Q: Bagaimana mungkin tidak ada seorangpun yang baik?

ABerbicara tentang kebaikan hampir selalu mengarah pada hal yang sifatnya lebih kepada pembicaraan filsafat dan teologi sebagai ujung terakhir. Sadar ataupun tidak sadar, kita berbuat baik karena ada tuntutan dalam diri kita, suara hati nurani dan kesadaran yang menganiaya kita, menuntut kita untuk melakukan hal yang baik seturut dengan pengertian yang kita miliki, dan terlebih lagi untuk menghindari perasaan bersalah yang akan menjauhkan kita dari ketenangan diri. Hati nurani dan kesadaran akan perasaan bersalah adalah sebuah konsep pengertian akal budi yang hanya dimiliki manusia, jauh di dalam jiwa kita tentang penghukuman dan pembalasan yang setimpal dengan perbuatan kita.

Dalam pengertian akan penghakiman dan penghukuman serta pembalasan itulah setiap orang, pribadi lepas pribadi, masing-masing orang sepanjang sejarah di sadarkan akan konsep ‘keselamatan’ dalam ‘kehidupan setelah kematian.’ Itulah yang mendorong orang untuk berbuat baik. Namun tidak ada yang baik, tidak ada yang sanggup berbuat baik dalam kebaikan yang sempurna. Tidak ada seorang pun memiliki kebaikan yang bisa dipertimbangkan sebagai alasan bagi dia untuk boleh diselamatkan. Itu adalah kesadaran yang mengerikan bagi orang sepanjang sejarah, sehingga muncullah perlawanan terhadap figur tuhan karena tuhan sangat mengganggu eksistensi manusia. Jika tidak ada tuhan, maka tidak ada penghakiman. Siapa pula tuhan itu sehingga dia berhak seenaknya menentukan nasib manusia. Manusia bahkan tidak tahu apakah dia ada atau tidak. Hal-hal inilah yang dibahas oleh agnostisisme.

Namun sekali lagi, hati nurani, moralitas, kesadaran dan perasaan bersalah terus menegur jiwa manusia. Walaupun pragmatisme berusaha membunuh suara hati nurani, namun suara itu hanya membungkam, tidak pernah mati. Itulah sebabnya tidak pernah luntur dalam sepanjang sejarah manusia, upaya manusia berbuat baik supaya dia boleh diterima dalam kehidupan yang baik sesudah kematian. Tapi sebagian kita menyadari bahwa perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan kita, karena alasan yang sangat sederhana dan mudah, “tidak ada yang baik, seorang pun tidak. Hanya TUHAN yang baik.”

Sebenarnya pertanyaan ini memiliki antitesis, “Siapakah yang bisa dikatakan baik?” Dan antitesis itu membawa tiap orang kepada satu perenungan, “Apakah baik itu?”

Serta merta kita akan menyadari bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kebaikan yang kita lakukan adalah sangat terbatas, berlaku sementara, dan terpecah-pecah. Baik bagi satu orang, belum tentu baik bagi orang yang lain. Orang hanya akan mengatakan kita baik jika kita menguntungkan atau melakukan hal yang dia sukai. Kita hanya bisa dikatakan baik dalam satu waktu dan kondisi tertentu, tapi tidak dalam totalitas keseluruhan hidup kita.

Siapakah yang berani berkata, “Aku ini orang baik.” Dia yang berani berkata sedemikian sudah pasti tidak baik, satu hal yang pasti, dia adalah pembohong. Atau tentu saja, jika dia gila. Agama menuntun kita untuk melakukan perbuatan kebaikan supaya kita boleh diselamatkan (baca: pergi kepada tuhan, di sorga, di nirvana, di langit, dan seterusnya), namun semua agama sendiri menyadari bahwa kebaikan tidak mungkin dilakukan secara universal, secara integral, oleh setiap orang.

Ketika seseorang bersedekah terhadap pengemis, ada banyak pengemis lain yang tidak mendapat sedekah dari kita. Ketika kita membantu anak yatim piatu, ada ratusan anak yatim lain yang tidak mendapat kebaikan dari kita. Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.
Ketika kita menolong seseorang, ada puluhan orang yang datang kepada kita yang tidak sanggup kita tolong. Jadi bagaimana kita bisa menjadi baik secara utuh dan sempurna supaya kita boleh diselamatkan? Semakin kita berusaha baik, semakin tidak baik kita jadinya.

Sebagian besar kita tidak menyukai mereka yang hanya berbuat baik pada kita karena sedang ‘ada maunya.’ Kita jengkel karena kita merasa diperalat. Datang membawa bingkisan dan hadiah kecil, supaya kita membalasnya dengan melakukan sesuatu untuk mereka. Kita juga tidak senang jika kita datang kepada seseorang untuk meminta bantuan, kemudian malah kita diperas dan diminta untuk memberikan bingkisan. Perbuatan baik dengan motivasi tertentu tidak bisa dikategorikan sebagai kebaikan.
Tapi tidakkah itu yang dilakukan oleh orang yang katanya beragama? Agama ‘mengajarkan’ cara untuk memperalat tuhan, berbuat sedikit kebaikan supaya tuhan mau menyelamatkan kita dan membawa kita ke surga. Perbuatan baik kita tidak pernah lepas dari motivasi tertentu, entah tersembunyi atau mungkin terang-terangan.

Karena kesadaran akan ketidakmungkinan untuk melakukan kebaikan secara sempurna, pemikiran curang manusia menambahkan pengajaran baru, bahwa akan ada “pengadilan” yang menimbang perbuatan baik kita terhadap perbuatan buruk kita. Melebih-lebihkan nilai perbuatan baik kita di hadapan tuhan, seolah kita layak atau bahkan berjasa kepada tuhan. Padahal di dalam segala hal ada relasi pencipta-ciptaan yang berlaku di alam semesta ini, dan adalah kegagalan di titik pertama ketika munculnya pemikiran bahwa kita memiliki kemungkinan untuk memiliki jasa dihadapan pencipta kita.
Tapi baiklah kita bahas pula kemungkinan ini. Benarkah kebaikan kita bisa lebih banyak atau paling tidak sama banyak dengan kejahatan dan kesalahan kita?

Ilustrasi kecil:
Apakah saja syarat murid sekolah yang baik? Patuh pada guru. Hormat pada yang lebih tua. Tidak mencontek. Tidak berbohong. Tidak mengganggu teman. Belajar yang rajin. Datang sekolah tepat waktu. Menjaga ketertiban sekolah.
Jika seorang anak melakukan kesemuanya dengan sempurna, tapi suatu hari dia datang sekolah terlambat, dengan sejuta alasan yang valid dan masuk akal. Apakah dia masih bisa dikatakan sebagai murid yang baik? Jika selama dia bersekolah selama 300 hari selama setahun, dia tidak belajar dengan rajin suatu ketika, apakah dia masih bisa dikatakan murid yang baik? Jadi berapa kali dia boleh ‘TIDAK BAIK’ dan masih dapat dikatakan bahwa dia ‘MASIH BAIK’? Satu aturan dilanggar, dia sudah melanggar semua aturan.

Ilustrasi yang lebih ekstrim:
Apakah syarat istri yang baik? Rajin mengurus rumah. Merawat suami dan anak. Teliti dalam urusan rumah tangga. Pandai berdandan. Bisa masak. Memberikan pertimbangan dan nasihat yang baik bagi suami dan anak-anaknya.
Kemudian dalam 40 tahun pernikahan, dia pernah satu kali tidur dengan pria lain. Apakah dia masih merupakan istri yang baik?

Demikian pula kita dalam hidup kita. Benarkah kita berani mengatakan bahwa jika kebaikan dan kejahatan saya selama hidup ditimbang, maka saya masih ada kelebihan baik. Benarkah kita berani mengakui bahwa kita baik dihadapan tuhan dan meminta dia untuk menyelamatkan kita?

Apakah benar-benar agama atau diri kita sendiri yakin bahwa kita bisa diselamatkan oleh perbuatan baik? Justru karena adanya tuntutan moral dan segala hukum yang berlaku, membuktikan kepada kita bahwa kita tidak bisa berbuat baik. Karena kita tidak bisa berbuat baik, maka kita semua tidak bisa diselamatkan.
Seluruh agama adalah sia-sia. Seluruh upaya manusia untuk bisa diselamatkan adalah upaya menjaring angin. Kita tidak bisa diselamatkan. Jika kita bahkan tidak bisa berbuat baik, dengan apa kita bisa diselamatkan? Jika perbuatan baik kita (jika seandainya, seumpama, misalnya, contoh omong kosong jika kita benar-benar berbuat baik tanpa cela) pun pada dasarnya disertai oleh motivasi tertentu, masihkah kita bisa disebut baik? Karena kita mengharapkan imbalan atas jasa kita. Sebuah buku filsafat Islam yang pernah saya baca memberikan ilustrasi yang menarik: perbuatan baik itu seharusnya seperti saat kita buang air besar, tidak ada motivasi, ikhlas, penuh kerelaan, tidak mengungkit jasa kita kepada siapapun di kemudian hari. Itulah perbuatan baik yang sejati.

Tidak ada yang baik. Seorang pun tidak.
Tidak ada jalan keluar lain. Kita tidak bisa diselamatkan jika kita tidak menghadap Tuhan dan membesar-besarkan jasa kita dihadapan-Nya (tapi itu akan membuat manusia semakin berdosa, bahkan menurut etika rendah manusia; Apalagi di dalam etika Tuhan.)
Namun bukunya orang Kristen memberikan kepada kita penghiburan dan jalan keluar. Karena manusia tidak bisa berbuat baik dan tidak bisa menyelesaikan dosanya sendiri dalam hidupnya di hadapan tuntutan penghakiman keadilan TUHAN, maka Tuhan mengutus Anak-NYA sebagai satu-satunya jalan keluar, supaya mereka yang percaya pada berita aneh dan supranatural itu boleh diselamatkan. Tuhan Yesus, Anak Tunggal Tuhan, mengambil bentuk manusia supaya Dia bisa mati, menggantikan manusia berdosa, menyatakan kasih Tuhan yang besar untuk manusia yang berdosa. Harus bentuk manusia, karena Dia tidak bisa mati jika Dia tetap sebagai Tuhan.
Kasih itu tidak murah, karena masih ada keadilan yang harus ditanggungkan sebagai pertanggungjawaban manusia. Manusia boleh saja meminta maaf dan manusia akan dimaafkan hanya di dalam Kristus Yesus sebagai pengganti yang sah yang diakui Tuhan, tapi konsekuensi hukuman harus jalan dan masih ada ganti rugi yang harus dibayar seturut dengan keadilan Tuhan. Sehingga itulah yang dikerjakan dalam karya keselamatan, Anak Allah yang tunggal itu menggantikan manusia dan mati di dalam kesucian dan ketidakberdosaan untuk memuaskan penghakiman Tuhan.

Jangan ditanyakan kenapa harus cara itu, Dia pencipta. Cara apapun yang Dia lakukan, selalu akan ada manusia yang mempertanyakan, “kenapa harus cara itu?” Dia berhak menggunakan cara itu. Dan itulah jalan keluar yang ditawarkan. Kita mau menerima atau menolak, Tuhan tidak rugi apapun juga.

Advertisements

Spiritualitas Dalam Sosiologi dan Filsafat

Secara sosiologi, filsafat, dan kebudayaan, sudah sangat lama di dalam sejarah manusia kita mengenal apa yang disebut sebagai penyembahan terhadap suatu demiurge (Bahasa Inggris; terj: entitas/keberadaan yang menjadi sumber keteraturan dan penciptaan alam semesta) yang bisa berupa kuasa atau pribadi atau banyak pribadi yang dipercaya melampaui kekuatan manusia dan alam semesta, yang mengatur seluruh jalannya dunia ini. Ada suatu kekosongan yang terasa sangat perlu dan mendesak dalam diri manusia untuk diisi dengan sebuah pengakuan bahwa manusia harus tunduk mutlak di bawah kuasa itu.

Demikianlah muncul segala ide tentang agama dan kepercayaan sepanjang sejarah hidup manusia. Melalui rasionalisme otak, dihasilkan segala pengetahuan dan filsafat untuk mendefinisikan kuasa yang agung berikut sistematika kepercayaan mereka di dalam mitos dan legenda para dewa. Melalui perasaan dan persepsi hati, dihasilkan segala pengertian dan filsafat yang mendefinisikan jalan tentang kebenaran yang megah dalam pengajaran-pengajaran tentang kehidupan.

Sejalan dengan itu, muncullah kemudian berbagai macam agama dan kepercayaan yang membentuk suatu sistem pengetahuan dan pengertian yang kemudian dijadikan penuntun dan pedoman hidup bagi manusia.  Berbagai macam, namun dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu semua kepercayaan yang sifatnya antroposentris (berpusat pada manusia) dan theosentris (berpusat pada tuhan).

Untuk membatasi keluasan dan kebesaran topik ini, antroposentris theistik dan theosentris akan menjadi perspektif utama dalam tulisan ini. Saya tidak akan membahas gnostisisme  dengan ekstensinya dan saya tidak sanggup membahas perdebatan agnostisisme.

Secara umum, segala hal dalam berbagai keunikan konsep dan prinsip masing-masing yang dipercaya oleh manusia sebagai demiurge akan disebut sebagai ‘agama’. Hanya ada dua macam kelompok besar agama dalam dunia ini sepanjang sejarah manusia sejak semula. Agama yang sifatnya antroposentris, yaitu agama yang menjadikan manusia sebagai pusat. Dan agama yang sifatnya theosentris, yaitu agama yang menjadikan tuhan sebagai pusat. Ada sangat banyak kata tuhan yang digunakan dalam kesemua agama tersebut. Ada banyak pengakuan terhadap berbagai figur yang disebut tuhan dalam bentangan sejarah. Dan selamanya selalu ada keterkaitan antara prinsip ketuhanan dan prinsip kebenaran yang tidak bisa dilepaskan dalam esensi setiap agama.

Tuhan adalah pasti benar dan kebenaran sejati pasti adalah kebenaran tuhan, menurut pengikutnya masing-masing. Jika tuhan bisa salah atau jika tidak ada kebenaran dalam dirinya, maka pasti tuhan itu bukan tuhan. Sekarang, permasalahannya adalah siapakah penentu kebenaran tuhan? Tuhan itu benar atau salah menurut siapa, menurut manusia kah atau menurut tuhan? Apakah tuhan berhak menentukan kebenarannya sendiri ataukah manusia yang lebih berhak menentukan?

Ada penyembahan tuhan yang menuntut pengorbanan manusia; baik berupa materi, jiwa, hingga nyawa. Ada pula penyembahan tuhan yang menuntut pengorbanan hewan. Mana yang lebih benar? Apakah kita akan mengatakan bahwa pengorbanan hewan itu benar. Pengorbanan manusia itu juga benar asal tidak mengambil nyawanya atau asal manusia tidak disembelih. Jadi siapakah penentu kebenaran?

Yang terjadi kemudian adalah manusia mulai menilai tuhan yang lain, agama yang lain dari yang dia percaya, karena menurut dia, tuhan yang lain itu salah kalau meminta manusia untuk disembelih. Tapi bagi orang-orang yang mengikuti ajaran agama itu, hal itu dianggap wajar. Apakah memang manusia merupakan titik mutlak penentu kebenaran dalam agama? Jika jawabannya adalah ‘ya’, maka suatu pandangan terhadap suatu agama atau kebenaran terhadap suatu agama bersifat antroposentris.

Antroposentris

Inilah yang terjadi sepanjang sejarah, manusia saling menghakimi dengan standar masing-masing dan saling bertikai karena perbedaan sudut pandang. Menganggap diri lebih benar daripada yang lain. Terlihatlah dengan sangat jelas, bahwa ternyata ada kebenaran yang benar-benar BENAR dan ada kebenaran yang tampaknya kurang BENAR. Hal itu terdapat dalam argumentasi yang berbasis pada pemikiran manusia (antroposentris). Yang benar menurut manusia yang satu belum tentu benar bagi manusia yang lain. Hal ini menimbulkan upaya untuk mencari kebenaran yang sejati dalam seluruh pemikiran manusia, mulai dari Shakyamuni, Lau Tzu, Confucius, Plato, Socrates, dan Aristotle.

Inilah yang terjadi dalam perdebatan agama antroposentris. Agama yang berpusat pada manusia. Manusia memiliki agama yang berasal dari pemikirannya sendiri tentang tuhan, menjadikan tuhan itu dari gambar dan rupa manusia atau rupa hewan atau yang lainnya, dan disembah untuk mendatangkan manfaat bagi manusia. Manfaatnya adalah untuk menjadi jaminan dalam kehidupan setelah kematian atau sekedar alasan manfaat yang praktis yaitu untuk mendatangkan kehidupan yang nyaman dan jauh daripada kecelakaan.

Upaya mencari kebenaran itupun kemudian menyatakan bahwa kebenaran itu tidak bisa berasal dari manusia karena manusia ternyata bisa bersalah dan kebenaran dalam sifat manusia tidak bersifat mutlak. Jika demikian, bagaimana mungkin dari dalam diri manusia bisa memunculkan kebenaran yang benar-benar BENAR? Jika manusia pasti bersalah, bagaimana dengan agama yang berasal dari kebenaran dan pemikiran menurut manusia yang bersalah, tidakkah berarti bahwa agama itu pula akan memiliki kesalahan-kesalahan di dalam dirinya sendiri?

Demikianlah kemudian orang mulai menyadari bahwa melalui diri manusia dan agama yang muncul dari dalam diri manusia memiliki kelemahan yang besar. Manusia hanya mampu untuk memikirkan jalan keluar di dalam perbuatan baik dan berharap bahwa perbuatan baik itu nantinya akan membawa dia kepada tuhan. Namun tidak ada kepastian di dalam pemikiran itu dan tidak jalan keluar yang mutlak melalui kebenaran tersebut.

Theosentris

Setelah tahun masehi, muncul pemikiran baru dalam dunia, yaitu bahwa kebenaran itu baru benar-benar BENAR jika dimunculkan oleh kebenaran yang tidak berasal dari manusia, melainkan langsung dari tuhan. Tuhan dianggap sebagai figur mutlak di luar diri manusia yang tidak bisa bersalah, sehingga kebenaran tuhan juga tidak bisa bersalah. Tuhan dijadikan figur utama dalam agama dan berada dalam tingkatan yang lebih tinggi daripada manusia di dalam kesempurnaannya.

Karena itu kemudian muncul pula banyak agama yang katanya dari tuhan, dalam berbagai variasi dan mengakui bahwa di dalam dirinya tidak bersalah, dibanding dengan semua agama lain yang berasal dari pemikiran dan bijaksana manusia yang bercacat di dalam dirinya sendiri. Jika suatu agama adalah berasal langsung dari tuhan yang tidak bersalah, maka agama itu pasti tidak bersalah.

Setelah tahun masehi itulah muncul istilah ‘wahyu’ yang secara spesifik dikaitkan dan dimengerti sebagai ‘tuhan sendiri yang menyatakan dirinya secara terbuka dan terus terang kepada manusia’. Wahyu adalah kebenaran tuhan yang diturunkan dari kekekalan yang statis kepada dunia sementara yang sifatnya dinamis. Dari sudut pandang dan gaya bahasa agamawi: Turunnya tuhan yang sejati yang menyatakan dirinya ke tengah-tengah dunia itulah disebut sebagai wahyu tentang kebenaran yang sejati. Tuhan yang menyatakan dirinya kepada manusia. Agama theosentris ini kemudian merasa lebih percaya diri akan kemutlakkan kebenarannya setelah mereka membandingkan dirinya dengan agama lain yang sifatnya antroposentris.

Namun dengan adanya berbagai agama yang berasal langsung dari tuhan yang menyatakan dirinya ketengah-tengah sejarah, muncul kemudian perdebatan baru, manakah diantara agama theosentris itu yang benar-benar BENAR? Karena semua yang sifatnya sejati seharusnya hanya boleh ada satu. Seharusnya hanya ada satu yang benar. Di luar yang satu yang benar itu berarti ada yang tidak benar. Jika semua manusia yakin bahwa semuanya benar, maka tidak akan pernah ada pertikaian antar umat beragama. Tidak akan ada orang atau kelompok yang merasa agamanya lebih benar daripada yang lain yang kemudian mengatasnamakan agama untuk menganiaya agama yang lain.

Penganiayaan antara manusia beragama atas nama agama justru terjadi saat manusia merasa mutlak yakin bahwa agamanya yang katanya berasal dari tuhan itu adalah kebenaran yang sejati. Sebelum muncul keyakinan itu, penganiayaan antar manusia lebih bersifat antroposentris, yaitu kebencian, iri hati, dengki, keserakahan, dan seterusnya.

Hal ini menimbulkan kerumitan yang baru. Karena sama-sama merasa bahwa kebenaran dan agama yang mereka miliki adalah dari tuhan langsung, semua merasa bahwa kebenaran yang mereka miliki adalah yang benar-benar BENAR. Sikap kritis yang mula-mula ada untuk mempertanyakan dan memikirkan tentang kebenaran, sekarang digantikan dengan berbagai perilaku fanatisme mulai dari yang sifatnya membabi buta, tertutup, tidak berpengetahuan ataupun yang berpengetahuan namun sempit dan tertutup; Hingga kepada fanatisme yang berpengertian dan terbuka yang sudah tidak bisa lagi dikatakan sebagai perilaku fanatik melainkan sebuah keyakinan yang berpengetahuan.

Antroposentris Dalam Theosentris

Hal lain yang muncul kemudian adalah bahwa karena kebenaran itu di wahyukan, maka kebenaran itu harus dipelajari dengan metode yang berbeda karena bukan berasal dari pengetahuan manusia. Dalam proses pembelajaran dan upaya memahami kebenaran tuhan, terjadi kesulitan yang sama dengan semua permasalahan agama yang berasal dari alam dan pemikiran manusia. Interpretasi terhadap alam yang dilakukan oleh orang yang berbeda, menimbulkan interpretasi yang berbeda. Demikian pula interpretasi terhadap kebenaran yang katanya dari tuhan, dilakukan oleh orang yang berbeda, menimbulkan pemahaman yang berbeda. Dan akhirnya, dalam satu alam, muncul berbagai agama. Seperti juga dari yang bahkan katanya satu kebenaran, muncul prinsip agama yang berbeda. Dalam satu interpretasi kebenaran, muncul kepercayaan yang berbeda dalam aplikasinya. Dan terus berulang-ulang terjadi berbagai perbedaan. Hal itu dapat terjadi semata-mata karena cara interpretasi kebenaran yang katanya diwahyukan, diperlakukan sama halnya dengan kebenaran yang berasal dari alam, yaitu di tinjau dari perspektif manusia sebagai pusat kebenaran.

Manusia tetap saja tidak memahami satu hal penting. Ada satu kegagalan dan kesalahan yang terus menerus dilakukan oleh kebanyakan manusia dalam upaya menginterpretasi entah alam, entah kebenaran, entah yang dari pemikiran manusia maupun dari wahyu: manusia menginterpretasikan segalanya secara antroposentris. Saya tidak bisa menyalahkan kegagalan interpretasi terhadap segala hal yang pada dasarnya adalah antroposentris dari sudut pandang antroposentris. Tapi saya menyesalkan adanya upaya meninjau segala hal yang bukan antroposentris (dalam hal ini bersifat theosentris) dari sudut pandang antroposentris.

Kita harus meninjau wahyu yang katanya berasal dari tuhan, tentunya dari sudut pandang tuhan. Tuhan yang mewahyukan kebenarannya, maka kebenaran itu harus kita tinjau secara theosentris. Akan menimbulkan kekacauan pengertian jika sesuatu yang theosentris pun kemudian kita turunkan dan kita analisa secara antroposentris. Jika kita meyakini bahwa wahyu itu adalah tuhan yang berbicara, maka sudah sepatutnya kita mendengarkan apa yang tuhan mau bicarakan.

Namun seringkali manusia hanya mau mendengarkan apa yang dia mau dengar, melihat apa yang mau dia lihat, dan akhirnya, dia hanya bisa mengerti tentang apa yang dia mau mengerti. Sesuatu yang theosentris pun kemudian menjadi bersifat antroposentris. Dengan munculnya orang-orang yang menginterpretasikan agama seturut dengan kepentingan dia, keinginan dia, tujuan dan rencana, baik secara religius ataupun pragmatis, baik untuk tujuan sosiologi, politik, ideologi, agama, dan seterusnya, menjadikan agama yang katanya paling theosentris bisa menjadi agama yang sifatnya tidak berbeda jauh dengan agama lain yang sifatnya antroposentris. Agama yang dari tuhan pun akan kemudian menjadi agama yang sangat bersifat humanis, mengutamakan kepentingan manusia dengan segala keinginan dan nafsunya yang tidak terpuaskan. Untuk kemudian menjadikan tuhan sebagai sarana mencapai cita-cita, memperalat tuhan untuk membenarkan diri sendiri, dan kemudian menjadikan kekekalan tuhan persis seperti keadaan dunia ini berikut dengan egoisme manusia.

Tuhan pun ditakar menurut pemikiran manusia dan ajaran tuhan dianggap tidak masuk akal manusia, kecuali kebesaran dan kuasa dia yang bisa diperalat untuk kepentingan manusia. Bahwa di dalam tuhan tidak ada yang mustahil, bahwa di bersama tuhan semua akan baik-baik saja; namun tidak ada upaya sedikitpun dari manusia untuk mencari tuhan kecuali untuk mencari berkatnya untuk memuaskan segala keinginan manusia dan menjadikan tuhan seperti pembantu atau dokter atau manager atau pesuruh dan seterusnya.
Bahwa di surga nanti kita akan mendapat tempat yang luas, istana yang besar, emas dan permata yang berlimpah, kenikmatan dan kepuasan badani, menjadi raja dengan kuasanya dan memerintah dunia di sana, dan seterusnya. Kesemuanya persis seperti halnya keadaan dunia ini dibawa ke tempat tuhan berada, katanya.

Hingga Karl Marx menteriakkan seruannya yang terkenal, “Agama dibuat oleh manusia; agama tidak membuat manusia menjadi manusia. Agama dibuat oleh negara dan masyarakat. Agama adalah desahan nafas putus asa oleh makhluk yang tertekan, oleh perasaan dari dunia yang tidak memiliki hati, oleh jiwa dari dunia yang penuh dengan kekosongan hidup. Agama adalah candu bagi masyarakat.”
Dengan perilaku manusia sepanjang jaman, ucapan itu sama sekali tidak bisa ditentang.

Perilaku kebanyakan agamawan membuktikan hal tersebut dengan teori yang muluk-muluk, idealisme yang seolah tinggi namun penuh diselubungi maksud dan agenda sosial, bahkan politik. Serta mereka mengajarkan pengajaran yang semuanya mengumbar nafsu yang begitu remeh dan hina yang bahkan tidak ditemukan dalam agama-agama yang katanya berpusat pada manusia, agama yang katanya rendah karena kebenarannya berasal dari manusia yang bisa salah. Namun agama-agama yang katanya berasal dari tuhan ternyata memiliki idealisme yang tidak agung.

Kontradiksi Dalam Theosentris

Seharusnya, kebenaran yang katanya berasal dari tuhan di interpretasikan secara theosentris dipelajari dengan setia, dengan taat, dengan teliti, dan dengan bertanggung jawab. Agama yang berasal dari tuhan tersebut adalah merupakan wahyu tuhan, tapi manusia telah menerima wahyu itu dan memperlakukan wahyu itu dengan tidak sepantasnya. Dengan pemahaman yang tidak komprehensif, menghasilkan penafsiran dan pengertian yang saling berkontradiksi dan kacau balau. Penuh perkecualian dan pertentangan, tidak bersifat universal, integral, dan moral yang tinggi. Kesemuanya bertentangan dengan prinsip filsafat tentang kebenaran yang sejati.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah buku Kristen yang pernah saya baca, “Manusia adalah makhluk yang cinta diri (baca: humanis) dan cinta uang (baca: materialis). Mereka menolak kebenaran Tuhan, menolak Dia yang diutus Tuhan untuk memberitakan kebenaran Tuhan. Mereka menganggap berita Tuhan sebagai kebodohan dan ketidakmasukakalan. Mereka berkata bahwa mereka mencari kebenaran dan mencari Tuhan, namun mereka hanya mencari kebijaksanaan yang masuk akal dan mencari tanda-tanda kuasa mujizat. Ketika Tuhan datang ketengah-tengah mereka, menyatakan dirinya dan menjadi satu-satunya manusia dalam sejarah dunia yang mengatakan bahwa Dia berasal dari TUHAN, manusia membunuh Dia. Tidak seorangpun mencari Tuhan. Satu pun tidak. Tidak ada yang baik, satupun tidak. Hanya Tuhan yang baik.”

Hal tersebut sangat menarik bagi saya sebagai kontradiksi kebenaran dalam diri manusia.
Hal ini pula yang seharusnya membawa orang yang katanya mencari kebenaran kepada kesimpulan bahwa upaya persaingan jumlah pengikut suatu agama adalah omong kosong dan pekerjaan yang sia-sia. Siapapun boleh pindah dari agama satu kepada agama lain. Tidak ada bedanya untuk tuhan di dalam kekekalan. Jika tuhan itu adalah TUHAN, dengan segala kuasa yang MUTLAK, bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-NYA, seperti pemikiran agama-agama yang antroposentris (terlebih lagi seharusnya oleh agama yang katanya theosentris), maka seharusnya DIA berdaulat penuh untuk memilih orang yang DIA mau menjadi milik-NYA.
Sama juga seperti orang-orang yang melakukan tindakan anarkis demi agamanya untuk menolong tuhannya, membela tuhannya, dan menjaga dan melindungi kebenaran yang katanya dari tuhan.

“The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.” Augustine of Hippo

Terjemahan: Kebenaran yang sejati itu seperti singa; sama sekali tidak perlu dibela. Biarkan dia lepas dan bebas; dia akan membela dirinya sendiri.

Sekali lagi, orang yang tahu tentang kebenaran, dia tidak perlu diberi tahu. Orang yang tidak tahu tentang kebenaran, dia tidak bisa diberi tahu. Ini adalah paradoks tentang ‘tahu’. Karena semua itu adalah tentang wahyu yang dipercaya berasal dari tuhan. Kebenaran dibukakan ke dalam diri seseorang sebagai wahyu, menjadikan seseorang menjadi tahu bahwa dia tidak tahu. Siapa yang dapat memberi tahu dia bahwa dia tidak tahu, jikalau dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu selain daripada wahyu tuhan memunculkan suatu perasaan ketidaktahuan. Dengan jujur, pemikiran ini bukan dari saya, melainkan pemikiran Cornelius Van Til.

Dalam pengertian tentang wahyu ini, seharusnya penganut agama yang katanya percaya bahwa katanya kebenaran itu di wahyukan, tidak perlu ribut dengan orang lain yang berbeda agama, karena mereka seharusnya percaya bahwa kalau wahyu tuhan turun atas manusia yang lain, maka mereka akan menjadi satu agama. Akan tetapi, tampaknya semua orang sedang berusaha membantu tuhan dan mau berbuat jasa untuk tuhan, seolah tuhan tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan manusia (sekali lagi, agama theosentris diseret menjadi agama antroposentris).

Berkenaan dengan penyebaran agama, setiap agama (baik yang antroposentris maupun theosentris) harus mengakui bahwa tujuan dari agama adalah untuk menjadi kebaikan bagi seluruh umat manusia. Menjadi panduan dan pegangan manusia dalam perilaku dan perbuatan. Sebarkanlah itu kepada semua orang, supaya masyarakat menjadi lebih baik. Supaya manusia yang berpegang pada kebenaran diri sendiri disadarkan bahwa ada kebenaran yang lebih tinggi. Bahkan masyarakat Budhisme menyebarkan dharma, menjadi teladan, hidup baik dan toleran dengan semua makhluk. Memberikan pengajaran kepada semua manusia tentang jalan dan kebaikan. Tidakkah itu baik adanya. Demikian pula dengan semua yang dikerjakan Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan Dalai Lama. Mereka menyebarkan pengajaran yang baik dengan damai. Kenapa kemudian malah agama yang mengaku katanya sebagai kebenaran yang sejati lebih banyak membuat kekacauan daripada menjadi berkat?

Paradoks Kebodohan dan Kebijaksanaan Manusia Dalam Theosentris

Ketika perspektif antroposentris digunakan untuk memahami agama theosentris, kembali muncul upaya manusia berusaha berbuat baik supaya dirinya diterima tuhan. Kendatipun seharusnya sudah jelas bahwa perbuatan baik tidak berlaku dalam agama theosentris karena tidak ada seorangpun sanggup berbuat baik. Hal itu semata-mata karena tidak ada yang baik, hanya tuhan yang baik (katanya orang-orang yang memiliki agama yang theosentris).

Tuhan sendiri harus mengakui bahwa dia telah menurunkan kebenarannya, bahkan mengutus Anak-Nya. Yang sering menjadi keliru adalah manusia yang selalu terus kembali menggunakan dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu dan menjadikan dirinya sebagai tolok ukur dalam perspektifnya sendiri.

Tidakkah katanya wahyu adalah inti dari agama theosentris, bahwa tuhan sendiri harus membukakan kebenarannya sebagai kebenaran yang sejati. Bahwa tuhan itu sendiri harus mengakui oleh dirinya sendiri sebagai kejujuran yang satu-satunya dan tidak ada tuhan yang lain selain daripada dia. Namun manusia terus berusaha mencari kebenaran yang sejati tanpa menghiraukan wahyu tuhan, kebenaran yang benar-benar BENAR dalam dunia ini. Juga bahkan tidak terima ketika tuhan itu sendiri kemudian telah datang dan berkata, “Akulah Tuhan. Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup.”

Itulah inti dari agama yang katanya  diwahyukan. Kebenaran yang tidak berasal dari manusia yang bisa bersalah.
Dalam pengertian wahyu Tuhan orang Kristen, Tuhan dikatakan dalam kedaulatan-Nya tahu bahwa kebenaran-Nya adalah merupakan kebodohan yang tidak masuk akal bagi manusia yang antroposentris; karena itulah Dia kemudian mewahyukan kebenaran sejati itu bagi mereka yang bersedia menjadi bodoh demi Anak-Nya yang tunggal yang menjadi utusan-Nya. Bahwa keselamatan hanya datang oleh Dia satu-satunya, yang dengan kebodohan-NYA mati di atas salib untuk menebus dosa manusia. Supaya manusia yang bersedia menjadi tolol (baca: theosentris) bisa diselamatkan bukan oleh perbuatan baik. Supaya di dalam penebusan-Nya, orang baru dimampukan untuk berbuat baik, karena sekarang ‘baik’ itu bukan lagi menurut manusia, tetapi apa yang ‘baik’ menurut wahyu Tuhan: keadilan, murah hati, rendah hati, dan mengikut Tuhan. Dan tidak ada hukum dan etika dunia yang bertentangan dengan kebaikan itu.

Paradigma Kontradiksi Kebaikan vs. Kejahatan dalam Filsafat

Sepanjang sejarah, agama dan kepercayaan, filsafat dan pemikiran, berusaha menggali alam yang nyata dan alam yang tidak nyata. Upaya tersebut menimbulkan pemikiran dualisme tentang dunia spiritual atau dunia ide dan dunia material yang dapat dikenali oleh semua indra dan dengan mudah dicerna oleh pemikiran rasional. Entah sejak kapan hal itu ada dan dikerjakan oleh manusia, tapi selalu ada pengakuan bahwa ada sesuatu yang melampaui dunia material yang kita kenal berikut dengan kekuatan dan pengaruhnya yang lebih besar daripada batasan dan kemampuan manusia.

Semuanya berlangsung hingga saat manusia mencapai kemajuan pemikiran yang memunculkan ide bahwa manusia adalah awal dari segala hal, puncak dari segala sesuatu dan akhir dari segala sesuatu; Dan pemikiran itu serta merta menganggap bahwa kepercayaan tentang keberadaan kuasa di luar manusia adalah takhyul, kuno, dan terbelakang. Manusia membuang semua ide tentang kuasa yang lebih besar dari manusia dan meletakkan figur manusia di tempat tersebut. Akan tetapi kemudian hal itu menimbulkan kekosongan yang luar biasa dalam hidup manusia karena ide itu mentelantarkan manusia kepada keterhilangan dan ketersesatannya di sepanjang hidupnya, dan mendegradasi nilai hidupnya menjadi kekosongan dan kesia-siaan. Hingga pada akhir hayatnya, kematian menjadi sesuatu yang tidak terelakkan dan hati nuraninya menganiaya dia dengan ketakutan seandainya ada kehidupan setelah kematian. Contoh yang menarik adalah Friedrich Nietzsche dengan ateisme dan ucapannya yang terkenal dengan sedemikian terus terang dan terbuka, “Tuhan sudah mati! Aku sudah membunuhnya,” yang diungkapkannya berulang-ulang, memiliki akhir kehidupan yang menarik pula.

Pemikiran demi pemikiran terus menerus bermunculan dari berbagai aliran filsafat baik dari filsafat barat yang menekankan pada rasionalitas maupun dari filsafat timur yang menekankan pada emosi dan perasaan yang menjadi jalan dan cara hidup. Sementara berbagai budaya menghasilkan konsep perseteruan tentang kebaikan dan kejahatan dalam mitos dan legenda para dewa, pertarungan tanpa akhir antara dunia spiritual dan dunia material, ketegangan antara keteraturan dan kekacauan, dan permusuhan antara pencipta, pemelihara, dan perusak. Hingga akhirnya muncul suatu pemikiran sinkretisme sebagai penengah dalam antroposentrisme bahwa tidak ada kebaikan ultimat ataupun kejahatan ultimat. Selalu ada kebaikan dalam diri orang jahat, dan selalu ada kejahatan dalam diri orang baik. Filsafat timur dengan sangat indahnya menyebut hal ini sebagai Yin dan Yang, sebagai dualisme antara kebaikan dan kejahatan, terang dan gelap.

Inilah yang akan menjadi pembicaraan kita kali ini.

Sepintas lalu, upaya ini terlihat memberikan penyelesaian yang jelas untuk menggambarkan keadaan dunia kita. Terlihat logis dan rasional, bahwa ada kejahatan dan kebaikan, ada terang dan gelap, ada api dan air, ada hal-hal yang memang bertentangan yang ada dalam dunia ini. Hal ini terlihat seperti sebuah paradoks yang merupakan kebenaran.

Tapi hal ini sebenarnya adalah merupakan kontradiksi yang tidak memberikan jawaban, melainkan lebih menimbulkan pertanyaan daripada memberikan jawaban penyelesaian. Adapun cara pandang terhadap fenomena ini kurang tepat. Pandangan bahwa ada kebaikan dan kejahatan dalam diri manusia, bahwa di dalam terang, ada sisi gelap dan di dalam gelap ada sisi terang. Pertentangan yang berusaha diselesaikan dengan secara paradoks.

Pertentangan ini bermula dari pandangan bahwa kegelapan dan kejahatan dalam hal ini dijadikan sebuah keadaan atau entity atau entitas. Kegelapan dianggap sebagai keadaan yang memiliki eksistensi yang jelas dan berdiri sendiri secara kondisi dan keadaan yang nyata. Demikian pula kejahatan. Walaupun tampaknya demikian, kegelapan bukanlah entitas sendiri.

Kegelapan adalah kondisi dari tidak adanya terang.
Kejahatan adalah kondisi dari tidak adanya kebaikan.

Manusia memiliki kecenderungan untuk memikirkan jalan tengah dan kemudian berdiri sendiri. Contoh kontradiksi yang menarik dan dipakai dalam skala luas adalah “keadaan tidak memihak”; Ketika ada dua golongan sedang berseteru, muncul orang-orang yang katanya tidak memihak, bersikap netral, ambigu, menjadikan kondisi abstain sebagai penyelesaian natural. Padahal mengambil posisi yang katanya “tidak memihak” itu malah menjadikan mereka membentuk sebuah kelompok penanding lain yang namanya “tidak memihak”. Sekarang, dari dua golongan yang berseteru tersebut, muncul kelompok ketiga yang dinamai “kelompok tanpa pihak”. Kelompok ini menjadi masalah karena akhirnya menjadi kelompok oposisi dari dua kelompok yang mula-mula yang berseteru. Sehingga sekarang ada tiga kelompok yang sedang berseteru.
Seringkali, kita harus memihak. Kita tidak bisa melepas tanggung jawab dan menyelesaikannya dengan jalan keluar yang pragmatis yang seolah-olah merupakan jalan keluar.

Melalui paradigma dan perspektif tersebut, kita bersama-sama telah melihat bahwa ternyata tidak ada kondisi gelap yang bercampur terang ataupun kejahatan yang bercampur kebaikan. Seolah-olah hal itu digambarkan seperti bagaimana seseorang yang berselingkuh tidak mungkin mencintai dua orang secara sama rata, dia akan selalu mencintai yang satu lebih daripada yang lainnya. Seperti fenomena tarik-menarik dalam diri seseorang yang berusaha hidup baik, namun membuat perkecualian dari waktu ke waktu dengan mengambil keputusan-keputusan yang kejam.

Tidak pernah mungkin akan terjadi saat ketika kegelapan datang dan mengusir keberadaan terang. Yang akan selalu ada adalah terang datang dan mengusir kegelapan, karena kegelapan itu bukanlah eksistensi, melainkan non-eksistensi dari terang. Kegelapan itu ada karena terang tidak ada.
Demikian pula kejahatan dan kelaliman. Kondisi itu ada karena tidak ada kebenaran dan keadilan. Ketika ada keadilan, maka kejahatan dan kelaliman tidak bisa terjadi. Ketika kebaikan dalam eksistensinya menjadi non-eksisten, muncul kejahatan.

Sama seperti terang dan gelap, terang merupakan energi, dan energi harus memiiliki sumbernya. Harus ada upaya dan usaha yang dilakukan untuk membuat terang. Dan hal tersebut tidak mudah. Akan jauh lebih mudah membuat kegelapan.

Demikian pula dengan kebaikan dan kejahatan, dibutuhkan upaya keras untuk melakukan kebaikan, dan kebaikan itu harus memiliki sumbernya sendiri. Dan hal itu tidak mudah. Akan lebih mudah untuk tidak mau mengakui sumber kebaikan itu dan membiarkan kejahatan dan kelaliman ada.

Demikian pula dengan manusia, manusia itu pada dasarnya jahat (berlawanan dengan pendapat dan pandangan dari psikologi dan sosiologi yang berkata bahwa manusia itu pada dasarnya baik). Jika manusia pada dasarnya baik, maka manusia tidak akan perlu dididik dan diajar untuk berbuat hal yang baik, yang benar, yang bermoral, yang bernilai tinggi, dan yang suci, namun pada kenyataannya, manusia membutuhkan didikan yang susah dan keras dan berat untuk menjadikannya manusia yang baik. Manusia tidak perlu dididik dan dia akan selalu jahat dan tidak bermoral dan egois serta serakah.

Jikalau demikian, darimanakah sumber kebaikan itu sendiri supaya manusia dimampukan untuk berbuat baik dan mengusir kejahatan dan kelaliman dari dalam dirinya?
Buku orang Kristen memberikan jawabannya: bahwa kebaikan itu berasal dari Tuhan yang sejati. Dia adalah kebaikan itu sendiri dalam eksistensinya. Dia tidak menghasilkan kebaikan, karena diri Dia ADALAH kebaikan, Dia adalah terang itu sendiri di dalam diri-Nya. Jika ciptaan-Nya tidak kembali kepada Dia, tidak ada seorangpun bisa berbuat baik, seorang pun tidak.

Tidakkah kita lihat sendiri, ketika seseorang membuang Tuhan yang sejati, tidak akan pada dia perbuatan baik itu. Dan tidakkah kita lihat sendiri, orang yang paling berani berbuat jahat adalah orang yang mengaku sebagai orang yang paling beragama. Kondisi itu menimbulkan kekecewaan dalam diri manusia, karena bagi mereka, mereka mengira bahwa agama seharusnya mendatangkan kebaikan. Yang gagal dilihat oleh manusia, walaupun sudah ada dalam sejarah (seperti kata Friedrich Hegel, “Kita belajar dari sejarah bahwa kita tidak belajar apapun dari sejarah.”), bahwa ada begitu banyak pemikiran tentang tuhan dan manusia mengambil kesimpulan bahwa semua tuhan adalah salah. Padahal sudah ada satu Tuhan yang menyatakan dirinya ke dalam sejarah, tapi kemudian itupun ditolak oleh manusia. Jadi dengan apalagi manusia bisa diyakinkan, sehingga kemudian mereka mengusir semua tuhan pergi keluar dari hidupnya dan menerima entah apa secara pragmatis dan mengambil jalan mudah yang sebenarnya tidak bisa dikatakan mudah pula.
Pengusiran keberadaan Tuhan dari hidup manusia mengembalikan manusia pada pola pikir ateistik yang sudah kita bahas di atas.

Sehingga dalam upaya manusia menggali dan mengupayakan kebaikan dalam hidupnya, mau tidak mau, dia harus mengakui keberadaan Tuhan yang benar, sebagai kebenaran yang benar-benar BENAR. Kegagalan manusia untuk mengakui Tuhan yang benar dalam hidupnya akan membawa balik manusia kepada pencarian tanpa akhir, perseteruan kebaikan dan kejahatan serta sinkretisme “yin dan yang” tadi.

Paradigma Tentang Talenta

Talenta, dalam Bahasa Inggris: talent, berasal dari kata Latin: talenta, yang memiliki makna sebagai satuan unit berat atau sejumlah uang. Sama seperti kata tael yang digunakan dalam dunia timur seperti Cina dan Jepang sebagai satuan berat atau sejumlah berat perak sebagai mata uang. Dalam perkembangannya, kata talenta itu didefinisikan sebagai ketrampilan atau keahlian, kemampuan atau kecenderungan atau kompetensi, yang dimiliki secara natural oleh seseorang dalam bentuk bakat bawaan sejak dilahirkan. Dunia psikologi mengenali bahwa bakat dan kecenderungan (dalam Bahasa Inggris: aptitude) ini dimiliki secara berbeda-beda dalam tiap-tiap orang, lebih lanjut lagi, ilmu psikologi (secara khusus dalam psychometric) membangun berbagai alat ukur untuk membantu orang dalam mengenali kemampuan tertentu di dalam dirinya.

Dalam natur manusia, sepanjang sejarah umat manusia, manusia berusaha mengenali secara eksistensialis tentang tujuan hidupnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk di muka bumi ini yang menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya memikirkan makna dan tujuan hidup. Ada cukup banyak filsafat yang berusaha menjawab pertanyaan ini, mulai dari yang menawarkan bahwa hidup ini baru bermakna jika melakukan kebaikan, jika membuahkan hasil bagi orang lain, jika seseorang merasa berbahagia, jika bisa menjauhi keinginan duniawi, jika bisa mengumbar segala keinginan, jika bisa memberikan persembahan (dalam berbagai bentuk seturut yang diminta) kepada para dewa atau tuhan atau langit atau nirvana atau vallhalla, dan banyak lagi. Terlepas dari berbagai macam bentuk dan upaya, manusia memiliki suatu perasaan bahwa hidup ini harus memiliki tujuan supaya bisa memiliki makna. Apakah makna itu muncul dari pemikiran yang mengenal konsep ke-tuhan-an, konsep yang berpusat pada dunia dan manusia secara luas, konsep yang berfokus pada diri sendiri atau hingga mengarah pada pemikiran yang mengatakan bahwa makna hidup itu ada dalam ketidakberadaan suatu makna apapun dalam diri manusia karena manusia ini kebetulan muncul begitu saja. Yang terakhir ini sangat menarik bagi saya, karena saya melihat kontradiksi dalam pandangan ini yang sifatnya irasional dan unnatural.

Bagaimana sesuatu bisa memiliki makna? Maka berdasar pada prinsip relasi pencipta-ciptaan yang berlaku pada semua yang ada di bawah langit, sesuatu baru memiliki makna jika kembali pada pengenalan akan diri. Pengenalan akan diri baru dapat muncul jika mengenali pencipta.
Untuk mengenali sebuah produk merek tertentu, tidak ada siapapun yang lebih berhak memberikan penjelasan tentang produk tersebut selain daripada pabrik atau orang yang menjadi pembuat produk. Dan kita akan dengan senang hati, terbuka, tanpa mempertanyakan apapun juga, mempercayai penjelasan dari pabrik atau pembuat produk tersebut.
Entah kenapa ketika Tuhan membukakan kepada kita bahwa manusia diciptakan oleh Dia menurut kehendak Dia supaya kita melakukan pekerjaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, untuk melakukan pekerjaan tertentu, tiba-tiba beberapa manusia menolak pemahaman tersebut untuk kemudian membangun pemahaman diri sendiri bahwa manusia adalah puncak evolusi dan tidak ada apapun atau siapapun berada di atas manusia. Bahwa manusia menentukan nasibnya sendiri dan memiliki kuasa mutlak dan pengendalian total atas hidupnya (satu irasionalitas lain lagi karena tidak seorang pun sanggup mengendalikan hari kelahiran dan kematiannya). Lalu kemudian berusaha membangun makna hidup berdasarkan sesuatu kebetulan, saya sungguh tidak bisa melihat bagian mana dari sesuatu yang terjadi secara kebetulan yang bisa mampu untuk memiliki makna yang tinggi.

Jadi, berdasarkan pemikiran tersebut, saya akan mulai berbicara tentang fungsi dari talenta. Bahwa talenta yang kita miliki sejak lahir, adalah menjadi milik kita karena ada sesuatu yang harus kita kerjakan dalam hidup ini yang sesuai dengan talenta kita. Talenta bisa ada pada kita, dan bisa kita miliki, tentunya karena ada yang memberi. Dengan pemikiran seperti ini, saya tidak menemukan jalan keluar selain daripada mengakui bahwa ada sesuatu yang menciptakan manusia dan kemudian memberikan talenta kepada manusia, untuk mengerjakan sesuatu yang sudah ditentukan supaya manusia boleh hidup di dalam makna dan tujuan tertentu sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pencipta.
Sama persis dengan sebuah telepon genggam dibuat dengan fitur-fitur dan kapasitas yang ditujukan untuk mendukung tujuan sebuah telepon genggam dibuat. Karena itu adalah sebuah kesalahan penggunaan dan seketika itu juga menghilangkan makna sebuah telepon genggam ketika dia digunakan sebagai alas kaki. Telepon genggam akan menjadi alas kaki yang sangat buruk, tetapi telepon genggam akan memiliki nilai yang sangat tinggi ketika dia berfungsi sebagai alat komunikasi. Sebuah mobil termahal di dunia, ketika disejajarkan dengan sepatu dan difungsikan sebagai sepatu, dia bahkan tidak sebagus sepatu paling jelek dan paling murah sekalipun; dia baru akan menjadi dirinya sendiri (yaitu sebuah mobil) dengan nilai paling tinggi ketika disejajarkan dengan berbagai merek mobil yang lain. Inilah masalah besar yang merupakan kekeliruan dalam prinsip persaingan dan semangat kompetisi.

Berdasar pada definisi talenta di atas, setelah menemukan dan mengenali kapasitas dan potensi diri dengan tepat, barulah manusia dimampukan untuk memiliki makna dan tujuan dalam hidupnya. Dan sekarang mengenai talenta itu sendiri, kepada setiap orang diberikan talenta yang berbeda, tentunya untuk mengerjakan sesuatu yang tertentu yang sesuai dengan maksud pemberian tersebut. Tujuan itu bisa jadi sama, atau pun bisa jadi sangat berbeda antara orang yang satu dengan yang lain.
Sama seperti kepada burung diberikan sayap yang sama sekali berbeda dengan sayap yang diberikan pada ikan. Seperti halnya seseorang yang diberi kemampuan mengolah angka dan seorang lain yang diberi kemampuan mengolah nada. Seperti juga halnya yang seorang diberikan tubuh yang besar dan kepada yang lain diberikan indra pencium dan perasa yang tajam. Yang menjadi koki hebat, tidak perlu menghina mereka yang tidak tahu bedanya daun seledri dan daun ketumbar. Yang bertenaga besar, tidak perlu menghina yang berbadan kecil.

Ada analogi yang menarik mengenai talenta yang saya temukan dalam buku orang Kristen.
Adalah seorang boss besar yang kaya raya dan mempunyai banyak perusahaan. Boss ini kemudian berencana melakukan liburan panjang dan mau berkeliling dunia, sebelum dia pergi, dia mengumpulkan tiga orang asistennya yang paling dia percaya. Pada asisten pertama, dia menitipkan sebuah toko kelontong kecil di sebuah kompleks perumahan. Pada asisten kedua, dia menitipkan sebuah restoran. Pada asisten ketiga, dia menitipkan sebuah supermarket.
Asisten ketiga ini kemudian pergi dan mengelola supermarket tersebut dan berhasil membuka sebuah cabang baru di kota lain. Asisten kedua pun mengelola restoran tersebut dan berhasil membuka cabang baru. Asisten yang pertama melihat dan memperhatikan toko kelontong kecil yang serahkan pada dia, kemudian diputuskannya untuk memasukkan semua barang dagangan ke dalam gudang dan menutup toko tersebut supaya tidak merugi.
Setelah lama berlalu, boss besar ini kembali dan memanggil semua asistennya dan meminta laporan. Asisten yang ketiga melaporkan, “boss, supermarket yang boss suruh saya kelola, sudah ada cabang satu lagi di kota lain.” Boss ini menyahut, “Bagus sekali! Kamu memang layak menjadi asisten kepercayaan saya!”
Asisten yang kedua datang dan melaporkan, “boss, restoran itu sekarang sudah ada cabang di dalam mall.” Dan boss ini menyahut, “Bagus sekali! Kamu memang layak menjadi asisten kepercayaan saya!”
Dan datanglah asisten yang pertama, dia melaporkan, “boss, mereka yang lain dapat supermarket yang besar dan restoran di mall. Saya cuma dapat toko kelontong kecil, mana bisa saya mengembangkan toko kelontong kecil untuk jadi besar. Boss tidak adil, memberi saya modal kecil sekali. Jadi daripada merugi untuk ongkos operasional, saya putuskan untuk menutup toko itu. Tokonya masih ada dengan seluruh isinya. Tidak ada yang kurang. Ini saya kembalikan.”
Boss itu kemudian menyahut, “kamu penuh dengan iri dan dengki, menuduh saya tidak bersikap adil, kamu hanya disuruh untuk mengelola, tentu setelah dikelola harus ada hasil yang sesuai. Apakah saya meminta toko kelontong untuk jadi supermarket atau jadi restoran besar? Berikan toko kelontongmu untuk dikelola oleh asisten saya yang mendapat supermarket. Kamu dipecat.”

Apakah dari contoh tersebut kita merasa bahwa boss tersebut tidak adil? Dunia kita seringkali mencampuradukkan antara keadilan dengan kesamarataan. Kalau semua mendapat sama, baru itu dikatakan adil. Prinsip keadilan itu tidak berlaku sedemikian. Kalau seseorang disuruh memberi makan dua orang anak, yang satu usia 2 tahun, dan yang satu berusia 18 tahun, kemudian berdasar prinsip kesamarataan sebagai keadilan, maka porsi makan keduanya harus sama, karena itulah yang dianggap adil. Jadi hanya ada dua kondisi yang akan muncul, entah anak berusia 2 tahun itu kekenyangan, atau anak yang berusia 18 tahun itu yang kelaparan. Inilah irasionalitas dalam pemahaman manusia terhadap fenomena, dalam hal ini adalah mengenai prinsip keadilan.

Apakah dari contoh diatas kita merasa ada yang tidak pas? Karena kita seringkali membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Selalu ada semangat persaingan dan kompetisi. Kita tidak mau melihat talenta yang kita miliki dan mengelola talenta itu sebaik mungkin dan menghasilkan semaksimal mungkin. Lihat contoh boss tadi, dia sama sekali tidak membandingkan antara yang menghasilkan supermarket dan yang menghasilkan restoran. Kepada yang dipercayakan supermarket, diminta menghasilkan supermarket. Kepada yang dipercayakan restoran, diminta menghasilkan restoran. Dalam semangat persaingan yang bodoh, kita melihat betapa hebatnya yang bisa menghasilkan supermarket, kenapa yang mengelola restoran atau toko kelontong tidak bisa menghasilkan supermarket? Kalau bisa menghasilkan supermarket itu baru bisa dikatakan sukses. Itu baru hebat. Kalau cuma bisa menghasilkan restoran, masih kurang hebat. Kurang sukses. Apalagi kalau cuma sanggup menghasilkan toko kelontong. Tidakkah itu yang selalu diumbar dan didengungkan dalam dunia kita. Dan tidakkah sekarang kita sadari itu sebagai sebuah kekonyolan?

Kegagalan mendefinisikan diri inilah yang kemudian menimbulkan keputusasaan dan kelelahan yang mengarah pada pragmatisme dan mencetuskan kalimat-kalimat untuk menjawab, “Siapakah aku?”
Jawabannya adalah, “Aku adalah aku!”; “Aku tidak mau berubah!”; “Aku adalah aku yang merupakan aku yang adanya apa.”; “Aku adalah aku yang aku ada”.
Dan yang lebih mengejutkan adalah jawaban ini kemudian sekali lagi secara irasional diterima begitu saja.

Kita perlu benar-benar berusaha merubah paradigma kita mengenai prinsip tentang kompetisi dan prinsip tentang talenta. Membangun pengertian yang benar untuk mencari jati diri dan makna diri serta tujuan hidup yang sejati di dalam diri kita masing-masing. Supaya pengertian itu melepaskan kita dari ketersesatan dan kehilangan arah; supaya pengertian itu memberikan alasan yang tepat tentang kenapa kita berada di dunia ini. Di luar dari pengertian terhadap hukum relasi pencipta-cipataan, saya tidak bisa menemukan jawaban lain yang lebih baik.

Implikasi “Tak terhingga” Dalam Matematika dan Filsafat

Sejak masa sekolah, kita mengenal tanda “tak terhingga” (simbol:  ; infinity atau lemniscate) melalui bangku sekolah. Kita menemukan tanda itu pada kedua ujung positif dan negatif dalam garis bilangan, kita menemukan tanda tersebut pada prinsip operasional dasar, juga pada operasional intergral dan diferensial. Kita mengenal simbol tersebut sebagai suatu “angka” dalam garis bilangan, yang padanya terjadi perlakuan khusus.

Simbol tak terhingga itu merupakan suatu “angka” yang dapat dioperasionalkan dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, namun hasilnya tidak berubah selain daripada dirinya sendiri. “Angka” itu merupakan angka yang bukan angka, tetapi dianggap sebagai perwakilan sebuah angka namun tidak memiliki prinsip sebagai angka (baca: nilai). Secara prinsip, simbol tak-terhingga ini menjadi satu bentuk paradoks ditengah-tengah angka yang terhingga.

Sebenarnya, apakah simbol “tak terhingga” itu? Mengapa dia bisa muncul ditengah-tengah dunia kita yang tidak satupun bersifat “tak terhingga”? Jika mau dirunutkan, beberapa filsuf Yunani seperti Pythagoras, Plato, dan Aristotle mengakui keberadaan dunia yang terbatas dan dapat diukur dengan bilangan yang natural. Namun Aristotle mengenali bahwa ada banyak hal yang seakan-akan bergerak menuju kepada ke-takterhingga-an, seperti waktu yang seolah tidak berujung. Karena itulah Aristotle memiliki sebuah pemikiran tentang sesuatu yang sifatnya “mungkin tak terbatas” (potentially infinite). Seperti pada garis bilangan misalnya, Aristotle melindungi a priori tentang dunia yang terbatas dengan menjelaskan bahwa garis bilangan itu terbatas, namun sifat garis bilangan itu sendiri memiliki “potensi untuk menjadi tak terbatas” karena tidak akan pernah ditemukan angka terakhir yang jelas dan pasti yang menutup garis bilangan.

Plotinus merupakan pemikir setelah Plato, yang saya ketahui menjadi pemikir pertama yang menyebutkan ada “THE ONE” (baca: yang SATU) yang TUHAN yang tidak terhingga (infinite). Dia menyatakan bahwa SATU ini tidak pernah mengenal pengukuran ataupun pembatasan, SATU ini berada dalam ketidakterbatasan dalam apapun secara eksternal maupun internal, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya.

Agustinus (St. Augustine) kemudian menyatakan hal ini lagi dengan pengertian Plotinus ini secara lebih mendalam dan menyatakan bahwa TUHAN bukan hanya tidak terbatas, melainkan ketidakterbatasan adalah merupakan diri TUHAN itu sendiri, ketidakterbatasan bukan merupakan kondisi atau situasi yang menyebabkan TUHAN ini tidak terbatas, tetapi ketidakterbatasan ini muncul dari dalam dirinya TUHAN yang tidak terbatas yang memiliki kesanggupan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terbatas.

Dalam upaya memahami kondisi tak terhingga, manusia berulang-ulang sejak abad pertengahan mencoba merumuskan dan memahami batasan dalam dunia yang katanya terbatas ini. Namun beberapa upaya yang satu lebih banyak menghasilkan kontradiksi dibandingkan dengan beberapa tawaran penyelesaian yang lain.

Sehingga muncul beberapa teori lain yang kemudian berbalik dari upaya memahami “mungkin tak terbatas” (potentially infinite) dan mencari “pasti tak terbatas” (actually infinite) dalam dunia yang katanya terbatas ini. Yang paling saya sukai adalah teori fractal milik Mandelbrot, selain dari Koch snowflakes.

Filsafat yang satu berbicara tentang mencari batasan, yang lain berbicara tentang mencari ketidakterbatasan, dan keduanya tidak menemukan keterbatasan maupun batasan dari dunia ini. Teori matematika yang dikemukakan mulai dari Galileo, Georg Cantor, Helge von Koch, dan Benoit Mandelbrot. Perhitungan mulai dari kalkulus, hyperspace, hingga pembagian tak terbatas dari DNA kepada ‘quark’. Tidak ditemukan penjelasan tentang ketidakterbatasan. Upaya mencari hal yang tak-terhingga berujung pada “mendekati tak terhingga”, dan mencari hal yang ‘nol’ berujung pada “mendekati nol”; keduanya menjadi upaya yang tidak jelas dalam dunia yang katanya terbatas ini.

Namun simbol tak-terhingga tidak bisa dibuang ataupun diabaikan.

PARADOKS: Dimanakah batasan dunia yang katanya terbatas ini? Ataukah dunia ini sebenarnya adalah tidak berbatas?

PARADOKS: Dimanakah batasan dunia yang katanya terbatas ini? Ataukah dunia ini sebenarnya adalah tidak berbatas?

Sampai disini, saya tidak bisa melakukan hal lain selain daripada membawa kebuntuan yang tanpa akhir ini kedalam paradoks berikut penjelasan dari perspektif yang berbeda.

Ketidakterhinggaan adalah sebuah kondisi yang statis, tidak berubah, tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Dia adalah sesuatu yang sifatnya kekal. Sementara dunia kita dengan segala isinya adalah sebuah kondisi yang dinamis, selalu berubah, memiliki awal dan memiliki akhir. Dengan kata lain, tidak ada yang tinggal tetap dalam dunia kita karena satu-satunya yang tetap adalah perubahannya. Ini adalah wilayah kesementaraan. Yang kekal tidak bisa dimasukkan dalam kesementaraan. Yang sementara, tidak bisa memasuki kekekalan. Usaha terbaik dari upaya mendekati kekekalan adalah mencapai kondisi yang dinamakan “mendekati kekekalan” secara dinamis dan terus berubah dan terus menerus. Disinilah muncul dunia ide dan dunia pragmatis. Dari sinilah muncul filsafat “is-ought problem” (perbedaan antara yang kenyataan dengan yang di harapkan) yang dicetuskan oleh David Hume.

Hasil terbaik dari usaha yang terus menerus untuk mendekati kekekalan itu hanyalah pengertian mengenai kesia-siaan karena tidak mungkin kita dari dunia yang dinamis ini memasuki alam yang statis. Tidak mungkin kita dari alam yang sementara ini memasuki alam yang kekal. Dan upaya melakukannya berakhir dengan kesia-siaan.

Secara filosofi, manusia tidak mungkin mencapai tempat dimana TUHAN berada.

Tidak dimungkinkan dengan cara apapun. Dunia ilmu pengetahuan sudah mencoba membuktikannya, dan dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan hanya menghasilkan filsafat-filsafat yang terus menanyakan hal yang semakin banyak dan tidak pernah terjawab kecuali didalam religi. Dan diantara semua religi itu pun tidak semua bisa menjawab paradoks bagaimana kita yang sementara bisa mencapai tempat TUHAN yang kekal.

Setelah ilmu pengetahuan dan filsafat gagal menemukan cara untuk menuju kepada kekekalan, agama menawarkan solusinya: dengan perbuatan baik. Namun cara ini sudah dipikirkan oleh Aristotle, dikatakan bahwa sebuah perbuatan baik itu baru benar-benar baik jika ada maksud yang baik, dilakukan dengan baik, untuk tujuan yang baik, demi kebaikan, dan hasilnya adalah untuk kebaikan itu sendiri. Dan Socrates juga mengatakan bahwa kebaikan yang sejati itu haruslah berlaku secara universal.

Sekarang, bagaimanakah kita manusia dimungkinkan untuk mencapai kekekalan dengan perbuatan baik?

Definisi perbuatan baik pun sudah tidak bersifat universal dan integral. Dan seandainya, jikalau seumpama, misalnya kita berhasil menemukan definisi tentang perbuatan baik yang sifatnya universal dan integral, itupun tidak baik karena perbuatan baik kita pun tercemar oleh motivasi lain dibalik perbuatan baik kita. Jika kita gagal dititik definisi, bagaimana kita bisa melakukannya tanpa bersalah?

Coba saya jelaskan. Kebaikan itu harus bersifat universal, berarti dilakukan dimanapun, dia harus bersifat baik dan benar adanya. Juga bersifat integral, bahwa perbuatan baik itu di dalam dirinya adalah mengandung semua unsur kebaikan yang tidak tercemar, baik secara maksud, perlakuan, tujuan dan motivasi adalah murni demi kebaikan itu sendiri.

Contoh: Saya memiliki dua permen, dan saya memberikan kepada seorang teman saya salah satu permen. Apakah perbuatan ini baik? Kita lihat apakah perbuatan ini baik? Jika teman saya itu sedang sakit gigi, maka perbuatan saya adalah kurang bertanggung jawab. Jika ada beberapa teman saya disana menginginkan permen, saya menjadi “kurang baik” bagi yang lain karena saya tidak memberikan kepada mereka permen, padahal ada yang sangat menginginkan permen dari saya. Jadi saya hanya baik bagi teman yang saya beri permen, namun kurang baik bagi orang lain yang tidak kebagian permen.
Lebih lanjut lagi, apa maksud saya menjatuhkan pilihan saya untuk membagikan permen saya yang terbatas ini kepada dia, dan bukannya untuk orang lain? Mungkin saya mau supaya dia menganggap saya baik, atau mungkin karena saya menganggap bahwa dia adalah teman dekat saya yang terbaik dan saya mencoba menjaga hubungan baik itu. Sehingga perilaku saya memiliki motif dan tujuan tertentu.

Sama halnya dengan saya berusaha berbuat baik pada atasan saya, dengan maksud supaya saya boleh mendapat kemudahan kenaikan jabatan. Saya yakin tidak sepatutnya kita merayu yang SATU itu yang berada dalam kekekalan untuk meminta Dia membawa kita kepada kekekalan dengan perbuatan baik kita yang tidak seberapa. Bagaimana saya bisa berbuat baik jika perbuatan baik itu sendiri tidak boleh memiliki motif? Jadi apakah benar dengan kata-kata para agamawan yang menyarankan saya untuk berbuat baik, supaya amal saya memampukan saya masuk dalam kekekalan untuk bersama dengan yang SATU itu? Hal itu menimbulkan kontradiksi kebenaran yang sifatnya menghancurkan diri sendiri, bukannya menghasilkan paradoks.

Setiap perilaku perbuatan baik yang saya munculkan, selalu menjepit saya dan membuat perbuatan saya hingga pada level tertentu, menjadi kurang baik. Hal ini menimbulkan suatu frustasi dalam diri manusia yang berusaha mencapai kekekalan (baca: TUHAN).

Inipun sudah dipikirkan oleh filsuf sejak jaman eudaimonisme Yunani kuno. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa kebaikan itu adalah kebahagiaan kita, dan jika mungkin, menjadi kebahagiaan kita bersama dengan banyak orang. Mulai dari Sokrates, Plato, Aristotle, hingga kemudian pada Epikuros, definisi kebahagiaan menjadi apa yang disebut kenikmatan. Itulah kebaikan sejati.

Kebaikan yang disejajarkan dengan kebahagiaan yang kemudian disejajarkan pula dengan kenikmatan menimbulkan suatu pertanyaan yang tidak terungkap dalam diri manusia. Benarkah sifat mengumbar egoisme dan hedonisme diri itu merupakan kebaikan ultimat? Kaum stoic kemudian mencetuskan sesuatu yang berbeda dan berlawanan. Seperti beberapa agama yang menuntut bahwa perbuatan baik adalah menjauhi semua hal yang sifatnya sementara ini, mendekatkan diri kepada gaya hidup yang meninggalkan keinginan duniawi.

Disini saya tidak membahas jalan hidup orang yang tidak mengakui keberadaan kekekalan. Manusia yang pernah mati, belum pernah hidup kembali dan menceritakan apakah ada kehidupan setelah kematian. Yang masih hidup, belum tahu apakah ada kehidupan setelah kematian. Tapi kita semua pada akhirnya akan mengetahuinya. Dan semoga kita semua telah memilih jalan yang benar untuk menuju kepada kekekalan.

Kesemua upaya itu adalah upaya manusia dengan segala pemikiran dan agamanya yang ditawarkan ketengah dunia ini untuk mencapai kekekalan. Dan sekarang sudah dijelaskan bahwa tidak ada jalan keluar bagi manusia untuk menuju pada kekekalan. Tidak ada satu orang pun yang baik, satupun tidak. Hanya TUHAN yang baik di dalam ketidakterbatasannya, seperti yang dikatakan Plotinus dan Agustinus.

Didalam kesia-siaan upaya, kebuntuan pemikiran dalam pencarian jalan keluar, dengan apakah kita bisa mencapai kekekalan? Keputusasaan manusia memunculkan penghiburan semu dengan sikap pragmatis-nya, mengatakan bahwa semua agama itu sama, pada akhirnya nanti kita akan mencapai kekekalan dengan sendirinya; bahwa semua ini tidak perlu dipusingkan karena jika kita mengikuti siapapun yang katanya baik, kita boleh teruslah berbuat baik, nanti akan ditimbang pada akhirnya, mana yang lebih banyak, perbuatan baik atau perbuatan jahat. Dan manusia terus yakin bahwa perbuatan baiknya akan membawa dia kepada kekekalan, meskipun sudah disanggah sejak jaman Yunani kuno oleh semua pemikir besar bahwa kekekalan tidak mungkin dicapai dengan perbuatan baik, ataupun melalui perhitungan, logika, idea, dan seterusnya.

Di dalam keputusasaan ini, sekali lagi, dalam kelelahan yang sangat, saya tidak bisa tidak, mau tidak mau harus kembali pada apa yang ditulis dan dijelaskan dalam bukunya orang Kristen. Bahwa manusia tidak akan pernah mencapai kekekalan, jika kekekalan itu tidak lebih dahulu menembus dan masuk kedalam kesementaraan. Tidak ada orang yang dapat mencapai Tuhan jika Tuhan tidak terlebih dahulu membukakan jalan bagi manusia. Tidak ada jalan lain, hanya satu jalan, dan jelas bukan melalui perbuatan, melainkan melalui inisiatif Tuhan sendiri karena bagi Tuhan, tidak ada hal yang tidak mungkin dalam ketidakterbatasan pikiran Dia (pengakuan Plotinus dan Agustinus). Tuhan-nya orang Kristen mengakui sendiri dan memberitahukan (sebagai inisiator) yang berhak dia lakukan seturut dalam hukum relasi pencipta dan cipataan; bahwa tidak ada jalan lain untuk menuju kepada Dia jika tidak melalui Anak-nya yang kekal itu sebagai satu-satunya jalan “yang SATU”, supaya didalam Anak-Nya yang SATU itu, manusia bisa melakukan perbuatan yang benar-benar baik, yang tidak memiliki motif. Dialah yang SATU dan tidak terbatas yang selama ini kita cari dalam simbol tak terhingga. Dia yang tak-terhingga. Anaknya yang tak-terhingga. Kesemuanya yang TUNGGAL, yang SATU, yang ESA, bukan DUA – tetapi SATU, yang satu-satunya, karena simbol tak-terhingga bisa dioperasikan (dalam hal ini: dijumlahkan) tanpa merubah hasil selain daripada dirinya sendiri.

Tentu saja ini adalah hasil pemikiran saya. Tidak harus berlaku untuk orang lain.

Tentu saja kita semua yakin mengenai jalan yang kita masing-masing ambil. Jika tidak, tidak ada alasan untuk terus menjalani apa yang kita jalani selama ini. Tapi saya tahu persis apa yang saya lakukan adalah berdasar dan bukan merupakan fanatisme kosong.

Apakah Manusia Itu Sehingga Begitu Penting?

“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Kemudian manusia dengan segenap akal budi, kecerdasan dan kreatifitasnya berpikir bahwa mereka dulunya adalah kera. Sekarang para mantan kera inilah yang menjadi penguasa alam semesta. Ini adalah pemikiran yang sangat menarik dan menjadi salah satu iman dalam dunia ilmu pengetahuan. Disebut iman karena sebenarnya dibutuhkan lebih banyak keberanian (baca: iman) untuk percaya tentang missing-link ketimbang percaya bahwa dunia diciptakan oleh Allah.

Hanya manusia satu-satunya jenis makhluk yang memiliki nafas hidup sehingga menjadikan manusia memiliki akal budi, kemampuan berbahasa dan kreatifitas; lebih dari sekedar debu dan tanah yang hidup seperti binatang. Karena memiliki itu semua, maka manusia memiliki kapabilitas untuk mengerjakan apa yang telah Tuhan tetapkan sejak semula, yaitu untuk mengusahakan dan memelihara ciptaan-Nya. Serta karena memiliki semua itu, maka manusia sekaligus memiliki kapabilitas untuk melawan Tuhan.

Kecuali manusia, seluruh ciptaan bergerak dalam harmoni yang senada, dan dunia menyadari sifat manusia yang merusak keseimbangan alam semesta. Tanpa akal budi, tidak mungkin manusia memiliki kemampuan melawan alam dan ciptaan Tuhan yang baik adanya.

Belum pernah ada jurnal yang mengungkapkan betapa seekor ayam memunculkan perilaku yang penuh kemarahan melihat pembantaian yang dilakukan manusia terhadap kaumnya. Atau seekor induk rusa yang menantang ‘langit’ atau berusaha membalas dendam ketika mengetahui anaknya diterkam harimau. Pernahkah terlintas dalam benak, bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk di alam semesta yang kita kenal sekarang ini yang memaki-maki Tuhan ketika berada dalam kesusahan.

Semua itu mampu dilakukan manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh semua ciptaan lain. Ada sesuatu yang berbeda antara manusia dengan ciptaan lain, dan sesuatu itu adalah kapasitas yang diberikan pencipta yang sebenarnya ditujukan agar manusia mampu menjadi Sang Penguasa.

Allah memberikan hak kepada manusia untuk menguasai seluruh ciptaan. Dan hak tidak pernah diberikan tanpa kewajiban. Sebagai manusia yang diberikan hak dan kewajiban untuk mengusahakan dan memelihara alam, ciptaan yang diberi nafas kehidupan ini memiliki jabatan sebagai penatalayan Allah; Dan menjadi ciptaan diatas semua ciptaan Allah yang lainnya.

Manusia sebagai ciptaan Allah yang diberi wewenang untuk mengurus seluruh alam semesta, telah melupakan tanggung jawabnya dan menggunakan wewenangnya secara tidak bertanggung jawab. Dia hanya mengingat dirinya yang superior dibanding ciptaan lain dan memandang dirinya hanya sebagai Sang Penguasa.

Sang penguasa yang telah jatuh dari natur asalnya adalah penguasa yang berdosa. Dengan jatuh ke dalam dosa, manusia telah dibutakan oleh berbagai-bagai kesesatan dalam daging yang berdosa, mengakibatkan semua keputusan dilihat dari sudut pandang yang keliru dan menghasilkan keputusan-keputusan yang keliru. Manusia mengusahakan banyak hal yang digunakan secara keliru, mencapai banyak penemuan secara keliru, dan mempergunakan banyak hal untuk tujuan yang keliru.

Dalam kemajuannya, manusia kehilangan esensi dari cara untuk meraih suatu tujuan. Ditengah-tengah kesulitan mencari nafkah karena terkutuknya tanah, manusia menciptakan permainannya sendiri dan saling memakan antar sesamanya. Dalam keberdosaannya, manusia kehilangan esensi dari cara untuk menggunakan kemampuan dan kemajuannya. Manusia bahkan kehilangan esensi dari cara untuk menetapkan suatu tujuan. Dalam berbagai-bagai arus pemikiran filsafat, pergerakan ilmu pengetahuan dan pergeseran budaya, manusia terjebak dalam lingkaran tanpa akhir diantara ketiganya yang membawa dirinya dan ciptaan lain dalam kerusakan yang tidak terselesaikan. Sebagai manusia Kristen yang telah ditebus, dia seharusnya dikembalikan ke dalam natur dan posisinya yang semula, yaitu seorang penguasa yang juga merupakan penatalayan Tuhan. Yang memiliki hak atas seluruh ciptaan sebagai penguasa dan kewajiban terhadap Tuhan untuk mengusahakan dan memelihara seluruh ciptaan sebagai pelayan. Dengan mengetahui dan menyadari status sebagai seorang penatalayan Tuhan barulah manusia dapat memulai kehidupannya dengan tepat, menjalaninya dengan baik dan mengakhirinya dengan tuntas.

Mengerti bahwa Allah yang menciptakan alam semesta, seorang Kristen seharusnya sadar bahwa segala sesuatunya adalah dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, bagi Dia kemuliaan sampai selama-lamanya. Bertolak dari sana, seorang penatalayan mengerti bahwa Allah telah memberikan kepada dirinya kapabilitas yang harus disadarinya sendiri untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab terhadap jabatan tersebut. Tugas dan tanggung jawab itulah yang disebut oleh orang Kristen sebagai kehidupan. Allah menuntut pertanggungjawaban untuk semua aspek dalam kehidupan penatalayan-Nya. Bagaimana dia bekerja, meraih dan memiliki sesuatu, menggunakan apa yang dia miliki, dan pada akhirnya mempertanggungjawabkan semua yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya.

Allah menyuruh penatalayan-Nya untuk bekerja, mengusahakan dan memelihara ciptaan-Nya. Bekerja dengan giat, dengan susah payah dan berpeluh hingga kembali menjadi debu dan tanah. Allah tidak pernah mengajarkan bahwa manusia sebagai penatalayanNya harus cepat bertumbuh dan cepat menghasilkan uang untuk kemudian pensiun dini dengan kekayaan melimpah. Allah hanya menyuruh manusia untuk berusaha semaksimal mungkin, memperkembangkan seluruh potensi dirinya dan menggunakan semua talenta yang telah dianugerahkan kepadanya untuk mengerjakan perkerjaan yang telah dipersiapkan oleh Allah sejak sebelumnya. Allah mengasihi manusia dalam natur yang tidak sempurna dan berdosa, namun Allah tidak pernah membiarkan manusia untuk tetap dalam keadaannya yang tidak sempurna dan berdosa. Allah menuntut manusia untuk berproses, bertumbuh, mencapai tujuan yang telah ditetapkan sendiri olehNya, menggunakan talenta yang telah dianugerahkanNya, yang berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain.

Allah menyuruh penatalayan-Nya untuk bertanggung jawab dengan semua yang telah dianugerahkan kepadanya. Allah menuntut pertanggungjawaban dari apa yang dilakukan oleh manusia dalam meraih setiap pencapaian dan hak yang didapatnya dalam memiliki sesuatu. Dengan talenta yang dimilikinya, manusia berhak memiliki apa yang menjadi haknya, berkewajiban melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Hidup dengan benar, belajar diwaktu kecil dan bekerja diwaktu dewasa. Allah menuntut manusia untuk mengejar apa yang baik, yang sempurna, dan yang berkenan kepada-Nya. Seluruh proses kehidupan yang diarahkan dengan ketiga prinsip itu tidak akan menjadi hidup yang hina. Dengan dijalankannya ketiga prinsip tersebut dalam kehidupan seorang manusia, maka manusia akan tahu bagaimana memposisikan dirinya ditengah-tengah seluruh ciptaan, mengusahakan dan memelihara seluruh alam semesta.

Terlebih dari itu, dengan mengejar semua hal yang baik, yang sempurna, dan yang berkenan kepadaNya, seorang manusia akan dapat membawa seluruh hidupnya ke level yang lebih tinggi setiap kalinya, dan menjadi lebih bijaksana. Hal itu lebih bernilai dibanding apapun yang dapat dicapai dalam hidup seseorang; Menjadi seorang penatalayan-Nya yang baik dan setia.

Sang penguasa yang tahu bagaimana menjadi seorang penatalayan Allah, akan menjadi penguasa yang tahu bagaimana memperlakukan seluruh ciptaan dan semua yang dilakukan dan diciptakan oleh ciptaan. Bertanggungjawab dengan hidupnya, membawa setiap aspek kehidupannya kembali untuk kemuliaan nama Tuhan dimanapun dia berada, apapun yang dia kerjakan. Sang penguasa yang tahu bagaimana menjadi seorang penatalayan Allah, tidak akan berani menyebut dirinya sebagai Sang Penguasa. Dia akan menyebut dirinya Hamba. Karena tujuan hidup manusia sebagai ciptaan mengkuti hukum relasi pencipta-ciptaan, maka adalah suatu kemutlakkan bagi ciptaan untuk selalu memikirkan tentang bagaimana Tuhannya dapat dipermuliakan.

Aku melihat sekelilingku, dan hatiku berkata, “Apa yang telah kulakukan terhadap dunia ini? Jika pemilik alam semesta ini menanyakan hal itu padaku, apakah jawabanku?” Dan aku gemetar, ketakutan oleh bayang-bayang itu; seperti seorang anak yang bersalah dan sekarang menanti ayahnya pulang.