Disiplin Diri

Seberapa sering kita mendengar atau bahkan kita sendiri mengucapkan kalimat-kalimat sedemikian, “Saya ingin mendapatkan nilai baik, tapi kemarin saya tidak sempat belajar,” atau “Saya ingin menurunkan berat badan, tapi saya sangat suka sekali gorengan dan kue coklat,” atau “Saya sudah berusaha untuk bangun lebih pagi supaya tidak terlambat masuk kerja, tapi saya tidak punya cukup motivasi,” atau yang terakhir ini “Saya sudah mencoba mencari motivasi baru supaya pekerjaan saya ini tidak terasa membosankan sehingga saya bisa berprestasi.”

Seringkali kita mengira kurangnya motivasi merupakan sebab utama kegagalan kita. Namun saya sangat yakin, kekurangan atau ketiadaan motivasi bukanlah sumber permasalahan disini. Beberapa orang mengira bahwa dirinya membutuhkan motivasi, sementara yang sebenarnya dia butuhkan adalah disiplin diri. Meninjau semua contoh di atas, ingin mendapatkan nilai yang baik sudah merupakan motivasi belajar lebih giat; Kemauan menurunkan berat badan adalah motivasi; Upaya untuk bangun lebih pagi supaya tidak terlambat masuk kerja adalah motivasi; Memiliki keinginan untuk berprestasi, itu sudah merupakan motivasi. Jadi motivasi sudah terlebih dahulu ada melalui kesadaran untuk melakukan sesuatu.

Yang mereka butuhkan bukanlah motivasi, mereka membutuhkan disiplin diri.

Orang yang keras terhadap dirinya sendiri adalah orang yang jarang merasa menyesal. – Confusius

Disiplin didefinisikan sebagai kegiatan aktif untuk mengikuti suatu aturan atau ketentuan perilaku tertentu. Seringkali disiplin berkaitan langsung dengan konsekuensi dan hukuman yang bersifat menekan munculnya perilaku yang menyimpang dari aturan. Dengan demikian, secara prinsip, disiplin diri memiliki makna sebagai upaya aktif untuk menekan keinginan dasar dari diri sendiri yang tidak baik atau tidak benar atau tidak tertib dengan cara mengekang keinginan dan mengendalikan perilaku diri sendiri. Hingga sampai batas tertentu, disiplin diri merupakan suatu bentuk dari motivasi.

Disiplin diri adalah proses yang terjadi ketika seseorang menggunakan pengertiannya untuk mengekang segala keinginan yang tidak sejalan dengan motivasi atau idealisme atau tujuan hidup seseorang. Secara sederhana, disiplin diri berarti menentang kesenangan diri. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang cinta diri (baca: humanis). Segala yang diinginkan oleh manusia selalu mengarah pada hal yang remeh, yang impulsif, dan tidak baik atau tidak benar. Karena itu manusia harus dididik supaya menjadi manusia yang seutuhnya ‘manusia’.

Saya tidak pernah setuju dengan pemikiran dunia psikologi yang menyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Karena saya yakin tidak seorangpun merasa mudah untuk mengendalikan keinginan dirinya sendiri. Anak-anak harus dididik dengan tekun dan berulang-ulang, dengan keras dan susah payah sebelum dia menjadi dewasa dan berperilaku dengan patut. Setelah dia dewasa dan mengetahui segala hal yang baik di dalam kepalanya pun, yang jelek dan salah yang dikerjakannya.

Contoh yang paling saya sukai adalah perihal perilaku merokok. Siapa yang tidak tahu bahwa merokok itu tidak baik dan sangat merusak kesehatan? Mulai dari orang yang tidak bisa membaca hingga yang berpendidikan sangat tinggi, hingga mereka yang duduk dalam pemerintahan yang mengatur jutaan orang dalam sebuah bangsa, tidak mungkin mereka tidak mengetahui bahaya merokok terhadap dirinya dan terhadap orang disekitarnya. Tapi betapa susahnya bagi seseorang ketika bahkan dirinya sendiri berusaha untuk berhenti merokok.

Karena manusia itu pada dasarnya liar dan rusak maka manusia perlu dididik. Mula-mula oleh orang tua, orang yang lebih tua, pendidik, dan hingga tiba waktunya dia harus mendidik dirinya sendiri dan bertanggung jawab penuh terhadap dirinya sendiri. Dengan akal budi dan pikirannya, dia harus bisa mengarahkan hidup dan tingkah laku dalam menentukan langkah yang terbaik untuk mencapai tujuan hidupnya; Mengambil keputusan dan langkah-langkah yang berlawanan dari yang dia sukai atau dia inginkan. Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa dia harus mengambil langkah yang bertentangan dengan apa yang dianggapnya sebagai kesenangan. Dibutuhkan disiplin dan kontrol diri untuk memampukan diri dia sendiri mengendalikan dan mengarahkan dirinya pada tujuan dan keinginan hidupnya yang kadang kala tidak baik atau benar atau bernilai.

Dalam proses mendisiplinkan diri sendiri, seringkali yang menjadi penghambat bagi seseorang untuk berkomitmen penuh pada sebuah tujuan bukanlah tingkatan atau bentuk motivasi yang dia miliki, namun lebih kepada pola pikir yang mendasari sifat dan perilaku yang melawan komitmennya. Banyak orang berpikir bahwa keberhasilan itu adalah kasus tertentu karena orang lain memiliki tingkat disiplin atau motivasi yang jauh lebih besar daripada dirinya. Hal itu sama sekali tidak benar, terlepas dari pengertian tentang bakat dan talenta.

Hard work beats talents if talents do not work hard.

Terjemahan: Kerja keras mengalahkan bakat, jika bakat tidak dikerjakan dengan keras.

Sebagai ilustrasi:
Banyak orang ingin menjadi juara kelas, namun tidak mau melakukan apa yang dilakukan oleh seorang juara kelas. Banyak pula orang yang mau menjadi pintar, namun tidak mau mengorbankan waktu bermainnya untuk membaca banyak buku. Sementara yang lain hanya memiliki motivasi untuk menjadi sehat namun menolak untuk mengekang seleranya terhadap makanan yang tidak sehat. Dan banyak sekali orang ingin menjadi berhasil dalam pekerjaannya, namun tidak mau bekerja keras dan bersusah payah.

Sebenarnya mereka yang memiliki atau berhasil menciptakan kebiasaan yang mendukung suatu idealisme atau tujuan tertentu dengan hidup mereka tidak memiliki kekhususan atau kelebihan dalam kemampuan disiplin atau kontrol diri atau pun motivasi diri yang lebih besar. Mereka bukan orang-orang yang sempurna dan tidak pernah tersandung atau gagal. Mereka tidak selalu konsisten seperti yang sering diperkirakan oleh banyak orang. Kedisiplinan mereka juga pernah gagal dan perilaku mereka terkadang kendor dan tidak sejalan dengan tujuan hidup dan idealisme mereka.

Sang juara kelas tidak selalu berada di depan buku dan belajar. Orang yang pintar tidak selamanya membaca buku dan tidak tahu akan dunia luar. Orang yang hidup sehat tidak berarti tidak mau atau tidak bisa atau tidak pernah menikmati makanan yang dia sukai. Dan stereotype yang umum namun keliru adalah bahwa orang pintar adalah kutu buku, berkacamata tebal, fisik yang lemah, dan tidak pandai bersosialisasi. Padahal Neils Bohr dan Philip Baker adalah pemegang hadiah Nobel yang juga adalah olah ragawan yang ikut dalam Olympic. Dalam filsafat pendidikan Yunani kuno pun faktor fisik telah menjadi perhatian.

Keberhasilan mereka dibandingkan dengan kegagalan semua yang lain ada pada satu kualitas mental dan pola pikir dalam diri mereka yang lebih konsisten, yaitu bahwa mereka secara disiplin dan konsisten melawan diri dan keinginan yang bertentangan dengan idealisme mereka. Dalam diri mereka terdapat pengertian bahwa musuh terbesar mereka bukanlah hal-hal yang diluar, melainkan diri mereka sendiri.

Mereka tidak melihat fenomena di sekitar mereka sebagai permasalahan, namun sebagai tantangan yang harus diselesaikan dan dilalui. Mereka mendahulukan rasionalitas dan logika mereka dan mengabaikan keinginan hati mereka, memikirkan arah dan tindakan yang harus mereka lakukan untuk melampaui tantangan yang mereka hadapi. Mereka tidak dengan mudah mencari alasan untuk pembenaran diri atas sebuah kelalaian atau kegagalan, sebaliknya mereka mengambil tanggung jawab penuh dalam tiap kesalahan yang mereka perbuat dan belajar dari kesalahan itu, memastikan bahwa kesalahan yang sama tidak boleh terulang. Mereka mendidik diri mereka dengan keras, dengan idealisme yang tinggi namun bertindak secara pragmatis.

Bukannya bersikap kasar dan menghajar tanpa belas kasihan terhadap diri sendiri, mereka dengan tegas dan keras mendidik diri dan mencari solusi untuk memperbaiki cara mereka menghadapi situasi yang sama di lain waktu.

Ketika seseorang terlambat bangun saat hari-hari bekerja, bukannya bangun dan kemudian marah-marah pada dirinya sendiri, dia mencari solusi terhadap kegagalannya hari itu. Dia berjanji akan memaksa dirinya dengan lebih keras untuk tidur lebih awal di lain waktu.
Yang celaka adalah dia yang terlambat bangun kemudian marah pada orang disekitarnya. Orang seperti itulah yang tidak akan pernah menjadi manusia yang lebih berkualitas baik.

Itulah yang dikerjakan oleh orang-orang yang ‘sukses’ dalam hidupnya. Mereka dengan sadar penuh akan tanggung jawab mereka terhadap diri mereka dan secara konsisten terus menerus memikirkan cara untuk menjalani hidup mereka dengan lebih baik dalam segala hal. Itu adalah mentalitas, bukan perilaku yang hanya di permukaan. Setiap kegagalan adalah tantangan baru yang harus mereka pelajari agar lain waktu bisa mereka hadapi dengan lebih baik. Orang-orang seperti itu memiliki banyak skenario dan pola pikir di dalam kepalanya tentang bagaimana menghadapi segala situasi berdasarkan kekayaan pengalaman hidup mereka. Mereka adalah orang-orang yang akan semakin lama semakin jarang merasa menyesali tindakan mereka, mental mereka terus diperbaharui oleh pembaruan akal budi mereka.

Discipline is doing what you know needs to be done. Even when you don’t want to do it.

Terjemahan: Disiplin adalah melakukan hal yang kita tahu harus dikerjakan. Bahkan ketika kita tidak ingin melakukannya.

Advertisements

Paradoks Idealisme dan Pragmatisme Dalam Moralitas

Jurang pemisah yang terjadi antara apa yang ‘seharusnya’ dengan apa yang menjadi ‘kenyataannya’ telah lama menjadi topik dalam pemikiran para filsuf besar sejak jaman Yunani kuno hingga jaman modern. Tema besar mengenai ide dan kenyataan mencakup hal yang sedemikian luas dan berupaya membahas dalam dialog-dialog tentang apa yang didefinisikan sebagai yang ‘nyata’ dan apa yang didefinisikan sebagai ‘konsep’, hal-hal yang merupakan ‘kekacauan’ dan ‘keteraturan’ dalam skala kosmik. Pada jaman modern, David Hume adalah filsuf abad ke-18 dengan Filsafat Moral yang membahas secara khusus etika moralitas yang berkenaan dengan apa yang kenyataan dan apa yang seharusnya (Is-Ought Problem).

Dalam skala kecil, implikasi pemikiran yang sangat besar itu sangat berdampak dalam totalitasnya dengan cara kita menjalani hidup dalam keseharian. Kita menyadari bagaimana setiap manusia memiliki pikiran dan bayangan tentang bagaimana dunia yang seharusnya, dunia ide, yang dianggap sebagai dunia yang ideal. Juga tentang dunia yang lebih disadari dan sedang dihidupi, yang dijalani dalam keseharian, realita dan kenyataan yang ternyata tidak seperti yang diharapkan. Jelas keberadaan celah pemisah itu menimbulkan ketegangan-ketegangan tersendiri dalam diri manusia yang hidup. Beberapa orang memiliki celah yang lebih besar dibandingkan orang yang lain, namun tidak ada seorang pun yang memiliki hidup yang berjalan sama persis dengan yang dia bayangkan; dibuktikan dengan tidak ada seorangpun yang puas dengan kehidupan yang dijalaninya.

Professor Pitirim Sorokin, seorang sosiolog dari Harvard University mengatakan bahwa sepanjang sejarah umat manusia, manusia mendambakan masyarakat atau negara yang memilki keadilan dan kesejahteraan sebagai idealisme tertinggi. Namun hal itu tidak pernah tercapai.

Setiap manusia memiliki cita-cita, bayangan, ide, tentang apa yang dia harapkan dalam hidupnya. Itu adalah apa yang menjadi idealisme.

Setiap manusia menjalani kehidupan keseharian, yang seringkali dalam derajat yang tidak sama antara seorang dengan yang lain, berbeda dengan apa yang dia inginkan, rencanakan, atau harapkan. Itu adalah apa yang disebut sebagai dunia pragmatis. Kata pragmatis di sini berbeda dengan kata pragmatis dalam filsafat pragmatisme. Kata pragmatis disini adalah suatu sikap dalam menghadapi sesuatu secara realistis dan dengan menggunakan akal sehat yang lebih mengedepankan aspek praktis daripada aspek teoretis.

Sebagai gambaran, saya bangun di pagi hari ini dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7:20; saya membuka agenda jadwal kegiatan. Jam 9 pagi, mengurus laporan transaksi di bank. Jam 10, ada pertemuan dengan klien. Jam 12 siang, makan siang bersama rekan kerja di kantor. Jam 13, memeriksa laporan bulanan untuk mempersiapkan meeting jam 14. Terlihat cukup teratur dan sangat masuk akal. Tidak ada jadwal yang berkejar-kejaran. Semua baik-baik saja ketika saya melihat jadwal itu.
Hingga saya menyadari bahwa jam dinding di kamar tidur saya mati sejak jam 7:20 semalam. Saya memeriksa jam tangan saya disebelah tempat tidur dan waktu sekarang menunjukkan pukul 8:32.
Saya sudah terlambat. Dan saya harus merubah seluruh idealisme dalam kepala saya mengenai apa yang akan saya kerjakan hari ini dan secara pragmatis menyusun prioritas kegiatan yang harus saya buang jika saya ingin hari ini berlangsung baik. Saya kemudian membatalkan makan siang untuk mengurus laporan transaksi, karena saya sudah terlambat untuk pergi ke bank. Saya tidak bisa membatalkan janji dengan klien dan jelas saya masih harus memeriksa laporan bulanan jika saya mau mengadakan meeting jam 14.

Itu adalah yang fungsional menurut saya. Tetapi mungkin menurut orang lain, dia akan menggeser jadwal ke bank ke keesokan harinya karena satu dan lain alasan. Atau mungkin bagi orang yang lain lagi, dia akan memaksakan diri untuk tetap pada idealismenya kemudian mengerjakan semua yang tertulis di agendanya hari itu dengan perasaan tertekan, menggerutu mengenai situasinya, menyalahkan jam dinding yang mati, berlarian kesana kemari sambil menerobos antrian bank, mengebut di jalan raya, dan seterusnya, supaya hari itu berjalan seturut dengan yang dia mau.

Itulah kehidupan praktis kita sehari-hari.

“Idealis” akan membuat manusia sangat tertekan, mendorong dan memaksa agar apa yang dia mau dapat tercapai, tidak perduli apa yang harus dia lakukan, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Idealisme akan membentuk ambisi dan dorongan yang menjadi motivasi yang kuat.
Namun ditengah-tengah kehidupan ini, begitu banyak hal dan hambatan bisa terjadi karena satu dan lain hal seperti yang digambarkan oleh Murphy’s Law (Murphy’s Law secara sederhana menyatakan bahwa “Anything that can go wrong, will go wrong.” – Terj: apapun yang memiliki potensi untuk bisa menjadi salah/tidak beres, akan berjalan secara salah dan tidak beres.) Orang yang ambisius mengejar idealisme mereka kemudian menyusahkan diri mereka dengan berbagai-bagai kesulitan yang tidak perlu, mengejar hal-hal yang mungkin tidak bernilai terlalu tinggi, namun menjadi sesuatu yang sangat mereka inginkan hingga mereka mau mengorbankan apapun juga, mulai dengan diri mereka sendiri, orang-orang sekitar, teman, hingga keluarga dan orang-orang terdekat termasuk anak dan isteri.

“Pragmatis”, sebaliknya, akan membuat manusia hidup dengan lebih ringan, lebih santai, mau menerima kenyataan hidup bahwa hidup tidak akan menjadi seperti yang kita mau. Orang-orang yang pragmatis tidak mau repot dengan idealisme dan teori-teori dan konsep-konsep yang rumit dan susah. Mereka mengambil jalan pilihan untuk tidak perduli, membiarkan hidup mereka berjalan “mengikuti arus” dan mengarah pada kehidupan yang menganut paham pragmatisme. Mereka pasrah dalam hidup, bersikap cuek, karena hidup sudah cukup susah dijalani dengan kecuekan, apalagi jika masih harus ditambahi dengan pemikiran-pemikiran dan ide-ide dalam kepala mereka yang menuntut mereka kepada suatu bentuk kehidupan lain yang hanya bagus di dalam angan-angan.

Manakah yang lebih baik diantara keduanya? Idealis atau pragmatis?

“Every form of addiction is bad, no matter whether the narcotic be alcohol or morphine or idealism.” – Carl Jung

Terjemahan: Setiap bentuk kecanduan itu buruk, entah apakah candu itu adalah alkohol atau obat bius atau idealisme.

Yang lebih baik adalah memiliki hidup yang idealis DAN SEKALIGUS pragmatis. Yang benar diantara keduanya ada dalam bentuk paradoks, yaitu KEDUANYA BENAR. Idealisme tanpa pragmatisme akan menjadi hidup yang penuh dengan kesulitan karena kita memaksakan dunia yang ideal ke dalam dunia yang penuh dengan kerusakan ini. Pragmatisme tanpa idealisme akan menjadi hidup yang rusak, karena ketiadaan idealisme mendegradasi kehidupan kepada hal yang sepele dan tidak mengandung nilai yang agung maupun nilai yang tinggi.

Sebagai gambaran, moralitas dan ajaran kebaikan mengajak kita untuk hidup dengan memiliki cinta kasih, kebahagiaan, kedamaian, kesabaran, murah hati, baik, setia, lembut, dan pengendalian diri. Dan tidak ada hukum manapun yang menentang hal-hal tersebut. Namun dunia ini penuh dengan orang yang memiliki kedengkian, iri hati, kebencian, kepahitan, kekecewaan, keserakahan, garang, kasar, dan mengumbar emosi dan keinginan.

Bisakah kita secara ideal melakukan hal-hal yang baik ditengah tantangan kehidupan disekitar kita? Jika tidak bisa, apakah kita akan melompat menjadi pragmatis dan hidup dengan cara seperti semua orang lain yang berada di sekitar kita? Jawabannya, saya percaya, adalah kita tidak sanggup hidup secara idealis. Namun kita juga tidak mau hidup sembarangan.

Akan tetapi, ‘tidak mau hidup sembarangan’ pun telah membuat orang lelah karena upaya mereka hilang ditengah-tengah pengorbanan diri mereka, menjadikan mereka menjadi pragmatis juga pada akhirnya. Mereka yang berusaha dengan susah payah hidup baik, menelan kekecewaan demi kekecewaan. Mereka hidup jujur tapi ditipu, mereka hidup baik tapi hidup mereka menjadi sulit dan dibuat sulit oleh mereka yang jahat, dan menjadi seperti orang yang terkutuk, mereka menjaga pekerjaan tangannya dengan moralitas dan kejujuran dan kebaikan dan murah hati, dan usaha mereka seperti tidak berbuah, dan pekerjaan mereka seakan tidak menghasilkan simpanan untuk persediaan dimasa sukar.

Sementara mereka yang hidup sembarangan, hidup liar dan menjadi gemuk dan wajah mereka berseri-seri dengan banyak harta bendanya dan keluarganya berkelimpahan.
Jadi untuk apa hidup menjaga moral?

Jawabannya adalah untuk menjadi teladan, menjadi berkat bagi semua orang lain yang mengalami kesulitan yang sama. Menjadi teladan yang baik dan membuktikan bahwa masih ada kebaikan di dunia ini, dalam anugerah umum ditengah-tengah masyarakat yang jahat. Saya sangat suka kepada teladan Mother Teresa; itulah orang yang agung yang dikenal di seluruh dunia, bukan orang yang kaya, tapi orang yang baik. Dunia kita yang jahat pun mengerti bahwa tidak ada keagungan dalam kekayaan.

Kita menjaga idealisme kita, berupaya mencapai standard yang begitu tinggi, seperti sebuah cita-cita yang digantungkan setinggi langit, dan kita bekerja bersusah payah meraih idealisme kita. Pragmatisme tidak akan mengantarkan manusia ke bulan, dan tanpa idealisme, tidak akan ada upaya perjalanan ke bulan. Keduanya harus berjalan bersama dalam paradoksitas ide dan upaya yang benar. Beradaptasi melalui pragmatisme untuk mencapai idealisme, mencapai kondisi ideal terbaik di antara kondisi yang sudah jauh dari ideal. Mencari keadaan terbaik diantara semua yang jelek. Seperti contoh di atas mengenai hari saya yang diawali dengan jam dinding yang rusak, saya secara pragmatis berusaha untuk menghasilkan yang terbaik dari kondisi yang sudah tidak baik. Itulah paradoks idealisme dan pragmatisme dalam kehidupan.

Mother Teresa Quotes

Terjemahan:

Orang seringkali tidak beralasan, tidak berpikir logis, dan egois.
Maafkanlah mereka.

Kalau engkau berbuat baik, orang mungkin menuduh engkau memiliki motif yang buruk dan mengutamakan kepentingan sendiri.
Namun tetaplah berbuat baik.

Kalau engkau berhasil, engkau akan menemukan teman palsu dan musuh yang sejati.
Namun tetaplah mencapai keberhasilan.

Kalau engkau jujur dan terbuka, orang akan menipu dan mencurangi engkau.
Namun tetaplah jujur dan terbuka.

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun, mungkin dihancurkan orang dalam semalam.
Namun tetaplah membangun.

Jika engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan, beberapa orang mungkin akan menaruh dengki.
Namun tetaplah bersuka cita.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, seringkali dilupakan orang keesokan harinya.
Namun tetaplah berbuat baik.

Berikanlah yang terbaik yang kamu miliki, dan itu mungkin tetap tidak akan pernah cukup.
Namun tetaplah memberi yang terbaik yang kamu miliki.

Karena pada analisa terakhir, itu semua adalah tentang kamu dengan Tuhan-mu.
Semua itu tidak pernah tentang kamu dengan mereka.

Pragmatisme dalam Sosiologi Modern

Pragmatisme, secara sederhana, adalah gerakan filsafat yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan atau pemikiran atau tindakan dianggap benar jika bisa dimaanfatkan atau difungsikan dan berhasil dengan memuaskan. Sebagai ekstensi dari pemikiran ini, pernyataan atau pemikiran atau tindakan yang sifatnya pragmatis, selalu mengarah kepada hal yang praktis, yang harus dapat diterima dengan mudah, dilakukan dengan gampang, dan menyelesaikan masalah dengan hasil yang dapat dilihat dengan segera sebagai takaran “berhasil dengan memuaskan”. Konsekuensinya, segala ide, pemikiran, konsep, teori yang sifatnya tidak bersinggungan langsung dengan aspek praktika dengan segera ditolak.

Di tengah-tengah masyarakat modern, sebagian besar manusia hidup dengan cara yang pragmatis. Entah sadar ataupun tidak sadar, filsafat ini telah mencengkeram pola pikir manusia modern. Entah mereka mengerti atau tidak, pernah mendengar atau bahkan tidak pernah mendengar istilah ini, masyarakat modern melakukan dan mengikuti filsafat pragmatisme.

Contoh yang sangat saya sukai adalah sebagai berikut:

  • Ku tahu yang ku mau  : termasuk didalam gerakan humanisme
  • Emang gua pikirin        : termasuk didalam gerakan post-modernisme
  • Ah, teori                       : termasuk didalam gerakan pragmatisme

Ketidakperdulian terhadap semua pengertian tentang berbagai aliran pemikiran dan filsafat yang berada dalam arus budaya, teknologi, dan sosial dalam masyarakat; termasuk ketidakperdulian terhadap contoh pokok pemikiran yang saya utarakan diatas juga adalah hasil dari arus pragmatisme. Mereka hidup pragmatis, namun mereka tidak tahu bahwa mereka pragmatis. Mereka dalam keseharian hidup humanis, oportunis, utilitarianis, tapi tidak pernah tahu apakah semua -isme itu; kendatipun semuanya sudah mereka kerjakan.

Masyarakat modern semakin tidak memperdulikan konsep dan pemikiran yang baik dan benar dan bernilai. Mereka mengejar segala sesuatu yang sifatnya praktis, menguntungkan, demi kepentingan sendiri, dan untuk masa sekarang ini, detik ini juga. Mereka tidak cukup sabar untuk berpikir jauh kedepan, menabur untuk menuai di kemudian hari. Kita berada dalam dunia berbudaya “mie-instan”. Pemikiran dan pertimbangan jangka panjang, sikap yang perduli terhadap penalaran yang baik telah ditinggalkan. Rasa keingintahuan tentang banyak hal sudah semakin menipis dan diabaikan.

Budaya pragmatisme merusak struktur dan integritas sosial dalam dunia modern dan akan terus berlanjut dalam masa yang akan datang.

Berikut akan saya berikan beberapa contoh akibat filsafat pragmatisme:

  • Siswa sekolah hanya untuk mendapat nilai yang baik, lulus dengan gelar, entah bagaimana pun caranya. Mereka bukan sekolah untuk mencapai suatu taraf ilmu untuk mengejar nilai dan kualitas hidup dan didikan yang tinggi.
  • Pelajar yang belajar satu macam bidang tidak perduli tentang bidang yang lain, tidak perduli tentang kaitan ilmu yang dia pelajari dengan berbagai bidang dalam hidupnya. Mereka tidak tertarik untuk mempelajari hal yang mereka anggap tidak relevan.
  • Anak-anak dididik oleh orang tua dan guru bukan untuk menjadi manusia yang dewasa, bermoral baik, berintegritas, agung, suci, memiliki intelektual yang tinggi. Mereka dididik supaya PANDAI. Untuk apa pandai? Supaya kaya.
    Saya tidak pernah mengerti kaitan pandai dengan kaya. Karena saya banyak sekali melihat orang kaya yang sama sekali rendah dan bodoh.
  • Kualitas manusia yang pragmatis, menghasilkan segala sesuatu yang mutunya tidak tinggi. Barang hasil manufaktur dan industri memiliki kualitas yang rendah karena semakin pendek masa pakai suatu produk, semakin sering produk itu harus dibeli, sehingga keuntungan produsen akan terus meningkat.
  • Manajemen di berbagai bidang termasuk didalamnya mulai dari perusahaan hingga pada pemerintahan sebuah Negara menghasilkan putusan-putusan yang sifatnya pragmatis, spesifik untuk menyelesaikan kasus khusus, namun karena dilakukan tanpa landasan pemikiran dan wawasan yang jelas (karena memikirkan itu semua adalah terlalu merepotkan) sehingga hasil keputusan hampir selalu menimbulkan permasalahan baru.
  • Budaya korupsi juga merupakan hasil dari pragmatisme. Pejabat belajar supaya pintar, pintar supaya kaya. Setelah menjabat, dia perlu kaya. Apapun caranya.
  • Manusia yang katanya beragama memiliki kehidupan yang terpecah-pecah dan fragmental. Mereka hanya baik di dalam rumah ibadah, hanya baik ketika menjalankan ritual agama, namun hidupnya di luar menjadi liar karena mereka menganggap bahwa hidup suci di dalam dunia keseharian dan dunia kerja itu tidak praktis dan merugikan. Sebuah perilaku yang merepotkan dan tidak ada manfaatnya.

Semuanya di atas adalah sebagian contoh kecil pengaruh filsafat pragmatisme dalam masyarakat. Dan masalah terbesar dengan masyarakat pragmatis adalah tidak ada seorangpun mau tahu mengenai apakah itu pragmatisme karena mempelajari dan mengerti pragmatisme itu sangat tidak praktis dan merepotkan dan tidak memiliki nilai apapun.

Untuk menyelesaikan membaca tulisan ini pun mereka tidak mau, karena ini hanya teori kosong. “Ah, teori..!” Saya yakin saya sudah mendengar kata itu diucapkan pada saat kalimat pertama tulisan ini dibaca, tapi mereka tidak tahu bahwa saya sudah tahu bahwa mereka tidak mau tahu.

Di akhir pembahasan ini, saya perlu memberikan keseimbangan, –katakanlah– sebuah paradoks. Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa pragmatisme adalah keburukan yang harus dihindari sepenuhnya.

Dalam realita kehidupan kita yang jauh dari ideal dalam idealisme yang ada pada diri kita tentang segala sesuatu yang baik, yang benar, dan yang bernilai tinggi yang harus kita capai, kita harus hidup dengan cara yang sedemikian sehingga kita hidup seturut dengan kondisi masyarakat. Dengan kata lain: kita perlu hidup secara –sampai pada suatu titik–  pragmatis.

Kita akan sangat kesulitan dan terjepit jika kita hidup dalam konstruksi pikiran yang idealis sepanjang waktu. Namun itu tidak berarti bahwa kita boleh hidup berlawanan dengan idealisme untuk berada dalam pragmatisme total. Di sinilah letak paradoks kebenaran antara pragmatisme dan idealisme.

Dengan demikian, saya akan menyodorkan sebuah definisi tentang pragmatisme dalam paradoksnya dengan idealisme dari kitab orang Kristen:

Pragmatisme adalah mencari cara hidup yang terbaik dari semua yang sudah memburuk untuk mencapai tujuan dari suatu idealisme ditengah-tengah kehidupan dalam dunia nyata yang jauh dari ideal. Bukannya idealisme menjadikan kita bersungut-sungut dan mengeluh bahwa dunia ini seharusnya tidak begini. Ketika kita hidup pragmatis, kita menerima kenyataan bahwa dunia ini adalah sedemikian rusak dan tidak akan berubah, sekalipun kita tidak menyukainya. Kita menggali segala kemungkinan dan mengaitkan segala hubungan yang mengatur hidup kita secara totalitas dan menggunakan kekuatan konseptual itu untuk menarik dunia disekitar kita menjadi lebih baik.

Pragmatisme memiliki makna bahwa kita melihat kepada pemikiran dan perilaku kita sambil menanyakan pada diri kita sendiri, apa yang bisa saya perbuat? Apakah pemikiran dan perilaku saya membawa saya semakin hari semakin baik menuju kepada idealisme saya? Apakah hidup saya semakin hari semakin diproses dan semakin diperbaharui seturut dengan pembaharuan akal budi saya?

Contoh mudahnya adalah sedemikian:
Ketika kita bersama-sama dengan semua pemakai jalan raya; keadaan mulai memburuk dengan kemacetan dan semua orang mulai tidak mau mengalah dan saling serobot mendahulukan kepentingan mereka masing-masing dengan sejuta alasan dan pembenaran diri.

Idealisme dalam diri kita mulai mengkritisi kondisi tersebut, seharusnya kalau mau bergiliran jalan dan tidak saling serobot, kita semua akan mendapat gilirannya dan semua akan berakhir baik. Tapi kita pun berpikir, kalau saya terus mengalah, saya akan jadi korban dan saya tidak akan mendapat giliran untuk jalan.

Secara pragmatis, kita akan mulai ikut main dengan situasi dan mulai ikut menyerobot.
Secara idealis, kita akan menanti dan mengalah dan kita akan berada dalam kemacetan itu selama-lamanya.
Benarkah demikian? Tidak bisakah kita menilai situasi secara berbeda selain daripada pragmatis atau idealis? Atau mungkinkah kita dalam waktu yang sama, bersikap pragmatis DAN idealis? Mengambil sikap paradoks, tidak menambahi kekacauan, namun juga tidak mengalah dengan buta dan mengorbankan diri sendiri; Mengerti kewajiban kita yang sama dengan pengguna jalan yang lain, namun tidak bersikap sembarangan dalam menggunakan hak kita.

A beautiful thing is never perfect.

Terjemahan: Sesuatu yang indah tidak pernah sempurna.

Fanatisme dari perspektif Psikologi

Fanatisme atau fanaticism adalah sebuah pandangan atau pendapat yang ekstrem mengenai suatu pemikiran ataupun objek tertentu; seringkali lebih dikaitkan terhadap suatu konsep kepercayaan atau dogma atau paradigma. Fanatisme tidak pernah menarik untuk dibahas jika hanya mengarah pada merek mobil, alat elektronik, pakaian atau asesoris, atau gaya hidup dan kegemaran akan makanan. Namun ketika fanatisme muncul pada sebuah pandangan politik atau ideologi, issue ini menjadi sangat menarik untuk diperhatikan.

Dikatakan “menarik untuk diperhatikan” karena ketika perilaku fanatisme dibandingkan antara yang mengarah kepada objek tertentu dan yang mengarah kepada politik atau ideologi tertentu, maka akan ditemukan bahwa tidak seorangpun berkenan untuk “berdebat” atau “berargumentasi” sengit ketika membicarakan dan membandingkan objek tertentu. Sebagai contoh, tidak seorangpun berkelahi ketika berbicara tentang fanatisme terhadap merek mobil A dengan merek mobil B. Tidak seorangpun berargumen sengit ketika berbicara tentang fanatisme terhadap makanan dari restoran A dengan makanan yang sama dari restoran B.

Hampir dapat dipastikan, tentunya pendapat dan pandangan masing-masing pihak terhadap objek tertentu dapat diperdebatkan karena telah ada perbedaan analisa ketika membandingkan antara objek satu dengan objek lain. Perbedaan analisa tersebut muncul karena ada perbedaan sudut pandang secara kualitas baik dari segi kebenaran, nilai, moralitas, kaidah, manfaat, maupun variabel yang lain. Itulah sebagian kecil dari variabel-variabel yang mendasari dan akan menentukan mengapa seseorang mengambil sikap (baca: fanatisme) tertentu terhadap suatu objek.

Atau benarkah demikian adanya? Benarkah bahwa fanatisme adalah produk dari pertimbangan rasional yang sudah teruji dan dipertimbangkan serta diketahui secara tuntas, atau mendekati tuntas, atau minimal telah melingkupi sebagian besar pokok-pokok pikiran. Hal lain lagi yang menarik untuk diperhatikan.

Untuk dapat membandingkan dua merek pakaian, dan kemudian memilih merek tertentu yang akan disukai secara konsisten (baca: fanatik), seseorang haruslah melalui sebuah proses kognitif untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan seakurat mungkin, kemudian dapat ditarik sebuah kesimpulan yang valid, baik dan benar. Kedua merek tersebut dibandingkan, mulai dari desain dan siapa desainernya, pemilihan bahan, kehalusan pembuatan, dan banyak faktor yang lain. Bagaimana dengan memilih sebuah partai politik tertentu, atau ideologi tertentu, atau agama tertentu? Tanpa memiliki data statistik yang akurat, saya cukup yakin bahwa sebagian kita akan setuju terhadap pandangan saya bahwa ‘banyak’ orang-orang yang tidak melakukan proses kognitif yang seharusnya dia jalankan ketika mereka menjatuhkan pilihan pada objek politik atau ideologi tertentu.

Jika demikian halnya, bahwa pengambilan keputusan tersebut tidak didasarkan pada proses berpikir yang mengarah pada pengambilan kesimpulan, lalu dengan apakah seseorang memutuskan pilihan pada objek politik atau ideologinya? Dengan presuposisi apa dia melakukan pemilihan? Dengan perasaan belaka kah? Apakah perasaan tersebut bisa dipertanggungjawabkan dan dijelaskan?

Jawabannya adalah dengan keyakinan (baca: iman).

Tetapi keyakinan itu sendiri tidak akan pernah cukup jika tidak kemudian dilanjutkan dengan proses kognitif yang memadai. Cara berpikir pragmatis (atau filsafat pragmatisme) yang melanda era jaman post-modern telah membuat manusia sangat malas berpikir dan menghilangkan sifat keingintahuan tentang begitu banyak hal. Bahkan bisa dikatakan bahwa mereka tidak perduli dengan apapun yang terjadi disekitar mereka kecuali mereka ikut merasakan dampaknya. Mereka tidak berusaha belajar dari pengalaman orang lain, mereka tidak berusaha mengerti dalam keluasan dan wawasan serta sudut pandang yang kritis tentang apapun, mereka bahkan tidak berniat belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Keyakinan adalah yang mendahului semua proses pembelajaran kita sejak masa kecil kita. Kita yakin bahwa kalimat yang diucapkan oleh guru kita adalah benar. Kita yakin bahwa tulisan yang berada dalam buku pelajaran kita adalah benar. Kita yakin bahwa sekolah yang kita masuki akan memberikan kita ilmu yang benar. Tanpa keyakinan, kita tidak akan belajar apapun juga.

“Credo ut intelligam” (I believe so that I may understand) – Anselm of Canterbury

Terjemahan: Aku percaya supaya aku bisa mengerti

Fanatisme dalam dunia politik dan ideologi/agama adalah seperti meyakini bahwa “1 + 1 = 2”. Itu saja. Sesederhana itu. Atau paling tidak, itu yang saya kira. Seorang fanatik adalah orang yang sedemikian yakin bahwa dia sedang mempercayai dan melakukan kebenaran, dia tidak perduli dengan pendapat orang lain, dia tidak dapat diyakinkan sebaliknya. Percaya diri. Itu seharusnya bagus. Paling tidak, saya kira itu bagus.

Tentu saja itu akan menjadi mudah ketika seseorang dihadapkan pada “1 + 1 = 2”, atau ketika dia dihadapkan pada persoalan untuk memilih pakaian atau mobil atau makanan seperti pada contoh kita diatas. Tapi ternyata fanatisme tidak sesederhana yang saya kira.

Fanatisme lebih mengarah pada perilaku obsesif yang ekstrem di dalam diri seseorang untuk meyakinkan dirinya sendiri mengenai pandangannya terhadap objek fanatismenya. Dia meyakinkan dirinya sendiri sampai pada tahap bahwa dia yakin dan percaya bahwa dia tidak bersalah dalam pandangannya terhadap sebuah objek. Ini adalah sebuah keyakinan, ini bukan lagi tentang pemikiran dan pertimbangan, ataupun proses kognitif.

Lebih jauh lagi, mereka tidak hanya yakin bahwa mereka adalah benar. Melainkan mereka yakin bahwa mereka tidak mungkin bersalah, dan tidak akan pernah bersalah mengenai konsep politik atau ideologi atau bahkan dalam seluruh sistem kepercayaan yang mereka miliki. Dan karena mereka sedemikian yakin bahwa mereka adalah pada dasarnya merupakan kebenaran, mereka akan memunculkan pandangan itu dalam perilaku mereka dengan derajat yang berbeda-beda.

Beberapa menunjukkan dalam sikap defensif yang berlebihan dengan ketakutan bahwa keyakinan mereka akan dirobohkan kemudian kehilangan keyakinan yang menjadi jati diri mereka. Yang lainnya menunjukkan sikap ofensif dengan selalu membicarakan topik yang sama dan mengajak orang lain berdebat untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan menunjukkan sikap permusuhan ketika argumennya dipatahkan.

Orang-orang tersebut menjaga fanatisme yang mereka miliki bukan dengan pengetahuan yang cukup, melainkan dengan keyakinan yang mereka lindungi sedemikian sehingga mereka secara konsisten mencari untuk bergabung dengan orang-orang yang setuju dengan mereka dan memupuk kepercayaan diri mereka dengan cara yang salah. Dan sekali lagi perkiraan saya salah. Itu tidak bagus.

Tadi saya mengambil contoh mengenai proses belajar. Bahwa untuk bisa belajar, kita harus memiliki keyakinan bahwa sumber pembelajaran kita adalah benar. Keyakinan adalah yang memulai segala proses pembelajaran kita. Kita harus yakin (baca: fanatik) dulu bahwa apa yang kita yakini adalah kebenaran. Dan proses ini mendahului proses kognitif yang kita miliki. Ini adalah paradoks dalam proses pembelajaran. Bagaimana kita bisa yakin bahwa yang kita pelajari itu adalah benar jika kita belum tahu apakah yang akan kita pelajari itu benar? Tapi jika kita tidak mau yakin bahwa apa yang kita pelajari itu benar, bagaimana caranya kita bisa belajar apapun juga?

“I do what I think and I think what I believe.”  Francis Schaeffer

Terjemahan: Aku melakukan apa yang aku pikirkan dan aku memikirkan apa yang aku percaya

TIdak ada yang salah dengan fanatisme yang benar, yang berdasar, yang berpengetahuan. Tidak ada yang salah dengan memiliki keyakinan terhadap apapun juga, baik objek, atau politik, atau ideologi, atau agama tertentu, namun keyakinan itu haruslah dikonfirmasi dengan pengetahuan yang lengkap. Karena keyakinan yang benar harus menuntut pengetahuan yang menopang dia secara cukup. Keyakinan yang benar harus menuntun orang kepada pengertian yang membuktikan bahwa keyakinan itu adalah memang benar adanya.

Kembali pada contoh proses belajar diatas, keyakinan tentang sumber pembelajaran yang benar itu haruslah dikonfirmasi dengan mengkonfrontasikan keyakinan itu dengan apa yang kita pelajari. Apakah 1 + 1 adalah benar-benar 2? Apakah cahaya putih yang kita lihat itu adalah cahaya yang berwarna putih ataukah warna putih itu dihasilkan dari spektrum warna yang menimbulkan cahaya yang kita sebut berwarna “putih”? Apakah partai politik tertentu berisi orang-orang yang memiliki kualifikasi yang baik, memiliki moral yang baik, sehingga dikemudian hari dia akan menepati janjinya dan tidak akan merugikan rakyat dan negara yang dipimpinnya? Apakah nilai moral yang baik itu secara definisi dan praktika?

Berdasar pada kutipan Francis Schaeffer, “aku melakukan apa yang aku pikirkan dan aku memikirkan apa yang aku percaya”; apakah kepercayaan tertentu menghasilkan nilai moral tertentu? Bisakah ajaran dan kepercayaan yang baik menghasilkan nilai moral yang tidak baik? Sebaliknya, bisakah ajaran dan kepercayaan yang tidak baik menghasilkan manusia yang berkualitas baik?

Kita mengenal peribahasa, “dari mulut anjing, tidak bisa keluar gading.” Dari yang berkualitas rendah, tidak bisa keluar sesuatu yang agung. Dan kita juga mengenal peribahasa, “tidak ada gading yang tidak retak.” Yang bermakna bahwa dari yang agung pun tidak luput dari kecacatan, dan memang ada gading yang retaknya banyak, jadi gading yang dibuang ke tempat sampah, namun ada gading yang retaknya sedikit, yang harganya sangat amat mahal.

Fanatisme (seperti halnya pembelajaran), boleh keluar dari suatu keyakinan (baca: iman) karena memang sedemikian sepatutnya. Namun fanatisme yang berhenti pada keyakinan itu sendiri adalah sesuatu yang sangat rapuh dan tidak bertanggung jawab. Seperti halnya saya mengatakan bahwa nasi goreng di warung seberang kantor saya itu sangat enak. Saya yakin itu enak, karena baunya harum dan kalau siang ramai pembeli. Saya tidak pernah makan disana, saya tidak mau makan disana. Tapi menurut saya, yakin bahwa nasi goreng disana enak. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

Pimpinan politik yang saya pilih itu baik. Karena parasnya bagus. Karena kata-katanya manis dan sedap didengar. Karena dia memberikan uang kepada saya untuk ikut kampanye, pasti dia murah hati dan baik. Pokoknya dia baik. Saya tidak kenal dia. Tapi menurut saya, yakin dia baik. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

Keyakinan saya benar. Saya yakin pemimpin agama saya mengajarkan yang baik. Pokoknya menurut saya, yakin bahwa itu baik. Saya tidak perlu tahu apapun juga. Bagaimana kedengarannya menurut Anda?

“Faith seeking understanding”  Anselm of Canterbury

Terjemahan: Keyakinan menuntut pengertian