Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kesadaran Moral

Saya yakin kita semua pernah berada dalam suatu dilema moral, yang satu lebih kompleks dan berat dibanding yang lain. Ketika kita melihat suami dari sahabat kita berselingkuh, apakah yang akan kita lakukan? Berdiam diri atau menegur atau menyampaikan hal tersebut? Jika kita sampaikan, akan terjadi kerusakan parah dalam keluarga mereka, mungkin anak-anak mereka akan dibesarkan dalam keluarga yang hancur. Jika tidak kita sampaikan, hal itu mungkin akan berlanjut dan menjadi lebih parah.
Atau ketika seseorang sedang dalam antrian dalam ruang praktek dokter, ada seseorang yang anak kecil dan tampaknya jauh lebih kesakitan daripada kita, baru datang dan mengantri sesudah kita. Kita yang sudah mengantri lebih dari satu jam, yang juga sedang migren, demam dan nyeri dengan bisul di bibir ; apakah kita akan membiarkan anak itu masuk terlebih dahulu padahal dia baru saja datang?
Atau ketika kita memiliki posisi sebagai pejabat pemerintah, seseorang datang memohon persetujuan dan pengesahan dari dokumen dan perjanjian kontrak; datang dengan membawa uang suap. Semua orang di kantor kita memiliki budaya dan kebiasaan yang sama. Semua orang tau bahwa suap itu adalah etika yang rusak, tapi semua orang melakukannya. Jadi akan kita terima kah uang suap itu? Jika kita tolak, kita menjadi orang yang sok suci, dikucilkan karena tidak sejalan dengan semua orang dalam kantor kita. Jika kita terima, hati nurani kita menegur kita bersalah.
Atau ketika kita melihat handphone yang tergeletak di kamar mandi pusat perbelanjaan, tanpa pemiliknya. Akankah kita ambil? Atau kita biarkan? Atau kita bawa pulang? Atau kita serahkan kepada pihak managemen atau pihak keamanan gedung? Tidak akan ada seorangpun yang menyalahkan kita kalau kita bawa pulang dan kita jual, karena tidak ada yang tahu. Tidak ada siapapun yang akan menegur kita selain daripada diri kita sendiri dan hati nurani kita.

Ada banyak dilema moral yang terjadi di sekitar kita, dimana kita dituntut untuk mengambil sebuah posisi didalamnya. Seperti pepatah yang berbunyi, “Bagaikan buah simalakama, dimakan: bapak mati, tidak dimakan: ibu mati.” Semakin kita memiliki pengertian moralitas dan pengetahuan norma kebaikan dan kebenaran, semakin banyak kita akan menempatkan diri kita dalam dilema moral.

Moralitas dan Perasaan Bersalah

Dari manakah munculnya kesadaran moral? Secara sangat singkat, dari didikan budaya dan agama. Saya yakin kita semua akan setuju jika saya katakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Saya yakin sebagian kita akan setuju jika saya katakan bahwa kesadaran moral adalah sama seperti kesadaran tentang keberadaan Tuhan, yang ada sejak manusia dilahirkan. Namun bersamaan dengan kesadaran moral tersebut, ada hal dalam diri kita yang ada sejak lahir, namun tidak kita sadari, yaitu amoralitas.

Saya mengasumsikan kita semua pernah mendengar kalimat bahwa, “manusia itu pada dasarnya baik. Manusia dilahirkan seperti lembaran kertas putih polos. Masyarakatlah yang membuat manusia menjadi rusak dengan pengaruh negatif.”

Saya pribadi tidak setuju dengan kalimat itu. Siapakah masyarakat? Masyarakat adalah kumpulan manusia. Jika kumpulan manusia semua berasal dari kertas putih polos, darimana datangnya ketidakbaikan?
Ingatkan kita ketika kita pertama kali mencuri? Ingatkah betapa kita sangat ketakutan ketika itu? Atau ingatkan kita ketika kita pertama kali berbohong?

Kita tahu bahwa kita bersalah. Hati nurani menegur kita, dan hidup kita menjadi tidak tenang karenanya. Dalam perkembangan kita, kita mulai mengenal kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, keadilan dan kelaliman, dan seterusnya; berikut dengan segala kompleksitas dan dilema didalamnya.

Kita mengenal dan belajar tentang semua itu dari mereka-mereka yang memiliki kepekaan terhadap teguran hati nurani mereka, mereka-mereka yang menjaga moralitas mereka, dan kita menganggap mereka itu sebagai orang-orang saleh. Dan kita mengenal mereka semua sebagai pengajar moral, pemuka agama, pemimpin agama, dan seterusnya.

Pernahkah kita sadari bahwa justru dari pengetahuan akan moralitas tersebut membangkitkan kesadaran kebersalahan? Perasaan bersalah itu muncul karena kita mengerti hal yang baik dan hal buruk. Ketika kita tidak  mengerti akan perbedaan benar dan salah, tidak ada dalam diri kita yang menegur.

Konsep Dosa

Saya yakin kita semua setuju bahwa sebagai orang yang beragama, kita semua mengenal konsep dosa. Bahkan orang yang tidak beragama pun harus mengakui suatu perasaan bersalah yang timbul dalam diri seseorang, termasuk didalamnya adalah perasaan menyesal. Setiap orang yang tidak memiliki perasaan bersalah atau penyesalan dikategorikan kedalam orang yang memiliki gangguan kejiwaan yang parah atau psychopathy.

Sesungguhnya, agama tidak pernah membawa kita kepada kebenaran. Agama membawa kita kepada konsep pengertian bahwa ada kebenaran dan kebaikan. Melalui pengertian tersebut, kita dibawa pada pengetahuan akan yang baik dan yang jahat. Semakin kita mengenali dan mendalami perihal kebaikan, semakin kita mengetahui bahwa kita ini adalah orang yang memiliki banyak kesalahan.

Ketika kita berbuat baik, menolong orang, memberikan kepada seorang pengemis bantuan berupa uang, kita merasa sudah baik. Kita berbuat baik. Kita adalah orang baik. Kita menolong orang lain.

Pernahkah kita memikirkan lebih jauh, apakah perbuatan kita menolong pengemis itu akan berakibat baik bagi dia atau malah menjerumuskan dia? Apakah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengemis tersebut? Apakah uang? Ataukah pekerjaan? Ataukah kesempatan? Apakah uang yang kita berikan dia gunakan untuk membeli makanan atau malah membeli rokok yang malah tidak menyehatkan?

Saya sekali lagi yakin, bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan seharusnya menggugah sebagian kita dan menyadarkan kita. Tapi kita merasionalisasikan perasaan tanggung jawab moral dan kesadaran moral itu dengan alasan-alasan seperti berikut: yang penting kita sudah berniat baik. Yang penting adalah niatnya. Masalah pengemis itu mau terus menjadi pengemis, atau uang itu mau dipakai untuk beli makanan, atau beli rokok, atau beli pisau untuk menodong orang, atau dipakai untuk menyekolahkan anaknya, kita tidak tahu. Tepatnya, kita tidak cukup perduli.

Dengan kata lain, kita tidak bisa dipersalahkan ketika kita tidak tau.

Hal itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Pengertian itu seharusnya membangkitkan suatu perasaan bersalah yang lain. Yaitu seberapa jauh pun kita mau berbuat baik, kita tidak bisa berbuat baik. Kita tidak bisa secara tuntas berbuat kebaikan yang dapat membenarkan diri kita atau membuat diri kita dibenarkan. Karena kita tidak tahu, hal itu cukup untuk menenangkan hati nurani kita dan menjauhkan kita dari perasaan bersalah.

Agama dan kebenarannya hanyalah membuktikan bahwa diri kita ternyata tidak mampu melakukan kebaikan. Dan melakukan satu kesalahan dari satu larangan dalam agama berarti telah melanggar semua hukum. Agama tidak menyelamatkan. Perbuatan baik tidak membuat kita dibenarkan. Saya yakin kita semua bisa menyetujui kalimat berikut, apakah semua orang dalam penjara adalah orang yang tidak beragama? Tidak. Pasti ada banyak orang yang berada dalam penjara yang adalah orang yang taat beragama. Apakah koruptor adalah orang yang tidak taat beragama? Jika mereka beragama, mengapa mereka tetap korupsi?

Akan tetapi melalui jalan agama, seseorang diberi tahu bahwa dia bersalah, dia berdosa. Dan sebagian besar agama menawarkan penyelesaian, yaitu melalui perbuatan baik. Namun hal tersebut menimbulkan permasalahan yang lain lagi yang sudah kita bahas, yaitu kesadaran bahwa tidak ada perbuatan baik kita yang benar-benar tuntas merupakan kebaikan yang dapat dibanggakan dan dijadikan pengganti perbuatan dosa kita dan menenangkan perasaan bersalah kita.

Masalahnya utamanya adalah kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan. Kita berusaha melakukan penebusan kesalahan kita dalam setiap upacara besar keagamaan. Setiap kali. Dan setiap kali kita melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada jalan keluar melalui agama, karena perbuatan amal kita tidak bisa menyelamatkan kita.
Berusaha menyelamatkan diri melalui perbuatan amal adalah seperti melanggar lampu merah. Kita keluar rumah, hendak menuju ke rumah kekasih kita, di jalan ada sepuluh lampu merah. Setelah melalui 9 lampu merah, kita sadar bahwa kita sudah terlambat. Maka di lampu merah ke-10, kita serobot dan langgar. Kemudian kita dihentikan oleh polisi dan di tilang. Kita tidak bisa berargumen kepada polisi itu, “Bapak tidak boleh menilang saya. Saya sudah melewati 9 lampu merah dengan tertib, masa baru 1 lampu merah yang saya langgar, sudah ditilang?”
Kita tidak bisa juga berargumen kepada seorang hakim, “Sudah 39 tahun saya hidup sebagai warga negara Indonesia, tidak pernah saya berurusan dengan hamba hukum, masakan baru satu kali ini saya mencuri karena anak saya sakit keras dan hampir mati, saya akan langsung masuk penjara?”

Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan. Dan agama memperjelas hal itu. Melalui agama kita mengenal semua baik dan jahat. Dan semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak kita sadar bahwa semakin banyak yang kita perbuat ternyata tidak baik.

Jika kita bisa dianggap baik hanya dengan mempercayai suatu agama tertentu tanpa perlu hidup bertanggung jawab dan suci, apa gunanya kita hidup bersusah payah berusaha mengejar kesalehan? Apa gunanya kesadaran kita akan moralitas? Jika demikian halnya, apakah gunanya beragama? Dan disini jawaban yang saya temukan yang selalu saja diucapkan orang: Ada begitu banyak agama di luar sana. Apakah semua agama itu sama saja dan berakhir dengan kebuntuan dan dilema sedemikian?

Advertisements

Paradigma Kontradiksi Kebaikan vs. Kejahatan dalam Filsafat

Sepanjang sejarah, agama dan kepercayaan, filsafat dan pemikiran, berusaha menggali alam yang nyata dan alam yang tidak nyata. Upaya tersebut menimbulkan pemikiran dualisme tentang dunia spiritual atau dunia ide dan dunia material yang dapat dikenali oleh semua indra dan dengan mudah dicerna oleh pemikiran rasional. Entah sejak kapan hal itu ada dan dikerjakan oleh manusia, tapi selalu ada pengakuan bahwa ada sesuatu yang melampaui dunia material yang kita kenal berikut dengan kekuatan dan pengaruhnya yang lebih besar daripada batasan dan kemampuan manusia.

Semuanya berlangsung hingga saat manusia mencapai kemajuan pemikiran yang memunculkan ide bahwa manusia adalah awal dari segala hal, puncak dari segala sesuatu dan akhir dari segala sesuatu; Dan pemikiran itu serta merta menganggap bahwa kepercayaan tentang keberadaan kuasa di luar manusia adalah takhyul, kuno, dan terbelakang. Manusia membuang semua ide tentang kuasa yang lebih besar dari manusia dan meletakkan figur manusia di tempat tersebut. Akan tetapi kemudian hal itu menimbulkan kekosongan yang luar biasa dalam hidup manusia karena ide itu mentelantarkan manusia kepada keterhilangan dan ketersesatannya di sepanjang hidupnya, dan mendegradasi nilai hidupnya menjadi kekosongan dan kesia-siaan. Hingga pada akhir hayatnya, kematian menjadi sesuatu yang tidak terelakkan dan hati nuraninya menganiaya dia dengan ketakutan seandainya ada kehidupan setelah kematian. Contoh yang menarik adalah Friedrich Nietzsche dengan ateisme dan ucapannya yang terkenal dengan sedemikian terus terang dan terbuka, “Tuhan sudah mati! Aku sudah membunuhnya,” yang diungkapkannya berulang-ulang, memiliki akhir kehidupan yang menarik pula.

Pemikiran demi pemikiran terus menerus bermunculan dari berbagai aliran filsafat baik dari filsafat barat yang menekankan pada rasionalitas maupun dari filsafat timur yang menekankan pada emosi dan perasaan yang menjadi jalan dan cara hidup. Sementara berbagai budaya menghasilkan konsep perseteruan tentang kebaikan dan kejahatan dalam mitos dan legenda para dewa, pertarungan tanpa akhir antara dunia spiritual dan dunia material, ketegangan antara keteraturan dan kekacauan, dan permusuhan antara pencipta, pemelihara, dan perusak. Hingga akhirnya muncul suatu pemikiran sinkretisme sebagai penengah dalam antroposentrisme bahwa tidak ada kebaikan ultimat ataupun kejahatan ultimat. Selalu ada kebaikan dalam diri orang jahat, dan selalu ada kejahatan dalam diri orang baik. Filsafat timur dengan sangat indahnya menyebut hal ini sebagai Yin dan Yang, sebagai dualisme antara kebaikan dan kejahatan, terang dan gelap.

Inilah yang akan menjadi pembicaraan kita kali ini.

Sepintas lalu, upaya ini terlihat memberikan penyelesaian yang jelas untuk menggambarkan keadaan dunia kita. Terlihat logis dan rasional, bahwa ada kejahatan dan kebaikan, ada terang dan gelap, ada api dan air, ada hal-hal yang memang bertentangan yang ada dalam dunia ini. Hal ini terlihat seperti sebuah paradoks yang merupakan kebenaran.

Tapi hal ini sebenarnya adalah merupakan kontradiksi yang tidak memberikan jawaban, melainkan lebih menimbulkan pertanyaan daripada memberikan jawaban penyelesaian. Adapun cara pandang terhadap fenomena ini kurang tepat. Pandangan bahwa ada kebaikan dan kejahatan dalam diri manusia, bahwa di dalam terang, ada sisi gelap dan di dalam gelap ada sisi terang. Pertentangan yang berusaha diselesaikan dengan secara paradoks.

Pertentangan ini bermula dari pandangan bahwa kegelapan dan kejahatan dalam hal ini dijadikan sebuah keadaan atau entity atau entitas. Kegelapan dianggap sebagai keadaan yang memiliki eksistensi yang jelas dan berdiri sendiri secara kondisi dan keadaan yang nyata. Demikian pula kejahatan. Walaupun tampaknya demikian, kegelapan bukanlah entitas sendiri.

Kegelapan adalah kondisi dari tidak adanya terang.
Kejahatan adalah kondisi dari tidak adanya kebaikan.

Manusia memiliki kecenderungan untuk memikirkan jalan tengah dan kemudian berdiri sendiri. Contoh kontradiksi yang menarik dan dipakai dalam skala luas adalah “keadaan tidak memihak”; Ketika ada dua golongan sedang berseteru, muncul orang-orang yang katanya tidak memihak, bersikap netral, ambigu, menjadikan kondisi abstain sebagai penyelesaian natural. Padahal mengambil posisi yang katanya “tidak memihak” itu malah menjadikan mereka membentuk sebuah kelompok penanding lain yang namanya “tidak memihak”. Sekarang, dari dua golongan yang berseteru tersebut, muncul kelompok ketiga yang dinamai “kelompok tanpa pihak”. Kelompok ini menjadi masalah karena akhirnya menjadi kelompok oposisi dari dua kelompok yang mula-mula yang berseteru. Sehingga sekarang ada tiga kelompok yang sedang berseteru.
Seringkali, kita harus memihak. Kita tidak bisa melepas tanggung jawab dan menyelesaikannya dengan jalan keluar yang pragmatis yang seolah-olah merupakan jalan keluar.

Melalui paradigma dan perspektif tersebut, kita bersama-sama telah melihat bahwa ternyata tidak ada kondisi gelap yang bercampur terang ataupun kejahatan yang bercampur kebaikan. Seolah-olah hal itu digambarkan seperti bagaimana seseorang yang berselingkuh tidak mungkin mencintai dua orang secara sama rata, dia akan selalu mencintai yang satu lebih daripada yang lainnya. Seperti fenomena tarik-menarik dalam diri seseorang yang berusaha hidup baik, namun membuat perkecualian dari waktu ke waktu dengan mengambil keputusan-keputusan yang kejam.

Tidak pernah mungkin akan terjadi saat ketika kegelapan datang dan mengusir keberadaan terang. Yang akan selalu ada adalah terang datang dan mengusir kegelapan, karena kegelapan itu bukanlah eksistensi, melainkan non-eksistensi dari terang. Kegelapan itu ada karena terang tidak ada.
Demikian pula kejahatan dan kelaliman. Kondisi itu ada karena tidak ada kebenaran dan keadilan. Ketika ada keadilan, maka kejahatan dan kelaliman tidak bisa terjadi. Ketika kebaikan dalam eksistensinya menjadi non-eksisten, muncul kejahatan.

Sama seperti terang dan gelap, terang merupakan energi, dan energi harus memiiliki sumbernya. Harus ada upaya dan usaha yang dilakukan untuk membuat terang. Dan hal tersebut tidak mudah. Akan jauh lebih mudah membuat kegelapan.

Demikian pula dengan kebaikan dan kejahatan, dibutuhkan upaya keras untuk melakukan kebaikan, dan kebaikan itu harus memiliki sumbernya sendiri. Dan hal itu tidak mudah. Akan lebih mudah untuk tidak mau mengakui sumber kebaikan itu dan membiarkan kejahatan dan kelaliman ada.

Demikian pula dengan manusia, manusia itu pada dasarnya jahat (berlawanan dengan pendapat dan pandangan dari psikologi dan sosiologi yang berkata bahwa manusia itu pada dasarnya baik). Jika manusia pada dasarnya baik, maka manusia tidak akan perlu dididik dan diajar untuk berbuat hal yang baik, yang benar, yang bermoral, yang bernilai tinggi, dan yang suci, namun pada kenyataannya, manusia membutuhkan didikan yang susah dan keras dan berat untuk menjadikannya manusia yang baik. Manusia tidak perlu dididik dan dia akan selalu jahat dan tidak bermoral dan egois serta serakah.

Jikalau demikian, darimanakah sumber kebaikan itu sendiri supaya manusia dimampukan untuk berbuat baik dan mengusir kejahatan dan kelaliman dari dalam dirinya?
Buku orang Kristen memberikan jawabannya: bahwa kebaikan itu berasal dari Tuhan yang sejati. Dia adalah kebaikan itu sendiri dalam eksistensinya. Dia tidak menghasilkan kebaikan, karena diri Dia ADALAH kebaikan, Dia adalah terang itu sendiri di dalam diri-Nya. Jika ciptaan-Nya tidak kembali kepada Dia, tidak ada seorangpun bisa berbuat baik, seorang pun tidak.

Tidakkah kita lihat sendiri, ketika seseorang membuang Tuhan yang sejati, tidak akan pada dia perbuatan baik itu. Dan tidakkah kita lihat sendiri, orang yang paling berani berbuat jahat adalah orang yang mengaku sebagai orang yang paling beragama. Kondisi itu menimbulkan kekecewaan dalam diri manusia, karena bagi mereka, mereka mengira bahwa agama seharusnya mendatangkan kebaikan. Yang gagal dilihat oleh manusia, walaupun sudah ada dalam sejarah (seperti kata Friedrich Hegel, “Kita belajar dari sejarah bahwa kita tidak belajar apapun dari sejarah.”), bahwa ada begitu banyak pemikiran tentang tuhan dan manusia mengambil kesimpulan bahwa semua tuhan adalah salah. Padahal sudah ada satu Tuhan yang menyatakan dirinya ke dalam sejarah, tapi kemudian itupun ditolak oleh manusia. Jadi dengan apalagi manusia bisa diyakinkan, sehingga kemudian mereka mengusir semua tuhan pergi keluar dari hidupnya dan menerima entah apa secara pragmatis dan mengambil jalan mudah yang sebenarnya tidak bisa dikatakan mudah pula.
Pengusiran keberadaan Tuhan dari hidup manusia mengembalikan manusia pada pola pikir ateistik yang sudah kita bahas di atas.

Sehingga dalam upaya manusia menggali dan mengupayakan kebaikan dalam hidupnya, mau tidak mau, dia harus mengakui keberadaan Tuhan yang benar, sebagai kebenaran yang benar-benar BENAR. Kegagalan manusia untuk mengakui Tuhan yang benar dalam hidupnya akan membawa balik manusia kepada pencarian tanpa akhir, perseteruan kebaikan dan kejahatan serta sinkretisme “yin dan yang” tadi.

Pengetahuan dan Pengertian; Kebenaran dan Kebijaksanaan

Tema tentang pengetahuan (knowledge) merupakan pembahasan yang telah berlangsung sepanjang sejarah pemikiran manusia. Filsuf dan pemikir, sosiolog, psikolog, ahli agama dan teolog, penyair, penulis dan sastrawan telah berupaya memahami tentang hal ini. Berbagai pendapat dan argumen dari berbagai sudut pandang membahas tentang “bagaimana seseorang bisa mengetahui yang dia ketahui.” Metafisika membahas topik ini dengan sangat rumit dan kompleks melalui proposisi-proposisi yang begitu luas melalui berbagai presuposisi.

Membahas mengenai para pemikir tersebut akan menjadi topik bahasan yang sangat besar dan sangat luas, tidak akan ada habisnya. Sudut pandang idealisme dan teori juga bukan merupakan posisi dan titik awal yang di ambil dalam pembahasan ini. Hanya membayangkannya saja sudah terasa sangat mengerikan.

Apakah TAHU itu?

Orang yang sudah tahu, tidak perlu diberi tahu.
Orang yang tidak tahu, tidak bisa diberi tahu.
Inilah paradoks pengetahuan. Jika seseorang sudah mengetahui, apa gunanya dia diberi tahu. Jika seseorang tidak mengetahui, bagaimana caranya dia bisa diberi tahu. Agar seseorang bisa tahu, dia pertama-tama harus tahu bahwa dia tidak tahu. Tapi bagaimana caranya dia bisa tahu apa yang dia tidak tahu? Bagaimana bisa ada penerobosan di dalam dirinya untuk menyadari bahwa dia tidak tahu, jika dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu? Jadi, untuk menjadi tahu, dia harus tahu; padahal dia tidak tahu.

Kiranya sekarang sudah terbayang betapa besar kesulitan pemikiran sepanjang sejarah manusia berusaha memahami hal ini. Socrates (filsuf Yunani yang hidup dikisaran tahun 470 BC) mengatakan, “I only know one thing: I know nothing.” (Terj: Aku hanya tahu satu hal: Aku tidak tahu apa-apa.) Ini adalah paradoks Socrates tentang pengetahuan.

Tetap tidak dapat menjawab bagaimana manusia bisa tahu akan banyak hal yang mengisi kepalanya. Kita bisa mengatakan bahwa kita lebih pintar daripada Socrates dan berkata karena ada orang lain yang memberi tahu, jadi kita bisa akhirnya dari tidak tahu, menjadi bisa mengetahui. Socrates itu bodoh, orang kuno, waktu itu dia belum mengerti bahwa kalau sudah diberi tahu, orang bisa tahu.

Mengapa harus TAHU?

Baiklah, setelah diberi tahu, orang seharusnya tahu.
Tapi mengapa ada orang yang sudah diberi tahu, masih juga tidak tahu? Kenyataannya, kita bisa memberi tahu kepada banyak orang segala jenis pengetahuan dan segala macam pengetahuan, tapi akan selalu ada orang yang tidak tahu.

Kita diajarkan segala macam ilmu di bangku sekolah, apakah kita tahu semua yang diajarkan pada kita? Apakah raport kita semuanya mencerminkan nilai yang sempurna sebagai tanda bahwa kita mengetahui semua yang diberitahukan kepada kita?

Tetap tidak menjawab bagaimana seseorang bisa mengetahui apa yang dia ketahui.
Kita bisa mengatakan lagi bahwa itu berbeda. Ada tahu yang asal tahu, ada tahu yang benar-benar tahu, ada tahu yang menuju pada pengertian. Tahu itu tidak sama dengan mengerti.
Sekarang, ada sebuah wawasan baru yang terbuka. Dan Socrates sudah tidak lagi kelihatan terlalu bodoh. Kita sekarang mengetahui ada ‘tahu’ yang sungguh, dan ada ‘tahu’ yang tidak sungguh.

Apakah yang dimaksud dengan mengerti?

Setelah seseorang diberi tahu, kepada dia diharapkan untuk mengerti.
Itulah prinsip pendidikan manusia. Seseorang bermula dari tidak tahu; setelah diberi tahu, dia diharapkan menjadi tahu, tidak sekedar tahu melainkan mengerti; setelah dia mengerti, dia diharapkan untuk melakukan tindakan yang benar sesuai dengan pengertian yang benar yang sesuai dengan pengetahuan yang benar.
Tahapannya diharapkan terjadi sesederhana itu.

Akan tetapi sekarang keluar satu wawasan baru lagi: ‘benar’ / ‘kebenaran’.

Seharusnya sekarang kita mengetahui bahwa manusia tidak boleh hanya sekedar tahu; akan tetapi, selain tahu, dia juga harus mengerti. Apakah kita mengerti (selain mengetahui) akan pengetahuan itu? Apakah kita mengerti apa yang kita mengerti?

David Rosenthal, seorang filsuf dan pengajar di City University of New York, dia sangat dikenal melalui karyanya higher-order-thought theory of consciousness. Dia mengatakan bahwa seseorang tidak memiliki kesadaran yang benar-benar sadar jika  dia tidak menyadari kesadaran tersebut; jadi, sebuah kondisi kesadaran itu baru dapat dikatakan dalam keadaan sadar, jika dia sendiri menyadari apa yang dia sadari.

Demikian pula halnya dengan pengetahuan dan pengertian yang dimiliki seseorang. Sebagai paradoks, dapat pula dijelaskan bahwa seseorang baru dapat dikatakan mengetahui jika dia mengetahui apa yang tidak dia ketahui. Karena melalui ketidaktahuan baru dia dapat diberi tahu.

Kesemua pengertian ini masih juga tidak menjelaskan bagaimana orang bisa mengetahui apa yang dia tidak tahu. Tapi sejauh ini, kita sekarang mengerti bahwa pengetahuan muncul dari sebuah pengetahuan akan ketidaktahuan; walaupun tidak dapat dijelaskan bagaimana orang bisa merasa tidak tahu kalau dia sudah merasa tahu (tahu bahwa dia tidak tahu). Inilah kesulitan terbesar dalam paradoks pengetahuan.

Kebenaran dan kebijaksanaan

Tujuan dari kita tahu dan mengerti adalah supaya pengetahuan kita menuntun pada pengertian kita, membawa kita kepada kehidupan yang lebih bernilai. Supaya tindakan dan perbuatan kita, pekerjaan tangan kita diperbaharui oleh pembaruan dalam akal budi kita. Supaya dari tahu dan mengerti, kita boleh menjadi orang yang benar dan bijak. Tahu dan mengerti di dalam wilayah ide dan idealisme, benar dan bijak dalam perbuatan nyata kehidupan yang praktis sebagai wujud nyata adanya keberadaan pengetahuan dan pengertian.

Kita tidak belajar supaya kita tahu banyak hal, melainkan supaya kita mengerti banyak hal. Pengertian yang membawa kita kepada kualitas hidup yang lebih tinggi. Pengertian yang membawa kita kepada perilaku yang benar dan bijak. Sebuah perilaku yang muncul dari satu sudut pandang yang tepat, menganalisa sesuatu dengan tepat, mengambil kesimpulan yang tepat, dan menjalankan solusi dengan tepat. Sedemikian diperlukannya pengetahuan dan pengertian sehingga menuntun manusia untuk memandang segala sesuatu dengan tepat.

Kendatipun demikian, sejak jaman Socrates, melalui ‘interogasi’ dalam penelitiannya terhadap politisi, penyair, dan orang-orang ahli dalam bidang-bidang tertentu, telah disimpulkan bahwa kebanyakan manusia tidak mengerti apa yang dia ketahui, dan dia hidup mengerjakan sesuatu yang ternyata tidak dia mengerti. Kebanyakan orang yang mengaku berpengetahuan ternyata tidak benar-benar mengetahui hal yang katanya mereka ketahui; atau mereka mengetahui jauh lebih sedikit dari yang katanya mereka ketahui. Politisi ternyata tidak benar-benar tahu ataupun mengerti mengenai politik, keadilan, ketatanegaraan, pelayanan dan pengaturan masyarakat, dan seterusnya; demikian pula halnya dengan penyair maupun para ahli. Mereka hanya mengaku atau bersikap bahwa mereka memiliki banyak pengetahuan dan pengertian, yang ketika digali ternyata semuanya kosong dan berbelit-belit.

Seperti tujuan pendidikan yang kita bahas di atas, bahwa pengetahuan itu diharapkan mengarah pada pengertian; pengertian itu diharapkan mengarah pada perbuatan yang sejalan dengan pengertian. Setiap manusia mengerti betapa amat sangat penting bagi seseorang dididik dan diberi pengetahuan yang baik dan benar.

Tidak seorangpun dididik untuk menjadi penjahat, atau perampok, atau pembunuh, atau koruptor. Tapi entah kenapa, pengetahuan mereka membawa mereka kepada kecelakaan dan menjadi kecelakaan bagi orang lain. Jelas terlihat bahwa alasannya terdapat pada ketidaktahuan bahwa mereka tidak tahu.

Namun naïf sekali kalau dikatakan bahwa mereka tidak tahu tentang perbuatan mereka itu adalah tidak benar dan tidak mengandung kebenaran. Sekali lagi, tidak ditemukan penjelasan bagaimana orang bisa tidak tahu apa yang dia lakukan.

Contoh yang paling saya gemari adalah perilaku merokok.
Seseorang sudah diberi tahu, secara ekstensif, diberikan penjelasan segala akibat buruk merokok dan dibandingkan dengan kebaikan dari merokok. Dan setiap orang tahu –bahkan mengerti– bahaya dari merokok. Namun yang perokok tetap saja merokok. Entah dia profesor, pebisnis besar, presiden, menteri, ahli ekonomi, mahasiswa, pelajar, guru, orang tua, pemuka agama, petani, buruh rendah, dan entah siapa lagi. Apakah mereka orang bodoh? Apakah mereka tidak mengerti?

Perhatikan kalimat di bawah ini:
Mereka tentunya tahu dan mengerti. Namun mereka memandang itu semua dari sudut pandang yang tidak tepat. Mereka menganalisa pengetahuan mereka dari pengertian yang keliru, sehingga tidak ada kebenaran dan kebijaksaan dalam perilaku mereka. Mereka menganalisa pengetahuan dan pengertian mereka tanpa kebenaran dan kebijaksanaan, sehingga terjadi kekeliruan dalam perilaku mereka.
Dari penjelasan barusan, kita bisa melihat bahwa bisa jadi, ‘pengetahuan dan pengertian’ berada di wilayah yang sama sekali berbeda dengan wilayah ‘kebenaran dan kebijaksanaan’.

Hal ini menjelaskan bagaimana orang yang tahu banyak dan mengerti banyak dalam kepalanya, tidak selalu benar dan bijak dalam perbuatannya. Sama seperti orang yang benar dan bijak dalam perbuatannya tidak selalu tahu banyak dalam kepalanya.
Apakah Socrates bersekolah dan tahu ilmu pengetahuan yang kita kenal sekarang? Socrates adalah orang bodoh yang terbelakang di jaman kita sekarang. Kenapa kita masih sangat menghargai pemikiran dia? Karena dia mengerti teori quantum dan membongkar untaian DNA? Alih-alih dengan semua itu, saya bahkan tidak yakin dia tahu dunia ini bulat!
Pengetahuan dan pengertian datang dan pergi, ilmu pengetahuan diperdebatkan sepanjang jaman. Tapi kebenaran dan kebijaksaan tidak sanggup dihancurkan oleh waktu dan sejarah.

Musik klasik kuno dari jaman Baroque yang bertahan ratusan tahun dan diakui oleh para ilmuwan dan ahli musik besar hingga jaman ini; manusia modern dan anak-anak muda yang dicengkeram pragmatisme tidak sanggup mendengarkan musik dengan kualitas sedemikian tinggi. Mereka bahkan menganggap itu musik kuno pengantar tidur, dan lebih suka mendengarkan musik rendah yang selalu berganti dalam hitungan minggu. Modernitas tidak bisa memahami nilai yang tinggi dan sulit, mereka menyukai hal yang rendah dan mudah; padahal mereka TAHU dan MENGERTI bahwa tidak ada sesuatu yang bernilai tinggi yang muncul dari hal yang mudah dan sepele. Musik sedemikian tinggi yang diakui oleh orang-orang yang sangat otoritatif di bidang musik, yang menghabiskan waktu dalam hidupnya mempelajari Johann Sebastian Bach, George Frideric Handel, Antonio Vivaldi, Henry Purcell, Johann Pachelbel, dan seterusnya.

Namun apa yang dikerjakan oleh masyarakat modern dengan pragmatismenya? Musik itu adalah selera pribadi, kata mereka. Tidak usah ribut dengan musik klasik, “ku tahu yang ku mau.” Apakah mereka tidak tahu dan tidak mengerti bahwa dunia terpelajar mengakui karya komposer besar itu sebagai karya yang agung dan megah yang memiliki kualitas dan keindahan yang bertahan ratusan tahun dan tidak sanggup dihasilkan oleh dunia modern?
Mereka tahu. Mereka mengerti. Tetapi mereka tidak mau tahu. Dan tidak mau mengerti.

Sama halnya dengan kebiasaan merokok.
Sama halnya dengan tindakan kejahatan.
Tidak ada seorang pun yang setelah melakukan kejahatan, menolak untuk ditangkap oleh hukum, kemudian berkata, “saya sungguh mati tidak tahu bahwa korupsi itu tidak boleh.” Atau berdalih, “karena saya tidak tahu bahwa membunuh itu tidak boleh, jadi saya harus diampuni.”
Mereka semua tahu apa yang baik. Tetapi yang buruk yang dipilih.

Hal itu menimbulkan pertanyaan yang terus menerus dan tidak habis-habisnya di dalam kepala saya. Kenapa setelah tahu yang baik dan benar dan bernilai, yang dipilih adalah yang rendah, yang salah dan tidak bernilai?

Jelas sekali terlihat keberadaan jurang pemisah yang sangat dalam antara mengetahui, mengerti, dengan kebenaran dan kebijaksaan. Sama seperti adanya harus ada ‘lompatan yang mustahil’ tentang bagaimana seseorang bisa tahu bahwa dia tidak tahu; sedemikian pula harus ada ‘lompatan yang mustahil’ dari pengetahuan dan pengertian kepada kebenaran dan kebijaksanaan. Bagaimana seorang manusia dimampukan untuk melakukan lompatan yang mustahil itu?

Filsafat sepanjang jaman mempertanyakan hal yang esensi ini.

Dan jawabannya –terpaksa harus saya akui– saya temukan dalam buku Cornelius Van Til, seorang Kristen dengan teologi Reformed.
Dia menjelaskan bahwa harus ada campur tangan dari Tuhan, membukakan pengertian yang menginspirasikan (dunia agama mengenali hal ini sebagai ‘pewahyuan’),  dari kekekalan menerobos masuk kepada alam manusia, supaya seseorang dimungkinkan untuk mengetahui bahwa dia tidak tahu. Hal ini langsung menjawab paradoks Socrates.

Bahwa seluruh dunia sudah rusak total sejak kejatuhan dalam dosa setelah penciptaan, dan semuanya sudah berdosa dan dicengkeram oleh dosa. Menyebabkan manusia yang meskipun tahu dan mengerti apa yang baik dan benar, tidak memiliki kemampuan untuk membuat pilihan yang tepa. Cengkeraman dosa membuat manusia tidak mungkin bebas dan memilih yang baik, sehingga yang dipilih selalu yang rendah dan cemar dan jahat. Dan hal ini langsung menjawab perihal contoh-contoh saya di atas.

Hanya melalui kembali kepada kebenaran yang sejati, menjadi murid-Nya, mengetahui apa yang benar, mengerti apa yang benar, baru manusia dapat dimerdekakan dari cengkeraman dunia yang mengikat manusia. Barulah seseorang dimerdekakan (meminjam istilah orang Kristen) untuk kemudian dimampukan melakukan ‘lompatan yang mustahil’ itu: dari ‘mengetahui dan mengerti’ kepada ‘kebenaran dan kebijaksanaan’.

Di titik ini, kepada kita ditawarkan sebuah presuposisi baru, pemahaman yang tampaknya sederhana, yang mendahului ‘tahu dan mengerti’. Urutannya berjalan terbalik sedemikian: supaya kita bisa mengerti, maka kita harus lebih dahulu tahu. Untuk bisa tahu, maka kita harus ‘percaya’ dulu kepada pengajar kita atau kepada yang memberikan ‘tahu’, baru kita bisa mengetahui. Kita tidak akan belajar apa pun jika kita sudah merasa tahu, ataupun jika kita meragukan (baca: tidak mempercayai) orang yang memberi tahu kita.
Hal tersebut sudah pernah saya bahas dengan rumit di sini.

Sekarang, semua pokok bahasan sudah dibahas, dan semua pertanyaan sudah terjawab.
Sekarang tinggal permasalahan apakah jawaban itu mau ditolak untuk kemudian kembali ke titik awal permasalahan tanpa jawaban.

Implikasi “Tak terhingga” Dalam Matematika dan Filsafat

Sejak masa sekolah, kita mengenal tanda “tak terhingga” (simbol:  ; infinity atau lemniscate) melalui bangku sekolah. Kita menemukan tanda itu pada kedua ujung positif dan negatif dalam garis bilangan, kita menemukan tanda tersebut pada prinsip operasional dasar, juga pada operasional intergral dan diferensial. Kita mengenal simbol tersebut sebagai suatu “angka” dalam garis bilangan, yang padanya terjadi perlakuan khusus.

Simbol tak terhingga itu merupakan suatu “angka” yang dapat dioperasionalkan dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, namun hasilnya tidak berubah selain daripada dirinya sendiri. “Angka” itu merupakan angka yang bukan angka, tetapi dianggap sebagai perwakilan sebuah angka namun tidak memiliki prinsip sebagai angka (baca: nilai). Secara prinsip, simbol tak-terhingga ini menjadi satu bentuk paradoks ditengah-tengah angka yang terhingga.

Sebenarnya, apakah simbol “tak terhingga” itu? Mengapa dia bisa muncul ditengah-tengah dunia kita yang tidak satupun bersifat “tak terhingga”? Jika mau dirunutkan, beberapa filsuf Yunani seperti Pythagoras, Plato, dan Aristotle mengakui keberadaan dunia yang terbatas dan dapat diukur dengan bilangan yang natural. Namun Aristotle mengenali bahwa ada banyak hal yang seakan-akan bergerak menuju kepada ke-takterhingga-an, seperti waktu yang seolah tidak berujung. Karena itulah Aristotle memiliki sebuah pemikiran tentang sesuatu yang sifatnya “mungkin tak terbatas” (potentially infinite). Seperti pada garis bilangan misalnya, Aristotle melindungi a priori tentang dunia yang terbatas dengan menjelaskan bahwa garis bilangan itu terbatas, namun sifat garis bilangan itu sendiri memiliki “potensi untuk menjadi tak terbatas” karena tidak akan pernah ditemukan angka terakhir yang jelas dan pasti yang menutup garis bilangan.

Plotinus merupakan pemikir setelah Plato, yang saya ketahui menjadi pemikir pertama yang menyebutkan ada “THE ONE” (baca: yang SATU) yang TUHAN yang tidak terhingga (infinite). Dia menyatakan bahwa SATU ini tidak pernah mengenal pengukuran ataupun pembatasan, SATU ini berada dalam ketidakterbatasan dalam apapun secara eksternal maupun internal, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya.

Agustinus (St. Augustine) kemudian menyatakan hal ini lagi dengan pengertian Plotinus ini secara lebih mendalam dan menyatakan bahwa TUHAN bukan hanya tidak terbatas, melainkan ketidakterbatasan adalah merupakan diri TUHAN itu sendiri, ketidakterbatasan bukan merupakan kondisi atau situasi yang menyebabkan TUHAN ini tidak terbatas, tetapi ketidakterbatasan ini muncul dari dalam dirinya TUHAN yang tidak terbatas yang memiliki kesanggupan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terbatas.

Dalam upaya memahami kondisi tak terhingga, manusia berulang-ulang sejak abad pertengahan mencoba merumuskan dan memahami batasan dalam dunia yang katanya terbatas ini. Namun beberapa upaya yang satu lebih banyak menghasilkan kontradiksi dibandingkan dengan beberapa tawaran penyelesaian yang lain.

Sehingga muncul beberapa teori lain yang kemudian berbalik dari upaya memahami “mungkin tak terbatas” (potentially infinite) dan mencari “pasti tak terbatas” (actually infinite) dalam dunia yang katanya terbatas ini. Yang paling saya sukai adalah teori fractal milik Mandelbrot, selain dari Koch snowflakes.

Filsafat yang satu berbicara tentang mencari batasan, yang lain berbicara tentang mencari ketidakterbatasan, dan keduanya tidak menemukan keterbatasan maupun batasan dari dunia ini. Teori matematika yang dikemukakan mulai dari Galileo, Georg Cantor, Helge von Koch, dan Benoit Mandelbrot. Perhitungan mulai dari kalkulus, hyperspace, hingga pembagian tak terbatas dari DNA kepada ‘quark’. Tidak ditemukan penjelasan tentang ketidakterbatasan. Upaya mencari hal yang tak-terhingga berujung pada “mendekati tak terhingga”, dan mencari hal yang ‘nol’ berujung pada “mendekati nol”; keduanya menjadi upaya yang tidak jelas dalam dunia yang katanya terbatas ini.

Namun simbol tak-terhingga tidak bisa dibuang ataupun diabaikan.

PARADOKS: Dimanakah batasan dunia yang katanya terbatas ini? Ataukah dunia ini sebenarnya adalah tidak berbatas?

PARADOKS: Dimanakah batasan dunia yang katanya terbatas ini? Ataukah dunia ini sebenarnya adalah tidak berbatas?

Sampai disini, saya tidak bisa melakukan hal lain selain daripada membawa kebuntuan yang tanpa akhir ini kedalam paradoks berikut penjelasan dari perspektif yang berbeda.

Ketidakterhinggaan adalah sebuah kondisi yang statis, tidak berubah, tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Dia adalah sesuatu yang sifatnya kekal. Sementara dunia kita dengan segala isinya adalah sebuah kondisi yang dinamis, selalu berubah, memiliki awal dan memiliki akhir. Dengan kata lain, tidak ada yang tinggal tetap dalam dunia kita karena satu-satunya yang tetap adalah perubahannya. Ini adalah wilayah kesementaraan. Yang kekal tidak bisa dimasukkan dalam kesementaraan. Yang sementara, tidak bisa memasuki kekekalan. Usaha terbaik dari upaya mendekati kekekalan adalah mencapai kondisi yang dinamakan “mendekati kekekalan” secara dinamis dan terus berubah dan terus menerus. Disinilah muncul dunia ide dan dunia pragmatis. Dari sinilah muncul filsafat “is-ought problem” (perbedaan antara yang kenyataan dengan yang di harapkan) yang dicetuskan oleh David Hume.

Hasil terbaik dari usaha yang terus menerus untuk mendekati kekekalan itu hanyalah pengertian mengenai kesia-siaan karena tidak mungkin kita dari dunia yang dinamis ini memasuki alam yang statis. Tidak mungkin kita dari alam yang sementara ini memasuki alam yang kekal. Dan upaya melakukannya berakhir dengan kesia-siaan.

Secara filosofi, manusia tidak mungkin mencapai tempat dimana TUHAN berada.

Tidak dimungkinkan dengan cara apapun. Dunia ilmu pengetahuan sudah mencoba membuktikannya, dan dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan hanya menghasilkan filsafat-filsafat yang terus menanyakan hal yang semakin banyak dan tidak pernah terjawab kecuali didalam religi. Dan diantara semua religi itu pun tidak semua bisa menjawab paradoks bagaimana kita yang sementara bisa mencapai tempat TUHAN yang kekal.

Setelah ilmu pengetahuan dan filsafat gagal menemukan cara untuk menuju kepada kekekalan, agama menawarkan solusinya: dengan perbuatan baik. Namun cara ini sudah dipikirkan oleh Aristotle, dikatakan bahwa sebuah perbuatan baik itu baru benar-benar baik jika ada maksud yang baik, dilakukan dengan baik, untuk tujuan yang baik, demi kebaikan, dan hasilnya adalah untuk kebaikan itu sendiri. Dan Socrates juga mengatakan bahwa kebaikan yang sejati itu haruslah berlaku secara universal.

Sekarang, bagaimanakah kita manusia dimungkinkan untuk mencapai kekekalan dengan perbuatan baik?

Definisi perbuatan baik pun sudah tidak bersifat universal dan integral. Dan seandainya, jikalau seumpama, misalnya kita berhasil menemukan definisi tentang perbuatan baik yang sifatnya universal dan integral, itupun tidak baik karena perbuatan baik kita pun tercemar oleh motivasi lain dibalik perbuatan baik kita. Jika kita gagal dititik definisi, bagaimana kita bisa melakukannya tanpa bersalah?

Coba saya jelaskan. Kebaikan itu harus bersifat universal, berarti dilakukan dimanapun, dia harus bersifat baik dan benar adanya. Juga bersifat integral, bahwa perbuatan baik itu di dalam dirinya adalah mengandung semua unsur kebaikan yang tidak tercemar, baik secara maksud, perlakuan, tujuan dan motivasi adalah murni demi kebaikan itu sendiri.

Contoh: Saya memiliki dua permen, dan saya memberikan kepada seorang teman saya salah satu permen. Apakah perbuatan ini baik? Kita lihat apakah perbuatan ini baik? Jika teman saya itu sedang sakit gigi, maka perbuatan saya adalah kurang bertanggung jawab. Jika ada beberapa teman saya disana menginginkan permen, saya menjadi “kurang baik” bagi yang lain karena saya tidak memberikan kepada mereka permen, padahal ada yang sangat menginginkan permen dari saya. Jadi saya hanya baik bagi teman yang saya beri permen, namun kurang baik bagi orang lain yang tidak kebagian permen.
Lebih lanjut lagi, apa maksud saya menjatuhkan pilihan saya untuk membagikan permen saya yang terbatas ini kepada dia, dan bukannya untuk orang lain? Mungkin saya mau supaya dia menganggap saya baik, atau mungkin karena saya menganggap bahwa dia adalah teman dekat saya yang terbaik dan saya mencoba menjaga hubungan baik itu. Sehingga perilaku saya memiliki motif dan tujuan tertentu.

Sama halnya dengan saya berusaha berbuat baik pada atasan saya, dengan maksud supaya saya boleh mendapat kemudahan kenaikan jabatan. Saya yakin tidak sepatutnya kita merayu yang SATU itu yang berada dalam kekekalan untuk meminta Dia membawa kita kepada kekekalan dengan perbuatan baik kita yang tidak seberapa. Bagaimana saya bisa berbuat baik jika perbuatan baik itu sendiri tidak boleh memiliki motif? Jadi apakah benar dengan kata-kata para agamawan yang menyarankan saya untuk berbuat baik, supaya amal saya memampukan saya masuk dalam kekekalan untuk bersama dengan yang SATU itu? Hal itu menimbulkan kontradiksi kebenaran yang sifatnya menghancurkan diri sendiri, bukannya menghasilkan paradoks.

Setiap perilaku perbuatan baik yang saya munculkan, selalu menjepit saya dan membuat perbuatan saya hingga pada level tertentu, menjadi kurang baik. Hal ini menimbulkan suatu frustasi dalam diri manusia yang berusaha mencapai kekekalan (baca: TUHAN).

Inipun sudah dipikirkan oleh filsuf sejak jaman eudaimonisme Yunani kuno. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa kebaikan itu adalah kebahagiaan kita, dan jika mungkin, menjadi kebahagiaan kita bersama dengan banyak orang. Mulai dari Sokrates, Plato, Aristotle, hingga kemudian pada Epikuros, definisi kebahagiaan menjadi apa yang disebut kenikmatan. Itulah kebaikan sejati.

Kebaikan yang disejajarkan dengan kebahagiaan yang kemudian disejajarkan pula dengan kenikmatan menimbulkan suatu pertanyaan yang tidak terungkap dalam diri manusia. Benarkah sifat mengumbar egoisme dan hedonisme diri itu merupakan kebaikan ultimat? Kaum stoic kemudian mencetuskan sesuatu yang berbeda dan berlawanan. Seperti beberapa agama yang menuntut bahwa perbuatan baik adalah menjauhi semua hal yang sifatnya sementara ini, mendekatkan diri kepada gaya hidup yang meninggalkan keinginan duniawi.

Disini saya tidak membahas jalan hidup orang yang tidak mengakui keberadaan kekekalan. Manusia yang pernah mati, belum pernah hidup kembali dan menceritakan apakah ada kehidupan setelah kematian. Yang masih hidup, belum tahu apakah ada kehidupan setelah kematian. Tapi kita semua pada akhirnya akan mengetahuinya. Dan semoga kita semua telah memilih jalan yang benar untuk menuju kepada kekekalan.

Kesemua upaya itu adalah upaya manusia dengan segala pemikiran dan agamanya yang ditawarkan ketengah dunia ini untuk mencapai kekekalan. Dan sekarang sudah dijelaskan bahwa tidak ada jalan keluar bagi manusia untuk menuju pada kekekalan. Tidak ada satu orang pun yang baik, satupun tidak. Hanya TUHAN yang baik di dalam ketidakterbatasannya, seperti yang dikatakan Plotinus dan Agustinus.

Didalam kesia-siaan upaya, kebuntuan pemikiran dalam pencarian jalan keluar, dengan apakah kita bisa mencapai kekekalan? Keputusasaan manusia memunculkan penghiburan semu dengan sikap pragmatis-nya, mengatakan bahwa semua agama itu sama, pada akhirnya nanti kita akan mencapai kekekalan dengan sendirinya; bahwa semua ini tidak perlu dipusingkan karena jika kita mengikuti siapapun yang katanya baik, kita boleh teruslah berbuat baik, nanti akan ditimbang pada akhirnya, mana yang lebih banyak, perbuatan baik atau perbuatan jahat. Dan manusia terus yakin bahwa perbuatan baiknya akan membawa dia kepada kekekalan, meskipun sudah disanggah sejak jaman Yunani kuno oleh semua pemikir besar bahwa kekekalan tidak mungkin dicapai dengan perbuatan baik, ataupun melalui perhitungan, logika, idea, dan seterusnya.

Di dalam keputusasaan ini, sekali lagi, dalam kelelahan yang sangat, saya tidak bisa tidak, mau tidak mau harus kembali pada apa yang ditulis dan dijelaskan dalam bukunya orang Kristen. Bahwa manusia tidak akan pernah mencapai kekekalan, jika kekekalan itu tidak lebih dahulu menembus dan masuk kedalam kesementaraan. Tidak ada orang yang dapat mencapai Tuhan jika Tuhan tidak terlebih dahulu membukakan jalan bagi manusia. Tidak ada jalan lain, hanya satu jalan, dan jelas bukan melalui perbuatan, melainkan melalui inisiatif Tuhan sendiri karena bagi Tuhan, tidak ada hal yang tidak mungkin dalam ketidakterbatasan pikiran Dia (pengakuan Plotinus dan Agustinus). Tuhan-nya orang Kristen mengakui sendiri dan memberitahukan (sebagai inisiator) yang berhak dia lakukan seturut dalam hukum relasi pencipta dan cipataan; bahwa tidak ada jalan lain untuk menuju kepada Dia jika tidak melalui Anak-nya yang kekal itu sebagai satu-satunya jalan “yang SATU”, supaya didalam Anak-Nya yang SATU itu, manusia bisa melakukan perbuatan yang benar-benar baik, yang tidak memiliki motif. Dialah yang SATU dan tidak terbatas yang selama ini kita cari dalam simbol tak terhingga. Dia yang tak-terhingga. Anaknya yang tak-terhingga. Kesemuanya yang TUNGGAL, yang SATU, yang ESA, bukan DUA – tetapi SATU, yang satu-satunya, karena simbol tak-terhingga bisa dioperasikan (dalam hal ini: dijumlahkan) tanpa merubah hasil selain daripada dirinya sendiri.

Tentu saja ini adalah hasil pemikiran saya. Tidak harus berlaku untuk orang lain.

Tentu saja kita semua yakin mengenai jalan yang kita masing-masing ambil. Jika tidak, tidak ada alasan untuk terus menjalani apa yang kita jalani selama ini. Tapi saya tahu persis apa yang saya lakukan adalah berdasar dan bukan merupakan fanatisme kosong.

Hukum Relasi Pencipta dan Ciptaan

Secara eksistensialis, dunia dan segala isinya adalah produk dari ciptaan suatu entitas yang kita kenal sebagai dengan berbagai sebutan; tapi saya akan menyebutkan namanya disini adalah TUHAN.

Secara sederhana, posisi eksistensialis saya berasal dari pemahaman yang dapat di jelaskan dengan singkat, yaitu bahwa:
Tidak ada sesuatupun yang berasal dan keluar dari ‘kebetulan’ bisa menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan teratur sistematik.

Tidak ada hal yang agung yang muncul sebagai akibat dari kebetulan. Tidak ada hal yang teratur yang muncul dari kebetulan. Perhatikan ke sekeliling kita, semua yang kita lihat dan kita pelajari mengikuti pola keteraturan yang memiliki ‘value system’ (terj: sistem nilai) tertentu dalam esensinya.

Mulai dari benda yang kita pakai, misalnya telepon, televisi, komputer, mobil, gedung, dan lain-lain. Sistem nilai yang ada di sekitar kita, misalnya hukum dan peraturan, tata kota, sistem pengairan, ekonomi mikro dan ekonomi makro, dan lain-lain. Semua hal lain yang berada dalam alam semesta misalnya gerak rotasi bumi dan revolusi planet, keteraturan hukum alam yang dapat diprediksi, keseimbangan ekosistem kecil dan keteraturan yang membentuk ekosistem dunia.

Kesemuanya teratur rapi. Kesemuanya berada dalam posisinya dan memiliki makna. Berdasar pada presuposisi bahwa “tidak ada sesuatu pun yang berasal dari kebetulan yang bisa memiliki nilai yang tinggi ataupun makna yang terlalu dalam”, maka saya simpulkan bahwa dunia ini adalah diciptakan.

Dunia ini dan segala isinya mengikuti Hukum Relasi Pencipta-Ciptaan.

Pakaian yang kita pakai, dibuat dengan melalui perencanaan sebelum pakaian itu dibuat. Siapa yang akan memakai (pria atau wanita), dipakai seperti apa (atasan atau bawahan atau di kaki atau tangan), dipakai oleh orang yang seperti apa (petualang pendaki gunung atau orang yang hidup di pantai), dan seterusnya.

Demikian pula dengan semua hal yang lain yang kita kerjakan. Kesemuanya yang kita lakukan pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu. Dan semua yang kita kerjakan akan memiliki maksud dan tujuan atau yang kita sebut sebagai ‘return value’ (terj: nilai kembali) kepada kita, untuk keuntungan kita.

Hukum Relasi Pencipta-Ciptaan menyatakan:

Segala sesuatu ada karena direncanakan, dibuat, dan diciptakan; berasal dari inisiatif pencipta, oleh kehendak pencipta, untuk maksud dan tujuan pencipta, dan hasil akhirnya adalah bagi kesenangan pencipta.

Hal itu berlaku untuk segala hal yang dikerjakan oleh manusia, selain daripada manusia, tidak ada makhluk di dunia ini yang sanggup memikirkan konsep maupun aplikasi penciptaan tersebut.

Demikian pula dengan dunia ini. Dunia ini dengan segala keteraturannya haruslah memiliki pencipta. Manusia sejak dahulunya telah mengenal keterbatasan diri kita dihadapkan pada alam, kita takluk dibawah hukum alam, kekuatan alam, kuasa alam yang sedemikian dashyat. Kita mencoba memanipulasi alam, memanfaatkan alam, mengelola alam, akan tetapi tidak semua bisa kita kendalikan. Alam diciptakan dengan segala keteraturannya memiliki tujuan dan fungsinya untuk menjaga keseimbangannya sendiri.

Manusia sejak dahulunya telah mengenali dalam jiwanya bahwa ada sesuatu kuasa yang lebih besar yang mengendalikan alam. Mulai dari kekuatan alam yang paling besar, hingga keteraturan partikel yang paling kecil. Itu sebabnya sepanjang sejarah, bermunculanlah berbagai macam agama, kepercayaan, yang melakukan penyembahan terhadap kuasa ultimat tersebut. Meskipun pada abad pencerahan dan abad modern sempat ada upaya untuk melarikan diri dari kenyataan itu dan mereka menolak rasionalisme terhadap hal-hal yang sifatnya melampaui alam natural. Mereka mensejajarkan keadaan supranatural, suprarasional sebagai kondisi yang irasional.

Kendatipun demikian, kita mau ataupun tidak mau, terjepit dalam fakta konsep yang menuntut kita untuk mempercayai bahwa dunia ini adalah diciptakan. Ekstensi dari pernyataan tersebut adalah bahwa kita ini diciptakan, dan bukan melalui proses kebetulan yang terjadi dalam kosmik dunia makhluk hidup: dari binatang yang tidak berbahasa, muncul manusia yang berbahasa dan memiliki pemikiran eksistensialis serta memahami konsep kronos dan kairos (waktu dan momen).

Jika kita diciptakan oleh Tuhan, maka hukum relasi pencipta-ciptaan berlaku pula terhadap diri kita:
Yaitu bahwa manusia diciptakan dari inisiatif Tuhan, oleh kehendak Tuhan, bagi rencanaTuhan dan untuk tujuan yang telah ditetapkan Tuhan sebelumnya.

Yang menarik adalah bahwa pandangan ini juga terdapat dalam buku orang Kristen. Dan disana lebih jelas lagi dikatakan bahwa kita memiliki tugas dan tanggung jawab tertentu yang dituntut oleh pencipta kita; ada pekerjaan yang harus kita lakukan seturut dengan kehendak Tuhan. Yaitu pekerjaan baik yang telah dipersiapkan bagi kita sejak sebelum manusia dijadikan.

Akibat dari proposisi itu, berarti kita yang mengerti bahwa kita diciptakan oleh Tuhan, tidak diperkenankan untuk sembarangan hidup menurut sesuka hati sendiri dan melakukan semua yang kita mau hanya karena kita bisa. Secara tanggung jawab moral dalam kehidupan keseharian pun kita tidak diijinkan untuk bertindak lain daripada yang ditetapkan dalam batasan tanggung jawab dan hak kita.

Konsekuensi dari berlakunya Hukum Relasi Pencipta-Ciptaan ini seharusnya membuat manusia, yang katanya beragama dan mengakui Tuhan sebagai pemilik kuasa terbesar, menjadi makhluk yang menjaga hidup secara bertanggung jawab, menggunakan moralitas yang baik, dengan kebijaksanaan yang tinggi, mengerjakan segala sesuatu dengan berpikir panjang tentang segala sebab dan akibat yang dimasa sekarang maupun nanti dimasa yang akan datang. Manusia yang mengakui Tuhan itu seharusnya memiliki pengertian lebih dan memiliki hidup yang mengarah pada tujuan hidup yang ditetapkan seturut dengan tujuan penciptaan.

Kita mengenal kalimat, “Segala sesuatu terjadi pasti ada alasannya.”
Jadi apa alasan kita berada di dunia ini? Kita dilahirkan dalam dunia dimana “moralitas” merongrong kita sejak masa kecil kita, menuntut kita untuk melakukan perbuatan yang dipandang baik dan pantas. Dan terlebih daripada tuntutan moral, semua agama mengajarkan perbuatan mengenai kebaikan yang harus dilakukan. Dan beberapa agama yang lebih agung mengajarkan kita untuk mengejar kebaikan bagi seluruh umat manusia dan menjadi berkat dimanapun kita berada. Dan agama yang lebih agung lagi mengajarkan untuk mengasihi semua manusia seperti kita mengasihi diri sendiri, untuk mengasihi manusia lain sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan, bahkan hingga kita rela mengorbankan nyawa untuk supaya menjadi berkat dalam kehidupan orang lain.

Itulah tujuan kita diciptakan. Tujuan manusia berada dalam dunia ini.
Untuk memelihara dan mengelola dunia dan alam dibawah kita, dan menjadi makhluk yang bertanggung jawab terhadap pencipta kita. Bukan untuk hidup sesuka hati kita.
Sama seperti kita mengharapkan bahwa semua yang kita ciptakan haruslah berfungsi seturut dengan tujuan yang maksudkan, menghasilkan nilai seperti yang kita rencanakan. Dan semua yang tidak berfungsi seperti yang kita mau, kita kategorikan sebagai ciptaan yang rusak, dan semua yang rusak akan berakhir di tempat sampah.

Pragmatisme dalam Sosiologi Modern

Pragmatisme, secara sederhana, adalah gerakan filsafat yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan atau pemikiran atau tindakan dianggap benar jika bisa dimaanfatkan atau difungsikan dan berhasil dengan memuaskan. Sebagai ekstensi dari pemikiran ini, pernyataan atau pemikiran atau tindakan yang sifatnya pragmatis, selalu mengarah kepada hal yang praktis, yang harus dapat diterima dengan mudah, dilakukan dengan gampang, dan menyelesaikan masalah dengan hasil yang dapat dilihat dengan segera sebagai takaran “berhasil dengan memuaskan”. Konsekuensinya, segala ide, pemikiran, konsep, teori yang sifatnya tidak bersinggungan langsung dengan aspek praktika dengan segera ditolak.

Di tengah-tengah masyarakat modern, sebagian besar manusia hidup dengan cara yang pragmatis. Entah sadar ataupun tidak sadar, filsafat ini telah mencengkeram pola pikir manusia modern. Entah mereka mengerti atau tidak, pernah mendengar atau bahkan tidak pernah mendengar istilah ini, masyarakat modern melakukan dan mengikuti filsafat pragmatisme.

Contoh yang sangat saya sukai adalah sebagai berikut:

  • Ku tahu yang ku mau  : termasuk didalam gerakan humanisme
  • Emang gua pikirin        : termasuk didalam gerakan post-modernisme
  • Ah, teori                       : termasuk didalam gerakan pragmatisme

Ketidakperdulian terhadap semua pengertian tentang berbagai aliran pemikiran dan filsafat yang berada dalam arus budaya, teknologi, dan sosial dalam masyarakat; termasuk ketidakperdulian terhadap contoh pokok pemikiran yang saya utarakan diatas juga adalah hasil dari arus pragmatisme. Mereka hidup pragmatis, namun mereka tidak tahu bahwa mereka pragmatis. Mereka dalam keseharian hidup humanis, oportunis, utilitarianis, tapi tidak pernah tahu apakah semua -isme itu; kendatipun semuanya sudah mereka kerjakan.

Masyarakat modern semakin tidak memperdulikan konsep dan pemikiran yang baik dan benar dan bernilai. Mereka mengejar segala sesuatu yang sifatnya praktis, menguntungkan, demi kepentingan sendiri, dan untuk masa sekarang ini, detik ini juga. Mereka tidak cukup sabar untuk berpikir jauh kedepan, menabur untuk menuai di kemudian hari. Kita berada dalam dunia berbudaya “mie-instan”. Pemikiran dan pertimbangan jangka panjang, sikap yang perduli terhadap penalaran yang baik telah ditinggalkan. Rasa keingintahuan tentang banyak hal sudah semakin menipis dan diabaikan.

Budaya pragmatisme merusak struktur dan integritas sosial dalam dunia modern dan akan terus berlanjut dalam masa yang akan datang.

Berikut akan saya berikan beberapa contoh akibat filsafat pragmatisme:

  • Siswa sekolah hanya untuk mendapat nilai yang baik, lulus dengan gelar, entah bagaimana pun caranya. Mereka bukan sekolah untuk mencapai suatu taraf ilmu untuk mengejar nilai dan kualitas hidup dan didikan yang tinggi.
  • Pelajar yang belajar satu macam bidang tidak perduli tentang bidang yang lain, tidak perduli tentang kaitan ilmu yang dia pelajari dengan berbagai bidang dalam hidupnya. Mereka tidak tertarik untuk mempelajari hal yang mereka anggap tidak relevan.
  • Anak-anak dididik oleh orang tua dan guru bukan untuk menjadi manusia yang dewasa, bermoral baik, berintegritas, agung, suci, memiliki intelektual yang tinggi. Mereka dididik supaya PANDAI. Untuk apa pandai? Supaya kaya.
    Saya tidak pernah mengerti kaitan pandai dengan kaya. Karena saya banyak sekali melihat orang kaya yang sama sekali rendah dan bodoh.
  • Kualitas manusia yang pragmatis, menghasilkan segala sesuatu yang mutunya tidak tinggi. Barang hasil manufaktur dan industri memiliki kualitas yang rendah karena semakin pendek masa pakai suatu produk, semakin sering produk itu harus dibeli, sehingga keuntungan produsen akan terus meningkat.
  • Manajemen di berbagai bidang termasuk didalamnya mulai dari perusahaan hingga pada pemerintahan sebuah Negara menghasilkan putusan-putusan yang sifatnya pragmatis, spesifik untuk menyelesaikan kasus khusus, namun karena dilakukan tanpa landasan pemikiran dan wawasan yang jelas (karena memikirkan itu semua adalah terlalu merepotkan) sehingga hasil keputusan hampir selalu menimbulkan permasalahan baru.
  • Budaya korupsi juga merupakan hasil dari pragmatisme. Pejabat belajar supaya pintar, pintar supaya kaya. Setelah menjabat, dia perlu kaya. Apapun caranya.
  • Manusia yang katanya beragama memiliki kehidupan yang terpecah-pecah dan fragmental. Mereka hanya baik di dalam rumah ibadah, hanya baik ketika menjalankan ritual agama, namun hidupnya di luar menjadi liar karena mereka menganggap bahwa hidup suci di dalam dunia keseharian dan dunia kerja itu tidak praktis dan merugikan. Sebuah perilaku yang merepotkan dan tidak ada manfaatnya.

Semuanya di atas adalah sebagian contoh kecil pengaruh filsafat pragmatisme dalam masyarakat. Dan masalah terbesar dengan masyarakat pragmatis adalah tidak ada seorangpun mau tahu mengenai apakah itu pragmatisme karena mempelajari dan mengerti pragmatisme itu sangat tidak praktis dan merepotkan dan tidak memiliki nilai apapun.

Untuk menyelesaikan membaca tulisan ini pun mereka tidak mau, karena ini hanya teori kosong. “Ah, teori..!” Saya yakin saya sudah mendengar kata itu diucapkan pada saat kalimat pertama tulisan ini dibaca, tapi mereka tidak tahu bahwa saya sudah tahu bahwa mereka tidak mau tahu.

Di akhir pembahasan ini, saya perlu memberikan keseimbangan, –katakanlah– sebuah paradoks. Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa pragmatisme adalah keburukan yang harus dihindari sepenuhnya.

Dalam realita kehidupan kita yang jauh dari ideal dalam idealisme yang ada pada diri kita tentang segala sesuatu yang baik, yang benar, dan yang bernilai tinggi yang harus kita capai, kita harus hidup dengan cara yang sedemikian sehingga kita hidup seturut dengan kondisi masyarakat. Dengan kata lain: kita perlu hidup secara –sampai pada suatu titik–  pragmatis.

Kita akan sangat kesulitan dan terjepit jika kita hidup dalam konstruksi pikiran yang idealis sepanjang waktu. Namun itu tidak berarti bahwa kita boleh hidup berlawanan dengan idealisme untuk berada dalam pragmatisme total. Di sinilah letak paradoks kebenaran antara pragmatisme dan idealisme.

Dengan demikian, saya akan menyodorkan sebuah definisi tentang pragmatisme dalam paradoksnya dengan idealisme dari kitab orang Kristen:

Pragmatisme adalah mencari cara hidup yang terbaik dari semua yang sudah memburuk untuk mencapai tujuan dari suatu idealisme ditengah-tengah kehidupan dalam dunia nyata yang jauh dari ideal. Bukannya idealisme menjadikan kita bersungut-sungut dan mengeluh bahwa dunia ini seharusnya tidak begini. Ketika kita hidup pragmatis, kita menerima kenyataan bahwa dunia ini adalah sedemikian rusak dan tidak akan berubah, sekalipun kita tidak menyukainya. Kita menggali segala kemungkinan dan mengaitkan segala hubungan yang mengatur hidup kita secara totalitas dan menggunakan kekuatan konseptual itu untuk menarik dunia disekitar kita menjadi lebih baik.

Pragmatisme memiliki makna bahwa kita melihat kepada pemikiran dan perilaku kita sambil menanyakan pada diri kita sendiri, apa yang bisa saya perbuat? Apakah pemikiran dan perilaku saya membawa saya semakin hari semakin baik menuju kepada idealisme saya? Apakah hidup saya semakin hari semakin diproses dan semakin diperbaharui seturut dengan pembaharuan akal budi saya?

Contoh mudahnya adalah sedemikian:
Ketika kita bersama-sama dengan semua pemakai jalan raya; keadaan mulai memburuk dengan kemacetan dan semua orang mulai tidak mau mengalah dan saling serobot mendahulukan kepentingan mereka masing-masing dengan sejuta alasan dan pembenaran diri.

Idealisme dalam diri kita mulai mengkritisi kondisi tersebut, seharusnya kalau mau bergiliran jalan dan tidak saling serobot, kita semua akan mendapat gilirannya dan semua akan berakhir baik. Tapi kita pun berpikir, kalau saya terus mengalah, saya akan jadi korban dan saya tidak akan mendapat giliran untuk jalan.

Secara pragmatis, kita akan mulai ikut main dengan situasi dan mulai ikut menyerobot.
Secara idealis, kita akan menanti dan mengalah dan kita akan berada dalam kemacetan itu selama-lamanya.
Benarkah demikian? Tidak bisakah kita menilai situasi secara berbeda selain daripada pragmatis atau idealis? Atau mungkinkah kita dalam waktu yang sama, bersikap pragmatis DAN idealis? Mengambil sikap paradoks, tidak menambahi kekacauan, namun juga tidak mengalah dengan buta dan mengorbankan diri sendiri; Mengerti kewajiban kita yang sama dengan pengguna jalan yang lain, namun tidak bersikap sembarangan dalam menggunakan hak kita.

A beautiful thing is never perfect.

Terjemahan: Sesuatu yang indah tidak pernah sempurna.