Ironi Kontradiksi Antara “Kemauan” dan “Kelakuan” dalam Psikologi

Saya yakin, banyak dari kita –atau mungkin bahkan semua kita– pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat seperti demikian, ‘Saya ingin sehat, tapi susah sekali mau mulai berolahraga,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk memiliki berat badan yang ideal, tapi susah sekali untuk menahan keinginan untuk makan,’ atau ‘Saya ini sudah berusaha untuk rajin, tapi kenapa selalu gagal fokus.’

Kita semua pasti pernah, atau paling tidak merasakan bahwa ada kesenjangan antara apa yang kita mau dan yang kita lakukan yang ternyata kemudian bertentangan dengan tujuan kita seperti contoh yang barusan saya sebutkan. Fenomena kesenjangan antara keinginan dan kekuatan komitmen kita sering kali menjadi penghambat antara impian dan kenyataan. Fenomena sedemikian menciptakan banyak motivator yang mendorong dan menyemangati kita dengan banyak sekali kalimat-kalimat yang mendongkrak motivasi.

“Everything is about HOW BAD DO YOU WANT IT”

Segala hal adalah tentang SEBERAPA BESAR KEINGINANMU

Saya pribadi menyukai kalimat itu. Kalimat itu menyatakan pada kita untuk mencari kedalam diri kita sendiri, seberapa besar keinginan kita, seberapa dalam ambisi kita, dan ketika kita sudah mengetahuinya, maka sebesar itu pula daya dan tenaga yang akan muncul untuk mendorong kita untuk meraih yang kita dambakan.

Tapi benarkah motivasi-motivasi sedemikian benar-benar bermanfaat? Tidakkah kita semua terus mendengar banyak orang yang mengeluhkan hal yang sama? Yang ingin sehat tetap tidak berolahraga, yang ingin memiliki berat badan ideal tetap tidak berhenti ngemil dan makan, yang ingin tidak mencontek tetap malas belajar, yang tahu bahwa merokok tidak sehat tetap tidak berhenti merokok, yang mengerti bahwa candu itu mengerikan tetap tidak berhenti dengan kecanduan, yang ingin saleh tetap tidak behenti menipu, tidak jujur, dan korupsi, yang beragama dan menyebut nama tuhan tetap saja merebut sikap dan menjadi tuhan bagi manusia lain, yang tahu bahwa diri sendiri memiliki salah tapi tetap berani menghakimi orang lain, dan yang ingin masuk surga tetap tidak berhenti berbuat dosa. Tidak ada yang berubah. Semua tetap sama. Manusia tetap adalah manusia yang penuh dengan kesalahan dan kelemahan.

“Belajar melakukan satu hal yang baik saja belum, sudah selesai melakukan seratus hal yang jahat.”

Pernahkah mendengar pepatah tersebut? Itulah gambaran tentang kita, manusia. Kita berjuang untuk menjadi baik, bersusah payah dan berjerih lelah supaya bisa menjadi orang benar, berkualitas, berbudaya tinggi, agung, anggun, berpengetahuan, berwawasan, berbijaksana, bermoral, dan seterusnya. Dan untuk mencapai itu semua adalah tidak mudah, dituntut ketekunan dan perjuangan dan pembelajaran. Namun apa daya, belum juga selesai belajar untuk menjadi positif, kita semua sudah selesai melakukan semua hal yang sebaliknya, yang bertentangan dan yang negatif: kita egois, tidak toleran, tidak mau mengerti kesulitan orang lain, hidup seenaknya, tidak tertib, tidak taat aturan, malas, tidak perduli dan tidak peka terhadap hal disekitar kita, mengumbar hawa nafsu, dan seterusnya. Dan kesemuanya bahkan tidak perlu kita pelajari, tidak perlu pembelajaran, kita lakukan sambil lalu, bahkan tidak perlu kita upayakan atau kita pikirkan.

Mengapa sedemikian? Karena kita manusia. Itulah alasan yang selalu kita lontarkan. Namanya juga manusia. Setelah selesai meminta maaf, kemudian berbuat salah lagi. Sudah selesai menangis dan menyesal, kemudian kembali melakukan hal yang sama. Kita hanya manusia. Membuat saya kadang bertanya-tanya, benarkah perbuatan baik yang saya lakukan bisa ditimbang dan jadinya lebih banyak daripada kesalahan saya?

Apakah kita tidak memiliki keinginan untuk menjadi baik? Apakah kita tidak termotivasi untuk menjadi makhluk yang agung, makhluk yang berbeda dengan binatang, makhluk yang berakal dan berbudi pekerti? Saya yakin jawabannya adalah tidak demikian, kita termotivasi, sungguh-sungguh mau dan termotivasi. Tapi kita tidak pernah berhasil. Paling tidak, saya tidak pernah berhasil. Saya tidak tahu tentang Anda.

Hal ini bukanlah masalah sosial, bukan problematika sosiologi, bukan juga permasalahan psikologi. Kita seringkali dengan ringan menyalahkan orang lain, “aku berusaha baik, tapi lingkunganku yang membuat aku begini dan mempengaruhi aku.” Dengan kata lain, “aku baik, orang-orang itu yang jahat dan membuat aku ketularan menjadi jahat.” Dan semua orang merasakan hal yang sama, dia merasa baik, tapi lingkungan (baca: semua orang yang lain) yang jahat. Bukankah kita masing-masing adalah ‘lingkungan’ bagi semua orang yang lain? Dengan demikian, tidakkah kita secara kolektif adalah sebenarnya jahat? Sudah diri sendiri jahat, masih menuduh orang lain yang jahat dan mempengaruhi kita –‘katanya’– sehingga kita menjadi jahat. Tidakkah kejahatan kita jadi berlipat, menjadi orang jahat dan menuduh serta memfitnah orang lain sebagai orang jahat?

Masalah tentang perbedaan antara keinginan dan kelakuan ini adalah masalah dengan manusia. Manusia memang sedemikian. Tidak ada jalan keluar.

“This is not a technical problem, not motivational problem, not strong will problem. This is a ‘people problem’. And we cannot fix people. No one can.”

Hal ini bukanlah masalah teknis, bukan masalah motivasi, bukan masalah tekad. Ini adalah ‘masalah manusia’. Dan kita tidak bisa memperbaiki manusia. Tidak ada yang bisa.

Sebagian manusia secara fenomena yang kasat mata terlihat baik, terlihat jujur, terlihat sopan, sampai suatu ketika topeng-topeng itu terbongkar dan terlihat sejatinya. Kembali kepada kalimat motivasi favorit saya, semua itu adalah tentang seberapa besar keinginan kita, tetapi hal itu tidak berlaku untuk semua hal. Dalam beberapa hal, motivasi dapat mendorong kita, namun tidak dalam semua hal. Demikian pula dengan psikologi, sampai dalam hal tertentu, psikologi dapat membantu, namun tidak dalam semua hal. Dan tidak ada jalan keluar lain yang dapat ditawarkan.

Paling tidak, tidak dari apa yang selama ini kita kenali sebagai pengetahuan atau filsafat atau agama.

“You’re a man looking at the world through a keyhole. You’ve spent your whole life trying to widen that keyhole… to see more, to know more. And now, on hearing that it can be widened, in ways you can’t imagine, you reject the possibility.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Kamu adalah seseorang yang mengamati dunia ini dari lubang kunci. Kamu menghabiskan seluruh hidupmu mencari cara untuk memperbesar lubang kunci itu… untuk melihat lebih banyak, mengetahui lebih banyak. Dan sekarang, saat mendengar bahwa lubang itu dapat diperbesar, dengan cara yang tidak dapat kamu bayangkan, kamu menolak kemungkinan itu.” – The Ancient One (Dr. Strange)

Sampai pada titik ini, pada situasi yang tampaknya tanpa pengharapan, bagi Anda yang merasakan sedemikian, saya dengan jujur akan mengatakan bahwa saya tidak menulis artikel ini untuk membuat Anda berputus asa. Saya menemukan jawaban dalam buku orang Kristen. Bahwa perubahan dan motivasi yang kuat adalah motivasi yang berasal dari dalam diri. Hal ini juga diketahui oleh kita semua. Motivasi yang berasal dari luar diri tidak akan bertahan lama. Akan tetapi, motivasi seperti apa dan darimana motivasi itu bisa berasal (yang kemudian berada dalam diri seseorang) yang bisa bertahan lama?

Di dalam kepercayaan Kristen, dikatakan bahwa di dalam Yesus, ada kuasa yang memperbaharui dan merubahkan. Perubahan secara fenomena dapat dilakukan oleh siapapun, untuk menipu diri sendiri dan orang lain. Tapi tidak jarang pula, perubahan fenomena itu bisa bersifat sejati. Tetapi ketika menyentuh hal-hal tentang perubahan yang sifatnya esensi dan intisari, yang berkenaan dengan kesalehan, moralitas, kebenaran, kasih dan keadilan, tidak ada perubahan secara fenomenal yang dapat bertahan lama. Perubahan dari luar adalah bersifat sementara dan bahkan bisa mendatangkan frustasi dan keputusasaan dan ketegangan dalam diri. Bayangkan seperti ini, tentang pekerja yang hanya kelihatan rajin saat ada atasannya mengawasi. Itu adalah perubahan fenomena. Dia ingin terlihat baik supaya pekerjaannya dihargai. Tetapi perubahan itu hanya akan mendatangkan ketidaktenangan ketika dia mengerjakan pekerjaannya. Akan tetapi dengan perubahan yang dari dalam diri, ketika dia tahu bahwa dia harus bekerja sebaik-baiknya karena itu adalah hal yang jujur dan benar, dia akan bekerja rajin, baik pada saat ada yang melihat ataupun pada saat sendirian.

“Apakah moralitas itu? Moralitas adalah melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada yang melihat.”

Tentang hal pekerjaan, itu adalah hal yang kelihatan.

Tentang kesalehan, kesucian hidup, kejujuran, dan seterusnya, siapakah yang bisa mengetahui? Hanya takut akan Tuhan yang sejati yang bisa menjaga hal-hal yang sifatnya tidak kelihatan. Di dalam buku orang Kristen dikatakan, “Takut akan Tuhan adalah awal dari pengetahuan.” Itulah moralitas. Hiduplah sedemikian seperti hidup senantiasa dihadapan Tuhan. Perubahan bermula dari penyesalan, dan kita yang telah bersalah, diampuni dosanya oleh Yesus. Dari penebusan dosa oleh Kristus akan ada perubahan dari dalam diri masing-masing orang yang akan mendatangkan dan memunculkan hidup. Kekuatan dari dalam itulah yang menghidupkan seseorang dan memampukan dia untuk dirubahkan.

Sama seperti kehidupan semua makhluk hidup yang berasal dari dalam. Kehidupan tidak pernah berasal dan ditopang dari luar diri, melainkan selalu dari dalam. Ketika manusia berusaha memotivasi diri dari luar, kemudian berputus asa dengan keterbatasannya dan perjuangannya untuk menjadi makhluk yang sejatinya adalah yang berakhlak dan bermoral, ketika tidak ada jalan keluar melalui tuntutan agama dan pengetahuan, iman Kristen memberikan jalan keluar.

Ilmu pengetahuan berbicara tentang benar dan salah. Kemudian Agama –semua tanpa kecuali– berbicara tentang baik dan jahat. Dan Filsafat berbicara tentang bijak dan bodoh. Hanya iman Kristen yang berbicara tentang hidup dan mati yang kekal.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” – Yesus

Tidak pernah ada siapapun pernah mengatakan hal sedemikian (jika Anda menemukan orang waras lain yang pernah mengatakan hal sedemikian, tolong beritahu saya). Iman Kristen tidak hanya bicara tentang benar dan salah atau baik dan jahat, tetapi terutama adalah tentang hidup. Agama mencari jalan. Pengetahuan dan filsafat mencari kebenaran. Dan hampir semua manusia yang pasti akan mati mencari ‘kehidupan’. Dan semuanya ada didalam Tuhan-nya orang Kristen.

Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kesadaran Moral

Saya yakin kita semua pernah berada dalam suatu dilema moral, yang satu lebih kompleks dan berat dibanding yang lain. Ketika kita melihat suami dari sahabat kita berselingkuh, apakah yang akan kita lakukan? Berdiam diri atau menegur atau menyampaikan hal tersebut? Jika kita sampaikan, akan terjadi kerusakan parah dalam keluarga mereka, mungkin anak-anak mereka akan dibesarkan dalam keluarga yang hancur. Jika tidak kita sampaikan, hal itu mungkin akan berlanjut dan menjadi lebih parah.
Atau ketika seseorang sedang dalam antrian dalam ruang praktek dokter, ada seseorang yang anak kecil dan tampaknya jauh lebih kesakitan daripada kita, baru datang dan mengantri sesudah kita. Kita yang sudah mengantri lebih dari satu jam, yang juga sedang migren, demam dan nyeri dengan bisul di bibir ; apakah kita akan membiarkan anak itu masuk terlebih dahulu padahal dia baru saja datang?
Atau ketika kita memiliki posisi sebagai pejabat pemerintah, seseorang datang memohon persetujuan dan pengesahan dari dokumen dan perjanjian kontrak; datang dengan membawa uang suap. Semua orang di kantor kita memiliki budaya dan kebiasaan yang sama. Semua orang tau bahwa suap itu adalah etika yang rusak, tapi semua orang melakukannya. Jadi akan kita terima kah uang suap itu? Jika kita tolak, kita menjadi orang yang sok suci, dikucilkan karena tidak sejalan dengan semua orang dalam kantor kita. Jika kita terima, hati nurani kita menegur kita bersalah.
Atau ketika kita melihat handphone yang tergeletak di kamar mandi pusat perbelanjaan, tanpa pemiliknya. Akankah kita ambil? Atau kita biarkan? Atau kita bawa pulang? Atau kita serahkan kepada pihak managemen atau pihak keamanan gedung? Tidak akan ada seorangpun yang menyalahkan kita kalau kita bawa pulang dan kita jual, karena tidak ada yang tahu. Tidak ada siapapun yang akan menegur kita selain daripada diri kita sendiri dan hati nurani kita.

Ada banyak dilema moral yang terjadi di sekitar kita, dimana kita dituntut untuk mengambil sebuah posisi didalamnya. Seperti pepatah yang berbunyi, “Bagaikan buah simalakama, dimakan: bapak mati, tidak dimakan: ibu mati.” Semakin kita memiliki pengertian moralitas dan pengetahuan norma kebaikan dan kebenaran, semakin banyak kita akan menempatkan diri kita dalam dilema moral.

Moralitas dan Perasaan Bersalah

Dari manakah munculnya kesadaran moral? Secara sangat singkat, dari didikan budaya dan agama. Saya yakin kita semua akan setuju jika saya katakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Saya yakin sebagian kita akan setuju jika saya katakan bahwa kesadaran moral adalah sama seperti kesadaran tentang keberadaan Tuhan, yang ada sejak manusia dilahirkan. Namun bersamaan dengan kesadaran moral tersebut, ada hal dalam diri kita yang ada sejak lahir, namun tidak kita sadari, yaitu amoralitas.

Saya mengasumsikan kita semua pernah mendengar kalimat bahwa, “manusia itu pada dasarnya baik. Manusia dilahirkan seperti lembaran kertas putih polos. Masyarakatlah yang membuat manusia menjadi rusak dengan pengaruh negatif.”

Saya pribadi tidak setuju dengan kalimat itu. Siapakah masyarakat? Masyarakat adalah kumpulan manusia. Jika kumpulan manusia semua berasal dari kertas putih polos, darimana datangnya ketidakbaikan?
Ingatkan kita ketika kita pertama kali mencuri? Ingatkah betapa kita sangat ketakutan ketika itu? Atau ingatkan kita ketika kita pertama kali berbohong?

Kita tahu bahwa kita bersalah. Hati nurani menegur kita, dan hidup kita menjadi tidak tenang karenanya. Dalam perkembangan kita, kita mulai mengenal kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, keadilan dan kelaliman, dan seterusnya; berikut dengan segala kompleksitas dan dilema didalamnya.

Kita mengenal dan belajar tentang semua itu dari mereka-mereka yang memiliki kepekaan terhadap teguran hati nurani mereka, mereka-mereka yang menjaga moralitas mereka, dan kita menganggap mereka itu sebagai orang-orang saleh. Dan kita mengenal mereka semua sebagai pengajar moral, pemuka agama, pemimpin agama, dan seterusnya.

Pernahkah kita sadari bahwa justru dari pengetahuan akan moralitas tersebut membangkitkan kesadaran kebersalahan? Perasaan bersalah itu muncul karena kita mengerti hal yang baik dan hal buruk. Ketika kita tidak  mengerti akan perbedaan benar dan salah, tidak ada dalam diri kita yang menegur.

Konsep Dosa

Saya yakin kita semua setuju bahwa sebagai orang yang beragama, kita semua mengenal konsep dosa. Bahkan orang yang tidak beragama pun harus mengakui suatu perasaan bersalah yang timbul dalam diri seseorang, termasuk didalamnya adalah perasaan menyesal. Setiap orang yang tidak memiliki perasaan bersalah atau penyesalan dikategorikan kedalam orang yang memiliki gangguan kejiwaan yang parah atau psychopathy.

Sesungguhnya, agama tidak pernah membawa kita kepada kebenaran. Agama membawa kita kepada konsep pengertian bahwa ada kebenaran dan kebaikan. Melalui pengertian tersebut, kita dibawa pada pengetahuan akan yang baik dan yang jahat. Semakin kita mengenali dan mendalami perihal kebaikan, semakin kita mengetahui bahwa kita ini adalah orang yang memiliki banyak kesalahan.

Ketika kita berbuat baik, menolong orang, memberikan kepada seorang pengemis bantuan berupa uang, kita merasa sudah baik. Kita berbuat baik. Kita adalah orang baik. Kita menolong orang lain.

Pernahkah kita memikirkan lebih jauh, apakah perbuatan kita menolong pengemis itu akan berakibat baik bagi dia atau malah menjerumuskan dia? Apakah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengemis tersebut? Apakah uang? Ataukah pekerjaan? Ataukah kesempatan? Apakah uang yang kita berikan dia gunakan untuk membeli makanan atau malah membeli rokok yang malah tidak menyehatkan?

Saya sekali lagi yakin, bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan seharusnya menggugah sebagian kita dan menyadarkan kita. Tapi kita merasionalisasikan perasaan tanggung jawab moral dan kesadaran moral itu dengan alasan-alasan seperti berikut: yang penting kita sudah berniat baik. Yang penting adalah niatnya. Masalah pengemis itu mau terus menjadi pengemis, atau uang itu mau dipakai untuk beli makanan, atau beli rokok, atau beli pisau untuk menodong orang, atau dipakai untuk menyekolahkan anaknya, kita tidak tahu. Tepatnya, kita tidak cukup perduli.

Dengan kata lain, kita tidak bisa dipersalahkan ketika kita tidak tau.

Hal itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Pengertian itu seharusnya membangkitkan suatu perasaan bersalah yang lain. Yaitu seberapa jauh pun kita mau berbuat baik, kita tidak bisa berbuat baik. Kita tidak bisa secara tuntas berbuat kebaikan yang dapat membenarkan diri kita atau membuat diri kita dibenarkan. Karena kita tidak tahu, hal itu cukup untuk menenangkan hati nurani kita dan menjauhkan kita dari perasaan bersalah.

Agama dan kebenarannya hanyalah membuktikan bahwa diri kita ternyata tidak mampu melakukan kebaikan. Dan melakukan satu kesalahan dari satu larangan dalam agama berarti telah melanggar semua hukum. Agama tidak menyelamatkan. Perbuatan baik tidak membuat kita dibenarkan. Saya yakin kita semua bisa menyetujui kalimat berikut, apakah semua orang dalam penjara adalah orang yang tidak beragama? Tidak. Pasti ada banyak orang yang berada dalam penjara yang adalah orang yang taat beragama. Apakah koruptor adalah orang yang tidak taat beragama? Jika mereka beragama, mengapa mereka tetap korupsi?

Akan tetapi melalui jalan agama, seseorang diberi tahu bahwa dia bersalah, dia berdosa. Dan sebagian besar agama menawarkan penyelesaian, yaitu melalui perbuatan baik. Namun hal tersebut menimbulkan permasalahan yang lain lagi yang sudah kita bahas, yaitu kesadaran bahwa tidak ada perbuatan baik kita yang benar-benar tuntas merupakan kebaikan yang dapat dibanggakan dan dijadikan pengganti perbuatan dosa kita dan menenangkan perasaan bersalah kita.

Masalahnya utamanya adalah kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan. Kita berusaha melakukan penebusan kesalahan kita dalam setiap upacara besar keagamaan. Setiap kali. Dan setiap kali kita melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada jalan keluar melalui agama, karena perbuatan amal kita tidak bisa menyelamatkan kita.
Berusaha menyelamatkan diri melalui perbuatan amal adalah seperti melanggar lampu merah. Kita keluar rumah, hendak menuju ke rumah kekasih kita, di jalan ada sepuluh lampu merah. Setelah melalui 9 lampu merah, kita sadar bahwa kita sudah terlambat. Maka di lampu merah ke-10, kita serobot dan langgar. Kemudian kita dihentikan oleh polisi dan di tilang. Kita tidak bisa berargumen kepada polisi itu, “Bapak tidak boleh menilang saya. Saya sudah melewati 9 lampu merah dengan tertib, masa baru 1 lampu merah yang saya langgar, sudah ditilang?”
Kita tidak bisa juga berargumen kepada seorang hakim, “Sudah 39 tahun saya hidup sebagai warga negara Indonesia, tidak pernah saya berurusan dengan hamba hukum, masakan baru satu kali ini saya mencuri karena anak saya sakit keras dan hampir mati, saya akan langsung masuk penjara?”

Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan. Dan agama memperjelas hal itu. Melalui agama kita mengenal semua baik dan jahat. Dan semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak kita sadar bahwa semakin banyak yang kita perbuat ternyata tidak baik.

Jika kita bisa dianggap baik hanya dengan mempercayai suatu agama tertentu tanpa perlu hidup bertanggung jawab dan suci, apa gunanya kita hidup bersusah payah berusaha mengejar kesalehan? Apa gunanya kesadaran kita akan moralitas? Jika demikian halnya, apakah gunanya beragama? Dan disini jawaban yang saya temukan yang selalu saja diucapkan orang: Ada begitu banyak agama di luar sana. Apakah semua agama itu sama saja dan berakhir dengan kebuntuan dan dilema sedemikian?

Paradigma Bekerja dan Etos Kerja

Seringkali menjadi salah kaprah dan salah sudut pandang ketika seorang manusia dididik sejak awal bahwa tujuan hidup dia adalah untuk mencari uang. Adalah kurang tepat pula jika dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk bekerja sehingga menghasilkan uang. Entah kenapa, dalam keseluruhan hidup kita, uang, harta benda, dan kepemilikan merajai dan menguasai serta mencengkeram habis segala aspek hidup kita.

Bekerja untuk mencari makan atau bekerja untuk mencari uang itu seperti layaknya seekor sapi yang bekerja. Sapi juga bekerja, supaya dia boleh makan. Sebab sapi yang tidak bekerja akan jadi makanan kita. Jelas manusia memiliki makna lebih tinggi tentang pekerjaan yang dia lakukan.

Di satu sisi, ada orang yang berusaha sedemikian keras untuk mengumpulkan uang. Sementara di sisi lain, ada orang yang mengekang diri sedemikian keras untuk menjauhi uang. Dan di sisi lain, ada orang yang berusaha mengejar kekuasaan, kehormatan dan kebanggaan dalam bentuk ketrampilan atau kepandaian yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan uang. Itulah tiga hal utama yang menguasai hidup manusia.

Pandangan ini diambil dari salah satu buku orang Kristen yang menyatakan bahwa tiga perihal utama yang menjadi pusat dalam hidup manusia, yang pertama adalah tentang uang. Yang kedua adalah tentang pengetahuan atau kebijaksaan. Yang ketiga adalah tentang kesulitan dan penderitaan.

Ketiga hal tersebut terangkum dalam segala hal yang dikerjakan oleh manusia selama hidupnya. Dengan kata lain, baik disadari atau tidak, hidup manusia mengerjakan segala hal berkenaan dengan ketiga hal tersebut. Tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari hal-hal tersebut.

Seseorang mengerjakan pekerjaan belajar untuk mendapat ilmu dan pengetahuan. Seorang yang lain mengerjakan pekerjaannya siang dan malam untuk menghasilkan uang. Seorang ibu mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga dalam jerih payah yang berkenaan dengan penderitaan dan kesulitan dan mendidik anak-anaknya untuk memiliki kehidupan yang baik dan berbijaksana budi pekerti. Dan seorang pemalas bersusah payah dengan kemalasannya menahan penderitaan dan kemelut yang ditimpakannya sendiri kepada dirinya karena kemalasannya.

Setiap orang mengerjakan sesuatu tentang hidupnya. Namun tidak semuanya baik, tidak semuanya benar, dan tidak semuanya berguna –entah bagi dirinya ataupun orang lain. Tidak seorangpun bisa lepas dari suatu pekerjaan. Karena hidup adalah untuk bekerja.

Belajar bukan untuk mencari uang

Entah mengapa, seringkali sekolah dan belajar dan upaya untuk mencari ilmu pengetahuan selalu dikaitkan dengan upaya untuk mencari uang. Hidup adalah untuk bekerja, bukan mencari uang. Uang adalah hasil tidak langsung dari bekerja. Bekerja adalah berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dari sumbangsih seseorang terhadap orang lain, dia boleh mendapatkan uang sebagai imbalannya.

Dengan kata lain, setiap orang harus bekerja dan mengerjakan dalam hidupnya sebuah karya, sebuah pencapaian, sebuah tujuan yang baik dan bernilai tinggi dengan kualitas tertinggi sesuai dengan kapasitas, ketrampilan, kemampuan, dan talenta yang dimilikinya. Uang adalah sarana yang boleh dia pakai untuk mencapai tujuan itu. Uang bukanlah tujuan akhir.

Itu sebabnya banyak orang yang setelah mendapatkan uang, dia kebingungan tentang bagaimana caranya menggunakan uang yang dia miliki. Yang terjadi kemudian adalah uang menguasai hidupnya dan bukannya dia yang menguasai uang. Dia menjadi semakin serakah, semakin kikir, semakin egois, dan semakin banyak uang yang dia miliki, hidupnya menjadi semakin miskin dan tidak bernilai. Dia menjadi selalu merasa miskin dan kekurangan dan tidak pernah merasa cukup walaupun uangnya banyak. Tidakkah kita pernah merasa bahwa orang yang pelit seringkali adalah orang yang berkelimpahan uang? Dan sebaliknya, orang yang boros adalah orang yang tidak mendapatkan uang dengan berjerih payah, tapi mendapatkannya dengan mudah? Serta orang yang miskin adalah orang yang tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan uang yang dia peroleh?

Kesalahan paradigma bekerja dan kaitannya dengan uang ini yang membuat dunia kita sekarang kacau balau. Karena mengejar uang, orang-orang menimpakan kepada dirinya berbagai-bagai kesusahan dan kesulitan dan penderitaan. Muncul pemikiran-pemikiran dan ide-ide untuk menghasilkan uang tanpa harus bekerja, tanpa harus menghasilkan sesuatu, tanpa harus memberikan manfaat bagi orang lain. Cara-cara yang berbagai macam untuk memanipulasi orang lain dan memanfaatkan orang lain demi kepentingan diri sendiri, mulai dari penipuan, korupsi, penggelapan, hingga tipu muslihat yang seolah-olah menguntungkan, sampai pada permainan di pasar modal dan komoditi yang kesemuanya berupa asset diatas kertas tanpa ada barang nyata.

Jika belajar adalah untuk mencari uang, maka korupsi itu seharusnya dibenarkan. Penipuan harus dibiarkan dan perampokan harus dipuji, karena mereka berusaha keras dengan kecerdikan dan kepintaran serta ketekunan yang luar biasa sehingga bisa menghasilkan uang.

Belajar adalah untuk bekerja

Korupsi, perampokan, penipuan, penggelapan, dan seterusnya tidak pernah dikategorikan sebagai “pekerjaan”. Walaupun para pelakunya berusaha dengan susah payah ‘bekerja’ untuk berhasil dalam melakukan tindakannya, dengan rajin dan cerdik dan upaya keras. Tidak bisa dikatakan sebagai bekerja karena tindakan mereka tidak mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Bekerja adalah sebuah tindakan yang seharusnya mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Tujuan dari proses di dalam hidup manusia ini adalah untuk bekerja. Tidak banyak hal dalam hidup manusia yang tidak bisa diselesaikan dengan bekerja, dan kalimat ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan uang. Bekerja adalah untuk menggunakan waktu dengan baik, menjadikan waktu-waktu yang berlalu menjadi bernilai. Bekerja adalah untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan membuat hidup seseorang memiliki kemajuan dan bertambah nilainya. Melalui pekerjaan seseorang, orang lain dapat melihat jati diri seseorang yang sebenarnya, kualitas hidupnya. Seperti sebuah pohon dinilai dari buahnya. Dari pohon yang buruk tidak akan keluar buah yang baik.

Bekerja dan menghasilkan uang

Melalui hasil pekerjaan yang baik, seseorang boleh mendapatkan upahnya. Melalui kehidupan yang baik, seseorang boleh mendapatkan kehormatan. Melalui pembelajaran yang bertanggung jawab, seseorang boleh mendapatkan gelar. Melalui ketekunan dan usaha keras, seseorang boleh menikmati hidangannya dengan tenang dan mencukupkan dirinya dan keluarganya.

Bekerja adalah untuk berkarya, bukan untuk semata-mata menghasilkan uang. Orang yang meninggalkan posisi jabatan manager di perusahaan untuk menjadi supir taksi karena dia bisa mendapatkan uang lebih banyak sebagai supir taksi adalah orang yang tidak mengerti esensi dan inti dari ‘BEKERJA’. Dia tidak mengerti nilai hidupnya sendiri dan dia tidak mengerti prinsip ‘BERKARYA’. Bagaimana dia seharusnya bisa menggunakan hidupnya secara lebih bermakna namun dia buang semua itu demi uang. Lain halnya jika kesempatan belum terbuka dan menjadi supir taksi adalah hal yang paling bermakna yang bisa dia kerjakan, maka bekerjalah sebagai supir taksi.
Apakah ada wanita yang kemudian memilih untuk menjadi pelacur ketimbang menjadi pegawai di toko kelontong karena sebagai pelacur dia boleh mendapatkan uang yang lebih banyak?

Melalui hasil kerjanya, seorang pegawai berhak mendapatkan upahnya. Melihat hasil kerja seorang pegawai yang baik dan bertanggung jawab, seorang tuan berkewajiban memberikan upah yang setimpal. Hak dan tanggung jawab harus dijalankan dengan tepat, yaitu hak harus selalu berada dibawah kewajiban. Hak tidak pernah boleh lebih tinggi daripada kewajiban dan hak tidak boleh mendahului kewajiban. Seorang atasan harus melihat hasil kerja bawahannya terlebih dahulu sebelum dapat menentukan hak yang pas dan tepat sebagai upah pekerjanya.

Namun ditengah dunia dengan paradigma yang banyak melenceng ini, muncul terlalu banyak cara berpikir yang serba terbalik dan tidak tepat. Para pegawai yang menuntut haknya. Para atasan yang tidak perduli dengan bawahannya. Pemerintah yang menuntut terlalu banyak hak dari rakyat dan bersikap melupakan tanggung jawab jabatan dari rakyatnya. Rakyat yang bersikap pragmatis dan tidak menggunakan haknya untuk memilih dengan benar karena tidak mau tahu tentang banyak hal selain dari kepentingan dirinya sendiri. Kesemuanya terjadi karena peletakkan antara hak dan kewajiban yang sama sekali tidak pada posisi yang tepat.

Etos kerja

Tidak adanya pengertian yang tepat tentang hak dan kewajiban mengakibatkan orang memiliki etos kerja dan cara kerja yang tidak tepat. Banyak pegawai mau gaji naik setiap tahun, tapi pekerjaan dan ketrampilan tidak memenuhi syarat. Mau mendapat nilai bagus di sekolah, tapi tidak mau belajar. Mau hidup berkecukupan, tapi tidak mau berjuang.

Hak selalu harus diberikan lebih rendah daripada tanggung jawab. Kenapa harus lebih rendah? Karena manusia selalu men-over-estimasi kemampuan dirinya sendiri, menilai dirinya sendiri lebih tinggi dari yang seharusnya. Jika seseorang menilai dirinya tinggi, lakukanlah pekerjaan yang tinggi, kualitas yang tinggi, maka hak akan menyusul naik seturut dengan kemampuan, kewajiban, dan tanggung jawab yang berani dia pikul. Jangan hanya meributkan hak, tapi terlebih penting lagi, ributkanlah kewajiban dan tanggung jawab.

Banyak orang, belum mulai bekerja, sudah minta gaji tinggi, tunjangan ini dan itu. Belum menunjukkan diri bisa apa, kualitas kerja setinggi apa, dedikasi sebesar apa, etos kerja seperti apa, sudah menilai diri tinggi sekali.
Dunia olah raga sangat mengenal keseimbangan hak dan kewajiban. Dalam pertandingan lari, semua orang berlatih dahulu, berusaha dahulu, berjuang dahulu, seorang lebih keras daripada yang lain. Apakah kemudian pada saat pertandingan, yang merasa sudah berlatih lebih keras selalu bisa mengalahkan orang lain? Tidak tentu. Dia boleh saja merasa bahwa dia adalah orang tercepat karena merasa punya hak untuk mendapat medali emas, tapi dia harus menunjukkan dulu hasil latihannya, disiplinnya, usahanya, dan berlari sekuat tenaga. Yang mendapat medali emas adalah yang memasuki garis finish pertama. Setelah dia membuktikan diri, baru dia mendapat medali. Itulah ilustrasi yang paling bisa menggambarkan hak dan kewajiban.

Seseorang harus bekerja dahulu untuk menunjukkan kelas, kualitas dan nilai hidupnya. Baru dia boleh mulai menuntut haknya. Itulah etos kerja yang tepat. Bekerja dengan keras dan berjuang dengan tekun.

Bukan hanya itu saja, setiap orang yang mau berjuang dengan keras dan tekun, tidak mungkin pekerjaan tangannya tidak berhasil. Tidak mungkin orang yang gigih berjuang dengan rajin dan tekun, tidak menghasilkan nilai yang tinggi dalam hidupnya. Mereka akan memiliki potensi untuk memiliki penghasilan dan mereka berhak atas pengasilan itu dan mereka berhak menikmati hidup berkecukupan. Namun, etos kerja yang baik adalah juga mencakup cara hidup yang dengan ketat mengatur bagaimana hasil kerja dia digunakan dalam hidupnya. Etos kerja yang baik akan memunculkan hidup yang hemat dan tidak boros. Memperhitungkan pengeluaran seperlunya dan tidak berfoya-foya. Terlepas dari berapa banyak uang yang dia hasilkan, dengan etos kerja dan paradigma bekerja yang baik, dia akan terus berusaha memiliki buah-buah yang baik dalam hidupnya. Supaya hidupnya boleh menjadi berkat bagi orang lain pula dan pekerjaan tangannya boleh dirasakan oleh orang-orang yang berada disekitar mereka.

Upah dan taraf hidup kesejahteraan

Ada satu fenomena yang selama bertahun-tahun menjadi problematika besar di Indonesia, yaitu mengenai upah minimum pekerja. Setiap kali, setiap tahun, pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai upah minimum. Sayangnya, kenaikan upah ini tanpa disertai etos kerja dan etiket yang baik dari para pekerja.

Prinsip dasar upah minimum sebenarnya adalah sebuah bentuk ‘kemurahan hati’ dan ‘belas kasihan’ dari atasan untuk para pekerja yang kualitas kerjanya tidak mencapai kualitas minimal untuk mendapatkan upah yang cukup sehingga dia boleh hidup layak. Upah minimum bukanlah hak yang boleh mereka perjuangkan dan dituntutkan kepada pemberi upah.

Upah minimum selalu dan hanya akan diributkan oleh mereka yang kualitas kerja dan berketrampilan rendah. Mereka yang belajar baik dan sekolah baik serta memiliki ketrampilan yang cukup tidak pernah meributkan upah minimum, karena ketrampilan mereka memiliki hasil kerja yang cukup memiliki kualitas untuk boleh dibayar dengan upah yang bisa membuat mereka hidup layak.
Mereka yang tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk memiliki hasil kerja yang berkualitas cukup untuk dibayar layak, merekalah yang mendapatkan upah minimum.

Daripada meributkan tentang peraturan-peraturan atau penyelesaian yang sifatnya pragmatis dan tidak menyelesaikan permasalahan, tidakkah akan jauh lebih baik jika pemerintah bekerja sama dengan pengusaha untuk memberikan materi training dan sertifikasi untuk memberikan para pegawai kesempatan untuk menaikkan nilai dan kualitas kerjanya supaya dengan demikian dia boleh diberi upah secara layak?

Namun masalah baru akan muncul, apakah mereka mau meluangkan waktu untuk berjuang dan belajar lebih baik ketika ada kesempatan untuk menaikkan nilai dan kualitas kerja mereka?
Bisa jadi jawabannya adalah tidak. Karena tidak adanya etos kerja yang baik. Mengambil sikap pragmatis, mau ada hasil yang baik tanpa memiliki paradigma yang tepat. Tidakkah lebih mudah meninggalkan tanggung jawab dan melakukan unjuk rasa daripada belajar dan hidup baik-baik dan bertanggung jawab.

Selain daripada itu, mengenai upah, kapankah cukup itu bisa dikatakan cukup? Mereka yang tidak memiliki etos kerja yang baik, hampir selalu tidak memiliki prinsip yang baik tentang membelanjakan uang yang mereka dapatkan. Uang yang didapat dengan mudah, akan pergi meninggalkan mereka dengan mudah pula.

Tanpa paradigma yang tepat tentang bekerja dan prinsip etos kerja yang ketat, setiap orang tidak akan dapat melepaskan diri dari begitu banyak kesulitan dan kesusahan yang dia timpakan terhadap dirinya sendiri.

Paradigma Tentang Sukses

Sepanjang sejarah, orang bijak dan orang kaya telah menyerukan bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Dan sejak jaman kapitalisme, dunia terus menyerukan bahwa uang adalah sumber kebahagiaan dengan satu asumsi utama, yaitu ketika kita bisa mendapatkan semua yang kita mau, kita akan bahagia.

Satu kali lagi, mari kita coba bahas secara sederhana pernyataan-pernyataan dalam beberapa pemikiran tentang uang. Dan sekali lagi, ketika kita berbicara tentang manusia dan materi, ada dua dasar pemikiran yang utama: yang pertama adalah bahwa manusia sangat mencintai dirinya sendiri. Yang kedua adalah manusia berusaha menyenangkan dirinya dengan segala yang bisa disebutnya sebagai kepunyaannya (baca: materi) untuk memuaskan keinginannya.
Yang pertama tadi adalah humanisme, sementara yang terakhir adalah materialisme.

Dari sinilah kemudian perjalanan hidup manusia dimulai dalam pemikirannya. Sejak ketika seorang manusia kecil hidup, dia memiliki keinginan. Mula-mula adalah kebutuhan yang menunjang dia untuk hidup, makanan, minuman, keamanan, perlindungan, perawatan, perhatian, dan seterusnya. Hal itu tidak pernah berubah seumur hidupnya selama dia hidup seolah-olah hal itu telah terprogram dalam segala keseluruhan aspek hidupnya. Hal-hal itu bertransformasi menjadi semakin kompleks dalam perjalanan hidupnya seperti lipatan kertas kecil yang kemudian terbuka satu per satu menjadi lembaran kertas yang semakin besar. Tidak ada seorang manusia pun bisa lari dari keinginan-keinginan dalam dirinya untuk memuaskan rasa cintanya pada dirinya dan pada material.

Ada satu lubang di dalam hidup manusia yang kosong yang tidak dapat di penuhi oleh apapun yang berada dalam dunia ini. Kapankah manusia pernah merasa cukup? Manusia selalu berada dalam pencarian seumur hidupnya untuk mengisi kekosongan dalam hidupnya, dan dia mencarinya di dalam semua hal yang dapat dilihatnya. Dia selalu hidup dalam angan-angan bahwa jika dia berhasil mendapatkan yang dia inginkan, dia akan suatu hari ketika dapat dipuaskan. Tapi sejarah telah membuktikan hal itu tidak pernah tercapai.

Untuk bisa mengerti dan memahami apa itu yang disebut dengan SUKSES, kita harus memulai dulu dengan definisi SUKSES. Sukses memiliki arti mencapai tujuan atau garis finish, tepat pada sasaran dan target. Ketika seorang pemanah atau penembak jitu berhasil mengenai sasarannya, itulah sukses. Pemanah yang melampaui sasarannya tidak dikatakan lebih hebat atau lebih kuat daripada yang mengenai sasaran, dia tidak akan merasa bangga dan berkata, “Aku telah melampaui sasaranku.” Seorang pelari yang berlari terus setelah mencapai garis finish, apakah akan dikatakan lebih hebat dari orang mencapai garis finish dan kemudian berhenti? Mungkin. Tapi tetap tidak akan dianggap lebih juara daripada yang berhenti setelah mencapai garis finish.
Sukses adalah suatu titik dimana seseorang boleh kemudian berhenti dan merasa puas karena sudah mencapai suatu keberhasilan tentang sesuatu.

Tapi kata SUKSES seringkali tidak menggambarkan semua hal tersebut. Setiap kali kata sukses terdengar, seringkali yang pertama kali muncul dalam benak kita adalah segala hal yang sifatnya materialisme dan humanisme. Seringkali pula kata itu tidak menggambarkan sebuah perhentian dan kepuasan, melainkan sebuah tantangan baru untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi, untuk mengisi kekosongan dalam hidup manusia yang tidak pernah bisa dipenuhi dengan apapun. Kesuksesan demi kesuksesan terus berusaha dikejar seperti sebuah garis finish semu yang tidak pernah berakhir seperti layaknya sebuah fatamorgana. Tidak ada perhentian, seperti seekor hamster yang berlari dalam rodanya.

Setiap orang memiliki bayang-bayangnya sendiri, fatamorgana yang hanya menjadi miliknya sendiri, sebuah idealisme yang dipercaya bahwa jika dia berhasil meraihnya, dia akan bahagia. Sebagian orang mendapat kesempatan untuk mencicipi, sebagian kecil mendapat kesempatan untuk menikmati, sisanya tidak mendapat kesempatan sama sekali seumur hidupnya untuk meraih idealisme yang humanis/materialis itu. Tapi satu hal yang pasti, semua idealisme yang katanya, diyakini bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan dan perhentian, ternyata adalah omong kosong.

Mereka yang sudah katanya sudah sukses, tidak mendapatkan kebahagiaan dan perhentian. Mereka yang belum mencapainya, terus melakukan segala hal yang mereka pikir dapat membawa mereka kepada kebahagiaan dan perhentian. Mereka yang masih terus berusaha dan masih mencari kebahagiaan dan perhentian, membuktikan bahwa mereka masih belum sukses.

Sebagian besar kita telah mendengar berbagai kalimat yang mengatakan bahwa humanisme/materialisme tidak mendatangkan kebahagiaan. Bahwa uang tidak mendatangkan kebahagiaan. Akan saya kutip beberapa diantaranya:

Money never made a man happy yet, nor will it. The more a man has, the more he wants. Instead of filling a vacuum, it makes one. – Benjamin Franklin
(Uang tidak akan pernah dapat membuat orang bahagia. Semakin banyak uang yang dimiliki seseorang, bukannya mengisi kekosongan, uang malah akan membuat kekosongan baru.)

We make a living by what we get, but we make a life by what we give. – Winston Churchill
(Kita menikmati hidup melalui yang kita dapat, tapi kita menikmati kehidupan melalui yang kita berikan.)

Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants. – Epictetus
(Kekayaan tidak berarti memiliki banyak hal, akan tetapi memiliki sedikit keinginan.)

It is not the man who has too little, but the man who craves more, that is poor. – Seneca
(Kemiskinan bukanlah tentang orang yang memiliki sedikit, melainkan tentang orang yang menginginkan lebih.)

Masih ada puluhan yang bisa mungkin ditulis, tapi tidak akan ada gunanya, semuanya mengatakan hal yang sama. Bahwa uang bukan yang terpenting. Semua yang terpenting dalam hidup manusia tidak bisa dibeli dengan uang. Sepanjang sejarah, orang bijak dan orang kaya telah mengatakan hal tersebut. Tapi tetap saja istilah sukses tidak berubah.

Ilustrasi kecil yang saya sukai adalah tentang gaji atau penghasilan:
Orang yang mendapat gaji dua juta sebulan, merasa tidak cukup. Dia yakin jika nanti mendapat gaji empat juta sebulan, hidupnya akan lebih enak dan dia akan mulai bisa menabung.
Setelah dia mendapat gaji empat juta, tetap tidak cukup, karenanya dia kemudian merasa kalau nanti sudah dapat gaji delapan juta, dia akan bisa hidup lebih enak dan akan bisa mulai menabung.
Kemudian gajinya naik menjadi delapan juta, tetap saja belum bisa menabung karena satu dan lain hal. Dia berpikir, jika nanti dapat enam belas juta, hidupnya akan berubah dan dia akan mulai menabung.
Benar pula, gajinya menjadi enam belas juta, dia mulai mencicil mobil, berpikir untuk mengontrak rumah, dan gajinya tidak cukup. Dia kembali berpikir, seandainya gajinya menjadi tiga puluh dua juta, pasti dia akan tenang dan bahagia.
Kemudian dia mendapat gaji tiga puluh dua juta sebulan, dan sekarang dia ingin memiliki rumah sendiri dan mobil yang lebih baik. Orang-orang melihat dia sudah cukup sukses. Tapi dia tetap merasa kurang sukses. Sementara orang lain memimpikan hal yang sama, “seandainya aku mendapat gaji setengahnya saja, tentu aku akan bahagia.”

Ketika seseorang mengatakan, “seandainya penghasilanku lima puluh juta sebulan, aku pasti bahagia dan berkecukupan.” Hal itu hanya menyatakan bahwa dia tidak punya gaji sebesar itu. Ketika seseorang mengatakan bahwa jika dia memiliki sesuatu, maka dia berarti sudah sukses; Itu hanya membuktikan bahwa dia tidak memiliki hal itu. Lagi pula, seringkali orang mencampuradukkan antara kebahagiaan dengan kekayaan atau kecukupan atau harta atau kepuasan diri atau nafsu diri atau ambisi. Padahal seharusnya tidak ada hubungan antara kebahagiaan dengan memiliki semua hal yang mampu diinginkan seseorang. Paling tidak, tidak ada hubungan langsung yang setara antara kebahagiaan dengan pemuasan keinginan. Justru sebaliknya, seperti halnya paradoks kebebasan, seseorang menjadi berkecukupan dan puas dan menjadi bahagia ketika dia menahan dirinya dari banyak keinginan.

Dalam hidup manusia, apakah yang disebut sebagai sukses? Dimanakah letak kesuksesan manusia? Dimanakah letak titik dimana dia boleh mendapat perhentian dan merasa puas?
Apakah ketika dia menjadi kaya? Ketika memiliki banyak uang? Ketika ada orang yang mengakui bahwa dia sudah sukses? Ketika ada orang yang iri pada dirinya? Ketika menjadi orang yang bisa membeli apa pun yang dia mau?

Tentu saja titik itu seharusnya berada di titik akhir kehidupan manusia, garis finish nafas manusia. Bagaimana seseorang menjalani hidupnya secara totalitas dan keseluruhan dan kemudian di akhir hidupnya, dia bisa merasa puas dan mendapat ketenangan.
Kehidupan manusia sama seperti pelari, apakah selama dia berlari tidak pernah merasa lelah? Apakah tidak pernah terjatuh? Apakah tidak pernah merasa putus nafas? Apakah dia tidak secara sadar merubah kecepatan larinya menyesuaikan dengan tantangan medan dan fisik yang berubah selama dia berlari? Demikian pula manusia dalam hidupnya. Ada jatuh bangun, kelemahan dan kegagalan, berbagai pergumulan secara fisik dan mental dalam upayanya mencapai garis finish.

Kesuksesan manusia tidak ditentukan oleh dirinya sendiri. Manusia tidak bisa dan tidak boleh menilai dirinya sendiri, segala penilaian tentang seseorang harus berasal dari luar dirinya sendiri. Jadi pada akhirnya, siapakah yang menentukan kesuksesan seseorang?

Ada cerita dalam sebuah pemakaman orang yang kaya dan dermawan. Pemakaman itu dihadiri oleh banyak orang, dan beberapa orang membagikan kisah tentang bagaimana orang yang kaya ini selama hidupnya.
“Bapak inilah yang mendirikan yayasan besar yang memberikan bantuan berupa operasi katarak gratis bagi ratusan orang tua setiap tahunnya.”
“Bapak ini selama hidupnya tidak pelit dengan kekayaannya dan memberikan banyak sumbangan pada rumah yatim piatu.”
“Banyak sumbangan telah diberikan bapak ini kepada pembangunan rumah ibadah, tidak hanya di wilayahnya, melainkan di banyak daerah di berbagai kepulauan dan desa terpencil.”
Dan hingga giliran anggota keluarganya, anaknya yang paling besar berkata, “Semua yang kalian katakan tentang bapak saya, sama sekali tidak saya mengerti. Dia tidak pernah berada di rumah, ibu saya terus menangis karena dia memiliki simpanan di kota lain. Perusahaan kontraktor miliknya melakukan pembangunan dimana-mana dan mencuri spesifikasi sehingga beberapa kali saya hampir dijebloskan kedalam penjara karena saya adalah wakil direktur dari ayah saya. Saya membenci ayah saya.”

Apakah bapak dermawan tadi adalah orang yang baik ataukah orang yang jahat? Apakah dia bisa dikatakan sukses? Jika bisa dikatakan sukses, apakah target yang sudah dia capai dalam hidupnya? Siapa yang berhak mengatakan bahwa dia sudah sukses mencapai garis finish, jika dia sendiri tidak tahu apa yang harus dikerjakan dalam hidupnya?
Demikian pula dengan semua manusia. Apakah sukses itu sebenarnya?
Pemanah, pelari, penembak jitu, memiliki target. Apakah ‘target’ dari hidup manusia? Sementara umur manusia pun tidak berada ditangannya sendiri. Garis finish tiap manusia tidak ditentukan sendiri oleh masing-masing manusia. Jadi dari mana bisa muncul definisi ‘SUKSES’?

Tidak ada jawaban yang bisa ditawarkan dalam dunia ini, oleh filsafat sekalipun. Tidak ada kemungkinan selain dari jika seseorang memahami hukum relasi pencipta-ciptaan.
Dalam hukum itu barulah akan ditemukan pemahaman tentang tujuan hidup manusia. Di dalam pengertian tentang tujuan hidup manusia, akan ditemukan alasan untuk apa dia hidup dan apa yang harus dikerjakannya dalam hidup ini. Kemudian pada akhirnya, barulah bisa ditentukan apakah dia sudah bisa dikatakan SUKSES dalam hidupnya atau tidak.

Terlalu banyak orang yang membuang seluruh hidupnya, belajar dan bekerja, untuk sesuatu yang bernilai kecil atau bahkan tidak bernilai. Itu disebabkan karena kesalahan konsep nilai dalam hidup manusia. Manusia sebenarnya tidak tahu untuk apa dia hidup.

The real measure of your wealth is how much you’d be worth if you lost all your money.

Terjemahan: Ukuran kekayaan bukanlah berapa banyak hartamu, melainkan seberapa tinggi orang lain menilai dirimu ketika kamu kehilangan semua uangmu.

Paradigma Tentang Talenta

Talenta, dalam Bahasa Inggris: talent, berasal dari kata Latin: talenta, yang memiliki makna sebagai satuan unit berat atau sejumlah uang. Sama seperti kata tael yang digunakan dalam dunia timur seperti Cina dan Jepang sebagai satuan berat atau sejumlah berat perak sebagai mata uang. Dalam perkembangannya, kata talenta itu didefinisikan sebagai ketrampilan atau keahlian, kemampuan atau kecenderungan atau kompetensi, yang dimiliki secara natural oleh seseorang dalam bentuk bakat bawaan sejak dilahirkan. Dunia psikologi mengenali bahwa bakat dan kecenderungan (dalam Bahasa Inggris: aptitude) ini dimiliki secara berbeda-beda dalam tiap-tiap orang, lebih lanjut lagi, ilmu psikologi (secara khusus dalam psychometric) membangun berbagai alat ukur untuk membantu orang dalam mengenali kemampuan tertentu di dalam dirinya.

Dalam natur manusia, sepanjang sejarah umat manusia, manusia berusaha mengenali secara eksistensialis tentang tujuan hidupnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk di muka bumi ini yang menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya memikirkan makna dan tujuan hidup. Ada cukup banyak filsafat yang berusaha menjawab pertanyaan ini, mulai dari yang menawarkan bahwa hidup ini baru bermakna jika melakukan kebaikan, jika membuahkan hasil bagi orang lain, jika seseorang merasa berbahagia, jika bisa menjauhi keinginan duniawi, jika bisa mengumbar segala keinginan, jika bisa memberikan persembahan (dalam berbagai bentuk seturut yang diminta) kepada para dewa atau tuhan atau langit atau nirvana atau vallhalla, dan banyak lagi. Terlepas dari berbagai macam bentuk dan upaya, manusia memiliki suatu perasaan bahwa hidup ini harus memiliki tujuan supaya bisa memiliki makna. Apakah makna itu muncul dari pemikiran yang mengenal konsep ke-tuhan-an, konsep yang berpusat pada dunia dan manusia secara luas, konsep yang berfokus pada diri sendiri atau hingga mengarah pada pemikiran yang mengatakan bahwa makna hidup itu ada dalam ketidakberadaan suatu makna apapun dalam diri manusia karena manusia ini kebetulan muncul begitu saja. Yang terakhir ini sangat menarik bagi saya, karena saya melihat kontradiksi dalam pandangan ini yang sifatnya irasional dan unnatural.

Bagaimana sesuatu bisa memiliki makna? Maka berdasar pada prinsip relasi pencipta-ciptaan yang berlaku pada semua yang ada di bawah langit, sesuatu baru memiliki makna jika kembali pada pengenalan akan diri. Pengenalan akan diri baru dapat muncul jika mengenali pencipta.
Untuk mengenali sebuah produk merek tertentu, tidak ada siapapun yang lebih berhak memberikan penjelasan tentang produk tersebut selain daripada pabrik atau orang yang menjadi pembuat produk. Dan kita akan dengan senang hati, terbuka, tanpa mempertanyakan apapun juga, mempercayai penjelasan dari pabrik atau pembuat produk tersebut.
Entah kenapa ketika Tuhan membukakan kepada kita bahwa manusia diciptakan oleh Dia menurut kehendak Dia supaya kita melakukan pekerjaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, untuk melakukan pekerjaan tertentu, tiba-tiba beberapa manusia menolak pemahaman tersebut untuk kemudian membangun pemahaman diri sendiri bahwa manusia adalah puncak evolusi dan tidak ada apapun atau siapapun berada di atas manusia. Bahwa manusia menentukan nasibnya sendiri dan memiliki kuasa mutlak dan pengendalian total atas hidupnya (satu irasionalitas lain lagi karena tidak seorang pun sanggup mengendalikan hari kelahiran dan kematiannya). Lalu kemudian berusaha membangun makna hidup berdasarkan sesuatu kebetulan, saya sungguh tidak bisa melihat bagian mana dari sesuatu yang terjadi secara kebetulan yang bisa mampu untuk memiliki makna yang tinggi.

Jadi, berdasarkan pemikiran tersebut, saya akan mulai berbicara tentang fungsi dari talenta. Bahwa talenta yang kita miliki sejak lahir, adalah menjadi milik kita karena ada sesuatu yang harus kita kerjakan dalam hidup ini yang sesuai dengan talenta kita. Talenta bisa ada pada kita, dan bisa kita miliki, tentunya karena ada yang memberi. Dengan pemikiran seperti ini, saya tidak menemukan jalan keluar selain daripada mengakui bahwa ada sesuatu yang menciptakan manusia dan kemudian memberikan talenta kepada manusia, untuk mengerjakan sesuatu yang sudah ditentukan supaya manusia boleh hidup di dalam makna dan tujuan tertentu sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pencipta.
Sama persis dengan sebuah telepon genggam dibuat dengan fitur-fitur dan kapasitas yang ditujukan untuk mendukung tujuan sebuah telepon genggam dibuat. Karena itu adalah sebuah kesalahan penggunaan dan seketika itu juga menghilangkan makna sebuah telepon genggam ketika dia digunakan sebagai alas kaki. Telepon genggam akan menjadi alas kaki yang sangat buruk, tetapi telepon genggam akan memiliki nilai yang sangat tinggi ketika dia berfungsi sebagai alat komunikasi. Sebuah mobil termahal di dunia, ketika disejajarkan dengan sepatu dan difungsikan sebagai sepatu, dia bahkan tidak sebagus sepatu paling jelek dan paling murah sekalipun; dia baru akan menjadi dirinya sendiri (yaitu sebuah mobil) dengan nilai paling tinggi ketika disejajarkan dengan berbagai merek mobil yang lain. Inilah masalah besar yang merupakan kekeliruan dalam prinsip persaingan dan semangat kompetisi.

Berdasar pada definisi talenta di atas, setelah menemukan dan mengenali kapasitas dan potensi diri dengan tepat, barulah manusia dimampukan untuk memiliki makna dan tujuan dalam hidupnya. Dan sekarang mengenai talenta itu sendiri, kepada setiap orang diberikan talenta yang berbeda, tentunya untuk mengerjakan sesuatu yang tertentu yang sesuai dengan maksud pemberian tersebut. Tujuan itu bisa jadi sama, atau pun bisa jadi sangat berbeda antara orang yang satu dengan yang lain.
Sama seperti kepada burung diberikan sayap yang sama sekali berbeda dengan sayap yang diberikan pada ikan. Seperti halnya seseorang yang diberi kemampuan mengolah angka dan seorang lain yang diberi kemampuan mengolah nada. Seperti juga halnya yang seorang diberikan tubuh yang besar dan kepada yang lain diberikan indra pencium dan perasa yang tajam. Yang menjadi koki hebat, tidak perlu menghina mereka yang tidak tahu bedanya daun seledri dan daun ketumbar. Yang bertenaga besar, tidak perlu menghina yang berbadan kecil.

Ada analogi yang menarik mengenai talenta yang saya temukan dalam buku orang Kristen.
Adalah seorang boss besar yang kaya raya dan mempunyai banyak perusahaan. Boss ini kemudian berencana melakukan liburan panjang dan mau berkeliling dunia, sebelum dia pergi, dia mengumpulkan tiga orang asistennya yang paling dia percaya. Pada asisten pertama, dia menitipkan sebuah toko kelontong kecil di sebuah kompleks perumahan. Pada asisten kedua, dia menitipkan sebuah restoran. Pada asisten ketiga, dia menitipkan sebuah supermarket.
Asisten ketiga ini kemudian pergi dan mengelola supermarket tersebut dan berhasil membuka sebuah cabang baru di kota lain. Asisten kedua pun mengelola restoran tersebut dan berhasil membuka cabang baru. Asisten yang pertama melihat dan memperhatikan toko kelontong kecil yang serahkan pada dia, kemudian diputuskannya untuk memasukkan semua barang dagangan ke dalam gudang dan menutup toko tersebut supaya tidak merugi.
Setelah lama berlalu, boss besar ini kembali dan memanggil semua asistennya dan meminta laporan. Asisten yang ketiga melaporkan, “boss, supermarket yang boss suruh saya kelola, sudah ada cabang satu lagi di kota lain.” Boss ini menyahut, “Bagus sekali! Kamu memang layak menjadi asisten kepercayaan saya!”
Asisten yang kedua datang dan melaporkan, “boss, restoran itu sekarang sudah ada cabang di dalam mall.” Dan boss ini menyahut, “Bagus sekali! Kamu memang layak menjadi asisten kepercayaan saya!”
Dan datanglah asisten yang pertama, dia melaporkan, “boss, mereka yang lain dapat supermarket yang besar dan restoran di mall. Saya cuma dapat toko kelontong kecil, mana bisa saya mengembangkan toko kelontong kecil untuk jadi besar. Boss tidak adil, memberi saya modal kecil sekali. Jadi daripada merugi untuk ongkos operasional, saya putuskan untuk menutup toko itu. Tokonya masih ada dengan seluruh isinya. Tidak ada yang kurang. Ini saya kembalikan.”
Boss itu kemudian menyahut, “kamu penuh dengan iri dan dengki, menuduh saya tidak bersikap adil, kamu hanya disuruh untuk mengelola, tentu setelah dikelola harus ada hasil yang sesuai. Apakah saya meminta toko kelontong untuk jadi supermarket atau jadi restoran besar? Berikan toko kelontongmu untuk dikelola oleh asisten saya yang mendapat supermarket. Kamu dipecat.”

Apakah dari contoh tersebut kita merasa bahwa boss tersebut tidak adil? Dunia kita seringkali mencampuradukkan antara keadilan dengan kesamarataan. Kalau semua mendapat sama, baru itu dikatakan adil. Prinsip keadilan itu tidak berlaku sedemikian. Kalau seseorang disuruh memberi makan dua orang anak, yang satu usia 2 tahun, dan yang satu berusia 18 tahun, kemudian berdasar prinsip kesamarataan sebagai keadilan, maka porsi makan keduanya harus sama, karena itulah yang dianggap adil. Jadi hanya ada dua kondisi yang akan muncul, entah anak berusia 2 tahun itu kekenyangan, atau anak yang berusia 18 tahun itu yang kelaparan. Inilah irasionalitas dalam pemahaman manusia terhadap fenomena, dalam hal ini adalah mengenai prinsip keadilan.

Apakah dari contoh diatas kita merasa ada yang tidak pas? Karena kita seringkali membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Selalu ada semangat persaingan dan kompetisi. Kita tidak mau melihat talenta yang kita miliki dan mengelola talenta itu sebaik mungkin dan menghasilkan semaksimal mungkin. Lihat contoh boss tadi, dia sama sekali tidak membandingkan antara yang menghasilkan supermarket dan yang menghasilkan restoran. Kepada yang dipercayakan supermarket, diminta menghasilkan supermarket. Kepada yang dipercayakan restoran, diminta menghasilkan restoran. Dalam semangat persaingan yang bodoh, kita melihat betapa hebatnya yang bisa menghasilkan supermarket, kenapa yang mengelola restoran atau toko kelontong tidak bisa menghasilkan supermarket? Kalau bisa menghasilkan supermarket itu baru bisa dikatakan sukses. Itu baru hebat. Kalau cuma bisa menghasilkan restoran, masih kurang hebat. Kurang sukses. Apalagi kalau cuma sanggup menghasilkan toko kelontong. Tidakkah itu yang selalu diumbar dan didengungkan dalam dunia kita. Dan tidakkah sekarang kita sadari itu sebagai sebuah kekonyolan?

Kegagalan mendefinisikan diri inilah yang kemudian menimbulkan keputusasaan dan kelelahan yang mengarah pada pragmatisme dan mencetuskan kalimat-kalimat untuk menjawab, “Siapakah aku?”
Jawabannya adalah, “Aku adalah aku!”; “Aku tidak mau berubah!”; “Aku adalah aku yang merupakan aku yang adanya apa.”; “Aku adalah aku yang aku ada”.
Dan yang lebih mengejutkan adalah jawaban ini kemudian sekali lagi secara irasional diterima begitu saja.

Kita perlu benar-benar berusaha merubah paradigma kita mengenai prinsip tentang kompetisi dan prinsip tentang talenta. Membangun pengertian yang benar untuk mencari jati diri dan makna diri serta tujuan hidup yang sejati di dalam diri kita masing-masing. Supaya pengertian itu melepaskan kita dari ketersesatan dan kehilangan arah; supaya pengertian itu memberikan alasan yang tepat tentang kenapa kita berada di dunia ini. Di luar dari pengertian terhadap hukum relasi pencipta-cipataan, saya tidak bisa menemukan jawaban lain yang lebih baik.

Paradigma Tentang Kompetisi

Kata ini sangat tidak asing dalam berbagai golongan, kelompok, dan tatanan masyarakat. Kata ini ditemukan dalam berbagai bidang, mulai dari lingkungan bermain, di sekolah, di tempat kerja, di pergaulan sosial, di dalam industri, di dalam bisnis, di dalam dunia olah raga, dan di manapun juga. Kata ini dianggap sebagai alasan utama kemajuan dalam budaya manusia, serta ditengarai merupakan penyebab munculnya inovasi terbaru. Semangat kompetisi memacu setiap manusia untuk menjadi lebih baik.

Semangat kompetisi dipersamakan dengan semangat persaingan antara manusia yang satu dengan yang lain, antara kelompok yang satu dengan yang lain, antar perusahaan, antar partai politik, antar pemeluk ideologi, bahkan antar kelompok agama. Persaingan itu memacu setiap manusia atau setiap golongan atau kelompok untuk menjadi lebih baik.

Saya yakin, sadar atau tidak sadar, kita semua (atau baiklah jika saya koreksi: sebagian dari kita), dalam level tertentu harus mengakui bahwa persaingan menimbulkan banyak masalah sosial. Dalam persaingan, akan keluar pemenang dan yang kalah. Akan keluar orang yang menjadi juara dan orang yang ingin menjadi juara. Akan ada orang yang dikatakan berhasil dan akan ada orang yang disebut orang yang gagal. Akan muncul sebutan pintar dan bodoh, winner dan loser, pemenang dan pecundang, berbakat dan tidak berbakat, dan seterusnya.

Dengan kemunculan istilah dan sebutan itu, muncul pula salah satu permasalahan yang menjadi akar kerusakan dunia sosial dan masyarakat manusia. Dari persaingan tersebutlah muncul iri, dengki, benci, dendam, dan perseteruan yang seperti benang kusut, sangat tidak mudah dibereskan.

Tapi manusia tetap menganggap dan mencari alasan bahwa kompetisi memiliki kebaikannya sendiri. Ada kompetisi yang positif, persaingan yang sehat. Ada kompetisi yang negatif, persaingan yang tidak sehat. Pihak yang menang harus bersikap rendah hati, dan yang kalah harus berbesar hati. Sikap seorang gentlemen. Sportifitas dan jiwa besar.

Inilah contoh fenomena yang unnatural dan irasional. Persaingan yang seperti ini adalah tidak natural, memiliki perspektif yang tidak tepat, dan merupakan semangat yang sangat keliru yang muncul sebagai akibat kesalahan sudut pandang mengenai kapasitas, bakat, talenta, kemampuan masing-masing manusia yang dipersamakan secara asal-asalan dan buta. Semangat persaingan yang sejak kecil diadakan oleh orang tua dan guru dan badan pendidik menjadi kecelakaan besar yang membentuk pribadi-pribadi yang diperbandingkan antara yang satu dengan yang lain, merusak jiwa mereka dan menanamkan sifat egoisme yang akan mereka bawa seumur hidup mereka. Sejak kecil ditanamkan untuk menjadi yang terbaik untuk mengalahkan teman-temannya, tidak mendapatkan penerimaan jika tidak berhasil ‘berprestasi’. Mereka sejak kecil dipacu dan dibiarkan dalam rasa iri dan dengki yang memotivasi mereka untuk mengalahkan musuhnya, supaya mendapatkan penghargaan dari orang tua atau gurunya.

Padahal sebenarnya, dari etimologi kata, asal kata “KOMPETISI” adalah dari Bahasa Inggris COMPETITION. Kata itu berasal dari kata Latin yaitu COMPETERE. COM– berarti together (terj: bersama-sama); –PETERE berarti aim at, seek (terj: berupaya, mencari, menuju kepada –sesuatu). Arti kata ‘kompetisi’ adalah bersama-sama berusaha untuk mencapai tujuan yang sama. Jauh sekali dari kata ‘persaingan’ yang kita kenal selama ini.

Implikasi dari kata kompetisi itu membawa kepada pengertian bahwa setiap individu maupun kelompok yang memiliki tujuan yang sama, sepatutnyalah bergerak bersama-sama, saling menolong dan saling mendukung untuk mencapai hal yang sama. Ekstensinya adalah kompetisi seharusnya mendorong kemajuan bersama, bersama-sama berusaha mencapai segala sesuatu dengan lebih baik. Bersama-sama melakukan pengembangan dan saling mendukung.

Penerobosan paradigma mengenai kompetisi ini menawarkan pemahaman yang jauh lebih baik dibandingkan dengan yang bisa ditawarkan persaingan, dalam upaya untuk mencapai hal yang sama. Kesulitan terbesar yang timbul dari paradigma ini adalah bahwa MANUSIA SEDEMIKIAN MENCINTAI DIRINYA SENDIRI DAN INGIN MENJADI YANG TERUTAMA. Sejak kecil, dunia manusia menanamkan semangat persaingan ini kepada manusia yang lain. Orang tua kepada anaknya dan guru kepada murid-muridnya, setiap orang diharapkan bisa mengalahkan saingannya dan berdiri di puncak prestasi sebagai pemenang, melebihi semua orang yang lain, dan tidak boleh ada orang lain yang boleh disandingkan sejajar dengan dia. To be number one, the ONE, the ONLY. Menjadi satu-satunya. Seperti TUHAN.

Apakah dengan prinsip kompetisi yang sedemikian ini, manusia tidak akan menjadi maju? Masih dapatkah dikatakan bahwa persaingan adalah satu-satunya cara sehingga manusia sekarang ini bisa mencapai segala sesuatunya? Bahwa paradigma kompetisi yang benar ini tidak mungkin membawa perubahan dalam dunia manusia, dari roda, kereta, kepada mobil dan pesawat terbang; dari kertas kepada mesin cetak; dari buku tulis kepada sempoa kemudian kalkulator dan komputer. Permasalahannya adalah mengenai jurang yang berada antara ‘mau’ atau ‘tidak mau’, mengenai yang ‘ideal’ dan ‘praktika’.

Fenomena unnatural dan pikiran irasional lainnya adalah oleh pendidik, orang tua dan guru, mereka dengan sembarangan mengatakan bahwa setiap manusia itu unik, tanpa mengerti esensi dan ekstensi dari presuposisi tersebut. Unik, dengan bakat dan talenta sendiri yang berbeda dengan yang lain, memiliki kemampuan yang berbeda dengan yang lain, kecerdasan dan batasan yang berbeda dengan yang lain yang tidak bisa dipersamakan.
Unik seharusnya berarti tidak boleh ada kondisi dimana seseorang disaingkan dengan orang yang lain. Yang cerdas di bidang bahasa, tidak boleh disaingkan dengan yang cerdas di bidang matematika. Yang cerdas di bidang olah raga, tidak boleh disaingkan dengan yang cerdas di bidang musik. Tidak berarti pula bahwa yang sama-sama berbakat dalam bidang musik boleh saling disaingkan, atau yang sesama bidang bahasa atau matematika boleh disaingkan. Kenapa harus selalu disaingkan?

Karena kebiasaan lama yang sudah membatu dan sangat susah dirubah, tentu saja.
Semua harus dimiliki sendiri dan tidak boleh dibagikan dengan yang lain. Semuanya itu hanya disebabkan oleh satu hal, dan mengarah kepada satu hal, yaitu diri sendiri. Semangat humanisme dan materialisme yang sudah sedemikian mencengkeram dalam jiwa masing-masing manusia.

Sampai di titik ini, seharusnya segala sesuatu sudah jelas mengenai prinsip kompetisi.

Saya harus menambahkan sedikit pembahasan mengenai kompetisi di dalam dunia olah fisik profesional. Saya sengaja menghindari istilah olah raga, karena kata sports sudah mengalami pergeseran besar sampai-sampai lomba makan hotdog dan bermain catur pun dikatakan sebagai sports.

Yang satu ini adalah kompetisi yang sifatnya sama sekali berbeda. Satu satunya tempat dimana pemahaman persaingan atau kompetisi boleh menggunakan istilah ‘kompetisi yang sehat dan adil’ dengan jiwa-besar dan kerendahan-hati dapat diterima adalah dalam pertandingan olah fisik.

Secara esensi, perlombaan olah raga merupakan bagian dari pendidikan (dapat ditelusuri jauh hingga jaman Yunani kuno), yang memiliki pandangan bahwa tubuh yang sehat, memiliki tenaga dan tubuh yang berfungsi baik. Tubuh yang baik, perlu dididik dengan disiplin dan pengendalian diri yang baik. Individu yang memiliki disiplin dan kontrol diri yang baik baru dapat diajar dengan baik untuk memiliki pengetahuan dan ilmu. Dengan pengetahuan dan ilmu, seseorang dapat menjadi manusia yang utuh dan memiliki bijaksana sebagai seorang manusia. Karena itu olah fisik yang sebenarnya termasuk dalam pendidikan karakter, bukan didasarkan pada semata-mata persaingan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Haruslah kita sadari terlebih dahulu bahwa olah fisik semacam itu menuntut kualifikasi yang sangat berat dan kadang-kadang sangat brutal dan dashyat. Orang dituntut memiliki mental yang baik dan tekun, tidak mudah menyerah.

Karena itu, muncul kalimat mens sana in corpore sano, bahasa Latin yang berarti ‘pikiran yang sehat berada dalam tubuh yang sehat’. Prinsip ini dianut oleh dunia pendidikan sejak awal mulanya, dalam konteks pemahaman bahwa latihan fisik sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter, mental dan kesehatan jiwa seseorang. Secara luas, dapat dimengerti bahwa seorang manusia yang sehat dan bahagia adalah jika dia sehat secara pikiran dan secara tubuh.