Q: Bukankah semua agama itu sama, mengajarkan kebaikan dan mendatangkan keselamatan?

AAda tiga pertanyaan dalam satu kalimat tanya tersebut. Pertanyaan tersebut hanya bisa terjawab melalui –paling sedikit– dalam empat pembahasan.

Yang pertama adalah apakah yang dimaksud dengan keselamatan? Ada agama dan kepercayaan yang mengatakan bahwa keselamatan itu adalah surga. Jika kita beragama, maka kita akan masuk surga.
Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu adalah kita akan hidup kaya raya, makmur dan sejahtera, dijauhkan dari segala macam kesulitan, sakit penyakit, bahaya, baik dalam dunia ini, maupun akhirat.
Sementara yang lain mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita akan melalui kehidupan yang ini, untuk menuju pada kehidupan yang lain, yang berikutnya, yang lebih baik daripada kehidupan yang sekarang kita jalani.
Dan yang lain lagi mengatakan bahwa keselamatan itu berarti kita tidak akan mati secara rohani, kita akan hidup setelah jasmani kita dalam kehidupan yang fana ini berakhir; dan kita akan hidup sampai selama-lamanya.

Jadi manakah yang benar dengan pendapat tersebut? Setiap agama dan kepercayaan memiliki definisi yang berbeda tentang “KESELAMATAN”. Ada agama dan kepercayaan yang menggambarkan bahwa keselamatan yang adalah surga itu adalah kehidupan yang mirip dengan kehidupan kita yang sekarang, namun disana tidak terdapat kesulitan, sakit penyakit, kematian, malapetaka, dan seterusnya. Yang lain menggambarkan bahwa kehidupan di surga itu adalah kehidupan sebagai pertapa dan kekal, dalam ketenangan dan kedamaian yang tiada akhir. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa kehidupan di surga itu adalah kemewahan dan kepuasan dan pemenuhan segala keinginan manusia yang tidak tercapai di dunia ini, segala uang, logam mulia, batu mulia, tempat tinggal seperti istana, kehidupan seperti raja, dan mengumbar segala nafsu, keinginan, kenikmatan lidah dan seksualitas, sejauh dan sebanyak yang dapat kita bayangkan dengan imajinasi manusia, bahkan lebih daripada batasan imajinasi kita.

Yang kedua adalah berkenaan dengan tujuan akhir hidup manusia, kita akan mulai masuk dalam pembahasan untuk menjawab pertanyaan tersebut, mulai dari yang paling akhir. Agama mendatangkan keselamatan. Kita semua adalah manusia. Manusia itu bisa bersalah, dan sudah bersalah, dan tidak seorangpun yang tidak pernah tidak bersalah. Karena itu manusia akan binasa, karena kesalahan kita sendiri. Air yang kita minum, berusaha kita bersihkan dari air yang kita cemari. Makanan yang kita makan, mengandung segala kemajuan teknologi dan rekayasa yang secara perlahan dan komulatif meracuni kita. Sebagian dari kita dengan tubuh yang lebih lemah menderita penyakit yang aneh-aneh, mulai dari kanker, kerusakan organ, keracunan logam berat atau kimia, penyakit multiple sclerosis, autoimun, dan seterusnya. Udara yang kita hirup sudah kita cemari sendiri dengan pencemaran udara, berbagai jenis radiasi, penebangan hutan, perusakan alam, eksploitasi sumber daya, kerusakan keseimbangan jumlah populasi flora dan fauna, dan seterusnya. Langsung ataupun tidak langsung, kita semua terlibat dan ikut sama bersalahnya, dan kita semua akan binasa karena kesalahan kita sendiri. Dunia sudah terlalu rusak dan perbaikan yang kita lakukan akan menjadi penyebab kerusakan yang berikutnya. Hal itu adalah akibat kesalahan kita semua, tidak terelakkan dan tidak ada yang dapat kita lakukan selain kita berusaha bertahan.

Namun sebagai manusia, kita juga memiliki roh. Tidak ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia jasmani kita, dan untunglah jasmani kita tidak mengandung unsur kekekalan. Tapi ada yang bisa kita kerjakan tentang dunia rohani kita yang akan terus berlanjut, bahkan ketika dunia jasmani ini sudah lewat. Kita bisa dimampukan untuk memilih jalan hidup yang tepat, yang bisa membawa kita pada keselamatan, menghindarkan kita daripada kematian rohani yang sifatnya selama-lamanya dan kekal.

Disinilah isu tentang agama menjadi sangat penting. Melihat kembali tentang definisi masing-masing agama tentang keselamatan, manakah definisi yang benar? Kesalahan memilih jalan hidup dan mengikuti ajaran yang salah adalah meresikokan kehidupan kekal dalam roh. Apakah kita akan diselamatkan didalam roh atau kita akan tidak terselamatkan didalam roh sampai selama-lama-lamanya.

Untuk menentukan kita akan mau makan apa sore ini, kita memilih. Memilih makanan yang dimasak oleh seseorang di suatu rumah makan, yang memiliki kualitas yang sesuai dengan yang kita harapkan. Demikian pula untuk memilih pakaian, sekolah, universitas, calon istri dan suami, dan seterusnya. Kita memilih dan mempertimbangkan. Untuk bisa memilih dan mempertimbangkan, kita mengambil informasi dan data, kita analisa antara informasi dan data yang satu dengan yang lain. Kita bersikap terbuka, objektif, dan rela hati untuk mempelajari setiap aspek, kemudian mengambil keputusan berdasar pada informasi yang kita kumpulkan.

Itu semua rela kita lakukan untuk memilih makanan, pakaian, sekolah, pasangan hidup, dan seterusnya. Padahal itu semua sifatnya sementara. Jarang dari kita yang benar-benar mempertimbangkan dan mempelajari agama dan kepercayaan yang kita pegang, membandingkannya dengan agama lain untuk kemudian kita pilih. Tidak, kita tidak melakukan itu. Kita bahkan seringkali tidak mempelajari baik-baik dan secara mendalam agama yang sedang kita yakini dengan buta.
Kita bisa penasaran beda antara panci dan loyang yang satu dengan yang lain hanya karena beda harga, yang satu lebih murah daripada yang lain. Atau kita ingin tahu beda antara smartphone yang satu dengan yang lain, mana yang lebih bagus, mana yang lebih berkualitas.

Tidakkah roh kita yang kekal lebih penting daripada dompet kita, panci atau smartphone?
Inilah bahasan yang ketiga, yaitu bagaimana kita bisa tidak perduli dan tidak mau mempelajari dan mengenali siapa atau apa yang kita percaya yang katanya bisa membawa kita pada keselamatan? Bagaimana kita bisa secara pragmatis menganggap bahwa semua kebaikan adalah sama dan semua ajaran adalah sama rata baik adanya. Sementara jelas kelihatan bahwa agama dan kepercayaan yang satu menyatakan bahwa binatang itu makhluk hidup yang tidak boleh kita bunuh dan makan. Sementara agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua boleh kita nikmati dan makan dengan bertanggung jawab. Agama dan kepercayaan yang lain mengatakan bahwa semua manusia adalah ciptaan yang paling tinggi dan darahnya sangat berharga sehingga tidak boleh dibunuh. Sementara ada agama dan kepercayaan yang lain menyatakan bahwa darah manusia itu boleh dikorbankan dan darah manusia yang satu lebih berharga dibanding darah manusia yang lain.

Bagaimana mungkin kita bisa dengan polos mengatakan bahwa semua agama itu sama?

Sekarang, bahasan yang keempat, apa yang hendak kita lakukan dengan perbedaan itu? Kita bisa tidak perduli dan tetap menganggap semua agama sama. Kita bisa mulai belajar, membandingkan, dan mencari kebenaran sejati, yang benar-benar benar. Kita bisa menutup diri dan menganggap semua agama salah dan agama kita yang paling benar.
Manusia menajamkan manusia, dengan kritik yang membangun, berdiskusi, berbicara, membuka diri; ilmu pengetahuan bertumbuh dengan sangat cepat karena setiap orang bisa saling mendukung dan melengkapi. Demikian pula dalam hal filsafat, filsuf yang satu memberikan pendapat dan pengajaran, dan filsuf yang lain memberikan tanggapan, dan kita mempelajari kemajuan berpikir mereka dan meningkatkan kualitas hidup intelektual kita.

Demikian pula halnya dengan agama dan kepercayaan kita. Menutup diri dengan fanatisme adalah sama dengan menjadi katak dalam tempurung. Seperti anak kecil yang menganggap dirinya sangat pandai dan paling tahu dan paling benar. Dia tidak menerima pengajaran dari orang lain. Dan kita semua tahu kemana anak kecil sedemikian akan berakhir jikalau didikan tidak diterapkan dalam dirinya.

Kebenaran itu persis seperti singa, dimanapun dia berada, dia akan selalu ditakuti dan membuat perbedaan. Kita yang mempercayai dan memelihara singa yang hidup, kita tidak perlu membela singa itu pada saat ada musuh mau menyerang. Singa itu bisa membela dirinya sendiri, dari dalam dirinya sendiri, dia akan menunjukkan bahwa dia hidup, bahwa dia layak ditakuti. Yang perlu dibela adalah “singa-singa”-an; singa palsu. Singa itu lain dengan singa-singa-an.

Kalau saudara mengeluarkan uang 500juta untuk membeli mobil, kemudian sebuah mobil-mobil-an disodorkan kepada saudara, maka saudara akan marah besar. Karena saudara tahu bahwa mobil itu berbeda dengan mobil-mobil-an. Setelah saudara membawa pulang mobil yang sejati, dan ada orang yang mengatakan bahwa Anda tolol karena membeli mobil-mobil-an, Anda hanya akan tersenyum. Itu pasti orang gila. Anda tidak marah, karena Anda tahu, Anda membayar 500jt untuk membeli mobil, dan mobil itu yang Anda bawa pulang.

Demikian pula dengan kebenaran yang sejati, agama yang sejati, kebenaran yang sejati. Setelah saudara mendapatkan kebenaran yang sejati, dan ada yang mengatakan bahwa kebenaran itu palsu, maka Anda akan tersenyum dan bisa mulai menjelaskan dan memberikan argumen. Karena Anda sudah belajar, dan sudah mengerti, dan sudah memilih dan mendapat kebenaran yang sejati.

Menjawab pertanyaan diatas: Bukankah semua agama itu sama? Hanya kalau Anda tidak pernah belajar, maka semua agama itu sama. Sama seperti semua mobil itu sama, sama seperti semua singa itu sama. Sama seperti semua perempuan/laki itu sama, asal perempuan/laki, boleh dijadikan istri/suami.

“The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.”― Augustine of Hippo

Advertisements

Disiplin Diri

Seberapa sering kita mendengar atau bahkan kita sendiri mengucapkan kalimat-kalimat sedemikian, “Saya ingin mendapatkan nilai baik, tapi kemarin saya tidak sempat belajar,” atau “Saya ingin menurunkan berat badan, tapi saya sangat suka sekali gorengan dan kue coklat,” atau “Saya sudah berusaha untuk bangun lebih pagi supaya tidak terlambat masuk kerja, tapi saya tidak punya cukup motivasi,” atau yang terakhir ini “Saya sudah mencoba mencari motivasi baru supaya pekerjaan saya ini tidak terasa membosankan sehingga saya bisa berprestasi.”

Seringkali kita mengira kurangnya motivasi merupakan sebab utama kegagalan kita. Namun saya sangat yakin, kekurangan atau ketiadaan motivasi bukanlah sumber permasalahan disini. Beberapa orang mengira bahwa dirinya membutuhkan motivasi, sementara yang sebenarnya dia butuhkan adalah disiplin diri. Meninjau semua contoh di atas, ingin mendapatkan nilai yang baik sudah merupakan motivasi belajar lebih giat; Kemauan menurunkan berat badan adalah motivasi; Upaya untuk bangun lebih pagi supaya tidak terlambat masuk kerja adalah motivasi; Memiliki keinginan untuk berprestasi, itu sudah merupakan motivasi. Jadi motivasi sudah terlebih dahulu ada melalui kesadaran untuk melakukan sesuatu.

Yang mereka butuhkan bukanlah motivasi, mereka membutuhkan disiplin diri.

Orang yang keras terhadap dirinya sendiri adalah orang yang jarang merasa menyesal. – Confusius

Disiplin didefinisikan sebagai kegiatan aktif untuk mengikuti suatu aturan atau ketentuan perilaku tertentu. Seringkali disiplin berkaitan langsung dengan konsekuensi dan hukuman yang bersifat menekan munculnya perilaku yang menyimpang dari aturan. Dengan demikian, secara prinsip, disiplin diri memiliki makna sebagai upaya aktif untuk menekan keinginan dasar dari diri sendiri yang tidak baik atau tidak benar atau tidak tertib dengan cara mengekang keinginan dan mengendalikan perilaku diri sendiri. Hingga sampai batas tertentu, disiplin diri merupakan suatu bentuk dari motivasi.

Disiplin diri adalah proses yang terjadi ketika seseorang menggunakan pengertiannya untuk mengekang segala keinginan yang tidak sejalan dengan motivasi atau idealisme atau tujuan hidup seseorang. Secara sederhana, disiplin diri berarti menentang kesenangan diri. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang cinta diri (baca: humanis). Segala yang diinginkan oleh manusia selalu mengarah pada hal yang remeh, yang impulsif, dan tidak baik atau tidak benar. Karena itu manusia harus dididik supaya menjadi manusia yang seutuhnya ‘manusia’.

Saya tidak pernah setuju dengan pemikiran dunia psikologi yang menyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Karena saya yakin tidak seorangpun merasa mudah untuk mengendalikan keinginan dirinya sendiri. Anak-anak harus dididik dengan tekun dan berulang-ulang, dengan keras dan susah payah sebelum dia menjadi dewasa dan berperilaku dengan patut. Setelah dia dewasa dan mengetahui segala hal yang baik di dalam kepalanya pun, yang jelek dan salah yang dikerjakannya.

Contoh yang paling saya sukai adalah perihal perilaku merokok. Siapa yang tidak tahu bahwa merokok itu tidak baik dan sangat merusak kesehatan? Mulai dari orang yang tidak bisa membaca hingga yang berpendidikan sangat tinggi, hingga mereka yang duduk dalam pemerintahan yang mengatur jutaan orang dalam sebuah bangsa, tidak mungkin mereka tidak mengetahui bahaya merokok terhadap dirinya dan terhadap orang disekitarnya. Tapi betapa susahnya bagi seseorang ketika bahkan dirinya sendiri berusaha untuk berhenti merokok.

Karena manusia itu pada dasarnya liar dan rusak maka manusia perlu dididik. Mula-mula oleh orang tua, orang yang lebih tua, pendidik, dan hingga tiba waktunya dia harus mendidik dirinya sendiri dan bertanggung jawab penuh terhadap dirinya sendiri. Dengan akal budi dan pikirannya, dia harus bisa mengarahkan hidup dan tingkah laku dalam menentukan langkah yang terbaik untuk mencapai tujuan hidupnya; Mengambil keputusan dan langkah-langkah yang berlawanan dari yang dia sukai atau dia inginkan. Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa dia harus mengambil langkah yang bertentangan dengan apa yang dianggapnya sebagai kesenangan. Dibutuhkan disiplin dan kontrol diri untuk memampukan diri dia sendiri mengendalikan dan mengarahkan dirinya pada tujuan dan keinginan hidupnya yang kadang kala tidak baik atau benar atau bernilai.

Dalam proses mendisiplinkan diri sendiri, seringkali yang menjadi penghambat bagi seseorang untuk berkomitmen penuh pada sebuah tujuan bukanlah tingkatan atau bentuk motivasi yang dia miliki, namun lebih kepada pola pikir yang mendasari sifat dan perilaku yang melawan komitmennya. Banyak orang berpikir bahwa keberhasilan itu adalah kasus tertentu karena orang lain memiliki tingkat disiplin atau motivasi yang jauh lebih besar daripada dirinya. Hal itu sama sekali tidak benar, terlepas dari pengertian tentang bakat dan talenta.

Hard work beats talents if talents do not work hard.

Terjemahan: Kerja keras mengalahkan bakat, jika bakat tidak dikerjakan dengan keras.

Sebagai ilustrasi:
Banyak orang ingin menjadi juara kelas, namun tidak mau melakukan apa yang dilakukan oleh seorang juara kelas. Banyak pula orang yang mau menjadi pintar, namun tidak mau mengorbankan waktu bermainnya untuk membaca banyak buku. Sementara yang lain hanya memiliki motivasi untuk menjadi sehat namun menolak untuk mengekang seleranya terhadap makanan yang tidak sehat. Dan banyak sekali orang ingin menjadi berhasil dalam pekerjaannya, namun tidak mau bekerja keras dan bersusah payah.

Sebenarnya mereka yang memiliki atau berhasil menciptakan kebiasaan yang mendukung suatu idealisme atau tujuan tertentu dengan hidup mereka tidak memiliki kekhususan atau kelebihan dalam kemampuan disiplin atau kontrol diri atau pun motivasi diri yang lebih besar. Mereka bukan orang-orang yang sempurna dan tidak pernah tersandung atau gagal. Mereka tidak selalu konsisten seperti yang sering diperkirakan oleh banyak orang. Kedisiplinan mereka juga pernah gagal dan perilaku mereka terkadang kendor dan tidak sejalan dengan tujuan hidup dan idealisme mereka.

Sang juara kelas tidak selalu berada di depan buku dan belajar. Orang yang pintar tidak selamanya membaca buku dan tidak tahu akan dunia luar. Orang yang hidup sehat tidak berarti tidak mau atau tidak bisa atau tidak pernah menikmati makanan yang dia sukai. Dan stereotype yang umum namun keliru adalah bahwa orang pintar adalah kutu buku, berkacamata tebal, fisik yang lemah, dan tidak pandai bersosialisasi. Padahal Neils Bohr dan Philip Baker adalah pemegang hadiah Nobel yang juga adalah olah ragawan yang ikut dalam Olympic. Dalam filsafat pendidikan Yunani kuno pun faktor fisik telah menjadi perhatian.

Keberhasilan mereka dibandingkan dengan kegagalan semua yang lain ada pada satu kualitas mental dan pola pikir dalam diri mereka yang lebih konsisten, yaitu bahwa mereka secara disiplin dan konsisten melawan diri dan keinginan yang bertentangan dengan idealisme mereka. Dalam diri mereka terdapat pengertian bahwa musuh terbesar mereka bukanlah hal-hal yang diluar, melainkan diri mereka sendiri.

Mereka tidak melihat fenomena di sekitar mereka sebagai permasalahan, namun sebagai tantangan yang harus diselesaikan dan dilalui. Mereka mendahulukan rasionalitas dan logika mereka dan mengabaikan keinginan hati mereka, memikirkan arah dan tindakan yang harus mereka lakukan untuk melampaui tantangan yang mereka hadapi. Mereka tidak dengan mudah mencari alasan untuk pembenaran diri atas sebuah kelalaian atau kegagalan, sebaliknya mereka mengambil tanggung jawab penuh dalam tiap kesalahan yang mereka perbuat dan belajar dari kesalahan itu, memastikan bahwa kesalahan yang sama tidak boleh terulang. Mereka mendidik diri mereka dengan keras, dengan idealisme yang tinggi namun bertindak secara pragmatis.

Bukannya bersikap kasar dan menghajar tanpa belas kasihan terhadap diri sendiri, mereka dengan tegas dan keras mendidik diri dan mencari solusi untuk memperbaiki cara mereka menghadapi situasi yang sama di lain waktu.

Ketika seseorang terlambat bangun saat hari-hari bekerja, bukannya bangun dan kemudian marah-marah pada dirinya sendiri, dia mencari solusi terhadap kegagalannya hari itu. Dia berjanji akan memaksa dirinya dengan lebih keras untuk tidur lebih awal di lain waktu.
Yang celaka adalah dia yang terlambat bangun kemudian marah pada orang disekitarnya. Orang seperti itulah yang tidak akan pernah menjadi manusia yang lebih berkualitas baik.

Itulah yang dikerjakan oleh orang-orang yang ‘sukses’ dalam hidupnya. Mereka dengan sadar penuh akan tanggung jawab mereka terhadap diri mereka dan secara konsisten terus menerus memikirkan cara untuk menjalani hidup mereka dengan lebih baik dalam segala hal. Itu adalah mentalitas, bukan perilaku yang hanya di permukaan. Setiap kegagalan adalah tantangan baru yang harus mereka pelajari agar lain waktu bisa mereka hadapi dengan lebih baik. Orang-orang seperti itu memiliki banyak skenario dan pola pikir di dalam kepalanya tentang bagaimana menghadapi segala situasi berdasarkan kekayaan pengalaman hidup mereka. Mereka adalah orang-orang yang akan semakin lama semakin jarang merasa menyesali tindakan mereka, mental mereka terus diperbaharui oleh pembaruan akal budi mereka.

Discipline is doing what you know needs to be done. Even when you don’t want to do it.

Terjemahan: Disiplin adalah melakukan hal yang kita tahu harus dikerjakan. Bahkan ketika kita tidak ingin melakukannya.

Etika dan Estetika: Rasional vs Intuisi

Etika

Etika, secara luas, adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang moralitas: baik dan buruk, benar dan salah. Topik utama dari studi tentang etika adalah pertanyaan, “Bagaimana cara terbaik bagi seseorang untuk hidup?” Hal ini sudah dipikirkan sejak jaman Confusius dan Aristotle sebagai dua filsuf yang banyak berbicara tentang etika. Dari mereka keluar ide dan pemikiran tentang kebaikan, kepantasan, cara hidup dan relasi antar manusia berikut hubungan manusia dengan sekitarnya.

Ketika kita berbicara tentang cara hidup yang terbaik, tidak mungkin kita bisa lepas dari konteks dan konten (atau seringkali kita ungkapkan sebagai “situasi dan kondisi”). Bersamaan dengan pergerakan filsafat dan pemikiran di dalam bentangan sejarah yang merubah wajah sejarah, kebudayaan, dan masyarakat, kita harus sangat berhati-hati dalam memahami tentang pergeseran relatif di dalam etika. Etika dalam sekelompok masyarakat akan berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain, contohnya: orang Jerman dan orang Indonesia. Lingkungan yang berbeda akan memiliki etika tertentu, contohnya: lingkungan sekolah, lingkungan olah raga. Demikian pula dalam ruang lingkup tertentu, contohnya: etika bisnis, etika militer, dan seterusnya. Juga terdapat perbedaan dalam satu era dengan era yang lain, contohnya: hukuman jaman abad pertengahan dibandingkan dengan hukuman dalam abad modern. Kita tidak boleh dengan serampangan menilai betapa kejamnya hukuman dalam abad pertengahan tanpa mengenal secara keseluruhan konteks dan konten etika dalam dunia pada masa abad pertengahan. Tidak ada hak bagi suatu jaman untuk menghakimi jaman sebelumnya.

Etika berasal dari kata ethos yang berarti kebiasaan dan aturan. Etika dalam Bahasa Yunani, mengandung makna ilmu pengetahuan tentang moralitas. Sehingga pada saat kita berbicara tentang etika, sebenarnya kita sedang membicarakan tentang suatu sistem hukum yang kadang tertulis ataupun tidak tertulis tentang sesuatu yang seharusnya kita lakukan, muncul dalam perbuatan yang nyata dan bukan sekedar sebagai pembicaraan dan perdebatan filsafat. Seseorang dikatakan beretika baik ketika dia dalam hidupnya melakukan sesuatu yang baik menurut norma kepantasan, kesopanan, kebaikan, kebenaran, kesucian, dan seterusnya, yang berlaku umum dalam suatu konteks dan konten. Ketika seseorang tidak melakukan semua hal tersebut, dia tidak dikatakan netral, melainkan dia dikatakan tidak beretika, tidak sopan, biadab, kurang ajar, dan seterusnya. Tidak ada posisi netral dalam etika.

Karena itu, seseorang diharapkan dididik dengan baik di masa mudanya dengan pengetahuan teori akan nilai, norma dan etika yang pantas, untuk kemudian dimunculkan secara praktika dalam tingkah laku hidupnya sehingga dia tidak menjadi manusia yang dianggap tidak manusiawi. Keberadaan manusia yang tidak manusiawi menunjukkan kegagalan pendidiknya yang pasti juga kurang manusiawi. Melalui macam tingkatan didikan dan aplikasi moral tersebut, dapat terlihat relasi langsung bahwa ada etika yang tinggi dan ada etika yang rendah yang membentuk seorang manusia.

Etika yang lebih tinggi akan memiliki sifat yang melampaui batasan ruang, entah kelompok masyarakat, budaya, tradisi dan seterusnya. Etika yang tinggi bahkan akan diakui oleh dunia sebagai sebuah budaya dunia. Etika yang lebih tinggi lagi akan melampaui batasan waktu dan memiliki sifat yang awet dan memiliki ketahanan yang tidak mudah ditelan waktu dan menjadi usang. Semakin tinggi suatu etika, semakin lama dia akan bertahan di dalam waktu. Etika yang semakin remeh dan semakin rendah akan sangat terjepit dalam ruang dan waktu yang semakin sempit dan terbatas.

Estetika

Estetika adalah bidang filsafat yang membicarakan segala hal yang berkenaan dengan kesenian, keindahan, kecantikan, kepantasan, perasaan, dan seterusnya. Segala hal yang bisa dinikmati oleh indra kita adalah topik pembelajaran dalam bidang estetika, yaitu kriteria dan sistematika tentang semua yang bisa dikatakan sebagai “kesenian”, “keindahan”, dan “sensasi yang dirasakan oleh jiwa”.

Berdasarkan pengalaman sensasi dan indra tubuh kita, kita bisa berelasi langsung dengan apa yang disebut sebagai bagus dan jelek, enak dan tidak enak, megah dan kumuh, dan yang sangat relevan dalam kehidupan kita adalah konsep kualitas tinggi dan kualitas rendah. Sehingga secara umum, estetika adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang, “Bagaimana cara menikmati keindahan?” Agar sebuah keindahan dapat dinikmati, maka harus terlebih dahulu dijelaskan, “Apakah yang dimaksud dengan keindahan?” Untuk memahami keindahan, maka harus dipahami dulu kualitas apa yang mendefinisikan sesuatu menjadi indah, kurang indah, dan jelek.

Estetika juga memiliki relativitas tersendiri di dalam hubungannya dengan manusia. Setiap kelompok manusia memiliki definisi tersendiri tentang estetika yang memunculkan budaya-budaya yang sangat beraneka ragam, dan di dalam keanekaragaman tersebut muncul pula varian keindahan yang sifatnya lebih personal. Misalnya cara seseorang dari bangsa Italia dengan budaya Italia mendekorasi rumahnya dibandingkan dengan orang Inggris. Pasti akan ditemukan perbedaan dan variasi tersendiri. Orang Italia mendekorasi rumahnya dengan nyaman, indah, dan mewah; tapi dari tampak luar bangunan rumahnya akan terlihat biasa saja. Sementara orang Inggris akan memiliki lingkungan luar rumah yang terawat, bersih, arsitektur yang elegan, namun dekorasi dalam rumahnya lebih bersifat sentimental dan fungsional. Dalam setiap rumah pun akan ditemukan sentuhan-sentuhan personal yang akan sangat berbeda antara rumah yang satu dengan rumah yang lain. Dan seperti halnya etika, demikian pula estetika dalam perjalanan waktu dan sejarah, berubah dan mengalami pergeseran seturut dengan pergeseran aliran pemikiran dan filsafat.

Pengaruh estetika, baik disadari atau tidak, akan selalu tampak dalam perilaku seseorang dan cara seseorang menjalani hidupnya. Estetika dalam banyak kesempatan selalu bersifat dan memiliki pengaruh yang lebih personal dalam masing-masing orang. Ada orang yang lebih suka rasa coklat atau vanilla. Ada orang yang lebih suka warna hitam, dan yang lain lebih suka warna kuning. Ada yang menyukai musik pop, ada yang menyukai musik klasik.

Sekalipun estetika bersifat sangat praktis, tapi kepraktisan itu sama sekali tidak bersifat pragmatis. Estetika bukanlah sekedar menyukai rasa coklat atau vanilla, warna hitam ataupun kuning, musik pop atau klasik; melainkan lebih berkenaan tentang sebuah konsep di dalam diri manusia yang menghubungkan antara jiwa manusia dengan natur yang berada di luar tubuhnya. Ketika kita sedang mengatakan bahwa seorang pria itu tampan atau seorang gadis itu cantik, kita tidak bisa mendefinisi dan mereduksi konsep estetika dengan berusaha memahami bahwa cantik atau tampan itu adalah ketika hidungnya memiliki panjang sekian sentimeter, atau jarak antara mata kiri dan mata kanan adalah sekian sentimeter, atau bahwa wajahnya memiliki simetri antara kiri dan kanan. Tidak pula bahwa bunga anggrek baru bisa dikatakan indah karena keindahan itu bisa direduksi hingga kepada kumpulan fakta. Hal ini sudah dicoba dan bisa dilihat dari eksistensi dan ekstensi dari Golden Ratio : 1.618 (karena itu konsep keindahan selalu memiliki relasi dengan matematika, psikologi, arsitektur, kesenian, lukisan, biologi, dan entah apa lagi.) Estetika lebih merupakan konsep yang merangkum segala fakta dan terlebih lagi dalam berbagai konteks dan konten yang memberikan suatu pemahaman utuh dalam diri seseorang yang seringkali tidak dapat dijelaskan.

Akan tetapi, walaupun estetika adalah hal yang berkenaan dengan konsep keindahan yang sifatnya seakan-akan personal dan pribadi dan boleh berbeda antara orang yang satu dengan yang lain, tetap ada unsur kualitas mutlak yang ada secara intrinsik di dalam natur tiap objek. Setiap objek yang memiliki kualitas tinggi, dia akan melintasi ruang dan waktu dan diakui sebagai hal yang memiliki nilai tinggi, bukan karena banyak orang yang menyetujuinya, melainkan karena secara nilai di dalam dirinya sendiri menyatakan bahwa dia memiliki keindahan.
Sebagai ilustrasi: Berlian memiliki nilai intrinsik yang tinggi sebagai batu mulia yang sangat keras, transparan dan kilau yang cemerlang. Orang boleh setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka, tapi berlian akan selalu menjadi batu yang berharga.

Etika dan Estetika

Secara keutuhan yang menyeluruh dalam kehidupan seseorang, etika berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia supaya ia dikatakan ‘baik’. Sementara estetika berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia supaya ia dikatakan bagus atau lebih tepatnya ‘bernilai’. Keberadaan keduanya, yaitu tentang ‘baik’ dan ‘bernilai’, memiliki kaitan langsung antara prinsip/konsep tertentu yang berada dalam diri seorang manusia dengan lingkungannya, yang dimunculkan melalui perbuatan-perbuatan dan pilihan-pilihan yang mempresentasikan kehidupannya.

Kepada arah mana dan hidup yang seperti apa seseorang menjatuhkan pilihannya, akan termanisfestasi dalam etika dan estetika dalam hidupnya. Semakin tinggi idealisme seseorang, etika yang muncul dari dalam dirinya berikut dengan pilihan-pilihannya terhadap estetika tertentu akan tampak jelas menghiasi perjalanan hidupnya dan menyatakan situasi dan kondisi jiwa seseorang.

Seorang dengan didikan dan ajaran etika yang terhormat, akan memunculkan sikap yang baik. Ketika dia mengarahkan hidupnya pada hal-hal yang agung, yang bernilai, yang memiliki standar kualitas tinggi, maka entah sadar atau tidak, dia dalam perjalanan hidupnya akan memunculkan cara hidup yang mengarah pada keagungan secara etika. Kemudian secara estetika, dia tidak akan mengisi perjalanan hidupnya itu dengan hal-hal yang tidak mencerminkan idealisme dan etika yang ada pada dirinya.

Secara sederhana, sebagai contoh kecil, saya yakin dalam pergaulan keseharian kita, kita bertemu dengan berbagai macam orang. Kita bertemu dan ‘melihat’ orang yang kita pandang berwibawa, entah dari cara pilihan kata, intonasi dan cara pengucapan kata, hingga bahasa tubuhnya. Kita serta merta ‘merasakan’ ada sesuatu dengan orang ini yang seolah memaksa kita untuk berespon dengan cara tertentu terhadap dia. Orang dengan etika tertentu akan memunculkan sebuah perasaan estetika tertentu dalam diri kita yang akan tampak dalam etika yang akan kita munculkan. Keterbatasan etika yang kita miliki untuk berespon dengan kelas etika tertentu menjadikan kita sebagai manusia yang ‘kurang beretika’.

Orang yang mengejar hal-hal yang remeh dalam hidupnya, akan terlihat pula dalam hidupnya, dalam perilaku, dalam pilihan-pilihannya terhadap apa yang dianggapnya baik dan bernilai. Demikian pula dalam setiap pergeseran jaman, selalu ada pergeseran etika dan estetika, celakanya, pergeseran tersebut selalu mengarah pada segala hal yang lebih bobrok daripada sebelumnya. Entah kita merasakannya, atau tidak mau mengakuinya.
Manusia semakin hari semakin lebih mementingkan diri sendiri dan bersikap humanis dan materialis, tidak lagi perduli tentang apapun yang tidak berkaitan langsung dengan dirinya. Nilai kesopanan semakin menipis dan sikap hormat terhadap generasi yang lebih tua semakin hilang. Mereka yang lebih tua semakin lama semakin tidak menjadi teladan dan tidak lagi memiliki kelakuan yang layak dihormati. Secara praktis, segala sesuatu yang berada disekitar kita memiliki kualitas yang semakin lama semakin jelek, semakin murah, semakin mudah, semakin cepat, semakin tidak sehat, dan seterusnya.

Sepanjang sejarah, pergeseran filsafat dunia tampak dalam tiga hal besar: musik, arsitektur, dan lukisan. Dan sepanjang sejarah, budaya manusia semakin jauh dari kualitas yang bisa melampaui ruang dan yang bisa tahan di dalam waktu. Hingga abad ke-20, hampir tidak ada pemikir besar yang merubah wajah sejarah. Dunia modern hanya menjadi budak pemikir-pemikir besar dari abad terdahulu, terlelap dalam fatamorgana dan euphoria fenomena yang menyerukan bahwa jaman kita semakin maju, semua menjadi semakin murah, semua menjadi semakin kecil dan semakin cepat. Jaman yang dulu itu sudah kuno, sulit dan tertinggal. Jaman sekarang inilah yang superior.

Contoh ilustrasi yang selalu saya sukai sejak tahun 1993: Dalam mengurus rumah tangga. Sekarang sudah ada jenis kain yang tidak perlu di setrika, selalu licin. Sekarang ada mesin cuci. Sekarang ada mobil yang cepat. Sekarang memasak lebih mudah, ada bumbu instan. Sekarang semua serba cepat dan praktis. Tapi lihatlah para istri dan para ibu yang mengurus rumahnya sendiri, tetap saja dibutuhkan waktu yang sama untuk membereskan sebuah rumah dari jaman nenek dari nenek kita. Kesibukan ibu rumah tangga tidak berubah selama 20 tahun lebih. Musik klasik dikatakan kuno, namun tidak ada seorangpun musikus jaman ini yang bisa membuat satu saja musik sekelas Tchaikovsky atau Rachmaninov (keduanya komposer abad ke-19). Apalagi musik jaman Baroque abad ke-17. Semua musik baru berganti dalam hitungan minggu, beberapa dalam hitungan bulan, jarang yang bertahan selama puluhan tahun.

Rasional vs. Intuisi

Seringkali dalam pragmatisme manusia, kita menganggap bahwa cara hidup kita adalah tergantung kesenangan diri kita. Etika bersifat lebih mengikat dan estetika bersifat jauh lebih longgar. Namun di tengah kehidupan ini, tidak perlu sibuk dengan idealisme yang muluk-muluk, jangan dibuat susah, pikirkan segalanya secara praktis (baca: pragmatis, utilitarian). Manusia berkata, “Semua orang memiliki selera yang berbeda, kamu suka yang kamu suka, dan aku suka yang aku suka.” “Setiap orang memiliki jalan hidup dan pilihan yang berbeda, kamu pilih jalanmu dan jangan ganggu aku dengan jalanku.” Inilah hasil pemikiran modern hingga postmodern. Kita memilih segala sesuatu berdasarkan intuisi dan perasaan keinginan hati kita. Selama hati nurani kita tidak terganggu, kita bebas melakukan apa saja. Martin Luther dari abad ke-15 telah mengatakan, “Rasionalitas itu seperti pelacur.” Logika kita akan merasionalitaskan semua yang kita mau sehingga terlihat seperti masuk akal dan benar.

Sebagai contoh singkat, seringkali keinginan kita adalah bukanlah hal yang kita butuhkan. Dan seringkali apa yang kita butuhkan sebenarnya bukan keinginan kita. Kita memiliki televisi, model lama; dan kita merasa bahwa kita membutuhkan televisi: yang besar, yang flat, yang LED, yang bisa ditempel ke tembok. Itu keinginan kita. Apakah kita tidak bisa menginginkan yang ukuran biasa, atau apakah yang plasma yang lebih murah tidak bisa digunakan sehingga harus yang LED? Apakah benar kita sama sekali tidak ada televisi di rumah? Tapi kemudian rasio kita akan menjelaskan mengapa kita membutuhkan yang kita inginkan dan kita tidak menginginkan yang kita sebenarnya kita butuhkan.
Demikian pula dalam atheisme dunia modern, kita membutuhkan Tuhan, tapi kita tidak menginginkan Dia karena Dia membuat banyak aturan yang menyusahkan dan memberatkan hati nurani. Kemudian rasionalitas kita akan menjelaskan kenapa kita tidak membutuhkan Tuhan karena kita tidak menginginkan keberadaan kuasa yang lebih tinggi dari kita. Kita hanya menginginkan tuhan yang bisa kita peralat untuk memuaskan keinginan kita, melindungi kita, merawat kita, menjauhkan kita dari bahaya dan sakit penyakit; tepatnya, kita menginginkan pembantu yang maha kuasa.

Tidak banyak orang mau memikirkan apa yang baik, apa yang bernilai, apa yang berkualitas. Tidak banyak orang mau memikirkan bagaimana cara hidup yang terbaik yang mungkin bisa dikerjakan oleh seseorang supaya hidupnya tidak tersia-siakan. “You Only Live Once!” YOLO! “Lakukanlah semua yang kita suka, karena besok kita akan mati.” Inilah filsafat new-age. Mendorong manusia untuk menikmati hidup sebebas-bebasnya dalam kebebasan yang semu.

Apakah benar etika dan estetika itu adalah tergantung mutlak pada diri kita sendiri, dengan selera dan intuisi (sesuatu yang tidak membutuhkan alasan rasional; baca: suara hati) masing-masing orang? Apakah tidak ada standar nilai didalamnya?
Tentu saja ada. Telah dibahas di atas bahwa semakin tinggi nilai etika dan estetika, semakin dia melampaui batasan ruang dan waktu. Segala sesuatu yang memiliki nilai yang semakin tinggi, bertahan semakin lama di dalam waktu dan diakui oleh siapapun tanpa dibatasi ruang. Segala sesuatu yang bernilai semakin tinggi, memiliki kualitas yang mengandung unsur baik, benar, dan bernilai. Unsur tersebut akan keluar dari dalam dirinya sebagai nilai intrinsik yang sama sekali terlepas dari pendapat dan pandangan umum.

Bahkan dalam hal makan pun, sesuatu yang sebenarnya adalah murni kembali pada selera masing-masing orang, ada standard yang mutlak. Makanan yang baik bisa dinilai secara objektif, dari pemilihan bahan, cara memasak, ketepatan proporsi rasa dan tingkat kematangan, keindahan presentasi dan seterusnya. Rasional dan intuisi harus selalu berjalan bersamaan. Kita menikmati makanan berdasar intuisi kita, dan kita mengetahui nilai estetika suatu makanan dengan rasionalitas kita. Kita tidak boleh seenaknya saja mengatakan bahwa roti keju itu tidak enak hanya karena kita tidak suka. Ada beda besar antara ‘tidak enak’ dengan ‘tidak suka’.  Hal ini berlaku dalam semua hal yang berada di sekitar kita. Seringkali kita seenaknya saja mencampur aduk antara kesukaan kita dengan kualitas. Kualitas adalah nilai intrinsik di dalam segala sesuatu, tidak ada hubungan dengan kita suka atau tidak suka. Justru kita harus belajar untuk mengerti (bukan selalu harus menyukai) semua yang baik, yang benar, yang bernilai, supaya hidup kita memiliki pengertian dan tidak terarah pada hal yang sifatnya remeh. Demikianlah etika dan estetika yang keluar dari dalam diri kita akan memiliki nilai yang tinggi.

Musik klasik itu bukan musik jelek hanya karena kita tidak sanggup mendengarkannya, karena butuh usaha besar untuk belajar menikmati musik klasik. Butuh pengertian dan lidah yang belajar untuk bisa menikmati minuman anggur yang berkualitas. Orang yang pandai adalah orang yang bisa melihat dan memahami perbedaan; orang yang bodoh adalah orang yang menganggap semua hal itu sama. Orang yang tidak mau belajar pasti adalah orang yang tidak pandai. Dan orang yang lebih bodoh adalah orang yang menghina hal yang baik hanya karena tidak sesuai dengan selera dia.

Segala hal yang semakin berunsur baik, benar, dan bernilai, akan semakin mendekati nilai kebenaran yang sejati. Dan kebenaran yang sejati akan memiliki sifat yang universal, kekal, integral, dan moral yang tinggi. Hal ini menjelaskan kenapa segala sesuatu yang memiliki nilai tinggi akan memiliki sifat yang sanggup melampaui batasan ruang dan waktu serta mendekati kekekalan dari dalam dirinya sendiri.

Kegagalan mengenali kualitas etika dan estetika yang benar-benar BENAR dimulai ketika kita ditipu oleh keinginan diri sendiri yang sifatnya remeh, mudah, dan sementara. Dan rasionalitas kita menjadi pelacur dari keinginan kita. Kita tidak mau berpikir panjang, kita tidak mau melakukan pertimbangan-pertimbangan yang rumit. Kita tidak mau belajar. Kita terlalu malas untuk melakukan semua itu karena belajar itu membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Karena semua yang baik, benar, bernilai itu memiliki kualitas dan level yang tinggi, yang susah, yang rumit, sehingga tidak seorangpun dari kita yang mau mengerjakannya. Kita mengambil sikap pragmatis, mengerjakan semua hal yang mudah dan mendatangkan uang secepat mungkin supaya kita bisa pensiun dini dan secepat mungkin menjadi kaya raya dengan cara tercepat dan termudah. Seringkali itu tujuan akhir manusia dan manusia mengarahkan hidupnya kesana.

Secara pragmatis dan intuitif, semua yang tidak kita sukai kita anggap jelek, berkualitas rendah, kemudian tidak kita perdulikan. Semua yang kita sukai kita anggap baik dan berkualitas. Ini adalah kesesatan cara berpikir. Ketika seseorang mengejar semua yang sepele dan remeh hanya karena hal itu adalah hal yang dia sukai secara intuitif, maka semua yang dia kerjakan, semua yang muncul dalam hidupnya, semua pilihan yang dia lakukan, perbuatan yang keluar dari jiwanya, akan menjadi sepele dan remeh.

Secara rasional, sebaliknya, ketika seseorang berusaha mengejar semua hal yang terbaik, teragung, sehingga dia sama sekali menjauhkan dirinya dari kesenangan dan menahan diri dari segala keinginan yang menurut dia tidak bernilai, dia akan memiliki hidup yang melahirkan keputusasaan dan beban yang berat. Namun tidak tentu dia akan memiliki hidup yang lebih bernilai daripada orang yang mengikuti intuisinya saja. Dia tidak akan bisa menikmati segala hal yang baik dalam dunia ini dan mungkin kehidupan yang dia miliki bersifat semu dan hanya berada pada tampilan luar.

Saya tidak mengatakan bahwa intuisi itu salah; bahwa semuanya harus rasional. Saya juga tidak mengatakan bahwa rasional itu salah, karena setiap orang bebas merasakan apa yang hendak dia rasakan. Saya mengatakan bahwa intuisi dan rasionalitas harus berjalan bersamaan. Bagaimana kita mengarahkan hidup kita pada idealisme dalam etika dan estetika yang baik, benar dan bernilai, dan secara otomatis, etika dan estetika yang keluar dari hidup kita akan mengarah pada hal yang berkualitas tinggi secara totalitas. Demikian pula sebaliknya, baiklah kita menikmati segala macam keindahan dan estetika dengan etika dan moralitas yang tinggi. Agar hidup kita mengarah pada idealisme yang baik, benar, dan bernilai.

Kegagalan Pemahaman Fenomena dari Perspektif Filsafat

Definisi dari kata fenomena dalam tulisan ini merupakan sebuah persepsi terhadap objek yang dikenali oleh pikiran ataupun oleh indra kita sebagai sebuah sebuah kenyataan. Fenomena dapat dikatakan pula sebagai suatu fakta yang dapat diobservasi dari sebuah keadaan nyata atau kejadian, baik yang dapat di terima oleh akal, maupun yang tidak.

Saya akan membagi fenomena ini dalam kaitannya dengan rasionalitas dalam pola pemikiran sebagai berikut, dalam dunia fenomena:

  1. Fenomena Natural
  2. Fenomena Supranatural
  3. Fenomena Unnatural (terj: tidak natural)

Dalam dunia rasionalitas:

  1. Rasional
  2. Suprarasional
  3. Irasional

Di dalam arus filsafat new-age (filsafat jaman baru), seringkali kita membedakan alam yang kita tinggali ini dalam dua wilayah, yaitu natural dan supernatural (atau supranatural). Wilayah supranatural ini baru-baru saja menjadi bahasan yang popular dalam dunia barat yang sebelumnya sangat anti dengan hal-hal tersebut; bertentangan dengan dunia timur yang memang sejak dahulu mengakui keberadaan alam supranatural secara mistis. Namun saya tidak membahas hal mistis atapun sains (scientology) ataupun filsafat jaman-baru, tidak dalam tulisan ini. Tulisan ini hanya akan membahas sistematika yang mendasari dan membedakan wilayah pemikiran-pemikiran tersebut diatas.

Suprarasional bukanlah irasional.

Dalam membahas rasionalisme, kita tidak dapat membahasnya secara terpisah objek dari rasionalitas tersebut, yaitu fenomena. Kita membedakan antara fenomena yang masuk akal dengan yang tidak masuk akal dalam rasional dan irasional. Hal itu tidak salah, namun kurang tajam. Karena masih ada satu wilayah dengan satu sudut pandang lagi dalam memahami fenomena, yaitu suprarasional.

Kita harus mengenali dulu apakah sebuah fenomena itu adalah fenomena natural, atau supranatural, ataukah unnatural. Dari pengenalan tersebut, kita menggunakan kerangka berpikir dan sudut pandang yang tepat untuk memahami dan menganalisa suatu fenomena. Sudut pandang atau perspektif yang keliru akan menghasilkan kesimpulan yang keliru dalam analisa terhadap fenomena.

Fenomena supranatural harus dilihat dari sudut pandang suprarasional.

Fenomena natural harus dilihat dari sudut pandang rasional.

Fenomena unnatural harus dilihat dari sudut pandang irasional.

Fakta keberadaan mistis misalnya, telah lama oleh dunia modern dianggap sebagai hal yang sifatnya irasional. Keberadaan yang disangkal kebenarannya dan tidak diakui keberadaannya karena gagal dikenali sebagai sesuatu yang ‘masuk akal’. Pertanyaannya adalah ‘masuk akal’ yang mana? Karena jelas hal mistis tidak dapat ‘diukur’ dengan tepat jika alat ukurnya keliru. Kita tidak dapat mengatakan volume air dalam botol adalah 0.3 meter; air tidak diukur dengan cara yang sedemikian. Tinggi badan saya tidak bisa diukur dengan ukuran liter.

Kekacauan sudut pandang inilah yang menyebabkan dunia ilmu pengetahuan gagal mengenali keberadaan “yang lebih besar” daripada dunia ini. Karena mereka berusaha mengkuantifikasi sebuah kualitas yang berbeda dari alam natural. Karena kurangnya pemahaman mereka mengenai fenomena supranatural dari perspektif suprarasional (dan karena mereka mempersamakan antara supranatural dengan irasional) maka mereka gagal melihat kebenaran sebuah fenomena.

Sama seperti suku terbelakang dengan pengertian mistis di area terpencil yang melihat benda terbang yang kita sebut pesawat terbang. Mereka dengan pengetahuan rasional yang terbatas memandang pesawat itu sebagai sebuah kekuatan gaib yang menopang besi hingga bisa melayang ditengah-tengah udara. Karena ada kekuatan gaib yang bisa menopang besi besar, maka besi besar tersebut kemudian disembah sebagai dewa mereka. Suku terbelakang itu gagal mengenali fakta  karena melihat sesuatu yang natural dari perspektif supranatural, dikarenakan kurangnya wawasan mereka akan ilmu pengetahuan natural dan perspektif rasional.

Unnatural adalah irasional dan tidak boleh dirasionalisasikan

Kegagalan lain yang menimbulkan kekacauan dalam dunia modern ini adalah kesalahpengertian segala sesuatu yang sifatnya unnatural yang kemudian dikategorikan dalam dunia rasional, padahal seharusnya merupakan sebuah wawasan yang irasional. Kegagalan ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan wawasan tentang esensi dan inti dari perspektif irasional. Kita mengenali dengan menggunakan akal budi kita, dengan rasional, dengan akal sehat, bahwa adalah irasional adalah ketika sekarang sedang musim dingin dan kita pergi ke pantai untuk berjemur; tidak perduli apa yang kita rasakan atau inginkan. Adalah irasional ketika kita tersesat di gurun pasir dengan persedian air sebanyak 1 liter, dan kemudian kita memutuskan untuk memandikan anjing peliharaan tersayang kita; tidak perduli betapa besar cinta kita kepada anjing itu.

Adalah irasional ketika seorang ayah memutuskan untuk menikahi anak gadisnya, dengan alasan bahwa ia sangat mencintai anak gadisnya. Tidak perduli seberapa besar rasa cinta ayah tersebut pada anak gadisnya, dan tidak perduli seberapa besar kasih gadis tersebut pada ayahnya, tindakan tersebut adalah irasional. Adalah irasional ketika seorang yang sudah menikah kemudian berhubungan seks dengan orang lain (baca: berselingkuh); tidak perduli apapun yang mereka rasakan.

Adalah irasional ketika seorang pria menikah dengan seorang pria, atau seorang wanita menikah dengan wanita lain karena salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk menghasilkan keturunan. Tidak perduli seberapa besar cinta mereka antara yang satu dengan yang lain, tindakan itu adalah unnatural.

Kesalahan dan kegagalan menggunakan perspektif yang tepat dan kemudian mencampuradukkan antara perasaan dengan rasionalitas telah merusakkan hirarki dan pengertian tentang apa yang baik, yang benar dan yang bernilai. Kekacauan yang ditimbulkan karena tidak adanya pemikiran kritis dalam masyarakat modern yang pragmatis yang malas berpikir telah mencampuradukkan rasionalitas, irasionalitas, dan suprarasionalitas.

Supranatural-Suprarasional dan Natural-Rasional

Dahulu, “suprarasional adalah irasional” dalam dunia barat –sehingga dunia barat tidak memiliki warisan agama yang beraneka seperti pada dunia timur– dan “suprarasional adalah rasional” dalam dunia timur –sehingga dunia timur tidak menghasilkan ilmu pengetahuan yang tinggi seperti pada dunia barat. Sekarang, irasional adalah rasional, dan menghasilkan kekacauan budaya dan mendirikan prinsip tatanan nilai yang rusak dan rendah.

Sepanjang sejarah, kegagalan demi kegagalan memahami fenomena alam semesta terjadi karena kegagalan menggunakan perspektif yang tepat. Contoh terakhir adalah tentang kesuksesan seorang manusia, dulu secara rasional, budaya kita mengagungkan Intelligence Quotient (IQ), menganggap bahwa sukses itu adalah jika IQ tinggi. Hingga akhirnya kita mengerti bahwa setiap manusia ternyata memiliki perbedaan kemampuan dan ketrampilan. Jika kesuksesan seekor binatang ditentukan oleh ketrampilan dia memanjat pohon, maka semua ikan dan burung adalah idiot. Maka adalah kegagalan jika manusia hanya diukur dari seberapa ahli dia dalam menalar dan berhitung dan daya bayang ruang. Sehingga muncullah Emotional Quotient (EQ, atau kecerdasan emosional), Social Quotient, Spiritual Quotient, dan seterusnya.

Entah hingga kapan manusia akan sadar dan mau mengerti bahwa setiap manusia secara rasional memiliki talent (terj: talenta) sendiri yang berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Keberadaan kita dalam dunia ini memilki tujuan tertentu yang berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain. Adalah irasional menyamakan seluruh umat manusia dalam satu takaran ukuran.

Setiap manusia memiliki peran dan fungsinya sendiri yang sifatnya suprarasional dalam posisinya terhadap alam semesta yang tidak boleh disamakan apalagi dikompetisikan dengan manusia yang lain. Inilah paradoks manusia dalam keberadaannya yang suprarasional namun adalah rasional. Bahwa IQ, EQ, SQ, tidak seharusnya ada dan adalah sebuah irasionalitas, bahwa tidak ada kesamaan antara manusia yang satu dengan yang lain. Semua ukuran atau Quotient itu adalah upaya mengukur manusia dalam keseragaman dan merupakan sebuah ketidakadilan.