Membela yang Lemah Vs. Membela yang Benar: Ketika yang Lemah Menganiaya yang Kuat.

Membela yang Lemah Vs. Membela yang Benar: Ketika yang Lemah Menganiaya yang Kuat.

Seringkali kita mendengar tentang bagaimana pihak yang mayoritas menindas yang minoritas, atau yang kuat menindas yang lemah, atau yang banyak mempersulit yang sedikit, atau yang kaya menindas yang lemah. Apakah selalu sedemikian yang terjadi dalam masyarakat?
Sadarkah kita bahwa yang lemah seringkali menganiaya yang kuat, rakyat menganiaya pemerintah, pegawai menindas atasan?
Akan kita lihat bersama bahwa kata “mentang-mentang” itu tidak hanya ditujukan pada yang lebih superior, melainkan perasaan mentang-mentang itu juga ternyata diidap oleh orang yang katanya inferior. Ternyata orang tidak hanya bisa bersikap arogan dan congkak ketika dia memiliki kelebihan, tapi orang juga bisa bersikap arogan ketika dia menganggap kekurangannya itu sebagai kelebihan. Dia bisa bermegah ditengah kelemahannya secara negatif dan menjadi orang yang mentang-mentang miskin, mentang-mentang bodoh, dan seterusnya untuk bersikap seenaknya dan dia merasa bisa terbebas dari konsekuensi apapun. Continue reading

Advertisements
Ironi Kontradiksi Antara “Kemauan” dan “Kelakuan” dalam Psikologi

Ironi Kontradiksi Antara “Kemauan” dan “Kelakuan” dalam Psikologi

Pernahkah kita merasakan bahwa dalam banyak kesempatan, ada banyak kesenjangan antara apa yang kita inginkan dan yang kita lakukan yang ternyata kemudian bertentangan dengan tujuan kita? Ingin sehat tapi tidak bisa berhenti merokok, ingin pandai tapi tidak mau belajar, ingin jujur tapi tidak bisa berhenti berbohong, dan seterusnya. Ada kesenjangan antara apa yang dilakukan dan apa yang diharapkan. Bagaimana kita bisa menyelesaikan kesulitan tersebut? Apakah atau siapakah yang menghalangi kita untuk mencapai tujuan kita selain daripada diri kita sendiri? Ataukah bahwa ada hal lain yang lebih rumit daripada sekedar diri kita sendiri? Continue reading

Reformation 500 years

Reformation 500 years

Sudah 500 tahun berlalu sejak Martin Luther memakukan 95 thesis di pintu gereja Wittenberg, 31 Oktober 1517. Kemanakah sekarang semangat reformasi gereja untuk kembali setia kepada ajaran yang benar? Kemanakah semangat reformata semper reformanda? Apakah peran dan tantangan reformasi gereja ditengah carut marutnya ajaran yang tidak setia kepada Firman yang sejati? Continue reading

Agama dalam Perspektif Sosiologi: Keyakinan akan Kebenaran & Kebijaksanaan Manusia

Agama dalam Perspektif Sosiologi: Keyakinan akan Kebenaran & Kebijaksanaan Manusia

Seharusnya, setiap orang mengetahui bahwa agama merupakan hak asasi yang paling asasi, hak yang paling pribadi. Seharusnya, setiap orang mengerti bahwa tidak seorangpun berhak mengatur bagian agama dan bagian ibadah orang lain dihadapan Tuhan.
Namun kesulitan demi kesulitan terjadi, dan agama bukan lagi tentang hidup dihadapan pencipta, akan tetapi tentang jumlah pengikut, tentang kebijaksanaan manusia dan sudut pandang manusia tentang dirinya sendiri dihadapan Tuhan, dan bukannya sudut pandang Tuhan terhadap ciptaan-Nya. Continue reading

Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kesadaran Moral dan Kesadaran Kebersalahan

Kita semua seringkali hidup dalam ilusi tentang kebaikan dan kesalehan hidup kita melalui perbuatan kita. Seringkali kita tidak menyadari atau tidak mau atau tidak cukup perduli untuk merenungkan setiap perbuatan kita dan tanggung jawab moral kita dalam setiap perbuatan yang kita anggap baik.

Bahkan kita terhanyut dalam suatu ilusi yang menyatakan bahwa perbuatan dan hidup kita sudah cukup baik karena kita sudah memiliki agama.

Kita bahkan tidak pernah cukup perduli (atau mungkin ketakutan dan ngeri) untuk meneliti kedalam hidup kita untuk memeriksa apakah motivasi kita, kebaikan yang kita lakukan, agama yang kita percayai, benar-benar dapat menjauhkan kita daripada kengerian yang dibukakan oleh masing-masing agama yang kita percayai.

Seringkali kita mempercayai begitu saja bahwa agama kita akan menyelamatkan kita, bahkan ketika kita hidup sesuka hati kita. Jika demikian halnya, apakah gunanya hukum dan agama dan mengapa kita bersusah payah hidup baik? Continue reading

Q: Bukankah semua agama itu sama, mengajarkan kebaikan dan mendatangkan keselamatan?

Q: Bukankah semua agama itu sama, mengajarkan kebaikan dan mendatangkan keselamatan?

Benarkah semua agama itu sama? Apakah kemunculan pandangan itu adalah supaya semua manusia berdamai dan hidup berbahagia, dengan menghilangkan perbedaan?
Ataukah sebenarnya semua agama dianggap sama supaya semua agama bisa dianggap benar dan tidak ada orang yang perlu merasa bersalah?
Dalam kenyataannya, apakah benar semua agama itu sama dan jika benar, mengapa tidak semua manusia bersatu dalam satu agama yang katanya sama? Continue reading