Perspektif Tentang Problema Manusia dan Ekstensinya

Sebagian dari kita, kadang kala atau bahkan seringkali, terbentur pada pemikiran-pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai hal-hal yang terjadi dalam dunia kita. Mulai dari kesadaran akan pemanasan global (global warming), bencana alam, kerusakan dan pengrusakan alam, kepunahan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan, perubahan ekosistem dan biosphere, ketidakperdulian manusia terhadap banyak hal, perbuatan-perbuatan manusia terhadap alam dan sesamanya yang semakin pragmatis, dan seterusnya, dan sebagainya.

Namun sebagian dari kita sama sekali tidak pernah memikirkan apapun. Sebagian dari kita hanya memikirkan semua yang bersinggungan langsung dengan kita. Tentu saja, karena sebagian dari kita hanya selalu sibuk memikirkan diri kita sendiri.

“Tragedy is when I cut my finger; comedy is when you step on a banana peel, fall into an open sewer and die” – Mel Brooks

Tragedi adalah ketika jariku tergores; komedi adalah ketika kamu terpeleset kulit pisang, jatuh kedalam selokan dan mati. – Mel Brooks

Tidakkah terkadang –atau bahkan sering kali– kita terheran-heran dengan manusia dan perilakunya. Keputusan-keputusan yang diambilnya. Tindakan-tindakan yang dikerjakannya. Kita diterpa dengan berbagai macam hal setiap hari, terutama dalam era digital dan globalisasi informasi ini, menjadikan kita terbiasa dan dengan mudah menjadi tidak perduli dengan banyak hal yang begitu membombardir pemikiran kita. Setelah aliran filsafat pre-modern pada jaman revolusi industri, memasuki masa modern setelah dua kali perang dunia, dan masa post-modern sekarang ini, menjadikan manusia yang dulunya mencari kebenaran secara konsep, kemudian dengan ilmu pengetahuan, sekarang menjadi manusia-manusia yang lebih terfokus pada keuntungan praktis, dan tidak mau berpikir banyak serta pragmatis.

Banyak hal yang dulu dianggap salah, sekarang diterima, dan menjadi arus besar. Banyak hal yang dulu dianggap tidak bernilai, sekarang menjadi hal yang dicari orang. Dunia telah bergeser sedemikian banyak dan mengakibatkan banyak orang kehilangan arah tentang apa yang baik, yang benar dan yang bernilai.

Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) menjadi isu yang dipaksakan untuk harus diakui dan diterima. Desakan yang membuat banyak orang kebingungan ditengah arus besar ini. Keberagamaan menjadi isu yang tidak kalah sengitnya, ditengah-tengah upaya untuk memahami bahwa seharusnya agama membawa manusia kepada kedamaian dan ketenangan, memberikan harmoni dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam, ternyata mengakibatkan pembunuhan dan memporakporandakan dunia. Dan seringkali terlihat bahwa orang yang tidak beragama seringkali lebih baik dari mereka yang menyebut dirinya beragama, namun paling berani berbuat jahat. Manusia juga dihadapkan pada kenyataan bahwa alam sudah semakin berubah dan menjadi tidak nyaman dengan polusi, pencemaran, perubahan cuaca, kerusakan alam, kepunahan hewan dan tumbuhan, dan alam menjadi musuh manusia dengan bencana alam dan berbagai fenomena yang bahkan dulu tidak banyak terjadi.

Manusia menjadi pesimis, terombang-ambing, kehilangan pegangan, tersesat dalam kebingungan dan ketidakmengertian. Sebagian yang berusaha berjuang memperbaiki alam, dihadapkan pada ketidakperdulian banyak orang dan pihak otoritas. Sebagian yang berusaha membangkitkan kesadaran akan kebaikan dan kebenaran menjadi musuh banyak orang. Sebagian yang berusaha mempertahankan integritas, dipertentangkan dengan keegoisan mayoritas manusia yang lain.

Manusia mulai mempertanyakan, apakah kebenaran dan kebaikan itu?

Dan lebih jahat lagi, manusia mempertanyakan dimanakah Tuhan?

Dan inilah jawabannya, yang saya temukan dalam buku orang Kristen dan tidak saya temukan dalam pemikiran manapun. Tuhan tidak berada dimana-mana, karena Dia ada dimana-mana. Kita manusia yang berdosa yang sudah menghilang dari Tuhan. Kita tidak memperdulikan Dia. Kita sudah berdosa dan melawan Dia. Kita merusak diri kita sendiri dan sesama kita, serta semua yang kita sentuh, dan setelah semua rusak, kita bertanya dimana Tuhan. Itulah yang saya sebut dengan ‘JAHAT’.

Manusia adalah ciptaan Tuhan, dalam kita berlaku hukum pencipta dan ciptaan.

Jika kita tidak mengakui bahwa kita adalah ciptaan Tuhan, maka tidak ada jawaban untuk semua yang mau kita bahas sekarang. Karena jika dunia ini adalah berasal dari -misalnya- Big-Bang dan kita adalah makhluk -misalnya- hasil evolusi yang karena anomali, terjadi secara tiba-tiba dan kebetulan, maka kita tidak memiliki tujuan ultimat dan tidak memiliki nilai apapun. Bagaimana sesuatu yang terjadi secara kebetulan bisa memiliki nilai apapun, apalagi nilai yang tinggi.

Tidakkah segala sesuatu yang terjadi kebetulan tidak memiliki nilai dan tidak memiliki tujuan dan tidak memiliki dasar logika yang sah sebagai sesuatu ‘yang bisa diketahui’ (berdasar pada prinsip ‘ILMU PENGETAHUAN’ yang bisa diketahui, maka sesuatu itu harus bisa diuji coba, berulang kali, dan konsisten. “KEBETULAN” tidak memiliki semua hal itu. Evolusi dan Big Bang teori tidak memiliki ciri ilmu pengetahuan yang sah, namun dipercaya secara buta dan diakui kebenarannya secara keyakinan –baca: iman– yang semu.)

Kita lanjutkan: Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut rencana Sang Pencipta berdasar bentuk dan rupa dan kehendak pencipta yang mulia, maka manusia menjadi satu-satunya makhluk yang bisa berpikir karena manusia memiliki bahasa dan berakal budi (buktinya: cobalah berpikir dan merenungkan sesuatu TANPA MENGGUNAKAN BAHASA, -tidak usah dicoba karena tidak akan bisa-).

“Manusia tahu bahwa ada yang baik dan ada yang benar. Tapi manusia kebingungan membedakan mana yang adalah mana.”

Manusia yang dicipta dengan sangat baik adanya, namun yang sekarang telah kehilangan kemuliaan yang sejatinya ada pada kita karena sebenarnya kita diciptakan seturut dengan peta dan teladan Tuhan. Manusia menjadi musuh Tuhan dan sudah melawan Tuhan dan terhilang. Jangan kita mempertanyakan dimana TUHAN. Kita yang telah lari dari Dia. Dan sejak hari ketika manusia mulai berdosa, manusia tidak pernah mencari Dia. Kita hanya selalu merasa bahwa kita mencari Tuhan. Tapi Tuhan yang sejati tidak bisa ditemukan oleh kita yang berdosa. Tidak ada yang mencari Tuhan, tidak ada seorangpun yang baik, dan tidak seorangpun mencari Tuhan.

Saat bolpen kita hilang, atau baju kita hilang, atau kunci kendaraan kita hilang, atau adik atau anak kita hilang, siapa yang mencari siapa? Yang hilang tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Yang tahu bahwa sesuatu itu hilang adalah ketika sang pemilik atau yang ‘lebih tinggi’ menyadari bahwa sesuatu itu hilang.

Bolpen atau baju atau kunci kendaraan tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Adik atau anak kita baru merasa hilang ketika dia menoleh kesana dan kemari dan tidak menemukan kita. Selama dia tidak mengacu dan kembali memikirkan tentang kita, dia tidak pernah tahu bahwa dia hilang. Bahkan setelah dia merasa hilang, siapa yang lebih mungkin menemukan siapa? Bisakah kita membandingkan diri kita dihadapan pencipta kita seperti anak berusia 3 tahun dengan ibunya? Tidak bisa! Kebijaksanaan ibu tidak bisa dibandingkan dengan kebijaksanaan Tuhan. Dan dihadapan Tuhan, kita yang diciptakan dari debu dan tanah, jauh lebih tolol daripada anak usia 3 tahun. Kita lebih mirip bolpen atau baju atau kunci kendaraan. Bahkan bolpen atau baju atau kunci kendaraan lebih bermakna dan berfungsi daripada kita yang seringkali tidak tau mengapa kita ada dalam dunia dan kenapa kita diciptakan dan untuk apa kita dilahirkan dalam dunia ini. Bolpen, baju dan kunci kendaraan memiliki ‘makna hidup’ yang sangat jelas. Kita manusia seringkali tidak jelas mau berbuat apa dengan kehidupan kita.

Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang mencari manusia. Karena manusia berdosa tidak bisa mencari Tuhan dan menemukan Tuhan.

Manusia dalam keberdosaannya, tetap bisa mengetahui bahwa ada yang benar, dan ada yang salah. Ada yang baik dan ada yang jahat. Ada yang terang, dan ada yang gelap.
Akan tetapi, manusia dalam keberdosaannya tidak tahu apa yang mana. Mana yang baik, mana yang jahat. Dan manusia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Manusia menyukai apa yang dia sukai, manusia menginginkan apa yang dia mau, manusia mengerjakan apa yang menurut dia baik (dan dia merasa baik); namun semua yang dipilih lebih banyak yang salah daripada yang benar. Manusia mencintai, karena merasa cinta itu baik, kemudian mencintai kejahatan dan kesesatan dan kekerasan. Tanpa perspektif yang benar-benar benar, dan pengertian yang sejati, akan ada banyak hal yang dikerjakan manusia yang salah total.

Karena itulah, manusia terus terombang ambing dalam kebingungan, kenapa ada manusia yang tertarik dengan sesama jenis, kenapa ada manusia yang ingin menjadi lawan jenis, kenapa ada manusia yang dengan tidak perduli dan merusak alam, kenapa ada manusia yang tidak perduli menyakiti semua manusia yang lain, kenapa ada manusia yang membenci mereka yang tidak sama dengannya, kenapa ada manusia yang tidak memikirkan dampak dari perbuatannya sekarang yang memiliki potensi untuk merusak hidupnya dimasa depan. Kenapa dan kenapa dan kenapa. Dan kenapa Tuhan tidak campur tangan.

Tuhan tidak punya kewajiban untuk campur tangan.
Bahkan manusia saja tidak merasa perlu campur tangan terhadap barang yang kita ciptakan atau kita miliki. Kita memakai semua yang kita rasa adalah punya kita dengan sesuka hati kita. Itu adalah kuasa yang diberikan kepada kita untuk berbuat sesuka hati kita. Giliran hal buruk terjadi pada kita, mengapa kita menuntut Tuhan untuk melakukan sesuatu buat kita?
Kita bahkan tidak perduli pada Dia dalam seluruh bagian kehidupan kita yang lain, kenapa giliran kita susah, kita marah-marah kepada Tuhan? Tidakkah itu kejahatan dan kekurangajaran bahkan ketika hal sedemikian kita lakukan kepada orang tua atau pasangan hidup kita.

Tundukkanlah hidup kita pada Tuhan yang sejati, pada kebenaran yang sejati, supaya kita memperoleh kebijaksanaan untuk membedakan mana yang baik, mana yang benar, dan mana yang bernilai.

Dengan pengertian akan perspektif yang benar terhadap posisi kita didalam alam semesta ini, seharusnyalah pikiran kita menjadi lebih terbuka dalam perjalanan dan upaya kita mencari kebenaran yang sejati dan penjelasan terhadap berbagai aliran filsafat dan fenomena dan gelombang gerakan-gerakan yang terjadi disekeliling kita dan mengacaukan hidup kita.

Tanpa kebenaran yang menguasai hidup kita, tanpa kita menjadi murid kebenaran dan tunduk mutlak pada kebenaran yang sejati, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk merubah hidup kita. Dengan berada dalam kebenaran, dengan memiliki pengertian dan perspektif yang benar, kiranya kita boleh menjadi manusia-manusia yang lebih baik dan membawa orang-orang disekitar kita menjadi lebih baik. Menjadi berkat buat semua orang disekitar kita, tanpa kecuali, dan menjadikan dunia ini menjadi lebih baik.

Advertisements