Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kesadaran Moral

Saya yakin kita semua pernah berada dalam suatu dilema moral, yang satu lebih kompleks dan berat dibanding yang lain. Ketika kita melihat suami dari sahabat kita berselingkuh, apakah yang akan kita lakukan? Berdiam diri atau menegur atau menyampaikan hal tersebut? Jika kita sampaikan, akan terjadi kerusakan parah dalam keluarga mereka, mungkin anak-anak mereka akan dibesarkan dalam keluarga yang hancur. Jika tidak kita sampaikan, hal itu mungkin akan berlanjut dan menjadi lebih parah.
Atau ketika seseorang sedang dalam antrian dalam ruang praktek dokter, ada seseorang yang anak kecil dan tampaknya jauh lebih kesakitan daripada kita, baru datang dan mengantri sesudah kita. Kita yang sudah mengantri lebih dari satu jam, yang juga sedang migren, demam dan nyeri dengan bisul di bibir ; apakah kita akan membiarkan anak itu masuk terlebih dahulu padahal dia baru saja datang?
Atau ketika kita memiliki posisi sebagai pejabat pemerintah, seseorang datang memohon persetujuan dan pengesahan dari dokumen dan perjanjian kontrak; datang dengan membawa uang suap. Semua orang di kantor kita memiliki budaya dan kebiasaan yang sama. Semua orang tau bahwa suap itu adalah etika yang rusak, tapi semua orang melakukannya. Jadi akan kita terima kah uang suap itu? Jika kita tolak, kita menjadi orang yang sok suci, dikucilkan karena tidak sejalan dengan semua orang dalam kantor kita. Jika kita terima, hati nurani kita menegur kita bersalah.
Atau ketika kita melihat handphone yang tergeletak di kamar mandi pusat perbelanjaan, tanpa pemiliknya. Akankah kita ambil? Atau kita biarkan? Atau kita bawa pulang? Atau kita serahkan kepada pihak managemen atau pihak keamanan gedung? Tidak akan ada seorangpun yang menyalahkan kita kalau kita bawa pulang dan kita jual, karena tidak ada yang tahu. Tidak ada siapapun yang akan menegur kita selain daripada diri kita sendiri dan hati nurani kita.

Ada banyak dilema moral yang terjadi di sekitar kita, dimana kita dituntut untuk mengambil sebuah posisi didalamnya. Seperti pepatah yang berbunyi, “Bagaikan buah simalakama, dimakan: bapak mati, tidak dimakan: ibu mati.” Semakin kita memiliki pengertian moralitas dan pengetahuan norma kebaikan dan kebenaran, semakin banyak kita akan menempatkan diri kita dalam dilema moral.

Moralitas dan Perasaan Bersalah

Dari manakah munculnya kesadaran moral? Secara sangat singkat, dari didikan budaya dan agama. Saya yakin kita semua akan setuju jika saya katakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Saya yakin sebagian kita akan setuju jika saya katakan bahwa kesadaran moral adalah sama seperti kesadaran tentang keberadaan Tuhan, yang ada sejak manusia dilahirkan. Namun bersamaan dengan kesadaran moral tersebut, ada hal dalam diri kita yang ada sejak lahir, namun tidak kita sadari, yaitu amoralitas.

Saya mengasumsikan kita semua pernah mendengar kalimat bahwa, “manusia itu pada dasarnya baik. Manusia dilahirkan seperti lembaran kertas putih polos. Masyarakatlah yang membuat manusia menjadi rusak dengan pengaruh negatif.”

Saya pribadi tidak setuju dengan kalimat itu. Siapakah masyarakat? Masyarakat adalah kumpulan manusia. Jika kumpulan manusia semua berasal dari kertas putih polos, darimana datangnya ketidakbaikan?
Ingatkan kita ketika kita pertama kali mencuri? Ingatkah betapa kita sangat ketakutan ketika itu? Atau ingatkan kita ketika kita pertama kali berbohong?

Kita tahu bahwa kita bersalah. Hati nurani menegur kita, dan hidup kita menjadi tidak tenang karenanya. Dalam perkembangan kita, kita mulai mengenal kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, keadilan dan kelaliman, dan seterusnya; berikut dengan segala kompleksitas dan dilema didalamnya.

Kita mengenal dan belajar tentang semua itu dari mereka-mereka yang memiliki kepekaan terhadap teguran hati nurani mereka, mereka-mereka yang menjaga moralitas mereka, dan kita menganggap mereka itu sebagai orang-orang saleh. Dan kita mengenal mereka semua sebagai pengajar moral, pemuka agama, pemimpin agama, dan seterusnya.

Pernahkah kita sadari bahwa justru dari pengetahuan akan moralitas tersebut membangkitkan kesadaran kebersalahan? Perasaan bersalah itu muncul karena kita mengerti hal yang baik dan hal buruk. Ketika kita tidak  mengerti akan perbedaan benar dan salah, tidak ada dalam diri kita yang menegur.

Konsep Dosa

Saya yakin kita semua setuju bahwa sebagai orang yang beragama, kita semua mengenal konsep dosa. Bahkan orang yang tidak beragama pun harus mengakui suatu perasaan bersalah yang timbul dalam diri seseorang, termasuk didalamnya adalah perasaan menyesal. Setiap orang yang tidak memiliki perasaan bersalah atau penyesalan dikategorikan kedalam orang yang memiliki gangguan kejiwaan yang parah atau psychopathy.

Sesungguhnya, agama tidak pernah membawa kita kepada kebenaran. Agama membawa kita kepada konsep pengertian bahwa ada kebenaran dan kebaikan. Melalui pengertian tersebut, kita dibawa pada pengetahuan akan yang baik dan yang jahat. Semakin kita mengenali dan mendalami perihal kebaikan, semakin kita mengetahui bahwa kita ini adalah orang yang memiliki banyak kesalahan.

Ketika kita berbuat baik, menolong orang, memberikan kepada seorang pengemis bantuan berupa uang, kita merasa sudah baik. Kita berbuat baik. Kita adalah orang baik. Kita menolong orang lain.

Pernahkah kita memikirkan lebih jauh, apakah perbuatan kita menolong pengemis itu akan berakibat baik bagi dia atau malah menjerumuskan dia? Apakah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengemis tersebut? Apakah uang? Ataukah pekerjaan? Ataukah kesempatan? Apakah uang yang kita berikan dia gunakan untuk membeli makanan atau malah membeli rokok yang malah tidak menyehatkan?

Saya sekali lagi yakin, bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan seharusnya menggugah sebagian kita dan menyadarkan kita. Tapi kita merasionalisasikan perasaan tanggung jawab moral dan kesadaran moral itu dengan alasan-alasan seperti berikut: yang penting kita sudah berniat baik. Yang penting adalah niatnya. Masalah pengemis itu mau terus menjadi pengemis, atau uang itu mau dipakai untuk beli makanan, atau beli rokok, atau beli pisau untuk menodong orang, atau dipakai untuk menyekolahkan anaknya, kita tidak tahu. Tepatnya, kita tidak cukup perduli.

Dengan kata lain, kita tidak bisa dipersalahkan ketika kita tidak tau.

Hal itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Pengertian itu seharusnya membangkitkan suatu perasaan bersalah yang lain. Yaitu seberapa jauh pun kita mau berbuat baik, kita tidak bisa berbuat baik. Kita tidak bisa secara tuntas berbuat kebaikan yang dapat membenarkan diri kita atau membuat diri kita dibenarkan. Karena kita tidak tahu, hal itu cukup untuk menenangkan hati nurani kita dan menjauhkan kita dari perasaan bersalah.

Agama dan kebenarannya hanyalah membuktikan bahwa diri kita ternyata tidak mampu melakukan kebaikan. Dan melakukan satu kesalahan dari satu larangan dalam agama berarti telah melanggar semua hukum. Agama tidak menyelamatkan. Perbuatan baik tidak membuat kita dibenarkan. Saya yakin kita semua bisa menyetujui kalimat berikut, apakah semua orang dalam penjara adalah orang yang tidak beragama? Tidak. Pasti ada banyak orang yang berada dalam penjara yang adalah orang yang taat beragama. Apakah koruptor adalah orang yang tidak taat beragama? Jika mereka beragama, mengapa mereka tetap korupsi?

Akan tetapi melalui jalan agama, seseorang diberi tahu bahwa dia bersalah, dia berdosa. Dan sebagian besar agama menawarkan penyelesaian, yaitu melalui perbuatan baik. Namun hal tersebut menimbulkan permasalahan yang lain lagi yang sudah kita bahas, yaitu kesadaran bahwa tidak ada perbuatan baik kita yang benar-benar tuntas merupakan kebaikan yang dapat dibanggakan dan dijadikan pengganti perbuatan dosa kita dan menenangkan perasaan bersalah kita.

Masalahnya utamanya adalah kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan. Kita berusaha melakukan penebusan kesalahan kita dalam setiap upacara besar keagamaan. Setiap kali. Dan setiap kali kita melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada jalan keluar melalui agama, karena perbuatan amal kita tidak bisa menyelamatkan kita.
Berusaha menyelamatkan diri melalui perbuatan amal adalah seperti melanggar lampu merah. Kita keluar rumah, hendak menuju ke rumah kekasih kita, di jalan ada sepuluh lampu merah. Setelah melalui 9 lampu merah, kita sadar bahwa kita sudah terlambat. Maka di lampu merah ke-10, kita serobot dan langgar. Kemudian kita dihentikan oleh polisi dan di tilang. Kita tidak bisa berargumen kepada polisi itu, “Bapak tidak boleh menilang saya. Saya sudah melewati 9 lampu merah dengan tertib, masa baru 1 lampu merah yang saya langgar, sudah ditilang?”
Kita tidak bisa juga berargumen kepada seorang hakim, “Sudah 39 tahun saya hidup sebagai warga negara Indonesia, tidak pernah saya berurusan dengan hamba hukum, masakan baru satu kali ini saya mencuri karena anak saya sakit keras dan hampir mati, saya akan langsung masuk penjara?”

Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan. Dan agama memperjelas hal itu. Melalui agama kita mengenal semua baik dan jahat. Dan semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak kita sadar bahwa semakin banyak yang kita perbuat ternyata tidak baik.

Jika kita bisa dianggap baik hanya dengan mempercayai suatu agama tertentu tanpa perlu hidup bertanggung jawab dan suci, apa gunanya kita hidup bersusah payah berusaha mengejar kesalehan? Apa gunanya kesadaran kita akan moralitas? Jika demikian halnya, apakah gunanya beragama? Dan disini jawaban yang saya temukan yang selalu saja diucapkan orang: Ada begitu banyak agama di luar sana. Apakah semua agama itu sama saja dan berakhir dengan kebuntuan dan dilema sedemikian?

Q: Bukankah semua agama itu sama, mengajarkan kebaikan dan mendatangkan keselamatan?

AAda tiga pertanyaan dalam satu kalimat tanya tersebut. Pertanyaan tersebut hanya bisa terjawab melalui –paling sedikit– dalam empat pembahasan.

Yang pertama adalah apakah yang dimaksud dengan keselamatan? Ada agama dan kepercayaan yang mengatakan bahwa keselamatan itu adalah surga. Jika kita beragama, maka kita akan masuk surga.
Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu adalah kita akan hidup kaya raya, makmur dan sejahtera, dijauhkan dari segala macam kesulitan, sakit penyakit, bahaya, baik dalam dunia ini, maupun akhirat.
Sementara yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita akan melalui kehidupan yang ini, untuk menuju pada kehidupan yang lain, yang berikutnya, yang lebih baik daripada kehidupan yang sekarang kita jalani.
Dan yang lain lagi mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita tidak akan mati secara rohani, kita akan hidup setelah jasmani kita dalam kehidupan yang fana ini berakhir; dan kita akan hidup sampai selama-lamanya.

Jadi manakah yang benar dengan pendapat tersebut? Setiap agama dan kepercayaan memiliki definisi yang berbeda tentang “KESELAMATAN”. Ada agama dan kepercayaan yang menggambarkan bahwa keselamatan yang adalah surga itu adalah kehidupan yang mirip dengan kehidupan kita yang sekarang, namun disana tidak terdapat kesulitan, sakit penyakit, kematian, malapetaka, dan seterusnya. Yang lain menggambarkan bahwa kehidupan di surga itu adalah kehidupan sebagai pertapa dan kekal, dalam ketenangan dan kedamaian yang tiada akhir. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa kehidupan di surga itu adalah kemewahan dan kepuasan dan pemenuhan segala keinginan manusia yang tidak tercapai di dunia ini, segala uang, logam mulia, batu mulia, tempat tinggal seperti istana, kehidupan seperti raja, dan mengumbar segala nafsu, keinginan, kenikmatan lidah dan seksualitas, sejauh dan sebanyak yang dapat kita bayangkan dengan imajinasi manusia, bahkan lebih daripada batasan imajinasi kita.

Yang kedua adalah berkenaan dengan tujuan akhir hidup manusia, kita akan mulai masuk dalam pembahasan untuk menjawab pertanyaan tersebut, mulai dari yang paling akhir. Agama mendatangkan keselamatan. Kita semua adalah manusia. Manusia itu bisa bersalah, dan sudah bersalah, dan tidak seorangpun yang tidak pernah tidak bersalah. Karena itu manusia akan binasa, karena kesalahan kita sendiri. Air yang kita minum, berusaha kita bersihkan dari air yang kita cemari. Makanan yang kita makan, mengandung segala kemajuan teknologi dan rekayasa yang secara perlahan dan komulatif meracuni kita. Sebagian dari kita dengan tubuh yang lebih lemah menderita penyakit yang aneh-aneh, mulai dari kanker, kerusakan organ, keracunan logam berat atau kimia, penyakit multiple sclerosis, autoimun, dan seterusnya. Udara yang kita hirup sudah kita cemari sendiri dengan pencemaran udara, berbagai jenis radiasi, penebangan hutan, perusakan alam, eksploitasi sumber daya, kerusakan keseimbangan jumlah populasi flora dan fauna, dan seterusnya. Langsung ataupun tidak langsung, kita semua terlibat dan ikut sama bersalahnya, dan kita semua akan binasa karena kesalahan kita sendiri. Dunia sudah terlalu rusak dan perbaikan yang kita lakukan akan menjadi penyebab kerusakan yang berikutnya. Hal itu adalah akibat kesalahan kita semua, tidak terelakkan dan tidak ada yang dapat kita lakukan selain kita berusaha bertahan.

Namun sebagai manusia, kita juga memiliki roh. Tidak ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia jasmani kita, dan untunglah jasmani kita tidak mengandung unsur kekekalan. Tapi ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia rohani kita yang akan terus berlanjut, bahkan ketika dunia jasmani ini sudah lewat. Kita bisa dimampukan untuk memilih jalan hidup yang tepat, yang bisa membawa kita pada keselamatan, menghindarkan kita daripada kematian rohani yang sifatnya selama-lamanya dan kekal.

Disinilah isu tentang agama menjadi sangat penting. Melihat kembali tentang definisi masing-masing agama tentang keselamatan, manakah definisi yang benar? Kesalahan memilih jalan hidup dan mengikuti ajaran yang salah adalah meresikokan kehidupan kekal dalam roh. Apakah kita akan diselamatkan didalam roh atau kita akan tidak terselamatkan didalam roh sampai selama-lama-lamanya.

Untuk menentukan kita akan mau makan apa sore ini, kita memilih. Memilih makanan yang dimasak oleh seseorang di suatu rumah makan, yang memiliki kualitas yang sesuai dengan yang kita harapkan. Demikian pula untuk memilih pakaian, sekolah, universitas, calon istri dan suami, dan seterusnya. Kita memilih dan mempertimbangkan. Untuk bisa memilih dan mempertimbangkan, kita mengambil informasi dan data, kita analisa antara informasi dan data yang satu dengan yang lain. Kita bersikap terbuka, objektif, dan rela hati untuk mempelajari setiap aspek, kemudian mengambil keputusan berdasar pada informasi yang kita kumpulkan.

Itu semua rela kita lakukan untuk memilih makanan, pakaian, sekolah, pasangan hidup, dan seterusnya. Padahal itu semua sifatnya sementara. Jarang dari kita yang benar-benar mempertimbangkan dan mempelajari agama dan kepercayaan yang kita pegang, membandingkannya dengan agama lain untuk kemudian kita pilih. Tidak, kita tidak melakukan itu. Kita bahkan seringkali tidak mempelajari baik-baik dan secara mendalam agama yang sedang kita yakini dengan buta.
Kita bisa penasaran beda antara panci dan loyang yang satu dengan yang lain hanya karena beda harga, yang satu lebih murah daripada yang lain. Atau kita ingin tahu beda antara smartphone yang satu dengan yang lain, mana yang lebih bagus, mana yang lebih berkualitas.

Tidakkah roh kita yang kekal lebih penting daripada dompet kita, panci atau smartphone?
Inilah bahasan yang ketiga, yaitu bagaimana kita bisa tidak perduli dan tidak mau mempelajari dan mengenali siapa atau apa yang kita percaya yang katanya bisa membawa kita pada keselamatan? Bagaimana kita bisa secara pragmatis menganggap bahwa semua kebaikan adalah sama dan semua ajaran adalah sama rata baik adanya. Sementara jelas kelihatan bahwa agama dan kepercayaan yang satu menyatakan bahwa binatang itu makhluk hidup yang tidak boleh kita bunuh dan makan. Sementara agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua boleh kita nikmati dan makan dengan bertanggung jawab. Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua manusia adalah ciptaan yang paling tinggi dan darahnya sangat berharga sehingga tidak boleh dibunuh. Sementara ada agama dan kepercayaan yang lain menyatakan bahwa darah manusia itu boleh dikorbankan dan darah manusia yang satu lebih berharga dibanding darah manusia yang lain.

Bagaimana mungkin kita bisa dengan polos mengatakan bahwa semua agama itu sama?

Sekarang, bahasan yang keempat, apa yang hendak kita lakukan dengan perbedaan itu? Kita bisa tidak perduli dan tetap menganggap semua agama sama. Kita bisa mulai belajar, membandingkan, dan mencari kebenaran sejati, yang benar-benar benar. Kita bisa menutup diri dan menganggap semua agama salah dan agama kita yang paling benar.
Manusia menajamkan manusia, dengan kritik yang membangun, berdiskusi, berbicara, membuka diri; ilmu pengetahuan bertumbuh dengan sangat cepat karena setiap orang bisa saling mendukung dan melengkapi. Demikian pula dalam hal filsafat, filsuf yang satu memberikan pendapat dan pengajaran, dan filsuf yang lain memberikan tanggapan, dan kita mempelajari kemajuan berpikir mereka dan meningkatkan kualitas hidup intelektual kita.

Demikian pula halnya dengan agama dan kepercayaan kita. Menutup diri dengan fanatisme adalah sama dengan menjadi katak dalam tempurung. Seperti anak kecil yang menganggap dirinya sangat pandai dan paling tahu dan paling benar. Dia tidak menerima pengajaran dari orang lain. Dan kita semua tahu kemana anak kecil sedemikian akan berakhir jikalau didikan tidak diterapkan dalam dirinya.

Kebenaran itu persis seperti singa, dimanapun dia berada, dia akan selalu ditakuti dan membuat perbedaan. Kita yang mempercayai dan memelihara singa yang hidup, kita tidak perlu membela singa itu pada saat ada musuh mau menyerang. Singa itu bisa membela dirinya sendiri, dari dalam dirinya sendiri, dia akan menunjukkan bahwa dia hidup, bahwa dia layak ditakuti. Yang perlu dibela adalah “singa-singa”-an; singa palsu. Singa itu lain dengan singa-singa-an.

Kalau saudara mengeluarkan uang 500juta untuk membeli mobil, kemudian sebuah mobil-mobil-an disodorkan kepada saudara, maka saudara akan marah besar. Karena saudara tahu bahwa mobil itu berbeda dengan mobil-mobil-an. Setelah saudara membawa pulang mobil yang sejati, dan ada orang yang mengatakan bahwa Anda tolol karena membeli mobil-mobil-an, Anda hanya akan tersenyum. Itu pasti orang gila. Anda tidak marah, karena Anda tahu, Anda membayar 500jt untuk membeli mobil, dan mobil itu yang Anda bawa pulang.

Demikian pula dengan kebenaran yang sejati, agama yang sejati, kebenaran yang sejati. Setelah saudara mendapatkan kebenaran yang sejati, dan ada yang mengatakan bahwa kebenaran itu palsu, maka Anda akan tersenyum dan bisa mulai menjelaskan dan memberikan argumen. Karena Anda sudah belajar, dan sudah mengerti, dan sudah memilih dan mendapat kebenaran yang sejati.

Menjawab pertanyaan diatas: Bukankah semua agama itu sama? Hanya kalau Anda tidak pernah belajar, maka semua agama itu sama. Sama seperti semua mobil itu sama, sama seperti semua singa itu sama. Sama seperti semua perempuan/laki itu sama, asal perempuan/laki, boleh dijadikan istri/suami.

“The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.”― Augustine of Hippo

Pengetahuan dan Pengertian; Kebenaran dan Kebijaksanaan

Tema tentang pengetahuan (knowledge) merupakan pembahasan yang telah berlangsung sepanjang sejarah pemikiran manusia. Filsuf dan pemikir, sosiolog, psikolog, ahli agama dan teolog, penyair, penulis dan sastrawan telah berupaya memahami tentang hal ini. Berbagai pendapat dan argumen dari berbagai sudut pandang membahas tentang “bagaimana seseorang bisa mengetahui yang dia ketahui.” Metafisika membahas topik ini dengan sangat rumit dan kompleks melalui proposisi-proposisi yang begitu luas melalui berbagai presuposisi.

Membahas mengenai para pemikir tersebut akan menjadi topik bahasan yang sangat besar dan sangat luas, tidak akan ada habisnya. Sudut pandang idealisme dan teori juga bukan merupakan posisi dan titik awal yang di ambil dalam pembahasan ini. Hanya membayangkannya saja sudah terasa sangat mengerikan.

Apakah TAHU itu?

Orang yang sudah tahu, tidak perlu diberi tahu.
Orang yang tidak tahu, tidak bisa diberi tahu.
Inilah paradoks pengetahuan. Jika seseorang sudah mengetahui, apa gunanya dia diberi tahu. Jika seseorang tidak mengetahui, bagaimana caranya dia bisa diberi tahu. Agar seseorang bisa tahu, dia pertama-tama harus tahu bahwa dia tidak tahu. Tapi bagaimana caranya dia bisa tahu apa yang dia tidak tahu? Bagaimana bisa ada penerobosan di dalam dirinya untuk menyadari bahwa dia tidak tahu, jika dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu? Jadi, untuk menjadi tahu, dia harus tahu; padahal dia tidak tahu.

Kiranya sekarang sudah terbayang betapa besar kesulitan pemikiran sepanjang sejarah manusia berusaha memahami hal ini. Socrates (filsuf Yunani yang hidup dikisaran tahun 470 BC) mengatakan, “I only know one thing: I know nothing.” (Terj: Aku hanya tahu satu hal: Aku tidak tahu apa-apa.) Ini adalah paradoks Socrates tentang pengetahuan.

Tetap tidak dapat menjawab bagaimana manusia bisa tahu akan banyak hal yang mengisi kepalanya. Kita bisa mengatakan bahwa kita lebih pintar daripada Socrates dan berkata karena ada orang lain yang memberi tahu, jadi kita bisa akhirnya dari tidak tahu, menjadi bisa mengetahui. Socrates itu bodoh, orang kuno, waktu itu dia belum mengerti bahwa kalau sudah diberi tahu, orang bisa tahu.

Mengapa harus TAHU?

Baiklah, setelah diberi tahu, orang seharusnya tahu.
Tapi mengapa ada orang yang sudah diberi tahu, masih juga tidak tahu? Kenyataannya, kita bisa memberi tahu kepada banyak orang segala jenis pengetahuan dan segala macam pengetahuan, tapi akan selalu ada orang yang tidak tahu.

Kita diajarkan segala macam ilmu di bangku sekolah, apakah kita tahu semua yang diajarkan pada kita? Apakah raport kita semuanya mencerminkan nilai yang sempurna sebagai tanda bahwa kita mengetahui semua yang diberitahukan kepada kita?

Tetap tidak menjawab bagaimana seseorang bisa mengetahui apa yang dia ketahui.
Kita bisa mengatakan lagi bahwa itu berbeda. Ada tahu yang asal tahu, ada tahu yang benar-benar tahu, ada tahu yang menuju pada pengertian. Tahu itu tidak sama dengan mengerti.
Sekarang, ada sebuah wawasan baru yang terbuka. Dan Socrates sudah tidak lagi kelihatan terlalu bodoh. Kita sekarang mengetahui ada ‘tahu’ yang sungguh, dan ada ‘tahu’ yang tidak sungguh.

Apakah yang dimaksud dengan mengerti?

Setelah seseorang diberi tahu, kepada dia diharapkan untuk mengerti.
Itulah prinsip pendidikan manusia. Seseorang bermula dari tidak tahu; setelah diberi tahu, dia diharapkan menjadi tahu, tidak sekedar tahu melainkan mengerti; setelah dia mengerti, dia diharapkan untuk melakukan tindakan yang benar sesuai dengan pengertian yang benar yang sesuai dengan pengetahuan yang benar.
Tahapannya diharapkan terjadi sesederhana itu.

Akan tetapi sekarang keluar satu wawasan baru lagi: ‘benar’ / ‘kebenaran’.

Seharusnya sekarang kita mengetahui bahwa manusia tidak boleh hanya sekedar tahu; akan tetapi, selain tahu, dia juga harus mengerti. Apakah kita mengerti (selain mengetahui) akan pengetahuan itu? Apakah kita mengerti apa yang kita mengerti?

David Rosenthal, seorang filsuf dan pengajar di City University of New York, dia sangat dikenal melalui karyanya higher-order-thought theory of consciousness. Dia mengatakan bahwa seseorang tidak memiliki kesadaran yang benar-benar sadar jika  dia tidak menyadari kesadaran tersebut; jadi, sebuah kondisi kesadaran itu baru dapat dikatakan dalam keadaan sadar, jika dia sendiri menyadari apa yang dia sadari.

Demikian pula halnya dengan pengetahuan dan pengertian yang dimiliki seseorang. Sebagai paradoks, dapat pula dijelaskan bahwa seseorang baru dapat dikatakan mengetahui jika dia mengetahui apa yang tidak dia ketahui. Karena melalui ketidaktahuan baru dia dapat diberi tahu.

Kesemua pengertian ini masih juga tidak menjelaskan bagaimana orang bisa mengetahui apa yang dia tidak tahu. Tapi sejauh ini, kita sekarang mengerti bahwa pengetahuan muncul dari sebuah pengetahuan akan ketidaktahuan; walaupun tidak dapat dijelaskan bagaimana orang bisa merasa tidak tahu kalau dia sudah merasa tahu (tahu bahwa dia tidak tahu). Inilah kesulitan terbesar dalam paradoks pengetahuan.

Kebenaran dan kebijaksanaan

Tujuan dari kita tahu dan mengerti adalah supaya pengetahuan kita menuntun pada pengertian kita, membawa kita kepada kehidupan yang lebih bernilai. Supaya tindakan dan perbuatan kita, pekerjaan tangan kita diperbaharui oleh pembaruan dalam akal budi kita. Supaya dari tahu dan mengerti, kita boleh menjadi orang yang benar dan bijak. Tahu dan mengerti di dalam wilayah ide dan idealisme, benar dan bijak dalam perbuatan nyata kehidupan yang praktis sebagai wujud nyata adanya keberadaan pengetahuan dan pengertian.

Kita tidak belajar supaya kita tahu banyak hal, melainkan supaya kita mengerti banyak hal. Pengertian yang membawa kita kepada kualitas hidup yang lebih tinggi. Pengertian yang membawa kita kepada perilaku yang benar dan bijak. Sebuah perilaku yang muncul dari satu sudut pandang yang tepat, menganalisa sesuatu dengan tepat, mengambil kesimpulan yang tepat, dan menjalankan solusi dengan tepat. Sedemikian diperlukannya pengetahuan dan pengertian sehingga menuntun manusia untuk memandang segala sesuatu dengan tepat.

Kendatipun demikian, sejak jaman Socrates, melalui ‘interogasi’ dalam penelitiannya terhadap politisi, penyair, dan orang-orang ahli dalam bidang-bidang tertentu, telah disimpulkan bahwa kebanyakan manusia tidak mengerti apa yang dia ketahui, dan dia hidup mengerjakan sesuatu yang ternyata tidak dia mengerti. Kebanyakan orang yang mengaku berpengetahuan ternyata tidak benar-benar mengetahui hal yang katanya mereka ketahui; atau mereka mengetahui jauh lebih sedikit dari yang katanya mereka ketahui. Politisi ternyata tidak benar-benar tahu ataupun mengerti mengenai politik, keadilan, ketatanegaraan, pelayanan dan pengaturan masyarakat, dan seterusnya; demikian pula halnya dengan penyair maupun para ahli. Mereka hanya mengaku atau bersikap bahwa mereka memiliki banyak pengetahuan dan pengertian, yang ketika digali ternyata semuanya kosong dan berbelit-belit.

Seperti tujuan pendidikan yang kita bahas di atas, bahwa pengetahuan itu diharapkan mengarah pada pengertian; pengertian itu diharapkan mengarah pada perbuatan yang sejalan dengan pengertian. Setiap manusia mengerti betapa amat sangat penting bagi seseorang dididik dan diberi pengetahuan yang baik dan benar.

Tidak seorangpun dididik untuk menjadi penjahat, atau perampok, atau pembunuh, atau koruptor. Tapi entah kenapa, pengetahuan mereka membawa mereka kepada kecelakaan dan menjadi kecelakaan bagi orang lain. Jelas terlihat bahwa alasannya terdapat pada ketidaktahuan bahwa mereka tidak tahu.

Namun naïf sekali kalau dikatakan bahwa mereka tidak tahu tentang perbuatan mereka itu adalah tidak benar dan tidak mengandung kebenaran. Sekali lagi, tidak ditemukan penjelasan bagaimana orang bisa tidak tahu apa yang dia lakukan.

Contoh yang paling saya gemari adalah perilaku merokok.
Seseorang sudah diberi tahu, secara ekstensif, diberikan penjelasan segala akibat buruk merokok dan dibandingkan dengan kebaikan dari merokok. Dan setiap orang tahu –bahkan mengerti– bahaya dari merokok. Namun yang perokok tetap saja merokok. Entah dia profesor, pebisnis besar, presiden, menteri, ahli ekonomi, mahasiswa, pelajar, guru, orang tua, pemuka agama, petani, buruh rendah, dan entah siapa lagi. Apakah mereka orang bodoh? Apakah mereka tidak mengerti?

Perhatikan kalimat di bawah ini:
Mereka tentunya tahu dan mengerti. Namun mereka memandang itu semua dari sudut pandang yang tidak tepat. Mereka menganalisa pengetahuan mereka dari pengertian yang keliru, sehingga tidak ada kebenaran dan kebijaksaan dalam perilaku mereka. Mereka menganalisa pengetahuan dan pengertian mereka tanpa kebenaran dan kebijaksanaan, sehingga terjadi kekeliruan dalam perilaku mereka.
Dari penjelasan barusan, kita bisa melihat bahwa bisa jadi, ‘pengetahuan dan pengertian’ berada di wilayah yang sama sekali berbeda dengan wilayah ‘kebenaran dan kebijaksanaan’.

Hal ini menjelaskan bagaimana orang yang tahu banyak dan mengerti banyak dalam kepalanya, tidak selalu benar dan bijak dalam perbuatannya. Sama seperti orang yang benar dan bijak dalam perbuatannya tidak selalu tahu banyak dalam kepalanya.
Apakah Socrates bersekolah dan tahu ilmu pengetahuan yang kita kenal sekarang? Socrates adalah orang bodoh yang terbelakang di jaman kita sekarang. Kenapa kita masih sangat menghargai pemikiran dia? Karena dia mengerti teori quantum dan membongkar untaian DNA? Alih-alih dengan semua itu, saya bahkan tidak yakin dia tahu dunia ini bulat!
Pengetahuan dan pengertian datang dan pergi, ilmu pengetahuan diperdebatkan sepanjang jaman. Tapi kebenaran dan kebijaksaan tidak sanggup dihancurkan oleh waktu dan sejarah.

Musik klasik kuno dari jaman Baroque yang bertahan ratusan tahun dan diakui oleh para ilmuwan dan ahli musik besar hingga jaman ini; manusia modern dan anak-anak muda yang dicengkeram pragmatisme tidak sanggup mendengarkan musik dengan kualitas sedemikian tinggi. Mereka bahkan menganggap itu musik kuno pengantar tidur, dan lebih suka mendengarkan musik rendah yang selalu berganti dalam hitungan minggu. Modernitas tidak bisa memahami nilai yang tinggi dan sulit, mereka menyukai hal yang rendah dan mudah; padahal mereka TAHU dan MENGERTI bahwa tidak ada sesuatu yang bernilai tinggi yang muncul dari hal yang mudah dan sepele. Musik sedemikian tinggi yang diakui oleh orang-orang yang sangat otoritatif di bidang musik, yang menghabiskan waktu dalam hidupnya mempelajari Johann Sebastian Bach, George Frideric Handel, Antonio Vivaldi, Henry Purcell, Johann Pachelbel, dan seterusnya.

Namun apa yang dikerjakan oleh masyarakat modern dengan pragmatismenya? Musik itu adalah selera pribadi, kata mereka. Tidak usah ribut dengan musik klasik, “ku tahu yang ku mau.” Apakah mereka tidak tahu dan tidak mengerti bahwa dunia terpelajar mengakui karya komposer besar itu sebagai karya yang agung dan megah yang memiliki kualitas dan keindahan yang bertahan ratusan tahun dan tidak sanggup dihasilkan oleh dunia modern?
Mereka tahu. Mereka mengerti. Tetapi mereka tidak mau tahu. Dan tidak mau mengerti.

Sama halnya dengan kebiasaan merokok.
Sama halnya dengan tindakan kejahatan.
Tidak ada seorang pun yang setelah melakukan kejahatan, menolak untuk ditangkap oleh hukum, kemudian berkata, “saya sungguh mati tidak tahu bahwa korupsi itu tidak boleh.” Atau berdalih, “karena saya tidak tahu bahwa membunuh itu tidak boleh, jadi saya harus diampuni.”
Mereka semua tahu apa yang baik. Tetapi yang buruk yang dipilih.

Hal itu menimbulkan pertanyaan yang terus menerus dan tidak habis-habisnya di dalam kepala saya. Kenapa setelah tahu yang baik dan benar dan bernilai, yang dipilih adalah yang rendah, yang salah dan tidak bernilai?

Jelas sekali terlihat keberadaan jurang pemisah yang sangat dalam antara mengetahui, mengerti, dengan kebenaran dan kebijaksaan. Sama seperti adanya harus ada ‘lompatan yang mustahil’ tentang bagaimana seseorang bisa tahu bahwa dia tidak tahu; sedemikian pula harus ada ‘lompatan yang mustahil’ dari pengetahuan dan pengertian kepada kebenaran dan kebijaksanaan. Bagaimana seorang manusia dimampukan untuk melakukan lompatan yang mustahil itu?

Filsafat sepanjang jaman mempertanyakan hal yang esensi ini.

Dan jawabannya –terpaksa harus saya akui– saya temukan dalam buku Cornelius Van Til, seorang Kristen dengan teologi Reformed.
Dia menjelaskan bahwa harus ada campur tangan dari Tuhan, membukakan pengertian yang menginspirasikan (dunia agama mengenali hal ini sebagai ‘pewahyuan’),  dari kekekalan menerobos masuk kepada alam manusia, supaya seseorang dimungkinkan untuk mengetahui bahwa dia tidak tahu. Hal ini langsung menjawab paradoks Socrates.

Bahwa seluruh dunia sudah rusak total sejak kejatuhan dalam dosa setelah penciptaan, dan semuanya sudah berdosa dan dicengkeram oleh dosa. Menyebabkan manusia yang meskipun tahu dan mengerti apa yang baik dan benar, tidak memiliki kemampuan untuk membuat pilihan yang tepa. Cengkeraman dosa membuat manusia tidak mungkin bebas dan memilih yang baik, sehingga yang dipilih selalu yang rendah dan cemar dan jahat. Dan hal ini langsung menjawab perihal contoh-contoh saya di atas.

Hanya melalui kembali kepada kebenaran yang sejati, menjadi murid-Nya, mengetahui apa yang benar, mengerti apa yang benar, baru manusia dapat dimerdekakan dari cengkeraman dunia yang mengikat manusia. Barulah seseorang dimerdekakan (meminjam istilah orang Kristen) untuk kemudian dimampukan melakukan ‘lompatan yang mustahil’ itu: dari ‘mengetahui dan mengerti’ kepada ‘kebenaran dan kebijaksanaan’.

Di titik ini, kepada kita ditawarkan sebuah presuposisi baru, pemahaman yang tampaknya sederhana, yang mendahului ‘tahu dan mengerti’. Urutannya berjalan terbalik sedemikian: supaya kita bisa mengerti, maka kita harus lebih dahulu tahu. Untuk bisa tahu, maka kita harus ‘percaya’ dulu kepada pengajar kita atau kepada yang memberikan ‘tahu’, baru kita bisa mengetahui. Kita tidak akan belajar apa pun jika kita sudah merasa tahu, ataupun jika kita meragukan (baca: tidak mempercayai) orang yang memberi tahu kita.
Hal tersebut sudah pernah saya bahas dengan rumit di sini.

Sekarang, semua pokok bahasan sudah dibahas, dan semua pertanyaan sudah terjawab.
Sekarang tinggal permasalahan apakah jawaban itu mau ditolak untuk kemudian kembali ke titik awal permasalahan tanpa jawaban.

Apakah Manusia Itu Sehingga Begitu Penting?

“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Kemudian manusia dengan segenap akal budi, kecerdasan dan kreatifitasnya berpikir bahwa mereka dulunya adalah kera. Sekarang para mantan kera inilah yang menjadi penguasa alam semesta. Ini adalah pemikiran yang sangat menarik dan menjadi salah satu iman dalam dunia ilmu pengetahuan. Disebut iman karena sebenarnya dibutuhkan lebih banyak keberanian (baca: iman) untuk percaya tentang missing-link ketimbang percaya bahwa dunia diciptakan oleh Allah.

Hanya manusia satu-satunya jenis makhluk yang memiliki nafas hidup sehingga menjadikan manusia memiliki akal budi, kemampuan berbahasa dan kreatifitas; lebih dari sekedar debu dan tanah yang hidup seperti binatang. Karena memiliki itu semua, maka manusia memiliki kapabilitas untuk mengerjakan apa yang telah Tuhan tetapkan sejak semula, yaitu untuk mengusahakan dan memelihara ciptaan-Nya. Serta karena memiliki semua itu, maka manusia sekaligus memiliki kapabilitas untuk melawan Tuhan.

Kecuali manusia, seluruh ciptaan bergerak dalam harmoni yang senada, dan dunia menyadari sifat manusia yang merusak keseimbangan alam semesta. Tanpa akal budi, tidak mungkin manusia memiliki kemampuan melawan alam dan ciptaan Tuhan yang baik adanya.

Belum pernah ada jurnal yang mengungkapkan betapa seekor ayam memunculkan perilaku yang penuh kemarahan melihat pembantaian yang dilakukan manusia terhadap kaumnya. Atau seekor induk rusa yang menantang ‘langit’ atau berusaha membalas dendam ketika mengetahui anaknya diterkam harimau. Pernahkah terlintas dalam benak, bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk di alam semesta yang kita kenal sekarang ini yang memaki-maki Tuhan ketika berada dalam kesusahan.

Semua itu mampu dilakukan manusia karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh semua ciptaan lain. Ada sesuatu yang berbeda antara manusia dengan ciptaan lain, dan sesuatu itu adalah kapasitas yang diberikan pencipta yang sebenarnya ditujukan agar manusia mampu menjadi Sang Penguasa.

Allah memberikan hak kepada manusia untuk menguasai seluruh ciptaan. Dan hak tidak pernah diberikan tanpa kewajiban. Sebagai manusia yang diberikan hak dan kewajiban untuk mengusahakan dan memelihara alam, ciptaan yang diberi nafas kehidupan ini memiliki jabatan sebagai penatalayan Allah; Dan menjadi ciptaan diatas semua ciptaan Allah yang lainnya.

Manusia sebagai ciptaan Allah yang diberi wewenang untuk mengurus seluruh alam semesta, telah melupakan tanggung jawabnya dan menggunakan wewenangnya secara tidak bertanggung jawab. Dia hanya mengingat dirinya yang superior dibanding ciptaan lain dan memandang dirinya hanya sebagai Sang Penguasa.

Sang penguasa yang telah jatuh dari natur asalnya adalah penguasa yang berdosa. Dengan jatuh ke dalam dosa, manusia telah dibutakan oleh berbagai-bagai kesesatan dalam daging yang berdosa, mengakibatkan semua keputusan dilihat dari sudut pandang yang keliru dan menghasilkan keputusan-keputusan yang keliru. Manusia mengusahakan banyak hal yang digunakan secara keliru, mencapai banyak penemuan secara keliru, dan mempergunakan banyak hal untuk tujuan yang keliru.

Dalam kemajuannya, manusia kehilangan esensi dari cara untuk meraih suatu tujuan. Ditengah-tengah kesulitan mencari nafkah karena terkutuknya tanah, manusia menciptakan permainannya sendiri dan saling memakan antar sesamanya. Dalam keberdosaannya, manusia kehilangan esensi dari cara untuk menggunakan kemampuan dan kemajuannya. Manusia bahkan kehilangan esensi dari cara untuk menetapkan suatu tujuan. Dalam berbagai-bagai arus pemikiran filsafat, pergerakan ilmu pengetahuan dan pergeseran budaya, manusia terjebak dalam lingkaran tanpa akhir diantara ketiganya yang membawa dirinya dan ciptaan lain dalam kerusakan yang tidak terselesaikan. Sebagai manusia Kristen yang telah ditebus, dia seharusnya dikembalikan ke dalam natur dan posisinya yang semula, yaitu seorang penguasa yang juga merupakan penatalayan Tuhan. Yang memiliki hak atas seluruh ciptaan sebagai penguasa dan kewajiban terhadap Tuhan untuk mengusahakan dan memelihara seluruh ciptaan sebagai pelayan. Dengan mengetahui dan menyadari status sebagai seorang penatalayan Tuhan barulah manusia dapat memulai kehidupannya dengan tepat, menjalaninya dengan baik dan mengakhirinya dengan tuntas.

Mengerti bahwa Allah yang menciptakan alam semesta, seorang Kristen seharusnya sadar bahwa segala sesuatunya adalah dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, bagi Dia kemuliaan sampai selama-lamanya. Bertolak dari sana, seorang penatalayan mengerti bahwa Allah telah memberikan kepada dirinya kapabilitas yang harus disadarinya sendiri untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab terhadap jabatan tersebut. Tugas dan tanggung jawab itulah yang disebut oleh orang Kristen sebagai kehidupan. Allah menuntut pertanggungjawaban untuk semua aspek dalam kehidupan penatalayan-Nya. Bagaimana dia bekerja, meraih dan memiliki sesuatu, menggunakan apa yang dia miliki, dan pada akhirnya mempertanggungjawabkan semua yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya.

Allah menyuruh penatalayan-Nya untuk bekerja, mengusahakan dan memelihara ciptaan-Nya. Bekerja dengan giat, dengan susah payah dan berpeluh hingga kembali menjadi debu dan tanah. Allah tidak pernah mengajarkan bahwa manusia sebagai penatalayanNya harus cepat bertumbuh dan cepat menghasilkan uang untuk kemudian pensiun dini dengan kekayaan melimpah. Allah hanya menyuruh manusia untuk berusaha semaksimal mungkin, memperkembangkan seluruh potensi dirinya dan menggunakan semua talenta yang telah dianugerahkan kepadanya untuk mengerjakan perkerjaan yang telah dipersiapkan oleh Allah sejak sebelumnya. Allah mengasihi manusia dalam natur yang tidak sempurna dan berdosa, namun Allah tidak pernah membiarkan manusia untuk tetap dalam keadaannya yang tidak sempurna dan berdosa. Allah menuntut manusia untuk berproses, bertumbuh, mencapai tujuan yang telah ditetapkan sendiri olehNya, menggunakan talenta yang telah dianugerahkanNya, yang berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain.

Allah menyuruh penatalayan-Nya untuk bertanggung jawab dengan semua yang telah dianugerahkan kepadanya. Allah menuntut pertanggungjawaban dari apa yang dilakukan oleh manusia dalam meraih setiap pencapaian dan hak yang didapatnya dalam memiliki sesuatu. Dengan talenta yang dimilikinya, manusia berhak memiliki apa yang menjadi haknya, berkewajiban melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Hidup dengan benar, belajar diwaktu kecil dan bekerja diwaktu dewasa. Allah menuntut manusia untuk mengejar apa yang baik, yang sempurna, dan yang berkenan kepada-Nya. Seluruh proses kehidupan yang diarahkan dengan ketiga prinsip itu tidak akan menjadi hidup yang hina. Dengan dijalankannya ketiga prinsip tersebut dalam kehidupan seorang manusia, maka manusia akan tahu bagaimana memposisikan dirinya ditengah-tengah seluruh ciptaan, mengusahakan dan memelihara seluruh alam semesta.

Terlebih dari itu, dengan mengejar semua hal yang baik, yang sempurna, dan yang berkenan kepadaNya, seorang manusia akan dapat membawa seluruh hidupnya ke level yang lebih tinggi setiap kalinya, dan menjadi lebih bijaksana. Hal itu lebih bernilai dibanding apapun yang dapat dicapai dalam hidup seseorang; Menjadi seorang penatalayan-Nya yang baik dan setia.

Sang penguasa yang tahu bagaimana menjadi seorang penatalayan Allah, akan menjadi penguasa yang tahu bagaimana memperlakukan seluruh ciptaan dan semua yang dilakukan dan diciptakan oleh ciptaan. Bertanggungjawab dengan hidupnya, membawa setiap aspek kehidupannya kembali untuk kemuliaan nama Tuhan dimanapun dia berada, apapun yang dia kerjakan. Sang penguasa yang tahu bagaimana menjadi seorang penatalayan Allah, tidak akan berani menyebut dirinya sebagai Sang Penguasa. Dia akan menyebut dirinya Hamba. Karena tujuan hidup manusia sebagai ciptaan mengkuti hukum relasi pencipta-ciptaan, maka adalah suatu kemutlakkan bagi ciptaan untuk selalu memikirkan tentang bagaimana Tuhannya dapat dipermuliakan.

Aku melihat sekelilingku, dan hatiku berkata, “Apa yang telah kulakukan terhadap dunia ini? Jika pemilik alam semesta ini menanyakan hal itu padaku, apakah jawabanku?” Dan aku gemetar, ketakutan oleh bayang-bayang itu; seperti seorang anak yang bersalah dan sekarang menanti ayahnya pulang.

Esensi Belajar dan Bekerja

Berikut ini adalah salah satu paradigma dasar dalam dunia pendidikan yang harus dibenahi. Yaitu alasan mengapa setiap orang perlu sekolah, supaya bisa memiliki ketrampilan untuk bekerja. Ada dua hal yang harus seumur hidup kita kerjakan, yaitu: belajar dan bekerja. Kita belajar dan bekerja untuk supaya bisa hidup. Terus belajar, terus bekerja, selama masih perlu hidup.

Hidup adalah untuk belajar dan bekerja. Belajar dan bekerja adalah untuk hidup. Dua hal ini tidak bisa lepas dari kehidupan manusia karena itulah tujuan hidup manusia. Tidak banyak hal yang tidak bisa di atasi dengan bekerja, dan kalimat tersebut barusan sama sekali tidak ada urusannya dengan uang.

Namun seringkali yang kita dengar adalah kita perlu sekolah supaya menjadi pandai. Mengapa perlu pandai? Supaya bisa bekerja. Jadi mengapa perlu bekerja? Seringkali alasan pertama adalah, “Supaya bisa cari uang.” Mengapa perlu cari uang? Sekali lagi, seringkali adalah, “Supaya bisa sukses.” Dan sukses selalu seringkali di ukur dengan jumlah harta yang dimiliki.

Kita mulai belajar tidak hanya di sekolah. Melainkan juga di rumah. Sejak lahir kita belajar. Kita mulai dengan belajar melihat, meraba, mendengar, menirukan, dan seterusnya. Kita mulai belajar mengenali benda, berbicara, mengingat nama, dan seterusnya. Kita mulai belajar apa yang boleh kita lakukan dan yang tidak boleh kita lakukan, mulai belajar membedakan konteks dengan konten, mengerti konsep nyata dan abstrak, dan seterusnya. Belajar tidak boleh selalu dihubungkan dengan sekolah. Sekolah adalah permulaan bagi kita untuk belajar bagaimana cara belajar. Setelah lulus dari bangku sekolah pun kita masih harus terus belajar. Dengan memahami sistematika belajar, kita akan lebih mudah mempelajari apapun yang perlu kita pelajari untuk membantu kita menjalani hidup.

Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran formal di sekolah saat berusia 7 (tujuh) tahun. Setelah jenjang formal selesai, kita masih harus terus belajar, mengikuti dan beradaptasi dengan segala sesuatu yang berubah disekitar kita, baik secara fisik, secara mental, sosial, pekerjaan, ketrampilan, dan seterusnya. Kita belajar bersosialisasi, berkomunikasi, beradaptasi dengan lingkungan baru, dengan rekan kerja, atasan dan bawahan, dan pasangan lawan jenis.

Hidup kita tidak henti-hentinya berubah dari satu tahapan kepada tahapan yang berikutnya. Menikah dan memiliki anak menuntut pembelajaran lagi, dan hingga tua, kita masih harus belajar, beradaptasi dengan kekuatan fisik dan mental yang mulai menurun, berusaha menjalankan fungsi hidup dengan cara yang berbeda.

Kita tidak pernah berhenti belajar. Selalu harus belajar mengatasi perubahan yang terus terjadi dari waktu ke waktu. Marilah kita perhatikan, bahwa ternyata tidak ada satu pun aspek hidup kita di desain untuk mengarahkan kita menjadi kaya. Kalaupun kita mengarahkan hidup kita untuk menjadi kaya, tidak ada satupun dalam proses pembelajaran yang kita lakukan tersebut yang berkenaan dengan hidup ini yang mengarahkan kita secara langsung untuk menjadi kaya secara materi. Dikatakan “kaya secara materi” karena ada kekayaan lain yang berbeda. Kaya secara intelektual, kaya secara spiritual, kaya secara moral, atau kaya secara ketrampilan. Semua yang kita pelajari dalam hidup ini mengarahkan kita untuk menjadi kaya dalam hal-hal yang baru saja saya sebutkan tadi. Semua kekayaan itu sejalan dengan natur hidup kita dan mengarahkan kita kepada HIDUP, serta berkenaan langsung dengan penambahan dan menaikkan nilai-nilai dalam seluruh aspek-aspek yang berada dalam hidup kita. Menuntun kita dari hidup, kepada hidup yang lebih tinggi.

Itulah yang selalu kita kerjakan. Sambil kita belajar, kita pun sedang bekerja untuk meningkatkan nilai hidup kita. Bekerja adalah merupakan natur dalam hidup manusia. Bekerja seharusnya adalah sesuatu yang terjadi secara natural, sama seperti kita bernapas dan makan. Bekerja adalah sebuah kebutuhan hidup. Tubuh kita tidak di ciptakan untuk tidak melakukan apa-apa dan menganggur. Semakin banyak kita menganggur dan tidak melakukan apa-apa, semakin buruk jadinya bagi fungsi tubuh kita. Semakin malas kita menggerakkan tubuh kita, semakin kita jauh daripada HIDUP.

Itulah tujuan dari belajar. Persis sama dengan proses kita bersekolah, dari kelas yang rendah, naik kepada kelas yang tinggi. Dari yang dulunya tidak bisa, naik menjadi bisa. Dari yang dulunya kurang ‘hidup’, menjadi lebih ‘hidup’. Dari bayi yang hanya bisa menangis dan berteriak, menjadi manusia dewasa yang bisa mengurus segala sesuatunya sendiri. Dari bayi yang tidak bisa bekerja, menjadi manusia dewasa yang bisa bekerja mengurus kebutuhan dan mencukupkan diri.

Sedangkan perihal menjadi kaya secara keuangan, itu adalah jalur yang berbeda dengan apa yang kita jalani ketika kita sedang mengarahkan jalan kita kepada hidup seperti yang sudah saya uraikan tadi. Kita harus dengan sengaja mengambil jalur hidup yang sama sekali berbeda ketika kita mau dengan sungguh-sungguh mengejar kekayaan. Sebuah jalur hidup yang mengarahkan kita kepada dunia materi. Jalan yang menuntun kita dari hidup, kepada yang mati. Tidakkah kita sadari bahwa jika mau dengan jujur kita renungkan, kita menempuh jalan yang memiliki kesulitan-kesulitan yang sebenarnya tidak perlu untuk mengejar kekayaan dan menumpuk harta yang sebenarnya untuk mengisi kekosongan hidup dan perasaan serakah serta kekhawatiran akan hari depan.

Kita sebenarnya ingin untuk memiliki hidup yang baik, yang berguna, yang bisa berkarya. Namun kemudian kita menoleh kepada sekitar kita dan mulai membandingkan diri kita dengan orang lain dengan semangat kompetisi yang tertanam dalam diri kita berikut dengan sifat iri, serakah, dan tidak mau kalah dengan orang lain. Sifat yang seolah-olah yakin bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang sama dengan modal yang sama, atau bahkan kita menilai diri kita lebih daripada orang lain. Kita ingin memilik harta yang lebih banyak atau paling tidak sama dengan orang lain. Sehingga kita memaksakan diri membeli semua barang yang kita tidak perlu, seringkali dengan uang yang tidak kita miliki, agar dapat membanggakannya di depan orang yang seringkali kita tidak kenal atau tidak kita sukai, supaya kita bisa membuat iri orang di sekitar kita; Dan ketika orang di sekitar kita benar-benar menjadi iri, kita mulai mengeluhkan hal tersebut.
Padahal kita mengerti betul bahwa orang-orang yang paling penting dalam hidup kita tidak membutuhkan itu semua, mereka mau menerima kita apa adanya dan mereka menghargai kita. Teman yang sejati, keluarga, sahabat baik, mereka yang berada dekat dengan kita pada saat suka dan duka, apakah mereka perduli berapa besar kekayaan kita?

Kita pasti sering mendengar kisah orang-orang yang “sukses” (baca: KAYA); ada yang dari keluarga miskin, tidak mendapat kesempatan bersekolah, tapi dia berjuang dengan berdagang, atau mendirikan usaha yang kemudian maju dan dia menjadi kaya. Kisah-kisah seperti itu menarik untuk beberapa saat dan lenyap ketika dia jatuh bangkrut atau meninggalkan dunia ini. Kisah yang bertahan seketika saja untuk sementara waktu sampai tergantikan dengan kisah sukses yang lain. Dan ketika dia mati, tidak ada orang yang mengingat namanya.
Kisah-kisah yang demikian banyak sekali mengemukakan bahwa untuk menjadi kaya, tidak harus selalu sekolah. Banyak yang putus sekolah tapi juga bisa menjadi kaya. Jadi jelas sebuah kesalahan besar jika anak-anak disekolahkan supaya bisa bekerja untuk menjadi kaya.

Anak-anak yang disekolahkan itu akan menjadi pintar. Dan pintar tidak akan membuat dia kaya. Untuk menjadi kaya, dia harus menggunakan kepintarannya di dalam jalan yang berbeda. Mereka menggunakan seluruh hidupnya bekerja untuk dirinya sendiri dan hanya untuk dirinya sendiri. Ironisnya, mereka tidak kekurangan dalam hidupnya tapi mereka tidak bisa menikmatinya, mereka akan melihat orang lain yang akan menikmati hartanya dan tidak ada yang bisa dia lakukan, sementara dia sendiri bekerja keras dan memikul segala beban yang tidak perlu dan resiko yang tidak semestinya.

Kita juga pasti pernah mendengar kisah orang yang besar, yang agung, yang namanya dimuat dalam sejarah, yang tidak seorang pun dari mereka dinilai dari uang yang mereka hasilkan, mereka adalah orang-orang yang “sukses” dalam wilayah yang hidup. Mereka sukses dalam kehidupan mereka dan dunia mengakui nama mereka sebagai orang yang mulia. Entah karena kebaikan mereka, pengorbanan mereka, keagungan moral dan spiritual mereka ditengah-tengah kesulitan hidup dan berhasil melampaui itu semua untuk kemudian mengarahkan hidup mereka kepada HIDUP dengan kualitas yang diakui seluruh dunia. Mereka yang namanya dikenang oleh sejarah, yang buku biografinya dibaca selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun setelah dia mati.
Mereka adalah orang-orang yang bekerja untuk menghasilkan sesuatu dalam hidupnya bagi orang lain. Mereka yang bekerja dalam kesenangannya, mengerjakan yang dia sukai sesuai dengan bakatnya, makan sedikit ataupun makan banyak, mereka tidur dengan nyenyak dan menikmati hidupnya dan hasil kerjanya.

Sekarang, definisi “sukes” yang mana yang sebenarnya ingin kita capai?
Pendidikan macam apa dan kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani. Apakah kita mau mendidik hidup kita dan mengarahkannya kepada hidup, atau kita mau mengarahkannya kearah yang lain?
Apakah kita mau mengarahkan seluruh hidup kita untuk diri kita sendiri, egoisme pribadi, keinginan diri sendiri; Ataukah kita mau membagikan hidup kita untuk orang lain, menjadi berkat bagi orang lain, atau paling tidak memiliki hidup yang bisa kita nikmati dengan mengerjakan hal-hal yang menjadi bagian kita?
Dengan cara apa kita hendak mendidik generasi dibawah kita, anak-anak kita, anak didik kita?

Saya yakin bahwa jawabannya adalah mengarah kepada hidup.
Saya juga cukup yakin, setelah selesai dengan menjawab, mata kita melihat semua orang di sekeliling kita, kemudian kaki dan tangan kemudian melangkah dan menunjuk ke arah yang lain. Sangat bisa dimengerti, karena sepanjang sejarah, itulah semangat yang dikumandangkan sepanjang sejarah melalui filsafat humanisme, materialisme, dan hedonisme. Karena akar dari segala hal yang berada di dalam dunia ini adalah cinta diri sendiri dan cinta kepada uang.

Kebahagiaan hidup adalah pencernaan yang baik dan tidur yang nyenyak.

Paradoks dalam Pencarian Kebenaran

Sebuah paradoks adalah keberadaan dua pernyataan (terkadang dapat pula berupa kumpulan pernyataan) yang tampaknya benar namun lebih menyerupai kontradiksi atau mengarah pada sebuah situasi yang terlihat sepertinya bertentangan dengan logika ataupun intuisi. Kompleksitas dari sebuah padaroks seringkali disalahartikan dengan kontradiksi, dan penalaran dalam paradoks seringkali disederhanakan sampai hanya tersisa satu situasi dimana salah satu atau semua pernyataan dalam sebuah paradoks itu adalah salah.

Sementara itu, untuk bisa memahami sebuah kebenaran yang sifatnya adalah benar-benar BENAR, maka pengertian di dalam konsep paradoks harus sanggup menjelaskan bahwa kedua pernyataan (atau semua pernyataan) dalam sebuah paradoks tentang kebenaran adalah benar-benar BENAR dan merupakan kesatuan yang utuh dan tidak berkontradiksi antara pernyataan yang satu dengan pernyataan yang lain.­­­­­

Ketika kita berusaha membangun konsep yang benar-benar BENAR, akan bermunculan banyak konsep dan opini. Jika didalam konsep dan opini tersebut terdapat kontradiksi dan perkecualian, maka setiap pernyataan-pernyataan tersebut dengan sendirinya akan bersifat saling melemahkan dan saling menghancurkan keutuhan dari keseluruhan (integrasi dan holistik) konsep yang diajukan. Semakin kompleks konsep yang dipaparkan, semakin banyak pernyataan yang dimunculkan, maka semakin banyak kontradiksi yang akan menimbulkan pertentangan didalam dirinya sendiri yang bersifat menghancurkan (baca: self destruct).
Di sinilah pentingnya pemahaman secara paradoks yang harus mampu menggabungkan semua konsep yang tampaknya bertentangan menjadi sebuah pengertian yang utuh membentuk kerangka yang kokoh.

Sambil lalu, akan saya coba memberikan gambaran singkat mengenai hal tersebut:
Pada dasarnya, kita berusaha mencari kebenaran. Kita mau sesuatu yang benar. Sesuatu yang sejatinya benar. Sebuah kondisi yang benar-benar BENAR. Kita tidak mau yang palsu, atau yang tidak benar-benar BENAR. Kita juga tidak mau yang tidak benar-benar tidak BENAR. Yang paling tidak kita inginkan adalah yang salah, atau dengan kata lain, kondisi yang benar-benar tidak BENAR. Namun terlepas dari keinginan atau idealisme kita, seringkali kita tidak memiliki dasar pengertian yang cukup untuk bisa memahami dan menemukan kondisi yang benar-benar BENAR berikut dengan sifat paradoksnya. Atau dalam era pragmatisme sekarang ini, sebagian kita terlalu malas untuk berusaha mencari kebenaran yang sejati. Seperti yang dilakukan beberapa orang yang akan langsung berhenti membaca tulisan ini dan tidak tergelitik rasa keingintahuan mereka ketika dihadapkan pada pemikiran yang rumit.

Kebenaran yang sejati tidak akan pernah lepas dari paradoks. Semua kebenaran yang benar-benar BENAR selalu akan berbentuk paradoks. Karena didalam paradoks akan ditemukan keadaan yang saling seimbang didalam pemikiran dan konsep yang seakan bertentangan, namun tidak saling menghancurkan.

“The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposed ideas in the mind at the same time, and still retain the ability to function.” – F. Scott Fitzgerald

Terjemahan: Ujian bagi kecerdasan kelas atas adalah kesanggupan untuk memfasilitasi dan memikirkan dua ide yang bertentangan dalam satu waktu, dan tetap memiliki kesanggupan untuk membentuk pengertian yang utuh.

Ketika seseorang melanjutkan perenungan dan pemikiran analitik dalam kondisi yang sulit, yang lainnya menyerah dalam pragmatisme dan berbalik arah. Mereka akan mencari jawaban mudah berupa YA atau TIDAK, BENAR atau SALAH, namun tidak akan pernah memahami alasan dan pemikiran yang melandasi jawabannya. Mereka hanya menjadi budak dari pemikiran orang lain yang tidak tentu merupakan kebenaran sejati. Adalah sebuah kebohongan belaka ketika mereka berkata dan berupaya meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka tidak suka dibohongi dan mencari kebenaran. Mereka dengan buta mempercayai sesuatu dalam fanatisme kosong.

Saya akan menjelaskan sedikit tentang runutan proses pembentukan pengertian dan pengetahuan, sebelum menyinggung dimana letak paradoks sesungguhnya didalam pemikiran.

Paradoks akan dapat kita temukan dimana-mana disekeliling kita. Kebenaran yang benar-benar BENAR ditanamkan didalam dunia sekeliling kita supaya melalui semua yang kita lihat dan alami, kita mau tidak mau harus mengakui bahwa ada yang benar-benar BENAR, setengah BENAR, dan yang tidak BENAR. Memang tidak semua dari kita sanggup membongkar penjelasan secara tuntas, namun kita tahu realita itu; dibuktikan dengan tekad yang ada dalam diri setiap orang yang katanya tidak suka dibohongi dan lebih suka segala sesuatu yang BENAR.

Kebenaran itu terbentang mulai dari semua yang bisa kita pikirkan dalam dunia ilmu pengetahuan (yang dulunya juga tidak kita ketahui, namun sekarang kita ketahui, beberapa hingga tuntas, sementara sebagian lain belum tuntas) yang sifatnya fisik dan natural. Ilmu pengetahuan ini merupakan ilmu yang kita pelajari terhadap alam dalam fisika, fisika teoretis, biologi, quantum teknologi, faal, dan seterusnya.
Terus berlanjut pada dunia pemikiran yang berkesetaraan dengan dunia fisik, yaitu alam rasio dan logika; kita mengenal pemikiran-pemikiran yang masuk akal kita secara umum dalam dasar ilmu pengetahuan, yang kita sebut sebagai rasionalitas. Kita mempelajari hubungan kita berelasi dengan sesama, dengan alam sekitar, dalam pengertian yang bersifat keilmuan bidang ekonomi, manajemen, psikologi, psikiatri, filosofi, dan seterusnya.
Kemudian kita berlanjut pada dunia yang melampaui dunia fisik, dalam dunia yang hampir tidak terpahami secara natural, logika, atau rasional sekalipun. Dunia modern sejak abad pencerahan tidak menganggap bagian ini sebagai ilmu, melainkan sebagai dunia yang tidak logis, tidak rasional, dan tidak ilmiah. Mereka menganggap bidang ini merupakan bidang angan-angan dan tidak bisa dibuktikan. Namun sebagai bagian dari orang yang menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kita di luar sana, kita sangat mengerti pentingnya bagian pemikiran ini dalam prinsip dan keutuhan pemikiran kita didalam kaitannya dengan mencari kebenaran. Ini adalah dunia suprarasional dalam alam supranatural, yang berusaha dijelaskan oleh metafisika, filsafat ontology, epistemology, dan seterusnya. Dan ini adalah wilayah dimana ideologi berada.

Segera setelah ilmu filsafat menyentuh batasan dinding yang tidak kelihatan antara yang “sanggup diketahui” dengan “yang tidak mudah dipahami” hingga pada “yang tidak mungkin diketahui” yang menjadi area abu-abu antara filsafat dan agama, tiba-tiba saja peran logika menjadi sedemikian kecil dan orang-orang yang katanya rasional mengatakan bahwa religi adalah upaya pelarian manusia dari usaha-usaha mencari jawaban yang “masuk akal”.

Mari kita simak sejenak contoh kasus berikut:
Kenapa es batu mengapung, padahal dia padat dan memuai (anomali air), dan es pun sejatinya berasal dari air. Orang-orang ilmiah akan mulai berbicara tentang berat jenis, hukum perkecualian air, penampang atau tegangan permukaan air, dan seterusnya. Banyak orang akan dengan mudah setuju, menganggap itu sebagai penjelasan dan kebenaran. Sesuatu yang benar-benar BENAR.
Namun ketika religi menyodorkan jawabannya, bahwa Tuhan menciptakan makhluk dalam air, jika es tenggelam, banyak makhluk air akan mati. Kalau air membeku mulai dari bawah, dan terus membeku, kemana makhluk air bisa lari, bagaimana tumbuhan dalam air bisa hidup, bagaimana ekosistem air bisa terjaga. Jawaban itu dianggap sebagai kebodohan bagi dunia sains. Tiba-tiba saja, jawaban itu dinyatakan tidak sah dan tidak dapat diterima, walaupun memiliki kerangka pemikiran yang tidak dapat disanggah oleh orang-orang yang katanya rasional.

Filsafat itu sendiri, sebagai bidang yang mempelajari dan mempertanyakan segala sesuatu, terbentang dari dunia (realm) yang nyata, kepada yang bisa diketahui, kemudian hingga konsep abstrak, sampai pada hal yang mungkin dapat diketahui, dan berhenti pada yang tidak mungkin diketahui, dimana beberapa jawaban tampaknya lebih memiliki basis rasional yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban yang lain yang lebih seperti tebakan-tebakan yang sifatnya untung-untungan.

Bagi mereka yang memiliki wawasan memadai dan mendalam mengenai beberapa ideologi religius (baca: iman), mereka memiliki kesanggupan untuk menarik area filsafat sedikit lebih jauh kedalam batasan hal yang tidak mungkin diketahui dengan keyakinan (baca: iman) yang mereka miliki, sebelum semuanya menjadi sama sekali gelap. Tentunya, seperti halnya ilmu pengetahuan dan filsafat, ada iman yang memiliki sistematika lebih baik dibandingkan dengan iman yang lain.

Permasalahan terbesar dengan iman adalah sedemikian: untuk agar iman memiliki kekuatan dan integritas yang cukup untuk menjelaskan segala sesuatu yang melampaui natur dan ilmu pengetahuan, serta menjawab segala hal yang dipertanyakan oleh filsafat, maka iman itu sendiri harus memiliki dukungan dari pengertian dan konsep yang jelas dan sistematis. Bukan fanatisme kosong belaka. Fanatisme tidak mampu menjawab apapun dalam bidang apapun, jika fanatisme tidak mengarah dan tidak didasari oleh pengertian yang cukup. Celakanya, para fanatik seringkali buta dan tuli.

“A fanatic is one who can’t change his mind and won’t change the subject.” – Winston Churchill

Terjemahan: Seorang fanatik adalah orang yang tidak bisa merubah pikirannya dan tidak mau merubah topik subjek pembicaraannya.

Demikian kita sudah membahas tentang runutan pengertian, rasionalitas, dan logika. Mengenai paradoks, semakin kita mendekati kepada hal yang tidak bisa kita mengerti secara tuntas, semakin paradoks akan membantu kita mendekati pada kebenaran yang sifatnya benar-benar BENAR. Semakin jauh kita melangkah, semakin rumit paradoks yang ada dan semakin sulit untuk menyelesaikan paradoks yang muncul untuk bisa kita mengerti dalam pemikiran kita.

Sebagai gambaran:
Di alam yang bisa kita lihat, ilmu pengetahuan alam, kita melihat cahaya warna putih. Benarkah cahaya itu berwarna putih? Benarkah sinar matahari itu putih? Ataukah warna putih itu sebenarnya tidak ada, melainkan adalah spektrum dari jutaan warna yang terbaur dan menimbulkan sinar yang putih. Jadi, apakah warna sinar matahari? Putih atau jutaan warna yang namanya pun tidak sanggup disebutkan. Jawabannya adalah sinar matahari berwarna putih DAN jutaan warna. Itulah paradoks. Warna sinar matahari bukan putih. Warna sinar matahari bukan jutaan warna.

Contoh lain lagi:
Demikian pula dalam simbol “tak terhingga” (infinity symbol). Apakah di dunia ini yang tidak terhingga? Mengapa kita bersikeras meletakkan simbol tersebut didalam ilmu pengetahuan kita? Tidak ada di dunia yang kita tinggali ini yang bahkan secara konsep bisa dikatakan tidak terhingga. Nilai yang terbesar pun memiliki nilai, memiliki ukuran yang tidak bisa dikatakan “tidak terhingga”. Ini adalah konsep paradoks, ketika kita mencoba menghubungkan antara dunia kita yang bersifat terbatas, dengan sesuatu yang sifatnya tidak terbatas.

Penjelasan yang menarik dari buku Kristen adalah bahwa satu-satunya didunia ini yang bersifat tidak terhingga adalah manusia. Paradoks lain lagi dalam alam ini. Sementara semua disekitar manusia dalam alam semesta bersifat terhingga, jiwa manusia memiliki sifat yang tidak terhingga. Sehingga manusia itu sendiri pada dasarnya adalah paradoks. Manusia terbatas usianya DAN manusia memiliki unsur kekekalan.

Didalam area pemikiran kita, mulai dari yang bisa diketahui hingga yang tidak mungkin diketahui, paradoks-paradoks kecil tersebar berupa kebenaran-kebenaran yang benar-benar BENAR didalam ilmu pengetahuan, filsafat, dan religi, dan seterusnya. Dan ketika kita tidak berhasil memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, maka petualangan kita mencari kebenaran yang lebih agung dari tempat yang rendah (yaitu alam) ke yang lebih tinggi (yaitu ideologi dan iman) akan menjadi sesat dan menyimpang.

Area abu-abu antara yang “mungkin bisa diketahui” dengan yang “hanya bisa diketahui melalui iman/keyakinan” itu terdapat paradoks yang sifatnya ultimat. Paradoks terbesar itulah yang menjadi pintu masuk kepada pengertian yang benar-benar BENAR. Ketika seseorang gagal dan menyimpang dari paradoks terbesar ini, dia akan membuahkan pemikiran-pemikiran dan tebakan-tebakan yang keliru dalam menginterpretasikan kebenaran yang benar-benar BENAR (kebenaran yang sejati), berikut dengan semua “paradoks kecil”-nya.

Kita mengenal ada pemikir-pemikir besar sepanjang sejarah yang berhasil mengikuti jejak-jejak paradoks-paradoks kecil, namun tidak menemukan paradoks ultimat. Mengakibatkan dia tidak tuntas pada pendefinisian dan pengertian didalam pencariannya untuk memahami kebenaran sejati.

Ada pemikir-pemikir besar lain lagi yang sanggup memahami paradoks ultimat ini, dia menemukan kebenaran yang benar-benar BENAR, dan melalui pemahaman tersebut, dia sanggup menemukan dan membongkar sebagian paradoks-paradoks kecil yang tersebar dalam alam semesta.
Walaupun tidak bisa tuntas memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, karena alam yang terbatas ini pun sedemikian luas dan besar sehingga tidak dimungkinkan untuk dipahami secara tuntas. Hal inilah yang memicu dan kemudian mengakibatkan munculnya simbol “tak terhingga” ditengah-tengah realm yang seharusnya “terhingga”. Sebuah pengertian akan adanya sesuatu yang tidak berbatas ditengah-tengah keterbatasan realm yang kita tinggali ini. Sebuah fenomena tentang “kekekalan” yang tampak nyata namun tidak tersentuh. Sebuah realm yang ditengarai sebagai sebuah eksistensi, namun tidak merupakan sebuah eksistensi: itulah paradoks yang lain lagi.

Didalam banyak hal, paradoks adalah satu-satunya cara untuk memahami kompleksitas alur berpikir, sudut pandang, dan aspek-aspek penting dari berbagai macam pikiran-pikiran. Namun, perlu dipahami bahwa ketika sebuah paradoks “mampu dimengerti” tidak berarti bahwa paradoks itu “mampu diterima”.

Sekali lagi, buku orang Kristen membukakan kepada kita bahwa paradoks ultimat yang sudah diterima hanya mampu untuk dimengerti ketika seseorang mau tunduk mutlak dibawah penerimaan akan sesuatu yang tidak dia mengerti. Jadi, manakah yang terlebih dahulu muncul, pengertian atau penerimaan? Orang harus menerima dulu baru sanggup mengerti, atau harus mengerti  dulu baru bisa menerima? Sebuah paradoks yang harus disimpulkan masing-masing orang.

Seperti dalam hal pembelajaran. Bagaimana seseorang mampu belajar? Pertama-tama dia harus terlebih dahulu percaya bahwa guru yang mengajar dia adalah benar. Tapi dari mana dia bisa tahu bahwa guru itu benar jika dia belum belajar apapun juga? Jika dia sudah belajar dan sudah merasa tahu atau lebih tahu dari gurunya, buat apa lagi dia mau belajar, karena tidak ada yang dapat ia pelajari kalau ia sudah tahu.

Kembali pada kasus ”pengertian dan penerimaan” diatas. Jika seseorang belum mengerti, bagaimana ia bisa menerima dan percaya akan kebenaran suatu paradoks. Jika seseorang tidak mau menerima sebuah paradoks, bagaimana ia bisa mempelajari hingga mencapai pengertian. Pertanyaan ini sudah saya jawab diatas.