakan bahwa semua agama itu sama?

Sekarang, bahasan yang keempat, apa yang hendak kita lakukan dengan perbedaan itu? Kita bisa tidak perduli dan tetap menganggap semua agama sama. Kita bisa mulai belajar, membandingkan, dan mencari kebenaran sejati, yang benar-benar benar. Kita bisa menutup diri dan menganggap semua agama salah dan agama kita yang paling benar.
Manusia menajamkan manusia, dengan kritik yang membangun, berdiskusi, berbicara, membuka diri; ilmu pengetahuan bertumbuh dengan sangat cepat karena setiap orang bisa saling mendukung dan melengkapi. Demikian pula dalam hal filsafat, filsuf yang satu memberikan pendapat dan pengajaran, dan filsuf yang lain memberikan tanggapan, dan kita mempelajari kemajuan berpikir mereka dan meningkatkan kualitas hidup intelektual kita.

Demikian pula halnya dengan agama dan kepercayaan kita. Menutup diri dengan fanatisme adalah sama dengan menjadi katak dalam tempurung. Seperti anak kecil yang menganggap dirinya sangat pandai dan paling tahu dan paling benar. Dia tidak menerima pengajaran dari orang lain. Dan kita semua tahu kemana anak kecil sedemikian akan berakhir jikalau didikan tidak diterapkan dalam dirinya.

Kebenaran itu persis seperti singa, dimanapun dia berada, dia akan selalu ditakuti dan membuat perbedaan. Kita yang mempercayai dan memelihara singa yang hidup, kita tidak perlu membela singa itu pada saat ada musuh mau menyerang. Singa itu bisa membela dirinya sendiri, dari dalam dirinya sendiri, dia akan menunjukkan bahwa dia hidup, bahwa dia layak ditakuti. Yang perlu dibela adalah “singa-singa”-an; singa palsu. Singa itu lain dengan singa-singa-an.

Kalau saudara mengeluarkan uang 500juta untuk membeli mobil, kemudian sebuah mobil-mobil-an disodorkan kepada saudara, maka saudara akan marah besar. Karena saudara tahu bahwa mobil itu berbeda dengan mobil-mobil-an. Setelah saudara membawa pulang mobil yang sejati, dan ada orang yang mengatakan bahwa Anda tolol karena membeli mobil-mobil-an, Anda hanya akan tersenyum. Itu pasti orang gila. Anda tidak marah, karena Anda tahu, Anda membayar 500jt untuk membeli mobil, dan mobil itu yang Anda bawa pulang.

Demikian pula dengan kebenaran yang sejati, agama yang sejati, kebenaran yang sejati. Setelah saudara mendapatkan kebenaran yang sejati, dan ada yang mengatakan bahwa kebenaran itu palsu, maka Anda akan tersenyum dan bisa mulai menjelaskan dan memberikan argumen. Karena Anda sudah belajar, dan sudah mengerti, dan sudah memilih dan mendapat kebenaran yang sejati.

Menjawab pertanyaan diatas: Bukankah semua agama itu sama? Hanya kalau Anda tidak pernah belajar, maka semua agama itu sama. Sama seperti semua mobil itu sama, sama seperti semua singa itu sama. Sama seperti semua perempuan/laki itu sama, asal perempuan/laki, boleh dijadikan istri/suami.

“The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.”― Augustine of Hippo

Advertisements

Paradigma Tentang Talenta

Talenta, dalam Bahasa Inggris: talent, berasal dari kata Latin: talenta, yang memiliki makna sebagai satuan unit berat atau sejumlah uang. Sama seperti kata tael yang digunakan dalam dunia timur seperti Cina dan Jepang sebagai satuan berat atau sejumlah berat perak sebagai mata uang. Dalam perkembangannya, kata talenta itu didefinisikan sebagai ketrampilan atau keahlian, kemampuan atau kecenderungan atau kompetensi, yang dimiliki secara natural oleh seseorang dalam bentuk bakat bawaan sejak dilahirkan. Dunia psikologi mengenali bahwa bakat dan kecenderungan (dalam Bahasa Inggris: aptitude) ini dimiliki secara berbeda-beda dalam tiap-tiap orang, lebih lanjut lagi, ilmu psikologi (secara khusus dalam psychometric) membangun berbagai alat ukur untuk membantu orang dalam mengenali kemampuan tertentu di dalam dirinya.

Dalam natur manusia, sepanjang sejarah umat manusia, manusia berusaha mengenali secara eksistensialis tentang tujuan hidupnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk di muka bumi ini yang menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya memikirkan makna dan tujuan hidup. Ada cukup banyak filsafat yang berusaha menjawab pertanyaan ini, mulai dari yang menawarkan bahwa hidup ini baru bermakna jika melakukan kebaikan, jika membuahkan hasil bagi orang lain, jika seseorang merasa berbahagia, jika bisa menjauhi keinginan duniawi, jika bisa mengumbar segala keinginan, jika bisa memberikan persembahan (dalam berbagai bentuk seturut yang diminta) kepada para dewa atau tuhan atau langit atau nirvana atau vallhalla, dan banyak lagi. Terlepas dari berbagai macam bentuk dan upaya, manusia memiliki suatu perasaan bahwa hidup ini harus memiliki tujuan supaya bisa memiliki makna. Apakah makna itu muncul dari pemikiran yang mengenal konsep ke-tuhan-an, konsep yang berpusat pada dunia dan manusia secara luas, konsep yang berfokus pada diri sendiri atau hingga mengarah pada pemikiran yang mengatakan bahwa makna hidup itu ada dalam ketidakberadaan suatu makna apapun dalam diri manusia karena manusia ini kebetulan muncul begitu saja. Yang terakhir ini sangat menarik bagi saya, karena saya melihat kontradiksi dalam pandangan ini yang sifatnya irasional dan unnatural.

Bagaimana sesuatu bisa memiliki makna? Maka berdasar pada prinsip relasi pencipta-ciptaan yang berlaku pada semua yang ada di bawah langit, sesuatu baru memiliki makna jika kembali pada pengenalan akan diri. Pengenalan akan diri baru dapat muncul jika mengenali pencipta.
Untuk mengenali sebuah produk merek tertentu, tidak ada siapapun yang lebih berhak memberikan penjelasan tentang produk tersebut selain daripada pabrik atau orang yang menjadi pembuat produk. Dan kita akan dengan senang hati, terbuka, tanpa mempertanyakan apapun juga, mempercayai penjelasan dari pabrik atau pembuat produk tersebut.
Entah kenapa ketika Tuhan membukakan kepada kita bahwa manusia diciptakan oleh Dia menurut kehendak Dia supaya kita melakukan pekerjaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, untuk melakukan pekerjaan tertentu, tiba-tiba beberapa manusia menolak pemahaman tersebut untuk kemudian membangun pemahaman diri sendiri bahwa manusia adalah puncak evolusi dan tidak ada apapun atau siapapun berada di atas manusia. Bahwa manusia menentukan nasibnya sendiri dan memiliki kuasa mutlak dan pengendalian total atas hidupnya (satu irasionalitas lain lagi karena tidak seorang pun sanggup mengendalikan hari kelahiran dan kematiannya). Lalu kemudian berusaha membangun makna hidup berdasarkan sesuatu kebetulan, saya sungguh tidak bisa melihat bagian mana dari sesuatu yang terjadi secara kebetulan yang bisa mampu untuk memiliki makna yang tinggi.

Jadi, berdasarkan pemikiran tersebut, saya akan mulai berbicara tentang fungsi dari talenta. Bahwa talenta yang kita miliki sejak lahir, adalah menjadi milik kita karena ada sesuatu yang harus kita kerjakan dalam hidup ini yang sesuai dengan talenta kita. Talenta bisa ada pada kita, dan bisa kita miliki, tentunya karena ada yang memberi. Dengan pemikiran seperti ini, saya tidak menemukan jalan keluar selain daripada mengakui bahwa ada sesuatu yang menciptakan manusia dan kemudian memberikan talenta kepada manusia, untuk mengerjakan sesuatu yang sudah ditentukan supaya manusia boleh hidup di dalam makna dan tujuan tertentu sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pencipta.
Sama persis dengan sebuah telepon genggam dibuat dengan fitur-fitur dan kapasitas yang ditujukan untuk mendukung tujuan sebuah telepon genggam dibuat. Karena itu adalah sebuah kesalahan penggunaan dan seketika itu juga menghilangkan makna sebuah telepon genggam ketika dia digunakan sebagai alas kaki. Telepon genggam akan menjadi alas kaki yang sangat buruk, tetapi telepon genggam akan memiliki nilai yang sangat tinggi ketika dia berfungsi sebagai alat komunikasi. Sebuah mobil termahal di dunia, ketika disejajarkan dengan sepatu dan difungsikan sebagai sepatu, dia bahkan tidak sebagus sepatu paling jelek dan paling murah sekalipun; dia baru akan menjadi dirinya sendiri (yaitu sebuah mobil) dengan nilai paling tinggi ketika disejajarkan dengan berbagai merek mobil yang lain. Inilah masalah besar yang merupakan kekeliruan dalam prinsip persaingan dan semangat kompetisi.

Berdasar pada definisi talenta di atas, setelah menemukan dan mengenali kapasitas dan potensi diri dengan tepat, barulah manusia dimampukan untuk memiliki makna dan tujuan dalam hidupnya. Dan sekarang mengenai talenta itu sendiri, kepada setiap orang diberikan talenta yang berbeda, tentunya untuk mengerjakan sesuatu yang tertentu yang sesuai dengan maksud pemberian tersebut. Tujuan itu bisa jadi sama, atau pun bisa jadi sangat berbeda antara orang yang satu dengan yang lain.
Sama seperti kepada burung diberikan sayap yang sama sekali berbeda dengan sayap yang diberikan pada ikan. Seperti halnya seseorang yang diberi kemampuan mengolah angka dan seorang lain yang diberi kemampuan mengolah nada. Seperti juga halnya yang seorang diberikan tubuh yang besar dan kepada yang lain diberikan indra pencium dan perasa yang tajam. Yang menjadi koki hebat, tidak perlu menghina mereka yang tidak tahu bedanya daun seledri dan daun ketumbar. Yang bertenaga besar, tidak perlu menghina yang berbadan kecil.

Ada analogi yang menarik mengenai talenta yang saya temukan dalam buku orang Kristen.
Adalah seorang boss besar yang kaya raya dan mempunyai banyak perusahaan. Boss ini kemudian berencana melakukan liburan panjang dan mau berkeliling dunia, sebelum dia pergi, dia mengumpulkan tiga orang asistennya yang paling dia percaya. Pada asisten pertama, dia menitipkan sebuah toko kelontong kecil di sebuah kompleks perumahan. Pada asisten kedua, dia menitipkan sebuah restoran. Pada asisten ketiga, dia menitipkan sebuah supermarket.
Asisten ketiga ini kemudian pergi dan mengelola supermarket tersebut dan berhasil membuka sebuah cabang baru di kota lain. Asisten kedua pun mengelola restoran tersebut dan berhasil membuka cabang baru. Asisten yang pertama melihat dan memperhatikan toko kelontong kecil yang serahkan pada dia, kemudian diputuskannya untuk memasukkan semua barang dagangan ke dalam gudang dan menutup toko tersebut supaya tidak merugi.
Setelah lama berlalu, boss besar ini kembali dan memanggil semua asistennya dan meminta laporan. Asisten yang ketiga melaporkan, “boss, supermarket yang boss suruh saya kelola, sudah ada cabang satu lagi di kota lain.” Boss ini menyahut, “Bagus sekali! Kamu memang layak menjadi asisten kepercayaan saya!”
Asisten yang kedua datang dan melaporkan, “boss, restoran itu sekarang sudah ada cabang di dalam mall.” Dan boss ini menyahut, “Bagus sekali! Kamu memang layak menjadi asisten kepercayaan saya!”
Dan datanglah asisten yang pertama, dia melaporkan, “boss, mereka yang lain dapat supermarket yang besar dan restoran di mall. Saya cuma dapat toko kelontong kecil, mana bisa saya mengembangkan toko kelontong kecil untuk jadi besar. Boss tidak adil, memberi saya modal kecil sekali. Jadi daripada merugi untuk ongkos operasional, saya putuskan untuk menutup toko itu. Tokonya masih ada dengan seluruh isinya. Tidak ada yang kurang. Ini saya kembalikan.”
Boss itu kemudian menyahut, “kamu penuh dengan iri dan dengki, menuduh saya tidak bersikap adil, kamu hanya disuruh untuk mengelola, tentu setelah dikelola harus ada hasil yang sesuai. Apakah saya meminta toko kelontong untuk jadi supermarket atau jadi restoran besar? Berikan toko kelontongmu untuk dikelola oleh asisten saya yang mendapat supermarket. Kamu dipecat.”

Apakah dari contoh tersebut kita merasa bahwa boss tersebut tidak adil? Dunia kita seringkali mencampuradukkan antara keadilan dengan kesamarataan. Kalau semua mendapat sama, baru itu dikatakan adil. Prinsip keadilan itu tidak berlaku sedemikian. Kalau seseorang disuruh memberi makan dua orang anak, yang satu usia 2 tahun, dan yang satu berusia 18 tahun, kemudian berdasar prinsip kesamarataan sebagai keadilan, maka porsi makan keduanya harus sama, karena itulah yang dianggap adil. Jadi hanya ada dua kondisi yang akan muncul, entah anak berusia 2 tahun itu kekenyangan, atau anak yang berusia 18 tahun itu yang kelaparan. Inilah irasionalitas dalam pemahaman manusia terhadap fenomena, dalam hal ini adalah mengenai prinsip keadilan.

Apakah dari contoh diatas kita merasa ada yang tidak pas? Karena kita seringkali membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Selalu ada semangat persaingan dan kompetisi. Kita tidak mau melihat talenta yang kita miliki dan mengelola talenta itu sebaik mungkin dan menghasilkan semaksimal mungkin. Lihat contoh boss tadi, dia sama sekali tidak membandingkan antara yang menghasilkan supermarket dan yang menghasilkan restoran. Kepada yang dipercayakan supermarket, diminta menghasilkan supermarket. Kepada yang dipercayakan restoran, diminta menghasilkan restoran. Dalam semangat persaingan yang bodoh, kita melihat betapa hebatnya yang bisa menghasilkan supermarket, kenapa yang mengelola restoran atau toko kelontong tidak bisa menghasilkan supermarket? Kalau bisa menghasilkan supermarket itu baru bisa dikatakan sukses. Itu baru hebat. Kalau cuma bisa menghasilkan restoran, masih kurang hebat. Kurang sukses. Apalagi kalau cuma sanggup menghasilkan toko kelontong. Tidakkah itu yang selalu diumbar dan didengungkan dalam dunia kita. Dan tidakkah sekarang kita sadari itu sebagai sebuah kekonyolan?

Kegagalan mendefinisikan diri inilah yang kemudian menimbulkan keputusasaan dan kelelahan yang mengarah pada pragmatisme dan mencetuskan kalimat-kalimat untuk menjawab, “Siapakah aku?”
Jawabannya adalah, “Aku adalah aku!”; “Aku tidak mau berubah!”; “Aku adalah aku yang merupakan aku yang adanya apa.”; “Aku adalah aku yang aku ada”.
Dan yang lebih mengejutkan adalah jawaban ini kemudian sekali lagi secara irasional diterima begitu saja.

Kita perlu benar-benar berusaha merubah paradigma kita mengenai prinsip tentang kompetisi dan prinsip tentang talenta. Membangun pengertian yang benar untuk mencari jati diri dan makna diri serta tujuan hidup yang sejati di dalam diri kita masing-masing. Supaya pengertian itu melepaskan kita dari ketersesatan dan kehilangan arah; supaya pengertian itu memberikan alasan yang tepat tentang kenapa kita berada di dunia ini. Di luar dari pengertian terhadap hukum relasi pencipta-cipataan, saya tidak bisa menemukan jawaban lain yang lebih baik.

Paradoks Idealisme dan Pragmatisme Dalam Moralitas

Jurang pemisah yang terjadi antara apa yang ‘seharusnya’ dengan apa yang menjadi ‘kenyataannya’ telah lama menjadi topik dalam pemikiran para filsuf besar sejak jaman Yunani kuno hingga jaman modern. Tema besar mengenai ide dan kenyataan mencakup hal yang sedemikian luas dan berupaya membahas dalam dialog-dialog tentang apa yang didefinisikan sebagai yang ‘nyata’ dan apa yang didefinisikan sebagai ‘konsep’, hal-hal yang merupakan ‘kekacauan’ dan ‘keteraturan’ dalam skala kosmik. Pada jaman modern, David Hume adalah filsuf abad ke-18 dengan Filsafat Moral yang membahas secara khusus etika moralitas yang berkenaan dengan apa yang kenyataan dan apa yang seharusnya (Is-Ought Problem).

Dalam skala kecil, implikasi pemikiran yang sangat besar itu sangat berdampak dalam totalitasnya dengan cara kita menjalani hidup dalam keseharian. Kita menyadari bagaimana setiap manusia memiliki pikiran dan bayangan tentang bagaimana dunia yang seharusnya, dunia ide, yang dianggap sebagai dunia yang ideal. Juga tentang dunia yang lebih disadari dan sedang dihidupi, yang dijalani dalam keseharian, realita dan kenyataan yang ternyata tidak seperti yang diharapkan. Jelas keberadaan celah pemisah itu menimbulkan ketegangan-ketegangan tersendiri dalam diri manusia yang hidup. Beberapa orang memiliki celah yang lebih besar dibandingkan orang yang lain, namun tidak ada seorang pun yang memiliki hidup yang berjalan sama persis dengan yang dia bayangkan; dibuktikan dengan tidak ada seorangpun yang puas dengan kehidupan yang dijalaninya.

Professor Pitirim Sorokin, seorang sosiolog dari Harvard University mengatakan bahwa sepanjang sejarah umat manusia, manusia mendambakan masyarakat atau negara yang memilki keadilan dan kesejahteraan sebagai idealisme tertinggi. Namun hal itu tidak pernah tercapai.

Setiap manusia memiliki cita-cita, bayangan, ide, tentang apa yang dia harapkan dalam hidupnya. Itu adalah apa yang menjadi idealisme.

Setiap manusia menjalani kehidupan keseharian, yang seringkali dalam derajat yang tidak sama antara seorang dengan yang lain, berbeda dengan apa yang dia inginkan, rencanakan, atau harapkan. Itu adalah apa yang disebut sebagai dunia pragmatis. Kata pragmatis di sini berbeda dengan kata pragmatis dalam filsafat pragmatisme. Kata pragmatis disini adalah suatu sikap dalam menghadapi sesuatu secara realistis dan dengan menggunakan akal sehat yang lebih mengedepankan aspek praktis daripada aspek teoretis.

Sebagai gambaran, saya bangun di pagi hari ini dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7:20; saya membuka agenda jadwal kegiatan. Jam 9 pagi, mengurus laporan transaksi di bank. Jam 10, ada pertemuan dengan klien. Jam 12 siang, makan siang bersama rekan kerja di kantor. Jam 13, memeriksa laporan bulanan untuk mempersiapkan meeting jam 14. Terlihat cukup teratur dan sangat masuk akal. Tidak ada jadwal yang berkejar-kejaran. Semua baik-baik saja ketika saya melihat jadwal itu.
Hingga saya menyadari bahwa jam dinding di kamar tidur saya mati sejak jam 7:20 semalam. Saya memeriksa jam tangan saya disebelah tempat tidur dan waktu sekarang menunjukkan pukul 8:32.
Saya sudah terlambat. Dan saya harus merubah seluruh idealisme dalam kepala saya mengenai apa yang akan saya kerjakan hari ini dan secara pragmatis menyusun prioritas kegiatan yang harus saya buang jika saya ingin hari ini berlangsung baik. Saya kemudian membatalkan makan siang untuk mengurus laporan transaksi, karena saya sudah terlambat untuk pergi ke bank. Saya tidak bisa membatalkan janji dengan klien dan jelas saya masih harus memeriksa laporan bulanan jika saya mau mengadakan meeting jam 14.

Itu adalah yang fungsional menurut saya. Tetapi mungkin menurut orang lain, dia akan menggeser jadwal ke bank ke keesokan harinya karena satu dan lain alasan. Atau mungkin bagi orang yang lain lagi, dia akan memaksakan diri untuk tetap pada idealismenya kemudian mengerjakan semua yang tertulis di agendanya hari itu dengan perasaan tertekan, menggerutu mengenai situasinya, menyalahkan jam dinding yang mati, berlarian kesana kemari sambil menerobos antrian bank, mengebut di jalan raya, dan seterusnya, supaya hari itu berjalan seturut dengan yang dia mau.

Itulah kehidupan praktis kita sehari-hari.

“Idealis” akan membuat manusia sangat tertekan, mendorong dan memaksa agar apa yang dia mau dapat tercapai, tidak perduli apa yang harus dia lakukan, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Idealisme akan membentuk ambisi dan dorongan yang menjadi motivasi yang kuat.
Namun ditengah-tengah kehidupan ini, begitu banyak hal dan hambatan bisa terjadi karena satu dan lain hal seperti yang digambarkan oleh Murphy’s Law (Murphy’s Law secara sederhana menyatakan bahwa “Anything that can go wrong, will go wrong.” – Terj: apapun yang memiliki potensi untuk bisa menjadi salah/tidak beres, akan berjalan secara salah dan tidak beres.) Orang yang ambisius mengejar idealisme mereka kemudian menyusahkan diri mereka dengan berbagai-bagai kesulitan yang tidak perlu, mengejar hal-hal yang mungkin tidak bernilai terlalu tinggi, namun menjadi sesuatu yang sangat mereka inginkan hingga mereka mau mengorbankan apapun juga, mulai dengan diri mereka sendiri, orang-orang sekitar, teman, hingga keluarga dan orang-orang terdekat termasuk anak dan isteri.

“Pragmatis”, sebaliknya, akan membuat manusia hidup dengan lebih ringan, lebih santai, mau menerima kenyataan hidup bahwa hidup tidak akan menjadi seperti yang kita mau. Orang-orang yang pragmatis tidak mau repot dengan idealisme dan teori-teori dan konsep-konsep yang rumit dan susah. Mereka mengambil jalan pilihan untuk tidak perduli, membiarkan hidup mereka berjalan “mengikuti arus” dan mengarah pada kehidupan yang menganut paham pragmatisme. Mereka pasrah dalam hidup, bersikap cuek, karena hidup sudah cukup susah dijalani dengan kecuekan, apalagi jika masih harus ditambahi dengan pemikiran-pemikiran dan ide-ide dalam kepala mereka yang menuntut mereka kepada suatu bentuk kehidupan lain yang hanya bagus di dalam angan-angan.

Manakah yang lebih baik diantara keduanya? Idealis atau pragmatis?

“Every form of addiction is bad, no matter whether the narcotic be alcohol or morphine or idealism.” – Carl Jung

Terjemahan: Setiap bentuk kecanduan itu buruk, entah apakah candu itu adalah alkohol atau obat bius atau idealisme.

Yang lebih baik adalah memiliki hidup yang idealis DAN SEKALIGUS pragmatis. Yang benar diantara keduanya ada dalam bentuk paradoks, yaitu KEDUANYA BENAR. Idealisme tanpa pragmatisme akan menjadi hidup yang penuh dengan kesulitan karena kita memaksakan dunia yang ideal ke dalam dunia yang penuh dengan kerusakan ini. Pragmatisme tanpa idealisme akan menjadi hidup yang rusak, karena ketiadaan idealisme mendegradasi kehidupan kepada hal yang sepele dan tidak mengandung nilai yang agung maupun nilai yang tinggi.

Sebagai gambaran, moralitas dan ajaran kebaikan mengajak kita untuk hidup dengan memiliki cinta kasih, kebahagiaan, kedamaian, kesabaran, murah hati, baik, setia, lembut, dan pengendalian diri. Dan tidak ada hukum manapun yang menentang hal-hal tersebut. Namun dunia ini penuh dengan orang yang memiliki kedengkian, iri hati, kebencian, kepahitan, kekecewaan, keserakahan, garang, kasar, dan mengumbar emosi dan keinginan.

Bisakah kita secara ideal melakukan hal-hal yang baik ditengah tantangan kehidupan disekitar kita? Jika tidak bisa, apakah kita akan melompat menjadi pragmatis dan hidup dengan cara seperti semua orang lain yang berada di sekitar kita? Jawabannya, saya percaya, adalah kita tidak sanggup hidup secara idealis. Namun kita juga tidak mau hidup sembarangan.

Akan tetapi, ‘tidak mau hidup sembarangan’ pun telah membuat orang lelah karena upaya mereka hilang ditengah-tengah pengorbanan diri mereka, menjadikan mereka menjadi pragmatis juga pada akhirnya. Mereka yang berusaha dengan susah payah hidup baik, menelan kekecewaan demi kekecewaan. Mereka hidup jujur tapi ditipu, mereka hidup baik tapi hidup mereka menjadi sulit dan dibuat sulit oleh mereka yang jahat, dan menjadi seperti orang yang terkutuk, mereka menjaga pekerjaan tangannya dengan moralitas dan kejujuran dan kebaikan dan murah hati, dan usaha mereka seperti tidak berbuah, dan pekerjaan mereka seakan tidak menghasilkan simpanan untuk persediaan dimasa sukar.

Sementara mereka yang hidup sembarangan, hidup liar dan menjadi gemuk dan wajah mereka berseri-seri dengan banyak harta bendanya dan keluarganya berkelimpahan.
Jadi untuk apa hidup menjaga moral?

Jawabannya adalah untuk menjadi teladan, menjadi berkat bagi semua orang lain yang mengalami kesulitan yang sama. Menjadi teladan yang baik dan membuktikan bahwa masih ada kebaikan di dunia ini, dalam anugerah umum ditengah-tengah masyarakat yang jahat. Saya sangat suka kepada teladan Mother Teresa; itulah orang yang agung yang dikenal di seluruh dunia, bukan orang yang kaya, tapi orang yang baik. Dunia kita yang jahat pun mengerti bahwa tidak ada keagungan dalam kekayaan.

Kita menjaga idealisme kita, berupaya mencapai standard yang begitu tinggi, seperti sebuah cita-cita yang digantungkan setinggi langit, dan kita bekerja bersusah payah meraih idealisme kita. Pragmatisme tidak akan mengantarkan manusia ke bulan, dan tanpa idealisme, tidak akan ada upaya perjalanan ke bulan. Keduanya harus berjalan bersama dalam paradoksitas ide dan upaya yang benar. Beradaptasi melalui pragmatisme untuk mencapai idealisme, mencapai kondisi ideal terbaik di antara kondisi yang sudah jauh dari ideal. Mencari keadaan terbaik diantara semua yang jelek. Seperti contoh di atas mengenai hari saya yang diawali dengan jam dinding yang rusak, saya secara pragmatis berusaha untuk menghasilkan yang terbaik dari kondisi yang sudah tidak baik. Itulah paradoks idealisme dan pragmatisme dalam kehidupan.

Mother Teresa Quotes

Terjemahan:

Orang seringkali tidak beralasan, tidak berpikir logis, dan egois.
Maafkanlah mereka.

Kalau engkau berbuat baik, orang mungkin menuduh engkau memiliki motif yang buruk dan mengutamakan kepentingan sendiri.
Namun tetaplah berbuat baik.

Kalau engkau berhasil, engkau akan menemukan teman palsu dan musuh yang sejati.
Namun tetaplah mencapai keberhasilan.

Kalau engkau jujur dan terbuka, orang akan menipu dan mencurangi engkau.
Namun tetaplah jujur dan terbuka.

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun, mungkin dihancurkan orang dalam semalam.
Namun tetaplah membangun.

Jika engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan, beberapa orang mungkin akan menaruh dengki.
Namun tetaplah bersuka cita.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, seringkali dilupakan orang keesokan harinya.
Namun tetaplah berbuat baik.

Berikanlah yang terbaik yang kamu miliki, dan itu mungkin tetap tidak akan pernah cukup.
Namun tetaplah memberi yang terbaik yang kamu miliki.

Karena pada analisa terakhir, itu semua adalah tentang kamu dengan Tuhan-mu.
Semua itu tidak pernah tentang kamu dengan mereka.

Implikasi “Tak terhingga” Dalam Matematika dan Filsafat

Sejak masa sekolah, kita mengenal tanda “tak terhingga” (simbol:  ; infinity atau lemniscate) melalui bangku sekolah. Kita menemukan tanda itu pada kedua ujung positif dan negatif dalam garis bilangan, kita menemukan tanda tersebut pada prinsip operasional dasar, juga pada operasional intergral dan diferensial. Kita mengenal simbol tersebut sebagai suatu “angka” dalam garis bilangan, yang padanya terjadi perlakuan khusus.

Simbol tak terhingga itu merupakan suatu “angka” yang dapat dioperasionalkan dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, namun hasilnya tidak berubah selain daripada dirinya sendiri. “Angka” itu merupakan angka yang bukan angka, tetapi dianggap sebagai perwakilan sebuah angka namun tidak memiliki prinsip sebagai angka (baca: nilai). Secara prinsip, simbol tak-terhingga ini menjadi satu bentuk paradoks ditengah-tengah angka yang terhingga.

Sebenarnya, apakah simbol “tak terhingga” itu? Mengapa dia bisa muncul ditengah-tengah dunia kita yang tidak satupun bersifat “tak terhingga”? Jika mau dirunutkan, beberapa filsuf Yunani seperti Pythagoras, Plato, dan Aristotle mengakui keberadaan dunia yang terbatas dan dapat diukur dengan bilangan yang natural. Namun Aristotle mengenali bahwa ada banyak hal yang seakan-akan bergerak menuju kepada ke-takterhingga-an, seperti waktu yang seolah tidak berujung. Karena itulah Aristotle memiliki sebuah pemikiran tentang sesuatu yang sifatnya “mungkin tak terbatas” (potentially infinite). Seperti pada garis bilangan misalnya, Aristotle melindungi a priori tentang dunia yang terbatas dengan menjelaskan bahwa garis bilangan itu terbatas, namun sifat garis bilangan itu sendiri memiliki “potensi untuk menjadi tak terbatas” karena tidak akan pernah ditemukan angka terakhir yang jelas dan pasti yang menutup garis bilangan.

Plotinus merupakan pemikir setelah Plato, yang saya ketahui menjadi pemikir pertama yang menyebutkan ada “THE ONE” (baca: yang SATU) yang TUHAN yang tidak terhingga (infinite). Dia menyatakan bahwa SATU ini tidak pernah mengenal pengukuran ataupun pembatasan, SATU ini berada dalam ketidakterbatasan dalam apapun secara eksternal maupun internal, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya.

Agustinus (St. Augustine) kemudian menyatakan hal ini lagi dengan pengertian Plotinus ini secara lebih mendalam dan menyatakan bahwa TUHAN bukan hanya tidak terbatas, melainkan ketidakterbatasan adalah merupakan diri TUHAN itu sendiri, ketidakterbatasan bukan merupakan kondisi atau situasi yang menyebabkan TUHAN ini tidak terbatas, tetapi ketidakterbatasan ini muncul dari dalam dirinya TUHAN yang tidak terbatas yang memiliki kesanggupan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terbatas.

Dalam upaya memahami kondisi tak terhingga, manusia berulang-ulang sejak abad pertengahan mencoba merumuskan dan memahami batasan dalam dunia yang katanya terbatas ini. Namun beberapa upaya yang satu lebih banyak menghasilkan kontradiksi dibandingkan dengan beberapa tawaran penyelesaian yang lain.

Sehingga muncul beberapa teori lain yang kemudian berbalik dari upaya memahami “mungkin tak terbatas” (potentially infinite) dan mencari “pasti tak terbatas” (actually infinite) dalam dunia yang katanya terbatas ini. Yang paling saya sukai adalah teori fractal milik Mandelbrot, selain dari Koch snowflakes.

Filsafat yang satu berbicara tentang mencari batasan, yang lain berbicara tentang mencari ketidakterbatasan, dan keduanya tidak menemukan keterbatasan maupun batasan dari dunia ini. Teori matematika yang dikemukakan mulai dari Galileo, Georg Cantor, Helge von Koch, dan Benoit Mandelbrot. Perhitungan mulai dari kalkulus, hyperspace, hingga pembagian tak terbatas dari DNA kepada ‘quark’. Tidak ditemukan penjelasan tentang ketidakterbatasan. Upaya mencari hal yang tak-terhingga berujung pada “mendekati tak terhingga”, dan mencari hal yang ‘nol’ berujung pada “mendekati nol”; keduanya menjadi upaya yang tidak jelas dalam dunia yang katanya terbatas ini.

Namun simbol tak-terhingga tidak bisa dibuang ataupun diabaikan.

PARADOKS: Dimanakah batasan dunia yang katanya terbatas ini? Ataukah dunia ini sebenarnya adalah tidak berbatas?

PARADOKS: Dimanakah batasan dunia yang katanya terbatas ini? Ataukah dunia ini sebenarnya adalah tidak berbatas?

Sampai disini, saya tidak bisa melakukan hal lain selain daripada membawa kebuntuan yang tanpa akhir ini kedalam paradoks berikut penjelasan dari perspektif yang berbeda.

Ketidakterhinggaan adalah sebuah kondisi yang statis, tidak berubah, tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Dia adalah sesuatu yang sifatnya kekal. Sementara dunia kita dengan segala isinya adalah sebuah kondisi yang dinamis, selalu berubah, memiliki awal dan memiliki akhir. Dengan kata lain, tidak ada yang tinggal tetap dalam dunia kita karena satu-satunya yang tetap adalah perubahannya. Ini adalah wilayah kesementaraan. Yang kekal tidak bisa dimasukkan dalam kesementaraan. Yang sementara, tidak bisa memasuki kekekalan. Usaha terbaik dari upaya mendekati kekekalan adalah mencapai kondisi yang dinamakan “mendekati kekekalan” secara dinamis dan terus berubah dan terus menerus. Disinilah muncul dunia ide dan dunia pragmatis. Dari sinilah muncul filsafat “is-ought problem” (perbedaan antara yang kenyataan dengan yang di harapkan) yang dicetuskan oleh David Hume.

Hasil terbaik dari usaha yang terus menerus untuk mendekati kekekalan itu hanyalah pengertian mengenai kesia-siaan karena tidak mungkin kita dari dunia yang dinamis ini memasuki alam yang statis. Tidak mungkin kita dari alam yang sementara ini memasuki alam yang kekal. Dan upaya melakukannya berakhir dengan kesia-siaan.

Secara filosofi, manusia tidak mungkin mencapai tempat dimana TUHAN berada.

Tidak dimungkinkan dengan cara apapun. Dunia ilmu pengetahuan sudah mencoba membuktikannya, dan dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan hanya menghasilkan filsafat-filsafat yang terus menanyakan hal yang semakin banyak dan tidak pernah terjawab kecuali didalam religi. Dan diantara semua religi itu pun tidak semua bisa menjawab paradoks bagaimana kita yang sementara bisa mencapai tempat TUHAN yang kekal.

Setelah ilmu pengetahuan dan filsafat gagal menemukan cara untuk menuju kepada kekekalan, agama menawarkan solusinya: dengan perbuatan baik. Namun cara ini sudah dipikirkan oleh Aristotle, dikatakan bahwa sebuah perbuatan baik itu baru benar-benar baik jika ada maksud yang baik, dilakukan dengan baik, untuk tujuan yang baik, demi kebaikan, dan hasilnya adalah untuk kebaikan itu sendiri. Dan Socrates juga mengatakan bahwa kebaikan yang sejati itu haruslah berlaku secara universal.

Sekarang, bagaimanakah kita manusia dimungkinkan untuk mencapai kekekalan dengan perbuatan baik?

Definisi perbuatan baik pun sudah tidak bersifat universal dan integral. Dan seandainya, jikalau seumpama, misalnya kita berhasil menemukan definisi tentang perbuatan baik yang sifatnya universal dan integral, itupun tidak baik karena perbuatan baik kita pun tercemar oleh motivasi lain dibalik perbuatan baik kita. Jika kita gagal dititik definisi, bagaimana kita bisa melakukannya tanpa bersalah?

Coba saya jelaskan. Kebaikan itu harus bersifat universal, berarti dilakukan dimanapun, dia harus bersifat baik dan benar adanya. Juga bersifat integral, bahwa perbuatan baik itu di dalam dirinya adalah mengandung semua unsur kebaikan yang tidak tercemar, baik secara maksud, perlakuan, tujuan dan motivasi adalah murni demi kebaikan itu sendiri.

Contoh: Saya memiliki dua permen, dan saya memberikan kepada seorang teman saya salah satu permen. Apakah perbuatan ini baik? Kita lihat apakah perbuatan ini baik? Jika teman saya itu sedang sakit gigi, maka perbuatan saya adalah kurang bertanggung jawab. Jika ada beberapa teman saya disana menginginkan permen, saya menjadi “kurang baik” bagi yang lain karena saya tidak memberikan kepada mereka permen, padahal ada yang sangat menginginkan permen dari saya. Jadi saya hanya baik bagi teman yang saya beri permen, namun kurang baik bagi orang lain yang tidak kebagian permen.
Lebih lanjut lagi, apa maksud saya menjatuhkan pilihan saya untuk membagikan permen saya yang terbatas ini kepada dia, dan bukannya untuk orang lain? Mungkin saya mau supaya dia menganggap saya baik, atau mungkin karena saya menganggap bahwa dia adalah teman dekat saya yang terbaik dan saya mencoba menjaga hubungan baik itu. Sehingga perilaku saya memiliki motif dan tujuan tertentu.

Sama halnya dengan saya berusaha berbuat baik pada atasan saya, dengan maksud supaya saya boleh mendapat kemudahan kenaikan jabatan. Saya yakin tidak sepatutnya kita merayu yang SATU itu yang berada dalam kekekalan untuk meminta Dia membawa kita kepada kekekalan dengan perbuatan baik kita yang tidak seberapa. Bagaimana saya bisa berbuat baik jika perbuatan baik itu sendiri tidak boleh memiliki motif? Jadi apakah benar dengan kata-kata para agamawan yang menyarankan saya untuk berbuat baik, supaya amal saya memampukan saya masuk dalam kekekalan untuk bersama dengan yang SATU itu? Hal itu menimbulkan kontradiksi kebenaran yang sifatnya menghancurkan diri sendiri, bukannya menghasilkan paradoks.

Setiap perilaku perbuatan baik yang saya munculkan, selalu menjepit saya dan membuat perbuatan saya hingga pada level tertentu, menjadi kurang baik. Hal ini menimbulkan suatu frustasi dalam diri manusia yang berusaha mencapai kekekalan (baca: TUHAN).

Inipun sudah dipikirkan oleh filsuf sejak jaman eudaimonisme Yunani kuno. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa kebaikan itu adalah kebahagiaan kita, dan jika mungkin, menjadi kebahagiaan kita bersama dengan banyak orang. Mulai dari Sokrates, Plato, Aristotle, hingga kemudian pada Epikuros, definisi kebahagiaan menjadi apa yang disebut kenikmatan. Itulah kebaikan sejati.

Kebaikan yang disejajarkan dengan kebahagiaan yang kemudian disejajarkan pula dengan kenikmatan menimbulkan suatu pertanyaan yang tidak terungkap dalam diri manusia. Benarkah sifat mengumbar egoisme dan hedonisme diri itu merupakan kebaikan ultimat? Kaum stoic kemudian mencetuskan sesuatu yang berbeda dan berlawanan. Seperti beberapa agama yang menuntut bahwa perbuatan baik adalah menjauhi semua hal yang sifatnya sementara ini, mendekatkan diri kepada gaya hidup yang meninggalkan keinginan duniawi.

Disini saya tidak membahas jalan hidup orang yang tidak mengakui keberadaan kekekalan. Manusia yang pernah mati, belum pernah hidup kembali dan menceritakan apakah ada kehidupan setelah kematian. Yang masih hidup, belum tahu apakah ada kehidupan setelah kematian. Tapi kita semua pada akhirnya akan mengetahuinya. Dan semoga kita semua telah memilih jalan yang benar untuk menuju kepada kekekalan.

Kesemua upaya itu adalah upaya manusia dengan segala pemikiran dan agamanya yang ditawarkan ketengah dunia ini untuk mencapai kekekalan. Dan sekarang sudah dijelaskan bahwa tidak ada jalan keluar bagi manusia untuk menuju pada kekekalan. Tidak ada satu orang pun yang baik, satupun tidak. Hanya TUHAN yang baik di dalam ketidakterbatasannya, seperti yang dikatakan Plotinus dan Agustinus.

Didalam kesia-siaan upaya, kebuntuan pemikiran dalam pencarian jalan keluar, dengan apakah kita bisa mencapai kekekalan? Keputusasaan manusia memunculkan penghiburan semu dengan sikap pragmatis-nya, mengatakan bahwa semua agama itu sama, pada akhirnya nanti kita akan mencapai kekekalan dengan sendirinya; bahwa semua ini tidak perlu dipusingkan karena jika kita mengikuti siapapun yang katanya baik, kita boleh teruslah berbuat baik, nanti akan ditimbang pada akhirnya, mana yang lebih banyak, perbuatan baik atau perbuatan jahat. Dan manusia terus yakin bahwa perbuatan baiknya akan membawa dia kepada kekekalan, meskipun sudah disanggah sejak jaman Yunani kuno oleh semua pemikir besar bahwa kekekalan tidak mungkin dicapai dengan perbuatan baik, ataupun melalui perhitungan, logika, idea, dan seterusnya.

Di dalam keputusasaan ini, sekali lagi, dalam kelelahan yang sangat, saya tidak bisa tidak, mau tidak mau harus kembali pada apa yang ditulis dan dijelaskan dalam bukunya orang Kristen. Bahwa manusia tidak akan pernah mencapai kekekalan, jika kekekalan itu tidak lebih dahulu menembus dan masuk kedalam kesementaraan. Tidak ada orang yang dapat mencapai Tuhan jika Tuhan tidak terlebih dahulu membukakan jalan bagi manusia. Tidak ada jalan lain, hanya satu jalan, dan jelas bukan melalui perbuatan, melainkan melalui inisiatif Tuhan sendiri karena bagi Tuhan, tidak ada hal yang tidak mungkin dalam ketidakterbatasan pikiran Dia (pengakuan Plotinus dan Agustinus). Tuhan-nya orang Kristen mengakui sendiri dan memberitahukan (sebagai inisiator) yang berhak dia lakukan seturut dalam hukum relasi pencipta dan cipataan; bahwa tidak ada jalan lain untuk menuju kepada Dia jika tidak melalui Anak-nya yang kekal itu sebagai satu-satunya jalan “yang SATU”, supaya didalam Anak-Nya yang SATU itu, manusia bisa melakukan perbuatan yang benar-benar baik, yang tidak memiliki motif. Dialah yang SATU dan tidak terbatas yang selama ini kita cari dalam simbol tak terhingga. Dia yang tak-terhingga. Anaknya yang tak-terhingga. Kesemuanya yang TUNGGAL, yang SATU, yang ESA, bukan DUA – tetapi SATU, yang satu-satunya, karena simbol tak-terhingga bisa dioperasikan (dalam hal ini: dijumlahkan) tanpa merubah hasil selain daripada dirinya sendiri.

Tentu saja ini adalah hasil pemikiran saya. Tidak harus berlaku untuk orang lain.

Tentu saja kita semua yakin mengenai jalan yang kita masing-masing ambil. Jika tidak, tidak ada alasan untuk terus menjalani apa yang kita jalani selama ini. Tapi saya tahu persis apa yang saya lakukan adalah berdasar dan bukan merupakan fanatisme kosong.

Fanatisme dari perspektif Psikologi

Fanatisme atau fanaticism adalah sebuah pandangan atau pendapat yang ekstrem mengenai suatu pemikiran ataupun objek tertentu; seringkali lebih dikaitkan terhadap suatu konsep kepercayaan atau dogma atau paradigma. Fanatisme tidak pernah menarik untuk dibahas jika hanya mengarah pada merek mobil, alat elektronik, pakaian atau asesoris, atau gaya hidup dan kegemaran akan makanan. Namun ketika fanatisme muncul pada sebuah pandangan politik atau ideologi, issue ini menjadi sangat menarik untuk diperhatikan.

Dikatakan “menarik untuk diperhatikan” karena ketika perilaku fanatisme dibandingkan antara yang mengarah kepada objek tertentu dan yang mengarah kepada politik atau ideologi tertentu, maka akan ditemukan bahwa tidak seorangpun berkenan untuk “berdebat” atau “berargumentasi” sengit ketika membicarakan dan membandingkan objek tertentu. Sebagai contoh, tidak seorangpun berkelahi ketika berbicara tentang fanatisme terhadap merek mobil A dengan merek mobil B. Tidak seorangpun berargumen sengit ketika berbicara tentang fanatisme terhadap makanan dari restoran A dengan makanan yang sama dari restoran B.

Hampir dapat dipastikan, tentunya pendapat dan pandangan masing-masing pihak terhadap objek tertentu dapat diperdebatkan karena telah ada perbedaan analisa ketika membandingkan antara objek satu dengan objek lain. Perbedaan analisa tersebut muncul karena ada perbedaan sudut pandang secara kualitas baik dari segi kebenaran, nilai, moralitas, kaidah, manfaat, maupun variabel yang lain. Itulah sebagian kecil dari variabel-variabel yang mendasari dan akan menentukan mengapa seseorang mengambil sikap (baca: fanatisme) tertentu terhadap suatu objek.

Atau benarkah demikian adanya? Benarkah bahwa fanatisme adalah produk dari pertimbangan rasional yang sudah teruji dan dipertimbangkan serta diketahui secara tuntas, atau mendekati tuntas, atau minimal telah melingkupi sebagian besar pokok-pokok pikiran. Hal lain lagi yang menarik untuk diperhatikan.

Untuk dapat membandingkan dua merek pakaian, dan kemudian memilih merek tertentu yang akan disukai secara konsisten (baca: fanatik), seseorang haruslah melalui sebuah proses kognitif untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan seakurat mungkin, kemudian dapat ditarik sebuah kesimpulan yang valid, baik dan benar. Kedua merek tersebut dibandingkan, mulai dari desain dan siapa desainernya, pemilihan bahan, kehalusan pembuatan, dan banyak faktor yang lain. Bagaimana dengan memilih sebuah partai politik tertentu, atau ideologi tertentu, atau agama tertentu? Tanpa memiliki data statistik yang akurat, saya cukup yakin bahwa sebagian kita akan setuju terhadap pandangan saya bahwa ‘banyak’ orang-orang yang tidak melakukan proses kognitif yang seharusnya dia jalankan ketika mereka menjatuhkan pilihan pada objek politik atau ideologi tertentu.

Jika demikian halnya, bahwa pengambilan keputusan tersebut tidak didasarkan pada proses berpikir yang mengarah pada pengambilan kesimpulan, lalu dengan apakah seseorang memutuskan pilihan pada objek politik atau ideologinya? Dengan presuposisi apa dia melakukan pemilihan? Dengan perasaan belaka kah? Apakah perasaan tersebut bisa dipertanggungjawabkan dan dijelaskan?

Jawabannya adalah dengan keyakinan (baca: iman).

Tetapi keyakinan itu sendiri tidak akan pernah cukup jika tidak kemudian dilanjutkan dengan proses kognitif yang memadai. Cara berpikir pragmatis (atau filsafat pragmatisme) yang melanda era jaman post-modern telah membuat manusia sangat malas berpikir dan menghilangkan sifat keingintahuan tentang begitu banyak hal. Bahkan bisa dikatakan bahwa mereka tidak perduli dengan apapun yang terjadi disekitar mereka kecuali mereka ikut merasakan dampaknya. Mereka tidak berusaha belajar dari pengalaman orang lain, mereka tidak berusaha mengerti dalam keluasan dan wawasan serta sudut pandang yang kritis tentang apapun, mereka bahkan tidak berniat belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Keyakinan adalah yang mendahului semua proses pembelajaran kita sejak masa kecil kita. Kita yakin bahwa kalimat yang diucapkan oleh guru kita adalah benar. Kita yakin bahwa tulisan yang berada dalam buku pelajaran kita adalah benar. Kita yakin bahwa sekolah yang kita masuki akan memberikan kita ilmu yang benar. Tanpa keyakinan, kita tidak akan belajar apapun juga.

“Credo ut intelligam” (I believe so that I may understand) – Anselm of Canterbury

Terjemahan: Aku percaya supaya aku bisa mengerti

Fanatisme dalam dunia politik dan ideologi/agama adalah seperti meyakini bahwa “1 + 1 = 2”. Itu saja. Sesederhana itu. Atau paling tidak, itu yang saya kira. Seorang fanatik adalah orang yang sedemikian yakin bahwa dia sedang mempercayai dan melakukan kebenaran, dia tidak perduli dengan pendapat orang lain, dia tidak dapat diyakinkan sebaliknya. Percaya diri. Itu seharusnya bagus. Paling tidak, saya kira itu bagus.

Tentu saja itu akan menjadi mudah ketika seseorang dihadapkan pada “1 + 1 = 2”, atau ketika dia dihadapkan pada persoalan untuk memilih pakaian atau mobil atau makanan seperti pada contoh kita diatas. Tapi ternyata fanatisme tidak sesederhana yang saya kira.

Fanatisme lebih mengarah pada perilaku obsesif yang ekstrem di dalam diri seseorang untuk meyakinkan dirinya sendiri mengenai pandangannya terhadap objek fanatismenya. Dia meyakinkan dirinya sendiri sampai pada tahap bahwa dia yakin dan percaya bahwa dia tidak bersalah dalam pandangannya terhadap sebuah objek. Ini adalah sebuah keyakinan, ini bukan lagi tentang pemikiran dan pertimbangan, ataupun proses kognitif.

Lebih jauh lagi, mereka tidak hanya yakin bahwa mereka adalah benar. Melainkan mereka yakin bahwa mereka tidak mungkin bersalah, dan tidak akan pernah bersalah mengenai konsep politik atau ideologi atau bahkan dalam seluruh sistem kepercayaan yang mereka miliki. Dan karena mereka sedemikian yakin bahwa mereka adalah pada dasarnya merupakan kebenaran, mereka akan memunculkan pandangan itu dalam perilaku mereka dengan derajat yang berbeda-beda.

Beberapa menunjukkan dalam sikap defensif yang berlebihan dengan ketakutan bahwa keyakinan mereka akan dirobohkan kemudian kehilangan keyakinan yang menjadi jati diri mereka. Yang lainnya menunjukkan sikap ofensif dengan selalu membicarakan topik yang sama dan mengajak orang lain berdebat untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan menunjukkan sikap permusuhan ketika argumennya dipatahkan.

Orang-orang tersebut menjaga fanatisme yang mereka miliki bukan dengan pengetahuan yang cukup, melainkan dengan keyakinan yang mereka lindungi sedemikian sehingga mereka secara konsisten mencari untuk bergabung dengan orang-orang yang setuju dengan mereka dan memupuk kepercayaan diri mereka dengan cara yang salah. Dan sekali lagi perkiraan saya salah. Itu tidak bagus.

Tadi saya mengambil contoh mengenai proses belajar. Bahwa untuk bisa belajar, kita harus memiliki keyakinan bahwa sumber pembelajaran kita adalah benar. Keyakinan adalah yang memulai segala proses pembelajaran kita. Kita harus yakin (baca: fanatik) dulu bahwa apa yang kita yakini adalah kebenaran. Dan proses ini mendahului proses kognitif yang kita miliki. Ini adalah paradoks dalam proses pembelajaran. Bagaimana kita bisa yakin bahwa yang kita pelajari itu adalah benar jika kita belum tahu apakah yang akan kita pelajari itu benar? Tapi jika kita tidak mau yakin bahwa apa yang kita pelajari itu benar, bagaimana caranya kita bisa belajar apapun juga?

“I do what I think and I think what I believe.”  Francis Schaeffer

Terjemahan: Aku melakukan apa yang aku pikirkan dan aku memikirkan apa yang aku percaya

TIdak ada yang salah dengan fanatisme yang benar, yang berdasar, yang berpengetahuan. Tidak ada yang salah dengan memiliki keyakinan terhadap apapun juga, baik objek, atau politik, atau ideologi, atau agama tertentu, namun keyakinan itu haruslah dikonfirmasi dengan pengetahuan yang lengkap. Karena keyakinan yang benar harus menuntut pengetahuan yang menopang dia secara cukup. Keyakinan yang benar harus menuntun orang kepada pengertian yang membuktikan bahwa keyakinan itu adalah memang benar adanya.

Kembali pada contoh proses belajar diatas, keyakinan tentang sumber pembelajaran yang benar itu haruslah dikonfirmasi dengan mengkonfrontasikan keyakinan itu dengan apa yang kita pelajari. Apakah 1 + 1 adalah benar-benar 2? Apakah cahaya putih yang kita lihat itu adalah cahaya yang berwarna putih ataukah warna putih itu dihasilkan dari spektrum warna yang menimbulkan cahaya yang kita sebut berwarna “putih”? Apakah partai politik tertentu berisi orang-orang yang memiliki kualifikasi yang baik, memiliki moral yang baik, sehingga dikemudian hari dia akan menepati janjinya dan tidak akan merugikan rakyat dan negara yang dipimpinnya? Apakah nilai moral yang baik itu secara definisi dan praktika?

Berdasar pada kutipan Francis Schaeffer, “aku melakukan apa yang aku pikirkan dan aku memikirkan apa yang aku percaya”; apakah kepercayaan tertentu menghasilkan nilai moral tertentu? Bisakah ajaran dan kepercayaan yang baik menghasilkan nilai moral yang tidak baik? Sebaliknya, bisakah ajaran dan kepercayaan yang tidak baik menghasilkan manusia yang berkualitas baik?

Kita mengenal peribahasa, “dari mulut anjing, tidak bisa keluar gading.” Dari yang berkualitas rendah, tidak bisa keluar sesuatu yang agung. Dan kita juga mengenal peribahasa, “tidak ada gading yang tidak retak.” Yang bermakna bahwa dari yang agung pun tidak luput dari kecacatan, dan memang ada gading yang retaknya banyak, jadi gading yang dibuang ke tempat sampah, namun ada gading yang retaknya sedikit, yang harganya sangat amat mahal.

Fanatisme (seperti halnya pembelajaran), boleh keluar dari suatu keyakinan (baca: iman) karena memang sedemikian sepatutnya. Namun fanatisme yang berhenti pada keyakinan itu sendiri adalah sesuatu yang sangat rapuh dan tidak bertanggung jawab. Seperti halnya saya mengatakan bahwa nasi goreng di warung seberang kantor saya itu sangat enak. Saya yakin itu enak, karena baunya harum dan kalau siang ramai pembeli. Saya tidak pernah makan disana, saya tidak mau makan disana. Tapi menurut saya, yakin bahwa nasi goreng disana enak. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

Pimpinan politik yang saya pilih itu baik. Karena parasnya bagus. Karena kata-katanya manis dan sedap didengar. Karena dia memberikan uang kepada saya untuk ikut kampanye, pasti dia murah hati dan baik. Pokoknya dia baik. Saya tidak kenal dia. Tapi menurut saya, yakin dia baik. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

Keyakinan saya benar. Saya yakin pemimpin agama saya mengajarkan yang baik. Pokoknya menurut saya, yakin bahwa itu baik. Saya tidak perlu tahu apapun juga. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

“Faith seeking understanding”  Anselm of Canterbury

Terjemahan: Keyakinan menuntut pengertian