Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kesadaran Moral

Saya yakin kita semua pernah berada dalam suatu dilema moral, yang satu lebih kompleks dan berat dibanding yang lain. Ketika kita melihat suami dari sahabat kita berselingkuh, apakah yang akan kita lakukan? Berdiam diri atau menegur atau menyampaikan hal tersebut? Jika kita sampaikan, akan terjadi kerusakan parah dalam keluarga mereka, mungkin anak-anak mereka akan dibesarkan dalam keluarga yang hancur. Jika tidak kita sampaikan, hal itu mungkin akan berlanjut dan menjadi lebih parah.
Atau ketika seseorang sedang dalam antrian dalam ruang praktek dokter, ada seseorang yang anak kecil dan tampaknya jauh lebih kesakitan daripada kita, baru datang dan mengantri sesudah kita. Kita yang sudah mengantri lebih dari satu jam, yang juga sedang migren, demam dan nyeri dengan bisul di bibir ; apakah kita akan membiarkan anak itu masuk terlebih dahulu padahal dia baru saja datang?
Atau ketika kita memiliki posisi sebagai pejabat pemerintah, seseorang datang memohon persetujuan dan pengesahan dari dokumen dan perjanjian kontrak; datang dengan membawa uang suap. Semua orang di kantor kita memiliki budaya dan kebiasaan yang sama. Semua orang tau bahwa suap itu adalah etika yang rusak, tapi semua orang melakukannya. Jadi akan kita terima kah uang suap itu? Jika kita tolak, kita menjadi orang yang sok suci, dikucilkan karena tidak sejalan dengan semua orang dalam kantor kita. Jika kita terima, hati nurani kita menegur kita bersalah.
Atau ketika kita melihat handphone yang tergeletak di kamar mandi pusat perbelanjaan, tanpa pemiliknya. Akankah kita ambil? Atau kita biarkan? Atau kita bawa pulang? Atau kita serahkan kepada pihak managemen atau pihak keamanan gedung? Tidak akan ada seorangpun yang menyalahkan kita kalau kita bawa pulang dan kita jual, karena tidak ada yang tahu. Tidak ada siapapun yang akan menegur kita selain daripada diri kita sendiri dan hati nurani kita.

Ada banyak dilema moral yang terjadi di sekitar kita, dimana kita dituntut untuk mengambil sebuah posisi didalamnya. Seperti pepatah yang berbunyi, “Bagaikan buah simalakama, dimakan: bapak mati, tidak dimakan: ibu mati.” Semakin kita memiliki pengertian moralitas dan pengetahuan norma kebaikan dan kebenaran, semakin banyak kita akan menempatkan diri kita dalam dilema moral.

Moralitas dan Perasaan Bersalah

Dari manakah munculnya kesadaran moral? Secara sangat singkat, dari didikan budaya dan agama. Saya yakin kita semua akan setuju jika saya katakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Saya yakin sebagian kita akan setuju jika saya katakan bahwa kesadaran moral adalah sama seperti kesadaran tentang keberadaan Tuhan, yang ada sejak manusia dilahirkan. Namun bersamaan dengan kesadaran moral tersebut, ada hal dalam diri kita yang ada sejak lahir, namun tidak kita sadari, yaitu amoralitas.

Saya mengasumsikan kita semua pernah mendengar kalimat bahwa, “manusia itu pada dasarnya baik. Manusia dilahirkan seperti lembaran kertas putih polos. Masyarakatlah yang membuat manusia menjadi rusak dengan pengaruh negatif.”

Saya pribadi tidak setuju dengan kalimat itu. Siapakah masyarakat? Masyarakat adalah kumpulan manusia. Jika kumpulan manusia semua berasal dari kertas putih polos, darimana datangnya ketidakbaikan?
Ingatkan kita ketika kita pertama kali mencuri? Ingatkah betapa kita sangat ketakutan ketika itu? Atau ingatkan kita ketika kita pertama kali berbohong?

Kita tahu bahwa kita bersalah. Hati nurani menegur kita, dan hidup kita menjadi tidak tenang karenanya. Dalam perkembangan kita, kita mulai mengenal kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, keadilan dan kelaliman, dan seterusnya; berikut dengan segala kompleksitas dan dilema didalamnya.

Kita mengenal dan belajar tentang semua itu dari mereka-mereka yang memiliki kepekaan terhadap teguran hati nurani mereka, mereka-mereka yang menjaga moralitas mereka, dan kita menganggap mereka itu sebagai orang-orang saleh. Dan kita mengenal mereka semua sebagai pengajar moral, pemuka agama, pemimpin agama, dan seterusnya.

Pernahkah kita sadari bahwa justru dari pengetahuan akan moralitas tersebut membangkitkan kesadaran kebersalahan? Perasaan bersalah itu muncul karena kita mengerti hal yang baik dan hal buruk. Ketika kita tidak  mengerti akan perbedaan benar dan salah, tidak ada dalam diri kita yang menegur.

Konsep Dosa

Saya yakin kita semua setuju bahwa sebagai orang yang beragama, kita semua mengenal konsep dosa. Bahkan orang yang tidak beragama pun harus mengakui suatu perasaan bersalah yang timbul dalam diri seseorang, termasuk didalamnya adalah perasaan menyesal. Setiap orang yang tidak memiliki perasaan bersalah atau penyesalan dikategorikan kedalam orang yang memiliki gangguan kejiwaan yang parah atau psychopathy.

Sesungguhnya, agama tidak pernah membawa kita kepada kebenaran. Agama membawa kita kepada konsep pengertian bahwa ada kebenaran dan kebaikan. Melalui pengertian tersebut, kita dibawa pada pengetahuan akan yang baik dan yang jahat. Semakin kita mengenali dan mendalami perihal kebaikan, semakin kita mengetahui bahwa kita ini adalah orang yang memiliki banyak kesalahan.

Ketika kita berbuat baik, menolong orang, memberikan kepada seorang pengemis bantuan berupa uang, kita merasa sudah baik. Kita berbuat baik. Kita adalah orang baik. Kita menolong orang lain.

Pernahkah kita memikirkan lebih jauh, apakah perbuatan kita menolong pengemis itu akan berakibat baik bagi dia atau malah menjerumuskan dia? Apakah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengemis tersebut? Apakah uang? Ataukah pekerjaan? Ataukah kesempatan? Apakah uang yang kita berikan dia gunakan untuk membeli makanan atau malah membeli rokok yang malah tidak menyehatkan?

Saya sekali lagi yakin, bahwa pertanyaan-pertanyaan barusan seharusnya menggugah sebagian kita dan menyadarkan kita. Tapi kita merasionalisasikan perasaan tanggung jawab moral dan kesadaran moral itu dengan alasan-alasan seperti berikut: yang penting kita sudah berniat baik. Yang penting adalah niatnya. Masalah pengemis itu mau terus menjadi pengemis, atau uang itu mau dipakai untuk beli makanan, atau beli rokok, atau beli pisau untuk menodong orang, atau dipakai untuk menyekolahkan anaknya, kita tidak tahu. Tepatnya, kita tidak cukup perduli.

Dengan kata lain, kita tidak bisa dipersalahkan ketika kita tidak tau.

Hal itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Pengertian itu seharusnya membangkitkan suatu perasaan bersalah yang lain. Yaitu seberapa jauh pun kita mau berbuat baik, kita tidak bisa berbuat baik. Kita tidak bisa secara tuntas berbuat kebaikan yang dapat membenarkan diri kita atau membuat diri kita dibenarkan. Karena kita tidak tahu, hal itu cukup untuk menenangkan hati nurani kita dan menjauhkan kita dari perasaan bersalah.

Agama dan kebenarannya hanyalah membuktikan bahwa diri kita ternyata tidak mampu melakukan kebaikan. Dan melakukan satu kesalahan dari satu larangan dalam agama berarti telah melanggar semua hukum. Agama tidak menyelamatkan. Perbuatan baik tidak membuat kita dibenarkan. Saya yakin kita semua bisa menyetujui kalimat berikut, apakah semua orang dalam penjara adalah orang yang tidak beragama? Tidak. Pasti ada banyak orang yang berada dalam penjara yang adalah orang yang taat beragama. Apakah koruptor adalah orang yang tidak taat beragama? Jika mereka beragama, mengapa mereka tetap korupsi?

Akan tetapi melalui jalan agama, seseorang diberi tahu bahwa dia bersalah, dia berdosa. Dan sebagian besar agama menawarkan penyelesaian, yaitu melalui perbuatan baik. Namun hal tersebut menimbulkan permasalahan yang lain lagi yang sudah kita bahas, yaitu kesadaran bahwa tidak ada perbuatan baik kita yang benar-benar tuntas merupakan kebaikan yang dapat dibanggakan dan dijadikan pengganti perbuatan dosa kita dan menenangkan perasaan bersalah kita.

Masalahnya utamanya adalah kita tidak bisa tidak melakukan kesalahan. Kita berusaha melakukan penebusan kesalahan kita dalam setiap upacara besar keagamaan. Setiap kali. Dan setiap kali kita melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada jalan keluar melalui agama, karena perbuatan amal kita tidak bisa menyelamatkan kita.
Berusaha menyelamatkan diri melalui perbuatan amal adalah seperti melanggar lampu merah. Kita keluar rumah, hendak menuju ke rumah kekasih kita, di jalan ada sepuluh lampu merah. Setelah melalui 9 lampu merah, kita sadar bahwa kita sudah terlambat. Maka di lampu merah ke-10, kita serobot dan langgar. Kemudian kita dihentikan oleh polisi dan di tilang. Kita tidak bisa berargumen kepada polisi itu, “Bapak tidak boleh menilang saya. Saya sudah melewati 9 lampu merah dengan tertib, masa baru 1 lampu merah yang saya langgar, sudah ditilang?”
Kita tidak bisa juga berargumen kepada seorang hakim, “Sudah 39 tahun saya hidup sebagai warga negara Indonesia, tidak pernah saya berurusan dengan hamba hukum, masakan baru satu kali ini saya mencuri karena anak saya sakit keras dan hampir mati, saya akan langsung masuk penjara?”

Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan. Dan agama memperjelas hal itu. Melalui agama kita mengenal semua baik dan jahat. Dan semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak kita sadar bahwa semakin banyak yang kita perbuat ternyata tidak baik.

Jika kita bisa dianggap baik hanya dengan mempercayai suatu agama tertentu tanpa perlu hidup bertanggung jawab dan suci, apa gunanya kita hidup bersusah payah berusaha mengejar kesalehan? Apa gunanya kesadaran kita akan moralitas? Jika demikian halnya, apakah gunanya beragama? Dan disini jawaban yang saya temukan yang selalu saja diucapkan orang: Ada begitu banyak agama di luar sana. Apakah semua agama itu sama saja dan berakhir dengan kebuntuan dan dilema sedemikian?

Perspektif Tentang Problema Manusia dan Ekstensinya

Sebagian dari kita, kadang kala atau bahkan seringkali, terbentur pada pemikiran-pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai hal-hal yang terjadi dalam dunia kita. Mulai dari kesadaran akan pemanasan global (global warming), bencana alam, kerusakan dan pengrusakan alam, kepunahan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan, perubahan ekosistem dan biosphere, ketidakperdulian manusia terhadap banyak hal, perbuatan-perbuatan manusia terhadap alam dan sesamanya yang semakin pragmatis, dan seterusnya, dan sebagainya.

Namun sebagian dari kita sama sekali tidak pernah memikirkan apapun. Sebagian dari kita hanya memikirkan semua yang bersinggungan langsung dengan kita. Tentu saja, karena sebagian dari kita hanya selalu sibuk memikirkan diri kita sendiri.

“Tragedy is when I cut my finger; comedy is when you step on a banana peel, fall into an open sewer and die” – Mel Brooks

Tragedi adalah ketika jariku tergores; komedi adalah ketika kamu terpeleset kulit pisang, jatuh kedalam selokan dan mati. – Mel Brooks

Tidakkah terkadang –atau bahkan sering kali– kita terheran-heran dengan manusia dan perilakunya. Keputusan-keputusan yang diambilnya. Tindakan-tindakan yang dikerjakannya. Kita diterpa dengan berbagai macam hal setiap hari, terutama dalam era digital dan globalisasi informasi ini, menjadikan kita terbiasa dan dengan mudah menjadi tidak perduli dengan banyak hal yang begitu membombardir pemikiran kita. Setelah aliran filsafat pre-modern pada jaman revolusi industri, memasuki masa modern setelah dua kali perang dunia, dan masa post-modern sekarang ini, menjadikan manusia yang dulunya mencari kebenaran secara konsep, kemudian dengan ilmu pengetahuan, sekarang menjadi manusia-manusia yang lebih terfokus pada keuntungan praktis, dan tidak mau berpikir banyak serta pragmatis.

Banyak hal yang dulu dianggap salah, sekarang diterima, dan menjadi arus besar. Banyak hal yang dulu dianggap tidak bernilai, sekarang menjadi hal yang dicari orang. Dunia telah bergeser sedemikian banyak dan mengakibatkan banyak orang kehilangan arah tentang apa yang baik, yang benar dan yang bernilai.

Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) menjadi isu yang dipaksakan untuk harus diakui dan diterima. Desakan yang membuat banyak orang kebingungan ditengah arus besar ini. Keberagamaan menjadi isu yang tidak kalah sengitnya, ditengah-tengah upaya untuk memahami bahwa seharusnya agama membawa manusia kepada kedamaian dan ketenangan, memberikan harmoni dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam, ternyata mengakibatkan pembunuhan dan memporakporandakan dunia. Dan seringkali terlihat bahwa orang yang tidak beragama seringkali lebih baik dari mereka yang menyebut dirinya beragama, namun paling berani berbuat jahat. Manusia juga dihadapkan pada kenyataan bahwa alam sudah semakin berubah dan menjadi tidak nyaman dengan polusi, pencemaran, perubahan cuaca, kerusakan alam, kepunahan hewan dan tumbuhan, dan alam menjadi musuh manusia dengan bencana alam dan berbagai fenomena yang bahkan dulu tidak banyak terjadi.

Manusia menjadi pesimis, terombang-ambing, kehilangan pegangan, tersesat dalam kebingungan dan ketidakmengertian. Sebagian yang berusaha berjuang memperbaiki alam, dihadapkan pada ketidakperdulian banyak orang dan pihak otoritas. Sebagian yang berusaha membangkitkan kesadaran akan kebaikan dan kebenaran menjadi musuh banyak orang. Sebagian yang berusaha mempertahankan integritas, dipertentangkan dengan keegoisan mayoritas manusia yang lain.

Manusia mulai mempertanyakan, apakah kebenaran dan kebaikan itu?

Dan lebih jahat lagi, manusia mempertanyakan dimanakah Tuhan?

Dan inilah jawabannya, yang saya temukan dalam buku orang Kristen dan tidak saya temukan dalam pemikiran manapun. Tuhan tidak berada dimana-mana, karena Dia ada dimana-mana. Kita manusia yang berdosa yang sudah menghilang dari Tuhan. Kita tidak memperdulikan Dia. Kita sudah berdosa dan melawan Dia. Kita merusak diri kita sendiri dan sesama kita, serta semua yang kita sentuh, dan setelah semua rusak, kita bertanya dimana Tuhan. Itulah yang saya sebut dengan ‘JAHAT’.

Manusia adalah ciptaan Tuhan, dalam kita berlaku hukum pencipta dan ciptaan.

Jika kita tidak mengakui bahwa kita adalah ciptaan Tuhan, maka tidak ada jawaban untuk semua yang mau kita bahas sekarang. Karena jika dunia ini adalah berasal dari -misalnya- Big-Bang dan kita adalah makhluk -misalnya- hasil evolusi yang karena anomali, terjadi secara tiba-tiba dan kebetulan, maka kita tidak memiliki tujuan ultimat dan tidak memiliki nilai apapun. Bagaimana sesuatu yang terjadi secara kebetulan bisa memiliki nilai apapun, apalagi nilai yang tinggi.

Tidakkah segala sesuatu yang terjadi kebetulan tidak memiliki nilai dan tidak memiliki tujuan dan tidak memiliki dasar logika yang sah sebagai sesuatu ‘yang bisa diketahui’ (berdasar pada prinsip ‘ILMU PENGETAHUAN’ yang bisa diketahui, maka sesuatu itu harus bisa diuji coba, berulang kali, dan konsisten. “KEBETULAN” tidak memiliki semua hal itu. Evolusi dan Big Bang teori tidak memiliki ciri ilmu pengetahuan yang sah, namun dipercaya secara buta dan diakui kebenarannya secara keyakinan –baca: iman– yang semu.)

Kita lanjutkan: Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut rencana Sang Pencipta berdasar bentuk dan rupa dan kehendak pencipta yang mulia, maka manusia menjadi satu-satunya makhluk yang bisa berpikir karena manusia memiliki bahasa dan berakal budi (buktinya: cobalah berpikir dan merenungkan sesuatu TANPA MENGGUNAKAN BAHASA, -tidak usah dicoba karena tidak akan bisa-).

“Manusia tahu bahwa ada yang baik dan ada yang benar. Tapi manusia kebingungan membedakan mana yang adalah mana.”

Manusia yang dicipta dengan sangat baik adanya, namun yang sekarang telah kehilangan kemuliaan yang sejatinya ada pada kita karena sebenarnya kita diciptakan seturut dengan peta dan teladan Tuhan. Manusia menjadi musuh Tuhan dan sudah melawan Tuhan dan terhilang. Jangan kita mempertanyakan dimana TUHAN. Kita yang telah lari dari Dia. Dan sejak hari ketika manusia mulai berdosa, manusia tidak pernah mencari Dia. Kita hanya selalu merasa bahwa kita mencari Tuhan. Tapi Tuhan yang sejati tidak bisa ditemukan oleh kita yang berdosa. Tidak ada yang mencari Tuhan, tidak ada seorangpun yang baik, dan tidak seorangpun mencari Tuhan.

Saat bolpen kita hilang, atau baju kita hilang, atau kunci kendaraan kita hilang, atau adik atau anak kita hilang, siapa yang mencari siapa? Yang hilang tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Yang tahu bahwa sesuatu itu hilang adalah ketika sang pemilik atau yang ‘lebih tinggi’ menyadari bahwa sesuatu itu hilang.

Bolpen atau baju atau kunci kendaraan tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Adik atau anak kita baru merasa hilang ketika dia menoleh kesana dan kemari dan tidak menemukan kita. Selama dia tidak mengacu dan kembali memikirkan tentang kita, dia tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Bahkan setelah dia merasa hilang, siapa yang lebih mungkin menemukan siapa? Bisakah kita membandingkan diri kita dihadapan pencipta kita seperti anak berusia 3 tahun dengan ibunya? Tidak bisa! Kebijaksanaan ibu tidak bisa dibandingkan dengan kebijaksanaan Tuhan. Dan dihadapan Tuhan, kita yang diciptakan dari debu dan tanah, jauh lebih tolol daripada anak usia 3 tahun. Kita lebih mirip bolpen atau baju atau kunci kendaraan. Bahkan bolpen atau baju atau kunci kendaraan lebih bermakna dan berfungsi daripada kita yang seringkali tidak tau mengapa kita ada dalam dunia dan kenapa kita diciptakan dan untuk apa kita dilahirkan dalam dunia ini. Bolpen, baju dan kunci kendaraan memiliki ‘makna hidup’ yang sangat jelas. Kita manusia seringkali tidak jelas mau berbuat apa dengan kehidupan kita.

Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang mencari manusia. Karena manusia berdosa tidak bisa mencari Tuhan dan menemukan Tuhan.

Manusia dalam keberdosaannya, tetap bisa mengetahui bahwa ada yang benar, dan ada yang salah. Ada yang baik dan ada yang jahat. Ada yang terang, dan ada yang gelap.
Akan tetapi, manusia dalam keberdosaannya tidak tahu apa yang mana. Mana yang baik, mana yang jahat. Dan manusia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Manusia menyukai apa yang dia sukai, manusia menginginkan apa yang dia mau, manusia mengerjakan apa yang menurut dia baik (dan dia merasa baik); namun semua yang dipilih lebih banyak yang salah daripada yang benar. Manusia mencintai, karena merasa cinta itu baik, kemudian mencintai kejahatan dan kesesatan dan kekerasan. Tanpa perspektif yang benar-benar benar, dan pengertian yang sejati, akan ada banyak hal yang dikerjakan manusia yang salah total.

Karena itulah, manusia terus terombang ambing dalam kebingungan, kenapa ada manusia yang tertarik dengan sesama jenis, kenapa ada manusia yang ingin menjadi lawan jenis, kenapa ada manusia yang dengan tidak perduli dan merusak alam, kenapa ada manusia yang tidak perduli menyakiti semua manusia yang lain, kenapa ada manusia yang membenci mereka yang tidak sama dengannya, kenapa ada manusia yang tidak memikirkan dampak dari perbuatannya sekarang yang memiliki potensi untuk merusak hidupnya dimasa depan. Kenapa dan kenapa dan kenapa. Dan kenapa Tuhan tidak campur tangan.

Tuhan tidak punya kewajiban untuk campur tangan.
Bahkan manusia saja tidak merasa perlu campur tangan terhadap barang yang kita ciptakan atau kita miliki. Kita memakai semua yang kita rasa adalah punya kita dengan sesuka hati kita. Itu adalah kuasa yang diberikan kepada kita untuk berbuat sesuka hati kita. Giliran hal buruk terjadi pada kita, mengapa kita menuntut Tuhan untuk melakukan sesuatu buat kita?
Kita bahkan tidak perduli pada Dia dalam seluruh bagian kehidupan kita yang lain, kenapa giliran kita susah, kita marah-marah kepada Tuhan? Tidakkah itu kejahatan dan kekurangajaran bahkan ketika hal sedemikian kita lakukan kepada orang tua atau pasangan hidup kita.

Tundukkanlah hidup kita pada Tuhan yang sejati, pada kebenaran yang sejati, supaya kita memperoleh kebijaksanaan untuk membedakan mana yang baik, mana yang benar, dan mana yang bernilai.

Dengan pengertian akan perspektif yang benar terhadap posisi kita didalam alam semesta ini, seharusnyalah pikiran kita menjadi lebih terbuka dalam perjalanan dan upaya kita mencari kebenaran yang sejati dan penjelasan terhadap berbagai aliran filsafat dan fenomena dan gelombang gerakan-gerakan yang terjadi disekeliling kita dan mengacaukan hidup kita.

Tanpa kebenaran yang menguasai hidup kita, tanpa kita menjadi murid kebenaran dan tunduk mutlak pada kebenaran yang sejati, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk merubah hidup kita. Dengan berada dalam kebenaran, dengan memiliki pengertian dan perspektif yang benar, kiranya kita boleh menjadi manusia-manusia yang lebih baik dan membawa orang-orang disekitar kita menjadi lebih baik. Menjadi berkat buat semua orang disekitar kita, tanpa kecuali, dan menjadikan dunia ini menjadi lebih baik.

Dunia Perlu Orang Bijak ― Bukan Orang Pintar

Menurut Anda, apakah atau siapakah yang disebut pintar?
Apakah guru itu pintar? Seseorang yang juara kelas, apakah dia pintar? Apakah orang tua itu pintar?

Guru disebut pintar karena dia lebih dahulu tahu daripada saya. Segera setelah saya belajar lebih banyak, dengan pengetahuan yang lebih dari pada dia, saya tahu bahwa saya akan jadi lebih pintar.

Seorang anak yang juara kelas, bagaimana caranya dia bisa menjadi juara kelas? Dengan menghafalkan semua data dalam buku dan menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam kertas ujian dengan jawaban yang tepat. Menghafal jawaban, mengerti pertanyaan, apakah itu pintar? Apakah benar, bahwa menjadi juara kelas itu adalah indikasi mutlak bahwa seseorang itu pintar?

Orang tua disebut pintar karena dia lebih dahulu mendidik anak-anaknya dan memberikan prinsip-prinsip yang sebelumnya telah dia terima dari orang tuanya, dia tidak bisa mengajarkan kepada anaknya hal yang berbeda daripada yang dia terima; dia tidak bisa mendidik dengan cara yang dia tidak ketahui.

Jadi berdasar pengertian di atas, seseorang boleh disebut pintar jika dan hanya jika dia dinilai sebatas bidang atau bagian yang dia tahu. Hal ini berlaku dalam segala kepintaran yang lainnya pula.
Sementara itu, dunia psikologi telah mengakui bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada orang yang pintar di bidang bahasa, ada orang yang pintar di bidang sosial, ada yang pintar di bidang matematika.
Mereka yang pintar di bidang bahasa, tidak berarti lebih rendah dibanding yang pintar di bidang sosial, dan yang pintar di bidang sosial, tidak lebih rendah dibanding dengan mereka yang pintar di bidang matematika. Pembandingan kepintaran dengan cara seperti itu adalah seperti mengumpulkan segala jenis binatang dan menilai mereka dari kemampuan memanjat pohon. Sehingga keluar pemenang dari berbagai macam kera, simpanse, gorila, bunglon, ular, dan lain sebagainya. Segala ikan adalah idiot dan segala burung adalah bodoh. Inilah pentingnya pemahaman konsep talenta. Hal yang lebih celaka adalah kecenderungan para pendidik yang kemudian menjadikan segala hal menjadi kompetisi.

Jadi apakah definisi pintar itu? Secara lebih ilmiah, dikatakan pintar itu jikalau memiliki IQ yang tinggi. IQ adalah kapasitas seseorang, potensi dalam diri seseorang, yang berusaha dinilai dari kemampuan berpikir secara logika, daya bayang ruang, kemampuan berkonsentrasi, dan ketrampilan mempergunakan daya pikir untuk memahami masalah dan mencari solusi. Hanya itu.

Apakah IQ memberikan gambaran yang akurat tentang kepintaran seseorang? Ya, tentu saja, namun jika dan hanya jika kepintaran itu didefinisikan dan dikaitkan dengan kapasitas seseorang berkenaan dengan fakta dan logika dan persoalan berhitung. Di luar hal-hal tersebut, belum tentu bisa dikatakan pintar. Karena itu, berdasar pengertian bahwa kesuksesan seseorang dalam hidup tidak hanya digantungkan pada unsur matematika saja, keluarlah kemudian berbagai alat ukur yang lain seperti emotional quotient, social quotient, spiritual quotient, dan lain sebagainya.

Pertanyaan yang berikut, apakah kepintaran berikut segala macam cara pengukuran itu akan menunjukkan kesuksesan seseorang dalam hidup? Berapa banyak orang yang tidak sekolah, yang disangka tidak pintar secara akademis, namun yang bisa menjadi pengusaha besar; bisa berkarya; menghasilkan sesuatu yang besar? Jawabannya adalah: banyak.

Jika demikian, maka berarti ada faktor lain selain daripada kepintaran bidang studi yang membuat seseorang bisa menghasilkan sesuatu dalam hidupnya, yang menjadikan hidupnya memiliki nilai lebih.

Faktor lain tersebut adalah kebijaksanaan.
Saya sangat menyukai kata ‘bijaksana’ yang mengandung 2 kata, ‘bijak’ dan ‘sana’. Bijaksana berarti ada suatu kebijakan yang berasal dari ‘sana’; atau kebijakan yang memiliki kepentingan dengan sesuatu yang ada di ‘sana’; kebijakan bukan untuk sesuatu yang di ‘sini’ melainkan untuk yang berada di ‘sana’.
Bijaksana memiliki wadah yang lebih luas, lebih agung, lebih tinggi daripada sekedar kepintaran atau pengetahuan dalam suatu bidang. Hal ini lebih mengarah kepada bagaimana mempergunakan kepintaran. Menggabungkan atau mengaitkan beberapa macam kepintaran untuk diarahkan pada sesuatu yang memiliki nilai tambah atau nilai lebih. Melihat sesuatu dengan tajam, mampu mendiferensiasi banyak hal di dalam kompleksitas dan kerumitannya, kemudian menghasilkan suatu pemikiran yang membaca inti pokok fenomena dan mendefinisikan fenomena tersebut.

Contohnya adalah sedemikian:
Di sebuah jalan persimpangan lalu lintas yang besar dan ramai di depan universitas terkenal, terjadi kecelakaan antara mobil dengan motor. Hal ini terjadi saat jam makan siang, waktu memang keadaan jalan paling ramai karena banyak orang berada di jalanan dekat kampus untuk mencari makan siang di warung dan depot di daerah universitas. Beberapa dosen, profesor, guru besar, dan mahasiswa dari bebagai jurusan mulai berkerumun, beberapa komentar mulai terdengar.
Dari jurusan sosiologi, seorang ibu dosen berkomentar, inilah kondisi masyarakat kita, sudah tidak ada orang yang mau mengalah, semua dengan egoisme sendiri berusaha mau mendahului yang lain.
Dari jurusan politik, seorang kepala jurusan berkata, banyak memang pemilik perusahaan yang tidak menghargai para pekerjanya, mereka harus mengadu nyawa dan bergerak dengan lincah mengejar waktu supaya menghasilkan keuntungan buat perusahaan. Inilah masyarakat kapitalis.
Dari jurusan ekonomi, mendengar komentar mereka yang dari sosiologi dan politik menyahut, tidak mau kalah, melihat pergerakan ekonomi global, dan dengan minimnya regulasi yang mendukung kinerja perekonomian dalam negeri, pengusaha mau tidak mau harus bergerak cepat. Jika perusahaan tidak menghasilkan profit, tidak akan ada seorang pun yang akan memiliki pekerjaan.
Sementara dari jurusan hukum berkomentar, yang sudah terjadi tidak bisa diapa-apakan, sekarang bagaimana kita perlu memperjelas marka jalan, memberi rambu dan lampu lalu lintas supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi. Perlu ada ketentuan supaya peraturan dilakukan dengan tegas dan tanpa budaya suap.
Seorang dosen kedokteran senior melihat keadaan pengemudi motor dan berkata, melihat posisi jatuhnya, dia mengalami trauma ringan pada tulang panggul sebelah kanan dan cedera pada lengan sebelah atas.
Sambil mereka semua berkomentar dan mengemukakan pendapat yang sangat tajam tentang fenomena di hadapan mereka, seorang penjual nasi bungkus yang berada disana datang dan menolong pengemudi sepeda motor yang terjatuh, meminggirkan motornya dan mengatur jalan di sekitar yang menjadi macet.

Apakah komentar-komentar orang-orang yang pintar itu keliru?
Tentu tidak. Komentar mereka sangat baik dan realistis dan sangat berguna. Tapi pada saat itu, respon mereka terhadap fenomena itu keliru. Mereka melihat dari berbagai sudut pandang yang tajam dan jitu, tapi sudut pandang yang mereka ambil dalam menangani situasi itu keliru. Mengambil persepektif yang salah terhadap sebuah situasi, menghasilkan respon yang keliru dalam menangani situasi tersebut. Respon yang keliru menghasilkan kekeliruan dalam totalitas tindakan.

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa, “Anda tidak membakar rumah Anda untuk membersihkan rumah Anda dari tikus.” Seluruh totalitas kehidupan kita membutuhkan kebijaksanaan untuk berespon terhadap segala situasi. Pengetahuan yang banyak saja tidak cukup untuk menyelesaikan berbagai macam hal yang terjadi disekitar kita.

Bijaksana yang banyak tanpa pengetahuan yang cukup, masih jauh lebih baik daripada pengetahuan yang banyak tanpa bijaksana yang cukup. Balik ke contoh kecelakaan tadi, bapak penjual nasi bungkus tadi tidak punya segala pengetahuan dan analisa, tapi dia dengan tepat melihat apakah kebutuhan yang penting pada saat itu, dan bertindak dengan tepat. Dia tidak memiliki gelar kedokteran, dan dia tidak akan bisa menyembuhkan dengan tepat, cepat dan akurat si pengemudi motor itu. Tapi dia cukup tahu bahwa orang yang ada di tengah jalan ini perlu dipinggirkan supaya tidak mengganggu lalu lintas dan tidak membahayakan dirinya sendiri tergeletak di tengah jalan di atas aspal panas, tergencet di bawah motor.
Setelah situasi berhasil dianalisa dengan tepat, diarahkan kepada kondisi yang lebih baik, baru dilakukan segala upaya yang mengarah kepada penyelesaian masalah. Mengarahkan hidup dan tindakan menuju ke arah yang benar, itulah bijaksana. Di dalam arah yang benar, baru pengetahuan bisa memiliki fungsi dan mendukung kebijaksanaan dan menjalankan kebijaksanaan dengan lebih baik dan lebih efisien.

Contoh lainnya, dalam sebuah perusahaan pemasaran, pak boss berusaha menaikkan omzet perusahaan dan meningkatkan pendapatan. Dia berpikir, kalau pegawai disuruh lebih giat melakukan penjualan, berarti pendapatan akan meningkat. Sangat logis. Satu-satunya cara untuk menaikkan keuntungan perusahaan adalah dengan menaikkan penjualan.
Tapi yang tidak dia perhitungkan adalah modal dia tidak besar, sehingga dari uang perusahaan, harus ada uang masuk terlebih dahulu, baru ada uang untuk melakukan pembelian barang. Dia menjadi heran kenapa setelah pegawai disuruh menjual lebih banyak, keuntungan tidak segera bertambah banyak. Pak boss menjadi pusing dan lebih mudah marah sekarang. Dia tidak berhasil melihat bahwa jumlah barang yang dia beli adalah sama. Jika dia tidak menambah jumlah barang yang bisa dijual menjadi lebih banyak, apakah yang bisa dijual oleh pekerjanya untuk menaikkan omzet dan pendapatan?

Itulah contoh-contoh kecil dari tidak adanya bijaksana. Kegagalan untuk membaca situasi secara lengkap dan menyeluruh, membuat setiap orang terpecah-pecah dalam pemikiran dan hidupnya. Membuat segala tingkah lakunya menjadi sangat pragmatis dengan metode trial-error, setiap kali trial, setiap kali error. Pengetahuan tanpa kebijaksanaan seperti memiliki informasi namun tidak tahu untuk apa dan bagaimana menggunakannya. Kegagalan memiliki bijaksana membuat analisa statistik menjadi keliru dan mengarah pada hal yang jauh dari kebenaran.

Memiliki bijaksana namun tidak punya banyak pengetahuan adalah seperti menjadi pianis yang handal, namun tidak memiliki gelar akademis musik. Memiliki keahlian tinggi, tapi tidak memiliki gelar, itu kerugian kecil. Memiliki gelar, tapi tanpa keahlian, itu kerugian besar.
Memiliki pengetahuan yang banyak, tapi tidak berbijaksana, itu adalah kecelakaan besar.

Ada beberapa macam manusia di dunia ini:
Yang pertama adalah orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu namun selalu merasa paling tahu ― ini adalah orang bebal, seringkali oleh mereka yang merasa dirinya ‘berkuasa’ dan ‘sukses’. Mereka menyamakan antara ‘kesuksesan’ dengan kepintaran bahkan kebijaksanaan.
Yang kedua adalah orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu ― ini adalah orang bodoh.
Yang ketiga adalah orang yang tahu bahwa dia tahu ― ini adalah orang pintar.
Yang keempat adalah orang yang tahu bahwa dia tidak tahu ― ini adalah orang bijak.

Banyak orang yang selalu merasa pintar, sudah memilki gelar, selalu merasa lebih tahu, merasa sudah belajar banyak. Sedikit orang yang selalu merasa haus akan pengetahuan, selalu mencari tahu banyak hal, selalu belajar karena merasa tidak tahu banyak. Apakah tidak pernah melihat seseorang sedemikian? Tidak mengapa, karena orang-orang seperti itu amat sangat jarang. Kita memang hampir tidak pernah melihat orang sekelas Socrates, Plato, Aristotle, mereka yang selalu merasa kurang tahu banyak dan harus belajar banyak.
Lebih mudah menemukan orang yang pandai, yang sudah tahu banyak dan ingin lekas bersuara menunjukkan kepintarannya dan mengerjakan banyak hal untuk menunjukkan aktualisasi diri.
Yang terlebih mudah lagi adalah menemukan orang bebal.

Pengetahuan dan Pengertian; Kebenaran dan Kebijaksanaan

Tema tentang pengetahuan (knowledge) merupakan pembahasan yang telah berlangsung sepanjang sejarah pemikiran manusia. Filsuf dan pemikir, sosiolog, psikolog, ahli agama dan teolog, penyair, penulis dan sastrawan telah berupaya memahami tentang hal ini. Berbagai pendapat dan argumen dari berbagai sudut pandang membahas tentang “bagaimana seseorang bisa mengetahui yang dia ketahui.” Metafisika membahas topik ini dengan sangat rumit dan kompleks melalui proposisi-proposisi yang begitu luas melalui berbagai presuposisi.

Membahas mengenai para pemikir tersebut akan menjadi topik bahasan yang sangat besar dan sangat luas, tidak akan ada habisnya. Sudut pandang idealisme dan teori juga bukan merupakan posisi dan titik awal yang di ambil dalam pembahasan ini. Hanya membayangkannya saja sudah terasa sangat mengerikan.

Apakah TAHU itu?

Orang yang sudah tahu, tidak perlu diberi tahu.
Orang yang tidak tahu, tidak bisa diberi tahu.
Inilah paradoks pengetahuan. Jika seseorang sudah mengetahui, apa gunanya dia diberi tahu. Jika seseorang tidak mengetahui, bagaimana caranya dia bisa diberi tahu. Agar seseorang bisa tahu, dia pertama-tama harus tahu bahwa dia tidak tahu. Tapi bagaimana caranya dia bisa tahu apa yang dia tidak tahu? Bagaimana bisa ada penerobosan di dalam dirinya untuk menyadari bahwa dia tidak tahu, jika dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu? Jadi, untuk menjadi tahu, dia harus tahu; padahal dia tidak tahu.

Kiranya sekarang sudah terbayang betapa besar kesulitan pemikiran sepanjang sejarah manusia berusaha memahami hal ini. Socrates (filsuf Yunani yang hidup dikisaran tahun 470 BC) mengatakan, “I only know one thing: I know nothing.” (Terj: Aku hanya tahu satu hal: Aku tidak tahu apa-apa.) Ini adalah paradoks Socrates tentang pengetahuan.

Tetap tidak dapat menjawab bagaimana manusia bisa tahu akan banyak hal yang mengisi kepalanya. Kita bisa mengatakan bahwa kita lebih pintar daripada Socrates dan berkata karena ada orang lain yang memberi tahu, jadi kita bisa akhirnya dari tidak tahu, menjadi bisa mengetahui. Socrates itu bodoh, orang kuno, waktu itu dia belum mengerti bahwa kalau sudah diberi tahu, orang bisa tahu.

Mengapa harus TAHU?

Baiklah, setelah diberi tahu, orang seharusnya tahu.
Tapi mengapa ada orang yang sudah diberi tahu, masih juga tidak tahu? Kenyataannya, kita bisa memberi tahu kepada banyak orang segala jenis pengetahuan dan segala macam pengetahuan, tapi akan selalu ada orang yang tidak tahu.

Kita diajarkan segala macam ilmu di bangku sekolah, apakah kita tahu semua yang diajarkan pada kita? Apakah raport kita semuanya mencerminkan nilai yang sempurna sebagai tanda bahwa kita mengetahui semua yang diberitahukan kepada kita?

Tetap tidak menjawab bagaimana seseorang bisa mengetahui apa yang dia ketahui.
Kita bisa mengatakan lagi bahwa itu berbeda. Ada tahu yang asal tahu, ada tahu yang benar-benar tahu, ada tahu yang menuju pada pengertian. Tahu itu tidak sama dengan mengerti.
Sekarang, ada sebuah wawasan baru yang terbuka. Dan Socrates sudah tidak lagi kelihatan terlalu bodoh. Kita sekarang mengetahui ada ‘tahu’ yang sungguh, dan ada ‘tahu’ yang tidak sungguh.

Apakah yang dimaksud dengan mengerti?

Setelah seseorang diberi tahu, kepada dia diharapkan untuk mengerti.
Itulah prinsip pendidikan manusia. Seseorang bermula dari tidak tahu; setelah diberi tahu, dia diharapkan menjadi tahu, tidak sekedar tahu melainkan mengerti; setelah dia mengerti, dia diharapkan untuk melakukan tindakan yang benar sesuai dengan pengertian yang benar yang sesuai dengan pengetahuan yang benar.
Tahapannya diharapkan terjadi sesederhana itu.

Akan tetapi sekarang keluar satu wawasan baru lagi: ‘benar’ / ‘kebenaran’.

Seharusnya sekarang kita mengetahui bahwa manusia tidak boleh hanya sekedar tahu; akan tetapi, selain tahu, dia juga harus mengerti. Apakah kita mengerti (selain mengetahui) akan pengetahuan itu? Apakah kita mengerti apa yang kita mengerti?

David Rosenthal, seorang filsuf dan pengajar di City University of New York, dia sangat dikenal melalui karyanya higher-order-thought theory of consciousness. Dia mengatakan bahwa seseorang tidak memiliki kesadaran yang benar-benar sadar jika  dia tidak menyadari kesadaran tersebut; jadi, sebuah kondisi kesadaran itu baru dapat dikatakan dalam keadaan sadar, jika dia sendiri menyadari apa yang dia sadari.

Demikian pula halnya dengan pengetahuan dan pengertian yang dimiliki seseorang. Sebagai paradoks, dapat pula dijelaskan bahwa seseorang baru dapat dikatakan mengetahui jika dia mengetahui apa yang tidak dia ketahui. Karena melalui ketidaktahuan baru dia dapat diberi tahu.

Kesemua pengertian ini masih juga tidak menjelaskan bagaimana orang bisa mengetahui apa yang dia tidak tahu. Tapi sejauh ini, kita sekarang mengerti bahwa pengetahuan muncul dari sebuah pengetahuan akan ketidaktahuan; walaupun tidak dapat dijelaskan bagaimana orang bisa merasa tidak tahu kalau dia sudah merasa tahu (tahu bahwa dia tidak tahu). Inilah kesulitan terbesar dalam paradoks pengetahuan.

Kebenaran dan kebijaksanaan

Tujuan dari kita tahu dan mengerti adalah supaya pengetahuan kita menuntun pada pengertian kita, membawa kita kepada kehidupan yang lebih bernilai. Supaya tindakan dan perbuatan kita, pekerjaan tangan kita diperbaharui oleh pembaruan dalam akal budi kita. Supaya dari tahu dan mengerti, kita boleh menjadi orang yang benar dan bijak. Tahu dan mengerti di dalam wilayah ide dan idealisme, benar dan bijak dalam perbuatan nyata kehidupan yang praktis sebagai wujud nyata adanya keberadaan pengetahuan dan pengertian.

Kita tidak belajar supaya kita tahu banyak hal, melainkan supaya kita mengerti banyak hal. Pengertian yang membawa kita kepada kualitas hidup yang lebih tinggi. Pengertian yang membawa kita kepada perilaku yang benar dan bijak. Sebuah perilaku yang muncul dari satu sudut pandang yang tepat, menganalisa sesuatu dengan tepat, mengambil kesimpulan yang tepat, dan menjalankan solusi dengan tepat. Sedemikian diperlukannya pengetahuan dan pengertian sehingga menuntun manusia untuk memandang segala sesuatu dengan tepat.

Kendatipun demikian, sejak jaman Socrates, melalui ‘interogasi’ dalam penelitiannya terhadap politisi, penyair, dan orang-orang ahli dalam bidang-bidang tertentu, telah disimpulkan bahwa kebanyakan manusia tidak mengerti apa yang dia ketahui, dan dia hidup mengerjakan sesuatu yang ternyata tidak dia mengerti. Kebanyakan orang yang mengaku berpengetahuan ternyata tidak benar-benar mengetahui hal yang katanya mereka ketahui; atau mereka mengetahui jauh lebih sedikit dari yang katanya mereka ketahui. Politisi ternyata tidak benar-benar tahu ataupun mengerti mengenai politik, keadilan, ketatanegaraan, pelayanan dan pengaturan masyarakat, dan seterusnya; demikian pula halnya dengan penyair maupun para ahli. Mereka hanya mengaku atau bersikap bahwa mereka memiliki banyak pengetahuan dan pengertian, yang ketika digali ternyata semuanya kosong dan berbelit-belit.

Seperti tujuan pendidikan yang kita bahas di atas, bahwa pengetahuan itu diharapkan mengarah pada pengertian; pengertian itu diharapkan mengarah pada perbuatan yang sejalan dengan pengertian. Setiap manusia mengerti betapa amat sangat penting bagi seseorang dididik dan diberi pengetahuan yang baik dan benar.

Tidak seorangpun dididik untuk menjadi penjahat, atau perampok, atau pembunuh, atau koruptor. Tapi entah kenapa, pengetahuan mereka membawa mereka kepada kecelakaan dan menjadi kecelakaan bagi orang lain. Jelas terlihat bahwa alasannya terdapat pada ketidaktahuan bahwa mereka tidak tahu.

Namun naïf sekali kalau dikatakan bahwa mereka tidak tahu tentang perbuatan mereka itu adalah tidak benar dan tidak mengandung kebenaran. Sekali lagi, tidak ditemukan penjelasan bagaimana orang bisa tidak tahu apa yang dia lakukan.

Contoh yang paling saya gemari adalah perilaku merokok.
Seseorang sudah diberi tahu, secara ekstensif, diberikan penjelasan segala akibat buruk merokok dan dibandingkan dengan kebaikan dari merokok. Dan setiap orang tahu –bahkan mengerti– bahaya dari merokok. Namun yang perokok tetap saja merokok. Entah dia profesor, pebisnis besar, presiden, menteri, ahli ekonomi, mahasiswa, pelajar, guru, orang tua, pemuka agama, petani, buruh rendah, dan entah siapa lagi. Apakah mereka orang bodoh? Apakah mereka tidak mengerti?

Perhatikan kalimat di bawah ini:
Mereka tentunya tahu dan mengerti. Namun mereka memandang itu semua dari sudut pandang yang tidak tepat. Mereka menganalisa pengetahuan mereka dari pengertian yang keliru, sehingga tidak ada kebenaran dan kebijaksaan dalam perilaku mereka. Mereka menganalisa pengetahuan dan pengertian mereka tanpa kebenaran dan kebijaksanaan, sehingga terjadi kekeliruan dalam perilaku mereka.
Dari penjelasan barusan, kita bisa melihat bahwa bisa jadi, ‘pengetahuan dan pengertian’ berada di wilayah yang sama sekali berbeda dengan wilayah ‘kebenaran dan kebijaksanaan’.

Hal ini menjelaskan bagaimana orang yang tahu banyak dan mengerti banyak dalam kepalanya, tidak selalu benar dan bijak dalam perbuatannya. Sama seperti orang yang benar dan bijak dalam perbuatannya tidak selalu tahu banyak dalam kepalanya.
Apakah Socrates bersekolah dan tahu ilmu pengetahuan yang kita kenal sekarang? Socrates adalah orang bodoh yang terbelakang di jaman kita sekarang. Kenapa kita masih sangat menghargai pemikiran dia? Karena dia mengerti teori quantum dan membongkar untaian DNA? Alih-alih dengan semua itu, saya bahkan tidak yakin dia tahu dunia ini bulat!
Pengetahuan dan pengertian datang dan pergi, ilmu pengetahuan diperdebatkan sepanjang jaman. Tapi kebenaran dan kebijaksaan tidak sanggup dihancurkan oleh waktu dan sejarah.

Musik klasik kuno dari jaman Baroque yang bertahan ratusan tahun dan diakui oleh para ilmuwan dan ahli musik besar hingga jaman ini; manusia modern dan anak-anak muda yang dicengkeram pragmatisme tidak sanggup mendengarkan musik dengan kualitas sedemikian tinggi. Mereka bahkan menganggap itu musik kuno pengantar tidur, dan lebih suka mendengarkan musik rendah yang selalu berganti dalam hitungan minggu. Modernitas tidak bisa memahami nilai yang tinggi dan sulit, mereka menyukai hal yang rendah dan mudah; padahal mereka TAHU dan MENGERTI bahwa tidak ada sesuatu yang bernilai tinggi yang muncul dari hal yang mudah dan sepele. Musik sedemikian tinggi yang diakui oleh orang-orang yang sangat otoritatif di bidang musik, yang menghabiskan waktu dalam hidupnya mempelajari Johann Sebastian Bach, George Frideric Handel, Antonio Vivaldi, Henry Purcell, Johann Pachelbel, dan seterusnya.

Namun apa yang dikerjakan oleh masyarakat modern dengan pragmatismenya? Musik itu adalah selera pribadi, kata mereka. Tidak usah ribut dengan musik klasik, “ku tahu yang ku mau.” Apakah mereka tidak tahu dan tidak mengerti bahwa dunia terpelajar mengakui karya komposer besar itu sebagai karya yang agung dan megah yang memiliki kualitas dan keindahan yang bertahan ratusan tahun dan tidak sanggup dihasilkan oleh dunia modern?
Mereka tahu. Mereka mengerti. Tetapi mereka tidak mau tahu. Dan tidak mau mengerti.

Sama halnya dengan kebiasaan merokok.
Sama halnya dengan tindakan kejahatan.
Tidak ada seorang pun yang setelah melakukan kejahatan, menolak untuk ditangkap oleh hukum, kemudian berkata, “saya sungguh mati tidak tahu bahwa korupsi itu tidak boleh.” Atau berdalih, “karena saya tidak tahu bahwa membunuh itu tidak boleh, jadi saya harus diampuni.”
Mereka semua tahu apa yang baik. Tetapi yang buruk yang dipilih.

Hal itu menimbulkan pertanyaan yang terus menerus dan tidak habis-habisnya di dalam kepala saya. Kenapa setelah tahu yang baik dan benar dan bernilai, yang dipilih adalah yang rendah, yang salah dan tidak bernilai?

Jelas sekali terlihat keberadaan jurang pemisah yang sangat dalam antara mengetahui, mengerti, dengan kebenaran dan kebijaksaan. Sama seperti adanya harus ada ‘lompatan yang mustahil’ tentang bagaimana seseorang bisa tahu bahwa dia tidak tahu; sedemikian pula harus ada ‘lompatan yang mustahil’ dari pengetahuan dan pengertian kepada kebenaran dan kebijaksanaan. Bagaimana seorang manusia dimampukan untuk melakukan lompatan yang mustahil itu?

Filsafat sepanjang jaman mempertanyakan hal yang esensi ini.

Dan jawabannya –terpaksa harus saya akui– saya temukan dalam buku Cornelius Van Til, seorang Kristen dengan teologi Reformed.
Dia menjelaskan bahwa harus ada campur tangan dari Tuhan, membukakan pengertian yang menginspirasikan (dunia agama mengenali hal ini sebagai ‘pewahyuan’),  dari kekekalan menerobos masuk kepada alam manusia, supaya seseorang dimungkinkan untuk mengetahui bahwa dia tidak tahu. Hal ini langsung menjawab paradoks Socrates.

Bahwa seluruh dunia sudah rusak total sejak kejatuhan dalam dosa setelah penciptaan, dan semuanya sudah berdosa dan dicengkeram oleh dosa. Menyebabkan manusia yang meskipun tahu dan mengerti apa yang baik dan benar, tidak memiliki kemampuan untuk membuat pilihan yang tepa. Cengkeraman dosa membuat manusia tidak mungkin bebas dan memilih yang baik, sehingga yang dipilih selalu yang rendah dan cemar dan jahat. Dan hal ini langsung menjawab perihal contoh-contoh saya di atas.

Hanya melalui kembali kepada kebenaran yang sejati, menjadi murid-Nya, mengetahui apa yang benar, mengerti apa yang benar, baru manusia dapat dimerdekakan dari cengkeraman dunia yang mengikat manusia. Barulah seseorang dimerdekakan (meminjam istilah orang Kristen) untuk kemudian dimampukan melakukan ‘lompatan yang mustahil’ itu: dari ‘mengetahui dan mengerti’ kepada ‘kebenaran dan kebijaksanaan’.

Di titik ini, kepada kita ditawarkan sebuah presuposisi baru, pemahaman yang tampaknya sederhana, yang mendahului ‘tahu dan mengerti’. Urutannya berjalan terbalik sedemikian: supaya kita bisa mengerti, maka kita harus lebih dahulu tahu. Untuk bisa tahu, maka kita harus ‘percaya’ dulu kepada pengajar kita atau kepada yang memberikan ‘tahu’, baru kita bisa mengetahui. Kita tidak akan belajar apa pun jika kita sudah merasa tahu, ataupun jika kita meragukan (baca: tidak mempercayai) orang yang memberi tahu kita.
Hal tersebut sudah pernah saya bahas dengan rumit di sini.

Sekarang, semua pokok bahasan sudah dibahas, dan semua pertanyaan sudah terjawab.
Sekarang tinggal permasalahan apakah jawaban itu mau ditolak untuk kemudian kembali ke titik awal permasalahan tanpa jawaban.

Paradoks dalam Pencarian Kebenaran

Sebuah paradoks adalah keberadaan dua pernyataan (terkadang dapat pula berupa kumpulan pernyataan) yang tampaknya benar namun lebih menyerupai kontradiksi atau mengarah pada sebuah situasi yang terlihat sepertinya bertentangan dengan logika ataupun intuisi. Kompleksitas dari sebuah padaroks seringkali disalahartikan dengan kontradiksi, dan penalaran dalam paradoks seringkali disederhanakan sampai hanya tersisa satu situasi dimana salah satu atau semua pernyataan dalam sebuah paradoks itu adalah salah.

Sementara itu, untuk bisa memahami sebuah kebenaran yang sifatnya adalah benar-benar BENAR, maka pengertian di dalam konsep paradoks harus sanggup menjelaskan bahwa kedua pernyataan (atau semua pernyataan) dalam sebuah paradoks tentang kebenaran adalah benar-benar BENAR dan merupakan kesatuan yang utuh dan tidak berkontradiksi antara pernyataan yang satu dengan pernyataan yang lain.­­­­­

Ketika kita berusaha membangun konsep yang benar-benar BENAR, akan bermunculan banyak konsep dan opini. Jika didalam konsep dan opini tersebut terdapat kontradiksi dan perkecualian, maka setiap pernyataan-pernyataan tersebut dengan sendirinya akan bersifat saling melemahkan dan saling menghancurkan keutuhan dari keseluruhan (integrasi dan holistik) konsep yang diajukan. Semakin kompleks konsep yang dipaparkan, semakin banyak pernyataan yang dimunculkan, maka semakin banyak kontradiksi yang akan menimbulkan pertentangan didalam dirinya sendiri yang bersifat menghancurkan (baca: self destruct).
Di sinilah pentingnya pemahaman secara paradoks yang harus mampu menggabungkan semua konsep yang tampaknya bertentangan menjadi sebuah pengertian yang utuh membentuk kerangka yang kokoh.

Sambil lalu, akan saya coba memberikan gambaran singkat mengenai hal tersebut:
Pada dasarnya, kita berusaha mencari kebenaran. Kita mau sesuatu yang benar. Sesuatu yang sejatinya benar. Sebuah kondisi yang benar-benar BENAR. Kita tidak mau yang palsu, atau yang tidak benar-benar BENAR. Kita juga tidak mau yang tidak benar-benar tidak BENAR. Yang paling tidak kita inginkan adalah yang salah, atau dengan kata lain, kondisi yang benar-benar tidak BENAR. Namun terlepas dari keinginan atau idealisme kita, seringkali kita tidak memiliki dasar pengertian yang cukup untuk bisa memahami dan menemukan kondisi yang benar-benar BENAR berikut dengan sifat paradoksnya. Atau dalam era pragmatisme sekarang ini, sebagian kita terlalu malas untuk berusaha mencari kebenaran yang sejati. Seperti yang dilakukan beberapa orang yang akan langsung berhenti membaca tulisan ini dan tidak tergelitik rasa keingintahuan mereka ketika dihadapkan pada pemikiran yang rumit.

Kebenaran yang sejati tidak akan pernah lepas dari paradoks. Semua kebenaran yang benar-benar BENAR selalu akan berbentuk paradoks. Karena didalam paradoks akan ditemukan keadaan yang saling seimbang didalam pemikiran dan konsep yang seakan bertentangan, namun tidak saling menghancurkan.

“The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposed ideas in the mind at the same time, and still retain the ability to function.” – F. Scott Fitzgerald

Terjemahan: Ujian bagi kecerdasan kelas atas adalah kesanggupan untuk memfasilitasi dan memikirkan dua ide yang bertentangan dalam satu waktu, dan tetap memiliki kesanggupan untuk membentuk pengertian yang utuh.

Ketika seseorang melanjutkan perenungan dan pemikiran analitik dalam kondisi yang sulit, yang lainnya menyerah dalam pragmatisme dan berbalik arah. Mereka akan mencari jawaban mudah berupa YA atau TIDAK, BENAR atau SALAH, namun tidak akan pernah memahami alasan dan pemikiran yang melandasi jawabannya. Mereka hanya menjadi budak dari pemikiran orang lain yang tidak tentu merupakan kebenaran sejati. Adalah sebuah kebohongan belaka ketika mereka berkata dan berupaya meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka tidak suka dibohongi dan mencari kebenaran. Mereka dengan buta mempercayai sesuatu dalam fanatisme kosong.

Saya akan menjelaskan sedikit tentang runutan proses pembentukan pengertian dan pengetahuan, sebelum menyinggung dimana letak paradoks sesungguhnya didalam pemikiran.

Paradoks akan dapat kita temukan dimana-mana disekeliling kita. Kebenaran yang benar-benar BENAR ditanamkan didalam dunia sekeliling kita supaya melalui semua yang kita lihat dan alami, kita mau tidak mau harus mengakui bahwa ada yang benar-benar BENAR, setengah BENAR, dan yang tidak BENAR. Memang tidak semua dari kita sanggup membongkar penjelasan secara tuntas, namun kita tahu realita itu; dibuktikan dengan tekad yang ada dalam diri setiap orang yang katanya tidak suka dibohongi dan lebih suka segala sesuatu yang BENAR.

Kebenaran itu terbentang mulai dari semua yang bisa kita pikirkan dalam dunia ilmu pengetahuan (yang dulunya juga tidak kita ketahui, namun sekarang kita ketahui, beberapa hingga tuntas, sementara sebagian lain belum tuntas) yang sifatnya fisik dan natural. Ilmu pengetahuan ini merupakan ilmu yang kita pelajari terhadap alam dalam fisika, fisika teoretis, biologi, quantum teknologi, faal, dan seterusnya.
Terus berlanjut pada dunia pemikiran yang berkesetaraan dengan dunia fisik, yaitu alam rasio dan logika; kita mengenal pemikiran-pemikiran yang masuk akal kita secara umum dalam dasar ilmu pengetahuan, yang kita sebut sebagai rasionalitas. Kita mempelajari hubungan kita berelasi dengan sesama, dengan alam sekitar, dalam pengertian yang bersifat keilmuan bidang ekonomi, manajemen, psikologi, psikiatri, filosofi, dan seterusnya.
Kemudian kita berlanjut pada dunia yang melampaui dunia fisik, dalam dunia yang hampir tidak terpahami secara natural, logika, atau rasional sekalipun. Dunia modern sejak abad pencerahan tidak menganggap bagian ini sebagai ilmu, melainkan sebagai dunia yang tidak logis, tidak rasional, dan tidak ilmiah. Mereka menganggap bidang ini merupakan bidang angan-angan dan tidak bisa dibuktikan. Namun sebagai bagian dari orang yang menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kita di luar sana, kita sangat mengerti pentingnya bagian pemikiran ini dalam prinsip dan keutuhan pemikiran kita didalam kaitannya dengan mencari kebenaran. Ini adalah dunia suprarasional dalam alam supranatural, yang berusaha dijelaskan oleh metafisika, filsafat ontology, epistemology, dan seterusnya. Dan ini adalah wilayah dimana ideologi berada.

Segera setelah ilmu filsafat menyentuh batasan dinding yang tidak kelihatan antara yang “sanggup diketahui” dengan “yang tidak mudah dipahami” hingga pada “yang tidak mungkin diketahui” yang menjadi area abu-abu antara filsafat dan agama, tiba-tiba saja peran logika menjadi sedemikian kecil dan orang-orang yang katanya rasional mengatakan bahwa religi adalah upaya pelarian manusia dari usaha-usaha mencari jawaban yang “masuk akal”.

Mari kita simak sejenak contoh kasus berikut:
Kenapa es batu mengapung, padahal dia padat dan memuai (anomali air), dan es pun sejatinya berasal dari air. Orang-orang ilmiah akan mulai berbicara tentang berat jenis, hukum perkecualian air, penampang atau tegangan permukaan air, dan seterusnya. Banyak orang akan dengan mudah setuju, menganggap itu sebagai penjelasan dan kebenaran. Sesuatu yang benar-benar BENAR.
Namun ketika religi menyodorkan jawabannya, bahwa Tuhan menciptakan makhluk dalam air, jika es tenggelam, banyak makhluk air akan mati. Kalau air membeku mulai dari bawah, dan terus membeku, kemana makhluk air bisa lari, bagaimana tumbuhan dalam air bisa hidup, bagaimana ekosistem air bisa terjaga. Jawaban itu dianggap sebagai kebodohan bagi dunia sains. Tiba-tiba saja, jawaban itu dinyatakan tidak sah dan tidak dapat diterima, walaupun memiliki kerangka pemikiran yang tidak dapat disanggah oleh orang-orang yang katanya rasional.

Filsafat itu sendiri, sebagai bidang yang mempelajari dan mempertanyakan segala sesuatu, terbentang dari dunia (realm) yang nyata, kepada yang bisa diketahui, kemudian hingga konsep abstrak, sampai pada hal yang mungkin dapat diketahui, dan berhenti pada yang tidak mungkin diketahui, dimana beberapa jawaban tampaknya lebih memiliki basis rasional yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban yang lain yang lebih seperti tebakan-tebakan yang sifatnya untung-untungan.

Bagi mereka yang memiliki wawasan memadai dan mendalam mengenai beberapa ideologi religius (baca: iman), mereka memiliki kesanggupan untuk menarik area filsafat sedikit lebih jauh kedalam batasan hal yang tidak mungkin diketahui dengan keyakinan (baca: iman) yang mereka miliki, sebelum semuanya menjadi sama sekali gelap. Tentunya, seperti halnya ilmu pengetahuan dan filsafat, ada iman yang memiliki sistematika lebih baik dibandingkan dengan iman yang lain.

Permasalahan terbesar dengan iman adalah sedemikian: untuk agar iman memiliki kekuatan dan integritas yang cukup untuk menjelaskan segala sesuatu yang melampaui natur dan ilmu pengetahuan, serta menjawab segala hal yang dipertanyakan oleh filsafat, maka iman itu sendiri harus memiliki dukungan dari pengertian dan konsep yang jelas dan sistematis. Bukan fanatisme kosong belaka. Fanatisme tidak mampu menjawab apapun dalam bidang apapun, jika fanatisme tidak mengarah dan tidak didasari oleh pengertian yang cukup. Celakanya, para fanatik seringkali buta dan tuli.

“A fanatic is one who can’t change his mind and won’t change the subject.” – Winston Churchill

Terjemahan: Seorang fanatik adalah orang yang tidak bisa merubah pikirannya dan tidak mau merubah topik subjek pembicaraannya.

Demikian kita sudah membahas tentang runutan pengertian, rasionalitas, dan logika. Mengenai paradoks, semakin kita mendekati kepada hal yang tidak bisa kita mengerti secara tuntas, semakin paradoks akan membantu kita mendekati pada kebenaran yang sifatnya benar-benar BENAR. Semakin jauh kita melangkah, semakin rumit paradoks yang ada dan semakin sulit untuk menyelesaikan paradoks yang muncul untuk bisa kita mengerti dalam pemikiran kita.

Sebagai gambaran:
Di alam yang bisa kita lihat, ilmu pengetahuan alam, kita melihat cahaya warna putih. Benarkah cahaya itu berwarna putih? Benarkah sinar matahari itu putih? Ataukah warna putih itu sebenarnya tidak ada, melainkan adalah spektrum dari jutaan warna yang terbaur dan menimbulkan sinar yang putih. Jadi, apakah warna sinar matahari? Putih atau jutaan warna yang namanya pun tidak sanggup disebutkan. Jawabannya adalah sinar matahari berwarna putih DAN jutaan warna. Itulah paradoks. Warna sinar matahari bukan putih. Warna sinar matahari bukan jutaan warna.

Contoh lain lagi:
Demikian pula dalam simbol “tak terhingga” (infinity symbol). Apakah di dunia ini yang tidak terhingga? Mengapa kita bersikeras meletakkan simbol tersebut didalam ilmu pengetahuan kita? Tidak ada di dunia yang kita tinggali ini yang bahkan secara konsep bisa dikatakan tidak terhingga. Nilai yang terbesar pun memiliki nilai, memiliki ukuran yang tidak bisa dikatakan “tidak terhingga”. Ini adalah konsep paradoks, ketika kita mencoba menghubungkan antara dunia kita yang bersifat terbatas, dengan sesuatu yang sifatnya tidak terbatas.

Penjelasan yang menarik dari buku Kristen adalah bahwa satu-satunya didunia ini yang bersifat tidak terhingga adalah manusia. Paradoks lain lagi dalam alam ini. Sementara semua disekitar manusia dalam alam semesta bersifat terhingga, jiwa manusia memiliki sifat yang tidak terhingga. Sehingga manusia itu sendiri pada dasarnya adalah paradoks. Manusia terbatas usianya DAN manusia memiliki unsur kekekalan.

Didalam area pemikiran kita, mulai dari yang bisa diketahui hingga yang tidak mungkin diketahui, paradoks-paradoks kecil tersebar berupa kebenaran-kebenaran yang benar-benar BENAR didalam ilmu pengetahuan, filsafat, dan religi, dan seterusnya. Dan ketika kita tidak berhasil memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, maka petualangan kita mencari kebenaran yang lebih agung dari tempat yang rendah (yaitu alam) ke yang lebih tinggi (yaitu ideologi dan iman) akan menjadi sesat dan menyimpang.

Area abu-abu antara yang “mungkin bisa diketahui” dengan yang “hanya bisa diketahui melalui iman/keyakinan” itu terdapat paradoks yang sifatnya ultimat. Paradoks terbesar itulah yang menjadi pintu masuk kepada pengertian yang benar-benar BENAR. Ketika seseorang gagal dan menyimpang dari paradoks terbesar ini, dia akan membuahkan pemikiran-pemikiran dan tebakan-tebakan yang keliru dalam menginterpretasikan kebenaran yang benar-benar BENAR (kebenaran yang sejati), berikut dengan semua “paradoks kecil”-nya.

Kita mengenal ada pemikir-pemikir besar sepanjang sejarah yang berhasil mengikuti jejak-jejak paradoks-paradoks kecil, namun tidak menemukan paradoks ultimat. Mengakibatkan dia tidak tuntas pada pendefinisian dan pengertian didalam pencariannya untuk memahami kebenaran sejati.

Ada pemikir-pemikir besar lain lagi yang sanggup memahami paradoks ultimat ini, dia menemukan kebenaran yang benar-benar BENAR, dan melalui pemahaman tersebut, dia sanggup menemukan dan membongkar sebagian paradoks-paradoks kecil yang tersebar dalam alam semesta.
Walaupun tidak bisa tuntas memahami paradoks-paradoks kecil tersebut, karena alam yang terbatas ini pun sedemikian luas dan besar sehingga tidak dimungkinkan untuk dipahami secara tuntas. Hal inilah yang memicu dan kemudian mengakibatkan munculnya simbol “tak terhingga” ditengah-tengah realm yang seharusnya “terhingga”. Sebuah pengertian akan adanya sesuatu yang tidak berbatas ditengah-tengah keterbatasan realm yang kita tinggali ini. Sebuah fenomena tentang “kekekalan” yang tampak nyata namun tidak tersentuh. Sebuah realm yang ditengarai sebagai sebuah eksistensi, namun tidak merupakan sebuah eksistensi: itulah paradoks yang lain lagi.

Didalam banyak hal, paradoks adalah satu-satunya cara untuk memahami kompleksitas alur berpikir, sudut pandang, dan aspek-aspek penting dari berbagai macam pikiran-pikiran. Namun, perlu dipahami bahwa ketika sebuah paradoks “mampu dimengerti” tidak berarti bahwa paradoks itu “mampu diterima”.

Sekali lagi, buku orang Kristen membukakan kepada kita bahwa paradoks ultimat yang sudah diterima hanya mampu untuk dimengerti ketika seseorang mau tunduk mutlak dibawah penerimaan akan sesuatu yang tidak dia mengerti. Jadi, manakah yang terlebih dahulu muncul, pengertian atau penerimaan? Orang harus menerima dulu baru sanggup mengerti, atau harus mengerti  dulu baru bisa menerima? Sebuah paradoks yang harus disimpulkan masing-masing orang.

Seperti dalam hal pembelajaran. Bagaimana seseorang mampu belajar? Pertama-tama dia harus terlebih dahulu percaya bahwa guru yang mengajar dia adalah benar. Tapi dari mana dia bisa tahu bahwa guru itu benar jika dia belum belajar apapun juga? Jika dia sudah belajar dan sudah merasa tahu atau lebih tahu dari gurunya, buat apa lagi dia mau belajar, karena tidak ada yang dapat ia pelajari kalau ia sudah tahu.

Kembali pada kasus ”pengertian dan penerimaan” diatas. Jika seseorang belum mengerti, bagaimana ia bisa menerima dan percaya akan kebenaran suatu paradoks. Jika seseorang tidak mau menerima sebuah paradoks, bagaimana ia bisa mempelajari hingga mencapai pengertian. Pertanyaan ini sudah saya jawab diatas.

Fanatisme dari perspektif Psikologi

Fanatisme atau fanaticism adalah sebuah pandangan atau pendapat yang ekstrem mengenai suatu pemikiran ataupun objek tertentu; seringkali lebih dikaitkan terhadap suatu konsep kepercayaan atau dogma atau paradigma. Fanatisme tidak pernah menarik untuk dibahas jika hanya mengarah pada merek mobil, alat elektronik, pakaian atau asesoris, atau gaya hidup dan kegemaran akan makanan. Namun ketika fanatisme muncul pada sebuah pandangan politik atau ideologi, issue ini menjadi sangat menarik untuk diperhatikan.

Dikatakan “menarik untuk diperhatikan” karena ketika perilaku fanatisme dibandingkan antara yang mengarah kepada objek tertentu dan yang mengarah kepada politik atau ideologi tertentu, maka akan ditemukan bahwa tidak seorangpun berkenan untuk “berdebat” atau “berargumentasi” sengit ketika membicarakan dan membandingkan objek tertentu. Sebagai contoh, tidak seorangpun berkelahi ketika berbicara tentang fanatisme terhadap merek mobil A dengan merek mobil B. Tidak seorangpun berargumen sengit ketika berbicara tentang fanatisme terhadap makanan dari restoran A dengan makanan yang sama dari restoran B.

Hampir dapat dipastikan, tentunya pendapat dan pandangan masing-masing pihak terhadap objek tertentu dapat diperdebatkan karena telah ada perbedaan analisa ketika membandingkan antara objek satu dengan objek lain. Perbedaan analisa tersebut muncul karena ada perbedaan sudut pandang secara kualitas baik dari segi kebenaran, nilai, moralitas, kaidah, manfaat, maupun variabel yang lain. Itulah sebagian kecil dari variabel-variabel yang mendasari dan akan menentukan mengapa seseorang mengambil sikap (baca: fanatisme) tertentu terhadap suatu objek.

Atau benarkah demikian adanya? Benarkah bahwa fanatisme adalah produk dari pertimbangan rasional yang sudah teruji dan dipertimbangkan serta diketahui secara tuntas, atau mendekati tuntas, atau minimal telah melingkupi sebagian besar pokok-pokok pikiran. Hal lain lagi yang menarik untuk diperhatikan.

Untuk dapat membandingkan dua merek pakaian, dan kemudian memilih merek tertentu yang akan disukai secara konsisten (baca: fanatik), seseorang haruslah melalui sebuah proses kognitif untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan seakurat mungkin, kemudian dapat ditarik sebuah kesimpulan yang valid, baik dan benar. Kedua merek tersebut dibandingkan, mulai dari desain dan siapa desainernya, pemilihan bahan, kehalusan pembuatan, dan banyak faktor yang lain. Bagaimana dengan memilih sebuah partai politik tertentu, atau ideologi tertentu, atau agama tertentu? Tanpa memiliki data statistik yang akurat, saya cukup yakin bahwa sebagian kita akan setuju terhadap pandangan saya bahwa ‘banyak’ orang-orang yang tidak melakukan proses kognitif yang seharusnya dia jalankan ketika mereka menjatuhkan pilihan pada objek politik atau ideologi tertentu.

Jika demikian halnya, bahwa pengambilan keputusan tersebut tidak didasarkan pada proses berpikir yang mengarah pada pengambilan kesimpulan, lalu dengan apakah seseorang memutuskan pilihan pada objek politik atau ideologinya? Dengan presuposisi apa dia melakukan pemilihan? Dengan perasaan belaka kah? Apakah perasaan tersebut bisa dipertanggungjawabkan dan dijelaskan?

Jawabannya adalah dengan keyakinan (baca: iman).

Tetapi keyakinan itu sendiri tidak akan pernah cukup jika tidak kemudian dilanjutkan dengan proses kognitif yang memadai. Cara berpikir pragmatis (atau filsafat pragmatisme) yang melanda era jaman post-modern telah membuat manusia sangat malas berpikir dan menghilangkan sifat keingintahuan tentang begitu banyak hal. Bahkan bisa dikatakan bahwa mereka tidak perduli dengan apapun yang terjadi disekitar mereka kecuali mereka ikut merasakan dampaknya. Mereka tidak berusaha belajar dari pengalaman orang lain, mereka tidak berusaha mengerti dalam keluasan dan wawasan serta sudut pandang yang kritis tentang apapun, mereka bahkan tidak berniat belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Keyakinan adalah yang mendahului semua proses pembelajaran kita sejak masa kecil kita. Kita yakin bahwa kalimat yang diucapkan oleh guru kita adalah benar. Kita yakin bahwa tulisan yang berada dalam buku pelajaran kita adalah benar. Kita yakin bahwa sekolah yang kita masuki akan memberikan kita ilmu yang benar. Tanpa keyakinan, kita tidak akan belajar apapun juga.

“Credo ut intelligam” (I believe so that I may understand) – Anselm of Canterbury

Terjemahan: Aku percaya supaya aku bisa mengerti

Fanatisme dalam dunia politik dan ideologi/agama adalah seperti meyakini bahwa “1 + 1 = 2”. Itu saja. Sesederhana itu. Atau paling tidak, itu yang saya kira. Seorang fanatik adalah orang yang sedemikian yakin bahwa dia sedang mempercayai dan melakukan kebenaran, dia tidak perduli dengan pendapat orang lain, dia tidak dapat diyakinkan sebaliknya. Percaya diri. Itu seharusnya bagus. Paling tidak, saya kira itu bagus.

Tentu saja itu akan menjadi mudah ketika seseorang dihadapkan pada “1 + 1 = 2”, atau ketika dia dihadapkan pada persoalan untuk memilih pakaian atau mobil atau makanan seperti pada contoh kita diatas. Tapi ternyata fanatisme tidak sesederhana yang saya kira.

Fanatisme lebih mengarah pada perilaku obsesif yang ekstrem di dalam diri seseorang untuk meyakinkan dirinya sendiri mengenai pandangannya terhadap objek fanatismenya. Dia meyakinkan dirinya sendiri sampai pada tahap bahwa dia yakin dan percaya bahwa dia tidak bersalah dalam pandangannya terhadap sebuah objek. Ini adalah sebuah keyakinan, ini bukan lagi tentang pemikiran dan pertimbangan, ataupun proses kognitif.

Lebih jauh lagi, mereka tidak hanya yakin bahwa mereka adalah benar. Melainkan mereka yakin bahwa mereka tidak mungkin bersalah, dan tidak akan pernah bersalah mengenai konsep politik atau ideologi atau bahkan dalam seluruh sistem kepercayaan yang mereka miliki. Dan karena mereka sedemikian yakin bahwa mereka adalah pada dasarnya merupakan kebenaran, mereka akan memunculkan pandangan itu dalam perilaku mereka dengan derajat yang berbeda-beda.

Beberapa menunjukkan dalam sikap defensif yang berlebihan dengan ketakutan bahwa keyakinan mereka akan dirobohkan kemudian kehilangan keyakinan yang menjadi jati diri mereka. Yang lainnya menunjukkan sikap ofensif dengan selalu membicarakan topik yang sama dan mengajak orang lain berdebat untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan menunjukkan sikap permusuhan ketika argumennya dipatahkan.

Orang-orang tersebut menjaga fanatisme yang mereka miliki bukan dengan pengetahuan yang cukup, melainkan dengan keyakinan yang mereka lindungi sedemikian sehingga mereka secara konsisten mencari untuk bergabung dengan orang-orang yang setuju dengan mereka dan memupuk kepercayaan diri mereka dengan cara yang salah. Dan sekali lagi perkiraan saya salah. Itu tidak bagus.

Tadi saya mengambil contoh mengenai proses belajar. Bahwa untuk bisa belajar, kita harus memiliki keyakinan bahwa sumber pembelajaran kita adalah benar. Keyakinan adalah yang memulai segala proses pembelajaran kita. Kita harus yakin (baca: fanatik) dulu bahwa apa yang kita yakini adalah kebenaran. Dan proses ini mendahului proses kognitif yang kita miliki. Ini adalah paradoks dalam proses pembelajaran. Bagaimana kita bisa yakin bahwa yang kita pelajari itu adalah benar jika kita belum tahu apakah yang akan kita pelajari itu benar? Tapi jika kita tidak mau yakin bahwa apa yang kita pelajari itu benar, bagaimana caranya kita bisa belajar apapun juga?

“I do what I think and I think what I believe.”  Francis Schaeffer

Terjemahan: Aku melakukan apa yang aku pikirkan dan aku memikirkan apa yang aku percaya

TIdak ada yang salah dengan fanatisme yang benar, yang berdasar, yang berpengetahuan. Tidak ada yang salah dengan memiliki keyakinan terhadap apapun juga, baik objek, atau politik, atau ideologi, atau agama tertentu, namun keyakinan itu haruslah dikonfirmasi dengan pengetahuan yang lengkap. Karena keyakinan yang benar harus menuntut pengetahuan yang menopang dia secara cukup. Keyakinan yang benar harus menuntun orang kepada pengertian yang membuktikan bahwa keyakinan itu adalah memang benar adanya.

Kembali pada contoh proses belajar diatas, keyakinan tentang sumber pembelajaran yang benar itu haruslah dikonfirmasi dengan mengkonfrontasikan keyakinan itu dengan apa yang kita pelajari. Apakah 1 + 1 adalah benar-benar 2? Apakah cahaya putih yang kita lihat itu adalah cahaya yang berwarna putih ataukah warna putih itu dihasilkan dari spektrum warna yang menimbulkan cahaya yang kita sebut berwarna “putih”? Apakah partai politik tertentu berisi orang-orang yang memiliki kualifikasi yang baik, memiliki moral yang baik, sehingga dikemudian hari dia akan menepati janjinya dan tidak akan merugikan rakyat dan negara yang dipimpinnya? Apakah nilai moral yang baik itu secara definisi dan praktika?

Berdasar pada kutipan Francis Schaeffer, “aku melakukan apa yang aku pikirkan dan aku memikirkan apa yang aku percaya”; apakah kepercayaan tertentu menghasilkan nilai moral tertentu? Bisakah ajaran dan kepercayaan yang baik menghasilkan nilai moral yang tidak baik? Sebaliknya, bisakah ajaran dan kepercayaan yang tidak baik menghasilkan manusia yang berkualitas baik?

Kita mengenal peribahasa, “dari mulut anjing, tidak bisa keluar gading.” Dari yang berkualitas rendah, tidak bisa keluar sesuatu yang agung. Dan kita juga mengenal peribahasa, “tidak ada gading yang tidak retak.” Yang bermakna bahwa dari yang agung pun tidak luput dari kecacatan, dan memang ada gading yang retaknya banyak, jadi gading yang dibuang ke tempat sampah, namun ada gading yang retaknya sedikit, yang harganya sangat amat mahal.

Fanatisme (seperti halnya pembelajaran), boleh keluar dari suatu keyakinan (baca: iman) karena memang sedemikian sepatutnya. Namun fanatisme yang berhenti pada keyakinan itu sendiri adalah sesuatu yang sangat rapuh dan tidak bertanggung jawab. Seperti halnya saya mengatakan bahwa nasi goreng di warung seberang kantor saya itu sangat enak. Saya yakin itu enak, karena baunya harum dan kalau siang ramai pembeli. Saya tidak pernah makan disana, saya tidak mau makan disana. Tapi menurut saya, yakin bahwa nasi goreng disana enak. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

Pimpinan politik yang saya pilih itu baik. Karena parasnya bagus. Karena kata-katanya manis dan sedap didengar. Karena dia memberikan uang kepada saya untuk ikut kampanye, pasti dia murah hati dan baik. Pokoknya dia baik. Saya tidak kenal dia. Tapi menurut saya, yakin dia baik. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

Keyakinan saya benar. Saya yakin pemimpin agama saya mengajarkan yang baik. Pokoknya menurut saya, yakin bahwa itu baik. Saya tidak perlu tahu apapun juga. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

“Faith seeking understanding”  Anselm of Canterbury

Terjemahan: Keyakinan menuntut pengertian